[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] When the Nightmares Started by ShanShoo

32c5aa5b63290677eeb5b3d74c4ba34b--park-chanyeol-exo-chanbaek

ShanShoo’s present

(EXO) Chanyeol ♠ (OC) Reyna

horror, mystery, friendship // ficlet-mix // teenager

—oOo—

“Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak menyewa apartemen ini, tapi kau malah bersikeras ingin menyewanya.”

 

WordPress : ShanShoo || Wattpad : @Ikhsaniaty

—oOo—

#1 “I don’t like where this is going…”

Penampilan band-nya yang di-upload di channel Youtube-nya sudah cukup memuaskan. Para penggemar mengelu-elukan nama anggota band, dan sebagian besarnya menjeritkan nama si Telinga Lebar itu; Park Chanyeol. Menyudahi kegiatannya, Chanyeol bergegas pergi ke kamar mandi apartemennya untuk mencuci muka dan menyikat gigi sebelum tidur. Selesai dengan kegiatan malam rutin itu, ia berjingkat ke tempat tidur dan di saat yang bersamaan, ia mendengar suara perempuan tertawa cekikikkan tepat di belakang tengkuknya.

“Sial! Sial!” Chanyeol mengumpat seraya melompat ke atas tempat tidur lalu membungkus tubuh tingginya dengan selimut. Di dalam selimutnya, Chanyeol merapalkan banyak doa di tengah ketakutannya yang kian menjelma.

Park Chanyeol…,” bisik suara perempuan itu, sebelum kembali tertawa cekikikkan lebih kencang, Chanyeol bahkan bisa melihat banyaknya bayangan hitam dari balik selimutnya karena lampu kamarnya tidak sempat ia matikan. Dan Chanyeol bersumpah, dia tidak akan pernah mematikan lampu kamarnya setelah ini!

*****

#2 “You are going to…”

“Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak menyewa apartemen ini, tapi kau malah bersikeras ingin menyewanya.”

Reyna Byun datang ke apartemen Chanyeol keesokan harinya. Gadis bertubuh mungil itu memendarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan mendesah panjang. “Kurasa penghuninya semakin bertambah,” katanya tenang, tetapi perkataannya sukses memancing ketakutan Chanyeol lagi.

Iya, Chanyeol sengaja mengundang Reyna kemari sekadar untuk memastikan ada hal apa saja di apartemen yang disewanya ini. Berhubung, Reyna memiliki bakat indra keenam semenjak ia masih seorang bayi.

“Aku memang sudah mendengar banyak kabar tentang angkernya apartemen ini, tapi aku juga tidak punya pilihan. Harga sewanya cocok dengan isi dompetku,” jawab Chanyeol, mendekatkan diri ke sisi Reyna, sementara gadis itu langsung memberinya pandangan malas.

“Isi dompetmu tebal.”

“Memang, tapi tebal karena ada banyak uang recehan dibandingkan dengan nominal yang besar.”

“Bandmu sudah tenar, Park Chanyeol.”

“Aku hanya tidak mau menghamburkan uangku untuk hal yang tidak berguna.”

“Apa mencari apartemen yang baik termasuk hal yang tidak berguna?”

“Anggap saja begitu.”

Reyna mendesah lelah, menggeleng kecil lalu maju beberapa langkah untuk berbicara dengan salah satu penghuni tak kasatmata apartemen karib semasa SMA-nya.

“Hei, Chanyeol,” panggil Reyna, menoleh ke belakang.

“Apa?”

“Mereka tidak mau pergi dari sini, adanya mereka yang memintamu pergi.”

“Aku tidak mau!”

Reyna mendengar ucapan hantu yang tadi ia ajak bicara dan membelalakkan matanya kaget. “Dia bilang, kau akan dalam bahaya kalau kau tetap tinggal di sini.”

Damn it!” umpat Chanyeol tak percaya.

*****

#3 “This was a stupid idea!”

 

“Kau gila?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa kau memintaku menginap di sini?”

“Karena aku ingin kau menemaniku.”

“Minta teman bandmu untuk melakukannya!”

