[FICLET] Transition – SHIN TAMA production

SHIN TAMA

production

Transition

Kim Jong in || Go Mi Raa (OC)

Romance, Family, Angst || PG-13 || Ficlet

Hari minggu. Matahari bersinar dengan damai tanpa khawatir ada awan hitam yang mengintai. Angin berhembus lembut menawarkan persahabatan. Alam sangat mendukung hari ini. Alam berusaha menjadi yang sempurna bagi penikmatnya. Mi Raa menjingjing dua kantong plastik yang lumayan besar berisikan sampah-sampah rumah tangga. Kaleng, botol, sisa-sisa makanan dan sebagainya. Ia meletakkannya di bak sampah untuk selanjutnya di angkut oleh truk sampah.

“Selamat pagi Mi Raa-ssi.” Sapa Young Ran- tetangga depan rumahnya.

“Selamat pagi Young Ran-ssi, apa kau akan bergi ke suatu tempat?” Mi Raa melihat tetangganya itu sedang mengemasi barang-barang ke bagasi mobilnya.

“iya, kami akan ke Insadong.” Jawab ibu 2 anak itu.

“Semoga liburan kalian menyenangkan.”

“Kami pergi dulu, salam untuk Jong in ya.” Pamit Kyungsoo- suami Young Ran.

“Ya, akan ku sampaikan.”

 

Senyum Mi Raa memudar ketika keluarga itu pergi dengan mobilnya. Ia menoleh ke garasi rumahnya, disaat yang sama ia terngiang kalimat terakhir Kyungsoo yang membahas tentang suaminya. Mobil suaminya tidak ada di garasi. Begitu pula suaminya, dia tidak ada di rumah. Padalah ini hari minggu, hari yang cocok untuk kumpul keluarga. Mi Raa, Jong in dan Jisung.

 

Sudah dua hari Jong in tidak pulang ke rumah. Terakhir kabar yang Mi Raa dapat adalah pesan singkat dari suaminya itu, berisi bahwa dia ada janji temu dengan teman-teman band nya saat SMA dulu. Entah apa yang ada dipikiran laki-laki itu sekarang. Terlintaskah tentang anak dan istri di kepalanya?

 

Mi Raa duduk di samping ranjang anak laki-lakinya, Jisung. Jisung masih tidur pulas. Melihat wajah polos anaknya yang hampir berusia dua tahun itu membuat gelisah yang menumpuk di diri Mi Raa sedikit demi sedikit menguap. Mi Raa membelai ramput halus milik Jisung. Jawaban apa yang harus ia berikan ketika Jisung bangun lalu bertanya ‘dimana ayah?’ pikir Mi Raa.

 

Bel Pintu berbunyi. Mi Raa bergegas membuka pintu. Ia mendapati ibu mertuanya bediri disana.

Eomma, apa kabar?” Mi Raa membungkuk memberi salam.

“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”

Mi Raa meletakan cangkir teh di meja makan.

“Mengapa tidak menghubungiku dulu jika akan datang? Aku bisa memasak makan siang menu favorit eomma.” Kata Mi Raa seraya duduk di kursi meja makan.

“Kebetulan aku lewat daerah ini. Dan aku merindukan Jisung. Eomma akan membawanya hari ini.”

“Tapi-…” ucapan dipotong.

“Bagaimana bisa aku percaya padamu bahwa kau bisa mengurus Jisung dengan benar? Selesaikan masalahmu dengan suamimu terlebih dahulu.”

“Apa maksud eomma?” tanya Mi Raa. Ia merasa dihakimi tiba-tiba.

“Sudah dua hari ini, Jong in tidur dirumah eomma. Bukankah kalian sedang bertengkar?”

 

Bagaimana Mi Raa menjelaskannya? Sedangkan Mi Raa sendiri tidak tahu menahu masalah apa yang sedang mereka alami. Dari mana Mi Raa bisa mulai menjelaskannya? Sedangkan Mi Raa tidak tahu sejak kapan masalah itu muncul. Ia kesal, ia bingung, ia sedih. Perasaannya campur aduk hingga membuatnya mual.

