[EXOFFI FREELANCE] Call Your Crush Coffee, Rather Than Honey

exo-sehun-vogue-korea-profile-min-445x262.jpg

Title : Call Your Crush Coffee, Rather Than Honey

Author : naralee0401

Length : One Shoot

Genre : romance, fluff

Rating : PG 17 (for some mature words)

Main Cast : Oh Sehun, Lee Da Hye (OC)

Summary :

“After all this time, I still think that your back and fingers are so intoxicated.”

“Aku kerap kali bertanya-tanya tentang pentingnya sebuah nama panggilan. Panggilan untuk dia yang kita sayangi misalnya? Aku tidak pernah terlalu berpikir jauh mengenai hal tersebut. Hal yang kerap kali aku anggap remeh, sejujurnya.

Tapi seperti sebuah kebiasaan, dia memang selalu mengubah perspektifku. Membuatku meninjau ulang hal yang aku anggap remeh tersebut. Jadi aku memutuskan sebuah nama panggilan untuknya. Nama yang membuatnya terlihat eksklusif di mataku. Menegaskan bahwa dia memang milikku. Hanya untukku. Aku terdengar seperti seorang maniak sekarang, kan ?”

Disclaimer : This story is all mine. Already published on my personal blog belleciousm.wordpress.com and wattpad @naralee0401. Please do not copy paste and respect each other.

Las Ramblas, Barcelona, Catalonia, Spain

Gadis itu duduk dengan memandang ke arah luar kafe dengan wajah cemberut. Wajah cantiknya tertutupi karena ekspresi kesal yang sudah dipasangnya sedari tadi. Suasana hatinya sedang sangat buruk, sedangkan cuaca di luar semakin memperparah suasana hatinya. Hujan deras mengguyur Barcelona sepanjang hari. Seolah belum cukup dengan membuat semua yang ada di kota tersebut basah, hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda sampai sore hari. Membuat jalanan cantik Las Ramblas digenangi air dan dia benci jalanan yang becek.

 

Sebagian orang mungkin akan begitu menyukai musim gugur. Musim yang romantis, katanya. Musim di mana jalanan akan dipenuhi dengan daun-daun yang beguguran, bau tanah yang bercampur air, atau suasana romantis yang mengikuti akibat perubahan cuaca itu sendiri. Tapi dasar dia bukan gadis pecinta romantisme, semua hal yang menyangkut musim gugur acap kali begitu dia benci. Setiap orang tentu mempunyai alasan, dan dia juga. Menurutnya musim gugur menjadi semacam…penghalang. Penghalang untuknya menyaksikan matahari terbenam favoritnya. Penghalang keringnya pakaian-pakaian yang dia jemur. Dan yang paling fatal adalah penghalang agar dia bisa memandang seseorang di bawah cahaya matahari terbenam. Opsi terakhir benar-benar berbanding terbalik dengan pernyataanya yang pembenci romantisme. Padahal dia adalah penyuka romantisme. Nyaris bisa dikatakan penggila, mungkin? Atau kegilaannya memang hanya bersumber dari si pria?

Gadis itu selalu menyebut si pria adalah objek favoritnya. Tak terhitung berapa ribu foto yang dia ambil dengan objek pria itu. Pria yang dalam versinya “sialan yang sangat menggiurkan.” Kata menggiurkan mungkin membuatnya terlihat seperti maniak. Tapi untuk kali ini dia memilih untuk tidak peduli, dia memang maniak. Terutama pada jari-jari panjang dan punggung lebar pria itu. Dia akan menjadikan dua bagian tubuh favorit pria itu sebagai objek yang akan dia ambil fotonya tanpa bosan, alih-alih wajah tampan si pria. Walaupun jika ditinjau ulang wajah pria itu sendiri adalah definisi wajah nyaris sempurna. Wajah yang menurut para seniman adalah maha karya terindah dengan tanpa cacat sedikitpun.

