[EXOFFI FREELANCE] Heartbeat (Chapter 1)

heart.png

Heartbeat (Chapter 1)

aliensss

Genre : au, drama, romance, fluffy, angst

Length : Chaptered

Rate : PG-15

Cast: Park Chanyeol (exo), Kim Sae Jin (oc), Byun Baekhyun (exo), Oh Sehun (exo).

Summary :

Sae Jin seperti diberi kesempatan kedua saat tak sengaja bertemu dengan Chanyeol lagi, setelah 5 tahun. Sempat kalah akan teguhnya niat Chanyeol, Sae Jin akhirnya menemukan cara untuk melihat isi hati Chanyeol yang sebenarnya. Bersama Sehun yang baik hati, Sae Jin akhirnya percaya. Detakan jantung menggebu miliknya juga dirasakan oleh Chanyeol.

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan YME dan manusia yang berhak atas mereka. Ide cerita asli milik saya. Cerita ini hanya hasil imajinasi saya, jika terdapat kesamaan dengan cerita lain, maka itu tidak disengaja.

**

Aku tak tahu sejak kapan, tapi percayalah. Detakan manis ini hadir karenamu.

*

Sae Jin memasuki toko buku itu dengan perasaan senang. Akhirnya hari kerja berakhir dan ia bisa mengunjungi tempat kesukaannya ini. Tak mau membuang waktu, Sae Jin pun langsung menuju rak buku favoritnya.

Melihat begitu banyak buku baru, Sae Jin langsung memulai kegiatan memilihnya. Bisa-bisa ia di toko buku ini sampai tengah malam, kalau tak cepat-cepat menentukan akan membeli buku yang mana.

Lima belas menit kemudian, dengan satu buku di tangan, Sae Jin berjalan menuju kasir. Saat melewati lorong-lorng yang ujung terpadat jendela, Sae Jin baru tahu kalau di luar sedang hujan. Dengan malas, Sae Jin berjalan lagi. Tapi kemudian, ia berhenti lagi. Di lorong berikutnya ia melihat seseorang.

Laki-laki dengan kemeja putih khas pegawai kantoran itu sedang membaca sebuah buku, hingga Sae Jin hanya bisa melihatnya dari samping. Tapi meski hanya penampakan  sampingnya yang Sae Jin lihat, Sae Jin bisa yakin kalau orang itu memanglah orang yang ia kenal. Park Chanyeol.

Sae Jin berjalan mendekat pada laki-laki itu, dan saat Sae Jin sudah benar-benar ada di samping laki-laki yang ia duga Chanyeol itu, tiba-tiba saja si pria berbalik dan akhirnya mereka berdiri saling berhadapan.

Tak bermaksud berlebihan, tapi Sae Jin merasa bahwa waktu sedang berhenti. Gadis itu tak bisa mendengar apapun, kecuali detakan jantungnya yang ritmenya perlahan menggila. Sae Jin  maju satu langkah. Dibuangnya buku yang masih ada di tangan Chanyeol hingga dilihatnya Chanyeol mengerutkan dahi. Sae Jin tak perduli, ia lanjut mendekatkan dirinya pada Chanyeol dan menaruh telinganya tepat di dada pria itu.

Awalnya, detakan jantung yang Sae Jin dengar biasa saja. Tapi perlahan, temponya naik dan Sae Jin semakin senang saja. Gadis itu memejamkan matanya dan menikmati denyut di sana.  

Chanyeol lumayan terkejut saat seorang gadis muncul di hadapannya. Rambutnya tak panjang lagi, tapi matanya masih ia kenal. Berusaha tak tampak heran, Chanyeol hanya bisa mengernyit sok kesal waktu buku di tangannya  dibuang Sae Jin begitu saja. Tak berubah, Sae Jin masih saja menyebalkan.

Chanyeol kira, ulah Sae Jin hanya sampai di situ saja. Tapi ternyata, gadis itu benar-benar belum berubah. Kebiasaanya yang suka mendengar detakan jantung masih saja ia pelihara.

