[EXOFFI FREELANCE] OBSESSION – BEGINNING (B) [PART 2]

146856422-352-k19124

OBSESSION – BEGINNING (B) [PART 2]

Story & Art by DTH9707 (Twitter: @hndyn1004 IG: dth9707)

CAST

You can find it at the story

GENRE

Dark Romance

LENGTH

Chaptered

Rating

PG-17

This is story pure of my mind. So, please comment for your appreciate. And, typo at everywhere. You can find the same story at my wordpress (Blackangel1004.wordpress.com) and my wattpadd (@DTH9707)

.

Ri Chan segera mengayuh sepedanya kembali, menuju tempatnya bekerja. Sesampainya di tempat ia bekerja, segera ia mengganti pakaian dengan seragam cafe tersebut. Rambut ikal cokelatnya, ia ikat satu. Tak lupa, topi berwarna hitam ia kenakan di kepalanya.

Ri Chan bergegas ke bagian kasir, berganti shift dengan karyawan yang lainnya. “Kau baru datang?” tanya salah satu teman kerjanya, Sena. “Iya. Kenapa?” tanya Ri Chan.

Sebagai jawaban atas pertanyaan Ri Chan, Sena mengendikan kepalanya ke salah satu meja yang sudah diisi seorang pria tampan di sudut cafe itu.

“Dua minggu menghilang, akirnya ia datang kembali. Kemarin, ketika kau libur kerja, ia juga datang kemari. Satu lagi, ia mencarimu,” ucap Sena. Gadis itu memasang mimik wajah serius yang membuat Ri Chan sedikit menahan tawanya. Karena menurutnya, wajah Sena sangatlah lucu. “Sepertinya, ia menyukaimu!” tambah Sena.

Ri Chan yang mendengar perkataan tersebut, langsung saja gadis itu menoyor kepala teman kerjanya itu. “Berhentilah menghayal, Kim Sena! Sepertinya kau harus berhenti untuk menonton drama. Lebih baik, kita lanjutkan pekerjaan sebelum Bos memarahi kita.”

“Baiklah kalau begitu, antar pesanan ini kepadanya. Ia memesan americano tadi.” Kata Sena, sambil memberikan nampan yang di atasnya terdapat pesanan dari pria itu.

“Kenapa harus aku? Kenapa tidak kau saja yang mengantarnya?” tanya Ri Chan. “Pria itu yang memintanya khusus, Chan-ah. Jadi lebih baik, antarkan saja daripada kau mendapatkan complaint dari pelanggan! Aku dengar, ia adalah teman dari bos kita.”

Ri Chan berdecak. Ia tak percaya akan pelanggan yang menyusahkan dirinya. Ri Chan mengambil nampan tersebut dari Sena dengan terpaksa. Lalu, ia berjalan mendekati meja pria itu untuk mengantarkan pesanannya, “Permisi, pesanan anda!”

Pria tampan itu menoleh kearah Ri Chan. Sepertinya, umur pria ini sudah memasuki usia tiga puluh tahun. Dapat terlihat dari garis wajah yang tegas dan menunjukan sisi kedewasaannya yang sudah matang. Makin menambah pesona pria itu.

Gadis itu menaruh pesanan pria itu di atas meja, “Silahkan dinikmati!”

Saat gadis itu membalikkan badannya, pria itu segera menahan Ri Chan untuk pergi. Ri Chan membalikkan badannya ke arah pria itu. “Apa ada yang bisa saya bantu, tuan?”

“Temani aku!” Ri Chan terkejut atas permintaan aneh dari pelanggannya tersebut.

“Maafkan saya, tuan. Saya harus bekerja. Dan peraturannya, kami tak bisa menemani ataupun mengobrol dengan pelanggan.” Ri Chan berusaha menolak dengan cara halus yang ia bisa namun tak menghilangkan kesan tegas.

“Tenang saja! Chang Min si Bos-mu itu adalah sahabatku. Aku sudah meminta ijin padanya agar kau bisa menemaniku.” Jawab pria itu dengan santai.

