[EXOFFI EVENT 50K] HIDEOUS – by graesthetic

46a6a61eca4cd5fc607ca506a3d5a1b3

HIDEOUS

.

Family, Crime, Tragedy / Ficlet / PG-17

Starring
[EXO] Byun Baekhyun as main cast

“Maaf, tetapi kurasa kami tidak pantas untuk dipermainkan di belakang seperti ini.”

© 2019 by graesthetic

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Semua orang berdatangan. Semua orang berduka. Semua orang berurai air mata.

Ratapan, raungan, dan isakan terdengar dari seluruh penjuru rumah. Menangisi ayahku yang pergi secara tiba-tiba. Mengantarkan beliau ke tempat peristirahatan terakhirnya. Mendoakan agar beliau dapat pergi dengan damai.

Beberapa hari yang lalu, Ayah ditemukan tidak sadarkan diri di ruang kerjanya. Terkapar dengan wajah putih pucat dan bibir biru kehitaman. Kepalanya terkulai di atas meja kerja, di atas kertas-kertas kerjanya yang tersebar. Terdapat lebam-lebam kebiruan di pergelangan tangan, siku, dan lehernya.

Seluruh anggota keluarga menyarankan agar Ayahku melalui proses autopsi untuk menyusut penyebab kematiannya. Mereka mengatakan bahwa lebam-lebam tersebut merupakan tanda kekerasan. Namun, ibuku bersikeras menolak. Ibu mengatakan bahwa beliau ingin Ayah pergi dengan tenang. Menyusut penyebab kematian Ayah hanyalah akan menambah parah mendung keluarga kami, demikian pendapat Ibu. Lagipula, Ayah memang sudah mengidap hipertensi sejak lama, dan kematian akibat serangan jantung seperti ini hanyalah masalah bom waktu saja.

Ibu dan Kakak perempuanku tak henti-hentinya menangis. Aku maklum, mereka pasti merasa sangat kehilangan. Sejujurnya, aku pun demikian. Lebih tepatnya aku tak tahu apa yang kurasakan. Aku hanya dapat menatap foto Ayah yang terpajang dengan tatapan nanar. Batinku bergejolak. Alasan aku masih dapat menahan air mataku hanyalah karena akulah satu-satunya laki-laki yang tersisa di keluarga kami. Aku harus tegar. Aku harus kuat demi Ibu dan Kakakku.

Satu per satu orang masuk ke ruang duka, memberikan penghormatan terakhir pada Ayah, lalu menghampiri kami bertiga, mengucapkan belasungkawa terdalam mereka dan memberi sedikit kata-kata penghiburan pada kami.

“Semuanya akan baik-baik saja, Gaeun-a …. Semuanya akan baik-baik saja. Semoga kebenaran yang sesungguhnya cepat terungkap.” Aku menangkap suara Kak Yena, sahabat karib kakakku.

Kakakku membalas perkataan sahabatnya dengan sebuah pelukan erat, dan ia kembali menangis dalam dekapan Kak Yena.

Sementara, kurasakan tenggorokanku tercekat. Dadaku sesak, jantungku berdegup kencang, dan perasaanku bergemuruh.

Pikiranku melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu. Saat-saat terakhir kehidupan Ayah.

Tidak. Tidak boleh ada yang terungkap! Aku menjerit dalam hati.

Sebab sebenarnya, akar dari semua rangkaian peristiwa duka ini adalah diriku.

Aku adalah penyebab utama dari kematian Ayah.

Dan tidak ada yang boleh tahu mengenai hal ini.

***

Kilas balik pada hari terjadinya insiden. Terakhir kali kami melihat Ayah adalah saat makan malam, di mana beliau meminta izin untuk meninggalkan meja makan duluan lantaran harus melanjutkan urusan kantornya. Aku menatap nanar punggung Ayah yang perlahan menjauhi ruang makan. Dalam hati, aku sangsi bahwa Ayah benar-benar akan melakukan pekerjaannya seperti yang ia katakan. Bisa jadi, beliau hanya akan melakukan panggilan video dengan salah satu wanita yang kutahu adalah kolega kerjanya.

Perkataanku ini bukan tanpa alasan. Sebelumnya, aku pernah memergoki Ayah sedang melakukan panggilan video dengan seorang wanita cantik. Mereka bertukar lelucon, canda tawa, bahkan kata-kata romantis. Aku sadar bahwa menguping bukanlah hal yang terpuji untuk dilakukan seorang anak, tetapi rasa geramku yang lebih besar berhasil menimbun hati nuraniku untuk bersikap santun.

