[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 25)

Poster Secret Wife Season 2 (4)

Tittle : Secret Wife Season 2

Author : Dwi Lestari

Genre : Romance, Friendship, Marriage Life

Length : Chaptered

Rating : PG 15

Main Cast :
Park Chanyeol, Kim Soah (Aiko)

Support Cast :

Oh Sehun, Min Aera, Kim Nara, all member EXO and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Soah terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan artis papan atas Park Chanyeol, demi menghindari kutukan keluarganya. Meski sebenarnya dia tak pernah percaya jika kutukan itu masih berlaku.

Disclaimer : Cerita ini murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note : Sekedar mengingatkan, jika ini berbeda dengan SECRET WIFE yang pertama. Ini bukan kelanjutannya. Cerita ini berdiri sendiri. Tapi akan ada beberapa hal yang sama. Dijamin tidak kalah seru. Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komentarnya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 25

(I’m Fine)

Aku baik-baik saja, meski mimpi buruk ini terulang.

Ditemani cahaya bulan yang menakjubkan, aku akan datang menemuimu

Pagi datang seperti biasa. Soah sibuk dengan urusan dapur. Chanyeol sibuk dengan putranya. Mereka yang belum genap sebulan datang kembali ke Seoul, mulai terbiasa. Meski jarang keluar rumah, mereka tetap menikmati.

Usai sarapan, Chanyeol tergerak menuju ruang keluarga. Tangannya terulur untuk menyalakan TV. Suara khas seorang penyiar berita menjadi hal pertama yang di dengarnya.

“Hari ini, banyak fans EXO berkumpul di depan gedung SM. Mereka menuntut penjelasan tentang kembalinya Chanyeol yang sudah setahun menghilang…”

Masih banyak kalimat si pembawa berita, namun Chanyeol segera memindahkan chanelnya. Dia hanya menghela nafas. Kembali fokus memandang layar kaca tersebut.

“Kenapa dipindah?” Soah yang membawa dua buah cangkir ikut bergabung dengannya.

“Terimakasih,” ucapnya setelah menerima cangkir tersebut. Sebelum minum, Chanyeol terlebih dulu mencium aromanya. Kopi kesukaanya lebih nikmat jika yang membuat adalah istrinya.

Soah tersenyum mendapati raut senang suaminya setelah meminum kopi. Dia meletakkan cangkir, setelah mengecapnya.

“Dimana Sehun?” Chanyeol kembali bersuara setelah meletakkan cangkirnya.

“Itu, bermain dengan Livy.” Soah menunjuk anak kecil yang asyik dengan anjingnya.

Chanyeol ikut tersenyum. Dia mengambil cangkirnya.

“Sera Imo meminta kita makan malam di rumahnya.”

“Kapan?”

“Besok.”

“Baiklah.”

-o0o-

“Halo, Sayang.”

Soah dan keluarga kecilnya mendapat sambutan hangat. Dia memang sedang berkunjung ke rumah bibi pertama, untuk makan malam.

“Ini pasti Sehun.” Bibi pertama Soah menunjuk anak kecil yang sedari tadi hanya diam.

“Sehun, ayo beri salam.” Soah berbicara pada putranya. Dengan penuh kelembutan dia mengusap puncak kepala anaknya.

Annyeong haseyo.” Pria kecil itu membungkuk. Seperti perintah Soah, dia memberi salam untuk bibi dari ibunya.

“Ayo masuk! Makanannya sudah siap.”

“Sehun suka makan apa?” tanya Sera, di sela-sela perjalanan.

“Sushi,” jawab Sehun cepat.

“Sayang sekali, nenek hanya memasak steak. Tidak apa-apa kan. Lain kali jika Sehun kesini lagi, pasti nenek masakan sushi.”

“Iya. Steak juga enak.”

Soah tertawa. Dia kembali mengusap lembut kepala putranya.

-o0o-

“Bagaimana kabar kalian?” ujar Paman Soah memulai pembicaraan. Dia duduk bersama Chanyeol setelah makan malam tadi. Istri, keponakan, serta Sehun tengah asyik bermain di depan TV. Itulah mengapa, dia memanfaatkan kebersamaan dengan keponakan menantu, untuk berbicara secara pribadi.

