[#EXOFFIMVT2019] Heart Beater – Jang Mi Ra

Heart Beater

By

 Jang Mi Ra

 

 

Bukan destinasi yang menjemukan, Seol Bi menginstruksikan agar Jeong Ill membawanya bersama dua penumpang lain ke provinsi Gangwon. Mereka akan berwisata, di hari yang menunjukkan aktifitas padatnya. Cuti 2 hari dari  kuliah, sangat tidak masalah untuk kegiatan yang digagas oleh wanita ber-make up lumayan menor itu.

“Sudah 22 bukan? Saengil Chukkae[1]. Jika kamu diberi satu permintaan, apa yang ingin kamu wujudkan?” Suara riang milik wanita bersetelan sporty, membuat Seol Bi membenarkan posisi tubuhnya.

“Apa hanya satu? Sungguh tidak adil. Eonnie[2], ini hari ulang tahunku, setidaknya ada lebih dari sepuluh permintaan yang bisa aku wujudkan.” Ungkap Seol Bi arogan.

“Menonton konser boyband, lulus tepat waktu, liburan satu minggu di pulau Jeju, menemukan pria idaman. Apalagi? coba katakan! Aku ingin mendengarnya.”Jeong Ill, si driver menyeletuk.

“Kang Jeong Ill-a.” Seol Bi memekik, selanjutnya seisi mobil tergelak. Kecuali pria di samping Seol Bi. Kang Chang Woo.

“Seol Bi-a, malhaebwa![3] Setidaknya ada satu keinginan yang harus kamu wujudkan di hari ini.”  Wanita bernama Ha Yoon hanya berusaha memperjelas maksud perkataannya tadi.

“Baiklah. Malam ini aku akan mengatakannya.” Seol Bi merespon mantab, lalu mengeratkan pelukan.

Daebak![4] Terus saja seperti itu. Kurasa, hanya kau wanita yang membuat  Hyeong baik-baik saja. Dia tak menolak, kau seperti kekasihnya sesungguhan.” Jeong Ill berdecak heran dari spion, sebelum menginjak rem karena penginapan di dekat pantai Jumunjin telah diambang mata.

Pria itu sudah melangkah keluar terlebih dulu, disusul Seol Bi yang membawa 2 koper ekstra besarnya.

Oppa, kau hanya melihatku? Dowajuseyo, jaebal.[5]” Seol Bi merengek. Gadis ini memang sedang berusaha mengalihkan dunia pria itu.

Pria dingin yang tidak pernah menyahut, tidak pernah tersenyum apalagi tertawa, kecuali disaat mendesak dan benar-benar perlu untuk ditertawakan.

“Seol Bi-a. Kurasa Oppa sama lelahnya dengan Jeong Ill. Lihat, pria itu bahkan sudah melangkahkan kakinya panjang-panjang.” Ha Yoon berusaha menghiburnya. Menuntun pandangan Seol Bi ke arah pria yang sudah berlari memasuki penginapan.

Sedangkan Chang Woo, dia masih belum beranjak. Malah sekarang matanya dibuat terpejam.

***

Ada baiknya dengan liburan kali ini, sekalipun cukup teramat singkat untuk mengusir kejenuhan di tengah tugas akhir yang menghadang. Ditemani tiga orang teman yang kesemuanya periang, setidaknya menambah poin plus untuk Chang Woo yang kian hari hidupnya makin tak nyaman.

Ditatapnya satu persatu, dari Jeong Ill yang sedang menyantap udon tanpa beban. Lalu, Han Seol Bi, si punya acara yang senantiasa menatapnya dan Ha Yoon wanita periang yang mengaku tak percaya cinta. Suguhan nan tak kalah menarik dari hidangan yang tergelar. Chang Woo menyukai mereka.

“Kurasa kalian sudah tidak sabar, mendengar perwujudanku untuk permintaan tadi siang.”Seketika denting sendok tak terdengar. Aktivitas makan terhenti saat Seol Bi, mendadak beranjak dari kursinya. Mengayunkan langkah, kemudian menghampiri Chang Woo yang masih memegang gelas berisi jus melon.

“Seol Bi-a. “Ha Yoon menyebut nama itu tak percaya.

Seol Bi sudah berdiri di samping Chang Woo, sedetik  kemudian tangannya mendarat sempurna di bahu pria itu. Jeong Ill dan Ha Yoon saling tatap, lalu berbisik memperdebatkan kira-kira apa permintaan Seol Bi yang serba membuat mereka penasaran.