 

Pria itu bertubuh tinggi, berbadan tegap dan berotot tanpa kesan yang berlebihan. Garis wajahnya tegas, dan dia punya punggung lebar yang selalu nampak nyaman untuk dijadikan sandaran. Kulitnya akan nampak berkilauan saat matahari menerpanya, dan dari samping dia tak punya definisi apa-apa lagi melainkan sempurna. Saking sempurnanya sampai dia kerap kali menggerutu karena suka atau tidak pria favoritnya pasti menjadi objek fantasi erotis banyak wanita. Para pria juga, mungkin? Dia adalah jenis pria yang bisa membuat seorang lesbian sekalipun meneteskan liur.

Gadis itu mengetuk-ngetukkan jari tengahnya di meja kafe, memandang tak minat pada caramel macchiato miliknya yang sudah mendingin. Saat itu matahari tiba-tiba saja bersinar sedikit cerah, dan hal tersebut berdampak pada wajahnya juga. Dia mengangkat kamera SLR keluaran terbarunya, bersiap membidik target dari balik kaca jendela kafe yang masih berembun. Tapi semangatnya langsung pudar dalam beberapa menit saja karena hujan kembali mengguyur. Dia jadi semakin membenci musim gugur. Karena sekali lagi musim sialan itu mengagalkan matahari terbenamnya di Barcelona. Ini sudah hari kedua puluh lima dan dia belum mendapatkan matahari terbenamnya.

Dia lalu menjejalkan kembali kameranya kedalam back pack, menggerutu sembari meneguk minuman yang rasanya sudah tak keruan. Atau perasannya saja yang sedang tak keruan ?

“Musim gugur sialan. Aku sudah duduk di sini selama dua puluh lima hari bak idiot. Dan satu matahari terbenam belum juga aku dapatkan. Benar-benar sial.’’ Dia memaki, dalam bahasa Korea secepat kereta ekspress yang membuat pengunjung kafe melirik ke arahnya. Mereka mungkin berpikir gadis tersebut tidak terlalu waras, sedang putus cinta atau terkena depresi akut. Jadi mereka beramai-ramai memasang wajah prihatin yang ditanggapi gadis tersebut dengan pelototan.

‘’Kau pikir dengan memaki, matahari terbenammu akan datang begitu saja ? Kau bukan hanya nampak seperti idiot. Tapi kau memang idiot.’’ Terdengar suara dingin seorang pria dari arah belakang. Gadis itu memutar tubuh dan pemandangan yang terpampang di depan mata kepalanya membuatnya nyaris limbung. Dia hanya bisa mengerjapkan mata beberapa kali, sekadar memastikan bahwa dia tidak terkena gangguan penglihatan atau semacamnya.

Pria favoritnya sudah berjalan ke arahnya dengan sebelah tangan terbenam di dalam saku celana. Hari itu dia mengenakan sweater berwarna abu-abu yang dipadukan dengan jeans hitam. Rambutnya setengah basah, dengan titik-titik air yang masih mengalir dari poninya yang menutupi dahi. Pria itu berjalan dengan santai, mengabaikan detak jantung gadis di hadapannya yang menggila. Nyaris melompat dari rongga dadanya, mungkin? Oh tapi siapa peduli. Dia memang punya ketampanan yang sangat sayang untuk tidak dibagi-bagikan, pesona yang akan rugi jika tidak dia hambur-hamburkan.

 

Seolah tidak cukup dengan kehadirannya yang tiba-tiba di Barcelona, pria itu menyeringai seraya mendudukkan diri tepat di depan si gadis yang masih mengangakan mulut. Lalu setelahnya dia menghujamkan tatapan intens dan menyeluruh pada gadis di depannya. Dia bahkan seolah tak berkedip saat memandangi gadis itu, memastikan atensinya tidak terlewat barang sedetik saja. Sedang yang ditatap tak mau kalah, dia menghujamkan jenis tatapan yang sama. Untuk beberapa menit mereka saling bertatapan saja, tanpa berkata-kata. Entah pria itu akhirnya mengalah dalam aksi tersebut tapi gadis di hadapannya merasa bahwa tatapan pria itu tak lagi terfokus ke arahnya. Hanya beberapa detik, sebelum tatapan lebih menghujam di tujukan ke arah bibirnya. Seperti sudah direncanakan dengan masak-masak pria itu setengah berdiri, menarik gadis tersebut bersamanya dan menekankan bibirnya dalam-dalam. Dia tak memberi jeda untuk gadis itu terbiasa dengan ciumannya yang tiba-tiba. Sebab saat ini dia sudah melesakkan lidah hangatnya, menjelajah rongga mulut si gadis dengan beringas. Dia mengigit pelan lidah gadis tersebut, memaksanya untuk merasakan juga rongga mulutnya. Ciuman itu tak ada lembut-lembutnya, tapi ciuman itu sarat akan kerinduan, perasaan yang tak terungkap juga rasa kesal setengah mati yang berakhir pada pergulatan lidah pengikis oksigen di paru-paru.

