[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Something Outside by bluesheano

b25b4d428734c2c86aacc7c61af07e3c

blusheano’s present

Xiumin (Kim Minseok) with (Jane Kim) OC

family, mystery, slight!horror // vignette // PG-15

—oOo—

Wattpad : @Ikhsaniaty || WordPress : bluesheano

—oOo—

Jam dinding sudah menunjuk pukul sebelas malam, ketika Jane Kim baru saja menyelesaikan tugas sekolahnya. Gadis berusia enam belas tahun itu menguap lebar, meregangkan tubuhnya di kursi belajar sebelum ia beranjak dari sana menuju tempat tidurnya seraya menggaruk perutnya dari luar. Sungguh, mendapatkan tugas Fisika di saat Jane sama sekali tidak tertarik mendalami pelajaran tersebut benar-benar membuatnya suntuk. Jane sebenarnya ingin menyontek jawaban dari teman sebangkunya; Oh Sehun, hanya saja guru Fisika-nya bilang, tidak boleh ada satu pun dari muridnya yang mengisi tugas hasil dari salinan jawaban temannya atau ia akan terkena hukuman. Sungguh menyebalkan, bukan?

Jadi, menguap untuk yang kesekian kalinya kemudian menarik selimut dan bersiap untuk tidur, Jane mulai memejamkan mata. Namun, satu gedoran keras dari balik jendela kamarnya, membuatnya tersentak kaget. Ia terduduk di tempat tidur dengan jantung berdebar liar.

“Apa itu tadi?” gumam Jane, gusar.

Pandangan mata Jane terpaku pada jendela bergorden biru tua tersebut, seakan menantikan sesuatu yang akan muncul dengan sendirinya di sana, tetapi nyatanya tidak ada apa-apa yang bisa ia saksikan. Hanya sesekali gordennya melambai-lambai pelan, hasil dari embusan angin malam yang menyelinap ke sela-sela jendelanya.

Beberapa detik Jane tetap dalam posisinya, lalu tak lama suara gedoran itu terdengar lagi. Kali ini lebih kencang dan memacu sisi ketakutannya muncul. Jane terpaksa beringsut dari tempat tidur dan berjalan tergopoh menuju pintu kamarnya yang sudah dikunci, menuju kamar kakak laki-lakinya yang terletak bersebelahan dengan kamarnya di lantai dua.

“Kak Minseok! Kak Minseok!” seru Jane, mengetuk kencang pintu kamar sang kakak dengan perasaan takut yang kian menjadi. Keringat dingin tahu-tahu keluar dari pelipis, ekspresi wajahnya benar-benar mencerminkan kepanikan.

Jane bersumpah, kalau kakaknya mendadak berubah menjadi seonggok daging tidak berguna yang hanya bisa menulikan telinganya dan tetap tertidur pulas, gadis itu akan merusak pintu kamar tersebut menggunakan apa saja, selanjutnya ia akan membunuh sang kakak dengan cepat.

Beruntunglah Jane, karena satu menit setelah Jane merelakan telapak tangannya memerah hasil dari gedoran kencangnya, Minseok membuka pintu. Wajahnya diselimuti kantuk luar biasa, rambutnya berantakan, matanya merah dan sayu. Minseok mengerang secara terang-terangan; kesal karena Jane Kim sudah mengganggu ketenangan tidurnya.

“Astaga, Jane! Bisakah kau kembali tidur saja setelah mengalami mimpi buruk? Kenapa kau selalu mendatangi kamarku?!” gerutu Minseok, menatap adiknya dengan sepasang alis saling menyatu.

Jane membalas ucapan pedas itu dengan ekspresi tak kalah kesal bercampur gundah, “Aku bahkan belum tidur sama sekali, Kak!”

“Lalu?” Minseok menguap lebar.