“Kami baik-baik saja. Setidaknya lebih baik setelah Sehun hadir. Soah mulai kembali ceria, setelah kami memutuskan mengadopsinya.” Chanyeol melirik ke arah istrinya yang tengah tertawa bermain bersama putranya.

“Baguslah! Aku sempat khawatir, Soah akan berlarut dengan sedihnya.” Paman Soah menyesap kembali teh yang tersaji di meja.

“Memang tak mudah mengembalikan kebahagiannya.” Chanyeol ikut menikmati tehnya.

“Kau tak akan kembali?”

“Maksud Anda?”

“Fansmu sudah secara resmi minta maaf. Mereka sadar jika yang mereka lakukan itu kenanak-kanakan.”

“Aku tak yakin. Tapi yang pasti, aku tak ingin melihatnya menangis lagi.”

Tepukan halus di pundak Chnayeol dapatkan. Paman Soah tengah memberi dukungan padanya.

“Kau mungkin butuh waktu. Datanglah saat kau benar-benar siap.”

“Terimakasih, Samcheon.”

-o0o-

“Apa yang menganggu pikiranmu, Oppa?”

Entah sejak kapan istrinya sudah duduk di sampingnya. Chanyeol benar-benar tak sadar. “Tidak ada.” Dia tersenyum mencoba meyakinkan.

“Jangan bohong!”

Chanyeol menggeleng. “Tidak ada, sungguh! Sehun sudah tidur?”

“Kau hanya diam menatap laptopmu sejak tadi. Hei! Jangan mengalihkan pembicaraan.”

Chanyeol kembali tersenyum. Dia mengacak puncak kepala Soah. “Aku tak mengalihkan pembicaar, aku hanya sedang bertanya,” jelasnya kemudian.

“Ya, dia tertidur setelah seharian rewel tadi.”

Chanyeol menarik kepala Soah. Mengecup ringan puncaknya. “Terimakasih sudah hadir dalam hidupku?”

“Ada apa ini? Tidak biasanya kau bersikap manis.”

Chanyeol mencubit pelan hidung Soah. Dia gemas dengan ucapan istrinya. “Kapan aku tak bersikap manis padamu?”

“Aku hanya bercanda.” Soah tersenyum. Dia memeluk Chanyeol. “Aku juga bersyukur memilkimu.”

Chanyeol ikut tersenyum. Dia membalas pelukan itu dengan mengusap lembut surai panjang Soah. sesekali dia mencium ringan puncak kepala istrinya.

“Apa yang kau bicaran dengan samcheon kemarin?” tanya Soah setelah melepaskan pelukannya.

“Dia ingin aku kembali.”

“Kembalilah, jika memang kau ingin kembali.”

“Aku tak ingin membuatmu terluka lagi.” Chanyeol menangkup pipi Soah. tatapan penuh arti dia layangkan.

“Aku baik-baik saja.”

Chanyeol memberika kecupan ringan di bibir istrinya. “Jangan mengatakan kau baik-baik saja, jika pada kenyataannya kau tak baik-baik saja.”

“Aku memang baik-baik saja.”

Chanyeol membungkam Soah dengan memberikan lumatan lembut. Bibir istrinya memang sudah menggoda sejak tadi. Dia memeluknya, setelah melepaskan tautan. “Jangan bahas itu dulu,” bisiknya kemudian.

“Aku mengerti.” Soah mengangguk di sela-sela pelukan. Dia memejamkan mata. Menikmati aroma khas suaminya.

“Ayo tidur! Aku sudah mengantuk,” tutur Chanyeol. Dia sudah lebih dulu melepaskan pelukannya.

“Matikan dulu laptopmu.”

-o0o-

Hari-hari berikutnya masih sama. Mereka dengan kehidupan keluarga kecilnya. Sedikit berbeda karena Chanyeol menghabiskan hari dengan mengurung diri di ruang musik. Ruang yang dulu sering ia gunakan bersama mendiang sahabatnya, Hyunmin. Tiap datang ke rumah itu mereka suka bermain-main di sana. Ingatan masa lalu berputar cepat di otaknya.

Di ruang itu, dia membuat lagu. Komposer adalah kegiatan setelah hiatus dari dunia hiburan. Meski sebenarnya dia memang sudah melakukan ketika masih aktif di sana.

