[EXOFFI EVENT 50K] Speak Out – ShanShoo

df61a33e7759713d82fdb6a26b906554

 

ShanShoo’s present

EXO’s Chanyeol with OC’s || sad, angst, marriage-life || vignette ||  PG-15

Disclaimer : I just own the plot!

WordPress : ShanShoo || Wattpad : @Ikhsaniaty

—oOo—

Park Chanyeol keluar dari sedan putih mengilat yang ia parkirkan di depan rumah, kemudian beranjak berjalan ke sisi mobil demi membukakan pintu penumpang bagian depan untuk seorang perempuan yang duduk di sana.

Chanyeol tersenyum, tangan kanannya terulur dan disambut hangat oleh Sua Kim seraya terkekeh kecil. Mereka berdua pun berjalan menuju rumah sambil berpegangan tangan.

“Mau kumasakkan sesuatu?” tanya Chanyeol pada Sua.

“Hm… oh! Anak kita bilang, dia ingin makan bulgogi dan juga japchae buatanmu. Katanya, masakanmu sangaaat enak!” serunya antusias, sementara sebelah tangan lainnya mengusap-usap perutnya yang masih rata karena kehamilannya baru berusia tiga minggu.

Chanyeol tertawa kecil. Kepala wanita itu diusaknya penuh kasih sayang, sebelum ia membuka pintu rumah yang tidak dikunci sama sekali.

Sua mengerutkan keningnya. “Chanyeol, pintu rumahnya tidak dikunci?” tanyanya, mencegah tangan Chanyeol yang hendak mendorong pintu rumah lebih lebar.

Chanyeol menyahut santai, “Tidak.”

Sua menunjukkan tatapan was-was. “Apa mungkin…?”

Chanyeol malah tersenyum tipis. “Masuklah. Akan kumasakkan makanan kesukaanmu itu,” katanya sembari memeluk pinggang Sua.

Setibanya di ruangan tengah, mereka mendengar suara seorang perempuan berseru dari arah dapur, “Chanyeol, kau sudah pulang?”

Reyna Park―perempuan tersebut―berjalan tergesa menuju ruang tengah sambil merapikan pakaiannya yang sedikit kusut.

“Tumben sekali…” Senyuman cerah yang semula menghiasi wajahnya lantas direnggut paksa kala ia mendapati Chanyeol tidak pulang sendirian, melainkan bersama seorang perempuan berparas cantik. Namun, yang lebih mengejutkannya lagi, ia melihat Chanyeol merangkul mesra pinggang wanita itu di hadapannya.

“Chanyeol, kukira… istrimu sedang tidak ada di rumah?” bisik Sua.

Chanyeol menyahut cepat, “Kebetulan hari ini toko bunganya tutup, jadi dia tinggal di rumah seharian.”

“Oh….” Sua mengangguk kecil mendengarnya, kemudian tersenyum kecut.

“Chanyeol,” Reyna menahan napas, “siapa… perempuan ini?”

Chanyeol membawa Sua berjalan mendekati Reyna. “Baiklah, kuperkenalkan dia padamu, Reyna. Dia Sua Kim. Kekasihku.”

Chanyeol bisa melihat perubahan raut wajah istrinya. Pandangan Reyna melebar, napasnya tak beraturan, lalu Chanyeol mendapati buliran bening yang menumpuk di sepasang mata wanita itu.

“Chanyeol…” Reyna tidak mampu melanjutkan perkataannya, sebab isakan tangisnya memaksa keluar, tetapi Chanyeol sama sekali tidak memedulikannya. Ia hanya menatap Reyna malas yang sedang berusaha merangkai kata. “K-kenapa kau melakukan ini padaku…?”

“Kupikir kau sudah tahu alasannya?” Chanyeol balas bertanya, kepalanya sedikit dimiringkan, memerhatikan Reyna yang mulai menunduk, menyeka air matanya kasar.

Berhubung Reyna tidak menyahut apa-apa, maka Chanyeol berkata lagi, “Pernikahan kita sudah berjalan hampir empat tahun lamanya, Reyna, tetapi sampai sekarang kau tidak bisa memberiku keturunan.”

Tubuh Reyna menegang. Chanyeol menyadari itu.

