[EXOFFI EVENT 50K] The Protagonist Revenge — Joongie

TPR

The Protagonist Revenge

Chanyeol x OC | Vignette | Tragedy | PG-17 | Joongie © 2018

.

“Aku mau balas dendam,” tegasnya. Mata segelap batu oniks itu menyala. Yui, pacar Sehun yang kubunuh seminggu lalu. Saksi kunci terlampau tolol. Bukannya lapor polisi, malah menemuiku usai kekasihnya jadi abu.

Kupadamkan rokok tanda setuju. Tidak masalah. Mati cuma proses singkat jadi mayat. Dari atas ke bawah tanah. Membusuk bak daun gugur tanpa seorang pun sadar soal eksistensiku. Yui menggamit tanganku, menyeretku sesuka hati. Meluntang-lantungkanku dalam keheranan melihatnya menekan kode apartemen.

“Kau tidak boleh keluar dari sini,” titahnya, mendelik sewaktu menyampirkan mantel ke tiang. “Tapi kau bebas lakukan apa pun.”

“Oh, ini penjara?” Kutengok sekitar. Bersih, hangat dan pink. “Dan balas dendammu?”

“Tunggu saja.” Yui berlalu ke dapur, melingkarkan celemek di pinggang dan menarik pisau dari sarung. Apartemennya kecil sehingga dapur terbuka. Caranya tersenyum saat mengasah pisau bagai siap mengolahku.

“Silakan,” tawarku meninju dada. “Selesaikan dengan cepat.”

Yui tergelak. “Aku cuma mau potong sayur. Kenapa? Takut?” Diletaknya pisau di kabinet dan berjongkok membuka kulkas. “Tidak masalah kan, malam ini menunya kari?”

Siapa peduli? Bukannya bagus kalau membiarkanku mati kelaparan? Aku menjelajah, keluar masuk ruangan, sentuh ini itu dan menggunakan kamar mandi. Potret di dinding menggelitik, Sehun dan Yui berangkulan intim. “Kau cantik di foto ini,” cuapku mengetuk kaca pigura, Yui cuma mengangguk. “Tapi pacarmu merepotkan, sekarat saja masih berisik. Harusnya kurobek mulutnya sekalian ya, ‘kan?”

Hening. Adukan centongnya melambat.

“Marah? Mau membunuhku?” Alisku terangkat.

“Tidak.” Santai Yui meneteskan kuah ke telapak tangan, mencicipi rasa kari. “Makanan hampir siap, duduklah di meja.”

“Kau tahu, aku bisa membunuhmu.”

“Aku tidak melarang.” Cara Yui tersenyum menjengkelkan.

Karinya lumayan, pedas dan cocok di lidahku. Sambil bertopang dagu kuamati Yui, mencari jejak kesedihan di parasnya. Pacarnya mati, tapi matanya terlalu hidup untuk disebut berduka. “Racun apa yang kaucampurkan?”

Yui mendesah, menaruh sendok ke piring. “Kita makan dari panci yang sama. Jangan menggurui, aku punya cara sendiri,” tukasnya, lalu membawa piring kotor ke wastafel.

Cuma ada satu kamar, itu yang Yui katakan sebelum memaksaku tidur seranjang. Bersandar di dadaku, memeluk pinggangku erat—seolah kami sepasang kekasih. “Kau mau membunuhku saat tidur?” Aku menoleh, menyelidik langsung ke matanya.

“Tentu saja tidak,” Yui menyangkal beriring kuap, dikecupnya pipiku. “Masih ada esok untukmu. Tidurlah. Selamat malam.” Lampu meja dipadamkan. Semua kelam, sepekat renunganku sekarang.

Yui menepati ucapannya. Ada sarapan buatku, air hangat dan segala hal yang siapa pun belum pernah siapkan untukku. Aku ini gelandangan, jalanan adalah ibuku. Ringisan tak tertahan saat kusuap nasi hangat. Balas dendam macam apa ini? Dia bahkan meninggalkan makan siang untuk dihangatkan sebelum berangkat. Lalu mengusap kepalaku, memintaku menunggu dan jadi anak baik. Memangnya aku anjing?

Polisi belum menetapkan tersangka, beritanya muncul di TV. Malam itu badai, salju tumpah ruah menyamarkan jejak. Itu artinya Yui menampung buronan. Poster wajahku mungkin segera berserak di jalan. Idiot. Bahkan tidak menanyakan alasanku menikam Sehun. Pria itu punya segalanya. Membuatku kesal, merasa tidak adil. Aku benci melihatnya bahagia, menggandeng Yui dan memamerkan cinta mereka. Tidak ada alasan lain, sebab aku antagonis tak beradab. Andai Sehun tidak memohon dengan sisa napasnya, mungkin Yui berakhir sama.

Dasar sok keren.

 

***

 

Saat pulang Yui akan menghambur kepadaku. Menanyakan apa saja yang kulakukan seraya menyiapkan makan malam. Seolah aku punya banyak hal untuk diceritakan, ketika seharian dikandangkan. Hari-hari berlalu. Entah bagaimana aku terbiasa, termasuk mengenakan pakaian dan barang peninggalan Sehun. Yui berhasil melatihku jadi anjing rumah, padahal kesempatan untuk kabur selalu ada. Bersikap hangat, menanyakan kesukaanku dan merapatkan selimut. Aku tahu semua pura-pura, menjebakku supaya merasa bersalah.

Ini perang mental.

“Apa kau selalu masak untuk Sehun?”

Yui mengangguk, menyumpit seiris daging untukku. “Bagaimana? Aku belum pernah buat enoki beef roll, jadi tidak yakin soal rasanya.”

