[EXOFFI FREELANCE] SUDDENLY (CHAPTER 1 – LELAKI INI)

20190118_095214_0001.png

Title: Suddenly

Chapter: 1 (Lelaki ini)

Author: Aulia Rahmah

Length: chaptered

Genre: AU, friendship, school, love

Rating: G

Main cast: Byun Kiara, Oh Sehun, Park Chanyeol

Additional casts: Do Kyungsoo, Byun Baekhyun, Nam Jihyun, Kim Junmyeon, Kim Jongin, ETC.

Summary:

Pertemuan ini, entah sebuah anugerah atau malah malapetaka. Tapi, Sehun sangat bersyukur Tuhan mempertemukannya dengan Byun Kiara.

Disclaimer: Cerita ini asli berasal dari imajinasiku sendiri. Sifat dan kelakuan para cast mungkin akan berbeda dari aslinya.

Cerita ini juga aku publish di akun wattpadku: @aulieur

Cek https://my.w.tt/IghBrUJcDT

So, happy reading

× × ×

Tepat jam tujuh malam, Kiara baru selesai les fisika. Karena kehabisan uang untuk naik bus, dia terpaksa pulang jalan kaki. Kiara selalu memakai jalan pintas untuk memangkas jarak.

Saat memasuki gang kancil yang ketiga, samar-samar Kiara mendengar suara seseorang yang berteriak meminta tolong sambil merintih kesakitan. Rasa penasaran menghampiri benaknya. Kiara berlari mencari sumber suara tersebut.

Langkahnya terhenti secara mendadak dan matanya membulat saat melihat tiga orang lelaki berseragam tengah menendang kasar seseorang di bawah mereka. Jantung Kiara berdegup kencang saat melihat lelaki malang yang ditendang mereka tampak kesakitan dan wajahnya babak belur. Kiara sempat kebingungan. Dia ingin sekali menolongnya, tapi dia tak memiliki kekuatan untuk melawan ketiga pelajar kasar itu.

Otaknya berpikir keras dan akhirnya Kiara memutuskan untuk cari aman; pura-pura tak melihat kejadian itu dan berjalan mundur secara perlahan.

Namun… Krekkk….

Salah satu kakinya tak sengaja menginjak sebuah botol plastik kosong. Hal itu sukses membuat ketiganya menoleh ke belakang, tempat di mana Kiara berada.

Berandal-berandal itu sama terkejutnya dengan Kiara.

Kiara dilanda kebingungan. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Kabur atau menyelamatkan lelaki malang itu? Dia semakin dibuat bingung saat lelaki itu menatapnya nanar, seperti sedang mengatakan bahwa ia sangat membutuhkan bantuan Kiara.

“Woi, siapa lo?!” Salah seorang pelajar berseru ke arah Kiara.

Lidah Kiara mendadak kelu dan tak tahu harus menjawab apa. Kiara hanya bisa mematung di tempatnya. Diam-diam dia membaca nametag yang tertera di jas ketiga pelajar tersebut.

Park Chanyeol, Kim Jongin, Kim Junmyeon. Kiara berusaha untuk mengingat nama-nama itu.

“Pergi sana!” Pelajar bernama Jongin maju dan mendorong Kiara keras, membuatnya terjatuh.

Kiara meringis saat merasakan tubuhnya membentur aspal. Kiara menatap lelaki yang tengah sekarat di dekat tong sampah itu. Dia merasa berat untuk melarikan diri dari sini. Kiara kasihan dan ingin menolong lelaki itu.

Gadis itu nekat merayap mendekati lelaki tersebut. Dia mengabaikan ketiga pelajar sangar yang kini tengah melotot ke arah Kiara.

“Kamu gak apa-apa?” tanya Kiara pada korban. Korban menggelengkan kepalanya.

“Jangan sok pahlawan, deh. Pergi sebelum gue habisin lo juga!” Pelajar bernama Chanyeol mendekat dan hendak memukul Kiara dengan tongkat yang ada di tangannya.

Kiara membungkukkan badannya untuk melindungi korban sembari menjerit. Matanya terpejam dan napasnya memburu ketakutan.

“Yeol, ada warga! Kita mesti kabur! Cepet!” Jongin dan Junmyeon menarik-narik lengan Chanyeol, meminta lelaki itu untuk pergi.

Chanyeol pun urung untuk memukul Kiara. Dia melemparkan tongkatnya ke sembarang arah.

“Urusan kita belum selesai. Gue bakal inget terus sama muka lo!” Chanyeol menatap nyalang keduanya lalu sedetik kemudian ia berlari menyusul kedua rekannya.

Setelah mereka benar-benar pergi, Kiara memerika kondisi lelaki ini. Dia pingsan. Tiba-tiba saja hujan turun deras dan Kiara semakin kalut dibuatnya.

“Hei, bangun, dong.” Kiara menepuk-nepuk pipi lelaki ini pelan. “Duh, masa aku tinggalin gitu aja?” Kiara putus asa.

Beruntung, tak lama kemudian sepasang suami-istri berusia sekitar 45 tahunan datang menghampiri Kiara.

“Ada apa ini?” Seorang istri berjongkok di hadapan Kiara.

Kiara pun menangis. Entah kenapa ia merasa begitu sedih.

“Sayang, kita bawa saja ke rumah. Ayo.” Sang Suami meletakkan payungnya dan mulai menggendong tubuh lelaki itu yang terasa cukup berat. Kiara dan istri mengikuti di belakang. Dengan baiknya mereka membawa lelaki itu ke rumahnya yang terletak hanya beberapa puluh meter dari tempat Kiara berada tadi.

× ×

Di dalam rumah itu, tepatnya di ruang tamu, Kiara tak bisa berhenti memandang lelaki itu yang sampai sekarang belum kunjung sadarkan diri. Matanya yang berwarna cokelat terang memerhatikan setiap inci wajahnya yang penuh luka.

Dalam hati, Kiara penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi pada lelaki ini? Apa dia telah berbuat salah sampai-sampai berandalan itu memukulnya habis-habisan seperti ini?

Kiara mendesah. Tiba-tiba saja ia teringat ucapan Chanyeol tadi. Dia akan mengincarnya setelah ini. Itu sudah pasti. Kiara menghela napasnya berat. Seharusnya Kiara tak usah mendatanginya. Seharusnya dia mengabaikan teriakan tolong itu.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Dan sekarang tanpa terduga, Kiara sudah ikut campur ke dalam masalah orang lain. Kiara merasa hidupnya terancam sekarang.

Dua jam berlalu, akhirnya lelaki ini sadarkan diri juga. Matanya terbuka perlahan dan bergerak dan terarah pada Kiara yang kini membeku menatapnya.

“Di mana gue?” Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya.

Kiara terpana dengan ketampanan lelaki yang baru saja diselamatkannya ini.

“Gue harus pergi,” ucap lelaki itu. Ia mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk kemudian bangkit. Namun sakit yang berpusat di kepalanya membuat lelaki itu kembali terduduk di sofa. Kiara terkesiap dan langsung menyentuh kedua bahunya.

“Kondisi kamu belum baik betul. Sebaiknya jangan banyak gerak dulu,” ucap Kiara setengah khawatir.

“Gue gak punya waktu buat diam di sini terus. Arrrghhh….” Lelaki itu memegang kepala bagian kanannya.

Kiara punya firasat buruk. Sepertinya tiga berandalan tadi sempat memukul kepala lelaki ini.

“Di luar juga sedang hujan.” Kiara berusaha semampunya untuk menahan lelaki ini untuk tetap tinggal setidaknya sampai hujan reda. Lelaki itu akan semakin sakit jika nekat pergi sambil hujan-hujanan.

Seorang wanita pemilik rumah hadir dari balik dinding rumahnya. Dia cukup terkejut melihat lelaki itu sudah sadar.

“Oh, kamu sudah sadar, Nak? Bagaimana sekarang? Apa yang kamu rasakan?” tanya wanita tersebut sambil duduk di sampingnya.

“Saya sudah tidak apa-apa. Saya harus pulang sekarang,” ucap lelaki ini yang bersikeras ingin pergi. Kiara dan wanita itu saling bertatapan. Keduanya tahu bahwa kondisi lelaki itu sedang tidak baik.

Kiara juga sebenarnya tak tega melihat lelaki itu terus merengek. Dengan berat hati, Kiara menuruti keinginannya untuk pulang dengan catatan Kiara yang akan mengantarnya sampai rumah.

“Tante, sepertinya kita pulang sekarang saja. Terima kasih untuk bantuannya. Kami tidak tahu bagaimana jadinya jika tante dan om tak ada di sana tadi.” Kiara membungkuk sopan.

“Kalian yakin mau pulang sekarang? Masih hujan. Kalian bisa menginap kalau mau,” tawar wanita tersebut kasihan.

Kiara menatap lelaki itu. “Tak apa. Kita pulang saja, Tante.”

Wanita itu juga tak bisa memaksa. Dia memberikan payungnya untuk Kiara.

“Hati-hati di jalannya. Nak, kamu masih kuat jalan, kan?” tanya si wanita pada lelaki ini.

Lelaki ini menganggukkan kepalanya dan tanpa mengucap apa-apa dia bangkit dan berjalan menuju pintu utama dengan langkah yang lunglai.

× ×

Setelah keluar dari rumah itu, Kiara memayungi dirinya dan lelaki itu. Banyak sekali yang ingin ia tanyakan namun Kiara merasa waktunya belum pas. Dia harus mencari tempat berteduh dulu. Satu tangan Kiara yang bebas menggandeng lengan lelaki itu, takut-takut dia akan terjatuh di tengah jalan.

Keduanya berteduh di halte bus. Waktu semakin malam, hujan yang deras pun telah berganti menjadi gerimis. Kiara terkejut saat melihat jam tangannya. Ternyata sudah jam 10 malam.

“Kita pisah di sini aja. Gue bisa pulang sendiri.” Kiara menoleh ke sumber suara. Lelaki itu masih memasang ekspresi datarnya.

“Kayaknya kita searah, deh. Jadi bareng aja ya? Sekalian aku mau pinjam uang buat ongkos,” ujar Kiara sambil menyengir di akhir kalimatnya.

Lelaki itu berdecih. “Jadi lo nganterin gue cuma mau dapat tumpangan gratis? Gitu?”

“Gak. Gak gitu, kok.” Kiara merasa tak enak.

Bus terakhir berhenti di depan halte. Lelaki itu mulai melangkah menuju bus namun terhenti sejenak. Ia menoleh ke Kiara.

“Kenapa masih diem? Katanya mau numpang? Ayo,” ajaknya.

“Aku gak punya uang,” jawab Kiara setengah malu.

“Gue punya. Come on.” Lelaki ini, dengan langkah terseok-seoknya kembali berjalan menaiki bus dan duduk di bangku paling belakang.

Kiara tersenyum lega lalu menghambur masuk ke dalam bus kemudian duduk di samping lelaki itu.

× × ×

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] SUDDENLY (CHAPTER 1 – LELAKI INI)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s