“Ini tempat umum, kau mau dikira penjahat?” Chanyeol membuka suara setelah 2 menit membiarkan Sae Jin melakukan aksinya.

Dengan berat hati, Sae Jin menegakkan tubuh. Gadis itu menatap Chanyeol dengan wajah  biasa. “Kukira kau akan langsung mendorongku. Seperti biasanya.” Lima tahun tak bersua dan pria ini hanya berekasi seperti ini. Batu.

Chanyeol tak menggubris ucapan Sae Jin. Ia membungkuk dan memungut bukunya dari lantai, kemudian melenggang pergi.

Sae Jin tentu saja tidak tinggal diam. Ia mengikuti Chanyeol yang kebetulan juga sedang menuju kasir. Laki-laki itu membayar bukunya tadi, begitu pun Sae Jin. Setelahnya ia terus menyusul Chanyeol yang ternyata sedang berdiri di depan toko.

“Kau naik apa kesini?” tanya Sae Jin sembari melihat sekitar. Tak ada waktu untuk saling bertukar kabar rupanya. Chanyeol pasti akan segera pergi. Laki-laki itu persis seperti baru saja bertemu dengan orang asing.  

“Mobil.” Suara Chanyeol pelan, laki-laki itu menunduk dan sedang memaki dalam hati. Bisa-bisanya hujan datang di saat seperti sekarang. Bagaimana ia bisa kabur dari Sae Jin?

“Kenapa tidak pulang?” Sae Jin tersenyum puas saat menyadari bahwa tetesan hujan masih jatuh.

Chanyeol mendongak dan menatap Sae Jin tak suka.

Sae Jin tentu saja senang. Hari ini ia sangat berterima kasih karena hujan sudah datang. Jika bukan karena hujan, Chanyeol pasti sudah pergi. Laki-laki itu tak suka mengemudi ditengah hujan begini.

“Apa?” Sae Jin bertanya pada Chanyeol dengan wajah menantang. Ia ingin tahu apa yang akan Chanyeol lakukan dengan wajah kesal begitu.

Chanyeol diam lalu menatap lurus.

Sae Jin menggunakan kesempatan itu untuk memandangi wajah Chanyeol. Sudah lima tahun ia tak berjumpa dengan laki-laki itu, tentu saja ia rindu. Ya, meskipun Chanyeol tampak tak senang, tapi Sae Jin yakin pria itu hanya pura-pura. Buktinya saja, jantung Chanyeol berdetak sangat cepat tadi. Sama seperti miliknya.  

“Apa yang kau lakukan?” Chanyeol menoleh pada Sae Jin.

“Menatapmu. Memang aku boleh melakukan hal lain padamu?” Tentu saja Sae Jin mau melakukan hal lain. Memeluk Chanyeol? Tapi ia yakin jika ia melakukannya, Chanyeol pasti akan marah.

Chanyeol menautkan alis, berlakon seolah tak suka akan tatapan yang sekarang sedang Sae Jin perlihatkan. “Pulanglah,” katanya pada Sae Jin.

Bohong jika Chanyeol bilang ia tak senang setengah mati karena pertemuan tidak sengaja ini. Ia sampai ingin berteriak sangking senangnya. Tapi sedikit saja rasa senangnya ia perlihatkan, semuanya akan kacau. Percuma selama ini ia mengaku tak menaruh hati pada gadis bermata cokelat itu.

“Chanyeol.”

Panggilan dari Sae Jin membuat lamunan Chanyeol berhenti.

“Kali ini saja. Aku boleh memelukmu ya?” Sae Jin menyatukan kedua tangannya di depan dada. Berharap Chanyeol bisa kasihan padanya.

Chanyeol mengernyit lagi. “Kau ini memang aneh sejak lahir? Mana ada orang yang memohon dengan wajah angkuh begitu?” Wajah yang membuatnya hampis kehabisan oksigen.  

“Baekhyun akan segera datang, jadi kumohon …” bujuk Sae Jin lagi.

