[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] A Dove and A Blaze – HyeKim

A Dove and A Blaze

Historical, Romance, Angst || Oneshot || Teens

Starring :

Soloist Luhan & OC`s Kim Hyerim

Disclaimer :  Cerita ini terinspirasi dari drama Korea Mr.Sunshine, Chicago Typewritter, dan fiksi sejarah yang pernah saya baca, meski begitu fanfic ini berdiri sendiri. Semua yang tercantum dari cerita ini sungguh tidak nyata dan hanya menggambil beberapa unsur sejarah yang nyata. Tidak ada niatan untuk menjelek-jelekan satu organisasi/perorangan. Semua cast milik orang tua, agensi, dan Tuhan YMA—terkecuali untuk OC. 


Kisah cinta yang Luhan rajut bersama Kim Hyerim tidaklah sesederhana kisah cinta perjodohan antar aristokrat, pun lebih runyam dari kisah cinta bertentangan antara si proletar hina dan sang aristokrat tersohor.

Keduanya bak dua balik koin berbeda; Hyerim—bangsawan dari Joseon dengan gelora tekad yang tak pernah redup layak kobaran api. Luhan—putra buangan dari Qing yang kelewat bebas seperti burung merpati di atas langit.

Perpisahan memang dibentangkan di kitab cinta keduanya. Namun di bawah cakrawala Oude Haven yang pekat pada Juni 1907, kedua insan itu kembali bersua dan lagi-lagi si merpati dengan nekat terbang ke dalam kobaran api.


© 2018 Storyline by HyeKim

 

Even if it’s coincidence,

I hope I can see you again

Again today,

I’m in the middle of a forked road

Walking on a path towards you

— (Nu’est W — And I [Ost. Mr. Sunshine])

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Coba kau ceritakan kembali secara jelas.”

Sebuah suara menggelegar di tengah sunyi pantai yang membentangkan laut luas yang seakan menyentuh mentari yang hendak terbenam di cakrawala. Deburan ombak tenang dengan pancar oranye dari ufuk barat lah yang mengkawani dua jaka yang sedang asyik mengudap dengan makanan kaleng, pun botol alkohol.

Si Lawan Bicara orang yang mengutarakan tanya, tampak meneguk botolnya, sebelum mengimbuhkan: “Tentang apa, Xingke? Kau ingin aku menceritakan tentang apa?”

Xingke—pemuda asal Qing yang penampilannya sangat kental dengan orang-orang di negerinya; dikhususkan pada rambut setengah botak dan kepangnya yang menjadi rambut andalan orang Qing pada masa ini—membelokkan leher, ia tatap lelaki yang sejujurnya berasal dari negeri yang sama dengannya kendati berpenampilan lebih modern dan dengan nyali menumbuhkan serta-merta memotong rambut menjadi model cepak.

“Kisah asmaramu itu,” ujar Xingke, kurvanya melebar dan berbinar-binar; percikan korneanya amat antusias bin penasaran. “Dengan Si Wanita Joseon,” lanjut Xingke lalu meneguk alkoholnya.

Namanya Luhan, si lelaki yang menjadi kawan konversasi Xingke yang tengah dituntut berdongeng akan kisah asmara klasiknya dengan seorang wanita asal Joseon.

Klasik. Sejujurnya frasa itu kurang mutlak pada jalinan lika-liku keduanya yang amat berombak; tenang tetapi di lain sisi amat bergelora dan bisa dibilang berbahaya.

Obsidian Luhan memandang mentari di ufuk barat yang masih dalam perjalanannya menenggelamkan diri tuk menciptakan kegelapan di langit. Seakan menantang, Luhan memandang sang mentari. Tepat jauh di ujung pantai yang tenang, lautan yang luas, samudra yang dalam, pun mentari yang tengah ia tantang. Joseon, tepatnya Hanseong, bermil-mil jauhnya dari tempat di mana Luhan dan Xingke bersinggah kini; di bawah langit Eropa, tepat di negeri kincir angin, Belanda. Obsidian Luhan berkilat-kilat rindu di balik pekat tegas legamnya itu, benaknya pergi terbang ke Hanseong; ke pelukan wanitanya.

Sembari menyetor alkohol ke dalam tubuhnya, Luhan menuturkan, “Dia seorang aristokrat. Kakeknya adalah mantan guru Yang Mulia Raja. Ayahnya seorang menteri luar negeri di Joseon.” Luhan memainkan botol kosongnya, senyumannya tersungging dengan labirin otak berimajinasi jauh memantulkan figur wanita yang ia cinta. “Dirinya cantik, tentu saja. Kelakar dan tindakannya layak putri bangsawan sebagaimananya—”

“—Kemudian kalian menjalin kisah cinta tertentang antara gadis bangsawan dan lelaki biasa. Bah, klasik sekali kisahmu, Lu,” potong Xingke, keminatan yang tadi meraup sebagian runggunya telah ludes, dipandang lah debaran pantai yang tenang sambil menikmati birnya.

Alih-alih membenarkan kalimat kawannya yang merupakan sesama pedagang di kapal dagang asing ini, Luhan malahan mendengus dan tertawa mencemooh Xingke. Tatapan gelinya melekat pada pemuda yang baru melenyapkan rasa minatnya dan memandangnya kembali dengan kerutan dahi heran.

Tawa Luhan mencapai klimaksnya, kendati masih ada tawa kecil bin pelan mengudara.

“Kau pikir aku sekedar anak buangan yang kabur dari rumah karena ingin bebas lalu ikut ke kapal dagang asing kemudian selama enam tahun tinggal di Hanseong dan sesekali di laut, tanpa kembali ke negeri asalku, begitu?”

Xingke mengangguk karena memang itulah yang Luhan katakan pada dirinya. Luhan selama enam tahun ke belakang bermukim di Hanseong, Joseon; menjadi seorang pedagang dan tentu kadang berlayar dengan kapalnya ke berbagai manca negara. Dirinya juga menceritakan latar belakangnya yang kabur dari rumah dan didepak karena angkara ayahnya yang menolak kebebasan yang Luhan tuntut pada beliau.

Tersenyum miring sekilas, Luhan menjatuhkan pandangan ke pantai. “Asal kau tahu, ayahku ini menteri keuangan di Qing.” Air mancur dari alkohol yang berasal dari mulut Xingke, menyembur. Secara gontai Luhan melanjutkan ucapannya, “Maka dari itu ayahku marah besar saat tahu aku ingin bebas layaknya merpati; pergi ke seluruh penjuru dunia, berdagang, mempelajari bahasa baru, alih-alih melibatkan diri pada politik negara kita. Membosankan, tahu.”

Rahang Xingke turun lebar; menganga, netranya membeliak, wajahnya terkejut bukan main.

“Ja—jangan … bilang ayahmu itu ….” Xingke tergagap, aksara sebuah nama tersohor itu dia telan kala Luhan menatapnya lurus-lurus dengan senyum simpul.

“Tidak usah disebut,” tukas Luhan, mematri senyum simpulnya yang lain. “Aku tidak mau mendengar namanya. Seperti benci sekali, ya? Ya, begitulah. Aku benci ayahku, benci sifat temperamennya yang kerap kali menyiksa mendiang ibuku. Jadi jangan salahkan aku juga yang memilih kabur.” Luhan bersikap tak acuh dengan bahu mengedik. “Lagipula dunia ini luas. Negara kita saja mulai melakukan modernisasi. Kenapa kita tidak berpetualang ke seluruh penjuru dunia dibandingkan mendekam di rumah dengan orang yang selalu memukuli orang terkasihmu selama dirinya hidup dan menjadi bonekanya?” sembur Luhan, siluet bayangan gadis dengan hanbok indah melintasi otaknya membuatnya mengulum senyum, “Apalagi jika aku berpetualang ke seluruh penjuru dunia dengannya. Dia pasti antusias melihat indahnya Rotterdam yang sudah terpancar dari awal kita berlabuh di Oude Haven.”

Cara Luhan memandang lautan lepas dengan paras tersiram oranye mentari, pun kurva menyungging senyum, layaknya orang mabuk; mabuk cinta lebih spesifiknya, bukan sebab botol alkohol yang telah raib isinya dan menjalar ke seluruh runggunya.

Xingke memperhatikan lekuk samping paras Luhan.

“Jadi, kisah cinta kalian klasik, eh?” cetus Xingke, satu alisnya terangkat. “Antara bangsawan terhormat dan bangsawan terbuang. Klasik dan penuh melodrama lantas berakhir berpisah.” Xingke beraksara layaknya penulis fiksi yang tengah menceritakan ulang kerangka kasar ceritanya, tanpa sarat ragu-ragu di dalamnya.

Debaran ombak pantai yang pasang-surut meraba pasir di hadapan kedua jaka itu, amat memanjakan indra mendengar, sehingga Luhan membutakan indra melihat; khidmat menikmati suara ombak dengan otak berjalan-jalan ke Hanseong; bertemu wanitanya, saling tukar sapa, menggamit jemari, dan mengutarakan rindu yang tiada tara. Tanpa sadar, Luhan tersenyum dikarenakan imajinasi yang dicelupkan dalam otaknya itu.

“Tidak begitu juga, Xingke,” sahut Luhan, kembali mengekspos indra melihatnya lalu menyerong pandang ke pasir pantai. Telunjuk Luhan sibuk menari di atas pasir. “Aku dan dirinya memang bertolak belakang. Tetapi lebih dari itu. Wanitaku bukanlah wanita bangsawan yang lebih senang melukis dan menyulam dengan piawai. Alih-alih akrab dengan jarum dan kain untuk menyulam, dirinya lebih luwes dengan senjata api untuk menebas nyawa orang,” tandas Luhan, sekelebat bayangan seseorang dengan pakaian hitam dan kain senada yang menyelubungi wajahnya; menyamarkan parasnya, tengah melompati atap dengan senjata api, melewati benak Luhan membuatnya tersenyum tipis.

Di sebelahnya, lagi-lagi Xinge menganga sangat lebar dengan wajah terkejutnya.

“Jangan bilang dia ….”

“Pasukan kebenaran,” serobot Luhan, lantang, memecah cakrawala laut yang mulai gelap dan hanya rona-rona oranye saja yang masih menyembul dari si mentari. Kepala Luhan berbelok pada Xingke yang mengernyit, lalu lelaki Lu ini menyimpulkan senyum. “Dirinya indah, akan tetapi tidak seperti bunga. Dirinya seperti kobaran api, amat bergelora, elok, pun dapat membakar dirinya sendiri. Sebagai salah satu pasukan kebenaran, dirinya terus-menerus melintasi api dan akhirnya menyatu dengannya.” Luhan beraksara kemudian tersenyum dengan rasa rindu membuncah menatap coretan telunjuknya di atas pasir tadi; sebuah nama dalam aksara Korea,

Kim Hyerim.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Hanseong, Joseon, Desember 1901

Serpih-serpih salju dengan gemulai tumpah dari pekat langit malam Desember, 1901, di bawah panorama bulan di kota Hanseong yang masih sedikit sibuk sebelum jam malam dimulai dengan ditandai jam besar di tengah kota dipukul oleh petugas yang menyerukan waktu telah menunjukkan jam malam.

Term yang sama sekali tidak terusik oleh serpihan salju, tetap beroperasi sebagaimana biasanya malam itu, melintasi jalurnya yang sudah ditata sedemikian rupa melewati berbagai rute. Kosong melompong lah isi si term yang masih beroperasi di tengah keping putih piawai yang dingin. Penumpang tidak ada di dalamnya.

Ya, di dalamnya. Dikarenakan seorang jaka dengan asyik menengadahkan kepala dan tangan kanannya memperhatikan keping putih dari cakrawala, berdiri di ambang pintu term dan dialah satu-satunya penumpang terakhir malam ini sebelum term beristirahat dan jam malam tiba.

Adalah Luhan—si penumpang terakhir term di malam salju turun pada Desember 1901—yang menyematkan senyum; mengagumi keindahan mukjizat Tuhan yang terjadi tiap musim dingin ini. Kala serpihan itu menyentuh telapaknya yang terbuka, Luhan menggenggamnya seakan itu sebuah harta dan secara sederhana dirinya tersenyum bahagia memperhatikan kepalan tangannya yang telah meraibkan keping putih yang mampir di atas telapaknya barusan dan sudah menjadi sebuah cairan tak berarti; keindahannya hilang, pun bentuk serpihan tersebut.

Rute yang sedang dilewati term yang diterpa serpihan hujan salju ialah jantung kota Hanseong. Beberapa orang berbondong-bondong memencar di jalan untuk menuju rumah masing-masing, suasananya tidak seramai beberapa jam yang lalu sebab sejam lagi jam malam akan dimulai.

Kala Luhan sedang asyik memperhatikan indahnya lampu jalanan, bunyi selongsong peluru mencuat, menggemparkan malam bersalju pada bulan Desember tersebut. Kontan pekikan kaget orang-orang berkumandang, refleks jua Luhan menoleh ke sumber yang memungkinkan asal tembakan itu terjadi; arah jam empat, di balik beberapa atap di sana terbangun megah bar di mana pejabat-pejabat Jepang dan orang pro-Jepang kerap kali berembuk mendiskusikan cara mereka untuk menyebarkan kolonialisme Jepang serta-merta merebut kedaulatan Joseon.

Simpang-siur warga sekitar tak mengusik Luhan, anehnya. Jaka itu sibuk menelusuri jalan pikir otaknya yang merambet ke mana-mana, kepalanya menunduk dengan kilatan pekat irisnya, sebuah gumaman lolos dari bibirnya:

“Pasukan kebenaran.”

Kemudian pria asal Qing ini menyungging senyum tipis. Sudah rahasia umum bahwa eksistensi pasukan kebenaran memanglah ada; mencoba menumpas tentara-tentara asing brengsek yang hendak menancapkan kekuasaan di tanah Joseon. Berjuang tanpa nama, mempertaruhkan nyawa dengan berlandasan patriotisme dalam diri.

Term yang mengangkut Luhan tidaklah terusik akan insiden penembakan yang langsung mengeluarkan selentingan-selentingan bahwasanya ada nyawa yang tertumpas efek tembakan itu; seorang menteri luar negeri dari Kerajaan Joseon yang merupakan pro-Jepang, oleh pejalan kaki yang dilewati term sembari menampakkan raut pias bukan main.

Rute yang ditelusuri term adalah daerah yang sudah sepi senyap. Ketika itulah liang dengar Luhan mendengar gemuruh langkah kaki tergesa dengan teriakan-teriakan berbahasa Jepang yang tak pernah dia pelajari sepanjang hidupnya. Namun kecerdasan otaknya encer, Luhan langsung tahu bahwa yang berteriak adalah tentara-tentara negeri matahari terbit itu yang tengah mengejar pelaku penembakan tadi.

Secara kebetulan, term melintas, Luhan berdiri di salah satu ambang pintunya, acara pengejaran tersebut melewati rute di mana saat term melintas. Seorang yang perawakannya dinilai terlalu kurus untuk seorang pemuda gagah yang berjuang melindungi negaranya, muncul dengan tabir menyelubungi wajahnya; menyamarkannya, tubuhnya dibalut kemeja putih, celana kain hitam, serta jubah panjang dan topi bulat berwarna sama dengan celana kainnya. Dalam peran sebagai saksi pengejaran pemuda kurus dengan tentara-tentara Jepang beberapa jauh di belakang pemuda itu dari ambang pintu term, kelereng beriris Luhan tak sengaja bertumbuk dengan logam pekat milik pemuda itu.