Saranghae Oppa[6], Mari kita berkencan.” Ucap Seol Bi tanpa sandungan.

Hanya Chang Woo seorang yang tak terkejut atau membelalakkan mata. Jeong Ill sudah meneguk soju besar-besar, mencoba membuat pencernaannya agar tak kaget dengan statement Seol Bi yang sungguh frontal. Sementara Ha Yoon, mendadak cegukan tanpa henti.

Eottokhaeyo?[7] Inilah keinginanku. Jika aku diberi satu permintaan, maka aku ingin Oppa menjadi kekasihku” Seol Bi mengonfirmasi lagi.

Kang Chang Woo, masih terdiam. Dia menatap lurus ke depan. Ke arah ombak yang mendebur dan berkejaran. Hari ini bahkan sampai detik ini, pria dingin itu memilih bungkam.

Hyeong. Apa kau tidak terkejut? Seol Bi baru saja  menyatakan perasaannya. Bagaimana menurutmu?” Jeong Ill melambaikan tangan ke wajah Chang Woo. Tetapi, masih tak ada respon.

“Chang Woo Oppa, kini giliranmu menjawab. Apa kau bisa membantu mewujudkannya?” Dan Seol Bi ikut pula menatar.

“Bagaimana dengan perwujudan yang lain? Kurasa, untuk sekarang aku belum bisa membantumu.” Pertama kalinya di hari ini, mata itu dijatuhkan untuk memandang wanita super ambisius yang sudah melengkungkan bibir di hadapannya.

Oppa … Ah, kau juga bisa membantuku mewujudkannya di lain waktu. Malam ini aku hanya  sebatas mengutarakan.”

“Jangan menunggu. Aku tidak yakin kau akan sanggup.” Timpal Chang Woo, masih datar.

Sebenarnya tidak malam ini saja. Di beberapa kesempatan yang lalu, Seol Bi sudah mengungkapkan perasaannya, walau hanya melewati kode dan tindakan-tindakan kecil yang sekiranya menyiratkan tentang perasaan dia.

Mmmwo?[8]

Mianhae.[9]” Chang Woo menuntun pandangannya ke semua arah. Seperti mengisyaratkan kalau malam ini, perasannya sedang tidak dalam mood yang baik.

Sedetik kemudian, pria itu mengangkat tubuh dan memilih meninggalkan yang lain dengan perasaan mengambang dan penasaran.

***

Siapa yang tidak mengenal pria dingin bernama Kang Chang Woo? Mahasiswa Teknik Mesin semester akhir yang ketampanannya membuat wanita seantero kampus, berlomba-lomba ingin memecah kebekuannya. Sudah jarang tersenyum, introvert pula. Bahkan teman sesama pria nya jarang sekali berinteraksi dengannya. Dia hanya berteman dengan dua pria yang keduanya juga terkenal misterius di kampus.

Sementara untuk ketiga manusia yang tadi ditinggalkan hanya bagian dari kehidupannya di rumah. Kesemuanya merupakan adik tingkat. Kang Jeong Ill sang adik, Han Seol Bi, junior  anak dari teman ibunya, serta Choi Ha Yoon, junior beda jurusan yang menetap di kamar belakang rumahnya.

Sudah banyak wanita selain Han Seol Bi yang menyatakan perasannya. Malam ini, sekali lagi  separuh hatinya masih belum berminat untuk menerima potongan hati yang lain. Potongan yang bersedia diajaknya melalui masa-masa sulit, masa-masa mencengangkan dan masa-masa membahagiakan.

Apalagi, semenjak wanita mungil nan ceria pergi dari hidupnya. Mungkin hanya wanita itu yang membuat dia seperti pria normal. Kang Chang Woo sejauh ini, baru jatuh cinta satu kali. Sayangnya kandas sebulan kemudian dengan cara menyakitkan. Chang Woo hanya dijadikan sebatas pelarian.

“Hye Ra Eonni. Apa kau masih belum bisa melupakannya.” Suara itu menyentaknya dari lamunan.

“Dia sudah menikah. Tak ada salahnya bukan dengan menerima cinta Seol Bi.” Kalimat itu terus mengalir dan membangkitkan amarah Chang Woo.

“Seol Bi sudah lama menyukaimu. Dan, kulihat hanya dia selama ini yang bisa mematahkan kebekuanmu. Aku sangat penasaran dengan wanita bernama Hye Ra. Beruntung, mulut Jeong Ill tak serapat lem besi saat sedang bersamaku.” Ucap orang ini frontal sambil menampakkan gigi rapinya.

