[EXOFFI EVENT 50K] Thankyou – Shaekiran

thankyou - shaekiran

T h a n k y o u

A Story by Shaekiran

 

Oh Sehun x Bae Irene

hurt | angst | romance

PG 15 | Oneshot

Disclaimer

Standard disclaimer applied. Don’t plagiarism and copy without permission. Happy reading!

In Sehun’s Eyes

Jam di pergelangan tangan kembali menjadi korban mataku yang tidak sabaran. Entah sudah berapa kali aku melirik benda ini dan rasanya jarum di dalam sana sangat lambat berputar. Setengah jam sudah aku menghabiskan waktu percuma hanya demi berdiri di pintu masuk—tanpa berniat masuk ke dalam—dan menghabiskan hampir tiga batang rokok dalam beberapa menit terakhir. Dengan jengah akhirnya aku melirik lagi ke dalam, dan gadis itu masih di sana, duduk bersimpuh dengan berderai air mata. Aku membenci ini, sungguh.

Sangat ingin aku masuk ke dalam sana, menarik tangannya dengan paksa dan membawanya kembali ke rumah. Oh ayolah, sebenarnya apa yang perlu di tangisi? Dan mungkin kalian akan tertawa karena memang gadis di dalam sana wajar menangis di depan potret seorang lelaki yang sangat membuatku iri. Bae Irene nama gadis itu, majikanku, putri tuanku yang menghidupiku, kasarnya demikian, karena aku hanyalah seorang penjaga yang disewa untuk melindungi gadis cantik di dalam sana. Sementara yang ditangisi Irene, lelaki yang membuatku iri adalah si dungu Park Chanyeol. Aku mengenal lelaki ini, sangat kenal malah karena aku sering menjadi pengusir nyamuk ketika mereka berdua bertemu diam-diam—dan hal itu tidak akan terjadi lagi karena Chanyeol sekarang tingggallah sebuah nama tanpa nyawa.

“Nona, tidak bisakah kau berhenti menangis?”

Sangat ingin aku mengucapkan itu, tetapi tidak akan pernah bisa karena Irene tidak akan memperdulikanku dan akan tetap menangis karena kematian kekasihnya itu. Tiga hari lalu Chanyeol ditemukan meninggal di apartemennya sendiri, bersimbah darah dan menjadi korban pencurian—demikian perkiraan polisi mengingat keadaan apartemen yang kacau balau dan beberapa barang elektronik di apartemen lelaki dungu itu hilang.

Sudah dua hari ini Irene memohon kepadaku membawanya ke tempat ini, dikarenakan ayahnya mengurung Irene di kamarnya guna melarang gadis itu untuk datang ke pemakaman Chanyeol yang malang. Lelaki yang hidupnya pas-pasan dan yatim piatu, bagaimana mungkin disetujui menjadi pendamping Nona Irene oleh Tuan Besar Bae yang adalah salah satu orang yang paling berpengaruh dan merupakan orang terkaya kedua di Negeri Ginseng ini? Lagipula Nona Irene sudah dijohohkan dengan Kim Junmyeon, pengusaha muda yang sekarang menjabat CEO perusahaan keluarganya sekaligus merupakan putra orang terkaya di negeri ini. Mereka pasangan sempurna, dan Chanyeol hanyalah kerikil yang membuat Tuan Bae sangat tidak setuju dengan hubungan asmara putrinya itu. Karena itulah aku menyebut Park Chanyeol itu dungu, karena dia tidak pernah sadar diri dan berakhir mati muda seperti ini.

Jadi ketika aku mengabulkan permohonannya dan sampai di tempat ini, tempat dimana kotak kaca berisi abu kekasihnya itu berada, Irene berterima kasih kepadaku. Dia memelukku erat, mengucapkan terima kasih berulang-ulang yang membuat darahku semakin berdesir ketika jemarinya kembali menggenggam tanganku. Seorang bodyguardhina ini dipeluk oleh nona muda yang cantik sembari mengucapkan terima kasih dengan begitu tulus. Astaga, mungkin hingga mati aku tidak akan pernah melupakan bagaimana jemari Irene terasa sangat pas di genggamanku.