***

 

Petikan gitar, pukulan dram, tekanan-tekanan tuts piano, dan ucapan syair. Semuanya dilakukan secara bersamaan, menghasilkan irama yang teratur. Empat laki-laki itu memilih aliran musik pop untuk band yang mereka bentuk sejak lama. Chanyeol sebagai gitaris, Jong in sebagai drurmer, Sehun sebagai pianis, dan Suho sebagai vokalis. Mereka selalu latihan disini, di studio pribadi milik Suho. Studio ini dimiliki Suho sejak ia SMA, begitupun grup band ini, sudah ada sejak mereka SMA. Tentu saja mereka tidak perlu repot menyewa stdio untuk latihan.

“Hei, Mi Raa menghubungiku.” Kata Suho sambil menepuk bahu Jong in yang duduk di sofa. Mereka istirahat setelah latihan empat lagu.

Jong in diam, tidak merepon untuk beberapa saat. Ia tahu kenapa Mi Raa melakukan itu. Ponsel Jong in aktif. Ada banyak pesan singkat masuk. Ada banyak panggilan masuk. Semuanya dari Mi Raa. Namun tidak satupun pesan itu ia balas. Ia juga melewatkan panggilan telfon itu hingga muncul banyak notifikasi di ponselnya.

“Jangan melarikan diri kemari, selesaikan masalahmu dengan Mi Raa.” Ucap Suho lagi. Ia tidak perlu lagi bertele-tele dengan menanyakan ‘apakah kalian sedang bertengkar?’ ‘apa kalian ada masalah?’. Suho akan langsung tahu dari mimik wajah Jong in, sahabat yang sudah ia kenal bertahu-tahun. Jong in tampak gelisah walaupun pria itu sembunyikan dibalik senyum lebarnya. Tetap saja, Suho tahu.

“Kau adalah yang pertama menikah di antara kami, apakah kau juga pernah mengalami masalah ini?” Jong in buka suara.

Suho tersenyum masam. Permasalahan apa yang belum pernah ia alami? Rasanya ia pernah mengalami banyak masalah dalam kehidupan rumah tangganya. Dari masalah sepele sampai masalah serius. Suho pernah mengalaminya. Bahkan ia pernah terlintas di pikirannya hal paling tolol, yaitu bercerai.

“Apa yang ingin kau ketahui? Sekarang aku sudah bisa mengepang rambut putriku.” Suho menyenggol siku Jong in dengan senyum jahilnya.

“Bukan tentang anak. Ini tentang Mi Raa.” Jong in menarik napas berat, dan melanjutkan kalimat nya “Sebut aku egois. Ada beberapa sikap Mi Raa yang belum bisa terima.” Jong in teringat kembali sikap Mi Raa yang telah lalu. Dimana mereka sedang adu argumen. Aura mereka cukup panas saat itu. Nada bicara Mi Raa semakin tinggi. Dirasa sudah tidak bisa membendung emosinya. Mi Raa meraih benda apapun yang ada didekatnya, lalu menghempasnya sembarang arah. Jong in bersyukur, benda material kaca itu tidak menghantamnya.

“Kelebihan dan kekurangan adalah satu paket.” Suho mulai bermonolog. Kisah Jong in adalah kisahnya. Kehidupan memiliki fase. Fase yang dialami Jong in sekarang, Suho juga mengalaminya dan ia berhasil melewatinya. “Kau sedang terkejut. Dan perlu kau tahu, wanita paling benci dengan sikap laki-laki yang mengabaikannya. Kau paling tahu apa yang di inginkan istrimu. Jangan menyerah mencari solusi. Okey?”

***

 

Jong in mengatur derap langkahnya agar tidak terdengar gaduh. Mi Raa dan Jisung pasti sudah tidur pulas. Sudah dua malam ia sulit tidur di malam hari. Padahal itu adalah rumahnya sendiri, kamarnya sendiri sebelum ia melepas masa lajangnya. Setelah menikah, kemanapun Jong in pergi, ia tetap teringat rumah ini, rumah keluarga kecilnya. Jong in merindukan Mi Raa dan Jisung.

 

Langkah Jong in berhenti. Kakinya menginjak sesuatu. ‘Kenapa kau melakukan ini?’ batin Jong in. Ia mengambil bingkai foto yang kacanya pecah di lantai. Foto keluarga kecilnya. Jong in bisa melihat seberapa kesalnya Mi Raa dari bingkai foto yang dia rusak itu. Mungkin dibanting.

