[EXOFFI FRELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 24)

Poster Secret Wife Season 2 (4).jpg

Tittle : Secret Wife Season 2

Author : Dwi Lestari

Genre : Romance, Friendship, Marriage Life

Length : Chaptered

Rating : PG 15

Main Cast :
Park Chanyeol, Kim Soah (Aiko)

Support Cast :

Oh Sehun, Min Aera, Kim Nara, all member EXO and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Soah terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan artis papan atas Park Chanyeol, demi menghindari kutukan keluarganya. Meski sebenarnya dia tak pernah percaya jika kutukan itu masih berlaku.

Disclaimer : Cerita ini murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note : Sekedar mengingatkan, jika ini berbeda dengan SECRET WIFE yang pertama. Ini bukan kelanjutannya. Cerita ini berdiri sendiri. Tapi akan ada beberapa hal yang sama. Dijamin tidak kalah seru. Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komentarnya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 24

(Come Back Home)

Bahkan jika aku jatuh berkali-kali
Aku akan bangkit lagi dan pergi menemuimu

Setelah pulangnya Sehun dan Aera, Chanyeol lebih terlihat pendiam. Soah bisa merasakannya. Suaminya terlihat berbeda dari sebelumnya. Dia lebih sering melamun dan tak fokus saat mengerjakan sesuatu. Seperti sekarang, entah sudah berapa lama pria itu hanya diam menatap layar laptopnya. Dia bahkan tak sadar jika Soah sudah duduk di sampingnya.

Malam itu mereka hanya berdua. Sehun putra angkatnya sudah tidur. Soah menyentuh pelan punggung suaminya. “Oppa,” sapa Soah mencoba menyadarkan lamunan suaminya.

Pria itu kaget. Terlihat jelas dari ekor matanya, meski pria itu sudah mencoba bersikap normal. “Kau belum tidur?” tanyanya setelah memberikan senyum terbaiknya.

Soah hanya menggeleng. Dia masih memberikan tatapan hangat. Tangannya terulur mengusap pelan pipi kanan suaminya. “Kau kenapa?”

“Aku baik-baik saja. Kenapa memangnya?”

“Bohong.”

Chanyeol menatap sendu istrinya. Wanitanya selalu paham apa yang tengah menimpanya. Ya, dia memang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

“Kau selalu terlihat murung sejak kepergian Sehun dan Aera eonni. Kau merindukan Seoul?”

Bohong jika dia berkata tidak. Tapi tidak mungkin dia mengatakannya. Dia tidak ingin menyakiti perasaan istrinya. Apalagi jika teringat kenangan buruk di tempat tersebut. Rasa sesak kembali menguasainya. Dia menarik Soah ke dalam dekapannya. Menghirup aroma khas istrinya. Perlahan sesak itu menghilang. Terlebih saat dia membelai lembut surai panjang Soah sambil memberikan kecupan ringan di puncak kepalanya.

Soah bisa mendengar detak keras jantung suaminya. Masih tidak berubah, sejak pria itu menyatakan perasaannya. Dia tersenyum di sela pelukan tersebut.

Tak ada yang bersuara setelahnya. Mereka hanya diam. Saling menyalurkan perasaan lewat pelukan tersebut.

“Ayo kembali ke Seoul!” ajak Soah membuka suara.

“Kau yakin!”

Soah mengangguk mantap. Dia sudah yakin dengan keputusannya. Cukup setahun saja dia menjadi egois dengan mengekang pria itu. Melihat senyum lebar pria itu adalah hal yang dirindukannya. Bukan berarti pria itu tak pernah tersenyum padanya. Hanya saja pria itu tak bisa menunjukan sisi bahagianya sejak mereka memutuskan untuk bersembunyi.

Chanyeol melepaskan pelukannya. Menampilkan senyum terbaiknya. Anggukan ia berikan kemudian.

Soah ikut tersenyum. Lengannya kembali mengapit tubuh kekar suaminya. Dia sudah bertekad dalam hati untuk membuka lembaran baru bersama suami dan juga putra angkatnya. Dia tak ingin bersembunyi lagi. Cukup setahun dia menata hati dari segala masalah yang menimpa pernikahannya.

-o0o-

“Selamat datang kembali, Sayang.”

Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan Nara begitu melihat Soah beserta keluarga kecilnya memasuki kediaman kakaknya. Seperti permintaan keponakannya, rumah yang pernah kosong itu sudah tampak terawat. Dia memang memerintahkan beberapa orang untuk mendekorasi ulang serta membersihkan rumah tersebut.

