Padlock & Key – SHIN TAMA PRODUCTION [FICLET]

SHIN TAMA

production

Padlock & Key

Oh Sehun || Han Saei (OC)

Romance || PG-15 || Ficlet

 

***

Terus terang, Saei menerima pengakuan cinta Sehun bukan atas dasar cinta. Jatuh cinta pada pandangan pertama? Maaf, itu tidak berlaku bagi Saei. Kalimat klise itu hanya ia temukan dalam buku-buku dongeng pengantar tidur. Lantas, apa alasan Saei menerima pengakuan cinta dari laki-laki bernama Oh Sehun? Ia putus asa. Saei terlalu lelah melewati fase-fase hubungan yang monoton yang berujung pada perpisahan. Wanita sagitarius itu tidak pernah menyuarakan alasan itu. Sampai dengan berjalannya waktu, hati Saei berubah. Oh Sehun, laki-laki yang menghampiri Saei dengan kesederhanaannya, berhasil menggenggam hati Saei sepenuhnya. Hati yang dulu sedingin es, kini terasa hangat dalam genggaman laki-laki itu. Hebatnya Sehun, ia dapat memutar balikan fakta tentang sikap para lelaki brengsek yang pernah menyakiti hati Saei. Saei tidak berharap banyak kepada Sehun, tapi Sehun lah yang mewujudkan banyak harapan untuk Saei.

 

***

 

Reina Cho, gadis berparas cantik walaupun tanpa make up. Gadis bertubuh tinggi dan raping, tampak angun dengan gaun putih yang menjuntai di lantai. Ia berdiri di depan sebuah ruangan dengan pintu kaca dilapisi tirai putih yang transparan. Tirai itu sengaja disibakkan ke samping oleh si pemilik ruangan. Sehingga Reina dapat dengan leluasa menilik ke dalam ruangan itu. Cukup lama Reina memandangi sosok seorang laki-laki di ruangan tersebut. Laki-laki itu tampak sangat gagah berdiri di depan cermin yang tingginya hampir sama dengan si laki-laki itu. ‘dia tampak sempurna’ dalam batin Reina yang memperhatikan laki-laki itu yang tengah merapikan stelan jas hitamnya.

 

“Reina…” ucap objek yang sedang diamati gadis itu. Laki-laki itu menangkap basah Reina yang diam-diam memperhatikan. Seolah-olah ada batu besar yang menghantam jantungnya. Reina terpaku di tempatnya. ‘Ku mohon Oh Sehun, jangan mendekat.’ Reina memelas dalam hatinya. Siapa yang mendengar? Sehun malah menggenggam pergelangan tangan gadis itu, lalu membawanya ke dalam ruangan yang berada di seberang ruangan dengan pintu kaca tadi. Bedanya, pintu ruangan itu terbuat dari kayu tebal.

“Katakan padaku, kau masih mencintaiku?” tanya Sehun dengan nada yang menuntut. Kini kedua tangan Sehun manangkup pundak Reina. Dan matanya menatap lurus kedalam mata gadis itu.

“. . .” Reina menggeleng.

“Aku kenal kau. Aku tahu arti tatapanmu tadi. Ini belum terlambat. Jika kau jujur sekarang, maka aku akan kembali padamu.”

“Kau gila. Berhenti bicara omong kosong, nanti Saei mendengarnya.” Reina memekik sambil menghempaskan kedua tangan Sehun di pundaknya.

“Ruangan ini kedap suara, tidak akan ada orang yang mendengar kita.”

“. . .” Reina tidak membalas. Ia mengangkat sedikit gaun nya agar bisa dengan cepat meninggalkan ruangan itu. Dan meninggalkan laki-laki gila yang masih memikirkan gadis lain di hari pernikahannya.

“Kalau begitu, berhenti menatapku dengan tatapan itu, atau aku akan berlari ke arahmu di depan semua orang nanti.” Ucap Sehun sebelum Reina keluar ruangan dengan membanting pintu.

 

***

 

Mimpi yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Namun Saei memang pantas mendapatkannya. Kebahagiaan yang saat ini ia rasakan, sebanding dengan rasa sakit batinnya yang pernah ia alami. Untuk yang terakhir kalinya Saei memandang pantulan dirinya di cermin sebelum ia meninggalkan ruangan itu. Saei terharu melihat senyuman nya sendiri di cermin. Begitu lepas dan berseri. Terlepas dari gaun putih menjuntai yang ia kenakan, Saei merasa lega dan bahagia bahwa Sehun adalah laki-laki yang menunggunya di altar.

