[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 20)

Universe in His Eyes (New)

Title : UNIVERSE IN HIS EYES – Chapter 20

Author : Arifiart (Wattpad: @arifiart)

Length : Series/Chaptered

Genre : AU, Friendship, Romance, School-life.

Rating : PG 17

Main cast :

D.O. / Do Kyungsoo (EXO)

Oh Serin (OC)

Baekhyun (EXO)

Chanyeol (EXO)

Additional cast:

Yeri (Red Velvet)

Summary : Serin tak sengaja menyelamatkan seorang penyanyi terkenal bernama Dio dari kejaran penggemar fanatiknya. Dioㅡatau yang lebih ia kenal sebagai Do Kyungsoo, mantan kekasihnya saat SMA.

Disclaimer : OC, places and incidents are either products of author’s imagination or are used fictiously. The other characters belong to God, their company, and their families.

Previously:

Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12Chapter 13Chapter 14Chapter 15Chapter 16Chapter 17 Chapter 18Chapter 19

CHAPTER 20

(You, Again)

Mata Serin tak berhenti menatap ke arah kanan. Ia berusaha sebisa mungkin untuk menghindari pandangannya dari sosok Kyungsoo yang sedang mengemudi di sebelahnya. Ia bahkan masih bertanya-tanya ia sedang di mana dan apa yang sedang terjadi sejak lima menit yang lalu. Pikirannya tidak fokus. Serin harap ia segera terbebas dari situasi ini.

Salahnya sendiri kenapa ia mau menerima ajakan Kyungsoo untuk mengantarnya. Ya, akhirnya pikiran Serin tersadar dengan apa yang baru saja dialaminya. Kyungsoo tiba-tiba saja datang ke rumah dan menawarkan diri untuk mengantarnya ke kampus. Sebenarnya ia juga terpaksa karena ia sudah lumayan terlambat, sedangkan hari ini Chanyeol tidak ada kuliah sehingga mereka tidak bisa berangkat bersama.

Serin mengedip dengan pelan. Sekarang ia sungguh menyesali keputusannya untuk ikut dengan Kyungsoo. Rasanya aneh sekali, duduk di sebuah mobil sport dengan desain interior kelas premium dan melaju gagah hingga seluruh pasang mata di jalan mampu tertuju pada suara keras yang dihasilkan dari mesin mobil itu.

Matanya mulai memberanikan diri untuk melihat sekeliling. Ada bau khas barang baru. Mungkin mobil ini memang masih baru atau hanya saja memang jarang dipakai. Dashboard-nya juga mulus sekali tak ada goresan. Serin bahkan tidak berani menyentuh apapun yang ada di sekitarnya. Ia hanya mengepalkan kedua tangannya yang berpangku di pahanya. Serin sangat gugup sampai telapak tangannya basah. Ia sungguh ingin cepat-cepat sampai di kampus.

Lima belas menit kemudian mobil sport Kyungsoo berhenti tepat di depan jalan utama kampusnya. Serin mengecek keadaan sekitar terlebih dahulu sebelum membuat semua orang mengarahkan pandangan pada dirinya. Ia segera melepaskan sabuk pengamannya dan berniat untuk segera keluar dari mobil, namun tangannya sudah diraih oleh Kyungsoo sebelum ia sempat melakukannya.

“Serin-ah.”

“Oh?”

Kyungsoo menyerahkan ponselnya pada Serin. “Berikan nomor HP-mu.”

Serin benar-benar kaku saat Kyungsoo meminta ia untuk menyerahkan nomornya. Ia sebenarnya tidak ingin berhubungan kembali dengan pria ini tapi kenapa situasinya malah begini. Ia sebenarnya ingin menolak, tapi bukankah itu akan terkesan sangat kasar? Lelaki ini sudah datang ke rumahnya pagi-pagi bahkan mengantarnya ke kampus. Terlebih lagi mereka kan memang aslinya saling mengenal. Akhirnya dengan terpaksa Serin menuliskan nomornya di ponsel super mahal milik Lelaki Do itu dan membungkuk sedikit sebelum keluar dari mobil sebagai tanda terima kasihnya.

Kyungsoo melihat Serin sudah keluar dari mobil dan terlihat berjalan dengan canggung dan tergesa-gesa agar cepat-cepat menghilang dari pandangannya. Kyungsoo tersenyum.

“Dia masih imut.”

Apa itu tadi? Apa itu barusan? Ah, apakah Do Kyungsoo benar-benar baru saja mengantarnya sampai ke sini? Iya, Do Kyungsoo yang itu. Orang itu beda sekali dengan Do Kyungsoo yang ia kenal dulu, tapi jelas dia benar-benar orang yang sama! Serin menjambak rambutnya sendiri karena panik. Bagaimana ini? Ia masih tidak percaya bahwa dirinya baru saja bertemu lagi dengan Do Kyungsoo setelah empat tahun lamanya dan kini orang itu benar-benar sangat berubah.

