[VIGNETTE] WIND FLOWER ►► IRISH

⁛  WIND FLOWER  ⁛

►  EXO`s Xiumin x OC`s Reen Do  ◄

►  Drama x Fantasy x Slice of Life

►  Vignette x PG-17  ◄

►  Storyline created by IRISH, any unauthorized duplication and/or distribution of this story without permission are totally restricted  ◄

But like flower petals that will bloom again, get better day by day

♫ ♪ ♫ ♪

In Author’s Eyes…

Senja selalu menyenangkan bagi Minseok. Dia bisa menikmati sisa hari dengan berdiri di taman, menikmati kebahagiaan kecil yang seringkali tidak manusia perhatikan. Dan ya, Minseok suka memerhatikan kebahagiaan kecil itu.

Mulai dari sekelompok anak-anak kecil yang bermain di tengah taman—tanpa peduli pakaian, atau anggota tubuh mereka kotor karena tanah dan lumpur—sebelum akhirnya teriakan samar dari orang tua mereka terdengar memanggil. Ada lagi, sepasang kakek-nenek yang duduk di bangku taman, sekedar menikmati kehangatan matahari senja dan embusan angin, tangan keriput mereka saling menggenggam. Aih, Minseok selalu tersenyum sendiri saat melihat pemandangan itu.

Masih ada beberapa kebahagiaan kecil lain yang juga Minseok sukai di sana, tetapi tentu Minseok tidak bisa menyebutkannya satu persatu. Tapi sore ini, ketenangan senja yang Minseok sukai terusik karena kehadiran seorang ibu muda yang duduk dengan wajah cemberut di kursi taman yang ada di dekatnya.

Di hadapan wanita itu—ah, bisakah Minseok menyebutnya ‘wanita’ saat imej wanita di mata Minseok sendiri tidak mungkin semungil wanita ini?—ada sebuah kereta dorong bayi, yang di dalamnya, seorang bayi perempuan berusia tujuh bulan tengah bermain dengan dot kosong miliknya.

Tentu bayi perempuan itu tidak tahu menahu, alasan yang membuat ibunya cemberut. Pun sama dengan Minseok, diam-diam dia penasaran juga tentang alasan wanita itu.

“Apa? katamu kemarin hari Sabtu ini kau bisa pulang. Kenapa sekarang tiba-tiba tidak bisa? Kamu tahu, kan? Aku dan Gee menunggumu selama hampir dua pekan!”

Hampir Minseok berjengit kaget, saat si wanita tiba-tiba saja bicara dengan nada tinggi. Rupanya, dia sedang berbalas kalimat dengan seorang pria yang pantas disebut suaminya melalui telepon genggam mungil di tangan kanannya.

“Aduh, sudahlah, kau cuma cari-cari alasan saja. Kerja, kerja, selalu itu alasanmu. Kau pikir pekerjaanmu saja yang perlu diperhatikan? Anakmu juga perlu, tahu!” lagi-lagi si wanita bicara dengan nada tinggi.

“Aku tidak peduli! Masa bodoh denganmu dan semua alasan pekerjaan itu! Aku tidak peduli. Kalau kau mau sibuk dengan pekerjaanmu, tidak usah kembali ke rumah lagi! Lebih baik kau pulang ke rumah orang tuamu, aku sanggup merawat Gee sendirian. Paham?” si wanita memberi peringatan.

Minseok mulai paham, kemana arah pembicaraan si wanita. Suaminya mungkin sibuk bekerja, hingga melupakan janjinya pada si wanita dan bayi perempuan yang kemungkinan bernama ‘Gee’ itu.

Hey, bagaimana dengan satu orang lagi di tubuhmu itu? Kau tidak merawatnya juga?” Minseok bersuara, menatap ke arah si wanita. Dari aroma tubuhnya saja, Minseok sudah bisa tahu kalau si wanita tidak sendirian di tubuhnya.

Ada calon bayi lain di tubuh si wanita, tapi wanita itu mungkin tidak menyadarinya.

“He he, kau pasti tidak tahu ya, soal itu?” Minseok kembali bersuara, menggoda si wanita dan ketidak tahuannya.

Tsk! Sudahlah, aku malas bicara denganmu!” wanita itu akhirnya memutus teleponnya dengan lawan bicara. Dia hempaskan punggungnya ke sandaran kursi taman, berharap rasa kesalnya bisa berkurang. Tapi begitu dia bertemu pandang dengan langit senja, rautnya justru semakin muram.

