[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes – Chapter 19

Universe in His Eyes (New)

Title                 : UNIVERSE IN HIS EYES – Chapter 19

Author             : Arifiart (Wattpad: @arifiart)

Length             : Series/Chaptered

Genre              : AU, Friendship, Romance, School-life.

Rating             : PG 17

Main cast        :

Oh Serin (OC)

D.O. / Do Kyungsoo (EXO)

Baekhyun (EXO)

Chanyeol (EXO)

Additional cast:

Sehun (EXO)

Taeyeon (SNSD)

Summary         : Serin tanpa sengaja menyelamatkan seorang penyanyi terkenal yang sedang dikejar oleh penggemar fanatiknyaㅡyang ternyata adalah mantan kekasihnya saat di sekolah menengah.Disclaimer       : All casts belong to God, parents, and agencies but OC and the whole story are purely comes from author’s imagination. Please don’t plagiarize or repost this story without any permission, and don’t forget to leave a comment after reading since your comment and suggestion are really help. Happy reading!Previously:Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12Chapter 13Chapter 14Chapter 15Chapter 16Chapter 17 Chapter 18CHAPTER 19(He’s Back!)

Empat tahun kemudian…

 

“Dio!!! Dio oppa!!!”

Suara teriakan gadis-gadis itu telah berhasil membuat Serin tersadar sepenuhnya. Netranya membelalak lebar saat sepasang mata yang tak asing itu menatapnya tajam. Perih, rasanya seperti ada yang menusuk retinanya. Sepasang mata itu hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Tanpa perlu memastikan pun ia sudah tahu siapa pemilik mata bulat di hadapannya, meski orang itu memakai masker untuk menutupi wajahnya.

Ingatannya baru saja melayang jauh ke belakang. Kembali teringat akan kenangan masa remajanya yang indah sekaligus menyedihkan. Tak peduli sudah berapa kali ia coba memaafkan, namun rasanya tetap sama. Tak ada yang berubah, hatinya masih terluka. Sebuah maaf bahkan tak cukup untuk mengobatinya. Ia pikir luka itu mungkin sudah terlalu dalam dan sudah terlalu lama membekas untuk diobati.

Dadanya mendadak sesak. Ah, perasaan seperti datang lagi. Serin sungguh membenci perasaan seperti ini lebih dari apapun. Cara terbaik untuk menghindari kenangan pahit adalah dengan pergi sejauh mungkin darinya.

BRUK!

Serin segera mendorong tubuh lelaki itu dan nyaris saja berhasil kabur sebelum pergelangan tangannya keburu disambar lelaki itu.

“Tunggu!” suara berat yang keluar dari mulut lelaki itu membuat Serin merinding. Ia bahkan tidak bisa percaya bahwa ia akhirnya mendengar suara itu lagi setelah bertahun-tahun lamanya. Suara yang dulu pernah disukainya.

Pria itu membuka maskernya. Serin berusaha tak bergeming ketika melihat wajahnya.

Do Kyungsoo.

Tiba-tiba dunia berubah hening selama beberapa detik.

“Sudah lama ya, Oh Serin.”

“Ha.” Serin tersenyum sinis merespon kalimat itu. Berani-beraninya si brengsek ini muncul di depan wajahnya lagi setelah bertahun-tahun menghilang dan bersikap seolah tak ada yang terjadi.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Kyungsoo memamerkan sebuah senyuman yang dulu sangat digemarinya.

“Siapa ya? Aku tidak kenal.”

Serin segera memutar balik tubuhnya dan ingin sesegera mungkin pergi menghindari lelaki ini. Ia kira Kyungsoo akan diam saja dan tidak akan mengejarnya karena penggemarnya masih berputar-putar mencarinya, namun ternyata lelaki itu dengan berani kembali menangkap tangannya.

“Ayo kita bicara.”

“Tak ada yang perlu dibicarakan.”

“Ada sesuatu yang harus kujelaskan padamu.”

Jelaskan katanya? Apakah ia tahu sudah berapa lama sejak terakhir kali mereka bertemu? Apakah hal yang ingin dijelaskannya masih penting buat Serin? Tidak, bahkan gadis itu sudah memutuskan untuk tidak ingin mengenal Kyungsoo lagi sejak ia memulai debutnya. Hubungan mereka berakhir begitu saja tanpa pernah ada sempat mengucapkan kata berpisah. Tidak, bahkan sebenarnya mereka sama sekali tidak pernah ada keinginan untuk berpisah. Tapi memangnya siapa yang sudah membuat keadaannya jadi seperti ini? Bukan Serin, bukan orang lain, tapi Kyungsoo. Ia sendiri yang tiba-tiba pergi dan memutuskan hubungan begitu saja. Jika memang itu yang diinginkannya, Serin bisa saja langsung pergi. Tapi caranya salah, Serin merasa seperti diggantung, seolah-olah Kyungsoo masih memberikan harapan padanya bahwa hubungan mereka akan baik-baik saja. Namun kenyataannya, Kyungsoo malah merusak segalanya. Ialah yang seharusnya disalahkan atas semua rasa sakit yang ditanggung Serin selama ini.

