[Drabble-mix] Imagine with EXO by bluesheano

a0d216cb61240aeaee2c7fd15fd52f4d

bluesheano‘s present

EXO (with Luhan, Kris, Tao) and You

 

 

WordPress : bluesheano || Wattpad : @Ikhsaniaty

 

*****

01 | Xiumin

Jam mata kuliah sore yang panjang, kelas yang terasa pengap, lontaran banyak materi yang disampaikan dosen pengajar di antara cuaca yang panas ini serta merta menghadirkan rasa kantuk yang sulit untuk kutahan. Aku sebisa mungkin memfokuskan pandangan berkunangku ke muka kelas, tetapi yang kulakukan selalu menghasilkan kedipan melambat disertai pandangan yang kian memburam.

Mengikuti materi perkuliahan di jam rawan ini tentunya menyebabkan sebagian besar mahasiswanya didera kantuk. Terkadang kami mengucap sumpah serapah dalam hati, merutuki sang dosen dan berharap pria berkepala botak itu tiba-tiba terkena serangan jantung dan mengakhiri kelas secepatnya.

Ha! Sungguh khayalan yang berlebihan.

“Hei, mau permen?” Seseorang menyenggol pelan lenganku.

Dia Minseok, teman sekelasku. Di tangannya terdapat sebutir permen kopi yang disodorkan kepadaku. Senyumannya mengembang begitu aku membalas tatapannya. “Kau mengantuk, jadi kurasa kau membutuhkan permen kopi,” katanya lagi.

Aku lekas mengambil permen itu dan membuka bungkusnya. Oh, tidak buruk. Setidaknya aku mulai mendapat kewarasanku kembali karena permen ini.

“Terima kasih, Minseok,” ujarku, membalas senyumannya.

Minseok menunjukkan sepasang gigi kelincinya dan mengangguk ringan. “Aku masih punya beberapa butir permen lagi kalau kau mau,” beri tahunya.

“Dan kurasa, aku akan membutuhkan semuanya,” sahutku jenaka.

Kami pun tertawa ringan bersama-sama.


 

02 | Luhan

“Dulu, kau itu gadis yang kurus, hitam, lusuh dan sungguh tidak menarik perhatian.”

Kami baru saja mendapat hidangan makanan restoran yang kami sambangi, lalu Luhan dengan mudahnya mengatakan kalimat pembuka itu menggunakan nada ringan, seolah aku tidak akan tersinggung oleh ucapannya.

“Nah,” aku menyahut, “itu dulu, bukan? Sekarang aku sudah menjelma menjadi seorang gadis cantik,” pujiku pada diri sendiri.

Luhan mengangguk mengiakan. “Apa kau melakukan operasi plastik?”

“Lu, kau serius dengan pertanyaanmu itu?”

“Tidak juga.” Dia terkekeh kecil. “Bercanda.”

“Candaanmu sungguh tidak lucu, Luhan,” gerutuku kesal.

“Itu benar. Makanya kau tidak tertawa,” responsnya jenaka.

Aku mendesah berat.

“Tapi serius, kalau aku memintamu menjadi pacarku, apa kau akan menerimanya?”

“Ini pertemuan pertama kita setelah dua tahun tidak bertemu dan kau langsung memintaku jadi pacarmu?” tanyaku tidak percaya.

Luhan buru-buru menggeleng lucu. “Tidak, kok,” katanya. “Sebenarnya aku menyukaimu sedari dulu, sewaktu kita masih SMA.”

Aku tersedak mendengar pengakuannya.

“Tapi tadi kau bilang dulu aku adalah gadis yang tidak menarik,” ujarku seraya berusaha menetralisir debaran jantungku yang terlampau cepat.

Luhan menaikkan sebelah bahunya. “Itu kata semua orang, tapi tidak denganku.”

Kali ini Luhan menyuguh senyum tulus, tetapi respons yang kuberikan adalah reaksi alamiah berupa rona merah yang menjalari sepasang pipiku.


 

03 | Kris

Aku, Kris dan Alicia sedang menikmati waktu bersantai di rumah Kebetulan hari ini Kris mendapat jatah libur bekerja, jadi dia tidak keberatan ketika Alicia menarik tangannya menuju taman di belakang rumah.

Alicia kini sibuk bermain tanah, Kris sibuk memotret momen itu lewat kamera ponselnya sambil tertawa senang, sementara aku tengah menanam bunga baru seraya memerhatikan keduanya dengan perasaan bahagia.