“Sabar, Reen, sabar. Dia mungkin benar-benar sibuk dengan pekerjaannya sampai tidak ingat kalau hari ini kau berulang tahun.” wanita itu berusaha menghibur dirinya sendiri.

Lantas dia lemparkan pandang ke arah kereta bayi di depannya. “Iya, Reen. Jangan egois. Jangan sok kuat, bagaimana nasib Gee kalau aku sampai bertengkar dengannya? Tsk, kenapa sih aku menyuruh dia pulang ke rumah orang tuanya? Kalau dia benar-benar tidak pulang ke rumah, bagaimana?” kembali si wanita—rupanya nama wanita itu adalah Reen—bicara pada diri sendiri.

Banyak hal yang tidak bisa dia pahami, begitu statusnya berubah dari wanita lajang menjadi ibu dari seorang bayi berusia tujuh bulan. Entah mengapa, kendali emosi Reen semakin tidak karuan. Maunya, dia menjadi seorang ibu yang sabar dalam menghadapi segala macam masalah. Tapi mengapa, masalah kecil saja bisa berefek begitu besar pada Reen sekarang?

Dulu, Reen selalu masa bodoh kalau kekasihnya—iya, si kekasih yang sekarang sudah berstatus sebagai suaminya itu—tidak memberi kabar seharian. Tapi sekarang, kalau dalam dua jam si suami tidak memberi kabar apapun, Reen rasanya sudah pusing bukan kepalang.

Aih, mungkin ini proses pendewasaan, pikir Reen.

“Bukan proses pendewasaan, sih. Itu karena dulu kalian belum menikah saja.” Minseok menyeletuk, diliriknya Reen sekilas, wanita itu sibuk mengetuk layar ponselnya. Rupanya dia ingin menarik keegoisan yang telah dia lontarkan pada sang suami.

“Daritadi, ucapanku tidak didengarkan sama sekali, ya?” Minseok menggerutu pelan. Dia lantas melempar pandang ke arah bayi perempuan di kereta dorong.

“Kalau kau, dengar ‘kan apa yang aku ucapkan?” bukannya jawaban, Minseok malah mendapat senyuman lebar serta tawa kecil dari si bayi. Ah, memang tidak ada yang bisa menghibur Minseok lebih dari kepolosan makhluk-makhluk kecil seperti bayi.

Mereka bisa memahami Minseok dengan sangat baik.

“Ibumu terlalu pemikir, Gee. Nanti kalau kau sudah besar, jangan jadi sepertinya, ya.” lagi-lagi Minseok berkata. Kembali, dia menerima respon tawa dari si bayi. “Astaga, kau ini lucu sekali. Rasanya aku ingin mencubit pipimu, kalau saja aku bisa.” Minseok melanjutkan. Ekspresinya kemudian berubah sedikit muram.

“Sayang ya, aku hanya bisa menikmati kebahagiaan yang sama setiap harinya. Kalau kau, pasti bisa menikmati banyak hal.” gumam Minseok.

Belum sempat dia mendengar jawaban apapun, perhatiannya lagi-lagi teralihkan oleh pergerakan Reen.

“Gee, ayo pulang. Sudah sore.” kata Reen, bergerak memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil yang dia sampirkan di bahu.

“Memang sudah sore, kau baru sadar sekarang?” Minseok menyeletuk lagi, dan tentu saja dia tidak mendapat jawaban.

“Nanti saja, aku omeli Papamu kalau dia pulang. Masa bodoh kalau dia lupa pada ulang tahunku, asal dia tidak lupa pada ulang tahunmu.” Reen berusaha menghibur diri, anggapannya, sang suami sudah begitu sibuknya memikirkan tentang kepentingan si kecil Gee sehingga tidak lagi punya waktu untuk mengingat ulang tahun Reen.

Meskipun, Reen masih saja merasa dongkol. Apa sebegitu sulitnya mengingat satu tanggal dan mengucap kata selamat pada sang istri? Padahal, semua tanggal dan jam rapat penting bisa diingat sang suami dengan baik. Mengapa tanggal ulang tahun Reen bisa dilupakan?

“Ah, kamu ulang tahun?” Minseok berkata, tiba-tiba ekspresinya berubah ceria. Sementara Reen sekarang sudah bergerak mencekal pendorong kereta Gee.