“T-t tapi…”

“Lebih baik kau duduk saja. Dari pada aku melaporkanmu pada Chang Min karena sudah mengecewakan pelanggan.” Ucap pria itu. Ri Chan tak punya pilihan untuk menolak. Ia segera mengambil kursi dan duduk berhadapan dengan pria asing itu

Ri Chan memandang pelanggan tampannya itu dengan tatapan antara ragu, tak percaya, kesal, heran, intinya bercampur menjadi satu. Pria itu meneguk sedikit americano pesanannya itu. Ri Chan terus saja memperhatikan setiap gerak – gerik yang dilakukan oleh pria itu, tanpa henti.

“Kenapa menatapku terus menerus?” pria itu memergoki Ri Chan yang sedang melamun menatapnya. Gadis itu mulai gelagapan.

“Aaa~ maafkan aku tuan, atas kelancangan yang saya lakukan.”

Pria itu terkekeh kecil, melihat pola tingkah laku Ri Chan yang sedang salah tingkah di hadapannya. “Jangan memanggilku tuan. Apakah aku setua itu?”

Ri Chan refleks menganggukan kepalanya. Namun ia ralat saat menyadarinya. Ia menggelengkan kepalanya. Pria dihadapannya terkekeh geli atas keluguan gadis itu.

Pria ini pasti sudah gila, pikir Ri Chan.

“Kau benar. Aku sudah tua, tapi panggil saja aku Yun Ho. Cukup Yun Ho, jangan Tuan!” ucapnya.

Tak mungkin juga, jika dirinya harus memanggil pria itu menggunakan hanya dengan namanya saja. Pria itu tetap saja pelanggan dari cafe tempat ia bekerja, tak pantas jika ia melakukan itu. Ia harus menghormati kepada setiap pelanggan yang datang ke cafe ini, termasuk sahabat bos-nya ini

Seorang pria tampan terbangun dari mimpi indahnya. Ia mulai meregangkan otot – otot tubuhnya yang kaku. Tanpa mengenakan sehelai kain pun di tubuh bagian atasnya memperlihatkan cetakan di bagian perutntya, makin nampak seksi ditambah dengan cahaya matahari yang menembus di jendela – jendela kamar, menerpa tubuh pria berkulit albino.

Setelah merasa cukup untuk meregangkan tubuhnya, ia pun segera berjalan menuju kamar mandi mewah miliknya. Setengah jam kemudian, Sehun keluar dengan handuk putih yang ia lilitkan di sekitar panggulnya. Memperlihatkan tubuh proposional miliknya ditambah tetesan – tetesan air yang masih berada di tubuhnya. Satu kata. Seksi.

Sehun memakai kemeja berwarna putih polos, satu – persatu kancing ia pasang. Ia menatap angkuh cermin yang ada dihadapannya, menampakkan sosok dirinya yang tampan. Dasi berwarna biru gelap ia pasang disekitar lehernya dan tak lupa jas berwarna hitam senada dengan celana kain yang ia pakai. Jam tangan dengan merek mahalpun menghiasi pergelangan tangan kiri miliknya. Sehun mematutkan dirinya lagi, memperhatikan setiap detil yang sedang melekat ditubuhnya sekarang. Ia tak ingin ada kekurangan sekalipun yang merusak penampilannya.

Pria tampan itu keluar dari kamar mewahnya, menuruni anak tangga menuju ruang makan miliknya. Di meja makan yang berbentuk persegi panjang, hanya Sehun yang berada disana, duduk di kursi ujung meja makan itu. Mansion yang ia miliki, hanya dirinya sendiri yang tinggal bersama dengan pelayan – pelayan yang bekerja di bawahnya. Lagipula, Sehun sudah terbiasa makan sendiri tanpa orang lain.

.