Tatkala Alicia menoleh pada Kris, dia mendengkus, lantas mengadu kepadaku, “Mommy, Daddy hanya sibuk dengan ponselnya! Daddy tidak mau bermain denganku!”

Aku tertawa dan Kris menyimpan ponselnya ke saku hoodienya. “Oh, maaf, Sayang. Daddy hanya ingin memiliki potretmu yang lucu ini di ponsel Daddy,” sesal Kris, menarik Alicia ke dalam pelukannya. “Jangan marah, ya?”

Alicia mengerucutkan bibirnya. “Kalau begitu terus, Alice ingin segera punya adik!”

Tawaku mendadak lenyap. Kris pun mematung saat ia masih memeluk Alicia.

“Alice…,” aku memanggil nama putriku, pelan. “Mommy pikir kita tidak akan membicarakan ini lagi?” tanyaku padanya.

Pelukan itu mengurai. Alice menyilangkan tangannya di depan dada. “Alice ingin adik baru kalau Daddy tidak mau ikut bermain denganku!” tegasnya.

“Iya, Sayang, iya. Daddy dan Mommy akan segera memberikan adik untukmu,” ujar Kris ringan.

“Kris…”

“Benarkah itu, Daddy?” sambar Alicia cepat.

“Iya.” Kris menyengir lebar padaku. “Tentu saja.”


 

04 | Suho

Kim Joonmyeon datang menjemputku untuk pergi makan malam di sebuah bistro terdekat. Dia membukakan pintu penumpang untukku dan seketika wangi aroma jeruk terhirup dari dalam mobilnya.

“Mengganti pewangi mobilmu, eh?” tanyaku, bertepatan dengan Joonmyeon yang duduk di kursi kemudi dan mulai melajukan mobilnya.

Joonmyeon menatapku sepintas; tersenyum kecil. “Kau menyukai aromanya?”

Aku mengangguk antusias. “Wanginya lebih segar, menurutku.”

Dia menghela napas lega. “Syukurlah,” katanya. “Kupikir tidak ada salahnya juga, bukan, mengganti pewangi mobil? Aku bosan memakai pewangi sebelumnya sejak beberapa tahun lalu.”

Mobil pun mulai memasuki kawasan jalan raya.

“Maksudmu, sejak kau… masih bersama mantan kekasihmu terdahulu?”

“Hei,” Joonmyeon tertawa canggung, “bisakah kita tidak membahas tentang mantan? Aku sedikit sensitif mendengarnya.”

“Katakan saja bahwa kau masih mencintainya,” godaku telak. Telinganya memerah detik itu juga.

“Siapa bilang?” tanyanya dengan nada sedikit dinaikkan. “Perasaanku sudah lenyap untuknya. Malah sekarang aku mulai menyukaimu.”

Mataku melebar sempurna. “Jangan bercanda, Joon.”

“Kau bilang sendiri kepadaku bahwa yang namanya perasaan jangan dibawa bercanda. Kau lupa?” tandas Joonmyeon, menyeringai lebar.

Seringaiannya kurespons dengan tawa canggung yang kentara. “Yah… memang benar….”

“Jadi, apa kau menyukaiku juga?”

“Eng… ya…,” sahutku gugup, “kupikir… aku juga menyukaimu.”

Aku mengulum senyuman, sedangkan Joonmyeon tampak berusaha untuk tidak terlihat salah tingkah di sampingku.


 

05 | Lay

“Sedang membuat apa?”

Lay melingkarkan lengan kekarnya di pinggangku yang tengah mengaduk sup ayam dalam panci. Dia bernapas di perpotongan leherku, menggosok hidungnya di sana dan seketika tawa geliku mengudara.

“Lay, berhenti menggangguku!” ujarku, berpura-pura ketus, tetapi Lay seolah menulikan telinganya.

“Kau masih bisa membuat sup yang enak meski dalam posisi seperti ini, bukan? Jadi, jangan banyak protes,” sahutnya, terkikik geli.

Heol.” Aku mendengkus keras. “Lepaskan atau tidak akan ada makan siang sama sekali?” ancamku kemudian.

Rangkulannya lantas terurai. Aku tersenyum penuh kemenangan.