Tak ayal, kadang Soah dibuat sebal oleh tindakannya. Seperti hari ini. Hari sudah larut, namun prianya masih betah berkutat dengan gitar dan piano. Bahkan Sehun putranya sudah terlelap dua jam yang lalu. Sengaja membuatkan kopi untuk suaminya. Dengan mengenakan lingerie tipis, dia masuk ke ruang di mana suaminya berada.

Chanyeol masih sibuk menulis sesuatu saat dia masuk. Dengan langkah hati-hati, Soah mendekat. Meletakkan cangkir di samping lengan pria itu. “Kau belum selesai,” sapanya kemudian.

Pria itu masih enggan menatapnya. Hanya gelengan yang diberikan. Jemarinya kembali memetik senar gitar yang dipegang. Kembali menulis sesuatu di buku.

Soah mendengus kesal. Dia menutup buku itu dengan sengaja. Merebut buku tanpa memperdulikan layang protes dari suaminya.

Yak, kembalikan. Aku belum selesai,” protes Chanyeol sambil berusaha merebut bukunya.

“Ini sudah malam, dan kau masih belum juga selesai.” Soah memasah wajah marah. Pria itu tak akan berhenti jika dia tak melakukannya. Pernah suaminya tak tidur saat sedang membuat lagu.

“Sebentar lagi. Cepat kembalikan.”

Soah tak bergeming. Dia justru menyembunyikan buku itu di belakang tubuhnya. Tatapan tajam juga ia berikan.

“Sayang, kembalikan buku itu.” Lagi suara Chanyeol terdengar. Kali ini lebih lembut. Dia balik menatap manik hitam istrinya.

Mereka hanya saling menatap. Soah dengan tatapan tajam. Chanyeol dengan tatapan memohon. Dia bisa saja merebut, entah mengapa dia tak melakukan. Mengamati penampilan istrinya adalah hal kedua setelah menatap mata istrinya. Menemukan penampilan yang tak biasa, membuatnya ingin bersuara.

“Kau sedang mengodaku?”

“Tidak.”

“Lalu pakaian itu?”

“Hanya ingin memakai. Belum pernah kugunakan, sejak dibelikan Nara Imo sebagai hadian pernikahan,” jelas Soah kembali.

Chanyeol mengangkat alis. Menatap tak percaya mendengar penuturan istrinya.

“Aku akan pergi tidur atau tidak.” Soah kembali bersuara.

“Nanti, setelah aku menyelesaikannya.”

Soah mendengus kesal. Dia memberikan buku itu dengan cepat. “Ya sudah.” Dia berbalik. “Jangan harap bisa menyentuhku setelah ini.”

Meski lirih, Chanyeol masih bisa mendengar setiap kata yang keluar dari bibir istrinya. Dia tersenyum. Betapa lucu tingkah istrinya yang tengah merajuk. Dia meletakkan buku setelah istrinya keluar dari ruang itu. Langkah cepatnya, ingin dia bawa untuk mengejar sang istri. Jika dia tak menyelesaikan masalah, istrinya akan merajuk sampai beberapa hari.

Dia bisa mengimbangi langkah Soah yang sudah melewati dapur. Soah hanya menatap sebentar pria yang kini berjalan beriringan dengannya.

“Kenapa mengikutiku? Kau bilang belum ingin tidur.”

Chanyeol hanya terenyum. Dia masih menatap setiap perubahan mimik wajah istrinya.

“Bukankah kau lebih suka tidur dengan gitar kesayanganmu itu?”

Chanyeol menghadang langkah Soah. Dia terpaksa menghentikan langkahnya. “Minggir.” Soah mendorong pelah tubuh suaminya.

Chanyeol tak bergeming. Dia justru mengulurkan tangan. Mengambil tubuh Soah dengan cepat. Menggendongnya ala bridal.

“Chanyeol-ssi, turunkan aku.” Soah meronta minta dilepaskan. Namun tak diindahkan. Pria itu kini berjalan menuju kamar.

“Kau bilang apa tadi?” Dia benci saat istrinya memangil namanya dengan embel-embel ssi.

“Chanyeol-ssi, turunkan aku.” Lagi Soah berkata dengan nada memohon.

“Aku tidak dengar. Katakan lagi.”

“Chanyeol-ssi, turunkan aku.”

“Sudah kubilang, aku tidak dengar.”

Oppa, turunkan aku.”

