[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 27 – END)

Poster Secret Wife Season 2 (4)

Tittle : Secret Wife Season 2

Author : Dwi Lestari

Genre : Romance, Friendship, Marriage Life

Length : Chaptered

Rating : PG 15

Main Cast :
Park Chanyeol, Kim Soah (Aiko)

Support Cast :

Oh Sehun, Min Aera, Kim Nara, all member EXO and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Soah terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan artis papan atas Park Chanyeol, demi menghindari kutukan keluarganya. Meski sebenarnya dia tak pernah percaya jika kutukan itu masih berlaku.

Disclaimer : Cerita ini murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note : Sekedar mengingatkan, jika ini berbeda dengan SECRET WIFE yang pertama. Ini bukan kelanjutannya. Cerita ini berdiri sendiri. Tapi akan ada beberapa hal yang sama. Dijamin tidak kalah seru. Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komentarnya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 27 END

(Surprise)

Adalah sebuah keajaiban ketika kau muncul di hadapanku

Bintang-bintang yang muram, satu persatu mendekatiku

Berubah terang, kemudian menjadi bimasakti yang berkilauan

Soah masih meneliti berkas, ketika Aera masuk. Dia membungkuk memberi salam. Map di tangannya sudah dipindahkan ke meja. “Pemotretan untuk proyek baru kita sedang berlangsung. Anda tak ingin melihat?” tanyanya sopan. Dia membukakakan berkas yang perlu ditandatangani bosnya.

“Sebentar lagi. Aku akan menyelesaikan ini,” jawab Soah. Dia menandatangani dengan cepat. Kembali beralih pada berkas yang tadi diteliti.

Aera masih berdiri di depan meja sang atasan, meski dia sudah mengambil mapnya. Ada yang ingin dia katakan, namun tertahan di tenggorokan. Rasanya begitu berat. Sebenarnya bukan masalah besar. Dia hanya ingin mengajukan cuti.

“Ada masalah?” tanya Soah. Pandangannya masih fokus pada berkas di meja. Sekretarisnya tak menjawab. Diam seribu bahasa.

Soah menghela napas. Mengangkat kepala untuk melihat sang sekretaris. “Ada apa, Sekretaris Min?”

“Sebenarnya…” ucap Aera terdengar ragu. “Bukan apa-apa,” lanjutnya akhirnya. Dia tak bisa mengatakan. Terlalu sungkan. Dia sudah mengajukan cuti beberapa kali.

“Apa ibumu sudah baikan?”

Aera menggeleng. “Dia sedikit susah diberitahu. Apalagi hanya appa yang menemani.” Terdengar helaan dari hidungnya. Ibunya memang baru menjalankan operasi usus buntu.

“Kau mau mengajukan cuti.”

Aera tersenyum tak enak. Merasa bersalah karena harus meninggalkan pekerjaan.

“Aku beri seminggu. Tidak ada penawaran. Pastikan mengatur jadwalku sebelum itu,” jelas Soah tegas. Memilih tenggelam dengan berkasnya kemudian.

Daepyonim, terimakasih banyak. Pasti aku kerjakan.”

-o0o-

Gadis bersurai panjang itu sibuk membuka lembar demi lembar konsep untuk pemotretan hari itu. Mengenakan kemeja kotak-kotak putih dengan garis hitam. Berlengan sesiku. Rok span merah menjadi pasangan. Terlihat anggun dengan rambut bergelombang yang dibiarkan terurai.

“Bagaimana menurut Anda, Kim Daepyo?” tanya salah seorang staf.

Gadis itu mengangguk sebelum mengangkat wajah. “Bagus. Ini lebih baik dari tahun lalu. Bisa dilanjutkan,” jawabnya dengan senyum mengembang.

“Terimakasih.” Pria yang baru beberapa waktu lalu menjadi kakak ipar gadis itu tersenyum senang. Badannya dibungkukkan bermaksud melanjutkan pekerjaan.

Timjangnim.”

Panggilan itu membuatnya terhenti. Kembali menoleh dan mendekat. “Iya.”

Fighthing!” ucap gadis itu. Tangan kanannya mengepal dan lengannya ditarik untuk memberi semangat.

Pria itu kembali tersenyum. Mengikuti gerakan atasannya dengan kedua tangan. Kembali mendekati sang fotografer untuk melanjutkan pekerjaan.