Di bawah hujan salju yang mulai lebat, Luhan masih dapat mengenali tatapan tajam dalam kurva Si Penembak Lihai yang tengah dikejar tentara Jepang. Lantas netra Luhan membeliak, kepalanya terserong ke gang di mana tempat pemuda kurus tadi muncul, tentara Jepang masih terjebak di gang sana dengan suara-suara bernada marah menggelegar, belum bisa mengejar lari gesit penembak yang menggugurkan salah satu informan berharga mereka.

Tanpa menelaah konsekuensi yang akan ia dapat pada tindakan yang hendak dirinya lakukan, Luhan melompat turun dari term yang gilanya masih berjalan santai di atas relnya. Benar-benar tak berpikiran panjang hanya karena saling silih pandang dengan pelaku penembak yang binar manik bergelora bin berkobarnya itu familier di dalam ingatannya, Luhan memacu larinya yang dari belia telah diakui gesit layaknya cheetah ke arah di mana pemuda penembak tadi terakhir lenyap dari atensinya.

Jalan-jalan sepi Hanseong ditelusuri Luhan dengan berpayung di bawah gemerlap bintang dan rembulan, pun lentera-lentera jalanan serta serpihan dingin salju. Teliti, Luhan menelaah ke sekitar, tungkainya melewati sebuah bar yang masih ramai pengunjung yang sebagian besar telah terjerat alkohol.

Gang di samping bar menarik atensi Luhan. Mengandalkan insting semata, tungkai Luhan berayun ke arah sana dengan hati-hati. Sikap waspada Luhan kalah telak ketika sebuah lengan menariknya kala memasuki gang tersebut, memojokkannya di dinding gang sambil membekap mulutnya, tanpa Luhan sempat melakukan perlawanan apapun. Orang yang dikejar Jepang tadi dengan bau bubuk mesiu menyerbak dari tubuhnya, kali ini berada tepat beberapa jengkal di hadapan wajah Luhan yang melebarkan netra dan menyelami obsidian pekat di depannya yang familier dalam memoar Luhan.

Pekat hitam dalam kornea yang memancarkan gelora berkobar layaknya api ini pernah Luhan lihat di pasar di mana dirinya merintis bisnis membuka sebuah toko roti Perancis. Dan seorang wanita aristokrat dengan tandu yang selalu membawanya, merupakan pelanggan setia toko roti Perancisnya. Dirinya pernah mengeluhkan betapa tidak cocoknya permen dengan indra pengecapnya. Kelakarnya, parasnya, senyumannya, tatapannya, Luhan ingat betul karena seringnya berinteraksi dan tentu, bagaimana mungkin wanita sejelita itu Luhan lupakan dalam ingatannya? Dan tatapan yang amat ia ingat dari milik aristokrat pelanggan setia toko rotinya dimiliki oleh pemuda yang membekapnya kini.

“Diam. Jangan banyak bicara!” titah penyekap bibir ranum Luhan, vokalnya memang tegas dan dalam tetapi tak menyamarkan bahwa vokal ini adalah vokal yang amat Luhan kenal; milik Si Wanita Aristokrat pelanggan setia tokonya.

Kepala pelaku penembak di hadapannya, menoleh ke ujung gang dengan kilat was-wasnya jikalau tentara Jepang yang menginginkan hasil jarahan yang diambilnya dari menteri pengkhianat tadi, muncul. Tanpa sadar, tangannya turun dari mulut Luhan yang dari tadi memperhatikannya lamat-lamat.

“Nona Hyerim.” Tanpa takut, Luhan memfrasakan nama itu, nama bangsawan yang sejak menjadi pelanggan setia tokonya telah mencuri perhatiannya. Dan pemuda yang tadi membekapnya, menyerong leher kembali ke arahnya dengan pupil melebar.

Luhan mematri senyum. “Aku tahu ini Anda. Matamu yang selalu kupuji indah, tidak bisa kulenyapkan dari ingatanku,” tutur Luhan dan sikap lancangnya ini menyebabkan kain yang menyamarkan wajah Si Penembak lolos, menampilkan wajah jelita seorang perempuan alih-alih wajah tampan seorang lelaki.

Adalah Kim Hyerim—penembak jitu yang menjadi pelaku penembak yang dikejar Jepang—yang dwimaniknya melebar, napasnya menderu; terkejut karena identitasnya terbongkar oleh pemilik toko roti yang sering ia kunjungi.

Hyerim menelan saliva. “K—kau ….”

“Tempat sepi bukanlah tempat yang baik untuk bersembunyi, Nona.” Lisan Luhan bercakap tanpa mempedulikan nona bangsawan di hadapannya ini tengah tergagap dan terkejut-kejut akan kejeliannya, sambil menoleh ke ujung gang kemudian kembali menatap Hyerim yang menatapnya kosong dengan tubuh tercengang.

Lancang sepertinya boleh dilabeli pada pria berkumis dan berjanggut tipis bernama Luhan ini ketika kembali tangannya bergerayang menanggalkan jubah panjang Hyerim hingga menyapa tanah yang dingin sebab disentuh serpihan salju yang masih turun. Topi yang dikenakan Hyerim dipindahkan ke kepalanya, dan dengan senyum misteriusnya, Luhan menarik ikat rambut Hyerim sehingga surai indah wanita ini tergerai.

Sadar pada tindakan-tindakan lancang Luhan, Hyerim mengerjap dan tampangnya lantas berkerut marah.

“Apa yang kau lakukan?!” Hyerim setengah memekik, tak mau dengan konyol tertangkap Jepang di sini, dengan Luhan pula.

Plum Hyerim ditekan lembut oleh telunjuk Luhan yang mendesis; kode agar dirinya tidak berkicau bising melayangkan protesan.

“Tempat ramai adalah tempat persembunyian yang lebih aman,” ucap Luhan sebelum menggamit jemari Hyerim, menariknya keluar gang. Mengekori, Hyerim menatap pedagang di hadapannya bingung. “Dan jubah, topi, rambut yang diikat, masih sedikit mencerminkan penembak jitu tadi alih-alih perempuan mabuk yang sedang emmm … apa ya?” Luhan berkata tanpa rinci di akhir kalimat, dirinya menoleh kepada Hyerim dengan senyum teka-teki membuat si bangsawan bermuara dirasa bingung tiada tara dan berhasrat ingin menghajar pedagang lancang ini kalau tidak ingat pria ini sering bermurah hati memberikan potongan harga pada roti-roti nikmat yang ia beli di tokonya.

Keduanya telah berada di depan kedai dengan semerbak alkohol pekat yang menguar dari dalamnya, tepat ketika suara bising langkah kaki pasukan Jepang menggema di sisi jalan yang lain. Kecekatan Luhan yang amat piawai telah membuat Hyerim terpojok di dinding bangunan kedai, pria ini tersenyum miring sebelum secara tiba-tiba mengikis spasi dengan si wanita bangsawan.

“Dan jubah, topi, rambut yang diikat, masih sedikit mencerminkan penembak jitu tadi alih-alih perempuan mabuk yang sedang emmm … apa ya?”

Perkataan Luhan yang tak rinci, ambigu, pun mengambang tersebut bisa diklarifikasi jelas karena adegan yang sedang terjadi antara pedagang dari Qing dan salah satu bangsawan tersohor di Joseon ini. Alih-alih perempuan mabuk yang sedang bercumbu. Itulah yang hendak Luhan frasakan pada Hyerim karena di bawah hujan salju dengan panorama bulan dan lentera jalanan, bibir Kim Hyerim dinodai oleh bibir lelaki untuk pertama kalinya.

Dengan kepala berhias topi milik Hyerim yang menyamarkan paras keduanya, Luhan mencumbu bibir wanita di hadapannya sambil memiringkan kepala. Dan berkat surai panjang Hyerim juga, wajah si dara tersamarkan tetapi netranya masih melebar kaget akan insiden yang sedang menimpanya di bawah lebatnya hujan salju di depan sebuah kedai pada malam yang remang-remang ini, membuatnya kini hanya bisa membatu sambil mencerna.

Tatkala eksistensi tentara-tentara Jepang muncul di dekat kedai, Hyerim pun sadar apa peran yang sedang dia lakoni bersama Luhan; lelaki dan perempuan mabuk yang tengah bercumbu di depan kedai tempat mereka bersampanye-ria.

Mendalami peran, lengan Hyerim dengan sendirinya melingkar di leher Luhan dan sama-sama memiringkan wajah seperti Luhan tapi dengan arah berlawanan dan menarik leher Luhan agar ciuman keduanya makin dalam. Bibir ranum keduanya pun kian mencumbu dalam layaknya pasang insan yang sungguhan dikendalikan alkohol yang melumpuhkan akal. Luhan turut juga melingkarkan tangan di pinggang Hyerim dan menarik tubuh pelaku penembakan tadi ke tubuhnya. Decakan dalam lumatan turut mendominasi.

Tentara-tentara Jepang melintas, tak mengindahkan dua makhluk adam dan hawa yang sedang bercumbu depan kedai. Alkohol yang mencabar ke pangkal hidung mereka—yang sesungguhnya aroma kuat dari dalam kedai—membuat para tentara itu betul-betul percaya bahwasanya dua insan yang sedang berlakon itu mabuk dan tengah berciuman karena alkohol yang melumpuhkan runggu keduanya. Dan dengan begitu, dengan sebagian tentara yang melihat adegan cumbuan itu sambil mendengus serta-merta menggeleng-geleng, tentara-tentara Jepang hanya melewati keduanya.

Tentara-tentara Jepang pun telah lenyap dari sana. Momentum yang diambil Hyerim selanjutnya adalah memisahkan bibir Luhan dari bibirnya; mendorong tubuh pemuda yang masih melingkarkan tangan di pinggangnya sehingga pagutan dan buaian panjang barusan terputus. Napas keduanya tersenggal. Dalam permukaan kornea Hyerim berkecamuk banyaknya emosi sementara kornea Luhan hanya berbinar santai.

Pria Lu ini menyungging senyum lebar seakan bebas dosa, kurvanya membentuk sebuah bulan sabit karenanya. Hyerim sendiri memicing, napasnya masih tersenggal—ini kali pertama dirinya bercumbu dalam sebuah buaian yang panjang pula.

“Kau …” dwimanik Hyerim kian memicing, kobarannya tajam, “… sungguh pantas disebut lancang dan kurang ajar. Dan mestinya aku menendangmu sekarang,” kelit Hyerim.

Ganjilnya, kelitan itu mengundang gelak tawa Luhan menyebabkan si aristokrat memandangnya sebagaimana orang waras melihat orang sinting berkeliaran tanpa malu, sambil mengernyit.

Finis tertawa, Luhan pandang Hyerim dengan melengkungkan senyum lebar tanpa rasa bersalah.

“Tapi aku telah membantumu, bukan, Nona? Setidaknya dalam hati kau berterima-kasih kendati mencelaku barusan,” imbuh Luhan difinali senyuman manis.

Manakala Luhan berimbuh demikian, picingan Hyerim lenyap, binar irisnya berganti menjadi kosong, riak parasnya menegang dan seakan malu tertangkap basah, salivanya pun terteguk.

“Anggap saja aku berhutang padamu, Tuan Lu,” timpal Hyerim, pandangannya menghindari bersitumpu dengan obsidian Luhan. “Aku akan membayarnya sewaktu-waktu,” ucap Hyerim, kembali pandangannya terangkat menatap Luhan yang sedang menatapnya.

Janji berupa lisan itu membuat pikiran Luhan menyusun berbagai rencana. Sebelum melepaskan diri dari Hyerim dengan menyingkirkan tangan dari pinggang dara ini, Luhan mengulas senyum dengan teka-teki tersirat di dalamnya membuat Hyerim bingung serta menaruh curiga.

Anggukan Luhan tercuat, “Baiklah,” katanya, mufakat pada janji Hyerim dan perihal hutang bangsawan jelita nan anggun yang diam-diam memiliki identitas penembak yang tak gentar menumpahkan darah. “Besok datang lah ke tokoku, Nona …” topi di kepalanya, Luhan pindah alihkan kembali kepada pemiliknya; di kepala Hyerim yang langsung teringat juga harus memungut jubahnya yang terkapar di atas setapak gang tadi dan ditinggalkannya karena diseret oleh Luhan. “… dan akan kuberitahu caramu untuk membalasku.” Luhan menutup perbincangan dengan sebelah mata mengedip, senyuman miring, lalu membalik badan dengan piawai serta penuh pesona.

Diafragma Hyerim mengempis, entah sejak kapan dirinya menahan napas hanya karena memperhatikan pahat sempurna Luhan.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Aroma harum daging babi panggang dengan klontang sendok-garpu di sekitar ditemani oleh kicauan-kicauan orang berfisik bangsa barat—spesifiknya orang-orang Belanda—yang bercengkrama, melempar guyon, senda-gurau, atau ringannya saling berdongeng antar diri masing-masing dan silih menanyakan kabar, yang tadinya menyambangi runggu Luhan seketika lenyap kala Xingke—yang duduk di hadapannya—membanting keras gelas anggurnya di atas meja bistro sambil melebarkan netranya, membuat Luhan tersentak kaget.

Semulanya pedagang darah Qing yang lama bermukim di Hanseong itu sedang menyantap nikmat babi panggangnya ditambah oleh anggur merah yang sukar didapatkan di Asia. Kendati geliginya sibuk menggilas daging, Luhan berangsur-angsur melantunkan dongeng romansanya dengan wanita ningrat asal Joseon yang malam hari berubah menjadi penembak jitu yang berpayung dalam nama pasukan kebenaran. Ketika lantunan dongeng dari bariton Luhan yang agak disenyapkan oleh kebisingan bistro tetapi masih dapat Xingke tangkap dengan jelas, mencapai klimaks, Xingke membanting gelas anggurnya dan menatap Luhan dengan manik melebar seperti sekarang ini.

“Kau kenapa?” Lisan Luhan bertanya dengan raut bingungnya, kemudian menyantap kembali dagingnya sebelum menjadi dingin dan tidak nikmat kala dicicip lidahnya.

Dwimanik Xingke masih melebar, kurvanya itu seakan-akan ingin memuntahkan bola matanya saja. “Kisahmu itu …,” imbuhnya, tampangnya berganti menjadi takjub dan dalam korneanya terpancar rasa antusias, “memang tidak biasa. Sungguh sesuatu. Lantas apa yang terjadi esoknya ketika kekasihmu—sebut saja begitu—datang ke tokomu?”

Watak penasaran dalam diri Xingke yang amat kritis memang tidak bisa teredam. Luhan pun telah menangkap gelagatnya dari awal dan semestinya tidak kaget ketika pria yang baru melemparkan diri mencari nafkah di kapal asing ini, bereaksi demikian ketika dirinya melantunkan kitab cintanya bersama Kim Hyerim nun jauh di Hanseong sana—dan Luhan saja tidak tahu, wanita itu masih berada di Hanseong atau mungkin di nirwana sebab persuaan terakhir mereka sangat buruk, begitupula dengan keadaan Hyerim sendiri. Luhan hanya berharap Hyerim masih berada di bawah langit yang sama dan berpijak di atas tanah Hanseong, alih-alih terkubur di dalamnya.