“Lumayan,” sahutku cuek. Yui berhenti makan, antusias bertopang dagu mengamati caraku mencerna. “Apa aku mirip panda makan bambu?” Dia tertawa saat mangkuk kuturunkan.

Yang paling mengusik, Yui mengasah pisaunya setiap malam sampai gigiku ngilu. Jelas sengaja. Kini dia berbaring menonton TV di pahaku, terkikik sambil mengeruk camilan. Sekali waktu Yui akan meraih pundakku, memaksaku merunduk dan kami berciuman. Menuntaskan hasrat, bukan saling ingin, tapi saling butuh. Menggendongnya ke ranjang seperti rutinitas. Mesti diakui Yui yang berpostur mungil itu cantik, rambutnya hitam bergelombang di sekitar wajah dengan rona merah muda di pipi.

“Kapan kau akan menyembelihku?” Kusentuh dahinya yang berkerut terbawa mimpi. Atau mungkin balas dendamnya adalah menjadikanku sebagai pengganti Sehun.

 

***

 

Kapan Yui akan pulang? Aku tidak tahu menunggu akan semeresahkan ini. Dia meninggalkan makanan yang cukup, tapi pergi empat hari tanpa kabar agak keterlaluan. Berdiri di antara tirai, aku menggigiti kuku. Saluran TV dipenuhi warna merah, hijau dan emas, serta lagu-lagu rohani. Ini malam Natal. Salju turun kian lebat, aku mulai berpikir sesuatu mungkin terjadi padanya. Dia tidak mati di jalan, ‘kan? Potret Sehun tempo hari mencuri atensiku, dari posisiku sekarang membuatnya seakan menatap menertawaiku.

“Kau puas sekarang? Anjing sepertiku sudah dibuang.”

Aku baru akan bergelung dalam selimut waktu namaku diteriakkan dengan nyaring. Yui kembali, wajahnya makin tolol ditambah bau alkohol. “Aku pulang! Aku juga bawa kue. Kau rindu aku? Soalnya aku rindu padamu,” kekehnya, memamerkan kotak kue di tangan.

Pembohong, berdiri tegak saja tidak bisa.

“Kau berniat menjadikanku Hachiko atau apa?” dengusku, bertolak pinggang setelah memapahnya ke sofa. “Ke mana saja kau? Pergi tanpa bilang-bilang. Pasti sengaja!”

“Memangnya aku harus memberitahumu?”

Aku berani bersumpah sedetik tadi matanya dialiri kebencian, membuatku merinding. Yui duduk tegak, seolah kesadarannya barusan pulih. Dia menarik napas tajam, mencoba berdiri dengan menekan lutut namun terhuyung. Aku menangkap sikunya yang sedingin es, tetapi Yui mendorongku menjauh.

“Belum makan malam, ‘kan? Kau pasti lapar.” Yui menggenggam tinggi rambutnya, menguncirnya dengan karet yang tadi digigitnya. Dia mengasah pisaunya lagi. Matanya sayu, wajahnya pucat tanpa riasan. Gerakannya diperlambat.

Bunyi gesekan besi dan batu membuatku mengucurkan keringat dingin. Perutku bergolak, sesuatu bergerak naik ke dadaku seakan ingin muntah. Bau anyir darah rasanya bisa kucium lagi. Rintihan Sehun malam itu bergema di telingaku. Aku menarik tangan Yui sehingga pisau sialan itu tercampak.

“Ada apa?” Yui berbalik, terlalu dingin untuk dikatakan kaget.

“Sudah cukup. Ampuni aku,” ungkapku, tidak bisa kupercayai meluap begitu saja. Keberanianku tak tersisa untuk sekadar melihat ke matanya. “Aku mohon ….”

Yui melingkarkan lengan di leherku. “Dan kenapa aku harus?”

Kepalaku pening, buntu akan alasan. Kejahatanku tak termaafkan. Dalam kebingunganku Yui berjinjit mencium lembut bibirku. Aku bereaksi, menarik pinggulnya mendekat, membungkuk untuk membalas ciumannya. Kami berhenti untuk bernapas, tersengal-sengal kuakui, “Cinta … aku mencintaimu, Yui.”

Tubuhku langsung terjungkang dihempas Yui yang kini menjulang mengayunkan pisau ke arahku dengan bengis. “Sudah kubilang kan, aku mau balas dendam. Aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu!” Air matanya bercucuran, ledakan emosi menguasainya. “Semua ini kulakukan agar kau mengerti!”

Pertama kali dalam hidup, aku segemetar ini. Tanpa sanggup kuhentikan, pisau menghujam dada Yui. Darah merembesi kemeja sutra putihnya dengan cepat, mewarnainya jadi merah. Yui jatuh berlutut, tertawa kesetanan kala tubuhku terlalu lemas untuk bergerak. Dia tusukkan semakin dalam, hingga darah kental mulai menetes dari gagang pisau.

“YUI!” Mataku membelalak.

“Kau tahu apa yang bisa lebih kuat dari cinta dan sanggup merubah seseorang?” Yui bertanya, suaranya serak seperti bisikan saat sinar di matanya berangsur hilang. Dia tersenyum, mengusapkan tangan bercelomok darah ke pipiku dan menyatukan kening kami. “Itu kebencian. Jantungku tidak akan pernah berdetak untukmu. Jadi bagaimana rasanya kehilangan orang yang kaucintai, Chanyeol?”

 

Fin

One thought on “[EXOFFI EVENT 50K] The Protagonist Revenge — Joongie”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s