 

Jong in masuk ke kamar. Ia melihat hal yang serupa dengan bingkai foto di ruang tamu tadi. Yang ini adalah meja rias. Cermin  meja rias itu pecah. Alat make up dan aksesoris milik Mi Raa berserakan di lantai. ‘Mi Raa, apakah kau sangat marah sekarang?’ batinnya lagi. Lalu ia duduk di samping ranjang. Jong in meraih tangan Mi Raa. Tangan putih dan halus itu terluka. Luka yang diyakini Jong in didapat dari aksi Mi Raa menghancurkan bingkai dan meja rias.

***

 

Pukul 7 pagi Mi Raa bangun seraya memegang kepalanya yang terasa pengar. Bukan karena semalam ia mabuk, tapi karena ia menangis sampai larut malam. Ia menoleh ke samping ranjang dan menemukan meja riasnya telah rapi. Pecahan dan serpihan cermin juga sudah dibersihkan. Mi Raa juga merasakan sesuatu membalut telapak tangannya. Itu adalah kain kasa. Ada orang yang telah mengobati lukanya. Apakah ibunya datang kerumahnya pagi-pagi buta? Lalu membereskan semua kekacauan yang ia buat tadi malam. Terka Mi Raa. Atau jangan-jangan dia . . .

 

Mi Raa bergegas turun dari ranjang lalu keluar kamar untuk mempastikan siapa yang datang.

“Eomma.” Panggil Jisung yang sedang duduk di kursi meja makan sambil mengacungkan sendoknya.

“Kau sudah bangun. Duduklah, aku sudah buatkan sup.” Jong in menarik kursi untuk mempersilakan Mi Raa duduk.

Mi Raa memutar bola mata ke sembarang arah. Orang yang merapikan bingkai foto dan meja rias adalah Jong in, suaminya. Laki-laki itu pergi dan tidak pulang dua hari. Sekarang, tiba-tiba ada di dapur menyiapkan sarapan dan bicara seolah tidak ada masalah yang terjadi. Mi Raa mengatur napasnya. Berusaha agar bom waktu yang ada di hatinya tidak meledak.

“Selamat pagi Jisung-ah. Apakah kau sudah menghabiskan sarapanmu?” sapa Mi Raa dengan senyum cerah untuk anak semata wayangnya.

Jisung mengangguk, lalu mendorong mangkuk kosongnya.

“Tolong antar Jisung ke kamarnya dulu. Aku ingin bicara padamu tanpa Jisung.” Kata Mi Raa lagi tanpa menoleh ke suaminya yang ada di sampingnya.

Jong in paham. Mi Raa bicara kepadanya walau istrinya itu tidak mau menatap wajahnya. Lagi pula tidak ada orang dewasa lain dirumah ini selain Jong in. Setelah mengantar  Jisung ke kamarnya. Jong in kembali ke meja makan. Ia menemukan istrinya menangis sesegukkan.

“Mi Raa-ah maafkan aku.” Jong in memeluk istrinya, berusaha meredam isak Mi Raa.

“Lepaskan aku.” Mi Raa berusaha melepaskan diri.

“Tidak. Kau harus berhenti melukai tubuhmu dengan merusak benda-benda yang ada di sekitarmu.”

“Aku terluka? Tubuhku yang sakit. Apa pedulimu?!”

“Kau pikir hanya kau yang terluka?! Orang-orang yang menyayangimu juga akan merasakan sakitnya. Aku dan Jisung.”

“. . .” Mi Raa berhenti meronta.

“Aku bingung harus menjawab apa ketika tetangga kita menanyakan ‘kemana ayahnya Jisung di akhir pekan?’ dan ketika ibumu datang menanyakan ‘Ada masalah apa yang membuat Jong in pulang ke rumah ibu?’ bahkan ibumu mengatakan jika aku tidak becus mengurus anak. Aku tidak mengerti, apa yang sedang terjadi padamu.”

“Maaf, aku memang salah. Aku menghilang tanpa kabar. Itu karena aku terkejut dan perlu menyesuaikan diri dengan kehidupan pernikahan kita dan dengan sifatmu.”

“Ayo buat kesepakatan!”

“. . .” Jong in melepas pelukannya, lalu menatap istrinya dengan raut bertanya.

“Sebutkan apa yang kau tidak suka dariku, aku akan berusaha menghilangkannya. Begitupun sebaliknya.”

“Ok. Setuju.”

 

Sebesar apapun masalah mereka, sejauh apapun Jong in pergi. Ia akan tetap kembali, karena cepat atau lambat rasa rindu kepada orang-orang yang ia sayang akan muncul. Terutama rindu kepada Mi Raa dan Jisung.

~FiN~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s