Tiba-tiba ponselnya bergetar.

From 010812120193:“Semangat kuliahnya ^^” – Kyungsoo

Daebak, dia benar-benar Do Kyungsoo.”

***

“DOR!!!”

Serin terkejut setengah mati. Tiba-tiba saja Baekhyun muncul entah datang darimana. Hampir saja ia mengumpat keras sebelum lelaki itu sempat duduk di sebelahnya.

“Kenapa kau? Lesu sekali.”

Serin hanya menghela nafas tanpa menjawab pertanyaan Baekhyun. Do Kyungsoo–kemunculan pria itu benar-benar mengganggunya. Kenapa ia harus mendadak muncul lagi setelah bertahun-tahun? Apakah lelaki itu tidak punya malu? Berani sekali ia menunjukkan wajahnya setelah lama menghilang seperti pengecut.

“Hoi!” panggil Baekhyun lagi kali ini menyenggol Serin dengan bahunya. Serin kembali tersadar dari lamunannya.

“Hhh… Baekhyun-ah, kau pasti tak akan percaya dengan apa yang baru saja kualami.”

“Kenapa memangnya?”

“Aku bertemu Kyungsoo pagi ini.”

“Kyungsoo?” gumam Baekhyun terlihat sedikit mengingat.

“Oh.”

Baekhyun terlihat berpikir sebentar sambil memutar-mutar matanya ke atas. Beberapa detik kemudian kedua matanya langsung membulat dengan sempurna. “Kyungsoo? Maksudmu Do Kyungsoo yang ‘itu’?!”

Tentu saja, Baekhyun pasti juga tak kalah terkejut darinya. Temannya itu tahu betul bagaimana Serin sangat menderita saat ia ditinggalkan oleh Kyungsoo. Lelaki Do itu terlihat sangat bahagia akan popularitas barunya sebagai artis, sementara Serin berusaha bangkit sendirian dari patah hatinya setelah ditinggal debut olehnya.

“Bagaimana bisa?” tanya Baekhyun semakin penasaran dengan kelanjutan cerita Serin.

“Dia datang ke sini.”

“Eh? Tidak mungkin!”

“Benar, beberapa hari yang lalu ia datang ke sini sedang berlarian karena dikejar para penggemarnya, dan aku tak sengaja menolongnya kabur dari kerubungan penggemar itu. Tapi aku sama sekali tidak tahu kalau itu Kyungsoo. Sepertinya dia memang sengaja mendatangiku karena waktu itu jelas sekali kulihat dia berlari ke arahku.” cerita Serin dengan ingatan yang masih jelas saat ia mengetahui bahwa orang asing yang ditemuinya adalah Do Kyungsoo.

“Apa tujuannya datang kemari?”

“Entahlah. Bahkan ia tidak mencoba untuk menjelaskan apapun padaku. Hanya datang begitu saja seperti hama. Bahkan ia datang ke rumahku hanya untuk mengantarku ke sini.”

“Serius kau?!” Baekhyun tidak percaya dengan apa yang baru dikatakan gadis itu.

“Aku bodoh sekali. Masa aku tiba-tiba mengiyakan begitu saja saat ia membuka pintu mobilnya untukku. Wah, aku pasti sudah gila.” Serin merasa sangat malu sampai menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.

“Loh? Kau… datang ke sini diantar Kyungsoo?”

“Oh.” jawab Serin masih menutupi wajah dengan kedua tangannya.

“Wah… Oh Serin, kau ini bodoh, ya?”

Serin melepaskan telapak tangan yang menempel di wajahnya tadi. Ia menghembuskan setengah napasnya. “Kau benar. Aku bodoh sekali.”

***

“Agh!!! Ponsel bodoh!” teriak Chanyeol sambil menyandarkan bahunya dengan gemas dan hampir saja jatuh terjungkal sebab kursi yang didudukinya tidak memiliki sandaran kursi. Ini sudah pertarungan keempatnya dan ia masih belum bisa melampaui level permainan yang ada di ponselnya.

Kling. Bunyi bel pintu toko kelontong langsung membuatnya kembali ke posisi berdiri. “Selamat datang.” sapanya pada seorang pelanggan yang masuk ke tokonya.