Honey,” dia berbisik, masih berdiri di belakangku. “Bisakah kau berhenti sebentar? Aku membutuhkanmu.”

“Tapi…”

Ucapanku terpotong, tatkala Lay menarikku menjauh dari depan kompor gas yang dia matikan tiba-tiba, lantas mendudukkanku di meja bar. Dia mulai mencium bibirku, melingkarkan lengannya di pinggangku; posesif, sebelum bertanya di sela ciuman kami, “Mau melanjutkannya?”

Aku melepas tautan bibir kami lalu bergerak turun dari meja dan memberinya pukulan di bahu. “Jangan menggagalkan supku sekarang, Zhang Yixing!” tukasku, menyebutkan nama lahirnya.

Lay mengerucutkan bibir, memrotes tindakanku, tetapi aku mengabaikannya.

Berakhirlah dia yang merengek-rengek seperti bocah lima tahun ketika aku kembali pada kesibukanku di depan panci sup ayam. Tanpa sepengetahuannya, aku menahan tawa penuh kepuasan.


 

06 | Baekhyun

Kalau kau bertanya padaku, bagaimana rasanya pergi berbelanja bersama dengan Byun Baekhyun, aku akan menjawab; “Dia terlalu cerewet untuk ukuran seorang laki-laki.”

Sungguh, aku tidak berbohong.

“Oh, tidak, tidak, kau tidak boleh membeli mentimun yang ini! Sama sekali tidak segar!”

“Sudah kukatakan padamu sebelumnya, bukan, kalau kau harus selalu teliti dalam memilih semangka?”

“Kau ingin membuat lasagna? Pastikan kau harus memilih sayuran yang benar-benar segar karena rasanya pasti akan sangat enak.”

Nah, kau sudah tahu sekarang bagaimana cerewetnya laki-laki ini.

Begitu kami sampai di tempat kasir dan membayar barang belanjaanku―dan bersyukurlah Baekhyun yang membayarkannya, kami segera meninggalkan lokasi perbelanjaan lalu memasuki mobil Baekhyun yang terparkir di halaman depan.

“Bagaimana kalau aku membuatkan sesuatu untukmu sebelum aku pulang?” tawar Baekhyun, selepas ia menginjak pedal gas mobilnya.

“Hmm… kupikir kau yang akan memintaku memasak,” ujarku kemudian.

Baekhyun tertawa sepintas. “Aku punya resep masakan baru yang ingin kutunjukkan padamu.”

“Oh, ya?”

“Ya.”

Aku lantas mengangguk antusias. “Kuharap resep barumu kali ini lebih lezat dibanding resep sebelumnya.”

Dia pun tertawa lagi. “Masakanku tidak pernah gagal untuk membuatmu tersanjung, bukan?”

Yah, terkadang Baekhyun selalu menunjukkan sisi sombongnya jika sudah membicarakan tentang masakannya atau apa pun itu.


 

07 | Chen

Rencananya, sore ini aku dan Chen akan pergi menonton ke bioskop. Menyaksikan satu film horror terbaru yang sedang digandrungi para pecinta berjenis horror tersebut, tetapi tiba-tiba Chen memutar haluan. Dia menawariku untuk menyaksikan konser band temannya di alun-alun pusat kota.

Awalnya aku ingin menolak, tetapi aku juga tidak bisa mengabaikan betapa menggemaskannya Chen saat ia menunjukkanku jurus aegyo­-nya. Ugh, menyebalkan.

Tibalah kami di alun-alun yang belum terlalu ramai. Kami pun segera menempati jajaran paling depan dan sesaat kemudian, salah seorang kerabatnya dari band itu meminta Chen untuk ikut bernyanyi bersama mereka. Chen tidak keberatan, tentu. Dia dengan senang hati menaiki panggung lalu mulai mengimbangi nyanyian bertema romantis yang mengalun.

Kualitas suara Chen memang tidak perlu diragukan lagi. Dia adalah salah satu penyanyi yang andal di fakultas kami.

“Jadi, kau menyanyikan lagu ini untuk siapa, Kawan?” Chen mendapati rangkulan keakraban di bahunya.

Langsung saja Chen menatapku dan tersenyum lebar. “Tentu saja untuk kekasihku! Kau lihat gadis yang memakai sweter cokelat di depan kita? Itu dia orangnya!”

Uhm… baiklah. Orang itu memanglah aku.