Rumah berlantai dua dengan dominasi warna putih itu benar-benar terlihat megah. Air mancur mengalir indah di tengah halaman. Bunga berbagai jenis tersusun rapi. Pohon yang mulanya tak teratur kini tampak rapi setelah dipangkas di beberapa bagian.

Eomma,” sapa Soah sambil memeluk Nara.

Setahun tak bertemu membuat gadis bermarga Kim itu merindu. Wanita yang sudah dianggap sebagai ibu keduanya, masih tampak sama. Riasan sedikit tebal yang membuatnya tampak tegas. Barang mewah yang selalu melekat di tubuhnya. Dari ujung kepala hingga kaki. semua masih melekat dalam ingatannya. Hanya satu yang berubah. Wanita itu kini tampak murah senyum dibanding sebelumnya.

“Aku merindukanmu,” lanjut Soah kembali.

“Aku juga, Sayang,” tutur wanita itu.

Annyeong haseyo, Ommonim.” Chanyeol membungkuk hormat setelah melihat Nara melepas pelukan Soah. Senyum terbaik juga dia berikan.

“Lama tak bertemu, Chanyeol.”

“Sehun, beri salam untuk halmoni,” panggil Soah pada putranya.

Sehun yang semula bermain dengan bunga di taman berlari menghampiri Soah. dia menatap lekat wajah wanita yang tampak asing di matanya. “Halmoni,” ucapnya pelan.

“Kenapa wanita secantik dia dipanggil halmoni. Aku tidak suka. Aku akan memanggilnya Grandma. Annyeong haseyo, Grandma.” Pria kecil berkemeja abu-abu itu memberikan senyum terbaiknya.

Mereka tertawa mendengar aksen bicara Sehun yang terdengar lucu. Dia tak paham jika Granma berarti sama dengan halmoni.

“Terserah padamu, Sayang.” Nara membungkuk untuk mengusap puncak kepala Sehun.

-o0o-

“Kenapa berhenti?” tanya Chanyetol yang melihat istrinya terdiam.

Pandangannya fokus pada rumah yang berdiri megah di depannya. Sudah lama dia tak berkunjung ke sana. Ada rasa takut saat akan melangkah. Dia khawatir mertuanya akan marah karena sudah mengajak pergi putra satu-satunya itu.

“Ayo!” ajak Chanyeol kemudian. Tangannya menarik lengan istrinya. Dia berhenti saat mendengar suara lirih istrinya.

“Aku takut.”

“Apa yang kau takutkan?” Masih dengan mengapit tangan istrinya Chanyeol bersuara. Matanya menatap lembut manik hitam istrinya.

“Bagaimana jika abeonim dan ommonim marah?”

Chanyeol tersenyum. Mengusap lembut pipi istrinya. “Percaya padaku. Mereka tidak akan marah.”

Ini sama seperti kali pertama dia menginjakan kaki di kediaman keluarga suaminya. Perasaan was-was muncul begitu saja.

Eomma, ini rumah siapa?”

Suara khas putranya terdengar. Membuatnya rasa was-was itu berkurang. Dia duduk berjongkok untuk menyamakan tinggi putranya.

“Rumah ibunya appa. Kau bisa memanggil mereka halmoni dan harabeoji.” Senyum tulus menghiasi wajahnya. Tangan rampingnya juga menyentuk puncak kepala putranya.

Appa juga memiliki kakak perempuan. Kau bisa memanggilnya imo,” tambah Chanyeol yang juga ikut duduk berjongkok.

“Iya. Sehun mengerti.”

Mereka membunyikan bel rumah kemudian. Tak menunggu lama pintu kediaman itu terbuka. Menampilkan sosok cantik kakak Chanyeol. Mereka sama-sama termangu. Antara heran dan tak terduga. Jika saja tak ada suara dari dalam, mereka pasti hanya saling menatap.

“Siapa, Sayang?”

Ibu Chanyeol datang dengan busana santainya.

Soah membungkuk memberi salam. Dia sudah bisa menguasai diri. Senyum termanisnya juga dia sunggingkan. “Annyeong haseyo. Lama tak bertemu…” Belum selesai dia berucap wanita yang menjadi mertuanya itu sudah lebih dulu mendekapnya.