“Alasanku membawa Sua kemari malam ini adalah untuk memberitahumu, bahwa Sua tengah mengandung anakku, dan aku akan segera menikahinya.”

“A-apa?!”

Oh, baiklah, adakah kalimat lain yang kau miliki untuk menghancurkan hati istrimu yang sudah serapuh itu, Park Chanyeol?

Ada, tentu.

“Aku juga akan menceraikanmu secepatnya.”

Sua menggenggam erat sebelah tangan Chanyeol. Kala menoleh, Chanyeol menangkap ekspresinya yang sukar ditebak, dengan bibir bawahnya yang digigiti keras-keras.

Reyna bergeming. Jantungnya berdebar keras, menimbulkan sensasi ngilu dan nyeri yang tak berkesudahan. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya yang kian menirus.

“Tapi aku mencintaimu,” ujar Reyna akhirnya. “Y-ya… aku… aku memang belum bisa memberikanmu keturunan, tetapi bisakah kita… kita bersabar sedikit lagi? Bukankah kau juga sudah berjanji…”

“Maaf, aku tidak bisa,” potong Chanyeol, telak. “Aku tidak bisa menunggu selama itu. Karena dapat kupastikan, sampai kapan pun kau tidak akan pernah bisa memberiku keturunan.”

Emosi Reyna perlahan tersulut. Tangannya yang bergemetar tanpa asa menampar pipi Chanyeol. Sua terkejut, lalu mengusap bekas tamparan di pipi Chanyeol, lantas bertanya, “Chanyeol, kau tidak apa-apa?”

“Tentu saja,” jawabnya, tertawa singkat.

Chanyeol mendengar Reyna berseru, “Kau sungguh manusia tidak berperasaan!”

Dengan lugasnya, Chanyeol merespons, “Maka dari itu, lebih baik kita bercerai agar kau tidak perlu hidup lebih lama lagi bersama manusia tidak berperasaan ini.”

Reyna terisak hebat, pertahanan dirinya benar-benar hancur. Tubuhnya merosot ke lantai, tangisnya kian menjadi. Selama itu, Sua memerhatikan Reyna dengan bibir yang kembali bungkam. Padahal besar sekali keinginannya untuk memperolok Reyna dan membuat hatinya semakin hancur.

“Apa kau senang berhasil merebut Chanyeol dariku, Sua?” tanya Reyna, parau, mendongak membalas tatapan Sua. “Kau senang?!”

Sua menggigit bibir bawahnya, gusar. “Maafkan aku…”

“Kau tidak bersalah, jadi jangan meminta maaf,” sergah Chanyeol, dengan pandangan terarah pada Reyna.

Reyna hanya memejamkan matanya. Hatinya terlalu sakit, tubuhnya terasa begitu lemah mendengar penuturan Chanyeol yang seolah mampu menyayat setiap inci kulitnya.

“Sayang, bagaimana kalau kita makan malam di luar saja? Malam ini aku tidak bisa memasak untukmu.” Senyuman manis itu secara ajaib terbentuk di antara suasana menegang yang tercipta. Chanyeol memerhatikan wajah Sua dan mengusap rambutnya tepat di hadapan Reyna yang masih duduk bersimpuh. “Tunggulah di luar. Aku akan menyusul nanti,” titahnya.

Sua yang tampak kebingungan akhirnya memutuskan menuruti perintah Chanyeol. Sekali lagi, ia mengarahkan tatapan pada Reyna, sebelum berjingkat meninggalkan ruang tengah menuju keluar rumah dengan langkah terkesan berat.

Sepeninggal Sua, Chanyeol berjongkok lalu menumpukan satu lututnya di lantai. Tangannya merapikan rambut Reyna yang berantakan dan lengket karena keringat dan air matanya.

“Pergi dari sini setelah bercerai atau memilih tinggal?” Chanyeol bertanya. Nada bicaranya sama sekali tidak berubah―tetap dingin dan menusuk.

Reyna diam, pandangannya menyiratkan kekecewaan mendalam.

“Ah, jadi kau memilih untuk tinggal?” katanya. “Baiklah. Kalau begitu kami yang akan pergi.” Di akhir kata, Chanyeol hendak mengusap pipi Reyna. Sayangnya, wanita itu memalingkan wajah, enggan Chanyeol menyentuhnya lagi.

