[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] Solicitude by bluesheano

7519a66a892c9bee4c71121f324ece36

bluesheano’s present

Sehun with OC

fluff // vignette // teenager

—oOo—

Wattpad : @Ikhsaniaty / @bluesheano || WordPress : bluesheano

—oOo—

 Kekacauan yang Eunhee buat di ruang dapur rumah Sehun, sukses menyita perhatian pemuda berkulit seputih susu itu. Entahlah, tiba-tiba Eunhee mendatangi rumahnya begitu saja dengan alasan ingin meminta selai roti untuk sarapan paginya, sebab gadis itu belum sempat pergi berbelanja ke minimarket sekadar membeli kebutuhan seperti selai, keju, susu dan lainnya.

Sehun yang notabene tidak bisa mencegah Eunhee agar tidak memasuki rumahnya begitu saja pun memilih untuk pergi mandi, bersiap untuk bekerja dan membiarkan si gadis mencari selai rotinya sendiri. Karena Sehun yakin, Eunhee hanya butuh pergi ke dapur dan mengedarkan pandangan ke lemari dapur untuk menemukannya. Tidaklah susah, bukan?

Namun, lima belas menit berselang dan tatkala Sehun keluar dari kamar mandi, yang ia temukan justru kekacauan yang benar-benar kacau. Bau gosong menyengat kuat, asap hitam dari wajan di atas kompor pun membumbung tinggi, membuat Sehun yang tengah dibalut bathrobe-nya bergegas menghampiri kompor guna mengangkat wajan menggunakan lap dan meletakkannya di tempat cuci piring.

Oknum bernama Park Eunhee ini justru duduk patuh di kursi meja makan, seakan ia siap menanti amarah dari sang majikan karena ulahnya yang sangatlah menyebalkan dan pastinya sulit untuk dimaafkan, tetapi gadis itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi bersalah. Dia malah menunjukkan cengiran kaku, menatap Sehun tak gentar sementara pemuda itu sendiri sudah berkacak pinggang menahan emosi.

“Jadi, bisa kau jelaskan kekacauan yang sudah kau lakukan di dapurku?” tanya Sehun rendah.

Eunhee menggigit bibir, melirik sepiring sandwich gagal buatannya di atas meja dengan rotinya yang menghitam dan tidak dapat dipungkiri, rasanya pasti pahit luar biasa.

“Kupikir kau hanya membutuhkan selai roti, bukannya menggunakan wajanku untuk memasak telur sampai mengerak dan menghitam seperti itu,” tunjuk Sehun ke arah wajannya berada.

“I-iya, tadinya begitu, Sehun, sungguh.” Eunhee mulai panik. “Hanya saja mendadak aku tertarik untuk membuat sandwich, tapi aku sendiri tidak tahu seperti apa cara membuatnya. Yang aku ingat hanyalah… aku butuh menggoreng telur mata sapi lalu memanggang rotinya sampai matang, tapi… tapi…”

“Tapi kau malah menghancurkan dapurku,” lanjut Sehun, menekan setiap perkataannya.

“Oke, aku minta maaf.” Eunhee mendesah berat. Kepalanya turut menunduk dalam. “Aku tidak bermaksud menghancurkan dapurmu…”

“Oh, tidak, tidak. Lupakan.” Sehun mengibaskan tangannya, tak ingin mendengarkan celotehan Eunhee. “Jadi intinya kau sama sekali tidak tahu cara membuat sandwich, tapi kau nekat membuatnya, begitu?”

“Ya.” Eunhee mengangguk membenarkan. “Maaf.”

Usia pertemanan karena alasan mereka adalah tetangga memang baru menginjak satu bulan. Sehun-lah si pendatang baru di lingkungan perumahan ini. Dan Eunhee dengan riangnya memperkenalkan diri dengan cara datang kemari, membawakan kue pangsit buatan ibunya dan berkata bahwa rumahnya berada persis di samping kirinya. Sehun pikir Eunhee adalah sosok tetangga yang menyenangkan; tidak berlaku sombong, tak acuh dan mau berteman dengannya, tetapi nyatanya sosok Eunhee tidak sampai di sana saja.

