The Orphanage – Shuu

1b2fb3111275e977a0c031ce3e285c5f

The Orphanage

CAST: Kim Jongin, Aleah | RATING: PG-15 | GENRE: Horror, Fantasy, Thriller | LENGTH: Oneshoot | Fiction , OC and the plot is mine . The other characters belong to God , their company, and their families

Don’t even thinking about liking me

.

.

Shuu’s Present this story

 

Gemerincing lonceng terdengar tatkala angin kencang meniupnya. Suara tersebut membuat seorang bocah lelaki terbangun dari tidurnya. Wajahnya masih bengkak, tetapi ia mencoba untuk duduk. Kaki mungilnya menggantung di atas tempat tidur. Dengan mata yang setangah terpejam, ia mencoba mengenakan sandal rumahannnya. Ia mengucek matanya kemudian meraih boneka teddy-nya.

Matanya menangkap satu objek yang menganggu tidurnya, jendela kamarnya belum tertutup sempurna membuat lonceng kristal yang tergantung berbunyi nyaring. Mendengus kesal saat menyadarinya, langkahnya begitu berat seolah ia sedang menyeret kakinya

Bocah itu dengan mata yang setengah terpejam berjalan mendekati pintu. Tubuhnya yang terlalu pendek membuatnya harus berjinjit untuk dapat meraih knop pintu.

Krieettt…

Derit pintu memecah kesunyian malam. Kamarnya yang berada di atas membuatnya harus melongok ke bawah untuk memastikan sesuatu. Seperti kebanyakan anak kecil lainnya, ia juga paranoid dengan segala sesuatu yang berbau hantu. Kakinya melangkah ragu, suara aneh yang di timbulkan lantai kayu sebenarnya membuatnya enggan.

“Dad, Mom,” suara kecilnya sama kecil dengan nyalinya.

Ia pegang erat-erat boneka teddy-nya. Dengan langkah pelan ia menuruni setiap anak tangga dengan perasan takut. “Dad, Mom,” gumamnya saat menuruni anak tangga yang terakhir. Ia melongok ke kanan dan kekiri matanya terlihat waswas. Angin kencang berhembus kencang menembus piyama tipisnya, ia semakin mengeratkan pelukannya kepada bonekanya.

Perapian masih menyala seperti saat sebelum dirinya pergi tidur setelah makan malam dan membersihkan giginya. Setidaknya ruang tengah ini tak sedingin ruangan yang lain.

Ia menghentikan langkahnya saat inderanya menangkap satu suara. Suara itu sebuah rintihan. Ia mendengarnya, suara ibunya yang sedang menangis dan memohon. Untuk sekajap mata mungil tersebut terbelalak, namun sepersekian detik berikutnya kembali ke ukuran normal.

Kakinya tak ingin berhenti begitu saja. Kaki mungil berbalut sandal lusuh berbentuk beruang itu berjalan cepat menggunakan kakinya yang pendek. Kaki tersebut mengantarnya ke ambang pintu kayu. Pintu berpelitur yang sudah mengelupas disana-sini.

Suara itu makin kentara jika ia berdiri disini. Tangannya memutar knop pintu itu. Tanpa keraguan sedikitpun. Ia tak sempat membuka pintu dengan lebar, ia terkejut sehingga matanya membulat dengan sempurna saat ini. Boneka beruangnya jatuh tergeletak tak berdaya di lantai.

Ia melihat ibunya yang masih mengenakan gaun tidur berbaring di kasur dengan tangan diikat di kepala kasur. Sebuah sapu tangan menyumpal di mulutnya. Tak ketinggalan sebuah tali tambang yang mengikat kedua kaki ibunya dengan kuat, membuat wanita tersebut merintih dan berusaha melepaskan diri. Seorang pria berpakaian serba hitam berdiri tegap sambil mengacungkan obeng di tangannya

Rahang bocah itu terlihat bergetar. Bulir dimatanya tak bisa ditahan lagi. Ia melihat ayahnya, tak salah lagi. Ia tak mungkin salah mengenali sang ayah. Walaupun ia hanya dapat melihat punggungnya, ia sangat mengingat dan memahami postur tubuh ayahnya. Ia tak bodoh.