Mobil Mercedes keluaran terbaru milik Sehun, membelah jalanan kota Seoul. Sehun nampak sibuk dengan kertas – kertas yang berada di pangkuan, kertas penting baginya. Dalam mobil itu hanya dirinya dan sopir pribadinya, jikalau ia terlalu malas untuk mengemudikan mobil sendiri. Lagipula, ia sudah terlalu lelah akibat ‘bermain’ semalam dengan wanita panggilan.

“Tidak bisakah kau mengemudi lebih cepat lagi? Aku bisa telat!” ucap Sehun tanpa melihat ke arah sopir Jang.

Sopir Jang pun tergagap, “I-iya tuan!” jawab sopir Jang sambil menatap Sehun di balik kaca mobil.

Pria paruh baya tersebut mencoba menambah kecepatan mobil yang ia kemudikan. Di depan, ia bisa melihat ada perempatan lalu lintas, rambu – rambu lalu lintas yang semulanya berwarna hijau, sopir Jang pun makin menambah kecepatan mobil tersebut. Tiba – tiba, lampu lalu lintas berwarna merah, ditambah seorang gadis sedang menyebrang jalan tersebut. Sopir Jang dengan segera mengerem mobil tersebut, terdengar ban mobil yang mengeluarkan decitan nyaring, bersamaan dengan suara klakson mobil.

Gadis itu, yang tidak lain adalah Ri Chan, segera menoleh kearah sumber suara klakson tersebut. Ia terkejut. Ia ingin berlari, tetapi ia seperti merasakan jika kedua kakinya sedang terpaku di tempatnya ia berpijak sekarang. Kakinya merasa berat untuk sekedar menghindar.

Jika ini akhir dari hidupku, kuharap aku bisa bertemu ayah dan ibu di surga. Kumohon Tuhan, kuharap ini tidak akan sakit, ucapnya dalam hati.

Ia menutup kedua matanya terpejam kuat. Berharap, ia tak akan merasakan kesakitan saat tubuhnya terhantam besi itu dan jatuh ke tanah. Takkan ada orang yang merasa kehilangannya, saat ia pergi. Mungkin yang akan menangisinya, hanya Chanyeol dan beserta keluarganya. Bahkan, Kai –kekasihnya, tak akan susah payah untuk membuang air matanya untuk gadisnya.

Sedetik. Dua detik. Tiga detik.

Ia tak merasakan apapun. Apakah dia sudah mati? Rupanya, Tuhan mengabulkan permintaanya. Ia tak merasa kesakitan di sekujur tubuhnya.

“Nona.. nona..!” teriak seorang pria.

“Nona, kau tidak apa – apa?” tanya pria itu. Ri Chan bertanya pada dirinya sendiri, apakah dirinya boleh membuka matanya?

“Nonaaa..!” panggil pria itu, lagi. Perlahan, gadis itu membuka perlahan kedua matanya. Belum sempat ia memfokuskan pandangannya, kabur sudah menghiasi pandangannya. Rasa berat mulai menggerayangi kepalanya. Pandangannya pun, tiba – tiba menjadi gelap. Ia tak tahu, apa yang akan terjadi padanya.

.

Sehun memandang wajah gadis cantik dari sudut ruangan kamar tersebut, pria itu bersandar pada dinding tembok kamar itu sambil menunggu hasil pemeriksaan yang di lakukan oleh dokter pribadinya, tak lain juga merupakan sahabatnya, Lee Dong Hae.

Seharusnya, pria itu sedang berada di ruangan rapat yang dilangsungkan hari ini. Tetapi, karena kejadian tadi pagi, ia harus bertanggung jawab walaupun bukan kesalahannya seluruhnya. Setidaknya ia punya ‘sedikit’ perasaan untuk tidak mencoba kabur setelah menabrak seseorang. Dan tak hanya rapat saja yang ia batalkan, pertemuan – pertemuan dengan investor lainnya juga ia batalkan.

“Bagaimana keadaanya, hyung?” tanya Sehun pada Donghae. Saat, pria berkemeja putih tersebut selesai memeriksa keadaan Ri Chan yang terbaring di kasur berukuran king size tersebut.

