[EXOFFI FREELANCE] Law of Love (Prolog)

law of love.png

Title : [PROLOG] LAW OF LOVE

Author : MatchaMil

Length : Chaptered

Genre : Urban-Life

Rating : T

Main Cast : Sehun Oh a.k.a Sehun EXO & Sejeong Kim a.k.a Sejeong Gugudan

Support Cast : Rachel Park a.k.a Park Min Young (Actrees),Chanyeol Park a.k.a Chanyeol EXO Kyuhyun Cho a.k.a Kyuhyun Suju

Summary : Lantas apa maksudnya aku tidak pantas untuknya?

Disclaimer : Cerita ini murni buatan author yang terinspirasi dari kehidupan nyata dan profesi hukum.

Author’s note : Semoga menikmati alur yang author buat, sorry for typo, no plagiat, no copas karena telah diatur dalam UU No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta. Be Good Readers dengan like, komentar, kritik dan saran. Gomawoyo… Happy Reading yorobeun

Cuaca cerah sedikit berawan mewarnai langit pagi hari ini di kota Seoul. Hiruk pikuk aktivitas pagi pedagang toko yang mulai menyiapkan tokonya untuk melayani pelanggannya hari itu hingga para pekerja kantoran yang bergegas mencapai kantornya tepat waktu atau hanya lalu lalang para pengangguran yang sibuk mencari kerja dengan menenteng tas berisi ijazah dan curriculum vitae. Ya… aku berusaha tidak menjadi golongan ketiga dari kalimat yang sebelumnya telah ku sebutkan.

Pagi itu aku terbangun pukul 8 pagi akibat dering alarmku yang memekik dan menyakitkan telinga siapa pun yang mendengarnya. Aku bergegas mandi, mengambil pizza sisa tadi malam untuk mengisi perut kosongku dan bersiap menuju ke tempat bimbingan belajar. Seperti biasa aku memakai celana jeans dan kaos serta tas punggung berisi buku-buku kumpulan soal latihan tes masuk universitas. Aku menggunakan mobil hitamku dan melaju kencang menyusuri jalan Seoul

Namaku Sehun Oh biasa dipanggil Sehun seorang ‘pengangguran terselubung’. Kenapa aku disebut ‘pengangguran terselubung’? aku sudah lulus dari bangku SMA tapi belum ada universitas yang bersedia mencatat namaku sebagai mahasiswanya. Kalian yang membacanya boleh menertawaiku. Aku bukan siswa paling pintar atau bahkan masuk kategori pintar di SMA pun tidak. Suka membantah apa yang dikatakan guru atau bahkan tak segan memanjat pagar untuk membolos. Nakal? Ya mungkin itu yang orang lain katakan tentangku. Tapi aku ingin berubah semenjak kejadian itu.

Suara tangis dan bantingan pintu itu masih terngiang di otakku hingga kini. Bahkan itu akan selalu menjadi pemecut semangatku untuk memperbaiki diri.

“Bagaimana hasilnya?”, tanya ayahku yang menungguku menyampaikan apakah aku masuk menjadi salah satu siswa beruntung yang bisa masuk cuma-cuma Universitas Seoul hanya dengan nilai rapor.

“Iya nak, bagaimana hasilnya?”, susul ibuku dengan suara bergetar.

Aku hanya bisa menunduk kecewa. Bukan karena aku tidak menyangka bahwa aku tidak akan pernah masuk ke daftar siswa yang diundang Universitas Seoul dan masuk ke Universitas mereka secara cuma-cuma. Ya… aku malah sudah menduganya sejak awal bahwa aku tidak akan lolos dan mendapat undangan itu. Tapi hari itu merupakan hari penyesalan pertamaku, hari pertama membuat ayah dan ibuku sangat kecewa dengan apa yang ku lakukan selama ini.

“Apa yang kau lakukan selama ini? Apa gunanya ayah bangga kau masuk di SMA favorit di Seoul tapi kau tidak bisa masuk Universitas Seoul? Kau ingin jadi apa? Pengecut? Pengecut yang hanya membawa ijazah sampah mereka ke kantor-kantor yang bahkan tidak akan menerima mereka?”, teriak ayahku dengan suara penuh amarah.