“Tidak bisa! Mereka pasti tidak akan mau melakukannya jika aku membeberkan apa alasannya.”

Reyna menatap Chanyeol kesal, sekaligus merasa kasihan juga karena keadaan karibnya yang cukup memprihatinkan. Chanyeol pernah berkata padanya kemarin bahwa ia memiliki banyak luka cakaran dan memar di sekujur tubuhnya saat ia bangun tidur. Dan setelah Reyna melihat bukti nyata akan ucapannya, gadis itu mendesah lesu.

“Masih tak ada keinginan untuk pindah?” Reyna bertanya sekali lagi, memastikan pendirian Chanyeol demi keselamatan hidupnya.

Chanyeol menggeleng mantap, gadis di hadapannya pun memejamkan matanya sesaat sebelum ia mendengar suara gaduh yang terjadi secara tiba-tiba hingga membuatnya berdenging kesakitan.

“Reyna, ada apa?!” tanya Chanyeol panik karena Reyna menutup sepasang telinganya kuat-kuat dan menggeram kesal.

“Mereka… sangat… berisik…,” desis Reyna di tengah rasa sakitnya.

Chanyeol menegang di tempat.

“Chan… Chanyeol, pindah saja, hm?” pinta Reyna, setengah memelas. Sepasang matanya berair.

Chanyeol menatap gadis itu dalam diam sebelum akhirnya berkata, “Aku akan memikirkan hal ini lagi asal kau mau menemaniku selama dua malam. Aku tentu tidak bisa mendadak pindah karena aku sudah membayar penuh uang sewanya selama enam bulan ke depan.”

*****

#4 “Let’s check that noise out.”

Reyna memulai malam pertamanya menginap di rumah Chanyeol dengan perasaan campur aduk. Ia tidak bisa beristirahat, meski sekarang ia berbaring di atas tempat tidur yang nyaman. Matanya sudah terpejam rapat, siap menuju alam mimpi, tetapi karena ‘kegaduhan’ yang terjadi di kamar tamu yang ditempatinya, juga banyaknya bayangan yang berdesakan di dalam kamarnya itu menyebabkan dirinya tetap terjaga.

Pergi kau dari sini! Pergi! Pergi!” Semua suara gaib menyerukan kalimat yang sama dengan amarah membara. Reyna kian tenggelam di balik selimut yang menutupi tubuhnya, lalu merapalkan doa-doa yang dihapalnya dengan bibir bergetar hebat.

Sampai suara keributan berikut beling-beling pecah yang bersahutan di luar kamar, membuka matanya secara sempurna.

“Chanyeol!” serunya kaget, lantas ia keluar kamar―mencoba mengabaikan bayangan-bayangan hitam yang berdesakan itu―dan mendapati keadaan ruang tengah yang gelap gulita, juga sesosok laki-laki tinggi menjulang berdiri memunggunginya. Itu pasti Chanyeol.

Degup jantung gadis itu mulai menggila.

“Chanyeol…?” panggilnya, hati-hati. “A-apa yang sedang kau… lakukan?”

Tepat setelah Reyna berbicara begitu, Chanyeol membalikkan kepalanya seratus delapan puluh derajat tepat ke arahnya―tanpa membawa tubuhnya untuk ikut berbalik. Reyna memekik ngeri, kakinya melemas ketika ia mendapati Chanyeol yang banyak mengeluarkan darah dari soket matanya yang berlubang, hidungnya, rahangnya yang menganga lebar juga telinganya. Seiring dengan rahangnya yang kian menganga, Chanyeol mengeluarkan jerit memilukan hingga sanggup memecah pendengaran Reyna detik itu juga.

Pada beberapa detik selanjutnya, Reyna kehilangan kendali atas kesadaran dirinya.

*****

#5 “This is crazy! None of this is real!”

Reyna merasakan kepalanya begitu berat dan pandangannya berkunang-kunang kala membuka matanya. Ringisan tertahannya mengudara, sementara nyeri mulai ia rasakan begitu ia sadar, bahwa saat ini ia tergeletak lemah di atas lantai ruang tengah yang dingin.

Oh, tunggu sebentar…

“P-Park Chanyeol…?” panggilnya, lirih.