“Ya Tuhan, Sayang. Bagaimana kabarmu? Eomma sangat mengkhawatirkanmu. Kau baik-baik saja kan?”

Pertanyaan bertubi dari ibu mertuanya membuatnya bingung. Namun lega yang mendominasi. Wanita itu tak marah padanya, justru malah sebaliknya. Dia baru bersuara setelah dekapan itu terlepas.

“Aku baik-baik saja, Ommonim,” jawab Soah ramah.

Seulas senyum juga tersungging di bibir Chanyeol. Melihat betapa hangat ibunya menyambut mereka merupakan kebahagiaan tersendiri. Dia menarik pinggang kakaknya yang juga tersenyum.

Sedang anak kecil yang bernama Sehun itu hanya menatap aneh aksi orang dewasa di depannya. Netranya  berganti arah. Dari ayahnya kemudian ke ibunya, lalu kembali ke ayahnya dan kemudian ibunya. Dia belum paham dengan situasi yang dialaminya hari ini.

“Siapa ini?” tanya ibu Chanyeol saat tak sengaja mengalihkan atensinya.

Annyeong haseyo, Halmoni. Namaku Sehun. Park Sehun.” Dengan membungkuk sopan pria kecil itu memperkenalkan diri. Penuh percaya diri dan tanpa rasa takut.

Ibu Chanyeol menoleh ke arah putranya, seolah minta penjelasan tentang sosok anak kecil yang menurutnya tampan.

“Kami mengadopsinya,” jelas Chanyeol.

Ibunya mengangguk paham. “Jadi ini cucu eomma.” Ibu Chanyeol membungkuk untuk menyamakan tinggi wajahnya. “Ayo masuk, Sayang!” ajaknya sambil menarik lengan mungil Sehun.

-o0o-

Sudah seminggu sejak kembalinya Soah ke Seoul. Dan seminggu itu pula dia hidup layaknya keluarga pada umumnya. Membangunkan suami dan anaknya di pagi hari, setelah sebelumnya membuat sarapan. Membereskan rumah. Dan masih banyak kegiatan rumah tangga lain yang dijalaninya. Hidupnya perlahan mulai cerah sejak pria kecil bernama Sehun itu datang. Pemikiran untuk memiliki seorang anak perlahan memudar.

Masih dengan menggunakan apron di dadanya, Soah memasuki kamar. Menyibak gorden kamarnya. Terang mulai menghiasi kamar. Tungkainya membawa mendekat ke ranjang. Tersenyum melihat suami dan putranya masih terlelap.

“Sayang, bangun! Katanya mau menemani eomma belanja,” ucap Soah. Tangannya terulur mengusap pipi putranya.

Tak ada sahutan. Putranya masih tenang. Dia hanya menghela nafas, membiarkan mereka menikmati tidurnya. Langkahnya kembali menuju dapur. Meneruskan masakan yang masih setengah jadi.

Dia membuka tutup panci sebelum manambahkan garam. Menyicipinya sedikit. Dia mengangguk saat rasanya sesuai selera. Mematikan kompor kemudian. Tangannya terhenti ketika merasa seseorang memeluknya.

“Kau masak apa?” dengan nada setengah mengantuk pria itu bersuara.

Wangi khas milik suaminya memenuhi indra penciuman Soah. dia tersenyum mendapat pelukan hangat di pagi hari. Belum lagi kepala pria itu yang bersembunyi di cerukan lehernya. Dia sangat tahu jika pria itu berkata dengan mata yang masih tertutup.

“Kesukaanmu.”

Pria itu mengangkat kepala. Menatap tajam istrinya. “Benarkah!” tanyanya memastikan.

Soah mengangguk sebagai jawaban. Melepaskan pelukan suaminya. Membalik tubuh dan berdiri berhadapan.

“Astaga, kau belum mencuci mukamu,” tuturnya mengusap pipi suaminya. “Cuci muka, sikat gigi, dan bangunkan Sehun. kita sarapan setelah itu,” lanjut Soah.

Pria itu hanya diam menatap Soah.

Dengan sedikit menjinjit, Soah mengecup singkat bibir suaminya. “Ayo. Tunggu apa lagi!” perintah Soah kembali.

“Lagi.” Pria itu merendahkan wajahnya.

Soah tersenyum. Dia melakukannya lagi. Mengcup singkat bibir suaminya.

“Lagi.”

“Sudah, sudah. Kau belum sikat gigi,” ujar Soah sambil menggeleng.

