[EXOFFI FREELANCE] Incredible In Mylife (Chapter 1)

IMG_3208.PNG

Incredible In Mylife

Chapter 1 : When I Meet You

Author : Apple .__. Juice

Genre : Romantic and Family

Rating : PG-15

Length : Chaptered

Main Cast : Raina Alkamora (Rey) (O/C) | Zhang Yixing (Lay/Exo)

Additional Cast : Park Chan Yeol (Exo) | Im Na Mi

And another additional cast 😀

Prev : [Chapter 1]

Summary : Aku pertama kali bertemu dirinya, pertama kali dipukul olehnya, pertama kali menatap matanya, pertama kali … Falling in Love? Tidak, tidak, tidak. Mustahil! – Zhang Yixing

Disclaimer : All cast EXO adalah milik tuhan, orang tua masing-masing member, dan SM Ent.

All additional cast adalah hanya sebuah karangan dari authorss

Mohon maaf apabila terjadi kesamaan cerita,nama,tempat, dll dalam cerita ini.

Indonesia

“Haah!!! Sungguh? Sumpah? Demi apa ini.”

Raina memekik bahagia dengan  apa yang telah dilihatnya di layar laptopnya dengan tangan menutup penuh mulutnya yang terbuka lebar. Masih tidak percaya dengan barusan yang dilihatnya pada layar laptopnya.

“Bun … Bundaa …. Sini deh, cepetan!”

Teriaknya kepada seorang wanita yang tidak lain adalah ibu yang telah melahirkan Raina 24 tahun silam.

“Ada apa sih, dek?” Gerutu wanita tua itu ketika keluar dari dapur dengan memakai daster serta celemek begitu juga bau bawang-bawangan khas ibu-ibu pada umumnya yang menyeruak di sekitar indra penciuman Raina.

“Lihat deh bun, Aku lolos menjadi runner up dalam lomba photography kategori foto produk yang di adain sama B.I.C, yang katanya hanya di ambil 2 karya saja dari beberapa karya yang dilombakan dan … dan … dan apabila bisa mendapatkan juaranya bisa mengikuti program magang selama 6 bulan di kantor mereka.” Seru Raina dengan semangat sembari menunjuk kearah layar laptop yang sedang menyala.

Martha, Bunda Raina mau tidak mau harus membungkuk sedikit untuk bisa melihat rentetan kalimat pada layar laptop Raina. Karena, matanya yang sedikit rabun mengharuskan Martha untuk lebih mendekat ke arah layar laptop itu.

“Ambilin kacamata bunda, di bawah laci bawah televisi itu dek!” Pintahnya halus kepada anak gadisnya, dan segera dilaksanakan oleh Raina.

Raina berlari kecil kearah laci dibawah televisi. Membuka laci penuh semangat sehingga menimbulkan suara gesekan. Dengan lincah Raina menggeledah laci tersebut sehingga menemukan suatu benda yang telah diperintakan oleh bundanya.

“Ini bun, kacamatanya” ujarnya seraya memberikan benda itu kepada Martha, dan segera memandu bundanya untuk duduk di kursi belajar Raina.

Setelah Martha memakai kacamata rabunnya barulah ia membaca sambil bergumam ringan rentetan kalimat yang di tampilkan pada layar laptop. Namun, tiba-tiba dahinya berkerut tanda tak mengerti tulisan yang di tampilkan. Bagaimana mengerti? Tulisannya saja tertera dalam bahasa inggris yang sama sekali Martha tidak tahu apa artinya.

“Ini informasi apa sih dek?” tanyanya seraya menoleh kepada Raina masih dengan dahi berkerut seraya membenarkan kacamatanya yang melorot.

“Bunda nggak in Engrish, bisa adek jelasin apa maksudnya ini?” jelasnya.

Ketika Raina akan membuka mulutnya. Tiba-tiba tangan Martha secepat kilat terangkat sejajar membentuk angka 5 dekat dengan wajahnya menandakan stop kepada Raina. Seketika, teringat ucapan anaknya beberapa menit lalu. Tentang B.I.C Company.

“Tadi adek bilang, B.I.C? Perusahaan Korea yang sedang ngadain lomba photography di Indonesia itu?” tanyanya kepada Raina.

Raina mengangguk dengan mata melotot lebar dan jangan lupa senyuman yang tersungging manis di bibirnya.