 

08 | Chanyeol

Bintang dan bulan sudah menyapa, tatkala kami baru saja tiba di tempat penginapan yang terletak tak jauh dari pantai Haeundae berada. Setelah melepas penat dan melepas dahaga, kami pun bersiap pergi ke pantai untuk menikmati indahnya pemandangan laut serta deburan ombak yang memukau.

Park Chanyeol merangkul pinggangku, menekan jarak di antara kami sehingga aku bisa merasakan sisi tubuh kami yang saling bersentuhan. Dia lalu mengecup pipiku lembut sebelum bertanya, “Aku sudah membayangkan bila kita punya anak nanti, aku akan membawa mereka untuk bermain di pantai dan memulai belajar berselancar sejak dini.”

Aku menoleh menatapnya, mengulum senyum. “Kita bahkan belum menikah,” sahutku jenaka.

“Aku tahu.” Chanyeol menyeringai lebar. “Tapi kurasa tidak ada salahnya memiliki anak sebelum menikah.”

“Dasar gila,” makiku, tetapi Chanyeol malah tertawa riang.

“Bercanda,” katanya. “Tapi kau setuju, bukan, jika aku akan mengajari anak-anak kita nanti berselancar?”

“Yah, memang tidak ada salahnya juga.” Aku menaikkan bahu sepintas.

“Kalau begitu, aku ingin segera menikahimu.” Ungkapan itu meluncur mulus dari bibirnya, dan seketika aku melabuhkan pukulan di bahunya sambil berusaha menahan diri agar tidak tersenyum seperti orang idiot karenanya.


 

09 | D.O

Tadinya Dio sepakat menemaniku pergi berbelanja kebutuhan bulanan. Hanya saja mendadak mobilnya tidak bisa digunakan. Ia kini sibuk mengutak-atik mesin mobilnya di garasi rumah, sementara aku memilih membawakan sekaleng minuman soda kesukannya.

Mendapatiku mendekatinya, ia lantas menegakkan punggung dan menatapku penuh sesal. “Oh, Honey, aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa menemanimu pergi berbelanja.”

Dio mengambil alih minuman kaleng itu dariku; mengucap terima kasih, lalu aku menyahut dengan tenang, “Hei, tidak apa-apa. Aku bisa pergi menggunakan bus atau mungkin… transportasi online.”

Dio menyesap minumannya beberapa kali, sebelum ia mendesah berat dan mengusapi pipiku lembut. “Aku akan menemanimu, kalau begitu.”

“Tidak usah.”

“Aku tidak melakukan penawaran, itu adalah pernyataan.”

Aku pun tertawa ringan. “Baiklah kalau kau memaksa.”

Kudapati noda hitam memanjang tercetak di pipi kanan dan bawah dagunya. Sembari tersenyum geli, aku membersihkan noda itu dan Dio menatapku bertanya.

“Pipi dan dagumu kotor,” kataku.

“Oh.” Dio terkekeh, lalu ia mencubit hidungku gemas.


 

10 | Tao

Kandunganku sudah memasuki usia empat bulan. Tao mengingatkanku untuk segera memeriksa kandunganku ke dokter. Aku tentu mengiakannya dan Tao bergegas mengantarku ke sana menggunakan mobil sebelum dia berangkat bekerja.

“Aku yakin, anak pertama kita adalah laki-laki,” bisik Tao ketika kami duduk di ruang tunggu.

“Aku malah berpikir bahwa anak kita adalah perempuan,” sahutku, ikut berbisik.

Kami akhirnya tertawa bahagia, tetapi sesaat kemudian, ketika seorang suster memanggil namaku untuk memasuki ruang pemeriksaan, kurasakan degup jantungku meliar karena takut dan gusar.

“Hei, hei, Sayang, tidak apa-apa.” Tao menenangkanku. Dia tahu aku selalu berakhir begini bila akan berhadapan dengan dokter yang akan memeriksaku.

Tao memintaku menarik napas panjang dan mengembuskannya lambat-lambat, aku mengikuti perintahnya, lalu Tao menggenggam tanganku menuju ruang pemeriksaan.

“Aku akan menemanimu di dalam,” katanya, saat mendapati seraut keheranan di wajahku.

“Tapi kau harusnya pergi bekerja…”

“Aku akan terus menemanimu untuk melakukan pemeriksaannya mulai dari sekarang,” potongnya.