“Maaf, Dio-ssi, aku tidak mengenalmu, jadi lebih baik kau kabur secepatnya sebelum penggemarmu yang banyak itu memergokimu di sini.” panggilan ‘Dio-ssi’ yang diucapkan Serin sudah jelas merupakan sarkasme bukan?

Kyungsoo tertawa pelan. “Dio-ssi?”

“Ya, Dio-ssi. Jangan berbicara seolah kita saling mengenal, jebal nagajuseyo.” Serin mengangkat tangannya ke samping seolah mengisyaratkan agar Kyungsoo segera enyah dari pandangannya. “Kalau kau tidak mau pergi, biar aku yang akan pergi.” Serin langsung melangkah tanpa ingin mendengar jawaban Kyungsoo.

“Aku rindu padamu.”

Suara Kyungsoo sukses membuat Serin menghentikan langkahnya. Ia sempat ragu dan mematung sesaat sebelum dirinya benar-benar pergi meninggalkan lelaki itu. Namun ia harus cepat-cepat pergi sebelum hatinya goyah lagi.

Serin benar-benar pergi, meninggalkan Kyungsoo yang berdiri kaku sendirian di antara semak-semak tinggi itu. Kyungsoo hanya menatap lurus ke depan, memandang Serin yang berjalan pergi tanpa menoleh kembali hingga sosoknya hilang dari pandangan.

“Aku merindukanmu. Sungguh.” bisik Kyungsoo pada dirinya sendiri sebelum memakai maskernya kembali.

 

***

 

“Oi!” panggil Chanyeol setelah melihat sosok Serin datang dari kejauhan. Namun Serin tidak bereaksi. Mungkin tidak dengar. Gadis itu tetap berjalan sambil melamun.

“Serin-ah!” panggil Chanyeol lagi. Serin akhirnya menoleh ke arah datangnya suara. Ia tersenyum setelah melihat sosok Chanyeol yang sedang melambai-lambaikan tangannya dari sana. Lelaki tinggi itu pun berlari menuju ke arahnya.

“Hari ini kau terlihat lemas. Apakah terjadi sesuatu?” tanya Chanyeol yang heran melihat gadis itu sangat tidak bersemangat.

Serin jadi melayangkan pikirannya kembali ke sepuluh menit yang lalu. Ia menghela nafasnya panjang. “Tidak ada apa-apa.”

Chanyeol iseng menyenggolkan tubuhnya dengan sengaja hingga membuat Serin nyaris kehilangan keseimbangan.

“Hish…”

Chanyeol tertawa setelah melihat Serin nyaris mengumpat padanya. “Itu baru namanya Oh Serin.”

As always annoying Park Chanyeol.”

“Kuliahmu sudah selesai?” tanya Chanyeol.

“Hm. Hari ini jadwalku tidak banyak. Baekhyun mana?”

“Ada kencan katanya.”

Playboy seperti biasa.”

“Yah, dia memang populer sekali di antara junior wanita. Aku penasaran kapan dia akan punya pacar betulan.”

“Memangnya selama ini dia tidak pernah serius pacaran?”

Chanyeol terkekeh. “Kau ini seperti tidak paham laki-laki saja.”

Serin menghentikan langkahnya dan menatap Chanyeol dari atas sampai bawah, kemudian berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. “Dasar laki-laki.”

Chanyeol merangkul Serin dan mulai berkata serius padanya. “Makanya kalau nanti kau punya pacar, jangan lupa kenalkan padaku dulu. Aku bisa tahu mana pria yang serius dan tidak.”

Serin melepaskan tangan Chanyeol yang melingkar di bahunya. “Aku tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu.” katanya kemudian berjalan mendahului Chanyeol.

 

***

 

Senyuman Baekhyun mengiringi tepuk tangan meriahnya pada tim teater kampus yang baru saja menyelesaikan latihan mereka. Tidak ada yang menonton latihan mereka selain Baekhyun yang duduk sendirian di antara kursi penonton sambil bertepuk tangan dengan bangga.