Sesekali aku melirik ibuku dan ibuku hanya bisa terisak.

“Tidak, ini semua salahku, aku tidak mendidiknya dengan baik”, jawab ibuku yang masih berusaha membelaku atas apa yang sebenarnya bukan kesalahannya.

Aku bahkan tidak bisa membuka suara dan mengucapkan sepatah kata pun untuk melakukan pembelaan. Karena memang ini semua salahku. Sepenuhnya salahku. Aku berhenti di depan gedung bimbingan belajar dan memarkir mobilku tepat di samping mobil sahabatku. Namanya Chanyeol teman seper-bolos-an ku yang senasib denganku hingga masih menjadi ‘pengangguran terselubung’. Kami pun memasuki gedung bersama-sama.

“Kau sudah mendengar beritanya?”, tanya Chanyeol di tengah perjalan kami menuju kelas.

“Berita apa?”, Tanya ku yang bahkan tak tertarik dengan berita apa yang akan dia sampaikan. Perlu kalian ingat bahwa berita yang akan dia bawakan hanya seputar wanita, wanita, dan wanita. Salah satu ‘player’ yang entah telah menjatuhkan berapa korban wanita yang tersakiti hatinya sejak kami masuk SMA.

“Rachel dia telah diterima menjadi mahasiswi kedokteran Universitas Seoul”, tuturnya. Benar dugaanku dia akan membawakan berita tentang wanita. Tapi…

“Siapa katamu? Rachel? Rachel Park?”, tanyaku kaget dan menghentikan langkahku tepat di depan pintu kelas.

“Ya… Rachel kekasihmu, kau kekasihnya tapi tidak tau, kekasih macam apa kau?”, ejeknya sambil menyalipku masuk kelas.

“YA PARK CHANYEOL! Kau tau dari mana kalau Rachel diterima Universitas Seoul?”, tanyaku sembari duduk dibangku sebelahnya. Tepat kami berdua selalu memilih bangku pojok paling belakang yang bahkan tentor akan malas melihat kami.

“Semua anak SMA kita sudah ramai memperbincangkan mereka di grup chat angkatan, jangan-jangan kau tidak membuka hp seharian lagi?”, jawabnya sambil menatapku tidak percaya karena aku memang jarang mengecek hp.

“Lalu… dia masuk fakultas apa?”, tanyaku lirih.

“Seperti yang semua orang duga, dia masuk fakultas kedokteran bersama Kim Junmyeon”, jawabnya sambil mengeluarkan hp nya dari dalam tas.

Yap, sudah ku duga mereka murid peringkat teratas di SMA ku pasti akan masuk fakultas kedokteran Universitas Seoul. Termasuk kekasihku selama tiga tahun Rachel. Aku pun tidak tahu alasan pasti kenapa dia menerimaku sebagai kekasihnya selain karena ketampananku.

“Ayo semua keluarkan buku latihan soal matematika kalian semua sekarang”, suara tentor matematika Pak Cho memecah keheningan. Aku pun segera menuruti perintahnya dengan lesu dan pikiran kosong karena aku tak tahu apa yang harus ku katakan ketika aku bertemu Rachel nanti.

“Kenapa Kyuhyun selalu tepat waktu?”, keluh Chanyeol sambil mengeluarkan buku latihannya.

“Ya! Kalo sampai dia mendengarmu memanggil namanya seperti itu akan habis kau!”, ucapku sambil menjitaknya.

“Dia hanya mahasiswa matematika yang baru lulus tahun kemarin, kenapa kita harus takut?”, jawab Chanyeol meledek. Aku pun ikut terkekeh tanpa alasan yang jelas.

“Kalian berdua yang dibelakang! Sedang menertawakan apa?”, Ucap Pak Cho sambil mengacungkan buku tebal yang mungkin berisi kunci jawaban soal matematika dari jaman dinasti Joseon. Kami pun seketika terhening dan menggelengkan kepala bersamaan.