Ketika benaknya terbang, berjalan-jalan di masa yang ditanyai Xingke barusan, sunggingan senyum Luhan terpatri manis.

“Kala itu dirinya amat cantik, sangat.” Luhan bertutur kata selagi pikirannya terbang kepada sosok Hyerim tempo itu; memakai hanbok berluaran kuning dan roknya yang berwarna putih, mengepang satu surai panjang legamnya dengan hiasan jepit rambut kupu-kupu.

“Matanya …” Luhan menerawang, kendati di hadapannya ialah figur kritis Xingke yang menanti lanjutan kisah dengan gurat-gurat wajah antusiasnya, yang retinanya lihat malahan dara jelita yang keluar dari tandunya sambil menutupi kepala dengan kain hanboknya serta-merta permukaan korneanya berpancar tajam bin bergelora persis seperti manik yang Luhan lihat dibawah lebatnya hujan salju Desember 1901.  “indah selayak biasanya. Bibirnya berkata lugas, seperti ini …”

Sebuah sopran lugas itu berdenging di liang Luhan, spontan jua senyuman terukir di bibirnya. Dalam kepalanya terpantul refleksi Hyerim dengan wajah serius penuh kode-kode tersirat yang hanya dipahami olehnya serta Luhan—dalam binar obsidian dan riak parasnya menggambarkan jikalau sang aristokrat ingin membahas perihal malam dalam celupan bulan yang tersamarkan di tengah serpihan salju yang seketika gempar oleh cetusan tembakan dan berakhir dengan peran dua pemabuk nan tengah bercumbu.

“… Bisa kita bicara sebentar, Tuan Lu? Aku ingin membeli beberapa roti untuk ayahanda saya.” Luhan tiru sebagaimana Hyerim beraksara saat itu dengan sikap canggung tetapi lugas serta tetap memesona bagi si pemilik toko roti Perancis yang terlanjur diseret oleh ombak asmara. Gelas anggurnya, Luhan isi kembali dengan anggur merah, meneguknya lalu menatap Xingke dengan senyum tipis. “Lantas kujamu dirinya, tentu saja.” Refleksi ilusi dalam otaknya terpantul kembali pada bagaimana piawainya Kim Hyerim duduk di hadapannya dengan tatapan serius yang tak pudar sedari awal persuaan keduanya.

“Saat dia bertanya mengenai cara membayar hutang—” kepala Luhan menengadah sebab kembali menyetor anggur merah yang memeluk runggu dengan kehangatan, “—aku menjawab …” memainkan gelas kosongnya dan menerawang ke atas mejanya, Luhan ingat ia melempar senyum termanisnya tempo itu kepada Kim Hyerim sambil berkata: “… belilah satu roti termurah setiap hari di tokoku sampai aku bisa menggunakan uang dari hasil pembelian Anda untuk membeli jam analog kalung, globe, kompas, dan sebuah kotak musik dari Belanda.” Bariton dan sikapnya persis seperti ketika dirinya berkata di hadapan si wanita bangsawan yang kontan saja melebarkan manik, sedangkan Luhan tetap tersenyum manis—kini pun lelaki ini tersenyum dikarenakan nostalgia yang dia lakukan membuat rindu menyusup dalam hati, pun rasa perih terbalut di dalamnya.

Tabrakan gelas dan meja yang disebabkan Xingke nan kini membulatkan mata, menyebabkan suara ‘duk’ tergaungkan.

“Dan tentu saja itu jebakan! Sebuah taktik!” sembur Xinge. Luhan sendiri tersenyum miring. “Kau dari dulu sudah menaruh perhatian padanya kemudian dengan hutang budinya, kau memakainya untuk bisa mengikatnya sedikit demi sedikit padamu.”

Menaruh gelas kosongnya, telunjuk dan jempol kanan Luhan terserong pada Xingke dengan tampang takjub.

“Tepat sekali,” timpal Luhan membuat dada membusung angkuh Xingke terlakoni sebab merasa bangga bisa menebak alur karena dari kemarin sore di tengah debaran tenang pantai dan mentari yang menenggelamkan diri di ufuk barat, Xingke terus-menerus keliru menebak alur kisah keduanya. “Awalnya dengan pelototan setajam pisaunya, dirinya melayangkan protes namun berusaha meredam emosi dan menyetujuinya. Kemudian … ya, tak perlu kulanjutkan, ‘kan?” ucap Luhan, mengedipkan sebelah matanya dengan senyum penuh arti.

Alur drama Hyerim dan Luhan yang kelihatan sederhana itu, tentu dapat ditebak Xingke tanpa keliru sekalipun. Tiap hari wanita dari kaum ningrat itu mengunjungi toko roti milik pria dari Qing yang mengisolasikan diri di Hanseong. Tadinya hanya seminggu sekali berkunjung untuk membeli beberapa roti, kini tiap hari lah Kim Hyerim bersinggah di toko berkepemilikan Luhan yang selalu menyambutnya dengan senyuman manis bin memesona yang akhirnya familier dalam lingkup otaknya dan lantas menghantuinya sampai di alam bunga tidurnya, pun tanpa sadar Kim Hyerim telah jatuh ke perangkap pesona Luhan yang sukar ditolak—sesuai rencana Luhan akan negosiasi perihal hutang budi Hyerim padanya; agar wanita yang ia puja terikat padanya dan akhirnya pun membuahkan hasil yang sepadan dengan ekspektasinya.

Hutang Hyerim tentu saja berjangka panjang sebab yang dia beli hanyalah roti dua sen sedangkan barang yang Luhan sebutkan memiliki harga menjulang tinggi. Namun, setelah semuanya mengalir begitu saja, tatkala dirinya terjerat pada Luhan, Hyerim tak memikul berat sama sekali akan hutang budi tersebut dan tiap kali berembuk dengan prianya, dirinya tak ingin cepat-cepat pulang. Asa dalam diri Hyerim pun menginginkan hal yang sama seperti Luhan; kebersamaan keduanya sampai akhir hayat nanti.

Sejemang, hening menyelimuti dua pedagang darah Qing itu. Luhan sibuk menghabiskan sisa-sisa potongan dagingnya. Xingke sibuk mengudap beberapa croissant khas Belanda.

Xingke kembali mendongak, maniknya menubruk pahat Luhan yang geliginya sibuk menggilas sisa-sisa makan siangnya. “Lalu …” bariton Xingke menggema lagi, merengut atensi Luhan dari daging ke arahnya dengan lipatan dahi, “apa yang membuat kalian berpisah?” Intonasi dalam perkataannya dilafalkan hati-hati, karena perpisahan di mana pun selalu berbalut luka dan sangat sensitif dibahas, tetapi sifat kritis Xingke mendorong lidahnya menanyai hal tersebut.

Nah, lihat saja, tampang Luhan mengkerut dengan bibir yang serupa. Senyum dengan sarat pedih itu tersemat. Obsidian Luhan beralih dan memilih mencurahkan atensi ke arah satu potongan daging babinya, garpunya menusuk potongan daging tersebut yang momentum selanjutnya sudah terkurung di dalam mulut Luhan.

“Apa lagi yang membuat merpati yang bebas menjauhi api setelah lama bersahabat dengannya? Takut terbakar karena api tidak mau meredakan gejolaknya dan malahan memilih untuk makin bergejolak,” pungkas Luhan, ambigu dan meneguk kembali birnya setelah potongan terakhir daging babinya tertelan ke lambung.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Menteri luar negeri dilaporkan hilang!” Seruan dari bocah lelaki penyebar koran sambil melemparkan koran di jalan setapak pada musim semi tahun 1905 di kota Hanseong itu, mengudara, koran-koran yang dilemparnya dipungut oleh beberapa orang yang minat membaca berita terheboh yang barusan diserukan lantang bocah pengantar koran.

Satu koran yang terbawa arus angin, menyapa tungkainya, sontak Luhan menghentikan langkah. Aksara-aksara yang sudah ditulis rapi di atas mesin tik itu, menyapa retina Luhan, menyebabkan dirinya termenung membaca bait berita yang menggemparkan Hanseong.

Menteri luar negeri, Kim Taejoon dilaporkan hilang setelah kematian ayahnya—Kim Haesung, mantan guru Yang Mulia Raja—yang mengalami serangan jantung kala kediamannya digerebek tentara Jepang untuk dibumihanguskan menjadi pangkal militer pasukan Jepang.

Itulah berita yang membuat warga Joseon gempar setengah mati. Tak terkecuali Luhan, meskipun darah yang mengalir dalam dirinya bukanlah darah Joseon, berita tersebut mengoyak batin dan hati Luhan; timbul rasa khawatir, takut, was-was, yang simpang-siur dalam dirinya. Bagaimana tidak? Kim Taejoon dan Kim Haesung ialah ayahanda serta kakek dari kekasihnya, Kim Hyerim. Ya, binatang-binatang bersenjata Jepang itu hendak menumpas keluarga wanitanya dikarenakan kekuasaan hebat yang dimiliki keluarga Hyerim karena kakeknya adalah orang yang disegani warga Joseon, baik jelata dan kaum biru, serta presensi ayah Hyerim merupakan kerikil besar bagi Jepang hingga bisa menunda perjanjian Jepang-Joseon (atau bisa disebut Perjanjian Eulsa)  yang hendak diajukan oleh Jepang; mencabik Joseon hingga runtuh kedaulatannya, meringkuk memohon kepada Jepang yang angkuh tersebut.

Dan sampai detik ini semenjak kakeknya meninggal dua hari lalu dan semalam ayahnya menghilang, Kim Hyerim raib. Wanita bangsawan itu kabur dan dapat Luhan terka, dirinya kabur dalam balutan kostum yang dikenakannya saat menjadi penembak jitu dan tentu tidak segan meninggalkan senjatanya sendiri begitu saja. Pun Luhan tidak tahu di mana lokasi kekasihnya itu menyamarkan diri di balik keramaian dan kejaran-kejaran tentara Jepang yang sebegitu banyaknya menyebar di seluruh Hanseong.

Luhan mengembuskan napas kasar, pandangannya fokus kembali ke depan. Tanpa mengiba pada usaha reporter dan bocah yang berlarian menyebarkan koran-koran hingga salah satunya bisa teronggok di hadapannya kini, tungkai Luhan yang berbalut sepatu mengkilatnya yang masih baru, menginjak koran tersebut tanpa belah kasih.

“Apa pikiranmu sudah membaik?” Suara yang berutara dari bibir wanita dengan surai dicepol berhias jepitan bunga berwarna putih yang berkilat, menyambangi runggu Luhan saat pria itu baru berlabuh di toko roti kebanggaannya.

Namanya Lee Yanghwa—pelayan setia toko roti milik Luhan dan kerap kali menjaga toko ketika Luhan berlayar—yang berpijak di balik meja kasir menatap atasannya dengan memangku tangan depan dada, sensor matanya tertuju pada Luhan dengan sedikit menyipit; sedang mencoba membaca emosi yang berkecamuk di paras tampan Luhan.

Helaan napas Luhan mengudara, bahunya mengedik, lantas melenggang begitu saja ke undakan tangga menuju lantai atas di mana kamarnya berada.

Manakala bokong Luhan baru berciuman dengan bantalan duduk yang di hadapannya berdiri tegak meja kayu lipat mini, pintu kamarnya terbuka disusul oleh figur Yanghwa.

“Dia tidak mati, untuk saat ini,” imbuh Yanghwa, menghujam Luhan dengan tatapan serius sambil tubuh rampingnya bertumpu di daun pintu dengan lipatan tangan depan dada.

Luhan menengadah ke arah pelayan setianya, tersemat senyum tipisnya. Kala ingin serius menekuni satu buku fiksi yang dirinya beli di Paris yang terletak bisu di atas meja lipatnya, sopran Yanghwa lagi-lagi berdenging ke gendangnya membuat gerakan Luhan terinterupsi.

“Dia ada di sini,” sembur Yanghwa.

Bunga dalam relung hati Luhan bermekaran, seketika rasa gugup menerjang dengan taburan euforia yang berusaha dia tahan agar asa menjulang tinggi tidak membuncah lalu berujung pada kekecewaan yang tidak sesuai ekspektasinya. Leher si pedagang marga Lu berbelok, dwimaniknya membeliak dengan pancaran penuh harap.

Saat obsidiannya menyerong ke arah Yanghwa, iris Luhan disuguhi sebuah jam analog kalung berwarna emas yang berkilat-kilat disiram oleh mentari yang menyusup dari jendelanya, yang sedang Yanghwa pegang dan disodorkan ke arahnya.

“Aku menemukannya di depan pintu toko.”

Segera Luhan berdiri, menyeret tubuh ke arah Yanghwa, merampas tergesa jam analog kalung tersebut. Jemari Luhan yang tengah menggerayangi jam analog kalung tersebut dapat merasakan rindu yang tersalurkan dari sana. Degup rindu juga terjadi pada Luhan, menyebabkan air mata seakan ingin merembes. Jam analog kalung tersebut bukan sembarang jam yang terjatuh tak sengaja di depan tokonya. Itu jam yang dibeli Luhan dari uang-uang yang dia kumpulkan dari hutang Hyerim. Jam yang lantas dihadiahkan pada wanitanya dengan menggenggam beribu rasa dan janji di dalamnya.

Momentum selanjutnya, jam analog kalung tersebut dibuka, sehelai kertas yang terselip di dalamnya meluncur jatuh lalu tergeletak piawai di atas lantai kamar Luhan. Tanpa membuang timing, Luhan membungkuk, memungut lipatan kertas itu kemudian membacanya setelah membuka lipatan demi lipatan.

Torehan tinta lugas yang dituliskan perempuan yang ia cinta, menyapa pandangannya. Aksara-aksara itu seketika buram; kabur oleh likuid hangat yang menggenang di pelupuk Luhan.

I will and I miss you too. Sesuai janji, aku akan belajar untuk membalas kata-kata bahasa Inggris yang kau ucapkan padaku. Jangan menanti, karena aku pun tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi. Namun kuyakini, di bawah atap tempat tinggalmu yang berpayung di bawah pancar bulan yang dikawani bintang, aku akan mendatangimu. Kuharap bukanlah selamat tinggal yang akan kuucapkan saat berpisah nanti denganmu.

Yours, Adeline Kim

“Hutangmu lunas. Anggap saja begitu. Aku sudah mendapatkan apa yang kumau sebagai hutang budimu, hati dan cintamu untukku.”

“Jika begitu aku tidak bisa datang ke tokomu setiap hari, ‘kan? Lagi, banyak urusan yang harus kuurusi ehmm … kau tahu sendiri.”

“Melihat Joseon makin berbahaya, aku tahu maksudmu. Dan aku dengar kau juga diam-diam membayar guru bahasa Inggris untuk belajar privat.”

“Tapi bagaimana bila aku rindu padamu dan ingin tahu kabarmu, Luhan?—Ah, aku tahu. Pak Donghwan sering ke pasar, aku akan menitipkan surat padanya untuk diberikan padamu. Kau juga bisa menitipkan surat untukku padanya.”

“Dan amannya kita menggunakan alias di dalam surat. Emmm … aku akan memakai nama Leonardo dan kau—Ah! Aku pernah membaca bahwa dalam bahasa Jerman, Adeline mempunyai arti perempuan mulia. Kurasa itu cocok untukmu.”

“Baiklah. Namamu di atas tinta surat adalah Leonardo Lu dan aku adalah Adeline Kim.”