Akhir-akhir ini band Chanyeol sedang sepi panggilan manggung, sedangkan ia sudah memasuki tahun akhir di kampus. Seharusnya ia sibuk mencari pekerjaan magang di luar sana tapi ia terlalu malas sehingga ia berakhir dengan mengisi waktu luangnya dengan kerja paruh waktu di sebuah swalayan kecil dekat rumahnya. Terlalu luang sebenarnya, ia bahkan sampai bosan hanya duduk sambil menyapa dan memeriksa belanjaan para pelanggan yang datang. Untungnya, karena toko tersebut jaraknya cukup dekat dari rumah, Serin dan Baekhyun jadi sering sekali mampir menemaninya.

Seorang gadis muda menaruh kimbap dan kopi kalengan di meja kasir. “Tolong rokoknya satu bungkus.”

“Baik.” jawab Chanyeol tanpa menoleh ke arah gadis tersebut, kemudian memindai barang-barang yang dibeli pelanggan tersebut. “Totalnya delapan ribu won.”

Oppa?” panggil wanita itu.

Chanyeol mulai melihat ke arah pelanggan yang memanggilnya barusan. Seorang gadis muda berambut pirang dan memakai kacamata hitam.

“Siapa…”

Gadis tersebut melepas kacamata hitamnya dan memperlihatkan mata cokelatnya yang indah dengan bulu mata super lentik. Chanyeol menaikkan alisnya. Wanita ini tampak tidak asing. “Kim Yeri?”

“Benar kan? Chanyeol oppa?” sapanya dengan semangat.

Chanyeol berkali-kali mengedipkan matanya. Benarkah ini Kim Yeri yang dulu sempat mengejarnya saat masih SMA? Wow, dia sangat berbeda. Yeri yang dulu imut-imut kini rambutnya dicat pirang, dan makeup-nya jelas sekali. Maksudnya, dia berubah jadi sangat mencolok… dan cantik.

“Sudah lama sekali, ya.” sahut Yeri, menyambung kalimatnya tadi yang tidak dibalas oleh Chanyeol.

“Ah, iya. Aku… kau… ah, maksudku. Wow, aku bahkan tidak tahu mau bilang apa.” Chanyeol terkekeh. “Sudah sukses kau ya sekarang.” matanya menunjuk ke penampilan Yeri.

“Kau juga.” Yeri melakukan hal yang sama pada Chanyeol.

Entah itu maksudnya sarkasme atau bukan. Yang jelas penampilan Chanyeol saat ini kusut sekali. Ia belum sempat mandi karena hari ini kedapatan shift pagi, rambutnya keriting karena tidak disisir sejak kemarin, terlebih lagi ia sedang mengenakan rompi khas pekerja paruh waktu di toko, yang tentu saja terlihat kontras dengan penampilan Yeri saat ini.

Yeri menaikkan sebelah sudut bibirnya. Ia membuka dompet dan menaruh uang di meja kasir. “Kurasa kini kau sedikit menyesal sempat menolakku dulu.” katanya sambil mengangkat kopinya kemudian langsung berjalan ke luar tanpa mengucapkan pamit.

Chanyeol terdiam. Ia tak ingin menyahut kalimat dari gadis itu. Matanya hanya mengikuti sosok Yeri yang perlahan menjauh dari hadapannya.

***

Kyungsoo melihat ponselnya berkali-kali di tengah-tengah pemotretan. Sudah setengah hari berlalu, namun belum ada tanda-tanda balasan dari Serin.

Sibuk kah? Atau memang dia tidak ingin membalas pesanku?

Manajernya terlihat sibuk mondar-mandir sambil menelepon. Ia kelihatan gelisah sekali. Sepertinya karena grup wanita yang dijanjikan mengikuti pemotretan bersama Kyungsoo harusnya sudah datang sepuluh menit yang lalu malah terlambat dan belum tiba di lokasi sampai saat ini. Grup wanita tersebut tak lain adalah Red Velvet, junior Kyungsoo di SM. Walau sebenarnya Kyungsoo bergabung dengan perusahaan itu jauh setelah para gadis itu, namun secara teknis ia adalah senior di industri ini karena debut lebih dulu. Oleh karena itu, ia harusnya berhak komplain.

“Ah, permisi. Permisi, maaf kami datang terlambat.” terdengar suara beberapa gadis yang baru masuk ke lokasi. Mereka berjumlah lima orang, dan semuanya membungkuk kepada seluruh staff yang sedang bekerja.

“Cepatlah. Waktuku sudah terbuang banyak karena keterlambatan kalian.” ujar Kyungsoo dari tengah ruangan. Ia mengatakannya sambil duduk di kursinya tanpa menoleh ke arah Red Velvet. Mendengar sindiran dari Kyungsoo, para gadis itu dan manajernya langsung bergegas ganti baju yang dibantu oleh para staff.

“Yeri-yah! Semalam kau ngemil, ya?” terdengar suara manajer Red Velvet yang mengeluhkan wajah Yeri yang sedikit membengkak. “Sudah kubilang kan, kau tidak boleh makan apapun sampai pemotretan ini selesai!”