Chanyeol tersenyum. “Nanti setelah sampai kamar. Kau yang menggodaku, Nyonya Park. Kau juga yang harus bertanggung jawab. Jangan pikir kau akan bisa kabur dariku.” Chanyeol benar-benar membawa Soah ke kamar. Dia bahkan mengunci pintu dari dalam.

-o0o-

Soah tersenyum senang melihat hasil masakannya. Dia memang sedang menyiapkan makan siang. Masih dengan mengenakan apron, dia meletakkan sepanci jjampong yang sudah matang. Sebari menunggu putranya datang, dia mengambil air untuk dituang di gelas. Merasa ada yang kurang, Soah kembali membuka kulkas. Kimchi wajib ada di setiap momen makannya. Selain suami, putra kecilnya juga suka. Jika tak ada makanan satu itu, pria kecil bernama Sehun itu pasti merengek tak mau makan.

Dari arah lain, putranya datang dengan sedikit berlari. Dia memeluk kaki Soah. kedua tangan Sehun menarik aproh yang dikenakan ibunya.

Eomma, aku mau makan jjajamyeon.” Dengan nada merengek, Sehun berkata. Tarikan halus kembali dia lakukan.

Soah melepas tangan putranya. Dia menunduk, berusaha menyamakan tinggi putranya. “Tadi Sehun bilang ingin makan jjampong. Itu sudah matang.” Usapan lembut ia berikan di puncak kepala Sehun.

“Tadi iya. Sekarang tidak lagi. Sehun mau makan jjajamyeon.” Masih dengan nada merengek Sehun berucap. Menggembungkan pipi. Juga menggelengkan kepala. Khas dia aat menginginkan sesuatu.

“Ya sudah. Kita pesan saja.” Soah mencubit pelan hidung putranya.

Shireo. Aku ingin Eomma yang memasaknya.”

“Ada apa?” Suara berat Chanyeol terdengar. Dia datang membawa serta Livy di gendongannya.

“Tadi dia minta jjampong. Setelah matang, dia ganti minta jjajamyeon,” jelas Soah. Dia sudah berdiri menerima Livy.

“Pesan saja,” ujar Chanyeol lagi.

Soah memberi isyarat untuk menanyakan pada putranya.

“Mau appa pesankan?” Chanyeol berjongkok. Dia juga memenepuk pelan pundak putranya.

Shireo. Aku ingin eomma yang memasaknya.” Sehun mengulang jawaban yang sama, dengan apa yang tadi dikatakan pada ibunya. Tangannya dilipat di depan dada. Pandangannya ia alihkan ke samping, seolah enggan menatap ayahnya.

“Tapi sayang, eomma sudah lelah memasak jjampong untukmu. Kau mau menyuruhnya memasak lagi?” tutur Chanyeol dengan nada lembut. Dia juga mengusap pelan puncak kepala Sehun.

Sehun mendudukan dirinya di lantai. Kakinya ditendang-tendangkan kesembarang arah. Dia juga merengek tanda tak mau. “Shireo. Shireo. Shireo. Aku ingin makan masakan eomma. Pokoknya harus eomma yang memasak,” kata Sehun. Nadanya begitu keras hingga memenuhi ruang berdominasi warna putih tersebut.

Soah tak tega melihat. Dia menurunkan Livy. Mendekat kearah Sehun. “Iya, eomma akan masakan. Sekarang Sehun berdiri.”

“Emmh.” Dengan cepat Sehun berdiri. Kembali memeluk kaki ibunya. “Gomawo, Eomma.” Senyum lebar terlihat jelas di wajahnya.

Chanyeol melipat tangan di depan dada. Tersenyum mengejek. Dia juga menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan tingkan rewel putranya.

“Sekarang Sehun ajak Livy bermain. Nanti eomma panggil setelah matang.”

Sehun mengangguk cepat. Tungkainya meninggalkan dapur setelah menggendong anjing keluarganya.

“Mau aku bantu?” tawar Chanyeol.

“Kupaskan bawang,” jawab Soah yang sedang mengambil bahan di kulkas.

Chanyeol mengambil pisau. Tangannya terulur menarik bawang yang ada di depannya.

“Di mana aku meletakkan sausnya?” Soah kembali meneliti setiap sudut kulkas. Ketemu, hanya saja sudah habis.