Si kertas lecek dengan goresan lugas Hyerim itu didekap ke dadanya, Luhan merengkuhnya seakan itu raga dara Kim yang membuatnya menguntai rindu dalam hati hingga menumpuk tak teratur. Kendati demikian, senyum bahagia Luhan terlengkung hanya karena mengetahui kekasihnya itu baik-baik saja.

Sesuai perkataan Hyerim dalam suratnya. Ketika malam yang terlarut dalam sunyi di mana pusaran sepi membuat mega kelam menyelubungi bumi dengan amukan hujan serta-merta petir berkilat-kilat, tiba, Luhan menanti dengan sabar di rumahnya.

Tak seperti yang diutarakan Hyerim di atas putih kertas yang telah lenyap dimakan api setelah Luhan membakarnya—mencoba menghapus jejak jikalau Hyerim dan dirinya berkomunikasi bahkan berjumpa—bulan dan bintang bersembunyi di balik mega kelam yang bersaing dengan pekat kelam cakrawala. Akan tetapi Luhan tahu bahwa Kim Hyerim akan datang malam ini.

Kelar mencukur sebagian kumis dan janggutnya, Luhan pandangi cermin dengan refleksi dirinya lalu tersenyum. Hyerim selalu memuja betapa tampan dan seksi dirinya dengan kumis dan janggut tipisnya, oleh sebab itu Luhan tak pernah memangkas habis kumis dan janggut di dagunya.

Tungkai Luhan terseret keluar kamar mandi, kontan lantai rumahnya berderit oleh langkah-langkah yang diambil tungkainya. Tetapi sebuah keganjilan merundungi Luhan, spontan dirinya menghentikan langkah, menajamkan pendengaran, pun radar waspadanya menyala.

Partikel air hujan dengan ganas menyerang bumi. Angin berembus tanpa tanggung, menyebabkan tirai berkibar-kibar hingga kedinginan menjalar masuk ke dalam rumah. Petir dengan angkara menyambar-nyambar disusul oleh geledek yang menjadi penyemangat diklimaks sambaran ganas sang petir.

Luhan bergeming, dan tentu derikan lantainya tak menggema. Namun saat ia berhenti, derikan lain mengambang di tengah malam ganas yang dihiasi mega kelam, petir, geledek, dan embusan angin kencang.

Cekatan, tubuh Luhan berbalik memutar arah, tangannya mengambang dan gedebug keras menggema disela amukan hujan dan angin di dalam kamarnya tatkala hanya dengan momentum singkat dirinya telah memojokkan orang yang menyelundup ke kamarnya ke dinding dengan menjepit leher Si Penyelundup yang sedang memegang pistol sampai dirinya terbatuk-batuk dikarenakan cekikan Luhan yang sangat keras.

Saat tahu siapa gerangan penyelundup yang selihai hantu memasuki kamarnya dan sedang meletakkan moncong pistol di pelipisnya, kurva mata Luhan melebar serta refleks menjauhkan lengannya dari leher penyelundup dengan topi hitam, kemeja putih, dan jubah panjang serta-merta celana kain yang senada dengan topinya.

Wajah yang membuatnya memantik rindu dan tak nyenyak kala menjelajahi bunga tidurnya yang selalu dikunjungi mimpi buruk, terpampang di depan Luhan, masih sama, masih memesona dengan kecantikan yang selalu Luhan puja dalam hati juga kurva ranum merah jambu yang menggoda dan sedang mendesis dengan pipi merah serta manik menyipit sembari mengelus leher, pun punggung yang merupakan objek serangan Luhan tadi.

Mengerjap, tampang terkejut Luhan mengendur dan berganti menjadi bersalah. “Ah, maaf. Kukira siapa,” cecar Luhan, merasa bersalah sambil menggaruk tengkuk lalu menatap Hyerim dan pistol sang dara yang moncongnya masih setia terletak di pelipis kanannya. “Apakah ini sapaan rindu dari kita berdua, ya?” ujarnya disusul tawa sumbangnya.

Hyerim menelan saliva, dirinya menarik kerah kemejanya, sekon berikut menyingkirkan moncong pistolnya dari pelipis Luhan. Spasi antara keduanya mulai terbentuk ketika Luhan menjauh darinya dan kini keduanya berdiri berhadap-hadapan di tengah kamar Luhan, yang baik hati diterangi oleh lilin yang apinya bergoyang-goyang ringkih.

“Lama tidak berjumpa.” Luhan berimbuh sebagai pembuka percakapan dengan senyum simpulnya.

Hyerim balas tersenyum tipis. “Lama juga tidak berjumpa.”

Tak sesekon pun sejak tadi Luhan lepaskan pandangannya dari Hyerim, menilik jeli kekasihnya dengan menahan hasrat ingin mencumbu plum ranum merah jambunya dalam buaian panjang sampai diafragma keduanya kembang-kempis kehabisan oksigen atau merengkuh erat tanpa mau melepas raga Hyerim darinya.

“Kau baik-baik saja?”

Pertanyaan itu membuat senyum masam Hyerim terkulum. “Secara fisik, ya. Batin dan hati, tidak,” cetusnya yang sudah dapat Luhan terka, sebenarnya. “Aku dengar kapal dagang The Dawn di mana kau merupakan awaknya akan berlayar kembali menuju Jepang lalu singgah ke Shanghai.” Seketika Hyerim membahas jadwal pelayaran kapal dagang di mana Luhan merupakan awak yang ganjilnya dengan mimik serius.

Mengernyit karena melihat Hyerim seperti menaruh minat lebih pada kegiatan pelayaran The Dawn, kepala Luhan mengangguk.

“Ya, besok sore The Dawn berlayar, aku sudah menyiapkan perlengkapanku.” Ujung mata Luhan melirik tumpukan barang yang telah dikemas rapi untuk keperluannya kala menjadi musafir di negeri lain sambil berdagang. “Kenapa?” tanya Luhan pada akhirnya sambil menatap Hyerim dengan alis menukik heran.

Diafragma Hyerim mengempis. “Aku ingin ikut,” cetusnya. Netra Luhan melebar mendengarnya. Hyerim meraup oksigen kemudian mengembuskannya. “ke Jepang—” Luhan menelengkan kepala dengan dahi bertingkat. “—ayahku diculik tentara Jepang. Seharusnya ayah menyusulku semalam di stasiun dan pergi ke Manchuria. Tapi ketika salah satu pasukan kebenaran hendak menjemput ayahku, dia mendapati ayah sudah digilir memasuki satu kereta kuda oleh pasukan Jepang. Tentu dirinya mengejar sampai ke Dermaga Jemulpo, tetapi dirinya kalah jumlah dan hanya bersembunyi dalam bisu menjadi saksi ayahku dibawa ke Tokyo.

“Harusnya aku tidak menuruti ayah untuk pergi dan bersembunyi ketika kakek meninggal karena keadaan sangat kacau dan rumah kami bukan naungan yang aman lagi. Bila begitu ayahku tidak mungkin terculik begitu saja.”

Riak wajah Hyerim tergambar sedih, bibirnya pun tertarik begitu, hatinya diikat oleh rasa bersalah dan sesal sebab mengikuti amanat ayahnya yang malahan membuat ayahnya terketir di tengah marabahaya seorang diri. Sedang dirinya bersembunyi di balik bayang-bayang marabahaya tersebut.

Luhan sejak tadi menyerap cerita gadisnya. Asa Hyerim adalah persetujuan dari bibir Luhan atau tidak gerak tubuhnya. Namun yang Luhan suguhkan untuk menjawab permintaannya adalah gelengan kuat. Kontan Hyerim melebarkan obsidian yang beradu tatap dengan obsidian tajam Luhan.

“Tidak,” tegas Luhan dalam baritonnya. Hyerim pun memandangnya tak paham. “ini jebakan. Jepang tak akan menculik jika bisa membunuh, kau tahu sendiri. Lagipula yang mereka inginkan adalah keraiban ayahmu untuk bisa melaksanakan Perjanjian Eulsa, maka mereka hanya perlu menebas nyawanya. Tetapi selain itu, serdadu-serdadu Jepang ingin menghancurkan keluargamu hingga tak tersisa. Kakekmu telah mereka singkirkan, tinggal lah dirimu dan ayahmu.” Sensor mata Luhan menusuk Hyerim dalam di mana si dara sedang menelan salivanya. “Ayahmu adalah umpan untuk mengailmu ke perangkap Jepang lantas para serdadu Jepang akan membunuh ayahmu dan dirimu.

“Maka tetap lah teguh pada amanat ayahmu; lari dan bersembunyi, janganlah menggertak untuk sekarang ini. Pergi lah ke Manchuria.”

Usulan Luhan merupakan cara agar nyawa Hyerim selamat tetapi rahang si perempuan darah biru ini mengeras, tatapannya berkobar-kobar

“Kalau begitu ayahku akan mati!” tukas Hyerim dengan nada membentak. “Kumohon, Luhan …” intonasi Hyerim dan mimiknya memelas, “bawalah aku dengan kapal dagangmu. Aku harus menyelamatkan ayahku.”

Keras kepala dengan berpegang teguh pada pilihannya memenangi pertikaian, mengubur nurani untuk mengabulkan permintaan wanitanya, dan kepala Luhan menggeleng kuat sebagai pemantapan akan kemenangan keteguhan dan kekerasan kepalanya pada usulannya yang ditentang oleh Hyerim.

“Tidak!” Tenor Luhan, tak mau kalah, menatap tajam Hyerim.

Tangan Hyerim mengepal. “Aku tidak ingin ayahku mati!”

“Dan aku juga tidak ingin kau mati, Kim Hyerim!” hardik Luhan. Napasnya tersengal, maniknya berair. Sedang Hyerim membatu. “Persetan dengan alasanmu karena tidak ingin kehilangan ayahmu sebagaimana aku tidak ingin kehilangan ibuku saat berjuang di tengah kankernya. Tapi aku memiliki tujuan yang sama dengan ayahmu yang rela menyabung nyawa, yaitu keselamatanmu. Aku dan ayahmu ingin kau tetap hidup.”

Getar-gemetar terjadi di dagu Hyerim. Sesak membelenggu dadanya. Kepalan tangannya terguncang layaknya lentera jalanan di luar yang masih tertepa amukan hujan yang tak mau meredakan angkaranya sekalipun.

“Dan bila begitu aku memilih mati bersama ayahku.” Kalimat itu pecah dan terdengar kelam di tengah malam yang tak kalah kelam ini.

Dada Luhan mengempis mengeluarkan gas karbonnya. “Jika begitu aku memilih tidak akan ikut perjalanan kali ini,” tegas Luhan yang mana membuat Hyerim membulatkan mata. Pasang kekasih ini nyatanya tetap teguh pendirian pada keputusan masing-masing tanpa ada satupun yang berniat mengalah. Hyerim dengan memeluk arogansinya. Luhan dengan peran sebagai paradoks. “Dan akan kubiarkan ayahmu mati sendiri.”

Geligi Hyerim berkelatuk. Obsidiannya gemetar menahan amarah. Kepalan tangannya dirundung guncangan dengan menahan bogemnya melayang. Sejemang kamar Luhan diselimuti hening mencengkam dan canggung, sang lilin ringkih pun redup membuat pekatnya malam menjadi kental di sana.

Hyerim memangkas spasi dengan memikul amarah yang terpantul jelas dari dwimaniknya yang berapi-api, pun kepalan tangan yang gemetaran hebat.

“Kau sungguh—”

Lupakan lah bogem yang akan melayang mulus ke pipi Luhan, melukis ruam baru di sana. Momentum dicuri Luhan ketika Hyerim berada di hadapannya, hendak meninju, Luhan menariknya dan lekas membungkam bibir Hyerim dengan miliknya. Rindu, kasih, dan tuntutan agar Hyerim patuh pada usulannya, dicurahkan Luhan dalam cumbuan tersebut.

Pagutan itu terlaksana secara sepihak, Hyerim mendorong Luhan menjauh. Alih-alih melunak dan luluh, tamparan melayang ke pipi Luhan membuat kepalanya berbelok ke samping dengan senyum miringnya. Sementara Hyerim menatapnya berkaca-kaca dengan emosi tersulut, pun diafragma naik-turun.

“Sebenarnya aku berniat mengakhiri perjumpaan ini dengan sampai jumpa lagi,” imbuh Hyerim. Luhan menatapnya dengan tatapan terluka dan Hyerim juga terlihat memberikan tatapan yang serupa tetapi dia tahan; tatapan menahan luka. “Tapi kurasa aku harus mengucapkan selamat tinggal padamu.”

Ditiming-timing berikutnya, si penyelundup yang memasuki kamar Luhan malam itu hengkang dengan menggunakan balkon sebagai pintu keluar, genting sebagai jalan menyusuri kota Hanseong yang diserang hujan lebat yang beruntungnya menyamarkan figur jelita wanita yang Luhan cintai untuk menyelinap kembali ke tempat persembunyiannya yang aman tanpa terpergok para serdadu Jepang, meninggalkan Luhan yang berderai air mata dengan sarat pedih akan luka menganga dalam hatinya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Rotterdam 1907 masih seelok Rotterdam 1900 di waktu saat Luhan pertama kali mengunjungi negeri kincir angin tersebut. Dalam kisah-kisah petualangannya dengan The Dawn ke manca negara yang kerap dia dongengkan pada Hyerim, Luhan sebutkan bahwasanya benua biru ialah benua indah selayak negeri dongeng dan Belanda dengan khas bunga tulip serta kincir anginnya adalah negeri terelok yang pernah Luhan jejaki.

“Aku akan membawamu ke sana, suatu hari nanti.”

Itu janji yang Luhan tukaskan pada Kim Hyerim. Kurva melebar wanitanya berbinar, wajahnya secerah mentari siang nan terik, senyumannya melengkung. Amat bahagia. Hyerim menguntai asa akan janji Luhan yang sayang tak pernah ditepati.

“Tuan, ini kotak musik Anda. Sudah benar seperti baru,” imbuh Si Pandai Besi dengan kotak musik coklat berkepemilikan Luhan yang ia sodorkan pada pemiliknya.

Kotak tersebut Luhan terima. Memastikan, tutupnya dia buka, lantas lantunan harmoni yang membentuk melodi syahdu berkumandang, didukung oleh putaran elok miniatur yang merupakan replika ballerina bergaun putih. Terkulum lah senyuman manis Luhan, rajutan kenangan di mana dirinya dan Hyerim menikmati alunan melodi seraya mencurahkan ketakjuban pada si miniatur pun, timbul di benak Luhan.

Membayar kocek sepadan, mengutarakan terima kasih, barulah Luhan mengayunkan tungkai pergi setelah memutus alunan indah dan tarian monoton si miniatur dengan menutup kotak musiknya yang saat Luhan masih bergelut di laut untuk menuju Belanda beberapa minggu lalu, tahu-tahu rusak.

Luhan berjalan di pedestrian menuju motelnya dengan menghujami kotak musiknya oleh tatapan dalam dengan sarat rindunya. Tidak seperti hari-hari kemarin, Luhan mendadak mempunyai ekor—Xingke yang terus-menerus membuntutinya karena ini kali pertama dia berada di kapal layar asing dan hanya Luhan lah yang berasal dari Qing sepertinya—dan ekornya terputus dengan sendirinya sekarang dengan memilih mendekam di motel agar bisa berkemas sebab nanti malam The Dawn akan berlayar kembali menerjang lautan bersama awak-awaknya yang merupakan pedagang dan hasil dari dagangan masing-masing.