“Ada seseorang yang menggedor-gedor jendela kamarku! Keras sekali!” ujar Jane, menggebu. “Aku tidak punya keberanian untuk melihatnya karena, sumpah, Kak, aku takut! Bagaimana kalau seseorang itu adalah seorang pencuri? Atau… hendak membunuhku?!”

Minseok berdecak dongkol. “Kau tidak bisa mengelabuiku, Jane! Aku tahu, itu hanya trikmu saja agar aku pergi ke kamarmu dan bukannya mengecek jendela kamarmu, kau malah memintaku mengerjakan sisa tugasmu, kan?”

“Demi Tuhan, Kim Minseok!” Jane terperangah tak percaya. “Apakah aku terlihat seperti sedang mengelabuimu? Kau tidak melihat bagaimana ketakutannya aku? Kau gila?!”

Karena Minseok merasa ucapan Jane terlalu keras dan menyakiti telinganya―dan beruntung kedua orang tuanya tidak mudah terbangun di malam hari hanya karena mendengar nyaringnya suara dirinya dan Jane, maka Minseok menerobos tubuh mungil Jane menuju kamar adiknya dengan langkah dihentak-hentak.

Jane Kim adalah salah satu anggota kelab Teater di sekolahnya. Dia sudah pernah memenangkan banyak penghargaan demi kelab tercintanya itu. Jadi, tidak heran apabila Jane pandai memainkan perannya dengan ekspresi apa saja di hadapan Minseok. Termasuk dengan apa yang Minseok keluhkan tadi di depan pintu kamarnya. Minseok sudah banyak tertipu dengan peran-peran yang dimainkan Jane selama ini.

Keduanya sampai di kamar bernuansa merah muda dan putih itu. Minseok mengamati keadaan sekitar, sementara Jane bersembunyi di balik punggung kokoh kakaknya; sama-sama mencari tahu dengan pandangan bergerak liar.

Keadaan hening, tetapi keheningan ini bukanlah suasana yang disenangi Jane. Ada sesuatu yang ganjil menyusup ke dalam kamarnya dan Jane sungguh membencinya.

“Tidak ada apa-apa.” Minseok berbalik menghadap Jane sembari memasang mimik datar. “Kau menipuku.”

Jane menepuk keningnya sendiri. “Kak, sesuatu yang aneh itu ada di balik jendelaku!” bisiknya gemas. “Demi Tuhan!”

Minseok menahan napas, memejamkan matanya demi meredam emosi yang tiba-tiba muncul. “Jane, aku sungguh…”

Gedoran keras yang Jane khawatirkan tadi, kembali terdengar. Kali ini tak hanya jane saja yang terkejut, Minseok pun merasakan hal yang sama. Minseok bahkan melebarkan pandangan dan segera menoleh ke arah jendela kamar, bersamaan dengan datangnya gedoran itu.

“Jane…,” Minseok ikut berbisik, sedangkan Jane mencengkeram lengan kekarnya erat-erat seraya menahan tangis.

“Kubilang juga apa!” kata Jane, marah.

“Baiklah, baiklah, aku akan memeriksanya,” respons Minseok, melepaskan tangan Jane dan menatap adiknya sesaat.

Jane menggigit bibir, memerhatikan kakaknya yang melangkah hati-hati ke arah jendela kamar dengan perasaan tidak keruan. Seumur hidupnya, baru kali ini Jane mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan di dalam kamarnya. Setiap langkah kaki yang diciptakan sang kakak, meningkatkan detakan jantungnya serta membuat napasnya tidak terkendali.

Awalnya, Jane memang menduga sosok yang menggedor jendelanya itu adalah orang jahat yang hendak menyerang rumahnya, tetapi tatkala Minseok menyibakkan gorden secepat kilat, mereka hanya menemukan kegelapan di sana.

Tidak ada apa-apa.

Jane hanya menangkap sorot lampu jalan yang menembus samar ke dalam kamar. Napas gadis itu terhenti beberapa detik, sementara Minseok berdiri di depan jendela dengan pandangan memindai ke segala penjuru luar rumah dari balik jendela.