Eomma.”

Suara anak kecil memenuhi ruang tersebut. Pria kecil yang berteriak tadi, berlari menghampiri Soah. Dengan cepat dia bisa memeluk sang ibu yang menatap kearahnya. Di belakangnya seorang gadis mengikuti pria kecil tersebut.

Soah membalas pelukan putranya. Mencium kening setelah melepaskan. “Kau sudah datang. Bagaimana lesnya?” tanyanya dengan nada lembut.

“Baik. Bu Gurunya baik. Sehun dapat pelajaran baru,” jelas Sehun dengan nada khasnya. Sejak tampil di pesta pernikahan bibinya, dia mulai menjalani les piano. Ditemani gadis pekerja paruh waktu yang dipekerjakan ibunya.

“Syukurlah! Sehun sudah makan?”

Pria kecil itu mengangguk. “Tadi Sehun makan hamburger sama Jiah Noona.”

Eonni, maaf karena tidak bisa menjaga Sehun lebih lama. Aku ada urusan mendesak.” Wajah bersalah menyelimuti gadis tersebut.

“Sehun-ah. Hari ini di sini bersama eomma ya. Jiah Noona sedang ada urusan. Sehun tunggu sampai eomma selesai bekerja.” Dengan hati-hati Soah menjelaskan pada putranya.

“Iya.”

Soah bernapas lega. Dia beralih kembali pada gadis yang sudah sebulan bekerja padanya. “Iya, pergilah! Terimakasih untuk hari ini.”

Gadis itu tersenyum sungkan. “Mianhaeyo.” Dia membungkuk untuk pamit.

“Tidak apa-apa. Hati-hati di jalan.”

Soah masih menatap punggung Jiah hingga hilang di balik pintu. Netranya beralih pada putranya yang sibuk dengan tablet. Usapan lembut di puncak kepala dia berikan.

“Sehun-ah, appa ada di sini.”

“Benarkah! Dimana?” Sehun mengedarkan pandangan kesekeliling. Tabletnya sudah diserahkan pada sang ibu.

“Di sana?” Soah menunjuk pria yang duduk menatap rekannya di depan kamera.

Sehun segera berlari. Tanpa pamit pada sang ibu. Soah hanya menghela napas. Suaminya memang sudah tak pulang selama tiga hari, itulah yang menyebabkan putranya begitu antusias menemuinya.

Appa.”

“Sehun-ah.” Pria yang dipanggil appa terkejut. Dia melirik sebentar kepada istrinya yang tersenyum dan mengangguk padanya.

“Aku merindukanmu,” tutur Sehun lagi. Dia sudah memeluk pinggang ayahnya.

Appa juga.” Pria itu membalas pelukan Sehun. Kembali berucap setelah putranya melepaskan pelukan. “Sehun tidak nakal kan, selama appa pergi?” Dipangkunya putranya tersebut.

Sehun menggeleng. “Aku mengikuti semua perkataan Appa.”

“Pintarnya anak appa. Tos dulu dong.” Pria itu mengulurkan tangan. Disambut hangat oleh putranya.

“Halo Sehun,” sapa seorang. Dia yang baru menyelesaikan pemotretannya ikut duduk di samping Chanyeol.

“Sehun Ahjussi,” jawab Sehun kecil.

Sehun mengangguk. “Sayang sekali. Aku pasti bingung jika ada yang memanggil nanti.”

-o0o-

Soah masih disibukkan dengan laporan perusahaan. Sesekali dia meregangkan otot dengan menekuk leher ke kanan dan ke kiri. Berkasnya tinggal dua map. Akhirnya dia akan terbebas juga. Suara ketukan pintu mengalihkan konsentrasinya. Dengan sedikit berteriak, dia mempersilakan masuk.

Muncul sekretarisnya membawa kotak biru dengan pita besar di luarnya. “Ada paket untuk Anda, Daepyonim,” jelas sang sekretaris.

“Aku tak ingat membeli sesuatu.”

Sekretarisnya mengangkat bahu setelah meletakkannya di meja. Dia pamit undur diri untuk meneruskan pekerjaan.

Soah menatap aneh kotak itu setelah kepergian sekretarisnya. Tangannya terulur untuk membuka. Sedikit ragu karena tak ingat pernah membeli sesuatu. Gaun berwarna biru adalah isi dari kotak tersebut. Ada memo kecil di atasnya. Soah lebih tertarik pada memo tersebut. Membukanya untuk dibaca.