Mendengar nama Baekhyun disebut Sae Jin, Chanyeol tiba-tiba saja merasa kesal. Bukankah  sejak dulu gadis ini bilang tak punya hubungan spesial dengan Baekhyun? Lantas kenapa mereka masih bersama sampai sekarang?

Tak lama sebuah mobil berhenti di depan Sae Jin dan Chanyeol. Baekhyun keluar dari sana dengan sebuah payung. Semula, Baekhyun mengembangkan senyum manisnya pada Sae Jin, tapi saat ia melirik ke tempat di sebelah Sae Jin, senyuman Baekhyun itu hilang. Ia terkejut.

“Apa dunia ini sekecil itu?” kata Baekhyun sambil menutup payungnya. Ia langsung berdiri di tengah-tengah antara Sae Jin dan Chanyeol. “Mau apa si monster tiang ini di sini? Bukannya dia sudah di deportasi ke bulan?”

“Bukankah harusnya kau yang ke sana? Bersama para makhluk pendek bulan?” balas Chanyeol

Baekhyun membalik tubuhnya dan dan akhirnya berhadapan dengan Chanyeol. Ia berkacak pinggang, lalu berucap, “Orang bodoh mana yang bilang di bulan ada makhluk pendek? Lagi pula, bukan aku yang pendek! Tapi kau yang kelebihan kalsium!!”

Chanyeol menutup telinganya. “Apa lima tahun ini kau tidak ikut kelas vokal? Suaramu saat berteriak masih saja jelek.”

Kesal, Baekhyun pun menginjak kaki Chanyeol. Ia cukup puas saat Chanyeol meringis kesakitan. “Aku bisa saja menendang kepalamu itu.”

Chanyeol dan Baekhyun bisa adu mulut hingga pagi, jadi Sae Jin berinisiatif. Ditolaknya dua laki-laki dewasa berotak bocah itu, hingga mereka pun terjatuh di depan toko dan terkena guyuran hujan.

Chanyeol dan Baekhyun langsung berdiri dan menatap Sae Jin tak percaya.

“Harusnya, ini pertemuan yang penuh tangis atau penuh tawa. Harusnya penuh adegan romantis, bukannya pertengkaran bocah kalian.” Sae Jin membuka payung Baekhyun tadi. “Ayo pulang, Baekhyun.”

Baekhyun dan Chanyeol  masuk lagi ke emperan toko, Baekhyun langsung mengambil alih payung yang semula Sae Jin pegang, masih sambil melirik Chanyeol dengan kesal.  

“Ayo pulang,” ajak Baekhyun.

Sae Jin tiba-tiba saja merogoh saku celana Chanyeol. Ia mengambil ponsel pria itu dari sana, kemudian berusaha menyalakannya. Tapi belum sempat layar ponsel itu menyala, Chanyeol sudah lebih dulu merebutnya.

“Mau apa kau?” Chanyeol membuat pola di sana.

Sae Jin merebut lagi ponsel itu, kemudian mendial sebuah nomor di sana. Setelah ponselnya sendiri berdering, Sae Jin langsung mengembalikan ponsel Chanyeol. “Itu nomorku. Nanti kuhubungi lagi.”

Chanyeol tak mau ambil pusing. Biarkan saja Sae Jin berbuat sesuka hati. Kalau pun ia membantah atau menolak, Sae Jin pasti tetap akan memaksa. Lagi pula, siapa yang menjamin mereka bisa bertemu lagi? Kebetulan seperti sekarang hanya terjadi sesekali.

Saat Chanyeol akan memasukan ponselnya ke saku lagi, tiba-tiba saja Sae Jin memeluknya. Pelukan gadis bertubuh kurus itu sangat erat, seakan sedang memaksa Chanyeol untuk mengaku kalah saat itu juga.  

“Sampai kapan kau akan pura-pura tidak mendengar detakan jantungku ini, Chanyeol?” gumam Sae Jin dengan suara pelan.

To be continue

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s