Yang berbeda adalah, ia melihat sesuatu yang mengelilingi badan ayahnya. Sebuah asap hitam pekat yang berputar-putar di sekitar ayahnya. Ia merasa ada yang salah dengan ayahnya. Tapi kakinya sepeti terpatri di lantai. Tak bisa bergerak sedikitpun.

Crakkk… crakkk… crakkk…

Sang ayah menusuk ibunya degan ujung obeng berkali-kali. Seperti kesetanan, seperti hilang kendali. Kaki, tangan, perut, dada semua bagian yang dilihatnya tak luput dari ujung obeng. Pada saat tusukan yang terakhir, ibunya berhenti menggeliat dan merintih. Otak bocah itu masih terhenti, ia berusaha berpikir. Tetapi apa yang bisa dilakukan bocah berumur lima tahun dalam keadaan seperti ini?

Ia menghentakkan badannya. Seketika tubuh bocah itu kembali. dengan sebagian otaknya yang masih berfungsi, ia berlari keluar rumah berusaha meminta bantuan dari siapapun. Tetapi tanpa ia sadari sang ayah menyadari kehadiran anaknya. Ia meirik menggunakan ekor matanya, mengikuti kemana kira-kira bocah itu akan pergi.

Tttokkk….ttok… ttoook…

“Mr. Anderson! Buka pintunya! Mr. Aderson!”

Bocah itu mengetuk pintu bercat biru laut itu berkali-kali. Bibirnya tak berhenti memanggil nama Mr. Anderson.

Seorang pria berambut putih keluar sambil memakai jubah tidurnya. Matanya masih tampak menyipit. “Hei, kenapa malam-malan kesini? Kau putra dari keluarga Kim bukan? Kenapa menangis?” tanyanya sambil menyejajarkan diri dengan bocah itu. Bocah itu menangis dalam diam seraya menunjuk rumahnya yang letaknya berdampingan dengan rumah keluarga Anderson.

“Siapa sayang?” suara wanita terdengar di balik pintu. Tak lama, terlihatlah Nyonya Anderson berdiri disamping Tuan Anderson. Mata wanita itu terkejut mendapati bocah itu yang dipenuhi keringat dengan memakai piyama lengkap.

 Nyonya Anderson menjerit kuat tatkala matanya menangkap satu sosok berdiri di balkon rumah keluarga Kim, “Astaga!”

Sesosok pria berpakaian hitam tersebut sedang berdiri di balkon rumah sambil menatap hampa tanah berbatu dibawahnya. Keadaan komplek sangat sepi mengingat ini adalah dini hari.

Appa! Tidak!” ucap bocah itu dengan terbata. Kerongkongannya terasa sangat kering.

Pria itu mendorong tubuhnya membuatnya kehilangan keseimbangan kemudian terjun bebas begitu saja. Bak sebuah tayangan diperlambat, Tuan Anderson membalikkan tubuh bocah itu dan memeluknya dengan erat. Sedangkan Nyonya Andorson menutup kedua matanya sambil menyebut Agung Sang Penguasa.

Brakkkk…

Suara itu begitu mengerikan. Seperti suara sebuah kotak kayu terjatuh, tetapi membuat semua orang merinding. Darah ada dimana-mana. Rumput, tanah, batu tidak bukan, lebih tepatnya pekarangan rumah keluarga Kim dipenuhi darah segar. Lelaki itu tampak tak bergerak sedikitpun.Tidak ada suara selain suara bocah lelaki menangis.

Tuan Anderson menggendong bocah itu masuk kedalam. Kemudian Nyonya Anderson dengan tangan dan tubuh yang gemetaran dari ujung kepala ke ujung kaki mencoba menelpon bantuan di tengah malam seperti ini.

Bocah itu mematung. Benar-benar mematung di sofa beledu, ditemani sebuah perapian yang sedang melumat ganas balok kayu. Tangannya tumbang tindih satu sama lain, tak ada satu kata pun yang ucapkannya sejak Tuan Anderson membawanya kedalam. Hanya isakan serta suara Keluarga Anderson yang sedang kalang kabut mendominasi ruangan.