Halo, Sayang. Jangan lupa datang di Restoran Angel jam delapan tepat. Batalkan semua jadwalmu. Aku menunggumu. Pakai gaun yang aku kirim. Dari suami tercintamu. Park Chanyeol.

Soah tersenyum membacanya. Setelah lima hari tak pulang, pria itu dengan seenaknya membuat janji. Dia hanya mendesah. Berpikir sejenak. Dia memang tak punya janji hari ini. Tapi aneh ketika pria itu mengajaknya makan malam. Soah hanya menggeleng. Dia tak mau ambil pusing. Sepertinya dia harus datang untuk tahu apa rencana suaminya tersebut.

Tangannya mengambil gaun itu. Cukup mewah. Minidress tanpa lengan. Berbentu V-neck. Punggungnya terekspos sebagian jika dipakai. Bordir kupu-kupu timbul menghiasi pundak, melingkar di bagian perut juga tersebar di bagian lain. Warnanya cukup kalem. Dia bisa suka sekali melihat. Dan lagi itu bukan barang murah. Dia sangat tahu dari kain yang disentuh. Detail jahitannya juga rapi. Sebagai salah seorang desainer, dia begitu paham perihat tersebut.

Sebenarnya tak perlu repot membelikan baju. Sejak bisa membuat baju, Soah tidak pernah membeli. Hanya kadang, jika diajak teman atau dibelikan seseorang. Suaminya sudah tahu itu. Tapi pria itu masih repot melakukannya.

Mungkin tak masalah. Sesekali dia memang harus memakai pakaian yang bukan dibuat olehnya. Alasan dia membuat bajunya sendiri untuk mendapatkan rasa nyaman. Dulu dia pernah membeli baju yang tak nyaman ketika dipakai. Sejak saat itu, dia memutuskan memakai pakaian yang dibuatnya sendiri.

-o0o-

Pukul delapan kurang lima menit, Soah sampai di restoran yang dimaksud suaminya. Dia benar-benar mengenakan gaun yang diterima tadi. Di luarnya dibungkus coat untuk menghalau dingin. Kakinya juga dihiasi heels berwarna senada. Kalung mutiara juga ia tambahkan. Tas keluaran terbaru melengkapi penampilan. Kesan mewah menjadi pernyataan yang tepat untuk menggambarkan dirinya sekarang.

Dia bertemu pramusaji di pintu masuk. Setelah ditanya nama, dia diantar menuju tempat di mana suaminya memesan. Atap. Namun hanya setengah jalan, pramusaji tersebut kemudian menunjukan arah.

Lilin aroma terapi menemani langkahnya. Perasaannya menjadi tenang mencium wanginya. Gelap adalah pemandangan pertama yang dilihat. Netranya menelisik setiap sudut. Detik kemudian menjadi terang. Soah berbalik. Menatap tak percaya suaminya yang sudah duduk di depan piano.

Pria itu tersenyum. Tangannya mulai memetik tuts demi tuts piano di depannya. Menimbulkan bunyi indah. Soah tak bisa berkata apa pun. Terlebih kini pria itu juga bernyanyi. Dia sering melihatnya, tapi tak semenawan hari ini. Apalagi kini pria itu bernyanyi hanya untuknya.

Tak ada yang bisa menggambarkan perasaannya hari ini. Terharu sekaligus bahagia. Dia masih belum apa maksud prianya melakukan itu. Dia tak ingin menebak. Sebisa mungkin dia mencoba menikmati. Suaminya benar-benar pria romantis.

Dia akhir permainan, pria itu berdiri. Mendekat kearahnya. Soah mengangkat kepala untuk bisa melihat wajah suaminya.

“Mungkin sedikit terlambat. Tapi aku selalu ingin melakukannya.” Selanjutnya pria itu menekuk lutut. Mengeluarkan kotak beludru berwarna merah. Membukanya kemudian. Kata yang keluar setelahnya membuatnya tercengang.

Would you marry me?”

“Apa aku bisa menolak? Kita bahkan sudah menikah.”

Chanyeol mengambil tangan Soah. Memasangkan cincin itu di jari manis tangan kanan. Tangan kirinya sudah berisi cincin pernikahan. Mencium punggung tangan kemudian.