Harum semerbak kopi yang mengandung kafein nan mana menarik kecanduan kendati pahit ketika lidah mengecapnya, mencabar ke pangkal hidung Luhan. Kontan Luhan menunda tungkainya berjalan lebih jauh dari kafe yang menguarkan harum yang membuat otaknya berada diambang nostalgia sekaligus diri yang sedang berkabung rindu.

Kembali Luhan terjerembab ke pusaran masa lalu.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Pasar. Toko roti Perancis. Menjelang siang hari ketika matahari di atas kepala. Rutinitas Hyerim monoton begitu tiap harinya. Monoton, orang kira begitu, tetapi sang aristokrat menjalaninya dengan sukacita. Tak seperti hari-hari lalu, jamuan pemilik toko yang baru kembali dari New York, Amerika, sedikit berbeda. Aroma tak familier dari cangkir mencabar hidung Hyerim yang kontan mengernyit dengan netra membeliak heran menatap cairan pekat seperti mega di atas cangkir yang disuguhkan Luhan.

“Apa ini?” Telunjuk Hyerim terarah ke cairan serupa mega tersebut dengan kepala dimiringkan. “Sejenis ramuan kah?”

Di sini sang dara tidak sedang berseloroh, tapi kegelian hinggap dalam runggu Luhan sehingga menyebabkan gelakan lelaki tersebut terkumandang. Kian-kian Hyerim menyarangkan binar herannya pada Luhan.

Meredakan tawa dahulu, “Ini kopi,” ujar Luhan. Gumaman kata kopi dilaksanakan bibir Hyerim dengan altonya secara heran. “Cobalah untuk mencicipinya, Nona. Selama di New York kemarin aku selalu dijamu ini.” Luhan mempersilakan dengan manik menyerong ke cairan yang Hyerim sebut sebagai ramuan.

Di Hanseong, kopi memang sudah marak beredar meski hanya di beberapa tempat tertentu seperti hotel yang ada di jantung kota. Maka tak heran, kendati dari kelas atas, Hyerim masih awam dengan cairan senada mega yang mengandung kafein tersebut, apalagi dirinya belum pernah berjelajah hingga negeri barat.

Hati-hati, Hyerim mulai meminum kopi yang ia sebut sebagai ramuan. Panas. Pahit. Namun candu. Indra pengecapnya menjabarkan cairan tersebut seperti itu. Masih awam, ketika cangkir dia jauhkan, lidah Hyerim menjulur sebab diselimuti oleh rasa pahit yang masih asing dari cairan kafein tersebut.

“Pahit,” komentar Hyerim, menatap kopinya tak suka. “Tapi aku ingin mencobanya lagi. Ada daya candu di dalamnya, ya?” imbuhnya, lagi-lagi mencoba menyetor kopi ke dalam tubuhnya.

Luhan tersenyum, ia taruh cangkirnya yang sudah separuh isinya. “Ada kafein di dalamnya,” jelas Luhan, kernyitan Hyerim terlukis karena kata asing tersebut. “Mungkin definisi cinta bisa dijabarkan melalui cairan ini,” imbuh Luhan, menyelipkan senyum sambil menatap kopinya. “Cinta meski sakit tapi tidak bisa membuatmu melepaskannya begitu saja. Seperti kopi, pahit, tapi karena kafein di dalamnya, kau ingin mencicipinya lagi.” Cangkirnya, Luhan ambil kembali. Cairan yang dia sebut sebagai salah satu hal yang bisa menjabarkan cinta, dia minum kembali. “Seperti kata dalam bahasa Inggris …” Luhan meletakkan kembali cangkir ke tatakan, obsidiannya terarah ke arah Hyerim yang sedari tadi memperhatikannya tanpa mengedip. “love is blind.”

Wajahnya mengkerut tak paham, pun Hyerim mencetus: “Loveu is—apa?” Yang mengundang dengusan geli Luhan.

Cemberut sudah si bangsawan yang diolok oleh pedagang yang aristrokasinya berada dibawahnya ini. Saat sudah tersapu bersih rasa geli yang hinggap dalam runggu, Luhan tatap Hyerim dengan senyum yang masih menahan kegeliannya.

Love is blind. Love seperti yang aku rasakan padamu.” Kontan kalimat Luhan membuat Hyerim tambah dibelit bingung saja. Ketika ingin melayangkan amukannya, Luhan beraksara-ria kembali. “Orang Joseon mengartikan kata ini sebagai sarang. Dan mengungkapkan love dalam bahasa Inggris ialah i love you yang merupakan nan neol saranghae dalam bahasa Joseon. Dan love is blind berarti cinta itu buta.”

Sejemang Hyerim terjerembab dalam kubang hening. Hilir-mudik di sekitar tak mengusiknya, yang dapat Hyerim dengar hanyalah pacuan jantungnya sementara dirinya terperangkap dalam obsidian jernih Luhan. Panas di pipinya nyatanya menyebabkan rona menjalar di sana. Sontak Hyerim menunduk dengan netra melebar setelah beberapa momentum tercuri.

Tangan kanan Hyerim yang menganggur di atas meja diraih oleh Luhan ke dalam genggaman hangatnya, lekas membuat degup yang mengusik runggu Hyerim terjadi. Meski tak nyaman dengan degup-degup asing di hatinya yang seakan ingin meledak seperti bom, tangan Luhan tidak dia singkirkan, Hyerim biarkan si tangan pria di hadapannya menautkan diri dengan tangannya. Luhan benar, seperti kopi yang baru kali pertama ia cicip, meski pahit tetapi membuat candu dan menimbulkan hasrat tak ingin melepaskan.

“Setelah pernyataan …” Luhan mulai bertukas kembali, dalam tautan tangannya dan Hyerim, tangannya mengelus lembut tangang sang dara. “adalah bergenggaman tangan. Itulah tahap-tahap dalam cinta yang dituturkan Johnny—kawan yang kutemui di New York.”

Kepala Hyerim menengadah, irisnya disiram senyum dan tatapan selembut simfoni milik Luhan yang entah bagaimana membuat hatinya berbisik untuk menatap senyum serta-merta tatapan itu tiap harinya. Hatinya sejuk dengan kebahagian merundungi.

Tangannya yang berada dalam kurungan tangan Luhan, bergerak, dan sah sudah jemari keduanya tertaut. “Bukankah setelah ungkapan, harusnya balasan? Ditolak atau diterima?” Vokal Hyerim, memiringkan kepala.

Tubuh Hyerim beranjak, diputuskan tautan jemarinya dengan milik Luhan. Seperti ditarik daya magnet dari Hyerim, Luhan turut jua berdiri.

“Aku juga mencintaimu.”

Frasa itu terlantun dari lisan Hyerim, penuh ketulusan meski terdengar rentan dan terkubur dalam kebisingan yang disebabkan oleh keadaan di luar di mana kegiatan jual-beli di pasar tergelar amat monoton. Selagi mengungkapkannya, sunggingan senyum Hyerim terpatri lembut, mengundang Luhan turut jua tersenyum.

Tungkai Luhan bergerak, sepersekian detik dua insan di tengah sunyinya toko roti milik Luhan, saling berhadapan. Tercurah kasih, pujaan, cinta dalam permukaan kornea keduanya yang bersibobrok.

“Lalu?” Suara Hyerim menggelegar kembali. “Apa yang dilakukan setelah pengakuan dan seharusnya jawaban tapi dilangkahi oleh bergenggaman tangan?” Terselip senyum menahan pingkalan dari keduanya.

Kembali membangun keseriusan, Luhan meredakan hasrat ingin terpingkalnya, kembali tatapan lembutnya tersorot ke arah Hyerim.

Hug and kiss.” Kembali Luhan memamerkan keahliannya dalam bercakap bahasa Inggris.

Dengusan Hyerim tercuat, jenuh juga dipermainkan oleh aksara-aksara yang tak bisa diserap oleh otaknya. Menjengkelkan. Jikalau tidak memperhatikan martabat dan tidak sedang berada di dalam toko yang berada di keramaian pasar, kaki Hyerim dipastikan telah melayangkan ‘ciuman’ kasih sayangnya pada kaki Luhan.

“Untuk kiss kita sudah melakukannya kok,” kelakar Luhan, sebelah matanya mengedip. “Saat kau mencoba membebaskan diri di bawah lebatnya salju.”

Kontan pipi apel Hyerim bersemburat, membuat Luhan tersenyum miring dan lekas dihadiahkan tatapan tajam dari aristokrat yang akrab dengan senapan dan bau bubuk mesiu alih-alih sulaman indah dan cara wanita terhormat berperilaku.

Membuang wajah yang dilukisi oleh merah alami tersebut, “Lalu apa itu hug?” Hyerim mengutarakan tanya, tangannya yang terselubung di dalam kain hanboknya, menyatu.

Derik lantai kayu terdengar, disebabkan oleh tungkai Luhan yang berayun-ayun di atasnya mendekati Hyerim. Sensi Hyerim masih hinggap, menghempas hasrat untuk menoleh pada Luhan.

Degup-degup hebat dalam hati yang merupakan simbol cinta, kembali berdetak dalam hati Hyerim. Tangan kanan Luhan melayang, lantas menarik Kim Hyerim ke dalam sebuah rengkuhan.

Hangat. Nyaman. Aroma memanjakan indra dari tubuh Luhan. Ketiga fragmen itu menyelubungi Hyerim. Tadinya ia hanya terpaku, bingung harus bereaksi seperti apa, kembali Luhan menyandang status lelaki pertama yang memeluknya selain ayah dan kakeknya, setelah menjadi pria lancang yang mencumbu bibirnya untuk pertama kali. Benar, Luhan lancang, tetapi Hyerim menyukainya. Sensasi mengikuti arus tindakan-tindakan Luhan yang kelewat berani sungguh membuat Hyerim ingin kian terjerembab, melupakan aristokrasi serta perbedaan-bedaan lain yang tergelar di antara keduanya; yang berperan sebagai pemisah dua insan yang tak takut disurungkan dalam cinta yang amat bergelora bin berombak.

Apa kata orang jika seorang perempuan bangsawan yang disegani di tanah lahirnya menjalin hubungan dengan lelaki yang sesungguhnya garis aristokrasi keduanya setara, tapi memberontak, menghempaskan semua kemewahan dan keningratan yang diturunkan padanya, dibuang serta-merta mengisolasikan diri ke negeri orang, pun bersimpuh dalam pekerjaan hina di kamus keluarga berdarah birunya?

Namun, Hyerim tak akan mengindahkan selentingan-selentingan yang akan dicibirkan orang-orang berpikiran dangkal itu. Oleh sebab itu, tangan Hyerim terangkat, sama-sama merengkuh tubuh Luhan yang menguarkan aura candu yang ingin sekali ia hirup tiap detiknya. Love is blind, cinta memang buta, melumpuhkan akal sehatnya dan menyingkirkan segala toleran dalam dirinya.

Date,” bisik Luhan dimomen-momen euforia keduanya yang tertarik ombak kasmaran. “Sehabis ini kita melakukannya. Pergi keluar bersama.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Singsingan cahaya bulan belum tampak. Langit biru masih terlukis indah. Matahari masih menjadi raja langit dengan gumpalan kapas berupa awan putih yang tertiup semilir angin. Tandanya senja masih digenggam di cakrawala. Malam belum terbit dengan panorama bulan, kelam langit, pun bintang yang kadang berhamburan.

Burung camar bertebrangan membelah langit senja. Suara-suara bising dari segala penjuru dermaga menggema, kegiatan-kegiatan sehari-hari di sana sedang terjalin. Beberapa bahasa dari berbagai penjuru dunia juga turut tervokalkan, orang-orang asing memang banyak menyebar di sini.

“Aku dengar akan ada Konvensi Den Haag kedua jadi banyak sekali orang-orang asing daripada biasanya,” ujar Xingke yang tungkainya berayun menyamai Luhan sambil menyisir sekitar dan retinanya disambut wajah-wajah asing dengan bahasa yang sama asingnya dari berbagai orang mancanegara.

Luhan cuma lalu mengenai hal itu. Dirinya tidak minat pada politik ataupun menaruh atensi akan perang yang meletus, maupun di negaranya sendiri yang ancang-ancang melakukan radikalisme dan mengubah kekaisaran menjadi republik. Ataupun Joseon yang sedang meringkuk ringkih di bawah protektorat Jepang dikarenakan kemenangan Jepang dalam Perang Rusia-Jepang. Yang penting bagi Luhan, dia masih bisa menerjang lautan secara aman dengan The Dawn ke berbagai penjuru bumi serta-merta mata pencariannya tidak terganggu.

Dari situ saja, bilik-bilik perbedaannya dengan Hyerim telah terbentang jelas. Wanita yang ia cinta bergelora dengan tertanam patriotisme dalam diri. Sedang Luhan bergelora untuk bebas tanpa terikat apapun dengan sikap tak acuh mengikat. Keduanya mempunyai gelora yang bertolak belakang.

Selagi menanti waktu pelayaran The Dawn, Luhan dan Xingke berlabuh di sebuah kedai. Menyantap makan siang yang kelewat telah terlambat sambil bercengkrama.

“Setelah ini pemberhentian kita adalah Hanseong.” Xingke berkata disela geliginya yang mengunyah makanan, spontan membuat Luhan menghentikan sejenak gerakan tangan yang mengukung sendok.

Sebuah tatapan diberikan Xingke pada pria berjanggut dan berkumis tipis di hadapannya yang kentara pikirannya berjalan-jalan ke tempat lain kendati tangan dan mulutnya melakukan kegiatan menyantap makan siang; menyendok lauk pauk dan mengunyah.

“Kau pasti merindukannya,” imbuh Xinge, tersenyum penuh makna kala Luhan mendongak menatapnya lalu menggerakan bola mata menghindari obsidian Xingke. “Kau selama dua tahun ini bermukim di Hindia Belanda, merelakan toko rotimu dan merintis usaha baru di sana hanya karena tidak ingin sakit hati mengingat Hyerim setiap harinya bila terus berada di Hanseong.”

Tubuh Luhan berdiri, membiarkan sisa makanannya mubazir, pandangannya tak melirik Xingke yang menganga sama sekali. Debu tak terlihat di bajunya, Luhan bersihkan, dia ambil topi bulat warna hitamnya.

“Aku pamit. Mendadak diriku kenyang,” ucap Luhan, melenggang pergi begitu saja.

Berusaha menyerap segalanya, Xingke mengerjap, kembali mengunyah, kemudian menelengkan kepala.

“Sepertinya aku salah bicara karena membahas Kim Hyerim.” Monolognya, mulai dikabungi rasa sesal dan tidak enak karena membuat suasana hati Luhan turun.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Malam berlangit kelabu tanpa bintang menemani rembulan yang kelihatan nahas seorang diri di tengah mega kelam pun tiba. Gledek sudah menggema di cakrawala, tapi langit masih enggan bersedih.

Juni 1907, Konvensi Den Haag kedua diadakan. Ruangan yang menjadi tempat pertemuan tersebut dirundung oleh suasana kurang nyaman. Pertentangan. Perdebatan. Usulan yang kadang berakhir didamprat karena tidak disetujui beberapa pihak, terlontar di mana-mana. Suara harus bulat, sedangkan di sini, Inggris mengegolkan ketentuan mengenai pembatasan persenjataan. Sementara Jerman bersikukuh menentang sebab Jerman khawatir bahwa itu merupakan usaha Inggris untuk menghentikan pertumbuhan armada mereka dan Jerman juga menolak usulan tentang arbitrase wajib.