Pria itu ikut menggeleng. Dia semakin memajukan wajahnya. Soah ingin menghindar, namun lengan pria itu sudah lebih dulu menahan pinggangnya. Dia tak bisa bergerak. Dan berakhir pasrah mendapat lumatan lembut dari suaminya.

Tautan itu baru terlepas setelah Soah meronta. Dia kehabisan napas, tentu saja. Nafasnya sedikit memburu. Dia ingin protes, namun pria itu sudah lebih dulu pergi setelah mencuri kecupan ringan dari bibirnya.

“Aku akan membangunkan Sehun,” teriak pria itu.

Soah hanya tersenyum menatap kepergian suaminya. Tangannya kembali beraktivitas menata hasil masakannya. Butuh waktu lima belas menit, untuk melihat dua orang pria yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Eomma.” Sehun berlari mendekati Soah. lengan kesilnya memeluk kakinya.

Soah melepaskan pelukan putranya. Merunduk untuk menatap wajahnya. “Sudah sikat gigi?”

Sehun mengangguk sambil memperlihatkan giginya.

“Anak eomma pintar.” Kecupan ringan di kening putranya ia berika. “Ayo sarapan!” ujarnya lagi. Detik berikutnya, dia menuntun putranya duduk di salah satu kursi.

-o0o-

“Tidak apa-apa, pergi seperti ini?” tanya Soah. Mereka yang sudah masuk ke supermarket, berhenti di depan kumpulan troli. Bukan tanpa alasan dia bertanya seperti tadi, meski setahun sudah berlalu, tak menutup kemungkinan jika masih ada yang mengenali suaminya.

“Tidak apa-apa. Mereka pati tak mengenaliku,” tutur pria itu ringan. Dia sudah mengambil salah satu troli dann berjalan meninggalkan Soah yang masih mematung. Putranya juga sudah berjalan mengikuti suaminya.

Soah hanya membuang nafas pasrah. Dia ikut menyusul suaminya yang telah sampai di kumpulan sayur mayur. Suaminya sudah lebih dulu memilih selada. Karena tak sesuai selera, Soah mengembalikannya. Kembali mengambil selada lain sambil bercerita panjang lebar.

“Sehun mau dimasakan apa?” tanyanya kepada putranya yang kini sudah digendong suaminya.

“Bulgogi,” jawab Sehun diselingi senyum khasnya.

“Baiklah! Kita cari daging dulu.” Soah kembali mendorong troli menuju lorong lain. Tersenyum saat melihat rak penyimpanan daging. Di depannya terdapat beberapa pria tengah memandang. Memamerkan kualitas daging dengan memasak.

“Selamat datang, Aghassi,” sapa salah satu pria yang dekat dengan Soah.

Soah tersenyum ramah. Mengambil salah satu tusuk, sebelum memasukkan potongan daging ke mulutnya. “Rasanya sangat lembut,” jelas Soah setelah mengunyahnya.

“Tentu saja. Daging kami memiliki kualitas terbaik,” jelas pria itu lagi.

Eomma, aku juga mau,” tutur Sehun dengan nada merengek.

Soah kembali mengambil potongan daging dan menyuapkanya pada Sehun. Lagi dia mengulangnya, namun suapan kedua itu untuk suaminya.

“Emh.” Chanyeol mengangguk sambil berguman. Memberi isyarat untuk membeli daging tersebut.

Soah menunduk memberi salam setelah mengambil daging. Dia kembali berkeliling mencari benda yang dibutuhkan. Hingga troli yang didorongnya mulai penuh. Soah sempat kerepotan. Dia berhenti sejenak untuk mengumpulkan tanaga.

“Biar aku yang dorong. Sudah selesai kan?” tanya Chanyeol yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya. Putranya sudah turun dari gendongannya, dan kini beralih memeluknya.

Soah mengangguk. Dia menghela nafas saat melihat antrian panjang di kasir.

Eomma, aku mau eskrim,” ucap Sehun. Dia juga berkedip cepat sebagai tanda permohonan.

“Sehun beli sama appa ya. Eomma mau mengatri dulu.”

Asha. Appa, ayo!” Dengan cepat Sehun menarik lengan Chanyeol. Bahkan sebelum dia sempat pamit pada Soah.

Soah tersenyum melihat kepergian mereka. Dia tak sadar jika seseorang memperhatikannya.

“Dia putramu?” tanya seorah wanita paruh baya yang sudah antri di depannya.