Rasa lega serta merta menjalariku. Kala dokter wanita yang akan memeriksa kandunganku tersenyum ramah, akuturut membalasnya.

Yah, rasanya tidak terlalu menegangkan berada di ruang pemeriksaan ini di saat Tao menemaniku sampai sesinya berakhir.


11 | Kai

Seharusnya acara teve di Minggu pagi ini mampu membuat mood-ku yang hancur, kembali normal, tetap nyatanya tidak. Acara kartun favorit yang selalu membuatku tertawa pun rasanya hambar, tidak menarik. Aku akhirnya menyerah, hendak berjingkat ke dapur kalau saja bel rumahku tidak berdering.

Aku lantas membukanya dan mendapati presensi Kai―tetanggaku―yang menyengir kala berhadapan denganku.

“Ada apa?” tanyaku, berusaha untuk tidak ketus karena Kai memang tidak ada salah apa-apa. Mood-ku yang salah.

Cengirannya menghilang. “Ada apa denganmu?” Dia malah bertanya balik.

Aku mengabaikan pertanyaannya. “Jadi, ada keperluan apa kau datang kemari?”

“Oh.” Kai menunjukkan beberapa buah kaset DVD ke hadapanku, dan cengirannya kembali muncul. “Mau menonton film bersamaku?” tawarnya.

Aku memerhatikan kaset DVD di tangannya. “Kenapa juga kau mengajakku? Biasanya Jennie…”

“Eiy, dia sibuk dengan tugas akhirnya. Jadi mana sempat kami menonton?” potongnya cepat-cepat, secepat ia menerobos masuk lalu mulai menyalakan DVD sembari bersiul rendah.

“Tidak ada meminta izin lebih dulu?” tanyaku, sarkastik.

“Tidak perlu. Kau juga pasti akan menikmati filmnya,” sahutnya ringan.

Oh, baiklah. Tidak ada salahnya juga aku menonton film yang dibawa Kai. Siapa tahu, mood-ku yang hancur ini bisa kembali normal dengan cepat.

Atau mungkin, hanya presensi Kai saja yang mampu mengembalikan mood-ku.


12 | Sehun

Aku baru tahu, yang namanya patah hati rasanya semenyakitkan ini.

Mengetahui bahwa cinta pertamaku berpacaran dengan gadis lain rasanya… sukses menghancurkan hatiku dalam sekejap.

Karena itulah, setelah jam mata kuliah selesai, aku segera pergi ke danau buatan tepat di samping kampus, memerhatikan permukaan danau yang tenang dan jernih sembari sibuk menyeka air mataku yang tidak berhenti turun.

Lalu, tiba-tiba saja seseorang menepuk bahuku, membuatku tersentak dan segera menoleh hingga sosok laki-laki yang mengganggu ketenanganku tadi ikut duduk di atas rumput rendah di sampingku.

“Patah hati, ya?” tanya laki-laki berkulit seputih susu itu tanpa menatapku, malah turut menatap permukaan danau.

Menyeka air mata lagi, aku bertanya ketus, “Siapa kau?”

Dia tersenyum miring. “Aku orang yang terkena patah hati juga.”

Aku terdiam, dia juga, tetapi tak lama setelahnya dia berkata, “Hari ini, aku baru saja menyaksikan gadis yang kusukai, menjadi pacar orang lain.”

Aku masih diam, siapa tahu dia masih ingin melanjutkan kalimatnya.

“Sayang sekali, dia lebih memilih Kai ketimbang diriku.”

Apa tadi katanya?

Jangan-jangan… ah, tidak mungkin!

“Aku bukan cenayang, kok. Hanya saja aku tidak sengaja mendengar kau menyebut nama Kai dalam isak tangismu,” ujarnya memotong pemikiranku sambil terkekeh geli.

Sialan. Ini benar-benar memalukan.

 

*****

Halo! Isan di sini! x)))
Aku cuma mau ngasih tahu kalo sekarang aku ganti nama pena. Nama penaku sebelumnya adalah ShanShoo. Ada yang tahu nggak? xD
Baiklaaah, terima kasih sudah membaca fanfiksi ini dan semoga kalian terhibur x)))))
Jangan lupa tinggalkan jejaknya sehabis membaca, ya!

Salam sayang,

bluesheano (Isan) ❤

One thought on “[Drabble-mix] Imagine with EXO by bluesheano”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s