“Kau datang lagi?” seru seorang gadis yang datang menghampiri kursi Baekhyun.

Baekhyun tersenyum sambil melemparkan jempolnya ke arah gadis itu. “Sunbae, kau keren sekali.”

Gadis bernama Kim Taeyeon itu tersenyum lebar berkat pujian Baekhyun. “Heh, memangnya kau tidak ada kelas sampai datang ke sini?”

“Aku bolos.” jawab Baekhyun enteng.

Taeyeon memukul bahu Baekhyun dengan keras. “Yah!

Baekhyun tertawa keras sambil mengusap bahunya yang sedikit kesakitan. “Bercanda, bercanda.”

Taeyeon mulai duduk di samping Baekhyun. “Aah, lelah sekali. Aku ingin minum kopi.” keluhnya sambil memijat lehernya sendiri. Bukannya kode, tapi ia memang benar-benar sangat lelah. Entah ini sudah latihan panggung yang ke berapa puluh kali. Tim sukses tidak mau tahu seberapa lelah para aktor, yang jelas mereka harus memberikan penampilan maksimal saat pementasan nanti.

Baekhyun terus memerhatikan Taeyeon yang sedang memijat dirinya sendiri. Ia tersenyum.

Sunbae, ada yang ingin kukatakan padamu.”

Taeyeon menoleh. Ia menunggu lanjutan kalimat Baekhyun tapi lelaki itu malah menundukkan pandangannya ke bawah. Wajahnya terlihat lebih serius dari sebelumnya.

“Apa?”

“Sana ganti pakaianmu dulu. Nanti kukasih tahu saat kau sudah selesai. Kutunggu di luar ya!” jawab Baekhyun canggung kemudian pergi dengan tiba-tiba.

“Kenapa dia itu?”

Baekhyun menunggu di lobby auditorium dengan cemas. Saat udara sebenarnya terasa cukup dingin, tapi ia malah berkeringat. Ingatannya melayang ke beberapa waktu lalu saat ia pertama kali mengenal Taeyeon.

Taeyeon adalah senior Baekhyun di kampusnya. Mereka sama-sama berasal dari fakultas seni, hanya saja mereka mengambil jurusan yang berbeda. Baekhyun lebih fokus di seni musik dan tarik suara, sementara Taeyeon lebih ke seni akting dan teater. Semula berawal dari Baekhyun yang tiba-tiba dimintai tolong untuk mengisi suara lipsync untuk aktor saat mereka akan mengadakan teater musikal. Setelah itu ia mulai kenal dengan Taeyeon. Seniornya itu sudah banyak membantunya dan ia adalah salah satu senior yang paling dekat dengan Baekhyun. Mereka sangat akrab dan sama-sama seseorang yang digemari teman-teman lain di kampus.

Namun seiring waktu berlalu, Baekhyun mulai menyadari bahwa dirinya cukup menyukai Taeyeon. Bukan sebagai senior dan junior, tapi Baekhyun lebih menganggapnya seperti wanita. Popularitas Baekhyun di antara mahasiswa perempuan sudah merupakan rahasia umum di kampus mereka, bahkan Serin yang berada di fakultas berbeda saja sudah mengakui kepopuleran Baekhyun. Ia sangat diidolakan para gadis, bahkan tak sedikit dari mereka yang mengajaknya berkencan. Baekhyun tentu saja mengiyakan semua permintaan itu walaupun akhirnya ia tak pernah sampai ke tahap serius pacaran, karena Baekhyun sebenarnya cukup selektif soal pasangan. Ia memang suka berada di dekat para gadis, tapi belum ada yang mampu menggetarkan hatinya. Ia hanya menganggap para gadis mendekatinya hanya karena mereka kagum padanya. Tidak lebih dari itu.

Namun saat berada di dekat Taeyeon, rasanya berbeda. Ada keinginan yang terus muncul dari dalam dirinya untuk menemui gadis itu. Ada getaran yang berbeda saat berada di dekat Taeyeon ketimbang gadis-gadis lain. Ia tak pernah merasa Taeyeon dekat padanya karena gadis itu menyukainya seperti gadis-gadis lain. Ia pikir Taeyeon suka berteman dengannya karena gadis itu menganggapnya sebagai teman yang lebih seperti adik. Kurang lebih seperti hubungannya dengan Serin, namun dengan perasaan yang berbeda. Ia baru sadar bahwa setelah sekian lama membangun hubungan yang akrab dengan Taeyeon, ia semakin yakin kalau dirinya mulai menyukai gadis itu.