Hanya saja saat itu aku tak berani menangkap basah perlakuan Ayah. Pun memberitahukannya pada Ibu. Semuanya hanya kupendam sendiri. Bahkan pada Kak Gaeun aku juga tidak menceritakan apa-apa.

Satu hal yang menjadi pertanyaan bagiku. Apakah Ibu tahu?

Kenyataannya, hubungan Ayah dan Ibu terlihat baik-baik saja bagiku. Mereka tetap bertukar sapaan manis setiap pagi. Ibu selalu memberi pelukan hangat pada Ayah sebelum berangkat kerja, yang dibalas dengan kecupan lembut di kening. Ayah pun masih bersikap baik pada kami anak-anaknya.

Apakah memang benar Ibu tidak tahu? Atau Ibu hanya bersikap pura-pura tidak tahu?

Aku bahkan tak bisa menjelaskan mana yang membuatku lebih marah. Tetapi yang pasti, kini aku membenci Ayah.

“Baekhyun-a,” Ibu memanggilku lembut, “coba bawa obat-obat Ayah ke ruang kerjanya. Ibu rasa Ayah belum minum obat setelah makan. Ia pasti sangat sibuk.”

Aku menghela napas. Bahkan sudah diselingkuhi pun, Ibu masih tetap setia memperhatikan kesehatan Ayah. Kurasa Ibu terlalu naïf, mengabdikan dirinya untuk seorang pria brengsek seperti Ayah. Mengapa tidak membiarkan pria tua itu mati pelan-pelan saja digerogoti oleh penyakitnya?

Kuraih kotak obat, kulihat kumpulan obat yang ada di dalamnya. Bisoprolol, Amiodarone, dan ketika kubongkar lebih lanjut, aku menemukan sebotol kecil warfarin. Mungkin itu adalah sisa obat milik almarhum kakekku yang memang menderita thrombosis.

Lalu aku teringat akan mata kuliah farmakologi tentang interaksi obat siang tadi. Sebuah ide terlintas di benakku.

Kuketuk ruang kerja Ayah dengan sebelah tangan. Sebelahnya lagi menahan nampan yang berisi segelas air dan butiran tablet obat Ayah.

“Oh, Baekhyun-a,” Ayah melirikku sejenak, lalu kembali terfokus pada laptop-nya. “Ada apa?”

“Ayah belum minum obat,” balasku sopan.

Aku menghampiri meja Ayah, meletakkan nampan di sana dan mulai menyiapkan obat-obatan. Sesekali dwimanikku melirik ke layar laptop. Oh, kali ini Ayah tidak sedang melakukan panggilan video. Tetapi Ayah sedang sibuk melihat foto-foto wanita itu.

Hatiku panas, tetapi aku mencoba menenangkannya.

“Ini, Ayah,” kusodorkan obat-obatan itu pada Ayah. Mungkin beliau sedang terlalu berkonsentrasi pada pekerjaan kantornya atau pada foto-foto wanita itu, Ayah tidak memerhatikan jumlah tablet yang kuberikan. Beliau sepertinya tidak menyadari bahwa aku menambah jumlah tabletnya—yang berarti menambah dosis obatnya. Aku bahkan menyertakan warfarin—obat yang tak seharusnya Ayah minum—dalam jumlah tidak sedikit bersama dengan obat-obatan harian Ayah tersebut. Ayah menenggak semuanya beserta air putih yang kubawa.

“Terima kasih, Baekhyun-a. Kau boleh keluar sekarang,” ujar Ayah.

Aku mengangguk. Sengaja kupelankan langkah untuk melihat sosok Ayah terakhir kalinya.

Sambil tanganku menutup pintu ruang kerja Ayah, aku memejamkan mata. Sekarang saatnya menunggu obatnya bekerja sesuai dengan interaksi yang kupelajari di kampus tadi siang.

Maaf, Ayah. Aku melakukan semua ini demi kepentingan bersama. Kurasa kami semua, terutama Ibu, tidak pantas dipermainkan di belakang seperti ini.

-fin-

.