“Setiap kali aku mengajar kelas ini, kenapa ada dua kunyuk yang bahkan mereka tidak tahu ingin jadi apa dan bagaimana masa depan kalian selanjutnya.”, Ujarnya yang diikuti gelak tawa seluruh kelas.

“Sekarang aku tanya, kalian pasti dari SMA favorit dan dengan latar belakang keluarga yang mapan. Jurusan apa yang kalian inginkan nantinya jika kalian mendaftar di Universitas Seoul?”, tanyanya yang cukup membuatku tersentak dan merenung beberapa saat.

“Teknik Arsitektur Pak”, celetuk Chanyeol yang cukup mengagetkanku. Ternyata bedebah ini punya tujuan juga pikirku.

“Lalu kau?”, lempar Pak Cho padaku. Di saat itu juga aku baru tersadar apa yang sebenarnya yang ingin aku lakukan dan apa mimpiku.

“Hukum pak”, jawabku yakin.

“Apa?”, semua mata di kelas itu tertuju padaku.

Michyeosso?”, bisik Chanyeol padaku.

“Kalau memang itu impian kalian jangan sia-siakan waktu kalian, apa belum puas kalian gagal pada jalur undangan?”, ucap Pak Cho dan segera memulai pelajaran.

Sepanjang pelajaran aku bahkan terus memikirkan kenapa aku menjawab aku ingin masuk Fakultas Hukum. Benar kata Chanyeol, Apa aku sudah gila? Jawabannya adalah tidak. Ketika Pak Cho melempar pertanyaan tersebut padaku langsung terbayang diotakku masa dimana ayahku selalu berusaha membela kebenaran dan mengajarkan nilai-nilai keadilan kepadaku sejak kecil. Ya… ayahku seorang Hakim Agung di Mahkamah Agung. Aku ingin menjadi sepertinya dan meneruskan nilai-nilai yang telah ia ajarkan padaku sejak kecil.

Hari ini aku membuat janji bertemu dengan Rachel di kafe favorit kami. Aku sudah berdandan necis dan memakai parfum yang bahkan orang yag berada dikejauhan 10 meter dariku akan mencium aromanya. Aku membawa coklat dan bunga. Ya… itu kado favoritnya. Aku sudah duduk menunggunya di kafe yang menjadi tempat kami membuat janji lebih dari 10 menit.

Tak lama kemudian aku melihatnya menyusuri jalan di depan kafe. Satu hal yang terlintas di otakku, how pretty you are Rachel. Dia memasuki kafe dengan ekspresi yang tidak biasanya. Dia duduk dan menatapku dengan tatapan yang tak biasa pula.

“Apa kau sakit?”, kalimat itu yang terucap di mulutku pada saat itu. Namun dia tidak menjawab dan hanya tersenyum yang menurutku senyumannya pun dipaksakan.

“Aku membawakan sesuatu yang kau suka.”, ucapku sambil mengeluarkan bunga dan coklat yang sudah ku persiapkan.

“Sehun-ah mari kita akhiri di sini hubungan kita.”, ucapnya bergetar.

“Apa? Apa barusan yang kau katakan?” tanya ku yang saat itu masih mengiranya bercanda.

“Kau perlu memperbaiki hidupmu, kau harus fokus dengan tujuanmu. Aku hanya tidak ingin mengganggu konsentrasimu.”, perjelasnya yang meyakinkanku bahwa dia sedang tidak bercanda.

“Sehun-ah mari kita menggapai mimpi masing-masing dan bertemu lagi jika kita sudah pantas satu sama lain.” Ucapnya sambil meninggalkanku yang bahkan masih memasang ekspresi terkejut.

Lantas… Apa maksudnya aku sekarang tidak pantas untuknya?

To Be Continued

Masih prolog yorobeun….

Penasaran kelanjutannya? Silahkan klik like dan komentar yang berisi kritik dan saran

Chaptered selanjutnya akan segera author rilis

Gomawooooo

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Law of Love (Prolog)”

    1. Iyaaa baru awal
      Main cast yang lain belum aku keluarin hehe
      Ditunggu ya chapter-chapter selanjutnya
      Gomawooo
      Semoga menikmati alur cerita author

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s