Dan kini ia berencana untuk menyatakan perasaannya pada gadis itu.

“Baekhyun-ah.” panggilan Taeyeon mampu mengembalikan kesadarannya dengan cepat.

“Ya?”

“Tadi mau bilang apa?” tanya Taeyeon menagih ucapan Baekhyun saat di dalam auditorium tadi.

Jantung Baekhyun mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. Udara yang cukup dingin dari luar membuat ujung-ujung jemarinya beku. Ia menelan salivanya dengan gugup dan memasang wajah serius pada Taeyeon.

Sunbae, aku hanya akan mengatakannya sekali, jadi dengarkan baik-baik.”

Taeyeon masih diam menunggu lanjutan dari kalimat Baekhyun.

“Aku menyukaimu, sunbae. Jadianlah denganku.”

 

***

 

Kyungsoo melempar topinya dengan kasar saat baru memasuki mobilnya. Manajernya sampai tersentak kaget karena ulahnya tersebut. Ia mulai menyandarkan kepalanya di kursi tengah sambil menutupi wajah dengan lengannya. Matanya terpejam.

“Ada jadwal apa lagi hari ini?” tanya Kyungsoo dengan punggung tangan yang masih bersandar di keningnya.

“Kita akan langsung berangkat ke lokasi syuting iklan. Kemudian nanti malam ada acara makan-makan dengan seluruh artis dari perusahaan.” jawab manajernya sambil membacakan catatan yang tertera di buku agendanya.

Kyungsoo menghela napasnya. “Bisa tidak aku tak usah datang ke acara makan malam itu? Buang-buang waktu saja.”

“Kau harus datang, Kyungsoo-ya. Perusahaan sudah memesan restoran untuk acara nanti malam. Lagipula direktur juga akan datang. Kau itu kan salah satu artis besarnya, tidak sopan jika kau sampai tidak datang. Oh ya, jangan sampai minum terlalu banyak, besok pagi kau ada rekaman di KBC untuk acara Music Bang.”

Kyungsoo membuka matanya. “Sial, padahal aku lelah sekali.”

“Bersabarlah, sebentar lagi masa promosimu akan segera berakhir. Setelah itu jadwalmu baru bisa sedikit longgar.” ujar Jaebum, sang manajer, sambil memberikan segelas kopi panas untuk Kyungsoo.

Mesin mobil dinyalakan dan mobil Kyungsoo mulai bergerak menuju lokasi syuting. Sepanjang perjalanan, Kyungsoo terus menatap kosong pemandangan dari luar kaca mobilnya. Pikirannya kembali menunjukkan ekspresi wajah Serin saat menatapnya tadi. Serin terlihat lebih dewasa dan cantik, tapi senyumannya hilang tidak seperti saat mengenalnya dulu.

Kyungsoo masih ingat dengan jelas bagaimana Serin terlihat kecewa saat melihat dirinya muncul di depan wajah gadis itu. Ia sudah menunggu kesempatan ini selama bertahun-tahun tapi sayang sekali ternyata responnya tidak baik. Apakah Serin benar-benar tidak ingat padanya? Apakah Serin sudah tidak ada rasa lagi padanya? Atau… apakah kini sudah ada lelaki lain di sisinya?

“Mau gila rasanya…” bisik Kyungsoo pada dirinya sendiri.

Ia benar-benar tak menduga bahwa reaksi Serin akan begitu saat bertemu lagi dengannya. Padahal dirinya sudah membayangkan Serin yang akan menangis di pelukannya sambil mengatakan rindu. Namun pada kenyataannya, mengucap sepatah kata saja darinya saja Serin tidak mau dengar. Jelas sekali gadis itu mencoba untuk menghindar darinya. Apakah Serin benar-benar sekecewa itu?

“Aku rindu.”

“Oh?” Jaebum yang mendengar Kyungsoo berbicara menyahut dari kursi pengemudi. Tentu saja Kyungsoo tidak merespon Jaebum karena ucapan itu bukan ditujukan untuk dirinya. Jaebum mengintip dari kaca spion tengah. Ia melihat Kyungsoo sedang menyandarkan kepalanya ke jendela mobil. Matanya terpejam…

…namun meneteskan air mata.

 

***

 

Eomma! Eomma! Lihat tuh, susuku!” pagi-pagi Sehun sudah teriak-teriak karena Serin minum susu dari gelasnya. “Yah! Oh Serin!”

Ibu menepak kepala Sehun dengan keras. “Yah! Jangan panggil kakakmu seperti itu!” omel ibunya.