“Selamat ulang tah—”

“—Gee, aduh! Kita harus cepat dapat taksi.”

Minseok tidak lagi bersuara. Sekarang, dia malah berdarah-darah. Jangankan berteriak minta tolong, merintih kesakitan saja dia sudah tidak bisa. Lehernya baru saja dipatahkan, dengan cara mengerikan dan tidak diduganya.

Satu-satunya hal yang bisa Minseok lakukan hanya menatap kosong ke langit, menyisakan rasa sakit yang merenggut kehidupannya dalam hitungan detik. Dia tidak tahu, apa salahnya sampai kehidupannya direnggut dengan cara seperti ini?

Tak lama setelah Minseok meregang nyawa, seorang bocah berusia empat tahun berpotongan cepak dengan mata bundar berlari ke arah Minseok. Tatapan si bocah kecil membulat begitu dia mendapati keadaan Minseok yang begitu mengerikan.

“Mama! Lihat sini, Ma! Ada yang menginjak Minseok sampai mati!” teriakan si bocah terdengar sampai ke rungu ibunya—yang sedang sibuk berdiskusi bersama pria di depannya.

“Iya, iya. Di sebelahnya masih ada Minseok lain yang masih hidup, ‘kan?” sahutan si ibu tidak malah membuat bocah itu tenang. Yang ada, tangisnya justru pecah dengan begitu lantang.

“Astaga, Kyungsoo, ada apa?” tergopoh-gopoh ibunya datang menghampiri.

“Mama jahat! Ini Minseok yang asli! Minseok diinjak sampai mati, Ma!” kata si bocah.

Ibu dari si bocah—Kyungsoo—hanya bisa menghela nafas panjang. “Iya, iya sudah. Nanti kita cari ya, yang menginjak Minseok. Lagipula, Kyungsoo harus mulai berhenti memberi nama pada bunga-bunga.

“Lihat? Bunga ini kamu beri nama Minseok, yang di seberang sana diberi nama Jongdae. Yang di sana lagi diberi nama Sehun. Lama-lama, bunga satu taman ini kamu beri nama semua, Nak.”

Kyungsoo mengusap air matanya. Dia menatap sang ibu dengan pandang membulat, tak mengerti apa yang salah dengan tindakannya.

“Itu nama mereka, Ma, bukan aku yang memberi mereka nama. ‘Kan aku sudah bilang, aku berkenalan dengan mereka dan berteman juga.”

Imajinasi anak-anak, pikir sang ibu.

“Iya, iya sudah. Nanti kenalkan Mama juga ke temanmu yang lain, okay? Sekarang, kita pulang ya?”

Kyungsoo mengangguk. “Iya, tapi boleh aku bawa Minseok pulang? Kasihan dia mati di sini sendirian, Ma.” kata Kyungsoo, suaranya masih bergetar menahan tangis. Dengan senyum hangat, sang ibu akhirnya mengangguk mengiyakan.

“Iya, bawa saja Minseok pulang.”

—the end—

.

.

.

IRISH’s Notes:

HAPPY BIRTHDAY KAK ANNEANDREAS!!!

Huhuhu, kembar jenjerku, kakakku yang sekarang sudah beranak satu /lap ingus/ /menyadarkan diri kalau umurku pun udah menua tapi gak kawin-kawin/ /menyadarkan diri dari semua halu soal oppa/

Kak Anne :”D selamat bertambah usia satu tahun! Semoga sehat selalu ya Mamanya Gee! :’D semoga Gee cepet dapet adek /eh/ /kata Kak Anne: Rish plis, ngelahirin tuh gak segampang bikin FF NC/ ya udah doanya aku ganti, semoga Gee cepet gede dan bisa ikutan fangirling sama mamanya :’D

Masih banyak doaku buat Kak Anne, tapi gak sanggup buat aku sebutin satu-satu nanti banyakan notesnya ketimbang ceritanya :”) anyway Kak Ne, masihkah bisa Reen dibuat jadi wanita lajang di fanfiksi? Wkwkwk.

.

.

.

Notes untuk pembacaku tercinta:

Masihkah kalian ingat padaku…? — Irish Di Akhir Tahun.