“Kau dari mana saja?” Saei melemparkan pertanyaan kepada Reina yang baru saja masuk ke ruangan itu.

“Maaf, tadi aku menerima telfon dari rekan bisnis ku.” Balas Reina seraya melangkah cepat menghampiri Saei.

“Hari ini kau adalah pengiring pengantinku, bukan wanita karir yang super sibuk.” Keluh Saei. “Kau harus tetap di dekatku, karena saat ini aku sangat gugup.” Lanjutnya dengan suara yang diturunkan nadanya.

“Hei, tenanglah. Semuanya akan berjalan lancar.” Reina meraih tangan Saei yang hampir beku. “Ayo, jangan membuat Sehun menunggu lama.” Lanjutnya.

 

***

 

Setiap kejadian baik atau buruk pasti ada makna yang tidak bisa orang tebak namun akan orang alami. Saei tidak langsung merasa beruntung ketika hal baik datang kepadanya. begitupun sebaliknya, Saei tidak langsung merasa hidupnya yang paling buruk dibandingkan orang lain ketika hal buruk menimpanya. Ia berfikir bahwa hal  bahagia bisa menghilang dengan satu hal buruk, dan banyak hal buruk bisa menghilang dengan satu hal bahagia.

 

Hari ini adalah waktunya bagi Saei menghapus semua hal buruk yang pernah  ia alami dengan satu hal bahagia yaitu menikah dengan seorang laki-laki bernama Oh Sehun. Saei menaut tanganya lebih erat di lengan ayahnya. Ia sangat gugup ketika menginjakkan kakinya di atas karpet bertabur kelopak mawar. Di ujung sana, Sehun berdiri dengan senyum yang mengembang dan tatapan yang sangat teduh yang malah membuat Saei semakin gugup.

 

Semua keluarga dan tamu berdiri menyambut sang mempelai wanita datang. Saei menoleh ke arah Reina, meminta dukungan dengan isyarat matanya. Reina balas tersenyum dan mengangguk, berharap sahabatnya itu bisa lebih tenang. Kemudian pandangan Reina beralih ke si pemeran utama laki-laki di acara ini. Pempelai pria, calon suami sahabatnya, sekaligus mantan pacarnya, Oh Sehun. ‘Sudah terlambat’ batin Reina. Sudah hilang kesempatan untuk meminta laki-laki itu untuk kembali padanya. Kini, Reina harus menelan rasa penyesalannya. Reina terkesiap ketika sepasang mata tajam laki-laki itu mengarah kepadanya. Segera, Reina membuang pandangannya sembarang. Ketika melirik lagi ke arah Sehun. Laki-laki itu masih menatap Reina. Reina menggeleng lemas, dengan tatapan memohon ‘tetap disana, jangan kemari’. Namun, Sehun tak menuruti sorot mata Reina yang memohon. Sehun tetap berjalan ke arahnya, melewati sang mempelai wanita yang menunggu dijemput. Tampak Wajah Saei yang berubah bingung dan tentunya kecewa.”kau yang membuat ku berlari ke arahmu” kata Sehun ketika ia sampai dihadapan Reina. Mendadak Reina kehilangan suaranya. Ia masih terpaku dengan apa yang dilakukan Sehun. Sehun menggapai tangan Reina, lalu meninggalkan tempat itu.

 

***

 

Saei membuka matanya dengan paksa. Lalu terduduk di kasurnya. “Ternyata itu mimpi” gumam Saei sambil mengatur deru napasnya. Saei melirik jam dinding di kamarnya. Jarum pendek berada di angka 1 malam. Hatinya masih terasa perih dan napasnya juga sesak. Seakan mimpi itu adalah nyata. Berawal dari Saei mengenakan gaun pengantin, Reina menjadi pengiringnya, dan Sehun si pengantin laki-laki yang meninggalkan altar, lalu pergi bersama mantan pacarnya, Reina.