Bocah lelaki itu duduk dihadapan seorang polisi berkumis tebal. Wajahnya datar, tak menunjukan ekspresi apapun. Si polisi dengan pin nama ‘Andrew Okland’ tersebut memandang bocah cilik itu dengan prihatin.

“Hey, nak,” panggilnya sembari memberikan secangkir susu hangat untuk menenangkan.

Bocah lelaki itu menatap cangkir porselen dihadapannya kemnudian menatap si polisi dengan wajah yang sama. Si polisi menghembuskan nafasnya kasar kemudian terlihat menggeliat untuk merenggangkan otot-otot di tubuhnya yang menengang.

“Nak, buatlah hari ini singkat. Jangan mempersulitku, Okay?” kumisnya bergerak-gerak diatas bibirnya. Bocah itu tak menjawab. Ia masih memandang plosisi itu dengan tatapan datar.

“Baiklah, kita mulai dengan pertanyaan pertama,” ucapnya sambil membolak-balikan tumpukan kertas di mejanya. “Kim Jongin? Itu namamu?” katanya. Ia menyebutkan nama bocah tu dengan nada yang asing dan dialek yang kagok.

“….” tak menjawab barang sedikitpun. Dengan satu bahasa tubuh pun.

“Apa kau melihat ayahmu membunuh ibumu di depan matamu?” tanyanya menyelidik.

“Ya, itu ayah. Tapi bukan ayah,” ucap bocah itu dengan suara yang parau.

“Apa maksudmu?” tanya polisi itu sambil menautkan kedua alisnya.

“Ada seseorang di dalam tubuhnya. Sesosok yang gelap.”

“Ya ampun anak-anak. aku tidak akan membacakan anakku sesuatu yang akan membuatnya berkhayal terlalu tinggi,” gumamnya sambil memijat kedua bahunya secara bergantian.

“Aku tidak berbohong! Aku melihatnya!” ucapnya dengan nada meninggi, ia mencengkeram kuat meja dihadapannya dengan rahang yang mengatup rapat. “Trust me Mister, please,” suaranya melemah ia kembali menangis.

“Oh nak. Tengakan dirimu. Kita beristirahat dulu, ya?” iba si polisi. Ia bangkit dari duduknya sambil membenahi celananya yang sedikit melorot. Ia terlihat memijat pelipisnya ringan sambil berdecak.

Ia masih duduk di sana sambil menatap kedua tangannya yang saling bertaut. Ia masih sangat terpukul dengan kepergian kedua orang tuanya beberapa hari yang lalu.

Bberapa polisi disana melihatnya dengan prihatin. Menatap bocah itu aneh, membuatnya sedikit tidak nyaman untuk berlama-lama disini. Rasanya ia enggan untuk berada disini lebih lama dari ini.

“Kau anak kecil…, kau seharusnya mati,”

Bocah bernama lengkap Kim Jongin itu mendengar suara wanita yang berbisik tepat ditelinganya. Suara rendah itu sangat mengintimidasi. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, tetapi dia tak menemukan si empu suara.

“Kau seharusnya mati dengan keadaan lebih buruk dari kedua orang tuamu!”

Anak itu terperenjat karena ia merasakan seorang wanita berbisik dengan suara mengerikan tepat di telinganya. “K-kkau siapa?” tanyanya takut-takut.

“Kau mati!”

Brakkkk…

Sebuah vas bunga jatuh dengan sendirinya. Membelah menjadi berkeping-keping. Bocah itu ketakutan seperti sebelumnya. Rahangnya bergetar hebat. Ia memegangi kedua telinganya sambil menangis.

“Aku tak membiarkanmu hidup dengan tenang!”

Suara itu kembali menghantuinya. Jongin berlari menuju sudut ruangan, ia meringkuk sambil menutup kedua telinganya. Ia sangat ketakutan. Kedua kakinya bergetar hebat.

“Jangan ganggu aku kumohon! Pergilah!” ucapnya.

“Nak… nak…, kau kenapa?” ucap salah seorang petugas kepada Jongin.

“Ada seseorang yang berbisik ditelingaku. Aku takut, ia berkata jika dirinya menginginkanku mati,” ucapnya sambil sesenggukan. Wajahnya merah padam karena ketakutan.