Glossarium:

  • Autopsi : pemeriksaan tubuh mayat dengan jalan pembedahan untuk mengetahui penyebab kematian, penyakit, dan sebagainya; bedah mayat
  • Farmakologi : ilmu tentang interaksi antara obat, sistem, dan proses hidup untuk kepentingan diagnosis, pencegahan, perawatan, dan  pengobatan penyakit
  • Interaksi obat : perubahan atau efek yang terjadi pada suatu obat ketika obat tersebut digabungkan dengan pemakaian obat yang lain, makanan, obat-obatan tradisional, ataupun senyawa kimia yang lain
  • Warfarin : obat pengencer darah yang dikonsumsi secara oral (dari mulut)
  • Bisoprolol : obat tekanan darah tinggi yang bekerja dengan mengurangi frekuensi detak jantung dan tekanan otot jantung saat berkontraksi
  • Amiodarone : obat untuk menjaga agar ritme jantung tetap normal
  • Trombosis : proses pembekuan darah yang berlebihan yang menyebabkan terjadinya sumbatan / gangguan alirah darah, bahkan bisa menghentikan aliran darah tersebut. Biasanya diobati dengan warfarin

.

Penjelasan :

Bisoprolol, amiodarone, dan warfarin tidak boleh digunakan secara bersamaan dan dalam dosis yang berlebihan. Penggunaan bisoprolol bersamaan dengan amiodarone dapat meningkatkan kadar bisoprolol dalam darah sehingga menyebabkan henti jantung. Sementara warfarin dosis tinggi dapat menyebabkan pendarahan dalam, yang biasanya ditandai dengan munculnya lebam-lebam di daerah tubuh tertentu.

A/N

  • Kacau kacau kacau
  • Sebenarnya hanya berusaha mengeksekusi salah satu prompt yang kutemukan di Pinterest, kusave, lalu tenggelam di galeri ponsel. Tapi kayaknya malah fail
  • Anyway, selamat atas 50k followers OA Line EXOFFI /tebar confetti/ It must be a long memorable journey untuk bisa sampai di titik ini ^^

 

4 tanggapan untuk “[EXOFFI EVENT 50K] HIDEOUS – by graesthetic”

  1. Aku hanya mangut-mangut dan oh-ohan aja sama penjelasan di bawah, setidaknya dijelasin kalo gak aku merasa tersesat 😂😂😂

    Sudah diduga sesuai tema event, pasti baekhyun yg bunuh. Mau blg dia salah tp namanya anak ya gimana ya pasti kecewa karena ayahnya bejat tapi kecewanya baekhyun di sini salah dicurahin aja sih, intinya cuma mau blg gila aja si baekhyun, inget matkul siang td buat dijadiin eksperimen ngebunuh ayahnya HAHAHA.

    1. hehehehehe maafkan sudah membuat pusying pusying yha tapi membantu lah ya penjelasan di bawah wkwkwkkw

      memang pada dasarnya ilmu obat2an itu kek pedang bermata dua sih bisa dipake ke arah negatif apa positif yha tergantung ‘the man behind the gun’ nya aja.. sayangnya baekki milih utk make ke arah yg negatif 😦

      anyway makasih udah mampir els… 🙂

  2. Hmmmm percaya deh yang kuliah kedokteran~ Tapi aku suka baca tentang farmasi-farmasi kayak gini meskipun aku masuk jurusan multimedia. Sesungguhnya psikologi & kedokteran adl jurusan idamanku //napa jadk bahas jurusan// DAN OEMJIH BAEKKI SEJAK KAPAN KAMU JADI PSIKO GINI YA TUHAAAAAAAN. MASA AYAH SENDIRI DIBUNUH SIH 😥 Dendam sih dendam, tapi beliau ortu kandungmu lhoo

    Tapi ayahnya emang ngeselin sih. Punya istri perhatian malah diselingkuhi. Kalo aku sih nggak kukasih obat, tapi langsung kusambit lehernya *nahloh ketauan yg sbenernya psiko siapa*

    Suka merinding bacain ff event ini. Pada kejam semua wkwkwkw ya namanya crime ya. Yekali crime tapi isinya pelukan sambil cium2 pipi #YHA

    Keep writing kakce!! Semoga menang ya!!

    1. hai jiyoo.. wah aku sangat tersanjung dirimu sampe mampir ke sini wkwkwkkw
      ehehehhee… keinget matkul farmakologi kemaren ya emang enak banget belajar interaksi obat gitu (walau pada akhirnya kena remedial juga :(((( ) waaaaa… aku juga suka psikologi loh what a coincidence!

      iyaaa… pokoknya jangan salah aja sama baekki wkwkkwkwk dia bisa dendam tahu2 main bunuh aja gitu ya meski ortu sendiri…

      terima kasih loh btw jiyoo sudah mampir 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s