Oppa, aku ke minimarket sebentar. Chunjangnya habis.” Soah melepas apron. Menyampirkannya di sandaran kursi.

Chunjang?” ulang Chanyeol tak paham.

“Saus jjajamyeon.”

Chanyeol mengangguk paham. “Mau aku belikan?”

“Tidak usah. Kupaskan saja kentangnya, setelah itu potong dadu.”

Chanyeol mengangguk disertai senyuman. “Hati-hati,” teriaknya setelah Soah meninggalkan dapur. Dia hanya mendengar gumaman dari mulut istrinya.

-o0o-

Meski sedikit menguras tenaga, Soah memilih berjalan kaki. Jarak rumah dan minimarket memang terbilang dekat. Di tangannya membawa sekantong palstik belanjaan. Langkahnya terlihat santai. Dia berhenti melihat sekumpulan gadis berjalan kearahnya. Dia berbalik bermaksud pergi. Namun, di belakang dia juga sudah dihadang. Dia hanya bisa diam sambil berjalan mundur.

“Soah-ssi.” Teriakan beberapa gadis terdengar, setelah mereka berkumpul.

“Kalian mau apa?” tanyanya ragu. Jantungnya mulai berdetak tak normal. Dia sedikit gugup. Takut, jika kejadian setahun lalu terulang lagi. Dia bisa menebak jika gadis-gadis itu adalah fan dari suaminya.

Mereka masih berjalan mengerumuni Soah. Dia sudah tak dapat berjalan mundur. Punggungnya sudah membentur tiang lampu penerang jalan.

“Jangan khawatir! Kami tidak akan menyakiti Anda. Kami hanya ingin minta maaf.” Salah seorang dari mereka bersuara. Mungkin pimpinan grup. Terlihat dari wibawanya ketika bersuara.

Jeosonghamnida,” ucap mereka semua sambil membungkuk.

Soah hanya menatap tak percaya. Dia mengedipkan mata dengan cepat. Masih tak percaya dengan apa yang baru saja dialami.

“Kami minta maaf atas kejadian waktu itu. Gara-gara kami, Anda harus kehilangan bayi. Sekali lagi kami minta maaf.” Gadis lain kini berucap. Dan sekali lagi, mereka membungkuk sambil berkata maaf.

Soah bingung harus merespon apa. Dia hanya bisa mengangguk. Sambil bergumam tanda iya.

“Anda terlihat cantik jika dari dekat,” ucap salah seorang dari mereka.

“Tolong, jaga oppa kami.” Salah seorang lagi menyahut.

“Semoga kalian bahagia.”

“Kami harap dia mau kembali.”

Masih banyak ucapan dukungan yang Soah dengar. Sampai-sampai dia tak bisa mengulang jika harus bercerita.

-o0o-

Soah masih mencoba menormalkan detak jantung. Dia masih berdiri menyandar pintu setelah masuk tadi. Pandangan kosong masih dijumpai di sana. Helaan nafas kembali terdengar. Tungkainya membawa dia menuju dapur. Tangannya dengan cekatan mengeluarkan barang yang tadi dibeli.

“Kenapa lama?” tanya suaminya yang baru datang.

Soah belum menjawab. Dia masih sibuk memakai apron. Terasa sulit, jika saja suaminya tak membantu. “Gomawo,” ucapnya dengan senyum. Dia mengambil pisau untuk mengiris bawang bombai yang tadi dikupaskan suami.

Baru teriris setengah, Soah menoleh. menatap kearah suami yang masih berdiri di sampingnya. “Kau pasti terkejut jika tahu apa yang baru saja kualami.” Soah tersenyum, kembali melanjutkan kegiatannya mengiris bawang bombai.

“Apa itu?”

“Aku bertemu fanmu,” ujar Soah tanpa menoleh. Tangannya sudah beralih memotong daging.

Raut khawatir tergambar jelas di wajah Chanyeol. Dia menghentikan kegiatan istrinya. Memandangnya lekat. Meneliti setiap bagian tubuh. “Kau baik-baik saja. Mereka tidak melukaimu?” Rentetan pertanyaan ia layangkan sebagai bentuk rasa khawatir.

Soah kembali tersenyum. Dia mencoba melepaskan tangan suaminya. “Jangan khawatir. Aku baik-baik saja,” ujarnya mencoba meyakinkan. Tangannya kembali memotong daging. Yang kemudian diganti dengan zukini. “Mereka hanya minta maaf,” lanjutnya kembali.