“Kau memintaku menerima Seol Bi, sedangkan kau sendiri tak percaya dengan cinta. Lihat, bahkan sampai sekarang kau masih sendiri.” Sindir Chang Woo sembari menunjuk-nunjuk mata wanita itu. Dia sedang memperingatkan.

“Jangan menghiraukan kesendirianku. Baru saja kau mengatakan aku tak percaya cinta. Jadi, untuk apa aku memiliki kekasih.” Dia tak kehabisan akal. Wanita ini tiba-tiba datang, berkata seenaknya sambil membawa gitar.

“Jangan ingin tahu tentang wanita itu. Wae?[10] Apa kau ingin menjadi bagian dari mereka yang penasaran denganku?”  Hanya menyebut nama itu. Tetapi, perasaan Chang Woo sudah berhasil teraduk-aduk bukan main.

“Tidak. Kenapa kau semarah itu? Lihat, tanganmu sudah hampir mencekikku. Setahuku, beberapa dari mereka sudah tahu mengenai Hye Ra Eonni. Ada yang sampai meniru gayanya, agar kau suka dengannya.”  Wanita tadi berlagak bodoh amat. Bicaranya masih santai, tak peduli dengan Chang Woo yang sudah berdiri mencekiknya.

Neoneun.[11]

Mianhae Oppa.” Si wanita menyerah, sambil merekahkan senyumnya.

Chang Woo terdiam sesaat, bagaimana bisa senyuman wanita di depannya mengingatkan  mendiang sang ibu. Kecantikan Hye Ra dulunya, selalu diagung-agungkan seperti ibunya. Tetapi, saat wanita itu berubah jahannam, segala perkataan manis, perumpamaan jenis apapun seketika ditarik Chang Woo. Jadinya, dia tak mudah menjatuhkan hatinya sampai saat ini.

Tangannya perlahan lepas. Si wanita langsung terbatuk dan berlalu darinya.

***

Ya[12], Choi Ha Yoon.”

Wae? Sudah tiga kali ku hitung kau menyahut bicaraku. Wae? Kemarilah! Aku akan menghiburmu melalui sebuah lagu.”  Ha Yoon sibuk memutar tuner gitar.

“Baguslah, tidak hanya Seol Bi yang kini mulai kau sahuti kalimatnya. Sedikit ada peningkatan. Namun sayang, aku bukan bagian dari fansmu. Jika iya, kurasa detik ini juga persendianku akan remuk.” Ha Yoon memang periang, sekali lagi dia bukan wanita yang percaya cinta. Apalagi menggilai pria dingin di depannya.

Chang Woo berusaha menjernihkan otaknya. Jangan hanya gara-gara senyum yang mirip mendiang ibunya, dia jadi goyah.

“Kang Chang Woo pria dingin, apa kau tak ingin ku hibur?”

Let’s love dari The Owl.” Ucapannya tertahan. “ Apa kau bisa menyanyikan lagu itu? Permainan gitarmu sangat halus, jadi kurasa kau bisa membawakannya dengan baik.” Kalimat keempat mengalir cukup panjang. Kini Chang Woo duduk bersebelahan dengan Ha Yoon.

Daebak! Bagaimana kau bisa menebak, kalau aku akan menyanyikannya. Chakkamaniyo[13], apa kau juga sering mendengarkanku bermain gitar di kamar belakang?”

“Tidak sering. Hanya dua kali.” Pria itu baru kali ini tersenyum kepadanya.

Kepada Ha Yoon setelah hampir 4 tahun mereka berjumpa. Demi Tuhan! Es di tubuhnya sudah remuk dan perlahan mencair. Ha Yoon sempat tercengang, namun seketika sadar kalau yang barusan ia lakukan sama halnya dengan mengetuk hatinya agar terlena dan berakhir jatuh cinta.

Mereka sedang berduet, saling menyahut dan bergantian membawakan lirik lagu bergenre balada milik The Owl. Meski berdurasi 2 menit, gelenyar panas yang mendadak datang dan merambati tubuhnya, sudah membuat Chang Woo gerah tak karu-karuan.

***

Ha Yoon yang tadi menatapnya dengan intens, Ha Yoon yang tersenyum saat Chang Woo salah lirik dan Ha Yoon yang senantiasa riang walau tak percaya cinta. Ha Yoon bukan ibunya, walau Chang Woo merasakan kehadirannya. Chang Woo perlahan ingin mengerti tentang Ha Yoon yang cukup berbeda dari wanita biasa.

Gomawo.[14] Kau sudah mengabulkan permintaanku.”

