[EXOFFI EVENT 50K] Ossessione – Ladydayna

Oh Sehun featuring Kim Junmyeon and Bae Irene || Crime || PG-17

 

.

.

.

Pagi itu, kediaman keluarga Kim ramai di kunjungi warga. Kebanyakan dari mereka saling berbisik satu sama lain, berbagi informasi terkait keberadaan ambulan yang diiringi jerit tangis Kim Junmyeon di awal hari senin.

Irene, kekasih yang di persunting oleh Junmyeon tiga bulan yang lalu, mendadak tergeletak bersimbah darah di kamarnya. Tak ada satupun orang yang mengetahui sampai Junmyeon pulang dari tugas dinasnya di pagi hari.

Kudengar adiknya di rumah saat kejadian.

Tapi adiknya kan seorang disabilitas.

Oh Sehun, adik yang dibicarakan, hanya bisa terdiam kaku di samping Junmyeon. Matanya sesekali melirik ke sekitar warga dan polisi di samping kakaknya.

Sehun lahir tanpa kemampuan mendengar. Dan karena kekurangannya ini, ia pernah mengalami perilaku bullying yang dilakukan oleh teman-teman sekelasnya. Bukan main, bullying yang di terimanya bahkan sampai membuat lengan Sehun patah dan muka yang babak belur akibat di kerjai habis-habisan.

Semenjak kejadian itu, Sehun menjadi tertutup. Ia tak pernah pergi keluar. Sekolahnya dilakukan dirumah. Ia tak memiliki teman selain ayah, ibu, dan kakak-nya, Junmyeon.

Selepas ayah dan ibunya meninggal akibat kecelakaan pesawat, Sehun pernah tinggal bersama neneknya di Daegu. Tapi keadaanya buruk, ketika Sehun sering mengamuk dan meresahkan banyak orang. Akhirnya dengan terpaksa, Junmyeon membawa Sehun untuk tinggal bersamanya.

Semuanya berjalan begitu sulit di bulan pertama. Karena Sehun terkadang masih mengamuk dan menyebabkan Junmyeon dan sang istri kesulitan. Tetapi dibulan berikutnya, semua membaik. Sehun lebih mudah di kontrol. Ia tak lagi mengamuk, meskipun lebih banyak ia menghabiskan waktunya di kamar guna menyendiri, tak jarang Sehun juga meninggalkan kamarnya. Entah sekedar duduk di depan teras, atau pergi ke supermarket di ujung gang.

“Apa tidak ada orang lain di tempat kejadian saat itu?”

Junmyeon melihat adiknya yang tampak kebingungan.

“Tidak. Hanya adik saya..” polisi yang disapa Chanyeol itu lantas segera menulis informasi yang di sampaikan Junmyeon padanya. “..tapi dia tuli.”

Chanyeol berhenti. “Apa mungkin dia melihat kejadiannya?”

Junmyeon menggeleng sebagai balasan. “Dia bilang ada di kamar seharian, dan alat pendengarnya hilang ketika pergi ke supermarket minggu malam. Aku baru saja membelikannya yang baru.”

Chanyeol menatap curiga kepada Sehun. Berulang kali ia melakukan kontak mata dengan si adik. Tapi responnya justru tidak kelihatan baik. Matanya yang paling jelas; menampakkan ketakutan, tapi sekaligus juga risih dan kesal dengan sesuatu.

“K-kak.”

Junmyeon menengok ketika Sehun memanggilnya terbata. Melihat sang adik terlihat ketakutan saat di tatap Chanyeol dengan serius, Junmyeon lantas segera meminta maaf pada si Polisi.

“Adikku punya trauma dengan kehidupan sosialnya.”

.

“Sial, polisi itu benar-benar mengangguku.”

Sehun menggebrak meja kayu dihadapannya. Matanya terpejam seketika. Menarik napas dalam-dalam, Sehun mencoba menenangkan diri.

“Tenang Oh Sehun, mereka tidak akan mencurigaimu. Mereka tidak akan tau kalau kau yang membunuhnya. Kau itu cacat. Tidak ada yang akan mencurigaimu.”

Sehun membuka mata dan melihat pantulan wajahnya yang tampak berdampingan dengan sebuah foto perempuan di dinding dalam laci besi miliknya.

“Kau yang bodoh karena menolakku. Sudah kuperingatkan nasibmu akan buruk jika tidak bersamaku.”

Sehun memandangi lama foto perempuan yang pagi ini ditemukan bersimbah darah di kamarnya. Perempuan yang di tikamnya tiga kali dengan pisau, perempuan yang selama ini di cintainya.

“Aku mengenalmu lebih dulu, dan kau memilih dia. Sayang sekali. Itu berarti kau tidak boleh dimiliki siapa pun!”

.

Sore hari, Sehun mengamuk hebat selepas Junmyeon pergi bersama seorang polisi bernama Baekhyun. Katanya, ia perlu menjelaskan beberapa hal terkait kasus istrinya di kantor polisi.