“Benarkah!”

“Emh.” Soah mengangguk. Dia mengambil wajan. Mengisinya dengan minyak. Baru kemudian menyalakan kompor. “Dan juga…” Soah beralih menatap suaminya. “…mereka ingin kau kembali,” lanjutnya. Dia memasukkan saus jjajamyeon. Mengaduknya secara halus.

“Seperti itukah!”

Soah mengangguk. Netranya masih terfokus pada saus jjajamyeon. Setelah cukup mendidih. Dia menuangkan ke dalam mangkok. Kembali menaruh wajan di atas kompor. Memasukkan sesendok minyak goreng. Setelah dirasa panas, dia memasukkan irisan bawang bombai. Menumisnya hingga harum. Potongan daging, kentang serta zukini dimasukkan kemudian. Diaduk sebentar untuk meratakan matangnya.

Dia beralih menatap suaminya. Tatapan suaminya sedikit kosong. Sepertinya tengah memikirkan ucapannya. “Kembalilah, jika kau ingin kembali.” Tangannya menggenggam erat tangan suami. “Sebenarnya, aku ingin melihatmu bernyanyi lagi.” Soah kembali mengaduk masakannya.

Chanyeol memandang aneh kearah Soah. Setiap gerak dari istrinya, tak luput dari mata tajam itu. Tanganyya terulur manarik pinggah Soah. Dia memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di puncak kepala Soah. “Haruskah?” gumamnya kemudian.

Soah sempat kaget. Dia mengaduk kembali masakannya, setelah berhasil menguasai diri. “Iya. Semua orang menunggumu. Sehun pasti senang jika ayahnya tampil di TV,” tutur Soah.

“Aku mengerti. Sepertinya aku memang harus kembali.”

Soah melepaskan pelukan Chanyeol. Dia berbalik. Tersenyum lebar padanya. berjinjit untuk mengecup ringan bibir suaminya. “Aku menantikannya. Sekarang temani Sehun, kau menganggu pekerjaanku.” Soah segera berbalik. Masakannya sudah matang. Langkah selanjutnya, dia memasukkan saus jjajamyeon. Mengaduk hingga tercampur rata. Menambahkan air sagu kemudian. Dibiarkannya hingga mendidih.

Chanyeol mendengus kesal. Pada akhirnya, dia hanya berbalik mengikuti perkataan istrinya.

Soah tersenyum disela kegiatan. Senang karena suaminya menjadi penurut. Dia mengaduk kembali masakannya.

-o0o-

Ruang rapat itu sudah dipenuhi kru serta personil EXO. Mereka akan meeting membahas konsep serta keperluan lain untul album terbarunya. Kurang dari tiga menit rapat akan digelar, namun sang pimpinan rapat belum juga hadir. Menunggu, hanya itulah yang bisa mereka lakukan.

Suara pintu terbuka terdengar, sepuluh menit kemudian. Wajah bahagia bisa dijumpai hampir di setiap orang yang berada di sana. Sang pimpinan rapat datang dengan sikap percaya diri. Meski sebenarnya sedikit terlambat, dia enggan berucap maaf. Dia duduk di kursi keberannya. Meeting pun segera digelar.

Ketua tim penanggung jawab segera membuka. Terhenti saat akan menjelaskan konsepnya. Sang pimpinan rapat memang memberi isyarat untuk berhenti.

“Kita akan menambah personil,” ujar sang pimpinan.

Mereka semua terkejut. Ini merupakan hal tak terduga. Mereka saling berbisik tanda tak suka.

“Silahkan masuk,” teriak sang pimpinan.

Tak lama kemudian, pintu rapat kembali terbuka. Pria jakung memasuki ruang tersebut. Dia membungkuk memberi salam. “Annyeong haseyo. Park Chanyeol imnida,” ujarnya memperkenalkan diri.

Senyum bahagia juga terlihat kemudian. Pria jakung itu dipersilakan duduk bergabung dengan personil EXO lainnya.

“Silakan lanjutkan kembali, Timjangnim,” tutur sang pimpinan rapat.

-o0o-

“Bekerja keraslah!”