“Ia baik – baik saja. Ia tidak mengalami benturan yang dapat melukainya. Ia hanya shock karena kejadian yang ia alami,” Sehun mendengarkan penuturan dari orang yang lebih tua dibandingkan dirinya tersebut, “Aku hanya memberinya vitamin. Sepertinya juga akibat faktor kelelahan dan asupan makanannya yang tidak baik.” Tutur Donghae kembali.

“Lalu, kapan perempuan itu akan siuman?”

“Kalau itu aku tidak tahu, tapi aku yakin tidak akan lama. Bersabarlah!” ucap Donghae. Pria itu membereskan peralatan yang digunakannya tadi ke dalam tas kerja miliknya. “Kau sudah menghubungi keluarganya?”

“Aku tak menemukan satupun kontak yang berhubungan dengan keluarganya di dalam kontak handphone-nya.” Jawab Sehun. Donghae hanya menganggukan kepalanya saat mendengar jawaban dari Sehun, pria yang sudah dianggap sebagai adiknya tersebut. Sehun sempat mengingat kembali nama-nama kontak yang dinamai gadis itu sangat aneh.

Seperti, BASTARD.

KUPING GAJAH.

Dan lain-lain. Sehingga, Sehun mengurungkan niatnya untuk memberitahu perihal kondisi gadis asing tersebut.

“Kalau begitu, temani dirinya sampai ia terbangun. Lalu, kau bisa menanyakannya sendiri kepada gadis itu,” Donghae berjalan menghampiri Sehun. “Aku harus kembali ke klinik ku sekarang!” tambahnya lagi, Sehun menganggukan kepalanya.

Sehun menemani Donghae untuk keluar dari ruangan itu, sampai menuju mobil pria yang berasal dari mokpo tersebut. “Oh ya, satu lagi..”

Donghae sepertinya mengingat sesuatu hal yang membuat Sehun merengutkan dahinya, penasaran. “Ada apa hyung?” tanya Sehun.

Donghae meletakkan tangannya ke bahu Sehun dan memasang muka serius di depan pria albino itu, “Jangan kau apa – apakan gadis itu! Dari wajahnya, ia masih polos.”

Sehun yang mendengar ucapan dari hyung-nya itu, mendengus kesal. Lalu, ia menyingkirkan tangan Donghae dari bahunya, “Aku tak akan tertarik padanya!”

Donghae pun tertawa kecil melihat tingkah pria yang di hadapannya itu. Sang Direktur sedang memasang wajah kesal layaknya anak kecil. Pasti, orang – orang yang mengenal Oh Sehun yang penuh ‘karisma’ tersebut akan tertawa seketika melihat raut wajah pria itu sekarang.

“Hei, Oh Sehun! Aku sudah mengenalmu lama. Aku sudah tahu tingkah lakumu. Jadi, kau tak perlu membantahnya!” ucap Donghae.

“Hati – hati dengan ucapanmu, mungkin itu bisa menjadi boomerang bagimu..” tukas Donghae “Aku hanya sekedar mengingatkannya karena gadis itu sangat cantik!” kata pria yang tingginya tidak lebih dari Sehun.

“Sudahlah, pergi cepat dari rumahku!” usir Sehun.

Donghae pun masuk kedalam mobilnya tanpa henti tertawa, melihat tingkah laku pria yang sudah ia anggap seperti adik kecilnya itu. Donghae sudah mengenal Sehun dengan baik. Pria itu tahu juga akan kebiasaan buruk Sehun, yaitu ‘memainkan’ wanita.

“Jangan sampai kau menyentuhnya! Awas saja, jika sampai kau menyentuhnya. Aku akan membunuhmu!”

“Ya ya ya.. sudah sana pergi!” Sehun menanggap remeh ancaman Donghae itu.

Sepeninggalnya Donghae, Sehun kembali masuk ke dalam rumahnya. Ia melangkahkan masuk ke dalam kamar yang ditempati Ri Chan. Perlahan, ia mulai mendekat sosok gadis itu. Pria itu memandang seksama wajah gadis itu. Benar apa kata Donghae, gadis itu memang cantik. Berbeda dengan gadis cantik lainnya yang ia temukan di klub malam. Gadis ini berbeda. Tetapi entah kenapa, pria itu melihat sesuatu yang menyakitkan dari wajah gadis itu.