Pihak Jerman memegang kuasa untuk menang dengan bantuan negara-negara lain. Inggris sendiri tentu tidak menyerah. Tapi mengesampingkan debat adu mulut untuk menstabilkan perang yang merajalela saat ini, tiga agen rahasia Joseon dengan menggenggam titah Raja, memantik asa, berjerih payah hingga bisa keluar dari salah satu kapal penyelundup yang bersandar di Oude Haven, turut hadir meminta bala bantuan untuk menentang Perjanjian Eulsa yang ditandatangani oleh lima menteri yang bisa-bisanya setuju padahal Raja Gojong sama sekali tidak menandatanganinya dua tahun silam.

Asa yang ketiga agen tersebut genggam, nyatanya tidak disambut untuk tercapai oleh negara-negara yang berembuk dalam Konvensi Den Haag 1907. Ekspektasi berkata lain dengan realita. Joseon ditolak ikut berunding. Perjanjian Eulsa untuk ditentang, tidak bisa terealisasi. Perjanjian itu tetap berlaku, menandakan Joseon tetap berada di bawah protektorat Jepang. Diperlakukan seperti binatang di tanah kelahiran sendiri. Tidak memiliki kedaulatan sementara mereka adalah negara yang merdeka.

“Nona, kita harus bergegas. Entah siapa yang membocorkan, beberapa agen Jepang membawa serdadu lebih banyak, mereka ada di Wassenar sekarang. Sepertinya mereka berniat menghabisi kita.”

Bariton dengan tampang serius itu menyambut Sang Nona penembak jitu andalan mereka kala membuka pintu kamar motel bobroknya dan mengintip dari celah pintu.

Diafragma Sang Nona mengempis, kepalanya mengangguk-angguk. “Kalau begitu cepat bergegas sekarang juga menuju Rotterdam dan tetap waspada sampai kita berada di Oude Haven dan selamat menyelinap ke kapal yang sudah ditentukan. Bagaimanapun, jangan mati.”  Penegasan ditunjukkan kepada aksara terakhir; sebuah perintah agar para rakyat patriotik yang menyandang nama Pasukan Kebenaran tidak banyak lagi tertumpas, walau kematian mereka mengharumkan nama Joseon, tapi sebisa mungkin mereka harus hidup sampai di hari di mana Joseon kembali berdaulat menjadi negara yang merdeka total.

Di dalam kamarnya yang tidak sempat dibenahi, Sang Nona mempersiapkan perlengkapannya yang seadanya untuk menerjang lautan menuju Joseon dengan asa selamat. Dirinya mengambil pistol, memeriksa sisa peluru di dalamnya dan peluru yang berada dalam pembekalannya. Tentu dirinya menyiapkan pistol untuk bisa mencapai Oude Haven dengan licin dan selamat sentosa—setidaknya masih bernapas walaupun harus pendek-pendek tidak teratur. Sialnya, pistol laras panjang miliknya ditinggalkan di gubuk tempatnya bernaung di Manchuria beberapa waktu terakhir ini, membuatnya tidak bisa menjadi sniper—kata bahasa Inggris yang diajarkan kekasihnya dulu—untuk menghalau serdadu Jepang.

Pakaiannya yang berserakan di atas tempat tidur lapuk, dia kemas secara kilat ke dalam koper kecilnya yang praktis dibawa ke mana-mana. Siap dengan berlakon sebagai nona bangsawan yang hendak kembali ke tanah airnya dan melewati rintangan yang akan disuguhkan sampai dirinya berpijak di buritan serta kabin kapalnya, Sang Nona keluar dari lahan sempit tempatnya bernaung selama di Den Haag setelah menarik dan mengembuskan napas.

Berpas-pasan dengan dua rekannya yang keduanya ialah lelaki, Sang Nona mengangguk. Yang satu berlakon sebagai tunangan Sang Nona, satunya lagi sebagai pelayan pribadi yang membuntuti pasangan tunangan darah biru yang tengah bertamasya itu.  

Tarik kekang kuda dengan roda yang bergesekan kuat dengan jalan setapak, pun keretanya yang bergoyang-goyang layaknya kesetanan adalah kereta kuda yang menaungi tiga agen Joseon tersebut.

Di balik kaca jendela kereta yang melaju gila-gilaan, Sang Nona menatap ke jalanan yang dipadati massa; tentram dan elok. Mega kelam  yang tadi mampir sudah pergi; kejernihannya membuat takjub. Sebagaimana cerita-cerita kekasihnya dahulu yang kerap dirinya kumandangkan, negeri kincir angin di benua biru ini elok. Dahulu, sebuah asa dia genggam, sebuah janji dipikul oleh sang kekasih; janji bahwasanya dirinya akan dibawa ke sini oleh kekasihnya.  Tak pernah janji tersebut terealisasi, tapi sekarang ia di sini—di bawah langit Belanda—sembari memantik rindu selama dua tahun ini. Spontan bibir Sang Nona mengulum senyum tipis nan pedih.

Gesekan kuat roda kereta berderik kala tali kekang ditarik tanpa kalbu tatkala tiba di Den Haag Centraal. Tiga agen meloncat turun dari kereta setelah melempar kocek pada kusir secara tergesa. Rasa waspada yang tak luput barang sedetik pun, menyebabkan kedua obsidian ketiganya menelisik teliti stasiun kereta api tersebut yang ramai akan hiruk pikuk massa,  takut serdadu-serdadu Jepang telah mengendus keberadaan mereka.

Mesin yang dikendalikan masinis, mengaum-ngaum, hendak berangkat menuju Rotterdam. Tungkai para agen Joseon berayun cepat menuju gerbong kereta api yang akan membawa mereka. Hilir mudik orang dengan kaki yang tak seimbang, membuat Sang Nona malahan terjerembab jatuh, kopernya berbenturan pula dengan bumi membuat sesuatu termuntahkan.

Khawatir yang dimuntahkan kopernya ialah barang yang mampu membongkar identitas yang tengah ia lakoni, Sang Nona pun meraihnya, menyembunyikannya dalam kepalan tangan dengan kuat-kuat lantas buru-buru berdiri setelah membenahi kopernya.

Auman kereta yang hendak menggesekkan roda di atas rel, makin menggema. Seruan-seruan akan kereta tujuan Rotterdam hendak berangkat, mengudara. Gesit, Sang Nona sudah menyusul dan masuk ke gerbongnya tepat waktu.

Pintu ditutup. Cerobong asap kereta mengepulkan asap dari bahan bakar batu baranya. Suara khas kereta berdenging. Derikan roda menyambangi rel. Tinggal menanti timing, Rotterdam akan digapai. Napas Sang Nona terembus, kelicinannya dengan dua rekannya untuk sampai ke kereta sekiranya membuat ia sedikit lega. Tinggal menerjang dengan jerih payah untuk sampai ke kabin kapal layar menuju Hanseong yang bersandar di Oude Haven.

“Kami hampir panik ketika menyadari Anda tertinggal, Nona.” Adalah bariton rekannya yang berperan sebagai pelayan saat Sang Nona mendudukan diri di hadapannya dan tepat di sebelah rekannya yang berlakon sebagai tunangannya.

“Syukurlah aku bisa menyusul,” ucap Sang Nona, menyelipkan senyum.

Adrenalin Sang Nona Aristokrat mulai sedikit menurun, kepalan yang mengurung barangnya yang muntah dari kopernya ketika terjatuh tadi, dia buka. Bunga liar berwarna putih yang telah layu menyebabkan warna putihnya yang elok berganti menjadi coklat tua dan bahkan sudah rontok, menyambutnya, tangkainya dibentuk melingkar seperti sebuah cincin; cincin dari bunga liar.

Cincin tersebut menghantarkan kenangan bagi Sang Nona yang kini terpaku. Bising suara kereta yang melaju menuju Rotterdam dengan selentingan para penumpangnya, seakan sayup dalam runggunya ketika jiwanya terbang menuju masa di mana dirinya menerima cincin bunga liar tersebut dari kekasihnya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Nona …,” cakap lisan si pelayan diabaikan, Sang Nona masih sibuk menekuni koran yang menggambarkan keadaan di luar Hanseong; membuatnya seakan menjelajahi dunia. “Nona ….” Sekali lagi, ia panggil nonanya.

“Apa?” Akhirnya, panggilannya digubris nonanya kendati masih sibuk tenggelam dalam aksara di koran tanpa menengadah menatapnya.

“Nona tidak ke Dermaga Jemulpo sesuai agenda?”

Sang Nona menjungkitkan alis, dibalik lah lembar korannya lalu maniknya bergerak liar membaca bait demi bait.

“Ke Jemulpo?” kepalanya dimiringkan, bingung, “untuk apa?”

“Bukankah Nona ingin menyambut Tuan Luhan yang akan pulang dari Amsterdam? Sekarang tanggal dua puluh dua bulan Juni.”

Sang Nona—Kim Hyerim—kontan membeliakkan maniknya. Mengapa hari yang ia nanti bisa luput dalam ingatannya ketika tiba? Lekas, ditutup asal korannya, tubuhnya beranjak berdiri, hanboknya yang menyulitkan pergerakannya agar lincah, diangkat, tungkainya pun menggas lari cepat-cepat.

Si pelayan yang baru saja mengingatkan agenda Hyerim untuk menyambut Luhan, hanya bisa melongo kaget melihat betapa gesit nonanya melesat keluar dan sedang berlari menuju Jemulpo.

“Nona!” teriaknya, tergopoh keluar apalagi usianya yang tentu kalah telak dengan usia Hyerim yang masih muda dan energik. “Jangan lari ke Jemulpo. Biarkan saya menyiapkan tandu,” ucap pelayan pribadi Hyerim yang sudah sepuh itu dengan napas tersenggal menyusul Hyerim yang punggungnya bahkan sudah mengecil dari sudut pandangnya.

Si pelayan akhirnya hanya pasrah, berhenti menyusul sambil memegang pinggang dengan napas tersenggal. Nyatanya Kim Hyerim terlalu terjebak dalam euforia untuk menyambut kekasihnya yang telah lama pergi ke negeri lain, tanpa peduli akan berlari amat jauh menuju Jemulpo tanpa tandu, rindu sudah membelenggu hatinya sampai sesak. Mabuk cinta memang mabuk paling gila.

Energinya yang terkuras mengayunkan Hyerim pada pilihan untuk mencegat becak, mentitahkan si penariknya menarik becaknya lekas-lekas ke Dermaga Jemulpo.

Tungkai Hyerim bergerak resah, hanboknya ia angkat sedikit sebab rasa muskil menjegal tungkainya untuk mengitari Dermaga Jemulpo dengan tak santai. Kepala Hyerim turut mengedar pandang, mencari sosok rupawan kekasihnya di tengah lautan massa yang sesak di Jemulpo sekarang, tak luput kapal-kapal dagang dirinya amati; takut-takut salah satunya adalah The Dawn.

Diafragma Hyerim naik-turun, tungkainya berhenti berderap, rasa letih mulai membelitnya. Tatkala dirinya mengistirahatkan diri dengan mematung di tengah lautan massa di Jemulpo, retina si aristokrat menangkap figur familier yang mampu membuncahkan rasa cinta di dadanya yang dibumbui kerinduan.

Sudut bibir si bangsawan terangkat. Jarak yang terbentang antaranya dan sang kekasih terasa amat jauh, pun lantas membuatnya kembali mengangkat hanbok dan berlari menuju destinasi di mana Luhan berdiri dengan setelan hitam dan tas serta-merta satu tangan tersembunyi di belakang punggung.

Selangkah …, dua langkah …, tiga langkah …. Hyerim terus berlari membelah lautan massa Jemulpo yang kontan menatap heran si dara. Tapi oh … persetan dengan praduga orang lain, rindunya pada Luhan harus disalurkan sesegera mungkin. Dan akhirnya, sekonyong-konyong tubuhnya mendekati Luhan, spasi keduanya terpangkas habis tatkala Hyerim langsung menghambur memeluk prianya, merasakan aroma familer mencabar ke pangkal hidungnya sembari memejamkan kurva.

“Aku senang bertemu denganmu.” Ialah bisikan Hyerim nan lirih, tepat di samping kanan telinga Luhan, masih dengan memejamkan manik.

Perlahan tangan Luhan terangkat, senyuman terkulum di bibir ranumnya, ia balas pelukan Hyerim bahkan menguatkan pelukan antaranya dengan sang kekasih. Oh, persetan dengan pandangan para massa di Jemulpo, pun selentingan yang akan beredar kelak. Rindu tidak bisa ditunda, apalagi sudah tiga bulan lamanya Luhan berpetualang ke negeri seberang dan menerjang lautan.

“Aku juga dan i miss you.” Luhan membalas dengan aksara asing yang tentu Hyerim tak mafhum artinya. “Itu bahasa Inggris yang lainnya yang belum pernah aku ucapkan. Kau pasti tak paham, ‘kan?” ledek Luhan, sungging kurvanya amat meledek.

Kendati tak melihatnya, wajah menyebalkan Luhan sudah terekam rinci di benak Hyerim yang masih memeluknya, kontan menyebabkan sang darah biru menyarangkan cubitan di pinggang Luhan yang sontak memekik dengan gelagat banyolannya sebab setelahnya ia terkekeh-kekeh geli.

Singkat tempo, dua insan berstatus kekasih yang sudah lama tak bersua dihalangi oleh samudra itu, berjalan di tempat lebih sepi—mengurangi resiko adanya saksi mata kemesraan keduanya yang akan mengundang selentingan tak mengenakan.

Kim Hyerim dan Luhan terjerembab dalam hening, berjalan beriringan sambil saling lirik dan melempar senyum, tak ada kata tapi seluruh rindu dan cinta dapat dipantik jelas dari riak wajah serta-merta pancaran kornea keduanya. Mereka hanya ingin menghabiskan momentum bersama, meresapinya sebelum berpisah lagi nantinya, tetapi memulai konversasi sepertinya sulit saking banyak kata yang ingin dilisankan setelah lama tak bercakap sambil menghitung hari untuk kembali berjumpa.

“Jadi … apa yang kau pelajari di Amsterdam?” Selagi berjalan, finalnya Hyerim membuka percakapan, obsidiannya melirik penasaran Luhan. Sebagai wanita dengan gelora bebas, tentu Hyerim amat senang mendengar petualangan Luhan di luar Joseon.

Pandangan Luhan bertumbuk ke bumi, ia tampak berpikir; menggali banyak hal yang ia raih selama mencari nafkah di negeri seribu tanggul.

“Eumm … banyak sekali. Belanda adalah negeri terindah yang pernah kukunjungi dan aku belajar sesuatu dari pedagang asal Belanda yang kutemui di Amsterdam dan nyatanya ia akan menikah,” jawab Luhan, ia rasakan betapa berbinar netra wanita di sampingnya saking dikabuti penasaran, membuat Luhan tersenyum simpul seraya memandang Hyerim. “Aku mempelajari proposing darinya.”

Berani bersumpah, membuang harga diri, Kim Hyerim akan menyelundupkan diri ke sekolah berbasis asing untuk mempelajari bahasa Inggris. Ia sungguh tak paham frasa asing yang Luhan ikrarkan, tak heran eksistensi kerutan yang menjelekkan wajahnya pun tampil di dahinya.