Suara tawa, canda, serta kaki kecil yang berlarian di lorong terdengar sangat riuh. Terlihatlah seorang gadis kecil berambut cokelat sepunggung sedang memandu kawannya untuk tetap mengikutinya. Ia sangat manis dengan mengenakan dress bunga berwarna oranye.

“Selamat pagi bunda Sarah,” sapa gadis itu kepada salah seorang perawat yang mengurusnya.

Biarawati tersebut terlihat mengganggu dan tersenyum sambil membawa tumpukan sprei di keranjang. Gadis tu tetap menunjukkan senyum cerahnya kepada teman-temannya yang mengekor di belakangnya.

Mereka memasuki sebuah ruang bermain. Di hari minggu pagi seperti sekarang setelah menyelesaikan pekerjaan wajib secara berkelompk, biasanya mereka dapat bermain sepuasnya di ruang bermain.

“Selamat pagi,” ucap gadis itu ke beberapa temannya yang sedang menyusun lego.

“Selamat pagi Aleah,” jawab seorang gadis cilik berambut pendek.

Langkahnya kemudian berhenti saat mendapati sosok asing yang sedang meringkuk di pojok ruangan. Wajahnya terlihat murung.

“Siapa itu?” tanya Aleah sambil menunjuk bocah lelaki yang sedang berjongkok di pojok ruangan.

“Itu? Namanya Kim Jongin. Ia baru disini, kudengar ibunya dibunuh ayahnya sebelum pada akhirnya ayahnya bunuh diri,” ucap bocah lelaki berambut cepak.

Wajah Aleah terlihat terkejut. “Apa kalian tidak mengajak dia bermain?” tanya Aleah.

“Kami takut, ia selalu menutup telinganya sambil berbicara sendiri,” ucap si gadis.

“Jangan bicara seperti itu Abigail, Bunda Sarah pasti sangat sedih mendengar kalian tidak mengajaknya bermain,” katanya dengan suara rendah.

“Jangan mengajaknya bermain dia sangat aneh,” ucap seorang gadis kecil berambut keriting yang tiba-tiba mendekat. Aleah kemudian berlari keluar ruangan diikuti tatapan bertanya dari teman-temannya.

Tak berapa lama kemudian Aleah datang dari ambang pintu sambil mengatur nafasnya setelah lari ke ruang makan. Ia membawa dua buah kue bolu serta dua kotak susu rasa pisang di tangannya. Gadis tersebut terlihat girang.

“Apa yang akan kau lakukan Aleah?” tanya teman-temannya.

“Mengajaknya bermain,” ucapnya riang, ia mengayunkan kakinya dengan ringan mendekati Jongin yang sedang bejongkok di ujung ruangan.

Gadis itu terlihat merapikan penampilannya. Menyisir rambut dengan jarinya kemudian ia hembuskan nafas perlahan. Berusaha menormalkan detak jantungnya sehabis berlari lumayan jauh. Ia menyiapkan sneyum terbaiknya untuk Jongin.

Gadis itu berjongkok kemudian mengulurkan tangannya yang berisi kue bolu serta susu pisang, “Kim Jongin? Mari berteman.” Ia menunjukkan senyum manisnya kepada Jongin. Lesung pipinya sangat dalam saat ia tersenyum. Gadis itu mempunyai gigi kelinci yang membuatnya sangat cantik.

Jongin mendongakkan kepala, terlihat bocah itu sedikit terperanjat saat mengdapati wajah Aleah yang snagat dekat dengannya. matanya membulat, ia sedikit memundurkan kepalanya. Gadis itu mesih tersenyum lalu melihat tangannya sendiri yang memegang kue dan sekotak susu. Alisnya bergerak, memberi tanda kepada Jongin kalau kue dan susu itu untuknya.

“Aleah,” ucapnya manis tatkala kue bolu dan sekotak susu itu telah berada di genggaman Jongin.

Tak terasa waktu bergulir sangat cepat. Membuat kedua bocah cilik itu mengenal satu sama lain. Mereka menjadi sangat dekat. Aleah yang selalu membangunkan Jongin dari mimpi buruk. Aleah yang selalu menjadi benteng Jongin ketika suara itu terus menginginkannya mati.