Minseok mengernyit. Ketakutan yang semula membungkus tubuhnya mendadak tersapu sedikit demi sedikit, tetapi teror yang dirasakannya masihlah ada. Minseok hanya takut orang jahat yang ia duga ada di sekitar rumahnya itu bersembunyi secepat yang ia bisa, dan Minseok terlambat untuk menemukannya.

“Jane, tidak ada apa-apa di sini,” kata Minseok, setelah meyakinkan pandangannya sendiri bahwa memang tidak ada sesuatu yang janggal di luar sana.

Jane bergerak perlahan mendekati kakaknya, menyisakan jarak empat langkah. Minseok masih berdiri di tempatnya, menghadapkan punggungnya pada gadis itu.

“Kau… yakin, Kak?” tanya Jane, ragu.

“Itu pasti hanya kerjaan orang iseng saja,” ungkap Minseok, tetapi matanya masih terarah ke luar, mencari sesuatu yang setidaknya patut ia curigai pada beberapa pohon besar yang ditanam, atau ke arah celah-celah rumah yang tampak gelap dan dingin.

Jane menghela napas lega begitu mendengar perkataan kakaknya. Senyuman kecilnya mengembang. Ia baru akan mengucapkan kata terima kasih, ketika di saat yang bersamaan, suara gedoran yang keras itu kembali muncul, sementara Minseok masih tetap di tempat, menghadap ke jendela. Dengan posisi demikian, sudah pasti Minseok melihat hal apa yang mengganggu ketentraman mereka sedari tadi hingga membuat mereka diselimuti ketakutan yang luar biasa.

Namun, bukannya terperanjat kaget seperti yang Jane lakukan―malah gadis itu memekik keras, Minseok justru membeku; tidak bergerak maupun terkejut. Minseok bergeming. Kedua tangan berada di sisi tubuh, badannya juga berdiri tegak.

Jane merasakan ludahnya pahit, kegetiran merayapi tubuhnya, air mata mulai membasahi wajah saat langkah kakinya kembali tercipta menuju Minseok.

“Kak…?” panggil Jane, serak. “Kau… melihat sesuatu, kan? A-apa itu…?”

Demi apa pun, Minseok tidak berniat beranjak ke mana-mana. Dia membiarkan Jane kian mendekatinya, dan tatkala Jane menyisakan jarak satu langkah saja darinya, ia lantas berbalik, mempertemukan ekspresi datarnya pada sang adik yang melebarkan matanya serta menganga secara tak sadar.

Yang tidak Jane duga sama sekali adalah, Kim Minseok menyuguhinya senyuman aneh yang tidak menyentuh sepasang matanya, lalu berkata dengan nada bicara yang anehnya membuat bulu kuduk Jane meremang, “Jane, kau ketakutan, bukan? Aku akan menemanimu di sini.”

Ada hal lainnya juga yang tidak luput dari perhatian Jane. Kengeriannya memuncak pada saat ia mendapati warna mata Minseok yang semula hitam, berubah menjadi semerah darah, berikut senyuman aneh sang kakak yang berganti menjadi seringaian lebar.

 

―fin

Haaaaalooooooo semuanyaaaaaaa! Huhuhuhu udah lamaaaa banget aku nggak posting cerita apa-apa di EXOFFI huhuhuhuhuhuhuhu mianhaeeeeeee T.T

Btw, maaf kalo cerita yang kubuat ini terkesan nggak jelas dan… bikin kalian kecewa :”””( nggak tahu kenapa aku malah agak susah membuat ff dengan durasi ficlet sampai oneshot /nangis di pojokan/

Silakan tinggalkan komentar, baik berisi kritik dan sarannya, ya! Komentar dari kalian benar-benar aku tunggu x))))

Semoga ke depannya aku bisa kembali menulis cerita lain dan idenya selalu mengalir juga :”””””)

Salam sayang,

Isan♥

One thought on “[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Something Outside by bluesheano”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s