.

Matahari pun berganti dengan bulan, Sehun masih tetap menunggu gadis itu di ruangannya. Pria itu duduk di salah satu sofa yang memang berada di ruangan itu, dengan sebuah laptop yang berada di atas meja yang berada hadapannya itu. Kedua matanya, berkali – kali melirik kearah Ri Chan yang masih saja terbaring di ranjangnya. Gadis itu belum bangun dari pingsannya.

Sehun mengambil sebuah map, lalu di bukanya. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas yang berisikan sebuah data dari dalam map tersebut. Ia baca kertas – kertas itu dengan seksama. Terdapat sebuah foto disana. Foto seorang gadis, yang tak lain adalah Ri Chan. Di dalam kertas itu tertera identitas Ri Chan, dari nama, tempat tinggal, tanggal lahir, pekerjaan, universitas dan segala hal – hal yang menyangkut tentang gadis itu. Bahkan, mengenai pakai dalam gadis itu pun ikut tertera di dalam kertas tersebut.

Sehun menyempatkan dirinya melihat sosok Ri Chan yang masih terbaring di ranjang lalu membaca lembaran kertas tersebut. Pria itu sedikit merasa kasihan, setelah mengetahui jika gadis itu adalah seorang yatim piatu. Pria itu beranjak dari sofanya mendekati Ri Chan yang masih tertidur. Ia membaringkan tubuhnya di samping gadis itu. Lalu, menghadap gadis itu. Perlahan tangan Sehun meraih puncak kepala gadis itu dan mulai menelusuri rambut cokelat panjang milik gadis itu. Hingga jemarinya menyentuh bibir kecil Ri Chan.

Pria itu merasakan sesuatu yang kuat dalam dirinya. Perasaan untuk memiliki. Memiliki semua yang ada pada gadis disebelahnya tersebut.

Sinar matahari pagi mulai masuk di sela – sela tirai jendela kamar itu. Sehun membuka matanya ketika cahaya matahari mengganggu tidurnya, secara perlahan ia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya. Nampaknya, Sehun terlalu lelah sehingga tidur di kamar ini. Ia mengambil posisi menyandar pada kepala ranjang, lalu melihat ke arah gadis yang ada di sebelahnya itu. Gadis itu masih tertidur dengan nyenyaknya.

Sehun pun beranjak dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi yang memang tersedia di ruangan itu. Deraian air yang keluar dari shower segera menghujani tubuh pria itu yang tanpa menggunakan sehelai benangpun. Lebih dari lima belas menit sudah berlalu. Suara gemericik air pun terdengar dari dalam kamar mandi. Sehun keluar dengan menggunakan jubah mandi berwarna hitam sambil mengaitkan tali di pinggangnya. Tetesan air, beberapa kali mengalir dari lehernya menuju dada bidangnya. Pria tampan itu segera mengambil sebuah kaus v-neck berwarna hitam serta celana berwarna senada dari lemari pakaian.

Tanpa ia sadari, Ri Chan membuka matanya dan bangun dari tidur panjangnya. Beberapa kali gadis itu mengerjap matanya serta mengucek kedua matanya. Setelah di rasa cukup, gadis itu baru saja menyadari jika ia sedang berada di tempat asing. Ia menelusuri ruangan itu dan tertegun beberapa saat.

“KYAAAAA!!!!!”

TO BE CONTINUED

Alay banget ya teriakannya.. wkwkwkk

MAF YA GAES.. AKIBAT MAGER BERLEBIHAN JADI GAK PERNAH NGIRIM YANG BARU KEMARI. Tapi Ceritanya jalan kok di wattpad ku. Jadi bisa aja search id ku: DTH9707, pasti langsung ada

Jangan lupa juga untuk follow, comment and like!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s