“Iya,” jawab Soah dengan ramah.

“Kau masih tampak sangat muda untuk memiliki seorang putra,” ujar wanita itu lagi.

“Aku memang menikah muda.”

“Aah.” Wanita itu mengangguk paham. “Omong-omong, wajah suamimu tampak tidak asing. Dimana aku pernah melihatnya ya?” Wanita itu nampak berfikir sambil menatap Soah.

Soah hanya tersenyum menanggapinya. “Iya, biasanya dia memang muncul di TV.”

“Apa mungkin dia Chanyeol EXO?” ucap wanita itu tampak ragu.

“Iya,” jawab Soah sambil tersenyum.

“Benarkah!”

Soah kembali tersenyum. Dia senang melihat raut bingung di wajah wanita itu. “Aku hanya bercanda. Banyak yang mengatakan mereka mirip,” jelasnya kemudian.

“Sudah kuduga.” Wanita itu memukul pelan lengan Soah. “Aku dengar dia menghilang setelah mengumumkan pernikahannya.”

“Begitukah!”

“Sayang sekali, padahal aku suka saat dia menyanyi rap.”

-o0o-

Setahun menghilang. Chanyeol EXO terlihat di Giant Mall bersama seorang anak kecil.

Itu adalah satu dari sekian judul artikel yang menjadi topik utama di internet. Sejak dia mengantar istrinya berbelanja beberapa hari yang lalu, artikel itu mulai dirilis. Dia yang duduk bersantai di teras belakang rumah, menutup laptopnya. Pandangannya menerawang. Seolah sedang memikirkan sesuatu.

Tepukan pelan di pundak, mengalihkan atensinya. Netranya memandang wanita yang sudah lebih dari setahun menjadi istrinya.

“Apa yang sedang Oppa lamunkan?” Suara indah milik istrinya memenuhi telinga.

Chanyeol hanya menggeleng sambil tersenyum. Tangannya menerima secangkir kopi favoritnya. Meneguknya perlahan setelah mencium aromanya.

“Sehun belum pulang?”

Soah menggeleng. Meletakkan cangkirnya ke meja. “Sepertinya dia tak akan pulang. Kau tahu sendiri kan bagaimana ommonim begitu menyayanginya,” jelasnya kemudian.

Chanyeol mengangguk. “Sepertinya memang begitu.”

“Dia menginginkan cucu. Tapi aku tak bisa memberikannya.” Soah berkata lirih. Kepalanya ia sandarkan di bahu suaminya.

“Jangan berkata seperti itu.”

“Ini kenyataan.”

Hanya helaan nafas yang terdengar setelahnya. Chanyeol mengusap surai panjang Soah. wanitanya masih belum baik-baik saja meski waktu sudah berlalu.

“Kau sudah membaca berita. Kau muncul di internet.”

“Iya, aku sudah membacanya.”

“Bagaimana perasaanmu?”

“Tentang apa?”

“Sebagian besar dari mereka masih menantikanmu.”

“Aku tak peduli.” Pria itu mengeratkan pelukannya. Mengecup ringan puncak kepala istrinya.

“Jadi, malam ini kita akan tidur berdua,” bisiknya lembut di telinga Soah.

“Kau bisa mengatakannya seperti itu.” Soah mengangguk membenarkan. Dia mengangkat alis, setelah menangkap maksud lain dari ucapan suaminya. “Kau sedang tidak memikirkan hal lain kan?” tanyanya ragu. Pandangannya ia aluhkan ke wajah suaminya.

Suaminya tersenyum miring. Sangat kentara jika dia sedang memiliki ide gila. “Sayangnya iya, aku sedang memikirkan cara menghabisimu malam ini.”

“Tidak,” teriak Soah. Dia berdiri dengan cepat. “Aku tidak mau.” Tungkainya membawanya pergi meninggalkan suaminya yang tersenyum senang.

“Kau mau kemana?” teriak pria itu.

-o0o-

“Apa dia akan kembali?” tanya pria bernama Baekhyun itu. Dia bersama rekannya tengah duduk di ruang santai setelah menyantap makan malam tadi. Di tengah meja terdapat laptop yang menampilkan berita tentang Chanyeol.

“Aku juga tak tahu,” ujar sang leader.

“Kuharap dia akan kembali,” tutur Baekhyun lagi.

“Tapi siapa anak kecil itu? Tidak mungkin anaknya kan. Terakhir aku dengar Kim Daepyo keguguran.” Kini pria berkulita tan yang bersuara.