Ada hal lain yang baru diketahui Sehun.

Eunhee adalah sosok pengacau di dapurnya. Iya, itu kenyataan terbaru yang harus Sehun catat baik-baik dalam kepalanya.

“Ya Tuhan! Aku sudah meminta maaf kepadamu dan kau tidak mau memaafkanku?” Suara Eunhee membuyarkan pemikiran Sehun dalam sekejap. Gadis itu sudah bangkit berdiri dan mendongak kesal padanya. Jarak tinggi mereka terpaut cukup jauh; Eunhee hanya sebatas dadanya saja, tetapi tidak dapat dipungkiri, Sehun kerap kali merasa gemas sendiri karena hal ini.

Karena bau gosong masih menyesaki penciumannya, ditambah kenyataan bahwa si menyebalkan Park Eunhee masih menyapa pandangan, maka Sehun berkata, “Bersihkan kekacauan yang kau buat ini sebersih-bersihnya. Sekarang aku harus pergi bekerja, dan aku akan pulang tepat jam lima sore nanti. Pastikan kau benar-benar membereskannya tanpa menyisakan satu kotoran sedikit pun. Kau paham?” titahnya seraya mendekat satu langkah pada Eunhee dan memberinya tatapan mengancam.

Eunhee terperangah tak percaya. “Hei, pagi ini aku juga harus pergi kuliah, kau tahu?” protesnya. “Mana bisa aku melakukannya sekarang…”

“Itu urusanmu. Aku tidak peduli,” sanggah Sehun. “Bersihkan atau aku akan melaporkan kelakuanmu pada ibumu?” ancamnya kemudian.

Nyali Eunhee seketika menciut untuk terus memberi penolakan pada Sehun. Memikirkan ibunya yang mengetahui kenyataan ini saja sudah membuatnya merinding hebat. Eunhee tak bisa membayangkan sebesar apa amarah sang ibu saat mengetahui rumah tetangga tampan favoritnya dirusak begitu saja oleh putri kesayangannya ini. Karena biar bagaimanapun, ibunya tetap akan membela Oh Sehun meski dalam keadaan Park Eunhee yang tidak bersalah. Oh, ya ampun.

“Baiklah, baiklah. Aku akan membereskannya!” seru Eunhee, tak tahan membayangkan emosi sang ibu dalam benaknya.

Sehun mengulas senyum puas. “Nah, kalau begitu selamat berbenah, Nona. Aku harus pergi bekerja sekarang dan kalau kau sudah selesai beres-beres, segera kunci pintunya dan letakkan pada pot gantung depan rumahku. Paham?”

Sehun lantas berlalu meninggalkan Eunhee yang mematung di tempat. Selesai dengan urusan berpakaian dan hal lainnya, Sehun mulai bergegas meninggalkan rumahnya dan ia memercayakan sepenuhnya pada Eunhee. Namun, jika Eunhee tidak menyelesaikan tugasnya seperti yang Sehun inginkan, maka Sehun tidak akan membiarkan gadis itu begitu saja. Dengan kata lain, Sehun tetap akan melaporkan insiden tersebut pada ibu dari si gadis Park.

*****

Mobil sedan miliknya terparkir rapi di halaman rumahnya tepat pukul lima sore, seperti apa yang Sehun katakan pada Eunhee di pagi hari. Dengan perasaan gusar yang menghantuinya sedari tadi, juga dengan pemikiran buruk kalau Eunhee tidak membereskan rumahnya, membuat Sehun melangkah lebar menuju pintu rumahnya sembari berharap-harap cemas.

Kunci rumahnya berada tepat pada pot gantung teras rumah, seperti apa yang ia katakan pada Eunhee sebelumnya, kini Sehun tinggal membuka pintu, melangkah lebih hati-hati dan berdoa semoga dapurnya kembali rapi seperti sedia kala.