“Beristirahatlah yang cukup. Karena hari-hari yang berat sedang menantimu di depan.” Chanyeol berdiri, memandangi ringkihnya tubuh Reyna, sebelum ia meninggalkan Reyna dengan sejuta rasa sakit yang semakin menekan dadanya hingga sesak bukan main.

Chanyeol baru akan membuka pintu rumah, ketika ia mendengar Reyna kembali menangis terisak di belakangnya. Ya, rasanya memang menyedihkan. Chanyeol mengetahui hal itu, tetapi mau bagaimana lagi?

Chanyeol hanya menginginkan seorang anak dari pernikahannya. Jadi, meninggalkan Reyna yang tidak akan pernah bisa memberikan apa yang ia mau, tidak akan menjadi sebuah kesalahan besar, bukan?

end

9 tanggapan untuk “[EXOFFI EVENT 50K] Speak Out – ShanShoo”

  1. Mau bilang Chanyeol brengsek. Toh ya, Reyna bukannya ‘barren’ gak bisa hamil. Kalopun gitu, mau nikah lagi juga buat punya anak ya harus diskusi. Gila mau nangis daku serasa jadi Reyna HUHU. Si Sua juga jalang, gak tau diri, mau ngolok2 Reyna. Inget lho, karma itu berlaku.

    Last, aku jadi inget FFku juga, pas itu kak isan pernah mampir di wattpad, hampir sama kek gini tapi si cowoknya mah sabar, nyemangatin, bukan ninggalin. Lalu kuingat kutipannya yg pas kalo belom dikasih anak dari FFku itu ❝Perlu diingat,anak adalah titipan Tuhan yang harus sanggup tanggung jawabnya kita pikul. Jikalau Tuhan belum memberinya, mungkin Dia merasa kita belum sanggup memikul tanggung jawab sebesar itu.❞ dan betul, harusnya sabar, pothink, mungkin situ belom sanggup jadi ayah dimata Tuhan, Chan, tar rasain pas punya anak sama Sua, hari2 berat juga bakal ngerundungmu, bukan Reyna aja

    Btw, congrats kak isan udah juara 1. Then i know why ini bisa juara, emosinya kerasa banget huhu T.T keep writting!

    1. chanyeol di sini tipikal orang yang bisa menjunjung tinggi kesabaran, tapi tidak bisa selama itu. awalnya dia memang berpikir kalau masalah berupa belum dikaruniai anak ini tidak akan berlangsung lama, alias jika ditunggu sebentar lagi saja maka Tuhan akan segera memberinya keturunan, tapi rupanya semakin lama dia menunggu, semakin habis juga kesabarannya dan itu yang bikin dia berpaling dengan mudahnya sampai-sampai memiliki calon bayi di rahim orang lain…. Dia seakan nggak mau memikirkan nasib Reyna bakalan gimana sehabis ini, malah mentingin dirinya sendiri… :”(

      huhuhu makasih ya, els, padahal aslinya aku tuh nggak sampai kepikiran bakalan menang kayak; ah… pasti orang lain yang bakalan menang soalnya fic mereka pasti bagus2 dan kerasa feel si sudut pandang antagonisnya :””””

      kamu juga keep writing, ya! ❤

  2. Si chan paketin aja ke pluto, biar dia gak lagi dianggap oleh dunia (?) Aku jadi takut kejadian kayak reyna //tapi jangan sampe sih// sedih bgt tauk kak. Emangnya perempuan mana sih yg mau kayak gitu 😫 Harusnya reyna diberi dukungan, bukan malah ditinggal

    TERKUTUK KAU PARK CHANYEOL!!! MEMBUSUKLAH KAU BERSAMA DOSA-DOSAMU! TAPI KARENA ELU GANTENG, OKELAH GUA MAAPIN

    Keep writing kak!!

    1. waaaaaah halo, Jiyo! terima kasih sudah membaca dan memberi komentarnya untuk fanfiksi ini huhuhuhuhu yang aku tahu, kamu itu adalah salah satu author senpai di dunia per-wordpress-an(?) :”D

      kamu juga semangat menulis, yaaa! ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s