Tepukan halus di punggung, Chanyeol terima setelah rapat selesai. Ucapan dari pimpinan agensinya, menambah semangat. Dia membungkuk hormat yang diikuti personil lain, sebelum beliau pergi.

Ucapan semangat dari kru lain juga dia terima. Banyak yang senang saat dia kembali bergabung dengan grupnya, EXO. Tak terkecuali rekan-rekan segrup juga senang. Bahkan teramat senang. Hingga sampai di tempat tinggal pun mereka masih senang bersendau gurau dengannya.

“Ini seperti mimpi, aku akan bisa mengerjaimu lagi,” ujar Baekhyun.

Chayeol tersenyum mengejek. “Apa hanya itu yang ada di pikiranmu?”

“Tentu saja. Tanganku gatal setelah kepergianmu. Itulah kenapa aku beralih mengerjai Sehun,” jelas Baekhyun kembali.

“Terimakasih, Tuhan. Akhirnya aku bisa terbebas.” Sehun menyatukan tangan. Wajahnya menatap ke atas, seolah dia tengah berdoa.

Bakhyun mendorong Sehun hingga terjungkal ke depan. Sehun melirik dengan tajam. Sedang Baekhyun justru tertawa keras. Usilannya berhasil membuat Sehun terusik. Dengan cepat Sehun mendekati Baekhyun. Dia ingin membalas perbuatannya. Sepertinya kalah cepat. Baekhyun sudah lebih dulu berlari menghindar. Alhasil mereka saling mengejar.

“Awas kau, Hyung. Lihat saja jika tertangkap,” teriak Sehun.

Baekhyun kembali tersenyum mengejek. Dia masih siaga untuk menghindar.

Personil lain hanya tertawa. Mereka sudah terbiasa melihat tingkah kekanakan rekannya. Kadang mereka juga melakukan hal sama. Tujuannya untuk mempererat ikatan, juga penghilang stres karena pekerjaan.

to be continue……..

Saya kembali lagi.

Bagaimana menurut kalian?

Terima kasih sudah jadi pembaca setia.

See you.

12 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 25)”

  1. Akhirnya diupdate jugaaa, udah berkali kali cek kok blm di up akhirnya bisa baca kelanjutannya jugaaa, thank you thor.
    Btw senang si Chanyeol akhirnya kembali, dan senang akhirnya fans2 itu bisa nerima Soah, semoga adegan sweetnya dibanyakin min hehe

  2. Hai kak. Aku reader baru disini. Aku juga reader marathon. Aku gak komen di chap sebelumnya karna gak yakin juga bakalan dibales apalagi itu postingan lama. Berhubung ini chapt yang masih sangat fresh aku nyoba buat komen. Mungkin dapet balesan juga. Hehe ngarep.
    Aku suka sama ceritanya. Alurnya. Karakter chan sama soah nya. Aku dapet feel nya banget.
    Walaupun ada beberapa chapt di pw, aku gak masalah. Karena aku emang gapunya akun² kaya gitu.
    But so far, aku bener² menikmati setiap tulisannya, walaupun beberapa part terlalu banyak menggunakan kata ganti ‘itu’ yang buat aku bingung dan satu lagi, tanda baca.
    Aku bener² menikmati tulisan ini. bagus menurutku. Aku harap kak author terus semangat lanjut nih ff. Karna aku akan menunggu.
    Aku biasanya gabaca ff dengan chapt lebih dari 20 sih kak. Bakalan bosen soalnya. Tapi ini bikin aku ketagihan.
    Aku suka ketulusan, romance part kedua cast ini.
    Hwaiting kak. Di tunggu chapt selanjutnya. Semoga mood nulisnya bagus. Gak sibuk dsb dah.
    Eeh aku rasa aku reader pertama di chap ini.

    1. Nggak tahu harus bilang apa…
      Pokoknya makasih banget masukannya.
      Jangan bosan menunggu aku yang nggak bisa cepat ini…

      Sebenarnya kerangka sudah selesai, tinggal praktek nulis…. meski masih belajar, saya selalu berusaha menghasilkan yang terbaik, makanya ketika nggak dapat mood nulis, aku nggak nulis. Jika dipaksakan nanti pasti hasilnya buruk. dan efeknya, tulisanku mesti telat…
      Bagiku itu lebih baik, dari pada bisa menulis banyak, namun nggak enak dibaca.

      So, thanks banget buat komennya…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s