Lima menit ciuman kasar itu berlangsung dan si pria belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, mengabaikan tatapan orang-orang yang ada di dalam kafe. Lagi pula dia tidak peduli, siapa saja boleh berciuman di depan umum di negara ini, kan? Lalu kenapa mereka melihat adegan ciuman tersebut seolah mereka tengah melakukan seks di tengah keramaian? Mungkin jawabannya adalah karena keduanya nampak begitu serasi secara fisik. Si pria yang berkulit putih pucat dengan senyum malaikat, dan si gadis yang cantik dengan tubuh mungil, nampak begitu pas saat keduanya berpelukan. Seolah memang mereka berdua tercipta untuk melengkapi yang lainnya. Deskripsi yang sederhana memang. Tapi cukup membuat sebagian besar orang di sana mengusap bibir mereka sendiri, terlepas dari fakta bahwa orang yang tengah mereka pandangi adalah orang Asia yang merupakan kaum minoritas di sana.

“Kemampuan berciumanmu lumayan juga.” Gadis itu lah yang pertama menarik diri, merasa dia bisa mati karena kehabisan oksigen. Ibu jarinya mengusap sudut bibirnya sendiri, membersihkan sisa-sisa ciuman basah mereka. Pria di hadapannya mencebik. Dia lalu mendudukan diri dengan gaya bossy.

“Lumayan? Kau bahkan nyaris pingsan tadi. Perlu ku panggilkan ambulans? Atau aku akan sangat senang jika aku bisa memberi napas buatan di sini. Lebih juga tidak masalah.’’ Dia tersenyum menyebalkan kali ini, membuat wajah tampannya semakin terlihat. ‘’Aku tidak keberatan memberikan tontonan lebih pada mereka.’’ Dia menunjuk orang-orang yang menatap mereka dengan dagunya. Lagi-lagi tersenyum menyebalkan.

‘’Apa saja sih isi otakmu selain hal-hal mesum? Memangnya tidak cukup hanya mengoleksi ratusan film porno di apartemenmu, huh?”

“Haha..” Pria itu tertawa lepas, merasa menang karena sudah berhasil memancing amarah gadis di hadapannya. “Mau bagaimana lagi? Usiaku dua puluh lima dan aku punya kebutuhan biologis yang harus dipenuhi.”

“Menonton film porno membantumu?”

“Mm..hmm…sedikit banyak. Paling tidak film-film itu memberikan semacam inspirasi untuk beberapa gaya baru yang akan aku praktekan denganmu.” Dia berbicara dengan nada datar tanpa emosi. Gadis itu mengeluarkan ekspresi ingin muntahnya karena pembicaraan mereka sore itu. Pria di hadapannya benar-benar sialan. Bagaimana bisa dia membicarakan topik seperti seks layaknya membicarakan tentang pop corn apa yang akan mereka beli di depan bioskop? Harinya semakin bertambah buruk saja.

“Seperti aku sudi saja melakukan seks denganmu.” Sergahnya setelah mendapatkan kesadaran yang selama beberapa detik hilang entah ke mana. Dia seharusnya berhenti meremehkan pesona pria ini.