Mereka berdua sedang berada di bawah meja perpustakaan. Setelah Jongin mendapat suara bisikan-bisikan yang selama beberapa bulan ini mengganggu aktivitasnya.

“Kim,” panggil Aleah kepada Jongin yang sedang berbaring dipangkuannnya.

“Apa?” ucap Jongin dengan mata yang mengerjap beberapa kali.

“Apa itu sangat menyiksa dirimu?” tanya Aleah dengan alis yang bertaut sama lain.

Jongin terdiam, ia malah asyik memainkan rambut kecokelatan milik Aleah. Tak lama kemudian ia mengangguk samar. Aleah menghela nafas kemudian memejamkan rapat kedua matanya.

“Aleah,” ucap Jongin pada bibir mungilnya. “Jangan tinggalkan aku ya? Aku takut. Dia terus menghantuiku.” Ucapnya dengan suara yang sangat lirih. “Di-dia selalu berkata bahwa dia menginginkanku mati.”

Aleah mengangguk mantap. Gadis itu menyisir rambut Jongin kebelakang, ini yang dilakukan Aleah jika Jongin merasa khawatir dan tertekan. “Tidurlah, kau tidak tidur semalaman  ‘kan? Lihat, lingkaran itu membuatmu seperti panda, Kim.”

“Aleah,” ucap Jongin sambil emmegang lengan Aleah. Aleah menjawabnya dengan sebuah suara lirih. “Kau percaya ‘kan bahwa aku tidak gila seperti yang dikatakan Bunda Sarah? Aku tidak mau minum obatnya.”

“Aku percaya padamu, Kim. Kau juga tak perlu minum obat bodoh itu,” ucap Aleah. “Lagipula aku selalu disini. Aku disini, dihadapanmu. Selalu begitu sambil melakukan ini,” ucap Aleah sambil tersenyum manis. Ia menyentuh kening Jongin dengan ujung jari telunjuknya. Mereka terdengar tertawa kecil satu sama lain.

Jongin merasa nyaman ketika Aleah meletakkan jari telunjuk itu ke keningnya. Itu adalah sebuah keajaiban menurutnya, dengan sentuhan itu dalam  hitungan detik suara mengerikan  itu menghilang ditelan bumi.

Kim Jongin, bocah kecil itu meringkuk di atas kasur. Tubuhnya berbalut selimut, ia terlihat meringkuk dengan nyaman sambil memeluk guling. Wajhanya terlihat kelelahan, lingkaran hitam di sekitar matanya sudah mulai berkurang.

“Anak manis,” ucap seseorang tepat di telinga Jongin. Bocah itu mengernyit dalam tidur, ia terlihat ketakutan dalam tidurnya.  Keringat dingin mulai muncul di dahinya. Jongin terbangun dari tidurnya dengan wajah yang ketakutan.

Bocah itu melihat sekeliling dengan bola mata membesar. Ia memeluk gulingnya erat-erat, bahkan saking takutnya ia sampai menahan nafasnya.

“Anak manis, ikutlah denganku,” ucap sebuah suara yang etah dari mana asalnya.

Bulu kuduk Jongin berdiri dari atas sampai bawah. Jongin terlihat menelisik kembali ruang kamarnya. “Ja-jangan memanggilku manis!” ucapnya kemudian nafasnya berderu.

Sesosok banyangan wanita terlihat di tembok. “Aku memanggilmu manis karena aku menyukaimu anak manis.”

“Jangan pernah berpikir kau menyukaiku. Aku tak akan pernah sudi!”

Rahang Jongin bergetar. Ia memejamkan matanya rapat. Peluh sudah membanjiri wajahnya. Ia terisak, ia tak merasakan jantungnya berdetak saking takutnya.

Jongin turun dari tempat tidurnya saat mendapati sosok itu menghilang. Selama ini sosok itu tak pernah sekalipun menampakkan wujudnya, hanya suara mengusik itu yang selama ini ia dengar. “Kumohon jangan ganggu aku!”

“Tidak bisa, aku tidak akan pergi begitu saja sampai keinginanku terpenuhi!”