7 tanggapan untuk “[VIGNETTE] WIND FLOWER ►► IRISH”

  1. ahhhh kamyu kejam rish,,,,setelah berbulan2 tak keliatan batang idungnya…dr q msh kerja smp skrang jd irt nungguin ank brojol km baru nongol..hks..hiks…gegara dirimu tak apdet2 q jd mlas baca fanfic yang lain..hahahhahahahaha
    astagadragon,,,kirain minseok malaikat ato hantu ato apa gitu ternyata bunga???*otomatis nyanyi lagu bunganya bondan* hahahhahahahahha
    miss yaaaaaaa :* :*

  2. Of course I remember 1 of my beloved authors in exoffi ^^
    kangen baca lanjutan karya2nya iriseu

    sama, awalnya kirain si minseok smcm roh halus tak kasat mata krn cm monologue tanpa respon sdkt pun dr reen, trus sempet menduga mgkn kucing, eh.. trnyt bunga, jnis bunga apa btw, jongdae & sehun jg? sun-flower kah spt di poster ff ini? jd pengen nanem

    omo.. keinjek reen/kelindes strollernya gee? cian bangat minseok ssi 😥
    kyung soo umur brp? indigo kah?

  3. Kak irishh~ yaampun aku kangen kakkk, sudah lama tidak bersuaa huaaa /mewek/ kak irish kemana aja si kak 😦 bikin kangen bawaannya ih..
    Setelah sekian lama akhirnya update, tapi kenapa tetiba udah ngebunuh Minseok aja sih kak :”) heuu

  4. Aku inget kak, selalu.. karna kakak masih punya utang 😛
    Kirain malah kakak yg lupa sama “dunia” ini.. hehe
    Lancar kak “dunia nyata”-nya?
    Sekalinya kambek bikin Minseok mati..
    Eh, tp emang gitu sih ya bawaannya kakak 1 ini.. hahahahahaha

  5. Dari awal kubaca, aku sudah yakin sekali kalo Minseok ini bukan manusia. Iriseu tak mungkin sebaik itu. Wkwkwkwkwwkwk..

    Cuma kupikir dia hantu, bukan bunga.
    Kasian bener wkwkwkwk..
    Si Kyungsu ih baek bener temenannya sama bunga..

    Betewe teremakaseeeeehhhh..
    Amin doanya semoanyaaaaahhhh..
    Sini ciyom dolooo..

    masihkah bisa Reen dibuat jadi wanita lajang di fanfiksi? Wkwkwk.
    BISA TENTU SAJA BISA. REEN MASIH LAJANG!

  6. Aku mau tag kaknean tapi ntar komenku mengandung spoiler. INTINYA SELAMAT ULANG TAHUN MAMANYA GEE /BAWA MERCON/g

    Masihkah kalian ingat padaku…? — Irish Di Akhir Tahun. <– lo siapa ya kak? Gak kenal tuh /dilempar padahal hampir tiap hari chat/ wkwk ciee kambeknya di ultah kaknean cieek uhuy MET KAMBEK. JAN SOSOAN GAK MAU MAEN2 DI FANFIKSI LAGI YAW

    Btw aku tadi asal skroll, kirain mas ewing digantiin jd umin sbg papanya gee. Pas daku baca ulang, AH INI MAH SI MINSEOKNYA BUNGA WKWKWKWK. Wong dia dikacangin mele sama Reen, Gee doang yg bs denger kan anak kecil polos masih suka denger hal gaib wkwkwk. Bener kan? Aduhhh, aku ngekek bayangin kaknee (Reen) ngamuk2 ke mas ewing karena lupa ultahnya, ini semacem bukan kaknee banget ((IYALAH SAK INI REEN))

    DAN DAKU NGAKAK PAS KYUNGSU DATANG MEWEK2 SI MINSEOK MATI, ITU DIINJEK SAMA REEN KAH? ANJAY REEN DI ULTAH TAUN KMRN GAK BS BERSATU 3 KEHIDUPAN, SKRG MINSOK KAMU INJEK GITU SMP METONG? WKWKWK.

    BTW KUMAU DONG KENALAN SM BUNGA YG NAMANYA SEHUN HAHAHA :((

    1. Eserius itu Minseok matinya diinjek Reen?
      ehiya ya?
      Ih kok sedih.

      Gamungkin Umin dibikin gantiin Ewing. Gak ada yang sebaik itu sama Reen. Pft. Wkwkwkwk..

      Betewe lagi, makasi Elsaaaaa..

Tinggalkan Balasan ke Minxxi Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s