Sehun marah-marah hanya karena Serin minum dari gelas kesayangannya. Ia tidak suka jika gelasnya dipakai orang lain, bahkan oleh keluarganya sendiri. Hari ini Serin terlambat seperti biasanya dan sedang mengunyah sarapannya dengan terburu-buru sampai salah minum dari gelasnya Sehun.

“Minum punyaku saja tuh, belum ada yang minum. Heboh banget, sih!”

Nuna!”

Mwo?!”

Sehun ingin sekali memukul kepala Serin dengan sendok yang sedang dipegangnya, tapi ia tahan-tahan karena ada Ibu.

Eomma, aku mau kursus dance.” ujar Sehun tiba-tiba.

“Hah?”

Dance?” ulang Serin. “Mau ngapain kau?”

“Aku akan ikut audisi… jadi idol.”

“Apa? Hahahahahahahahaha jangan bercanda.” Serin tertawa terbahak-bahak mengejek ucapan adiknya barusan.

“Aku serius.”

Air muka Serin mendadak berubah. Ditatapnya Sehun dengan serius. “Jangan jadi artis, nanti kau jadi pria brengsek.”

“Apa hubungannya coba?” balas Sehun mempertanyakan kalimat tidak relevan Serin.

Serin tidak menjawab. Ia malah lanjut menghabiskan sarapannya tanpa berkata-kata lagi.

“Pokoknya aku mau kursus dance. Ya eomma? Please~ jebal~” Sehun memohon pada Ibu menggunakan aegyo-nya.

“Tidak boleh.” jawab Ibu tegas. “Kau ini bahkan jarang datang ke tempat kursus pelajaran yang sudah eomma daftarkan. Berani-beraninya minta kursus dance.”

Wajah Sehun terlihat memelas segera setelah mendengar jawaban dari ibunya. Ia selalu cemberut dengan menjulurkan bibir bawahnya setiap lagi kesal, dan kini ia melakukan itu lagi. Sehun meletakkan sumpitnya dan segera mengambil tasnya untuk bersiap berangkat sekolah.

“Aku pergi dulu.” pamit Sehun dengan lemas. Sepertinya anak itu ngambek lagi.

Sehun menarik ingusnya karena udara di luar cukup dingin hingga membuatnya pilek. Ia merapatkan mantelnya dan berjalan ke luar rumah. Namun sebelum sampai gerbang, ia melihat sesosok pria sedang berdiri menunggu di depan rumahnya.

Chanyeolie hyung? Eh, bukan. Orang ini lebih pendek.

“Baekhyun-ee hyung? Ngapain?” sapa Sehun ke lelaki pendek yang ia kira sebagai Baekhyun.

Lelaki itu menoleh.

“Huh? Kau kan…” Sehun terlihat mengingat-ingat sambil memerhatikan sosok lelaki di hadapannya sambil menatapinya dari atas sampai bawah. “Heol, daebak!” Sehun terkejut bukan main saat melihat lelaki itu memperlihatkan wajahnya. Sesosok wajah yang sangat familiar. Itu Dio! Penyanyi terkenal yang sering dibicarakan gadis-gadis di sekolahnya itu kini sedang berdiri di hadapannya. Apa yang sedang ia lakukan di depan rumahnya?

Annyeong.” sapa Kyungsoo tersenyum pada Sehun. “Kakakmu ada?”

“Uh– i-iya, ada, di dalam” jawab Sehun sedikit terbata-bata karena kagum melihat seorang artis sedang berbicara padanya. Ia sekali lagi memerhatikan lelaki itu dari atas sampai bawah. Orang ini lebih pendek darinya tapi gayanya keren sekali! Rambutnya dicat dan pakaiannya… wah. Dari mantel sampai sepatunya bahkan bermerk. Semua yang dipakainya benar-benar high-end branded.

Klek.

“Oi, tukang ngambek, kau belum berangkat juga?”

Serin muncul di saat yang tepat, memerhatikan adiknya yang sedang berdiri bersama seseorang di depan rumah. Apakah Chanyeol menjemputnya? Perasaan anak itu tidak bilang apa-apa sebelumnya.

“Oh Sehun?” panggilnya lagi sambil menghampiri Sehun.

Serin menghentikan langkahnya sebelum benar-benar sampai di sana karena melihat sosok Kyungsoo yang sedang berdiri di sana sambil tersenyum manis padanya.

“Hai. Ayo berangkat, aku antar.”

–To Be Continued–

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes – Chapter 19”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s