Sosok itu kembali muncul, kini sosoknya terlihat lebih jelas. Sesosok wanita berambut panjang yang menutupi wajahnya. Bajunya lusuh berwarna kecoklatan. Sosok itu mendekat ke arah Jongin. Tangan Jongin meraih sebuah vas yang berada di atas nakas, ia kemudian melemparkannya kepada sosok itu.

Vas bunga itu menembus sosoknya, yang ada hanyalah vas bunga yang menghantam keras tembok. Membuat benda porselen itu terbelah menjadi berkeping-keping. Tergeletak tak berguna di lantai yang dingin. Sosok itu menghilang dari pandangan Jongin.

Pintu kamarnya terbuka tiba-tiba, terlihat seorang pria menghambur ke arah Jongin. Menenangkan anak itu dan memaksanya untuk minum obat yang sama sekali tak butuhkannya. Ia hanya butuh pengakuan jika ia tak gila, benar-benar ada sosok yang menghantuinya.

Bunda Sarah menutup pintu tersebut dari luar, membuat Aleah terduduk di depan pintu sambil terus menyeruukan nama Kim Jongin. Mengatakan jika semua baik-baik saja dan dia masih disini. Gadis itu berjanji ia akan terus di samping Kim Jongin. Ia yang memberitahu Bunda Sarah jika Jongin dalam keadaan yang buruk.

“Kim! Aku disini, Kim! Jangan takut! Aku akan tetap disini!” ucap Aleah, bunda Sarah memeluknya menenangkan gadis itu. Meyakinkan gadis itu bahwa Jongin akan baik-baik saja. “Bunda, dia tidak gila. Jangan perlakukan dia seperti orang gila. Apa bunda tidak melihat ada seorang wanita di kamarnya? Seseorang yang sedang menatapnya penuh kebencian.”

Bunda Sarah terlihat membelalakkan matanya. Wanita itu masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Aleah. Ia membungkam mulutnya dengan rapat, setengah tak percaya. Ia mengelus rambut panjang milik Aleah.

Hari sudah gelap, jendela sudah tertutup rapat. Setelah meminum obatnya, Jongin bisa sedikit tenang. Matanya menerawang ke langit-langit. Bulir air mata jatuh dari matanya. Ia terisak dalam diam. Ia ketakutan.

“Ambil pecahan vas itu.”

Ia mengelurkan pecahan vas bunga dari dalam saku celananya. Ia menngenggamnya sangat kuat, sehingga menimbulkan luka di telapak tangannya.

“Ayo sayang, benar begitu. Dengan begini aku tidak akan mengganggumu lagi. Ini tidak akan  menyakitimu jika kau melakukannya dengan cepat. Kau juga bisa bertemu dengan orang tua bodohmu itu secepatnya. Itu akan mempermudah diriku dan dirimu bukan?”

“Aleah, maafkan aku. Aku memohon kepadamu untuk jangan meninggalkanku. Maafkan aku yang harus meninggalkanmu. Aku lelah Aleah,” ucap Jongin.

Kim Jongin, dengan tangan yang bergetar menyayatkan pecahan kaca tersebut ke pergelangan tangannya. Sayatan itu membuat luka yang sangat dalam di pergelangan tangannya. Darah mengucur dari sana. Menimbulkan bercak darah menggenangi kasurnya.

Pagi menjelang, suara kicauan burung santer terdengar di sekitar panti asuhan tersebut. Tetapi tak biasanya pagi-pagi panti asuhan ini ramai. Beberapa mobil polisi berjajar di halaman panti asuhan. Terlihat sekerumunan polisi sedang mengadakan olah TKP, sedangkan yang lain terlihat sedang memasang garis polisi. Hanya satu yang diharapkan di pagi hari ini, berharap gadis itu akan baik-baik saja jikalau ia harus mendengar kabar buruk yang tak selayaknya didengar pada pagi hari.

END

 Halo! Salam kenal, ini Shuu. Author lama yang sudah lama meninggalkan kewajiban menulisnya. Kali ini aku ada satu cerita yang udah mengendap lama di laptopku. Daripada nggak terjamah, lebih baik di publish disini ya kan…. makasih udah baca! Tinggalkan komentar dan like ya! Thank chu ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s