Tidak ada jawaban.

“Park… Chanyeol….” Desakan air matanya mulai menyakiti. Gadis itu meloloskan bulir beningnya sembari menahan isak tangis.

Hening. Hanya ada embusan angin malam yang membekukan tubuh, serta gelapnya keadaan ruangan yang mencekam.

Namun, tak lama setelahnya, Reyna merasakan kehadiran sesuatu di samping kanannya. Gadis itu segera menengok dan berjengit ngeri kala menemukan sosok Chanyeol dengan wajah yang sama dengan yang sebelumnya ia lihat; sepasang matanya yang menghilang, serta darah yang masih keluar, menggenang, mengotori lantai. Tubuh Chanyeol tampak beku di sampingnya, dadanya tak bergerak demi memasok udara. Hanya ada sosok mati di sana.

“Ti-tidak mungkin….” Suara Reyna tercekat, debaran jantungnya begitu menyakiti, air matanya mengalir tanpa henti dan dalam beberapa waktu ke depan, gadis itu menangis histeris. “Park Chanyeol!”

Reyna baru akan beranjak mendekati Chanyeol sekadar memastikan dugaannya, ketika tanpa diduga sama sekali, tubuh kaku itu diseret oleh sesuatu yang tak bisa Reyna lihat dengan jelas, ke arah sebuah ruangan gelap dengan pintu yang terbuka lebar. Gerakannya terlalu cepat. Reyna tidak sempat menarik tubuh Chanyeol bahkan sehelai rambut pun. Gadis itu hanya bisa menjerit histeris di saat matanya menangkap sesuatu yang bergerak-gerak di kegelapan sana, lengkap dengan sepasang mata merah menyala yang menukik, juga tawa rendah yang sanggup membangunkan bulu kuduknya dalam sekejap.

Lalu, yang tidak gadis itu duga sama sekali, ia juga ikut terseret ke dalam sana dengan kecepatan luar biasa. Sekalipun Reyna berteriak, meraung-raung meminta pertolongan, menangis sekencang-kencangnya dan berupaya mencari pegangan untuk melepaskan diri, pada akhirnya ia tetaplah ditelan oleh kegelapan itu, bersama sosok menyeramkan tersebut yang menantinya dengan tawa rendah yang kian mengerikan.

Sunyi senyap pun kembali menerpa. Seolah menganggap bahwa kejadian tadi bukanlah sesuatu yang penting dan membiarkannya digerus angin malam lewat jendela apartemen yang terbuka lebar dengan sendirinya.

 

 

 

―fin.

Halooooo semuanyaaaa! Jumpa lagi dengan Isan di sini yang udah lama nggak nengok dan post ff seperti biasa hwhwhwhw maapin daku yaa semuanya :”)

Maaf juga kalau fanfiksi yang aku bawakan ini nggak jelas dan gagal totallll. Aku tidak pandai membuat cerita bergenre horror wkwkwkwk

Namun, terima kasih buat kalian yang sudah membaca ini sampai akhir! Kritik dan saran selalu kutunggu ^^

Terakhir, selamat ulang tahun untuk Park Chanyeol! Kudoakan selalu yang terbaik untukmu ♥♥♥♥♥♥

 

Salam sayang,

ShanShoo ♥

3 tanggapan untuk “[CHANYEOL BIRTHDAY PROJECT] When the Nightmares Started by ShanShoo”

  1. ini horror.., awalnya kupikir hantu-hantu itu akan pergi, atau chanyeol yang pindah..dan akhirnya sungguh!!
    huft..aku juga lebih suka lampu yang tetap menyala saat tidur untuk mengurangi rasa takut? *LOL
    Happy Birthday untuk beberapa hari lalu park chanyeol ❤
    dan Thanks ya thor udah buat chanyeol B'Day project 🙂 ^^

    1. halooo, Sunny x))
      terima kasih yaa sudah menyempatkan waktunya buat baca dan komentari ff ini ^^
      haha kalo aku lebih suka lampunya dimatiin, kalo nyala nggak bisa tidur 😀

      iyaa sama2 yaa ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s