Wangi aroma pengharum ruangan sontak saja menyeruak di saat Sehun membuka pintu rumah. Keadaan di ruang tamu terlihat berbeda dari sebelumnya; lebih rapi dibandingkan pagi tadi. Beranjak menuju ruang tengah, ia menemukan meja kopinya yang semula dipenuhi buku-buku bacaan kini tampak tertata, berikut dengan dua buah koran harian yang disimpan di samping tumpukan buku tersebut.

Apakah ini semua Eunhee yang mengerjakannya? Pikir Sehun.

Sehun sungguh kehilangan kata-katanya. Ia yang semakin penasaran dengan kondisi dapurnya pun mulai beranjak ke arah sana dan mendapati ruangan dapurnya benar-benar bersih dan seakan terlihat tidak pernah mengalami insiden mengerikan yang dilakukan oleh Eunhee sebelumnya. Mejanya rapi, persis seperti meja kopinya. Di atas meja makan itu terdapat beberapa piring masakan serta seteko kopi yang masih mengepulkan asap panas. Semua itu tak pelak membuat Sehun tercengang.

Tidak mungkin Eunhee yang melakukan ini semua, kan?

Ada sesuatu lainnya yang menarik perhatian Sehun. Pada lemari pendinginnya, tertempel sebuah sticky note berwarna biru muda menggunakan magnet kecil di sana. Sehun melepaskan sticky note tersebut dan membaca tulisan tangan milik Park Eunhee yang cukup bagus.

Hoi, Oh Sehun. Kuharap kau memujiku sebanyak-banyaknya setelah melihat perubahan besar-besaran rumahmu yang sebelumnya jauh lebih buruk dibandingkan rumahku sendiri. Pecinta kebersihan, katamu? Cih, dasar pembohong!

Omong-omong, bukan aku yang memasak makanan di atas meja makanmu, tapi ibuku. Aku hanya membuatkanmu kopi saja, karena aku hanya jago dalam urusan meracik kopi; tidak dengan memasak makanan. Tolong balikkan kertasnya.

Sehun mengikuti instruksi yang diberikan Eunhee dengan membalik kertas tersebut. Masih ada beberapa kalimat yang Eunhee tulis untuknya.

Sebelum kau mengadukan kelakuanku pada ibuku, aku sudah memberitahunya lebih dulu dan… yeah, ibuku maraaah besar, tapi tidak apa-apa, itu semua memang salahku dan aku harus bertanggung jawab. Aku gadis yang hebat, bukan?

Jadi, selamat mencicipi hidangan yang ibuku buatkan serta racikan kopiku untukmu. Semoga kau menyukainya.

P.S : Lain kali, kau tidak perlu menunjukkan ekspresi marahmu lagi kepadaku. Wajah tampanmu itu jadi terlihat sangat mengerikan kalau kau marah. Aku bersumpah.

Tahu-tahu, perasaan hangat menjalari dada Sehun secara perlahan. Sudut-sudut bibirnya mulai terangkat, membentuk lengkungan manis yang tidak ia sadari. Sehun kembali menempelkan sticky note itu di pintu kulkas, memandanginya cukup lama, selanjutnya ia beralih memerhatikan deretan makanan serta kopi di meja makannya dan mengembuskan napas pelan.

Sepertinya ia sudah cukup keterlaluan, ya, terhadap Eunhee? Bagaimana bisa ia berubah menjadi sosok mengertikan seperti itu? Ah, mungkin tidak ada salahnya juga jika ia turut meminta maaf pada Eunhee karena sudah memarahinya dan membuatnya ketakutan.

Terlebih, entah mengapa, Sehun ingin melihat wajah si gadis mungil itu lagi dengan kurun waktu yang lebih lama dibandingkan pagi tadi, atau di waktu-waktu lampau.

 

 

―fin

Happy bornday, Oh Sehun! ♥

One thought on “[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] Solicitude by bluesheano”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s