Meskipun terkendala dalam masalah umur, Martha masih memiliki ingatan yang kuat terhadap informasi yang diterimanya. Sehingga ia masih setia memandang kepada Raina untuk meminta penjelasan singkat kepada anaknya itu. Faham dengan kondisi bundanya yang pada akhirnya mengerti arah pembicaraan mereka, Raina pun mencoba menjelaskan sedikit demi sedikit tentang informasi yang tertera di layar laptop kepada bundanya.

Satu

Raina menghitung dalam hati

Dua

Ti … ga

Raina menjetikkan jari telunjuk dan ibu jari secara bersamaan.

“Jadi adek … anak bunda ini lolos menjadi finalis lomba photography di Korea?” tanyanya memastikan bahwa apa yang telah dikatakan Raina benar apa adanya.

Seketika itu juga Martha menangkup wajah Raina dengan kedua tangannya. Dengan mata yang berbinar Raina hanya mampu menganggukan kepalanya tanda bahwa benar dirinya berhasil pergi ke Korea. Martha menempelkan dahinya dengan milik dahi Raina menyalurkan beribu-ribu ucapan bahagia  kepada Raina walau pelan Raina masih bisa mendengarnya. Raina tahu bahwa hanya Martha-lah yang selalu memberikan support kepada apa yang telah ditekuninya selama berahun-tahun. Awal yang sangat bahagia bahwa Raina mendapatkan smartphone pertamanya ketika dia lulus SMP. Meski berasal dari keluarga sederhana, sebisa mungkin Martha mencukupi kebutuhan keluarga yaitu dengan membantu suaminya, Anthony yang bekerja di kantoran.

Meskipun gaji terbilang cukup lumayan, namun Martha tetap kekeuh untuk membantu kebutuhan keluarga dengan berjualan menu catering ketika ada yang memesan kepadanya. Martha tahu betapa besar kecintaan Raina kepada seni photography. Terbukti, pertama kali anak gadisnya menorehkan prestasi ketika berhasil meraih juara ketiga tingkat SMA. Prestasinya semakin berlanjut hingga Raina duduk di bangku kuliah.

Raina menjauhkan dahinya, lalu menatap bundanya penuh bimbang. Seketika teringat tentang papanya.

Anthony, pria 52 tahun bisa dibilang ia adalah orang yang menentang cita-cita Raina untuk menjadi photographer. Tidak pernah diketahui alasannya mengapa sebegitu tidak sukanya Anthony dengan hobi yang digeluti Raina. Anthony tidak pernah menampik bahwa seluruh hasil karya-karya Raina sangat bagus, bahkan indah sehingga dia bisa mengerti perasaan anaknya hanya dari sebuah foto. Tapi … tapi ada masa lalu yang kelam yang harus di telannya. Anak pertamanya Anastasia Alkamora meninggal bunuh diri karena telah di perkosa oleh seorang photographer tempat anak sulungnya bekerja menekuni dunia model, dua belas tahun silam. Luka itu masih membekas di lubuk hati Anthony, bagaimana dia menyaksikan anak pertamanya pulang ke rumah dengan pakaian dan rambut yang berantakan. Esoknya, Anastasia ditemukan gantung diri didalam kamarnya dan orang pertama yang mengetahuinya adalah Anthony.

Masa lalu itu terbesit seketika di kepala Martha, seperti cuplikan film yang terulang kembali. Dia melihat wajah Raina, mengusap pipi gembul anaknya dengan mata berbinar.

“Nanti, bunda bantu Rey (sapaan Raina sedari kecil)  ngomong ke papa, ya. Nanti kita jelaskan pelan-pelan ke papa” lirihnya sembari menguatkan anaknya lewat tatapan lembutnya.

**

Malam harinya

“Berikan aku sebotol beer lagi tuan. Aku akan membayarnya, huh! Kenapa kau tidak mengerti juga? Berikan aku minuman beer terbaikmu. Aku akan membayarnya!” pinta pemuda itu dalam bahasa korea.

“Aaahhhh … kau tidak mengerti korea? Just give me a can of beer,  Huh!” pinta pemuda itu untuk yang kedua kalinya.

“ambilah sendiri tuan. Kau hanya tinggal ke bagian kulkas dan kulkasnya disebelah sana” kata penjaga kasir masih menggunakan nada yang sopan, oh jangan lupakan dia yang fasih berbahasa inggris.