Akhirnya, tepat dua jam kemudian, aku menemukan Irene sudah terkulai lemah di atas lantai. Aku sangat yakin ia kelelahan dan pingsan karena terlalu lama menangis. Dengan sigap aku masuk ke dalam dan segera menggendong tubuh mungil Irene. Sebelum pergi, aku menatap kotak kaca berisi guci abu itu sebentar. “Kau harus beristirahat dengan tenang.” ucapku lirih, “dan kau seharusnya tau diri,” tambahku dalam hati sebelum benar-benar pergi dari tempat itu menuju tempat parkir dan membawa Nona Irene pulang.

Hampir sejam mengemudi, aku akhirnya memarkirkan mobil yang kukendarai itu di sebuah rumah mewah berlantai empat dengan gaya victoria klasik berwarna dominan putih di daerah Gangnam. Ini adalah rumah besar Keluarga Bae, tempatku bekerja. Dan dengan nona Irene yang berada dalam gendonganku, aku menaiki satu demi satu anak tangga dengan pasti menuju kamar nona di lantai dua dan membaringkannya di atas tempat tidur. Wajah Irene sangat pucat dan tubuhnya keringat dingin, sehingga aku memutuskan menelfon dokter keluarga Bae untuk memeriksa keadaan Irene.

“Sehun.”

Padahal langkah kakiku sudah sampai di depan pintu kamar dengan ponsel yang sudah menyala karena ingin menghubungi dokter, tetapi suara lirih itu membuatku berhenti seketika. Aku berbalik dan segera menghampiri pemilik suara yang setengah sadar itu.

“Iya nona, ini aku, Oh Sehun,” jawabku sambil duduk didekat tempat tidurnya.

Irene tersenyum kepadaku, terlihat sangat tulus meski ku yakini gadis itu setengah sadar karena tubuhnya demam tinggi. Perlahan Irene menarih tangannku, menggenggamnya erat seperti kemarin. Aku terpaku sejenak, terdiam tanpa kata-kata.

“Terimakasih sudah membawaku ke sana, terima kasih,” ucapnya lagi dengan berlinang air mata meski bibirnya tersenyum. “Terima kasih Sehun, aku tidak akan pernah lupa kebaikanmu ini.” lanjutnya dengan nada sangat bersyukur yang semakin membuatku kehilangan kata-kata.

Seperti sadar akan sihir karena terlalu terpaku akan kata-kata Irene, detik selanjutnya aku tersenyum tipis. Aku melepas genggaman tangan Irene meski rasanya sangat nyaman dan pas di jemariku, “Nona harus beristirahat, aku akan menelfon Dokter Kang untuk memeriksa nona.” ucapku sambil berdiri dan pamit undur diri. Irene masih tersenyum ketika akhirnya aku menutup pintu dan duduk tersungkur ke lantai, sementara telingaku kembali mendengar suara raungan Irene yang menangis.

Rasanya aku juga ingin ikut menangis. Dadaku terlampau sesak karena tidak bisa mengucapkan “sama-sama”kepada Irene seperti semestinya. Bagaimana aku bisa mengucapkan itu ketika akulah yang sudah menyebabkan Irene menangis sedemikian rupa? Aku yang membunuh Chanyeol atas perintah Tuan Bae dan mengacaukan apartemennya agar terlihat sebagai kasus pencurian. Astaga Chanyeol, harusnya kau tau diri sepertiku sehingga aku tidak perlu menikammu dengan pisau dapur.

 

[ The End ]

One thought on “[EXOFFI EVENT 50K] Thankyou – Shaekiran”

  1. ya allah sehunku biadab banget. Harusnya chanyeol tikam pake pisau buah aja biar makin kerasa sakitnya *nahloh ketauan siapa psikopatnya*

    Dan INI KURANG AJAR BANGET NGATAIN MANTANKU DUNGU? SINI GELUT SAMA AING!!!

    Ngehehe maapkan kak komenku ngelanyur. But overall nice fic! Semoga menang ya!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s