 

‘aku mimpi buruk dan tidak bisa tidur lagi.’ Saei mengirim pesan teks kepada Sehun. Saei  yakin kekasihnya itu masih terjaga di tengah malam lalu membaca pesannya. Ia hanya ingin meluruhkan sedikit beban di hatinya. ‘aku akan menemanimu, tunggu aku datang.’ Sehun membalas pesan Saei 5 menit kemudian. ‘aku di mini market di samping gang rumahku.’ buru-buru Saei mengabari lokasinya.

 

***

 

Saei meneguk birnya. Berulang kali ia mengembuskan napas berat. Berharap rasa sesak di dadanya mereda. Syukurlah Sehun masih terjaga dan mau menemaninya. Mungkin laki-laki itu bisa menjadi obat yang berbeda untuk Saei, selain beberapa kaleng bir yang telah ia kosongkan volumenya. Saei menoleh ketika telapak tangan Sehun menyentuh puncak kepalanya. Laki-laki itu sudah sampai ternyata. Tangan Sehun turun dari puncak kepala Saei, lalu berhenti di bahu landai Saei. “Kau akan menghabiskan stok bir di minimarket ini jika tetap disini. Ayo, kita mengobrol di taman dekat rumahmu.” Sehun mengambil kaleng bir terakhir dari genggaman Saei, lalu merengkuh bahu perempuan itu. Saei tersenyum masam digoda seperti itu dan membiarkan laki-laki itu menuntunnya keluar minimarket.

 

Jemari mereka saling bertautan. Saling menggenggam. Tapi, genggaman Saei dirasa berbeda dari biasanya. Kali ini, genggamannya lebih erat. Perempuan itu tidak membiarkan ada celah di antara jemari mereka. Hangat. Sehun tersenyum tipis. “Apakah ada yang ingin kau ceritakan?” Suara Sehun memecah keheningan di tengah malam. Sehun agak bingung dengan tingkah Saei sekarang. Sejak ia melihatnya di mini market, lalu berjalan menyusuri trotoar cukup jauh. Saei hanya diam dengan wajah murung. “Dari mana aku harus memulainya? Mimpi ku dan perasaan ini terlalu rumit.” Jawab Saei lirih serupa angin berlalu. Sehun menghentikan langkahnya. Masih menggenggam tangan Saei, ia menghadap Saei, tangannya yang bebas menangkup pipi merona perempuan itu. “Satu per satu dengan perlahan, ceritakan kepadaku.” Ucap Sehun, tatapannya menerawang ke dalam mata Saei. Mencoba mencari sesuatu yang mungkin ia pahami. Selama waktu yang kau inginkan Saei. Aku akan mendengarnya atau menunggunya. Batin Sehun.

 

Saei mulai berkisah tentang mimpi nya malam ini. Tentang dirinya, tentang Reina, tentang Sehun, dan tentang acara pernikahan. Rasanya berat hati bila harus mengulang kisah mimpi buruknya. Apapun yang kita rasa dihati, mari saling memberitahu. kalimat yang diucapkan Sehun 2 tahun lalu, bangkit dalam pikiran Saei. Bisa dibilang itu adalah komitmen dalam hubungan mereka dan ia menyanggupinya.

 

Dia berada di sisiku. Menggenggam tanganku. Menatap mataku. Dengan senyuman yang merekah. Tapi hatiku masih menggantung didasar sana. Aku meneteskan air mata. Rasa takut kehilangan menguasai alam sadar ku. Aku memang serakah. Aku memang egois. Aku tidak tahu bagaimana mengatasi perasaan seperti ini.  Batin Saei.

 

“Kau pernah bilang ‘hatimu memang tertutup tapi tidak terkunci’ . Aku bertanya, apakah aku adalah orang yang bisa dan sudah mengetuknya?” Sehun menatap mata sembab Saei sambil menyeka sisa air mata perempuan itu. Itu adalah pernyataan Saei ketika masa pendekatan dengan Sehun.

“….” Saei mengangguk

“Kalau begitu aku akan masuk lalu mengunci nya dari dalam, agar tidak ada orang lain yang masuk. Izinkan aku tinggal di sana sendirian. Hanya aku, eoh?”

“….” Saei mengangguk lagi.

Sehun. Seorang laki-laki yang bisa mengetuk pintu hati Saei dengan cara yang tidak pernah Saei bayangkan. Cara yang sederhana. Cara seorang Sehun. Seberapa besar gelisah dan ketakutan Saei, laki-laki itu selalu bisa membuat Saei tenang.

-FiN-

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s