Yaa … mau bagaimana lagi kasir itu sangat faham dengan situasi dan kondisinya dalam bekerja dan ini sudah tanggung jawabnya untuk menunjukkan arah kepada pelanggan. Tapi, kondisi itu terjadi apabila supermarket sedang sepi. Bahkan sang penjaga kasirpun akan dengan senang hati meninggalkan meja kasirnya untuk menunjukkan arah. Namun, malam ini tidak, banyak orang berkunjung ke supermarket tempat ia bekerja.

“Lihat … lihat … lihat, you understand english but you’re dumb, mister”.

Kasir itu menghela nafas berat tanda bahwa sudah hampir habis batas kesabarannya. Dia menghitung 1 sampai 10 untuk sekedar menenangkan dirinya

“Please sir, if you want a can of beer, please just take it by yourself. I’m busy, look what have you did. All people wants to pay their groceries and you just block them. I’m warning you, sir.”

Zhang Yixing, pria itu mendengar jelas bahwa ia  diusir, Oh my god bahkan kasir supermarket saja menginginkannya pergi. Entah mendapatkan sinyal darimana dia langsung keluar dari barisan antrian kasir. Namun, karena kadar alkohol yang dikonsumsinya sudah banyak hingga dia kehilangan keseimbangan dalam berjalan. Zhang Yixing, pria itu astaga … lihat saja cara jalannya sudah tidak karuan hingga sampai pada pintu, semua orang yang menatapnya penuh campur aduk ada yang kasihan, takut, bahkan nggak peduli. Ketika sudah sampai di depan pintu, niat ingin membuka duluan namun apa adanya Zhang Yixing kalah cepat dengan seseorang yang membuka dari arah luar hingga ia tersandung bersamaan dengan pintu yang dibuka.

“Aaaaaaakkkkhh!” pekik seorang wanita.

Zhang Yixing terjatuh tepat diatas badan seorang wanita. “sakit” pekiknya dalam hati. Ia mencoba membuka bola matanya pelan-pelan. Namun, berat sekali membuka bola matanya hingga akhirnya dia tertidur di atas tubuh gadis itu.

Raina terkejut mendapati dirinya tiba-tiba dirinya terjatuh karena seorang pria. Orang-orang yang mendengar teriakan Raina yang amat kencang langsung menoleh ke arah sumber suara dan detik berikutnya beberapa orang berlarian ke arah Raina dengan maksud untuk membantunya berdiri. Beberapa orang membopong tubuh Zhang Yixing sementara beberapa orang membantu Raina berdiri.

“Sepertinya dia warga asing, mas” ucap seorang pemuda kepada kerumunan yang menyadari pria yang tengah mabuk itu bukan berasal dari Indonesia. Mendengar penejelasan tersebut, Raina langsung melihat ke arah wajah pemuda itu.

“Benar, bukan dari warga sini atau mungkin dia juga bukan dari Indonesia. Wajahnya seperti wajah orang asia timur.” Batin Raina.

“Sebaiknya, dia kita bawa ke kantor polisi. Kondisinya mabuk dan takutnya kalau dia terbangun malah bikin onar lagi malam-malam begini.” Usul salah satu gadis yang usianya jauh diatas Raina kepada kerumanan. Orang-orang yang menolong Raina dan Zhang Yixing pun mengangguk setuju karena, khawatir akan ada hal yang buruk terjadi.

“Yaudah ayok”

“Iya ayoo buruan”

“Masukin ke mobil saya saja pak biar saya yang bawa.” Usul pria yang sudah lumayan berumur.

“Kamu” ketika suara itu mengarah kepada Raina. “apakah bisa untuk ikut sekalian, mungkin bisa dimintai keterangan dikit atas kejadian yang barusan. Boleh?”

Raina yang namanya terpanggil oleh pria berumur tua tersebut, tampak menimang-nimang usulnya. Ia menggigit bibir bawahnya tanda bahwa dia sedang berfikir sejenak.

“kalau pulang sekarang … males banget. Setelah bertengkar dengan papa rasanya males banget buat pulang. Tapi nggak ada salahnya buat ikutan ke kantor polisi kan lumayan itung-itung buat ngehindarin papa sebentar aja. Sekalian juga nenangin kondisi papa sebentar”

“Gimana mbak?” tanya ibu-ibu berjilbab hitam.

“B … Baik, saya akan ikut mengantar pria ini ke kantor polisi” Jawab Raina kemudian dengan setengah senyumnya.