Ne? Permintaan apa? Kau bahkan tidak membuat permintaan. Dan aku juga tak mengajukan permintaan.”

“Menyanyikan lagu barusan. Kau juga mengajakku berduet. Senang rasanya. Terimakasih.” Senyum Chang Woo merekah lagi seperti kerupuk yang di goreng.

Ha Yoon berpikir sejenak.“Kau tak perlu berterima kasih, Oppa. Aku hanya sebatas ingin menghibur.”

Dengan sekaligus, waktu berjalan sangat lambat, deburan ombak tak berjalan cepat, Ha Yoon juga tak merasa terdorong ke dimensi lain yang serba mendadak aneh. Ha Yoon sudah lama tak merasakan degupan keras di hatinya.

Setelah 3 tahun lalu, dia hanya hidup dalam ketidakpastian dan keserakahan laki-laki terhadap ibunya. Ha Yoon sudah tanpa ayah sejak umur setahun. Ha Yoon juga ditinggal ibunya akibat ulah seorang pria yang menguras hartanya. Ha Yoon yang begitu mencintai seorang pria, tetapi di akhir ia hanya diberi janji dan ketidakpastian.

“Tidak. Tidak. Jangan sampai aku mengagumimu Oppa.” Ha Yoon histeris sendiri. Dia  beranjak mengayunkan kakinya, tetapi tangan Chang Woo sudah menahannya.

“Barusan kau bilang mengagumiku? Apa tak sekaligus saja mencintaiku?” Pria itu sudah menggeser duduk lebih dekat dengan Ha Yoon.

Mworagoyo? Neo Mitchieosseo?[15] Kau pria dingin yang mendadak berubah menakutkan.” Ha Yoon berujar ketakutan, lalu mengangkat tubuh dan berniat lari, namun sekali lagi pria itu menahannya.

Jujur, sebenarnya Ha Yoon juga senang, apabila Chang Woo memperlakukan dia demikian. Semburat merah di pipi yang tak mampu di sembunyikan, perlahan merambat ke garis bibirnya, hingga rekahan senyum sejati terukir dengan sempurna.

“Jika kau diberi satu permintaan, maukah kau membantuku untuk mewujudkannya?” Chang Woo mengisi ruas jemari Ha Yoon dengan baik. Sudah lama dia tidak seperti ini.

“Mewujudkan?”

“Hm. Saranghaja.[16]

Ha Yoon memberanikan diri menatap manik mata Chang Woo lebih lama.

“Lalu bagaimana dengan Seol Bi? Kau selama ini selalu baik-baik saja saat dia memelukmu. Kurasa Seol Bi benar-benar mencintaimu.” Ha Yoon berargumen, tak mau bila akhirnya timbul masalah diantara mereka bertiga.

“Tetapi aku tidak mencintainya.”

“Setidaknya kau menghargai pengakuan dia.” Ha Yoon masih menimpal, agar Chang Woo juga bertanggung jawab atas perasaan separuh hati milik temanya.

“Justru dengan demikian, akan membuat dia semakin tersiksa. Membuatku merasa sangat bersalah. Karena menjalin ikatan bukan berdasar cinta.”

Ha Yoon terdiam. Lebih tepatnya terkesima dengan kalimat Chang Woo yang bijaksana.

“Meski ini terkesan tergesa-gesa. Jadilah kekasihku. Apa kau bisa mewujudkannya?”

Ha Yoon hanya diam dan mengulum senyum. Chang Woo balas merengkuhnya dengan hangat. Begitu pula dengan galir-galir airmata yang membasahi raut muka seseorang di balik ruangan. Han Seol Bi sudah berdiri disana sejak tadi. Sejak Chang Woo  menatap laut seorang diri.

Sejak Han Yoo belum datang menghantam kebekuan hati pria itu, yang sekarang telah tersulap menjadi serpihan karang-karang indah.

Haengbokkaseyo[17].” Seol Bi meringis, mentertawakan sekaligus mengibah  atas perasaannya yang bertepuk sebelah tangan.

***

 

[1]Selamat ulang tahun

[2]Hai, kakak perempuan

[3] Katakan

[4] Tak bisa dipercaya

[5] Tolonglah aku, kumohon

[6] Aku mencintaimu kak

[7] Bagaimana

[8] Apa

[9] Aku minta maaf

[10] Mengapa

[11] Kau

[12] Hai

[13] Tunggu Sebentar

[14] Terima Kasih

[15] Apa? Apa kau gila?

[16] Mari saling mencintai

[17] Berbahagialah

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s