“Kau keberatan?” Pria itu menatap si gadis dengan tatapan menyelidik, intens dan mengintimidasi. ‘’Jadi aku sudah boleh bercinta dengan gadis selain kau ? Bagus. Aku harus mencari beberapa orang kalau begitu. ‘’

‘’Ya. Dan aku juga bisa melakukan hal yang sama. Aku bosan dengan gayamu, terlalu flat dan jika boleh aku menilai kau sangat payah dalam bercinta.” Pria itu melotot, mengeluarkan ekspresi tak percaya. Keadaan berimbang sekarang, karena gadis tersebut jelas sudah sukses besar membalikkan keadaan. Dia benar-benar mati kutu sekarang. Sebaiknya dia harus semakin sering mengasah kemampuan berdebatnya yang kerap kali dia banggakan.

“Oh ya..kita serasi.” Si gadis mengalihkan pembicaraan. Dia tidak terlalu suka membahas topik mengenai seks. Sebab pria di hadapannya akan mengahabisinya di ranjang jika dia tak juga mengalah. ‘’Pakaian kita serasi. Lihat.’’ Dia menunjuk pakaian yang mereka kenakan, sweater dengan warna yang sama, juga celana jeans dengan warna yang sama pula. Pikirannya baru saja akan melayang jauh tentang takdir cinta seperti yang orang-orang katakan. Tapi kata-kata sederhana yang meluncur dari bibir si pria menghancurkan fantasi indahnya.

“Aku menelpon manajer kafe ini, bertanya apa yang kau kenakan lalu aku mengganti pakaianku dengan warna yang sama denganmu. Bukankah aku sangat keren?” Pria itu tertawa lepas. Sementara si gadis memasang ekspresi wajah shock luar biasa tentang lelucon yang sama sekali tidak lucu tersebut. Dia jelas sangat tahu kalau apa yang dikatakan si pria tidaklah benar. Jadi mungkin fantasi cintanya tadi bisa sedikit terselamatkan.

“Kau benar-benar sinting.” Dia mengumpat keras-keras pada akhirnya, tak perlu takut orang-orang akan mendengar karena mereka berbicara dalam bahasa Korea.

“Sudah cukup. Jadi bisa tidak mengatakan semacam keterkejutan karena aku di sini? Aku baru saja menempuh jarak ribuan mil dari Seoul ke Barcelona hanya untuk bertemu denganmu. Bukankah paling tidak kau tersanjung dengan aksi romantisku?”

“Aku kan tidak memintamu melakukannya.” Si gadis menjawab cuek, mengabaikan ekspresi kecewa berlebihan yang ditunjukkan oleh pria sinting di hadapannya. Gadis itu tentu saja terpesona. Dia bahkan menahan diri untuk tidak menghambur kepelukan si pria di detik pertama dia melihatnya. Jangan lupakan juga fakta bahwa sampai saat ini dia masih kesulitan menarik napas dengan benar. Bukan hanya karena ciuman membabi buta yang baru saja mereka lakukan, tapi juga karena kehadiran pria itu sendiri yang memang hanya bisa memparah kondisinya saja. Tapi dia gadis dengan gengsi setinggi langit. Dia tidak akan membiarkan dirinya menjadi bahan olokan hanya karena tak bisa menahan diri dari pesona pria tersebut.

“Ah aku sangat kecewa.” Pria itu menggerutu, memajukan bibirnya agar terlihat imut.

“Berhenti memasang wajah seperti itu. Kau nampak seperti anak autis. Ingat umurmu Mr Oh!’’

Pria tersebut sama sekali tidak tersinggung. Dia justru memajukan tubuh, meletakkan dua tangannya di atas meja sambil menahan diri untuk tidak meraih dua tangan yang terjuntai bebas di hadapannya.

“Dua puluh lima.” Dia mengucapkan usianya dengan pasti, memberi jeda lama di antara kalimatnya yang menggantung. “Dan kau dua puluh tiga.”

“Ya.” Tukas si gadis cepat, seringai jahil menghiasi wajah cantiknya. “Kau datang jauh-jauh dari Seoul hanya untuk menegaskan bahwa kau adalah ahjussi tua yang sedang mengencani gadis belia sepertiku? Oh bagus, kau sudah sangat berhasil.’’

“Tidak, tidak. Aku tidak setolol itu nona muda. Dua tahun bukan jarak yang terlalu jauh untuk kau mengataiku sebagai ahjussi. Maksudku, kau tahu lah sopan santun yang harus dipatuhi di mana yang muda harus menghormati yang tua.”

“Kau akhirnya mengaku bahwa kau sudah tua, huh?” Gadis itu tertawa lagi. Tapi pria di hadapannya justru tersenyum simpul, kali ini meraih tangan yang sedari tadi mati-matian tidak dia gapai. Dia mengalah pada gengsi. Sebab dua tangan kecil itu sangat mengundang untuk digenggam. Tangan hangat yang melengkapinya.

“Asal itu bisa membuatmu memanggilku oppa, aku tidak akan mempermasalahkannya.’’ Si pria menjawab kalem. Gadis itu menatap nyalang, memberi peringatan.

‘’Bermimpi saja kau !’’

‘’Kau ini memang gemar sekali merusak suasana romantic, ya ?’’ Si pria menghempaskan punggungnya pada kursi tanpa melepaskan tautan tangan mereka. Tidak, dia tidak akan melepaskan tautan tangan itu.

‘’Bisa tidak bersikap seperti gadis baik-baik yang memanggilku dengan oppa? Itu terdengar lebih romantis, tahu?”

“Persetan dengan romantisme.” Sergah si gadis dengan cepat. “Aku lebih suka memanggil namamu saja. Apa itu begitu masalah untukmu ?’’

Pria di hadapannya hanya terdiam. Memilin-milin ujung jari gadis itu dengan gerakan lembut, sebelum menggosok-gosokkan kedua tangan mereka karena udara semakin dingin. Dia terdiam selama bermenit-menit, dan si gadis tak mau repot-repot untuk menginterupsi.

“Oh Sehun-ssi..’’ Untuk pertama kalinya gadis itu mengucapkan nama pria di hadapannya. Sehun yang merasa namanya disebut segera mendongakkan wajah tanpa berniat menanggalkan ekspresi kekecewaanya sama sekali.

“Kau tahu kenapa aku lebih memilih memanggilmu dengan nama saja tanpa ada embel-embel oppa atau semacamnya ? “ Sehun menggeleng, dia mengeratkan tautan tangan mereka. Hatinya begitu berdebar-debar menunggu kalimat yang akan keluar dari bibir gadis tersebut.

“Ada berapa banyak gadis yang memanggilmu oppa ? Satu ? Dua ? Sepuluh ? Atau seratus ? Sangat tidak eksklusif. Aku jadi merasa berbagi kau dengan mereka. Padahal kau itu hanya milikku saja.“

“Tapi kan mereka berbeda denganmu Da Hye-ya.’’ Sehun bersikeras pada pendapatnya. Bahwa Lee Da Hye, gadis yang sedari tadi dia ajak berbicara harus memanggilnya oppa.

 “Tetap saja aku tidak suka.” Da Hye menukas, membuat Sehun mendecakkan lidah. Dia tahu keputusan gadis itu sudah final.

“Oh Sehun… Aku selalu berpikir bahwa namamu adalah nama yang paling indah di dunia. Most beautiful name I’ve ever found.” Da Hye berkata jujur, yang membuat dua sudut bibir Sehun membentuk sebuah senyuman. Bukan seringaian menyebalkan seperti biasanya.

 

“And after this time, I still think that your fingers and your back are so intoxicated. I don’t like that “oppa-oppa” thing to be honest. Just like I said, I don’t like to share mine. And you are mine. Someone that belongs to me. Not for those girl who keep calling you oppa.”

Kali ini Sehun tak menahan diri untuk tidak tersenyum lebih lebar. Lee Da Hye yang biasanya sangat menyebalkan tengah menyatakan kekagumannya. Hal yang dia pikir patut menjadi rekor baru di Guiness Book of Record.

“Baiklah tidak ada oppa.” Dia akhirnya mengalah. Tak ada niatan memperpanjang perdebatan setelah pujian blak-blakan Da Hye. “Kalau begitu ayo kita berjalan-jalan, Honey.” Dia sengaja menekankan kata terakhirnya. Da Hye yang dipanggil demikian memasang ekspresi mengancam.