“Maaf pa, untuk kali ini ijinkan Rey untuk berfikir sejenak untuk memilih jalan Rey sendiri. Antara pergi atau tidaknya ke Korea?  Jawabannya adalah ketika Rey sudah pulang dari kantor polisi.” Batinnya kepada sang papa.

**

=Di dalam mobil=

“Maaf pak jadinya ngerepotin.” Ucap Raina kepada pria yang membawanya ke kantor polisi.

“Iya tidak apa-apa, nak. Lagian ketika kamu teriak saya kebetulan ada di TKP. Jadi apa salahnya kita saling menolong. Bukan maksud kita ingin berprasangka buruk kepada orang ya. Tapi kan kita nggak tau kalau dia ini siapa? Asal dari mana dan semacamnya. Meskipun kasus ini ringan, cuman nggak ada salahnya kita melapor saja kepada polisi.” Tutur kata pria itu dengan sesekali menghadap spion mobil untuk melihat Raina dan Zhang Yixing yang duduk di kursi belakang.

Raina pun mengangguk setuju dengan penuturan pria tua tersebut.

“Raina, pak. Nama saya Raina.” Ucap Raina.

“Panggil saja saya Pak Faris. Kalau boleh ngomong-ngomong nak Raina ini kuliah apa sekolah ya?” kata Faris untuk lebih mencairkan suasana.

“Saya free agent pak, alias saya freelancer. Setelah lulus kuliah saya kerja. Tapi, nggak bertahan lama dan akhirnya saya mencoba dunia freelancer.” Jawab Raina sopan.

Percakapan Raina dan Faris pun berlanjut, hingga tanpa sengaja, tangan Zhang Yixing mengenggam tangan Raina. Sontak Raina pun kaget akan perlakuan tersebut dan seketika menoleh ke arah Zhang Yixing yang duduk di sebelahnya. Raina terkejut oleh Zhang Yixing yang tiba-tiba menangis dalam tidurnya. Karena tidak ingin mengacau Faris yang sedang menyetir, Raina perlahan-lahan melepaskan tangannya dari genggaman tangan pria yang tengah tertidur di sampingnya. Tapi sayangnya gagal, karena Zhang Yixing yang terlalu kuat menggenggam tangan Raina.

“Apa-apaan sih nih cowok, lepasin tanganku, gila! untung dalam mobil coba nggak, kupastiin giginya udah pada rontok!!” batinnya masih menatap tajam kearah Zhang Yixing dengan tangan satunya yang sudah membentuk kepalan siap untuk membaku hantam cowok itu.

**

Sesampainya di kantor polisi, Faris izin sebentar untuk masuk kedalam kantor polisi dan meminta bantuan mereka membopong tubuh tinggi Zhang Yixing. Raina tidak membantu, mengingat tubuhnya lebih pendek dari Zhang Yixing dan Faris. Oh untung … Faris tidak melihat adegan Zhang Yixing yang masih menggenggam tangan Raina hingga dia masuk ke kantor polisi dengan sendirian.

Setelah kepergian Faris barulah Raina melepaskan genggaman tangannya dari Zhang Yixing kuat-kuat. Hingga tanpa sadar dia segera memukul bahu sebelah kiri Zhang Yixing keras-keras dengan tangannya yang beberapa detik lalu bebas dari genggaman.

“Dasar gila” batinnya.

“Appo … Yaaaak. It hurt!!!” tiba-tiba suara berat Zhang Yixing terdengar di indera pendengaran Raina setelah beberapa detik dipukul olehnya. Sontak itu membuat Raina membelalakkan mata lebar-lebar karena dia ketangkap basah memukul pria yang duduk disebelahnya. Setelahnya, mata Zhang Yixing terbuka pelan-pelan yang artinya pria itu bangun dari tidur dan tak lupa dia memegang bahunya yang barusan dipukul oleh gadis yang duduk di sampingnya.

“Neon? Neon Nuguya?”

“Huh?”

***To Be Continue***

Notes : Hai teman-teman, ini bener-bener perdana aku mencoba bikin cerita FF. Jadi untuk kedepannya aku ingin mengetahui apakah ada saran atau kritikan yang masuk kepadaku. Oh iya yang terakhir apakah ceritanya tampak ngebosenin atau gimana ya? Please leave a comment for me at below …

Byee … Incredible people. ~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s