[EXOFFI FREELANCE] MEET YOU (Chapter 4)

Poster Meet You Chapter 4.jpg[4] Meet You

Tittle = Meet You

Author = Park Shin

Main Cast = Jeon Sena,Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Seol Jina

Cast = EXO’S members and other

Genre = Family, School Life, Friendship, Romance

Length = Chaptered (10 Eps)

Rating = General

Disclaimer = Well, mari kita menjadi pembaca yang baik ^^

[4]

Debar

Pelajaran terakhir kosong, murid-murid memilih untuk ke kantin, bermain dilapangan, perpustakaan dan hanya beberapa di kelas seperti gadis Jeon ini. Dia bermain ponselnya tanpa memperdulikan sekitarnya. Setelah ia merasa bosan, ia baru sadar bahwa ia sendirian di kelas. Ia melamun, lalu tersenyum tipis.

Baginya, berada di kelas ini rasanya aneh dan menyesakan. Entah berapa bulan lagi harus dilewati, ia hanya ingin segera pergi dari sini.

Gadis itu tersentak tatkala suara bass mendekatinya lalu meletakan susu kotak dihadapannya.

“Igeo. Kulihat kau belum makan seharian ini”

Sena meliriknya sekilas lalu menatap susu kotak rasa vanilla dihadapannya.

“Shirreo”

“Kau bisa sakit”

Sena tersenyum miring “Apa pedulimu?”

“Aku peduli.”

Sena mendongak, menatap lelaki yang kini juga menatapnya. Tatapan itu beda dari biasanya.

“Kau fikir aku akan diam saja? “

“Kubilang berhenti mempedulikan-“

“Bagaimana kalau aku tidak mau?”

“Wae?”

“Apa harus ada alasan?”

“Jangan. Aku tidak butuh”

“Tidak. Aku harus”

“Kau mau mati?”

Chanyeol mengalah. Berdebat dengan gadis Jeon bukanlah hal yang mudah, Lelaki itu memasukan kedua tangannya kesaku celana.

“Makanlah…”

“Shie-“

“Itu… yang terakhir kalinya.”

Sena terdiam, menatap susu dan Park Chanyeol bergantian.

“Aku tidak akan begini lagi jadi….. jangan membuatku khawatir”

Chanyeol berbalik namun sebelum melangkah kembali ia berkata “…setidaknya aku mencoba yang terbaik..sebagai saudaramu”

Sena menahan nafasnya, lalu menatap kepergian Chanyeol yang keluar dari pintu kelas. Ia menatap susu vanilla tersebut lamat-lamat. Hingga akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Susu itu belum tersentuh bahkan masih ia lihat, membuat laki-laki didepannya memiringkan kepala

“Oooh.. jadi kau suka susu vanila?”

Gadis itu melirik sekilas lalu mengabaikannya.

“Wae? Kau juga tak suka?”

Sena menatap lelaki itu, membuat lelaki itu menggarukan kepala.

“Kupikir… rasa susu bukan masalah bagimu kan? Masalahnya adalah siapa yang memberinya.” Baekhyun tersenyum “Aku benar kan?”

Sena masih belum bergeming, ia menatap susu itu.

Baekhyun ragu walau akhirnya mengambil susu itu dan membukanya. Ia menjulurkan tangannya dihadapan gadis itu, membuat Sena memandang Baekhyun cukup lama.

“Siapapun yang memberikan ini. Dia adalah orang yang peduli”

Sena terdiam ia memandang cukup lama susu yang kini sudah dibuka tutupnya. Lalu perlahan tangannya meraihnya membuat Baekhyun yang sudah berfikir hal terburuk adalah Sena melemparkan isi susunya padanya….tapi ternyata tidak terjadi, gadis itu perlahan meminumnya.

Baekhyun tersenyum. Lalu bertemu pandang dengan gadis itu.

“Ayo pulang.”

“Ini yang terakhir..” Baekhyun terdiam, menelaah ucapan gadis itu.

“Hmm?”

“Jangan memperdulikanku lagi.”

Lalu Sena lebih dulu bangkit dari kursinya lalu pergi, meninggalkan Baekhyun yang kini menghela nafas.

***

Gadis itu duduk dihalte bis yang cukup sepi. Ia memadang jalanan yang ramai oleh orang dan kendaraan yang berlalu lalang. Bus nya sudah lewat dan ia enggan pulang. Ia putuskan menghabiskan sore harinya disini. Hanya diam dan menatap.

Tiba-tiba seorang ibu duduk sambil memangku anak perempuannya yang tampak lemas. Sambil menelpon berkali-kali ia menoleh kesana kemari mencari sesuatu.

“Bagaimana ini, yeobo? