[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 26)

Poster Secret Wife Season 2 (4)

Tittle : Secret Wife Season 2

Author : Dwi Lestari

Genre : Romance, Friendship, Marriage Life

Length : Chaptered

Rating : PG 15

Main Cast :
Park Chanyeol, Kim Soah (Aiko)

Support Cast :

Oh Sehun, Min Aera, Kim Nara, all member EXO and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Soah terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan artis papan atas Park Chanyeol, demi menghindari kutukan keluarganya. Meski sebenarnya dia tak pernah percaya jika kutukan itu masih berlaku.

Disclaimer : Cerita ini murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note : Sekedar mengingatkan, jika ini berbeda dengan SECRET WIFE yang pertama. Ini bukan kelanjutannya. Cerita ini berdiri sendiri. Tapi akan ada beberapa hal yang sama. Dijamin tidak kalah seru. Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komentarnya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 26

(Yura’s Wedding Party)

Tetap bersamaku sepanjang waktu
Kau adalah orang paling hangat yang pernah aku miliki

Pekerjaan pertama yang Soah lakukan setelah kembali ke perusahaan adalah membuatkan gaun pengantin untuk kakak iparnya. Ketika mendapat kabar jika kakak dari suaminya akan menikah, dia dengan antusias menawarkan diri. Impiannya sejak dulu adalah membuat gaun pengantin untuk diri sendiri. Hanya saja, dia tak bisa melakukan mengingat pernikahannya yang terbilang mendadak.

Park Yura, yang tak lain adalah kakak ipar Soah, dengan senang hati menerima. Gelalat bahagia jelas dari tingkahnya ketika menjawab. Menolak adalah hal mustahil. Mengingat betapa terkenalnya adik ipar tersebut.

Eonni, kau bisa melihat ini. Aku punya beberapa desain jika kau berkenan.” Soah memberikan buku yang biasa dia gunakan untuk menggambar.

Park Yura menerima dengan senang hati. Matanya berbinar memandang gambar berwarna tersebut. Membalik kertas ketika puas melihat. Mulutnya tak henti mengucap kata pujian. Mengutarakan pendapat untuk desain yang adik iparnya buat.

“Kau memang berbakat. Aku sampai bingung memilihnya,” ujar Yura di akhir dia meneliti gambar-gambar tersebut.

“Seharusnya kau ajak calon suamimu. Sekalian memperkenalkannya padaku.” Dengan sedikit bercanda Soah berucap. Membangun suasana hangat, itulah yang ingin dilakukannya. Dia ingin mengakrabkan diri dengan kakak iparnya tersebut. Mereka jarang mengobrol santai secara pribadi. Selalu ketika dia berkunjung ke rumah mertuanya. Hanya sekali mereka bertemu di tempat kerja. Saat Soah berkunjung ke Studio YTN.

“Aku sudah memintanya. Hanya saja dia harus menyelesaikan proyek untuk musim dingin nanti. Dia ketua tim, jadi tanggung jawabnya besar,” jelas Yura.

“Sayang sekali.” Soah mencoba tersenyum maklum. Dia memeriksa tabletnya. Menyerahkan pada Yura kemudian. “Di sini juga ada. Sudah jadi malahan. Eonni, bisa melihatnya.”

Senyum mengembang ketika Yura menerima tablet itu. Wajahnya kembali berbinar. Dia kembali dibuat bingung dengan gaun yang tampak anggun. Memperbesar ukuran gambar untuk melihat lebih detail desainnya.

Suara ketukan ruang Soah terdengar. Soah menoleh. “Masuklah!” ujarnya dengan nada sedikit berteriak.

Pria dengan balutan jas masuk. Tangannya membawa map. Langkahnya terdengar mantap. Dia membungkuk hormat sebelum berucap. “Daepyonim, ini laporan yang Anda minta.”

Soah menerima uluran map tersebut. “Terimakasih, Timjangnim.”

“Iya. Kapan kita akan mengadakan meeting untuk proyek itu?” Pria itu menunjuk map yang dibawa Soah.

“Aku akan memeriksanya sebentar, akan aku hubungi setelah itu. Aku punya tamu,” jelas Soah setengah berbisik. Dia juga menunjuk gadis yang masih sibuk dengan tablet.

Netra pria itu menelisik sosok gadis yang dimaksud bosnya. Postur itu sangat dikenali. Dengan ragu, dia mencoba menyapa. “Yura.”

Gadis yang bernama Yura itu menoleh. Kaget adalah hal pertama yang dirasakan. Dia tak menyangka akan bertemu dengan pria yang sebentar lagi hidup bersamanya. “Oppa,” ujarnya tanpa sadar.

“Kalian sudah saling kenal?” tanya Soah bingung. Mata hitamnya menoleh kearah Yura kemudian ganti ke pria itu.

“Tentu saja. Dia calon suamiku,” tutur Yura.

“Hah.” Soah bertambah kaget.

“Benar. Dia memang calon istriku.” Pria itu menampilkan senyum terbaiknya.

“Jadi…” Soah tak bisa melanjutkan kalimat. Dia terlalu syok untuk berucap. Sudah lama dia mendengar jika pria itu punya tunangan. Tanpa terduga itu adalah kakak iparnya. “Aku tidak bisa berkata apa pun.” Desahan halus terdengar dari hidungnya.

“Aku juga baru setelah apa yang menimpa Anda. Dia tak memberitahuku jika Anda adalah adik iparnya,” jelas pria itu.

“Kau pasti sudah tahu sendiri alasannya.” Yura ikut bersuara.

Soah tersenyum. “Duduklah, Timjangnim. Kau bisa membantu eonni memilih gaun. Aku ke toilet sebentar.”

“Terimakasih banyak, Daepyonim.”

Soah mengangguk. Senyum tulus juga terlihat. Tungkainya membawa pergi ke tempat yang disebut tadi. Dia menutup pintu dengan cepat. Tangannya berpegang pada wastafel. Wajahnya sedikit pucat. Nafasnya memburu. Belum lagi keringat dingin yang muncul di sepanjang kening. Tatapannya juga tampak kosong.

Dia mendengar suara-suara itu lagi. Telinga kiri ditutup dengan tangan. Napasnya semakin memburu. Keringat dingin semakin banyak yang muncul. Tangannya terulur merogoh saku ketika merasa getaran di sana.

Chanyeol Oppa adalah nama yang tertera di layar ponsel. Kesadaran yang masih setengah, menuntunnya untuk mengangkat. Beberapa kali dia mencoba mengabaikan, namun suara-suara itu semakin jelas. Dia bisa mendengar suara suaminya setelah mendekatakan ponsel di telinga.

Oppa,” ucapnya sedikit bergetar. Dia sudah tak bisa mendengar segala macam pertanyaan yang keluar dari bibir suaminya. Dengan segenap tenaga Soah mencoba berucap. “Aku takut.”

Dia terduduk lemas kemudian. Ponselnya sudah jatuh entah kemana. Dia mendekat ke dinding, menyandarkan kepala. Wajahnya bertambah pucat. Napasnya masih memburu. Kesadarannya semakin menipis. Yang bisa dilakukannya hanya menutup telinga.

Sementara itu, pintu ruangan Soah diketuk. Muncul Sekretaris Min dari sana. Terkejut melihat dua orang yang dikenal. “Yoon Timjang,” ujarnya sedikit ragu.

Pria yang dipanggil Yoon Timjang tersenyum. Dia membalas sapaan gadis itu.

“Apa yang kau lakukan di sini? Aa, dimana daepyonim?” tanya Sekretaris Min. Dia menelisik ke sudut ruang mencari keberadaan Soah.

“Aku sedang membantunya,” ujar pria itu sambil menunjuk Yura. “Daepyonim ada di toilet,” lanjutnya.

Sekretaris Min menunduk memberi salam pada Yura. Dia ikut duduk di sofa. “Apa dia sudah lama? Ada berkas yang harus segera ditandatangani.” Gelisah melanda Sekretaris Min. Tampak jelas dari cara duduk. Hal itu membuat map berwarna biru di tangan ikut bergetar.

“Iya, kenapa Soah lama sekali.” Yura bersuara. Netranya menuju pintu yang masih tertutup di sudut ruang.

“Apa terjadi sesuatu?” Yoon Timjang kini yang bersuara.

“Aku akan melihatnya.” Sekretaris Min berdiri. Meletakkan mapnya di meja. Bergegas menuju pintu di sudut.

Ketukan dengan jari ia lakukan. “Daepyonim, kau masih lama?” ujarnya dengan lembut. Dia diam guna mendapat respon. Namun nihil, tak ada sahutan. Diulangnya lagi. Hasilnya juga sama, tak ada tanggapan. Tangannya memutar knop, tidak dikunci. Perlahan dia membuka.

Soah terduduk di lantai adalah pemandangan pertama yang dilihat. Tanpa pikir panjang Sekretaris Min berlari sambil berteriak. “Daepyonim.”

Teriakan Sekretaris Min mampu mengalihkan atensi dua orang yang duduk di sofa. Mereka ikut berlari menyusul gadis itu.

Daepyonim, kau baik-baik saja.” Kesedihan menyelimuti Sekretaris Min. Apalagi Soah hanya diam. Bosnya masih membuka mata, namun pandangannya kosong. Napasnya memburu. Juga tubuhnya bergetar.

“Ada apa, Sekretaris Min?” tanya Yoon Timjang yang memasuki ruang tersebut.

“Bantu aku mengangkatnya. Sepertinya dia kambuh.”

Pria itu dengan sigap mengambil tubuh Soah. Menggendong ala bridal menuju sofa. Dua orang gadis mengekor di belakang. Dengan penuh hati-hati pria itu membaringkan Soah.

“Anda membawa obat?” tanya Sekretaris Min. Dia menyampirkan selimut di tubuh Soah.

Soah hanya mengangguk. Kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Tubuhnya masih bergetar. Napas juga masih terengah.

“Kau baik-baik saja?” Yura duduk di samping Soah sepeninggalan Sekretaris Min. Dia tak bisa menyembunyikan kecemasan.

Eonni, ponselku dimana?” ucap Soah sedikit terbata. Bahkan terkesan tak jelas jika tak benar-benar paham.

“Ponsel?” ulang Yura penuh keheranan. Dia menatap kearah calon suaminya. Pria itu justru mengangkat bahu sebagai jawaban.

“Chanyeol Oppa tadi menelepon.” Masih dengan nada terbata Soah berucap.

Sekretaris Min kembali dengan obat dan minum. Dia membantu Soah meminumnya. Bernapas lega melihatnya yang mulai tenang.

Yura kembali dengan ponsel di tangan. Sayang, panggilan itu sudah berakhir. Dia cukup paham maksud Soah tadi. Bergegas dia mencari keberadaan benda persegi panjang milik adik iparnya. “Dia akan baik-baik saja kan?” tanyanya dengan raut sedih. Melihat wajah adik iparnya yang sudah memejamkan mata, membuatnya sedikit tercubit.

Sekretaris Min mengangguk. “Dia sudah meminum obatnya. Aku yakin dia akan baik-baik saja. Yang dibutuhkannya sekarang hanya istirahat,” jelasnya. Sakunya bergetar. Panggilan masuk dia terima. Menggeser ikon di layar dengan ibu jari.

Yeobseyo,” ucapnya mengawali pembicaraan.

“Soah bersamamu?” Suara berat di ujung telepon terdengar.

“Iya. Jangan khawatir. Dia sudah terlelap setelah meminum obat.”

“Syukurlah! Tolong jaga dia. Aku akan menjemputnya.”

“Iya.” Sekretaris Min mengakhiri panggilan. Tatapan tanya dia dapatkan dari Yura.

“Apa itu Chanyeol?”

Sekretaris Min mengangguk. “Dia akan menjemput daepyonim.”

-o0o-

Mata cantik itu perlahan terbuka. Soah sadar setelah sembilan jam tertidur. Dia tersenyum melihat putranya tertidur sambil memeluk tubuhnya. Penuh kehati-hatian dia membenarkan selimut. Mencoba melepaskan diri dari tangan putranya.

Tungkainya membawa mendekat ke jendela. Menyibak sedikit gordennya. Hari sudah gelap. Kepalanya menoleh. Netranya tertuju pada jam di dinding kamar. Jarum pendek menunjuk di angka sepuluh, sedang yang panjang di angka dua. Sudah selama itu dia terbaring.

Helaan napas dia lakukan. Pandangan ia alihkan ke bulan yang tampak indah dengan bentuk bulatnya. Ditaburi bintang yang juga tampak anggun. Telapak tangan mengusap pelan lenganya. Udara dingin menghampiri tubuh. Namun dia masih enggan beranjak. Pemandangan langit malam masih menjadi pusat perhatian.

Seseorang datang menyampirkan selimut. Soah tak perlu menoleh untuk melihat. Aroma parfum dari pria itu, sudah menunjukannnya.

“Bagaimana perasaanmu?” Suara berat khas pria itu terdengar.

“Sudah lebih baik.”

Pria itu ikut berdiri di samping Soah. Matanya juga tertuju pada langit malam yang anggun. Lima menit mereka hanya diam. Tak ada suara maupun pergerakan. Sampai akhirnya Soah meraih tangan pria itu. Menggenggamnya erat.

Pria itu menoleh. Menatap manik hitam Soah yang balas menatapnya. Tanpa dia kira, kini istrinya bersembunyi di pelukannya. Dia tersenyum samar sebelum mengusap surai panjangnya.

“Biarkan aku memelukmu sebentar,” ujar Soah.

“Sebanyak yang kau inginkan, Sayang,” balasnya. Dia membalas pelukan itu. Ciuman ringan juga ia daratkan di pucak kepala. Rasanya terlalu nyaman untuk dilepaskan. Melihat istrinya terbangun sehat, hatinya menghangat. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat istrinya dalam keadaan baik.

“Apa yang mengganggu pikiranmu? Ini sudah lama sejak kau kambuh.” Pria itu kembali bersuara setelah lama diam.

“Aku juga tak tahu. Tidak ada yang menganggu. Aku makan teratur. Istirahat cukup. Bahkan aku tak pernah lembur.” Desahan halus keluar dari hidung Soah. Dia masih betah memeluk prianya.

“Kau meminum obatmu secara teratur?”

Soah mengangguk. Kepala diangkat. Manik hitamnya bertemu dengan milik suami. Pria itu menampilkan senyum terbaiknya. Menangkup pipi Soah. Memberikan kecupan ringan di bibir wanitanya.

“Tidak apa-apa. Yang terpenting, kau sudah lebih baik sekarang.”

Soah sedikit menjinjit. Dia mengulang apa yang suaminya lakukan. Memberi kecupan ringan di bibir. “Aku lapar,” ujarnya sambil tersenyum aneh.

“Tentu saja. Kau tertidur sembilan jam. Ayo! Noona sudah memasak untukmu.”

“Yura Eonni.”

Chanyeol mengangguk. Dia menggandengan lengan Soah. Menuntunnya menuju ruang makan. “Dia sangat mengkhawatirkanmu.”

-o0o-

Dengan napas terengah Yura mendatangi Soah. Dia terlambat lima belas menit dari waktu yang dijanjikan. Sedang Soah yang tadi sibuk dengan tablet, menoleh. Tersenyum ramah pada kakak iparnya.

“Maaf ya, aku terlambat. Jalanan macet tadi,” jelas Yura penuh penyesalan.

“Tidak apa-apa. Hanya lima belas menit.” Soah kembali memberikan senyum. Lebih baik dari sebelumnya. Dia tak ingin membuat kakak iparnya itu merasa bersalah.

“Sebenarnya ada apa mengajakku kesini?” tanya Yura penasaran. Dia mendekatkan wajahnya untuk mendengar lebih jelas perkataan Soah.

“Hanya ingin makan siang bersama. Sudah lama kita tak makan siang bersama. Terakhir kali, saat aku hamil dulu.” Soah mengangguk membenarkan ucapannya.

“Kau benar.” Yura ikut mengangguk. “Kau sudah pesan?”

“Belum. Aku belum paham apa yang Eonni suka, jadi aku menunggumu.” Soah tersenyum aneh. Dia merasa tak enak mengucapkannya. Terkesan tak sopan menurutnya.

Yura melaimbaikan tangan. Seorang pramusaji mendekat. Memberikan buku menu untuk mereka. Sedikit berdiskusi sebelum memutuskan. Obrolan kembali mereka mulai setelah pramusaji tersebut pergi.

Soah merogoh tas. Mengambil amplop yang sudah dipersiapkan sebelum datang. “Ini untukmu, Eonni.” Menyerahkannya pada gadis yang duduk di depannya.

“Apa ini?”

“Hadiah pernikahan.” Soah meminum teh yang dipesannya sebelum gadis itu datang.

Dengan penuh hati-hati Yura membuka amplop. Menatap tak percaya isinya. Membacanya dengan seksama, kata yang tertera di sana. “Bali,” ujarnya lantang.

“Iya, untuk bulan madu kalian.”

“Terimakasih,” tutur Yura lembut. Matanya berkaca tanda dia senang. Ini hadiah paling indah yang pernah diterima. “Aku memang ingin sekali pergi kesana.”

“Tempatnya memang indah,” kata Soah.

“Kau pernah kesana.”

Soah mengangguk. “Empat hari tiga malam.”

“Bukan dengan Chanyeol kan?”

“Emh. Saat aku masih tinggal di Paris. Tahun keduaku di ESMOD.”

“Dengan mantan kekasihmu?”

Soah tersenyum. Dia mengambil cangkirnya kembali. Mengangguk setelah meneguk isinya.

“Aku dengar kau hampir menikah dengannya. Kalau boleh tahu, kenapa tak jadi?”

“Nara Imo tak merestui kami.”

“Apa karena perjodohanmu dengan Chanyeol?”

“Bukan. Ada alasan yang lain. Maaf, karena tidak bisa memberitahukannya.”

“Aku mengerti. Aku memang tak bisa memaksa. Tapi, bukankah kau masih terlalu muda untuk menikah.”

“Perempuan di keluarga kami memang biasa menikah muda.”

Yura mengangkat alis tak paham.

“Kau bisa menyebutnya kutukan keluarga. Jika anak gadis dalam keluarga kami belum menikah sampai usia dua puluh tiga tahun,  maka dia tak akan pernah bisa menikah.”

“Hah.” Yura kaget mendengar penuturan tak masuk akal adik iparnya. Wajahnya masih penuh tanda tanya.

“Mungkin terdengar gila. Tapi memang itu kenyatannya. Nara Imo contohnya.”

-o0o-

Soah membawa sebuket bunga saat memasuki ruang itu. Di sana ada kakak iparnya yang sudah siap dengan gaun pengantin. “Selamat atas pernikahanmu, Eonni.”

Gadis bernama Yura itu tersenyum menyambut kedatangan Soah. Buket bunga sudah berpindah ke tangannya. Hari ini, akan menjadi hari bersejarah dalam hidupnya. Di mana dia akan memulai kehidupan baru bernama pernikahan. Status lajangnya berganti menjadi istri orang.

“Terimakasih. Terimakasih juga untuk gaun yang indah ini. Aku sampai tidak bisa berkata apa pun. Ini lebih dari yang aku bayangkan. Kau memang berbakat.” Kedipan nakal juga Yura lakukan untuk mengusili adik iparnya.

Soah hanya bisa tertawa. Merasa lucu dengan tingkah konyol kakak iparnya. “Awalnya aku juga tak menyadari. Sehun yang merekomendasikannya. Mungkin aku akan menjadi desainer hebat jika melakukannya, itu katanya sewaktu kecil dulu.”

“Oh Sehun.”

“Iya. Aku pernah menggambarkan desain hodie yang sangat diinginkannya. Dia telat membeli karena memang itu edisi khusus. Dari situ dia berkata jika aku punya bakat.”

“Aku dengar kalian berteman sejak kecil.”

“Dia teman pertamaku sejak aku pindah ke negara ini.”

“Kau pernah menyukainya sebagai pria?”

No comment.”

“Kupikir dia menarik sebagai pria.”

“Dia memang menarik. Tapi bukan tipeku.” Soah ikut mengedipkan sebelah mata. “Kenapa jadi membahas dia. Ayo kita berfoto!”

Mereka mengambil pose yang menarik untuk diabadikan. Diulang dengan pose lain. Hingga tawa terdengar di akhir mereka mengambil gambar.

“Ekhm.”

Suara berat di belakang mereka mengalihkan atensi. Secara otomatis mereka menoleh ke sumber suara. Namun kembali melihat ponsel Soah yang sudah dipenuhi potret diri, ketika mengenali si pemilik suara. Mereka kembali tertawa melihat hasil yang tak sempurna.

“Kalian mengabaikanku?” ucap pria itu tak terima.

Mereka masih tak peduli dengan ucapan pria itu. Hingga suara seorang anak kecil terdengar. Hal itulah yang mampu mengusik keasyikan mereka.

Eomma.”

“Sehun-ah. Kemarilah! Kau tidak mau menyapa imo.”

Pria kecil itu mendekat. Tuxedo hitam lengkap dengan dasi kupu-kupu membalut tubuhnya. Rambutnya ditata rapi. Sangat menggemaskan. Seperti pengantin pria dalam ukuran mini.

“Yura Imo, selamat atas pernikahanmu,” tutur Sehun. Suara khasnya terdengar menggemaskan. Itulah mengapa setiap orang yang diajak berbicara akan tersenyum.

“Terimakasih, Sayang.” Usapan lembut Yura berikan.

“Kami ke depan dulu,” pamit Soah. Dengan menggandeng tangan putranya Soah berjalan menjauh. Diikuti oleh pria yang tadi diacuhkan. Pria itu memasang wajah tak ramah. Mungkin marah.

Oppa,” panggil Soah. Matanya tak lepas dari mimik wajah pria itu.

Pria itu hanya menjawab dengan gumaman. Sedikit sakit hati karena diacuhkan.

“Kau terlihat lebih tampan hari ini.”

“Memangnya kapan aku tak terlihat tampan.” Pria itu berucap sinis. Tingkat percaya dirinya memang tinggi.

“Saat kau sedang marah.”

Pria itu tersenyum pada akhirnya. Bualan istrinya membuatnya luluh. Dia memang tak pernah bisa berlama-lama marah dengan wanitanya itu. Tangannya menarik lengah Soah untuk diapit. Mereka saling menggandeng menuju tempat diadakannya pesta.

-o0o-

Ketukan demi ketukan Sehun lakukan di atas tuts-tuts piano. Berkat pelatihan khusus dari ibunya, dia bisa menghafal lagu itu di luar kepala. Menghadiahkan permainan indah itu untuk sang bibi. Dia tampil setelah ayahnya selesai bernyanyi. Jika saja sang MC tidak menyebutkan namanya, ayahnya tak mungkin tahu. Sengaja dirahasiakan untuk memberi kejutan. Itu ide Soah tentu saja.

Chanyeol berbisik pada Soah. “Kau yang mengajarkannya? Aku tak pernah ingat mengajarkan lagu itu.”

Soah hanya tersenyum. Dia mengalihkan pandangan kembali kearah putranya. Seluruh tamun undangan terpukau. Anak kecil berusia lima tahun itu, begitu lihai memainkan alat musik bernama piano. Rangkaian nada yang dimainkan terdengar merdu. Suara tepuk tangan terdengar meriah di akhir permainan.

Pria kecil itu berlari mendekat sang ibu, kemudian. Memeluk kaki dan menyembunyikan wajah. Dia sedikit malu.

“Kau hebat, Sayang,” bisik Soah. Dia mencoba melepaskan pelukan putranya.

Sehun kecil menatap mata ibunya. “Sungguh!” ucapnya memastikan.

“Emh.” Kecupan ringan di dahi Soah labuhkan. Menenangkan putranya adalah hal wajib jika tidak ingin kerepotan.

“Anak appa benar-benar hebat. Appa bahkan belum mengajarkan lagu itu.” Chanyeol mengulurkan tangan. Mengusap kepala putranya. Menariknya untuk duduk di pangkuan.

Eomma yang mengajarkannya.”

“Begitukah!”

“Emh.” Sehun mengangguk antusias. “Karena Appa jarang di rumah, eomma yang menemani Sehun bermain piano. Appa juga harus mendengarkannya. Permainan piano eomma juga sangat bagus,” lanjutnya. Dia mengacungkan kedua ibu jarinya.

Soah tertawa. Bukan karena mendapat pujian, melainkan ucapan Sehun. Nada bicaranya terdengar menggemaskan. “Kau ini bisa saja.” Tangannya mengacak puncak kepala Sehun. “Tentu lebih bagus permainan appamu.”

“Tidak. Aku lebih suka, Eomma.”

“Terserah padamu.” Soah mencubit hidung Sehun dengan gemas. Putranya bersikap manis hari itu.

Appa jangan marah ya. Jika sedang libur, Appa juga harus mengajari Sehun lagi.”

“Tentu saja.”

Mereka tak sadar jika beberapa pasang mata mengawasi tingkah mereka. Juga ikut tersenyum melihat kekonyolan Sehun.

to be continue……..

Saya kembali lagi.

Bagaimana menurut kalian?

Terima kasih sudah jadi pembaca setia.

Tinggal satu chapter lagi + epilog.

Jangan lupa tinggalkan jejaknya.

See you.

6 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 26)”

    1. Banget…banget…
      Hahahaha…. biar jadi pelipur untuk mereka yang lagi bersedih masalah keturunan…
      Terimakasih ya….

  1. Waah kak. Padahal baru tadi subuh aku baca chapt 25 sekarang udah update lagi? Daebak.
    Huuuaahhh. Ini terlalu manis untuk segera berakhir kaak. Rasanya aku gak rela. Walaupun aku hanya reader baru, aku udah suka banget sama pasangan ini. Di tunggu chapt endingnya kak. Aku suka. Sukaa banget sama ffnya.
    Hwaiting kak untuk terus berkarya.

    1. Kalau update kak terserah admin blognya, saya hanya mengirim e-mail di hari sabtu/minggu.

      Hahahaha…. saya sukanya yang manis-manis.
      Kalau nggak segera diakhiri, saya akan bingung buat melanjutkan.
      Terimakasih.
      Fighthing!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s