Pipi Soah bersemu. Prianya punya seribu cara untuk membuat jantungnya berdetak kencang. Rasanya hampir meledak. Letupan kebahagiaan yang dirasakannya sungguh luar biasa. Seperti kata pria itu, ini memang sedikit terlambat. Tapi dia sangat menyukainya. Kejutan untuk acara lamaran. Itu pernah diimpikannya dulu.

Pria itu berdiri. Memberikan kecupan dalam di kening istrinya. Menatap dalam setelah melepaskan. “Satu hal lagi.”

“Apa?”

“Kau pasti lupa.” Pria itu masih berdiri menatap Soah. Dia juga menyelipkan anak rambut istrinya ke belakang telinga. Mendekatkan wajahnya untuk berbisik. “Selamat ulang tahun, Sayang.”

Soah mengangkat alis. menatap tak percaya wajah suaminya. “Tanggal berapa sekarang?”

“Sudah kuduga kau pasti lupa. Ini tanggal dua belas.”

“Aku hanya mengujimu. Kupikir kau lupa.”

Pria itu menempelkan kening. Tersenyum gemas pada istrinya. “Aku tidak mungkin lupa. Aku hanya mencari waktu yang pas untuk mengucapkannya.”

“Terimakasih.”

Detik selanjutnya, pria itu mendekatkan bibir. Melumat lembut milik istrinya. Soah membalas. Dia ikut menggerakan bibir. Hanya saja dia kalah. Pria itu yang lebih mendominasi. Cukup lama, hingga mereka terengah saat tautan itu terlepas. Saling tertawa kemudian.

“Lihatlah kesana.” Chanyeol menunjuk langit yang dipenuhi bintang. Selanjutnya bunyi ledakan kembang api terdengar. Seketika langit dipenuhi percikan api dari ledakan tersebut. Bermacam warna tersaji di sana.

Soah tak mampu berucap. Pria itu memberikan kejutan lain. Mungkin dia akan menerima kejutan-kejutan lain setelah itu. Netranya sepenuhnya terfokus pada langit. Apalagi kini suaminya memeluk dari belakang. Semakin membuatnya enggan beranjak.

“Hari ini kau sangat cantik,” bisik pria itu.

“Kau yang membuatku cantik. Terimakasih juga untuk gaunnya. Ini sangat nyaman.”

“Syukurlah! Aku takut tak sesuai selera. Terlebih kau tak suka memakai baju jika bukan buatanmu.”

“Dari mana kau membelinya?”

“Rahasia.”

Oppa.”

Pria itu tersenyum. Memcium pipi istrinya kemudian. “Aku memesannya dari desainer favoritmu.”

“Sylvie Facon.”

Pria itu mengangguk. “Saat aku menyebut namamu dia begintu antusias. Dia bahkan tahu jika kau menyukai kupu-kupu. Itulah mengapa dia membuatkan ini untukmu.” Matanya berbinar mengingat hal itu. “Dia menyuruh menghilangkan kegilaanmu dengan warna putih. Kau juga cocok dengan warna lain.”

“Karena itu dia membuatkan dengan warna biru.” Soah menyela sebelum suaminya kembali bersuara.

Chanyeol kembali mencium pipi Soah. “Gadis pintar. Kau harus lebih sering menghubunginya. Dia sudah menganggapmu seperti putrinya.”

Soah mengangguk. Masih menatap langit yang sudah kembali seperti semua. Kembang api yang dinyalakan sudah menghilang.

“Kuenya sudah siap.”

Soah menoleh mengikuti arah pandang Chanyeol. Benar. Kue dengan lilin di atasnya sudah terletak manis di atas meja.

Chanyeol melepaskan pelukan. Mengulurkan tangan bermaksud ingin menggandeng. Menuntun wanitanya menuju meja. Menarik kursi untuknya kemudian. Dia ikut duduk di seberang meja setelahnya.

“Katakan keinginanmu sebelum meniup lilin.”

Soah menyatukan tangan. Matanya tertutup. Menyebutkan keinginan dalam diam. Detik berikutnya, dia meniup dengan kencang. Lilin-lilin kecil itu padam. “Terimakasih.”

“Kau bisa memotongnya.”

Menuruti perintah suami, Soah lakukan. Potongan kecil pertama dia suapkan untuk pria yang sudah setahun lebih menjadi pasangan hidupnya. Dia tersenyum bahagia. Momen hari ini akan menjadi kenangan manis untuk masa depannya.

Malam itu, Chanyeol menutup kejutannya dengan makan malam romantis. Menikmati sepiring steak dan segelas wine mahal.

-o0o-

Soah tak bisa menghilangkan senyum, meski kini sudah berada di rumah. Tangannya menggenggam erat tangan Chanyeol. Berjalan menuju kamar mereka. Menyalakan lampu untuk mendapat cahaya.

Dia kembali tercengan melihat kamar tidurnya. Lilin-lilin menyala di setiap sudut. Rangkaian bunga juga menghiasi kamar itu. Jangan lupakan kelopak mawar merah berbentuk hati di atas ranjang. Sangat mirip dengan kamar pengantin.

“Apa ini?” Dia menoleh kearah suaminya.

Chanyeol hanya tersenyum. Tangannya terulur melepaskan coat Soah. Berbisik di telinganya. “Kita tidak pernah melakukan malam pertama denga benar.”

Soah beringsut mundur. Dia paham maksud suaminya. Dia ingin menghindar. Namun pria itu sudah melangkah maju mendekat. Coat yang pria tadi kenakan sudah tergeletak tak berdaya di lantai.

Soah sudah tak bisa mundur. Kakinya sudah menyentuh ujung ranjang. Dia menelan ludahnya dengan susah. Tak dapat menghindar. Yang bisa dilakukannya hanya pasrah. Terserah pria itu mau melakukan apa.

Dugaannya salah ketika dia beranggapan suaminya akan mendorongnya. Prianya justru menatapnya dalam. Menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. “Apa keinginanmu tadi?”

“Rahasia. Tidak akan terkabul jika aku mengatakannya.”

Chanyeol tersenyum miring. Dia menangkup wajah Soah. “Malam ini, aku ingin menghabiskannya seperti penganti baru.”

Soah tertawa. Mengangguk kemudian. “Terserah padamu.”

“Kau harus bersiap Nyonya Park.”

Belum sempat Soah menjawab, tubuhnya sudah telentang di ranjang. Pria itu mendorongnya. Bahkan kini mulai menindihnya. Seperti ucapannya, malam itu dihabiskan dengan berbagi kehangatan.

-o0o-

Soah sedikit malu setelah dipergoki mertuanya. Singkat cerita, dia berniat mempersiapkan sarapan. Tenaganya terkuras setelah malam panjang yang mereka lewati. Namun suaminya meminta hal tak terduga. Morning kiss. Mertuanya datang ketika mereka melakukannya. Soah tahu setelah kegiatannya berakhir.

Dia kini hanya bisa diam, sepanjang mereka sarapan. Rasa malu masih menggerogoti, apalagi sarapan yang dinikmati adalah buatan mertuanya. Yang dibawa dari rumah. Katanya untuk merayakan ulang tahunnya kemarin. Dia sibuk dengan cucunya, sampai melupakan hari penting untuk menantunya.

“Apa supnya tidak enak?” tanya mertuanya.

Sejak tadi, Soah memang belum menyentuh supnya. Dia tersentak kaget. Segera menyuapkan kuah sup. “Ini enak,” jawabnya dengan senyum. Detik berikutnya, dia membungkam mulut. Mual tiba-tiba datang. Membuatnya harus berlari meninggalkan meja.

“Apa Eomma menambahkan kacang?”

“Tidak. Aku tahu istrimu alergi kacang.”

Desahan halus terdengar. “Aku akan menyusulnya.” Chanyeol beranjak. Meninggalkan ibu dan putranya yang masih lahap makan.

“Sayang, kau baik-baik saja?” tanyanya kemudian. Pijatan di tengkuk istrinya dia berikan. Berharap akan mengurangi mual yang dirasakan olehnya.

Soah mengangguk. Mencuci mulutnya kemudian. Berbalik untuk memperlihatkan wajahnya.

“Bagaimana bisa bilang baik jika wajahmu sepucat itu?”

Soah kembali muntah. Namun tak ada yang keluar. Hanya cairan bening yang tampak seperti air ludah. Tubuhnya limbung jika suaminya tak sigap menangkap.

“Sayang.” Tepukan pelan di pipi pria itu berikan. Berharap istrinya akan membuka mata. Namun nihil, Soah masih tertidur. Diangkatnya menuju kamar. Raut khawatir terpancar jelas di wajahnya.

