Coffe Candy – Shin Tama production [Ficlet]

Coffe Candy

Baekhyun / Aina (OC) / Kyung soo

Romance / Angst

Ficlet / PG- 15

***

‘Aku tahu jatuh cinta itu manis.

Aku juga tahu sakit hati itu pahit.

Tapi aku tidak pernah jera.’

Baekhyun

Hal yang tidak berani ku bayangkan. Hari ini terjadi. Rasa sakit seperti apa yang bisa ku jelaskan? Senyum manis yang selalu ia tunjukkan padaku, ia tunjukkan juga di depan pria itu. Suara lembut dan manja yang selalu aku dengar. Pria itu juga bisa mendengarnya. Dan yang selalu aku rindukan setiap hari adalah belaian tangan halusnya. Aku sangat tidak rela ia membelai pria itu. Aku sangat menyayanginya. dia adalah hal yang tidak ingin aku tukar dengan apapun di dunia ini. Jikalau langit memintanya aku tidak akan memberinya.

 

Aku menggenggam gelas lemon tea dengan sangat erat. Mungkin sebentar lagi gelasnya akan pecah dan aku tidak perduli jika tanganku akan berdarah-darah. Sakitnya tidak seberapa. Dibandingkan rasa sakit yang kurasakan karena pemandangan di depanku. Aina, pacarku dan Kyung soo yang kutahu adalah teman kantornya. Mereka berdua berbagi topik obrolan di selingi tawa dan tindakan mesra lainnya yang lazim dilakukan sepasang kekasih yang sedang kencan. Aku bukan pria gegabah yang langsung menghampiri mereka, lalu menghajar Kyung soo. Pikiranku tidak sedangkal itu.

 

Chagiya, kau sedang dimana?’ aku mengirim pesan itu ke ponsel Aina. Dari kejauhan, aku melihat Aina mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja cafe. Dia membaca pesan ku, karena tidak lama ponselku bergetar, tanda pesan masuk dari Aina. ‘Aku sedang di rumah kakak ku, ada hal yang perlu ku kerjakan untuk kakak ku.’ balasnya.

 

Aina

Sakit yang aku alami, tidak dapat difikirkan dengan otak, tidak dapat dilihat oleh mata, dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sakit yang aku alami, hanya bisa aku rasakan sendiri karena orang lain tidak akan tahu, terutama dia. Byun Baekhyun, pria yang telah menciptakan rasa sakit ini. Dia tidak pernah tahu dan mengerti. Sakit ini begitu menyiksaku setiap hari, rasanya ingin menyerah saja pada hubungan ini. Tapi, dia menjalani hari seakan tidak ada masalah apapun, dia menganggap keadaan ini normal dan biasa saja, sehingga tidak ada yang perlu diperdebatkan. Dia salah. Pernahkah dia bertanya bagaimana keadaan perasaanku ketika aku mulai menjadi pendiam dan murung? Harus kujelaskan dengan istilah apa sikapnya itu? Apa kata ‘dingin’ itu sudah cocok?

 

“Aku pesan ice cream cake rasa coklat untukmu, agar mood mu bisa lebih baik.” Kata Kyung soo sambil menyodorkan satu porsi ice cream cake yang baru saja dihidangkan di meja mereka. Kelihatnya enak. Aku juga pernah membaca artikel bahwa makanan yang mengandung coklat bisa mengobati bad mood. Saat masuk ke cafe ini beberapa menit yang lalu, aku kesulitan memilih menu makanan karena bingung. Sampai akhirnya, Kyung soo merekomendasikan ice cream cake rasa coklat dan ditemani secangkir cream latte yang masih mengepulkan asap. Manis dan hangat seperti sikap Kyung soo. Aku sangat berterima kasih padanya, karena kehidupan cinta ku agak pahit, dan hatiku agak beku. Sekarang, bisa terobati.

 

Kyung soo

Aku tidak pernah merasa keberatan dengan hal apapun, selama hal itu berkaitan dengan perempuan bernama Aina. Aku tidak pernah merasa direpotkan ketika dia meminta bantuan apapun. Aku tidak pernah merasa bosan bertemu dengannya setiap hari di kantor. Sampai aku nekad terus mendekatinya untuk mendapatkan perhatiannya meskipun aku tahu Aina memiliki pacar. Orang akan menganggap ku pria bodoh jika aku rela menjadi cinta yang kedua. Ya, aku sudah terlanjur bodoh. Aku tidak bisa berhenti mengharapkan Aina. Hal tidak lazim Dimata orang-orang, menurutku itu sah-sah saja.