Mendelik bersama pipi menggembung, Hyerim memprotes, “Bisa tidak kau tidak pamer bahasa Inggris terus, Tuan Janggut-Kumis Tipis.” Ada olokan bernada sarkas dalam katanya padahal Luhan memelihara janggut dan kumis tipisnya menurut saran Hyerim yang menyukainya.

Konon diolok dan ia sedikit gondok, Luhan tak meletupkan angkara, malahan diri terkekeh pelan lalu menyambar satu bunga liar yang sedang ia lewati; memetiknya. Si bunga liar pun sibuk ia rangkai. Di sebelahnya, Kim Hyerim menatapnya bingung lalu berganti menatap bunga yang sedang digeluti Luhan.

“Selesai!” tukas Luhan seketika, juga menghentikan rajutan langkahnya.

Sebagai pasangan jalannya, refleks Hyerim ikut berhenti. Rasa bingungnya yang tertimbun banyak menyebabkan matanya yang amat bundar sekali bentuknya sekarang, si mata silih berganti menatap paras rupawan Luhan dan bunga liar yang ditata menjadi sebuah cincin.

Belum pula rasa bingungnya sirna akan lakon Luhan, si pria melakukan aksi yang kian membuatnya bingung. Luhan tahu-tahu berlutut di hadapannya dengan satu kaki, pun cetakan bundar di manik Hyerim kian menjadi. Si cincin bunga liar diangkat oleh salah satu awak kapal The Dawn ini.

Mengulum senyum, Luhan menuturkan, “Will you marry me, Kim Hyerim?”

Sejatinya tak paham akan perilaku dan perkataan Luhan, tetapi ganjilnya pipinya memerah, bahkan Hyerim rasakan jantungnya berdentum menciptakan harmoni acak nan indah.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Di tengah atmosfer tegang kereta kuda seusai menempuh perjalanan menggunakan kereta, Sang Nona Bangsawan—Kim Hyerim—malahan larut akan kepingan memoar lampaunya yang telah lama usang, selayak cincin bunga liarnya yang telah kelewat rapuh.

Ia pandangi si cincin yang mengurung kenangannya bersama Luhan dengan kedua ujung bibir tertarik mengulas senyum pedih. Kendati cuma cincin rapuh, Hyerim mengelusnya penuh bizar. Ada sesak yang mengikat di relungnya, ditambah putaran memoar indahnya bersama Luhan hangus kala perpisahaan keduanya yang pedih menyiram otaknya.

Lagi-lagi tali kekang kuda ditarik tanpa kalbu setelah gila-gilaan menyusuri jalan dari stasiun menuju Oude Haven. Efek tarikan dirasa oleh Hyerim; tubuhnya tersentak ke depan, cincin rapuhnya jatuh dan nahasnya terinjak oleh satu rekannya kala hendak turun dari kereta kuda setelah melempar kocek.

Secara dungu, Hyerim bergeming; bukannya menggerakkan tungkai turun, ia menatapi cincin pemberian Luhan yang telah rusak itu.

“Nona.”

Tatkala salah satu rekannya yang berperan sebagai tunangannya serta kebetulan oknum yang tadi menghancurkan satu-satunya kenangannya yang ia punya bersama Luhan, memanggil, Hyerin tersentak, kepalanya berbelok, dwimaniknya mengerjap.

Tunangan gadungannya mengulurkan tangan dari luar kereta, gurat tak tenang di parasnya rinci terpahat, “Cepatlah turun. Saya rasa Jepang mengendus keberadaan kita.”

Jepang. Konvensi Den Haag. Sedang melarikan diri. Semuanya merasuki benak Hyerim yang semula berjalan-jalan di Hanseong beberapa tahun lalu sembari berdampingan bersama Luhan. Kontan sang aristokrat membelalak, buru-buru menyambar tangan ‘Sang Tunangan’ dan turun. Sedangkan kawan sejawatnya yang berperan sebagai pelayan pribadi keduanya, dari tadi sibuk melirik sekitar waspada.

Tiga agen yang berpayung di bawah Pasukan Kebenaran itu berjalan berdampingan dengan gelagat waspada, pun ujung pistol yang dipegang di balik pakaian mewah ketiganya.

Oude Haven pada malam hari ini terlihat amat padat dibanding biasanya. Ketiganya hanya perlu membaur, menyelundup ke kapal seharusnya, lalu sampai ke Hanseong dengan sela—

DOR!

—mat jikalau letusan tembakan api tidak menggema disusul pekikan kaget massa Oude Haven malam hari ini.

Hyerim beserta dua rekannya lantas mengeluarkan pistol yang sudah siaga di balik pakaian ketiganya.

Tentara Jepang yang berteriak menggunakan bahasa ibunya serta bersenjata api berada di belakang ketiganya yang spontan mengerang.

“BERPENCAR!” titah Hyerim sebagai pemimpin perjalanan beresiko ketiganya.

Menurut, ketiganya berpencar. Baku tembak kembali terjadi, massa di Oude Haven pun mulai ribut mencari tempat sembunyi. Secara muskil sebab mengenakan gaun ala wanita bangsawan, Hyerim berlari agak ripuh sambil mengangkat gaunnya, ia membalik badan ke belakang, mengangkat pistol lalu—

DOR! DOR!

—menarik pelatuknya yang sukses menumbangkan dua pasukan Jepang, bakat snipernya memang sudah kental dan lihai ia latih.

Dirasa aman untuk berlari tanpa menembak, Hyerim memutar tubuh dan menggas larinya. Akan tetapi, terkaannya keliru kala satu peluru mengenai bahunya, menyebabkan dirinya membelalak dan mengerang, nahas pula jatuh berlutut di atas bumi.

“Tembak Nona itu!” bentak salah satu prajurit Jepang menggunakan bahasa Jepang yang tak Hyerim pahami selagi si wanita penembak jitu andalan Pasukan Kebenaran mengerang seraya memegang bahunya yang tertembak.

Hendaknya berdiri, usahanya harus pupus saat satu tembakan menggemakan suara ‘dor’ yang keji menusuk badannya; tepat mengenai perut bawah Hyerim.

Matanya membeliak, darah muncrat dari perutnya, tubuhnya hendak jatuh kembali tetapi ia paksa berdiri dan berlari. Sesekali Hyerim menoleh ke belakang dan mencuatkan tembakan di tengah larinya.

DOR! DOR! DOR!

Gema letusan tembak terus menyambangi malam di Oude Haven yang seharusnya damai. Konon sukar berlari di balutan gaunnya, tungkai Hyerim secara luwes meloncat ke tumpukan-tumpukan kotak yang seakan membentuk tangga dari yang terkecil ke terbesar.

Tuk. Tuk. Tuk. Adalah buahan bunyi dari sepatu ungu Hyerim selagi tungkainya meloncat menaiki ‘tangga’ berwujud kotak berisi barang dagangan. Kembali Hyerim berlari, satu peluru yang terlempar ke arahnya meleset, dan secara bangga ia mencetuskan peluru kembali yang mengenai bahu satu prajurit Jepang, otomatis menciptakan senyum miring di paras Hyerim.

Keriaan itu bersifat sementara kala manik Hyerim bertumbuk pada sosok tubuh tak bernyawa yang teronggok di bumi Oude Haven—keadaannya mengenaskan; berlumuran darah—yang familier bagi Hyerim yang refleks membeku dengan tatapan kosong.

Satu teman seperjuangannya telah mangkat.

DOR!

Duka sepertinya tak bisa dirasakan Hyerim lama-lama saat selongsong peluru dicetuskan lagi, kali ini piawai mengenai perutnya lagi. Hyerim yang berada di tumpukan teratas kotak terbesar, badannya tersentak, netranya membeliak, sekonyong-konyong badan rampingnya terjun dari atas kotak.

BRAK!

“Argh,” erang Hyerim lalu terbatuk yang mengeluarkan cairan merah pekat; darah.

Tubuhnya hendak berdiri, tetapi nyeri amat dalam menyebar dari perut yang tertembak dua peluru. Kontan membuat Hyerim terduduk sambil menekan darah di perutnya bersama muka kesakitan seraya desisannya menyambangi.

Akan tetapi, Hyerim tahu bilamana ia pasrah karena kesakitan, ajal akan menghampirinya sebab letusan tembakan di belakang kotak yang tadi ia naiki masih berlangsung.

“NONA!”

Tiba-tiba sebuah tenor menginterupsi kegiatan Hyerim yang menyedihkan hendak bangkit, dirinya pun langsung menoleh. Salah satu rekannya yang berperan sebagai pelayannya nyatanya masih hidup meski tungkai kanannya terkena tembakan, pun lengan kiri atasnya demikian.

“Lari lah!” seru ‘pelayannya’ sembari menembaki Jepang kemudian melirik Hyerim lagi yang tampak khawatir. “Setidaknya satu dari kita harus pulang ke Hanseong dan itu dirimu Nona Hyerim. Cepat lari ke kapal kita! Sebentar lagi mereka berangkat! Cepat!”

Unsur pemaksaan tersebut tak bisa Hyerim sangkal. Mati memang sudah merupakan salah satu jalan pasukan kebenaran, setidaknya mereka gugur mengharumkan nama Joseon. Sudah semestinya jua Hyerim tak ragu-ragu, pun merelakan rekannya yang menyabung nyawa untuknya.

“Aku akan mengingat jasamu, Sehun-ssi,” lirih Hyerim sebelum meninggalkan teman seperjuangannya itu—Sehun—berperang senjata api bersama Jepang.

Senyum tulus Sehun di akhir hayatnya hanya mampu Hyerim pandangi. Pemuda itu mengangguk pelan sebelum satu peluru menembus keningnya, merenggut nyawa berharganya, pun Hyerim terus melajukan larinya; menyusup ke tempat-tempat gelap yang tak bisa diraba Jepang.

Suara letusan senjata api dari pihak Jepang dengan mengandalkan kemujuran kalau-kalau mengenai Hyerim yang bersatu bersama kegelapan di tengah labirin kotak-kotak bersisi barang kapal-kapal di Oude Haven, belum lah samar di selaput dengar sang ningrat. Namun, energinya sudah terkuras, tubuhnya sudah menyerah dan ingin istirahat, lukanya tambah nyeri, maniknya ingin terpejam. Hyerim yang berjalan bersama pistol yang dipegang oleh tangan kanan yang berlumuran darah, pun tetesan darah yang mengikuti dari perutnya, ingin bersimpuh pasrah.

Energinya habis, jiwanya ingin segera dipanggil Malaikat Maut, tubuh Hyerim perlahan merangsek jatuh ke atas bumi, dwimaniknya mulai menutup. Tembakan-tembakan Jepang masih menyusup indra mendengar Hyerim yang sudah terkulai di atas bumi, dan … di tengah kabur pandangannya ia melihat kilatan sepatu pantofel yang mendekati tubuh lemahnya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Jadwal keberangkatan The Dawn masih satu jam lagi. Sebagai salah satu awak, Luhan tak ingin meninggalkan Belanda dengan barang tertinggal apalagi dagangan yang sudah ia kemas untuk diperjual-belikan di Hanseong nanti. Maka dari itu, tungkai bersepatu pantofel berkilatnya pun berayun menuju jejeran kotak barang yang sudah diperiksa oleh bea cukai—takut-takut kotak miliknya belum diambil meski ia sudah menitip ke salah satu awak untuk membawakan kotaknya juga selagi tadi Luhan harus menemui pembeli terakhirnya di Belanda pada perjalanan ini yang menginginkan lukisan yang Luhan bawa dari salah satu pelukis yang ia temui di Hindia Belanda—tempat bermukimnya selama ini.

Kala diperiksa kotaknya tidak ada sama sekali berkat kemurahan hati teman sejawatnya di The Dawn yang tak mengabaikan permintaan tolongnya, Luhan hendak kembali menuju kapal bila saja letusan tembakan dan pekikan heboh berunsur ketakutan tak menggema, spontan membuat Luhan menyamarkan diri dengan merunduk di balik salah satu kotak di jejeran bea cukai ini.

Baku tembak tragis bin keji itu terus terjalin. Luhan yang bersembunyi secara tentram pun harus mengumpatkan beberapa kalimat kasar kala dirasa baku tembak ini berjangka panjang. Ia takut secara konyol harus tertinggal oleh The Dawn bila tidak bisa kembali ke kapalnya.

Tap … tap …. SREK!

Bising bunyi tersebut menyambangi runggu Luhan yang seketika bersikap siaga. Tunggu … kenapa itu terdengar seperti suara orang jatuh?

Hati-hati, Luhan keluar dari tempat bersembunyinya, mendekati tubuh yang terkulai lemah dengan napas pendek-pendeknya.

Mencelos sudah hati Luhan saat pandangannya menyensor apik sosok yang terkulai lemah ini yang menghantarkan kenangan lapuk di benaknya.

“Kim Hyerim,” lirih Luhan pada sosok yang sudah tak sadarkan diri tersebut.

Rindu menyebar ke seluruh runggunya. Keadaan nahas sang wanita menyebabkan hatinya teriris. Likuid hangat siap lolos yang berlandasan akan rasa bahagianya sebab dapat melihat lagi wanitanya yang juga teraduk bersama kesakitan harus berjumpa dengan Hyerim dalam keadaan semiris ini.

Tembakan yang menggema disusul oleh seruan-seruan berbalut amarah dari para serdadu Jepang menyadarkan Luhan bahwasanya ia berada di keadaan genting di tengah persuaannya lagi bersama Hyerim.

Cepat-cepat Luhan mengedar pandang; mencari tempat bersembunyi, hingga atensinya terenggut ke sebuah kotak berukuran besar yang tampak sedikit terbuka.

Para serdadu Jepang melintasi tempat Hyerim dan Luhan bereuni barusan. Mereka mengedar sekitar bersama mata elang di bawah cakrawala pekat malam hari, pun pistol yang sigap di tangan mereka.

“Tinggal satu lagi! Nona bangsawan itu! Dia tidak mungkin lari jauh dengan keadaan sekarat begitu. Cepat cari!” bentak pemimpin serdadu yang membantai tiga agen Joseon dalam Konvensi Den Haag ini.

Serdadu-serdadu Jepang pun memulai lagi pencariannya akan gadis ningrat yang seketika raib dari pandangan mereka.

Ya, Hyerim raib bersama Luhan ke dalam sebuah kotak yang sejujurnya tak jauh dari tempat keduanya tadi bertemu dalam keadaan nahas. Namun, para serdadu brengsek negeri matahari itu tak mengedus kecurigaan ke setiap kotak yang mereka lewati, lantas lalu begitu saja.

Sementara Luhan yang bersembunyi di balik kotak sambil meletakkan Hyerim di pahanya, akhirnya bisa mengembuskan napas lega tatkala derap langkah Jepang telah menjauh serta lenyap. Ia menanti beberapa menit, saat ia rasa timingnya tepat, Luhan pun membuka tutup kotak besar yang menampungnya bersama Hyerin yang syukurnya masih bernapas di atas pahanya.

Menggendong sang wanita penembak jitu dengan gaya bridal setelah memastikan situasi aman, Luhan lekas-lekas menuju The Dawn yang untungnya tak terlalu jauh dari tempatnya saat ini, bersama tubuh sekarat Hyerim.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Xingke! Xingke!” Teriakan Luhan yang seakan terhimpit keadaan, menggema di lorong kabin kamar.