“Aku tahu! Hanya saja tadi aku lapar sekali. Aku merasa seperti akan mati, eonni.”

Suasana di belakangan sangat ribut sejak kedatangan gadis-gadis itu. Kyungsoo memejamkan matanya, mencoba menghilangkan sakit kepala yang sebentar lagi ingin menyerangnya. Ia sungguh tidak tahan dengan bising dan suara berisik, terlebih lagi matanya sudah mulai lelah dengan lensa kontak yang dipakainya sejak tadi. Ia memijat batang hidungnya untuk menghilangkan tekanan yang dirasakan kepalanya. Rasanya ingin tertidur sebentar, tapi berisik sekali.

Mata Kyungsoo terpejam selagi ia menyandarkan kepalanya ke tangannya yang terpangku oleh lengan kursi. Ia mulai memikirkan hal-hal yang membuatnya tenang. Sayup-sayup ia seperti mendengar suara Serin sedang menyanyi lembut di dekat telinganya.

.

.

“Kau tidur?” tanya Serin.

“Tidak.” Kyungsoo tersenyum sambil memjamkan matanya.

“Hey, aku malu sekali. Kau saja yang nyanyi.”

Kyungsoo terkekeh pelan. “Tidak mau. Gantian sekali-sekali, biasanya selalu aku yang bernyanyi untukmu.”

“Kalau begitu ajarkan aku cara menyanyi yang benar. Sudah tahu aku tidak bisa bernyanyi.”

“Oke, satu jam sepuluh ribu won.”

“Mahal!”

Kyungsoo tertawa keras. “Aku tidak pandai mengajari orang. Aku bisa menyanyi karena memang bakat dari sananya, itu saja.”

“Sombong sekali, ya, Tuan-Segala-Bakat.”

“Bercanda.”

“Pantas saja kau buruk sekali saat mengajariku matematika. Pintarmu hanya untuk dirimu sendiri saja.”

“Hey!”

“Hehe, bercanda.”

“Dasar.”

Malam itu hanya ada percakapan ringan via telepon di antara mereka berdua. Hal yang sangat lumrah terjadi pada pasangan-pasangan muda usia sekolah. Tak jarang mereka melakukannya sampai salah satu tertidur sendiri di tengah-tengah telepon.

.

.

Sang manajer melihat Kyungsoo sedang duduk memejamkan mata dengan kepala yang bersandar pada tangannya. Ia membiarkannya saja karena tahu artisnya itu benar-benar kurang istirahat. Kalau dipikir-pikir, kasihan juga dia. Biarkan saja, lah. Ia melirik Kyungsoo sekali lagi, namun lelaki itu malah tersenyum di tengah tidurnya.

***

“Aku mencintaimu.”

“Serin-ah, kita jangan sampai putus, ya.”

“Serin-ah…”

“Serin-ah…”

“Oh Serin!!!”

GLEK! Serin sedikit tersentak. Ia tak sengaja ketiduran di tengah-tengah kelas. Suara dan bayangan Kyungsoo muncul di mimpinya. Jelas sekali. Rasanya sangat nyata. Bahkan dari cara pria itu memanggil namanya. Rasanya seperti baru terjadi kemarin. Serin memijat keningnya. Ah, sepertinya akhir-akhir ini ia terus memikirkan lelaki Do itu sampai kebawa mimpi.

Sialan kau, Do Kyungsoo.

Dadanya mendadak terasa sesak. Serin memegang dadanya, rasanya seperti ada batu yang tiba-tiba masuk dan menghalangi nafasnya. Di saat yang sama ia juga merasa berdebar di tengah-tengah rasa sesak itu. Oh, perasaan apa ini?

Selama ini hidupnya biasa-biasa saja sampai lelaki bernama Do Kyungsoo itu masuk ke kehidupannya lagi. Ia bahkan tidak mengerti apa yang sebenarnya diinginkan lelaki itu. Ia pergi begitu saja dan kemudian datang lagi sesukanya seperti kucing lewat. Tapi jujur saja sebenarnya Serin juga sedikit senang saat Kyungsoo tiba-tiba datang menemuinya lagi. Ya, siapa yang tidak senang bertemu mantan yang sudah berubah jadi sangat keren seperti dia? Lucu sekali, Oh Serin, mungkin kau saja yang merasa begitu. Lagipula, apakah orang itu layak disebut ‘mantan’?

Drrrrrttt… Serin merasakan ponselnya bergetar. Diam-diam ia mengeluarkan ponselnya sambil mengamati professor yang sedang menjelaskan materi kuliah di depan kelas agar tidak ketahuan.

From 010812120193: “Nanti malam ada waktu?”

–To Be Continued–

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s