“Jangan. Sekali. Kali. Memanggilku. Honey. Menjijikkan!” Gadis itu bahkan sudah mengangkat telunjuknya dan menatap Sehun dengan memperingatkan. Sehun nyaris merosot dari tempat duduknya, menahan emosi yang kini memenuhi isi kepalanya.

“Kau memang perusak suasana. Menyebalkan.” Dia akhirnya bangkit dari posisinya, melepaskan tautan tangan mereka dengan tak rela. Da Hye memandangi punggung Sehun yang kian menjauh sebelum dia mengambil asal beberapa lembar euro dari dompetnya dan berlari menyusul Sehun. Dia merangkul bahu pria itu, yang anehnya tak mendapat perlawanan sama sekali.

“Hei..hei.. ahjussi..kau sangat pemarah. Tawaran jalan-jalan itu masih berlalu tidak ? Kau kan sudah jauh-jauh menyusulku ke Barcelona.’’

“Lupakan. Aku mau pulang saja.’’ Sehun mencoba mengibaskan tangan Da Hye, tapi gadis itu semakin erat merengkuhnya. Lee Da Hye pasti berniat mematahkan leher Sehun dengan rangkulan itu.

“Really my coffee ? You’d like to go home ? Without having fun with me? Uh…such a pity.” Da Hye memasang tampang sedihnya. Bersikap seperti dia baru saja gagal pada ujian masuk universitas.

“My coffee? Kau tidak bisa memanggilku seenak perutmu sendiri. Kau pikir siapa kau?” Sehun mendengus, dia berjalan mendahului Da Hye.

 

Because I like coffee more than honey. I’m addicted to coffee not honey Oh Sehun-ssi. And if you get what I mean…I’m addicted to you. That’s why I call you, my crush with coffee rather than honey. And if I’m not mistaken Sehunnie, I’m the girl who you love the most. I don’t mean to being an arrogant but the fact that you flight from Seoul just to catch me here means everything you know?” Da Hye menjelaskan dengan panjang lebar membuat Sehun yang keras kepala menghentikan langkah. Tapi dia tidak berbalik, karena saat itu matahari senja bersinar. Dia tetap berdiri pada posisinya, menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah sangat memerah. Da Hye pasti akan menjadikannya bahan olokan untuk paling tidak satu minggu ke depan jika gadis itu tahu wajahnya memerah hanya karena sebuah pujian.

Mendung masih menghiasi langit Barcelona. Tapi momen langka itu harus diabadikan, mengingat sudah dua puluh lima hari Lee Da Hye menanti mataharinya itu. Bukan matahari terbenam yang terbaik di Barcelona, tapi itu lebih dari cukup untuk membuat Da Hye mengambil kembali SLR nya dan membidik objek favoritnya. Punggung Oh Sehun di bawah matahari terbenam Las Ramblas.

Pria itu tahu, sebagai model abadi Lee Da Hye dia bersikap professional dengan tidak banyak bergerak. Membiarkan Da Hye mengambil potret punggungnya dari berbagai sudut. Sampai saat matahari sudah benar-benar terbenam dia mengulurkan tangan yang segera disambut dengan suka cita oleh Da Hye.

“Kau harus membayarku karena sudah menjadikan tubuhku sebagai objek abadimu, My coffee.” Sehun tersenyum puas, pada akhirnya memanggil Da Hye dengan nama yang juga digunakan gadis tersebut padanya.

Da Hye sedikit berjinjit untuk meraih bibir Sehun dan menciumnya. Dia berniat memberikan ciuman singkat karena Las Ramblas saat ini sudah dipenuhi oleh wisatawan mengingat hujan yang sudah reda. Tapi Sehun tak membiarkan hal tersebut terjadi, karena seperti sebuah kebiasaan dia justru membuka sedikit mulutnya dan membuat bibir Da Hye terbenam di bibirnya. Tanpa perlu berpikir dia menggerakan bibirnya secara berlawanan dengan bibir Da Hye yang saat itu dengan suka cita menyambutnya. Lalu sekali lagi mereka membiarkan orang-orang di sana melihat mereka berciuman, dengan banyak bisik-bisik juga tatapan iri disertai tangan yang memegang bibir masing-masing.

END

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s