 

“Apa rencanamu setelah ini?” Aku bertanya ketika Aina menyuapkan potongan terakhir kue nya.

“Belum tau, mungkin aku akan pulang ke rumah.”

“Ada pameran buku di Yeouido. Kau mau aku temani ke sana?” aku sangat berharap Aina menerima tawaranku. “Mungkin kau mau menambah koleksi novelmu?” Lanjutku. Aku sangat mengenal Aina, termasuk tahu hobi perempuan itu, yaitu membaca novel fiksi.

“Tentu saja aku mau. Aku tidak sabar berburu buku baru dari penulis favoritku.” Respon Aina sangat antusias, terlihat dari senyumnya yang merekah dan semakin manis ketika dia menunjukkan gigi kelincinya. Begitu menggemaskan. Bisakah kau bersamaku setiap akhir pekan? Menghabiskan hari dengan canda, tawa, atau tangis. Andai saja bisa, tidak akan ku lepaskan kau dari pandanganku.

 

Author

“Aku ke toilet sebentar.” Aina beranjak dari kursinya. Perempuan itu melewati meja yang ditempati Baekhyun. Segera, Baekhyun  berpura-pura membaca menu dengan maksud menutupi wajahnya. Baekhyun menoleh ke belakang, memastikan Aina tidak ada di ruangan ini. Dan benar, perempuan itu tidak ada. Menghilang dibalik pintu. Baguslah. Dengan begitu Baekhyun bisa leluasa bicara dengan Kyung soo tanpa memancing keributan. Lain cerita jika Aina masih disini. Perempuan itu akan meluapkan emosinya di depan orang banyak dan menarik  perhatian orang disekitar. Baekhyun tidak ingin pertengkaran dengan pacarnya menjadi  bahan tontonan.

 

Kyung soo terperanjat ketika Baekhyun berdiri dihadapannya . Pasti Baekhyun melihat aku dan Aina. Pasti pria itu akan menghajar ku. Batin Kyung soo.

“Usahamu akan sia-sia. Jadi berhenti sekarang. Tinggalkan aku dan Aina.” Suara Baekhyun datar namun tegas. Tidak ada Semburat emosi dalam matanya. Entah pria itu menahannya atau bagaimana.

Kyung soo pasrah. Ia sama sekali tidak punya hak untuk mengelak. Benar ia sangat menyayangi Aina, tapi pria bernama Baekhyun yang lebih berhak.

“Kau harus tau, Aina murung setiap hari, dan aku kerap melihatnya mengangis diam-diam. Aku tidak tahu apa yang telah kau lakukan padanya. Tapi aku tidak bisa tinggal diam melihatnya seperti itu.” Ucap Kyung soo lalu meraih mantelnya, bersiap pergi.

“Apa yang dia katakan tentang aku ke padamu?” Baekhyun menahan Kyung soo dengan pertanyaannya.

“Tanyakan saja sendiri padanya.” Balas Kyung soo dan benar-benar pergi.

 

***

 

Sama seperti Kyung soo, Aina terperanjat. Ia mendapati Baekhyun duduk di kursi yang sebelumnya ditempati oleh Kyung soo. Apa yang terjadi? Kemana Kyung soo? Pertanyaan itu yang terlintas di benak Aina. Aina kembali duduk di kursinya. Matanya tidak berani menatap Baekhyun. Ya, ia bersalah karena telah berbohong kepada Baekhyun. Aina membisu. Rasanya tidak pantas ia menjelaskan apa yang sedang terjadi.

 

“Mulai sekarang, jangan pernah temui pria itu lagi dibelakangku!” Ucap Baekhyun.

Aina mendongak. Menatap lurus ke arah Baekhyun. Entah keberanian dari mana. “Kenapa? Aku telah menghianatimu. ” Aku Aina.

“Aku tahu kau sedang menjaga hatiku dengan kebohongan itu. Jika kau berniat meninggalkanku, maka kau tidak akan melakukan kebohongan itu.” Papar Baekhyun.

Aina kehilangan kata-katanya lagi. Tangisnya pecah di kedua telapak tangannya yang ditangkupkan ke wajah.

“Mari perbaiki bersama hubungan ini.” Suara Baekhyun melembut.

Aina masih menangis.

-FiN-

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s