“Mereka mengadopsinya,” kata pria berkulita paling putih itu dengan enteng. Dia masih sibuk mengetik beberapa kata di layar ponselnya.

Mereka mengalihkan pandangan ke arah pria itu.

“Bisa jadi.” Suara Chen terdengar setelahnya.

“Mereka memang mengadopsinya. Kalian tahu apa yang lucu?”

“Berhentilah berbicara seolah kau tahu semua, Sehun.” DO yang terkenal pendiam ikut menanggapi perkataan pria yang dipanggil Sehun tersebut.

“Aku memang mengetahuinya. Nama pria kecil itu sama dengan namaku. Sehun. Park Sehun,” jelas Sehun lagi.

Sebagian besar dari mereka justru memutar malas bola matanya. Seolah yang dikatan Sehun hanya kebohongan semata.

“Aku berkata benar.” Lagi Sehun bersuara untuk memperkuat opininya.

Namun mereka tak lantas percaya. Mereka justru tertawa meremehkan.

“Lihat ini.” Sehun memperlihatkan potret dirinya bersama anak kecil itu.

“Kau benar. Dia memang mirip anak kecil itu,” jelas Kai.

Setelah mendengar suara Kai. Satu persatu dari mereka melihat foto di ponsel Sehun. Sehun tersenyum bangga melihat raut tak percaya di wajah rekan-rekannya. Tak sengaja netranya melihat seorang pria tengah berdiri mengawasi mereka.

Hyung,” teriak Sehun keras. secepat kilat dia berlari menghampiri pria itu.

Semua yang di ruang itu mengalihkan pandangan. Menatap tak percaya orang yang tengah dipeluk Sehun.

“Chanyeol-ah.” Baekhyun ikut berteriak. Dia berlari menyusul Sehun.

Stop!” Chanyeol berteriak sebelum rekan-rekannya menyerangnya. “Aku akan memperkenalkan seseorang pada kalian.”

“Sehun-ah, kemarilah!”

Dari balik pintu keluar seorang anak kecil membawa kotak makanan. “Appa, ini berat.”

Chanyeol mendekat. Merebut kotak makanan tersebut. “Kau bisa memperkenalkan diri.”

Sehun kecil membungkuk hormat. “Annyeong haseyo. Namaku Park Sehun.”

“Dia benar-benar bernama Sehun. Kupikir kau membual.”

Senggolan pelan Sehun terima dari Xiumin. “Sudah kubilang jika aku berkata benar,” ucap Sehun dengan bangganya.

Mereka tertawa setelahnya.

to be continue……..

Saya kembali lagi setelah dua bulan lebih hiatus.

Bagaimana menurut kalian?

Terima kasih sudah jadi pembaca setia.

See you.

Bonus pictures, Park Sehun

14 tanggapan untuk “[EXOFFI FRELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 24)”

  1. akhirnya setelah aku maraton seharian baca dari pertama sampe chapter 25 selesai jugaaa
    akhirnya juga mereka bisa sedikit bahagia.. park sehun nya terlalu ganteng sampe kalah tuh sehun gede nya haha

    1. Wah, wah, kuat ya, maraton seharian…wkwkwkwk…
      terimakasih sudah sudi membaca….
      udah bahagia kok, jangan pakai sedikit….
      iya nih, Bang Sehun kalah…. hahahaha…

  2. Wahhh akhirnya up juga thor setelah aku bulak balik buka ff ini.
    Senaang deh akhirnya mereka balik lagi ke Korea, semoga ga terjadi lagi deh yg kaya kemaren, semoga mereka bahagia terus ya thor, kasihan Soah menderita mulu.
    Ditunggu next chapnya ya thor, fighting 😊💪💪

    1. Iya nih…terimakasih sudah ditunggu…
      Mereka masih di Korea kok, cuman beda pulau,,,
      semoga, semoga, dan semoga…
      nggak lah, Mbak Soah nggak semenderita itu kok…
      ditunggu saja ya…
      Fighthing!!!

    1. Hahaha…. nggak ada kata telat untuk membaca…
      Aku lagi mengumpulkan semangat nih,….
      semoga tetep setia…
      ditunggu saja ya….

    1. Iya nih, lagi dapat ilham makanya bisa nulis…..
      PArk Sehun umurnya 5 tahun…
      hahaha, emang bule gambarnya…..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s