-o0o-

Soah masih menyesuaikan cahaya yang masuk. Kepalanya terasa berat. Rasa nyaman dia dapat. Sepertinya di berbaring di ranjang. Benar saja, seorang dokter sedang memeriksanya.

“Anda sudah bangun,” sapa dokter tersebut.

“Iya,” jawab Soah lirih.

“Apa yang Anda rasakan?”

“Pusing.”

“Tekanan darah Anda rendah. Akan saya resepkan penambah darah nanti. Biarkan saya bertanya satu hal.”

“Silakan.”

“Kapan terakhir Anda datang bulan?”

“Sekarang tanggal tiga belas. Sebentar.” Soah mencoba mengingat. Sedikit terganggu karena pusing di kepala. “Biasanya tanggal satu atau dua. Tapi bulan ini belum.”

Dokter itu tersenyum. Memeriksa perut Soah dengan stetoskop.

“Kenapa, Dok? Jangan bilang jika aku…” Soah tak mampu melanjutkan. Dia menggeleng menyangkal pemikirannya. Sangat tidak mungkin mengingat kemungkinannya hanya tiga persen.

Dokter itu tersenyum. Mengangguk kemudian. “Tepat seperti yang Anda duga. Ini sudah berjalan enam minggu.”

Chanyeol masuk dengan wajah khawatir. “Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?” Netranya kemudian tertuju pada Soah. “Kau sudah bangun?”

Hanya anggukan kecil yang bisa Soah lakukan. Dia tidak bisa mengekspresikan kebahagiaannya. Rasanya seperti mimpi mendengar dokter mengatakan jika dia sedang mengandung. “Dokter tidak bercanda kan?” Soah kembali bersuara. Hingga mampu membuat suaminya mengangkat alis.

“Tidak. Ini memang keajaiban. Selamat Tuan Park, istri Anda sedang hamil enam minggu,” jelas sang dokter.

Chanyeol tak bisa bereaksi. Terlalu syok. Seperti mimpi mendengar hal itu.

“Mulai hari, Anda tidak boleh bekerja terlalu keras. Apalagi sampai stres. Jangan membebani pikiran dengan berat. Jaga kesehatan baik-baik. Anda sudah keguguran dua kali. akan berakibat fatal jika sampai terjadi ketiga kalinya. Saya akan resepkan vitamin penambah darah,” tutur sang dokter panjang lebar.

“Iya. Saya mengerti.” Soah mengangguk. Air matanya hampir menetes karena terharu.

“Ini.” Dokter itu memberikan resep pada Chanyeol. “Anda bisa menebusnya di apotik. Saya permisi dulu.”

“Terimakasih, Dokter.” Akhirnya Chanyeol bersuara.

“Ingat, jangan sampai stres.” Dokter itu berujar lagi untuk Soah. Setelah mendapatkan anggukan, dia pamit undur diri.

Ibu Chanyeol masuk bersama Sehun. Sehun berlari kearah ibunya. “Eomma, baik-baik saja kan?” Dia naik ke ranjang ikut berbaring memeluk Soah. Mertuanya juga memberikan pertanyaan yang sama.

Soah mencium kening Sehun. Menampilkan senyum terbaik untuk putranya. “Eomma baik-baik saja. Jangan khawatir!”

Ibu Chanyeol menoleh pada anaknya. Anggukan dia dapat dari putranya. “Syukurlah!” ucapnya penuh kelegaan.

“Ada kabar gembira. Eomma akan punya cucu.” Chanyeol berucap kembali.

“Benarkah!” tanya ibunya sedikit ragu.

Chanyeol mengangangguk membenarkan.

“Selamat ya, Sayang.” Wanita itu menoleh pada menantunya. Wajah senjanya terlihat gembira.

Soah hanya bisa mengangguk. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain fakta jika dia kan menjadi wanita seutuhnya. Memberikan keturunan untuk suaminya. Keinginannya semalam terkabul.

—END—

Hai, saya kembali lagi.ini sudah End ya…

Karena saya baik hati, nanti akan ada epilog, ditunggu saja.

Bagaimana? Endingnya mengecewakan kan. Aku sudah berusaha maksimal, tapi sepertinya tidak sesuai harapan. Tak masalah. Terserah kalian mau bilang apa.

Jangan lupa tinggalkan jejaknya…

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 27 – END)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s