Persetan!”

Sehun mengambil napas dalam-dalam. Matanya terpejam, otaknya berputar. Polisi-polisi itu pasti mengetahui sesuatu. Dia harus segera bertindak.

“Berpikir Sehun, berpikir!”

Suara derit pagar yang terbuka seketika menginterupsi Sehun yang tengah berpikir. Samar-samar ia bisa mendengar percakapan beberapa orang dari luar rumah melalui jendela kamarnya.

“Semua hal menjadi mungkin ketika pembunuhan terjadi Junmyeon-ssi.”

Sehun mengepalkan tangannya kala melihat sosok polisi yang sama berdiri bersama Junmyeon di depan teras.

“Tapi dia sungguh bukan orang yang akan membunuh orang lain.”

Sehun merutuk dalam hati ketika sepasang mata menangkap keberadaannya di balik jendela.

.

Junmyeon akhirnya masuk setelah dua menit berlalu. Dengan mata yang cemas, ia menyapa Sehun yang kini berada di dapur.

“Apa yang kau lakukan?”

Sehun memakai alat pendengarannya. Dan sungguh, ia melihat tatapan kakaknya yang berbeda. Sial, apa yang dikatakan keparat tadi, pikir Sehun gusar.

“Aku lapar, Kak.”

“Ah, maaf. Kakak tidak ingat apa-apa karena masalah ini.”

Sehun mengangguk pelan, “Tidak apa-apa. Pasti Kakak lelah. Biar aku memasak sendiri. Ada ramyun, Kakak juga ingin?”

“Tidak apa. Kakak akan ke ruang kerja dulu.”

Sehun baru saja hendak bernapas lega karena Junmyeon tidak bertanya macam-macam padanya. Tapi Junmyeon yang tiba-tiba berbalik, membuat Sehun kembali waspada.

“Sehun, kau bukan orang yang menyimpan dendam kan?”

Sehun mengeryit, “Maksud kakak?”

“Memukuli orang, sampai menghabisinya. Kau bukan orang seperti itu kan?”

Sehun menggeleng kuat. Mati-matian ia menahan amarahnya dalam hati. Jelas, si polisi caplang itu sudah mempengaruhi kakaknya.

.

Malam hari, Junmyeon terjaga di ruangan kerjanya. Kepalanya sakit memikirkan banyak hal tentang Sehun dan Irene. Tapi tak sedikit pun matanya ingin tertutup.

Ia masih ingat dengan ucapan Chanyeol yang mengatakan adiknya lah yang membunuh sang istri. Junmyeon jelas menimpal. Adiknya mana mungkin melakukan itu.

Penasaran, Junmyeon lantas pergi ke kamar adiknya. Baru ia mengepalkan tangannya di bibir pintu, maksudnya hendak mengetuk, suara debuman keras terdengar jelas masuk ke telinganya.

Buru-buru ia membuka pintu yang tak terkunci itu. Takut terjadi sesuatu dengan adiknya.

“Sehun! Kau baik-baik—”

Sehun mengamuk. Kamarnya hancur berantakan. Tapi yang membuat Junmyeon bingung adalah..

“Kenapa ada banyak alat pendengar..” Jumnyeon terbelalak. Belasan alat pendengar berserakan di kaki Sehun. “Tidak mungkin..”

“Atas ijin siapa Kakak masuk?”

Junmyeon terkejut dengan suara mengintimidasi Sehun. Ini bukan Sehun yang dikenalnya.

“Kau berbohong soal alat pendengaran yang hilang?!”.

Sehun menggaruk tengkuknya kasar.

“Tidak. Kalau begitu, kau juga membunuh—”

Junmyeon tak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Ia jatuh ke tempat tidur Sehun yang kacau balau. Bagaimana bisa adiknya membunuh istrinya sendiri!

Sehun membuka laci besi yang sudah setengah hancur akibat tinjunya. Dengan setengah takut, Sehun menodong Junmyeon dengan sebuah pistol yang ia dapat dari laci tersebut.

“Se-Sehun..”

“Kakak banyak bicara. Harusnya Kakak diam saja!”

Junmyeon terkesiap. Baru saja ia hendak menahan Sehun, sebuah bunyi pistol terdengar nyaring di telinganya.

“Kakak harusnya percaya padaku saja. Bukan bermain denganku.”

 

—fin.

One thought on “[EXOFFI EVENT 50K] Ossessione – Ladydayna”

  1. Waduh kok sehunnya serem bat :” Lagian itu kenapa sih irene dibunuh? Masih blom dijelasin kronologi pembunuhannya atau otakku aja yang gak pernah nyampe tiap baca crime? Wkwkwkwk tapi wajah sehun mendukung bgt sih, trus aku bayangin rambut dia di jaman overdose //ini kenapa ngomongin rambut//

    Ada beberapa kata yg salah sih penulisannya hehe but overall, nice fic

    Keep writing!! Semoga menang ya!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s