Yang namanya dicatutkan, memunculkan diri dari kabin kamarnya bersama raut terganggu, sampai ia melihat paras pias Luhan yang menggendong wanita bergaun mewah nan berlumuran darah. Tak mengherankan mulut serta manik Xingke membulat; terperangah habis-habisan.

“YA TUHAN! SIAPA YANG KAU BAWA INI?!” jerit Xingke, untung awak yang lain sedang tak ada jadi ia tak perlu menghiraukan konsekuensi orang terusik akan jeritannya.

Persetan, Luhan membawa wanita asing sekarat ke kapal! Xingke tentu mendengar ribut baku tembak di luar. Bagaimana bila yang Luhan bawa ini penjahat yang dicari di tengah baku tembak? Ya, Hyerim memang sasaran baku tembak tersebut tetapi Hyerim bukanlah sembarang orang bagi Luhan.

“Kim Hyerim,” sahut Luhan, memberikan pelototan pada Xingke yang terkena serangan kejut kesekian kalinya, “cepat bawakan obat apapun itu! Cepat!” Luhan memerintah sambil membentak, takut-takut sewaktu-waktu napas Hyerim terhenti begitu saja bila lama-lama tidak ditangani secara cepat.

Kini, Hyerim sudah diletakkan di ranjang Luhan dengan keadaan duduk. Membuang santun, Luhan sobek bagian atas gaun Hyerim di bagian perutnya yang luka saja, dan dapat Luhan lihat betapa dalam tembakan yang dibubuhkan para Jepang brengsek itu.

Xingke tergopoh mendekati Luhan, ia berikan kotak berisi obat-obatan serta peralatan medis.

“Akan kupanggilkan Benjamin,” putus Xingke, diam-diam mengamati Kim Hyerim serta dalam hati memuji betapa jelitanya kekasih Luhan itu sesuai dongeng yang dilantunkan sang pedagang.

Setelahnya Xingke hengkang memanggilkan Benjamin—salah satu awak yang merupakan dokter.

Selagi Xingke memanggil bala bantuan untuk luka Hyerim, Luhan sibuk menggunakan pinset operasi untuk mengambil peluru yang tertanam di daerah luka Hyerim. Luhan memang tak berpengalaman, tetapi ia cukup cerdas untuk melakukannya sebab pernah melihat bagaimana Benjamin mengambil peluru kepada pasiennya yang tertembak.

Satu peluru berhasil dikeluarkan, pun embusan napas lega Luhan teraksikan. Tatkala ingin mengambil yang kedua, seketika lirih suara yang amat ia rindukan menyambangi runggunya, otomatis membuat fungsi motorik Luhan kaku.

“Kenapa kau selalu datang ke mimpiku?”

Adalah frasa yang membuat Luhan terpaku, yang berasal dari Kim Hyerim dengan napas berat-beratnya.

Kepala Luhan menengadah, legam pekatnya bersapaan dengan obsidian Hyerim yang wajahnya pias bukan main.

Mematri senyum tipis, tangan Luhan melayang ke pipi sang wanita lantas memberikan elusan lembut di sana.

“Ini bukan mimpi,” tutur Luhan.

Cangkang matanya menyipit, kernyitannya tercipta, selagi Luhan setia membelai bizar penuh rindu pipi kanannya. Hyerim merasakan luka tembaknya menghantarkan nyeri tiada tara; sontak membuatnya sadar.

Menusuk lekat Luhan dengan irisnya, “Luhan …” Hyerim panggil nama sang kekasih yang hubungannya telah kandas dengannya, “ … ini sungguh dirimu?” Hyerim mengutarakannya secara lamat-lamat, seketika air matanya berdesakan ingin meluncur, ada sesak yang membelengungi kalbunya sebab euforia ini terlalu besar.

Bola kepala Luhan yang mengangguk menyebabkan ukiran senyum lemah Hyerim terpatri, maniknya pun mengabur karena likuidnya—sama halnya juga yang terjadi pada Luhan sekarang. Perlahan, Hyerim mengangkat tangan; sama-sama terjatuh memegang pipi Luhan—memastikan figur prianya bukanlah ilusinya semata di tengah ajalnya sebab saking merindukan sang jaka.

I miss you,” lirih Hyerim menyebabkan setetes air mata menetes dari pelupuk Luhan. “Kau tahu betapa aku menyesal karena mengakhiri pertemuan terakhir kita dengan selamat tinggal? Aku selalu meminta pada langit agar dapat berjumpa lagi denganmu dan berharap aku dapat menarik perkataanku itu,” imbuh Hyerim, sedikit sulit karena napasnya yang berat bin tidak teratur.

Tangan Luhan meninggalkan pipi sang dara, berganti haluan lah tangannya memegang tangan Hyerim yang singgah di pipinya, membawa tangan sang wanita ke depan bibirnya; mengecupnya lembut penuh kasih.

Dengan mata berair serta senyum pedih, Luhan mengaksarakan: “Apa kau juga tahu bahwa aku sudah membeli cincin untuk benar-benar melamarmu sebelum kau memutuskan untuk berpisah? Apa kau juga tahu bahwa aku selalu membawa cincin itu ke mana-mana sambil menggenggam asa bisa berjumpa lagi denganmu dan langsung melamarmu jika aku bertemu lagi denganmu?”

Bibir Luhan bergetar, lalu berfrasa kembali, “I miss you too, my wife.”

Dengusan pelan Hyerim tercetus, maniknya memejam sebentar; ia hanya ingin mengendurkan kesakitan yang menjalar dari luka tembaknya.

“Kau belum melamarku, bodoh. Jangan sebut aku istrimu dulu,” kelakar Hyerim, bisa-bisanya di tengah situasi ini.

Luhan pun terkekeh pelan tanpa suara. “Bahasa Inggrismu sekarang sudah sangat bagus,” seloroh Luhan sebelum ia merogoh sakunya dengan tangan yang tak menggenggam tangan Hyerim yang sudah membuka mata lagi dan memperhatikan pergerakannya.

Sebuah kotak disodorkan oleh Luhan sambil tersenyum tipis. Tangannya yang satunya pun meninggalkan tangan Hyerim guna membuka kotak yang merupakan tempat tertidurnya dua cincin emas putih sederhana yang berkilauan.

You said you will, didn’t you?” sembur Luhan, mematri senyum berusaha sebahagia mungkin meski ia tahu waktu Hyerim tinggal sebentar lagi di dunia ini sebelum akhirnya pergi ke nirwana.

Sadar waktunya tak lama sebelum nyawanya dipanen Malaikat Maut, Hyerim mengangguk secara cepat. Lantas Luhan segera menyelipkan cincin di jari manis Hyerim, kemudian cincin di jari manisnya, setelahnya mengaitkan jari-jari tangan keduanya yang terselip cincin indah yang telah lama meraung ingin dikeluarkan itu.

“Indah,” komentar Hyerim, tersenyum lemah menatapi cincin yang terselip di jemarinya serta Luhan. “Tapi sayangnya … aku harus pergi lagi sekarang, Lu,” kata Hyerim, mengangkat pandangan ke manik rusa Luhan yang sudah berair bahkan menumpahkan air mata.

Diafragma Hyerim kembang-kempis tak beraturan, pandangannya makin kuyu.

“Aku … akan … mengatakan ini … lagi … karena sekarang aku … yakin,” ucap Hyerim, terpotong-potong, sakit luka tembaknya makin menjadi, napasnya mulai tercekat rasanya, pun matanya mulai lelah terbuka.

Sedang Luhan menggeleng pelan dengan senyum pedih. Tak sanggup mendengarkan lantunan kata yang akan Hyerim kumandangkan.

“Selamat … tinggal.”

Adalah kata penutup Hyerim di kitab hidupnya. Selanjutnya, mata sang dara tertutup, diafragmanya yang semula kembang-kempis mengeluarkan napas beratnya pun berhenti, Malaikat Maut sudah menjemputnya.

Tanpa komando, air mata Luhan jatuh, tangannya yang terselip cincin pun melepaskan diri dari tautan jemari Hyerim serta berganti jatuh kembali ke pipi sang gadis.

Senyum pedih Luhan tersemat, “Harusnya kau tidak mengucapkan selamat tinggal tetapinya sampai jumpa, karena aku yakin kita akan bertemu lagi, kelak,” lirih Luhan, menatapi wajah jelita bin tenang Hyerim di tengah ‘tidur’ nyenyaknya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

EPILOG.

Ruang bawah tanah yang ditata nyaman di toko roti milik Luhan tengah dipijaki oleh Hyerim dan si empunya toko. Luhan pun mempersilakan Hyerim duduk di tempat duduk yang sejujurnya tak nyaman. Selagi Hyerim memperhatikan sekitar diposisi duduknya, Luhan menghampiri satu lemari laci dari kayu yang sudah agak usang termakan usia.

“Ini dia!” tukas Luhan, menyentak Hyerim dari kegiatannya mengamati sekitar.

Si pria Lu mendekat ke arah Hyerim sambil membawa jam analog kalung dan satu barang asing bagi Hyerim. Senyum lebar Luhan terukir, ia tampar bokongnya duduk di sebelah sang dara.

“Ini dia jam analog kalung, yang kubeli dari uang hutangmu, Nona,” ujar Luhan, memberikan jam analog kalung tersebut yang langsung diterima sukacita oleh Hyerim. Lalu Luhan pun menunjukkan satu benda yang tak dikenali Hyerim, “Kalau ini adalah kotak musik dari Belanda yang kubilang. Aku baru membelinya saat kemarin ke Amsterdam.”

Percikan manik kekasihnya yang amat berbinar membuat Luhan membuka tutup kotak—berniat melihatkan daya tarik kotak musik yang belum pernah Hyerim lihat sebelumnya—dan lantas alunan musik dengan miniatur balerina nan menari, menyambut indra Hyerim yang sontak berbinar takjub.

“Wah!” takjub Hyerim, mulutnya membentuk o, maniknya pun demikian.

Melihat riak wajah takjub kekasihnya yang lucu baginya, membuat Luhan tersenyum gemas.

“Tapi omong-omong, apakah date itu seperti ini?” Hyerim mengutarakan tanya setelah si kotak musik ditutup kembali oleh Luhan, seraya menatap sang jaka penasaran.

Luhan letakkan kotak musik di sampingnya, ia lempar senyum simpul ke arah Hyerim. Ya, keduanya sedang melakukan ‘date’ sebab saat itu gagal karena Hyerim mendadak harus melaksanakan aksinya dalam tabir rahasia yang menyelubungi wajahnya sambil membawa pistol. Setelahnya pun, Luhan harus pergi menuju Amsterdam.

Bahu Luhan mengedik, mengundang picingan mata Hyerim.

“Entahlah,” respons Luhan, “yang penting kita bersama sekarang. Apa kau mau kita melakukan hal itu lagi? Seperti saat aku menyelamatkanmu dari pasukan Jepang di hari kau menembak satu pengkhianat yang memberikan nama-nama pasukan kebenaran yang berhasil kau jarah malam itu setelah menembaknya?”

Bersemu lah pipi putih Hyerim, matanya membeliak. Di lain sisi, Luhan menaik-turunkan alis dengan senyum menggoda. Segera Hyerim bubuhkan pukulan di bahu si jaka.

“Hei! Maksudku—”

Namun semua kalimat Hyerim harus tenggelam kembali tatkala Luhan membabat spasi. Intinya, bibir keduanya berpagutan dalam buaian lembut di kencan mereka siang itu yang dilaksanakan di ruang bawah tanah toko Luhan.

We’ll meet after everything is scattered

It’s painful

We’ll be smiling together

See you again ….


— (Baek Jiyoung — See You Again [Ost. Mr. Sunshine])

 

—끝내다/END—


Iya, ini FF udah dari tahun 2018 kagak kelar2, ini aja dikelarin karena mo kambek di ultah Luhan. Yuhuyyy met ultah daddy Lu-ku, ciee udah dua poloh cembilan HWHW. ANYWAY MAAPKEUN TYPO, INI AJA NGEBUT NYELESEINNYA PLUS LG MALES EDIT, TAR DEH YA AKU EDIT EGEN. ANYWAY JG, BUAT 3 AGEN JOSEON YG DI KIRIM BUAT KONVENSI DEN HAAG AKU NGARANG MEREKA MATI DITEMBAKIN JEPANG ASLINYA GK ADA (Akunya gk nemu) TIGA UTUSAN ITU MATI DITEMBAKIN JEPANG PAS MAU PULANG KE JOSEON.

P.S : video yg di atas FMV FF ini, tonton yaw

P.P.S : NIAT ADA SEKUELNYA NICH

Catatan :

  • Konvensi Den Haag adalah dua perjanjian internasional sebagai hasil perundingan yang dilakukan dalam konferensi-konferensi perdamaian internasional di Den Haag, Belanda: Konvensi Den Haag Pertama (1899) dan Konvensi Den Haag Kedua (1907). Bersama Konvensi-konvensi Jenewa, Konvensi-konvensi Den Haag adalah sebagian dari pernyataan-pernyataan formal pertama tentang hukum perang dan kejahatan perang dalam batang tubuh Hukum Internasional yang baru berkembang pada waktu itu.
  • Perjanjian Jepang-Korea 1905, juga dikenal dengan nama Perjanjian Eulsa atau Perjanjian Protektorat Jepang-Korea, adalah sebuah perjanjian yang ditandatangani oleh Kekaisaran Jepang dan Kekaisaran Korea pada tahun 1905. Perjanjian ini mencabut kedaulatan Korea dan mengubah status Korea menjadi protektorat Jepang. Perjanjian ini dimungkinkan oleh kemenangan Jepang dalam Perang Rusia-Jepang pada tahun 1905. Isi perjanjian ini mulai berlaku pada tanggal 17 November 1905, dan perjanjian ini membuka jalan bagi Perjanjian Jepang-Korea 1907 dan Perjanjian Aneksasi Korea oleh Jepang. Kaisar Gojong tidak menandatangani perjanjian ini. Ia bahkan sempat mengirim surat kepada kepala negara di negara-negara Eropa untuk meminta bantuan. Pada tahun 1907, ia juga mengirim tiga utusan rahasia ke Konferensi Den Haag Kedua untuk menentang perjanjian ini, tetapi negara-negara dunia tidak mengizinkan Korea untuk turut serta.
  • Euibyeong (Pasukan Kebenaran) adalah kelompok orang yang terdiri dari rakyat Korea yang secara sukarela membentuk pasukan pembela keadilan melawan rezim penjajahan Jepang di Korea. Kelompok orang yang menentang agresi Jepang telah diorganisasikan semenjak Jepang menginjakkan kaki di Korea. Kelompok itu terdiri dari keluarga bangsawan dan petani setelah Perang Russo-Jepang meletus. Pergerakan Euibyeong dimulai pada tahun 1895 dan meluas ke berbagai tempat pada tahun 1906. Sejak imperialis Jepang membubarkan pasukan militer Kekaisaran Han Raya pada tahun 1907, 10 ribu tentara yang baru dinonaktifkan bergabung dengan unit-unit Euibyeong di seluruh Korea. Mereka berjuang dalam perang terhadap penjajah dan pejabat pemerintahan pro-Jepang antara tahun 1907-1909.

CR : wikipedia

One thought on “[LUHAN BIRTHDAY PROJECT] A Dove and A Blaze – HyeKim”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s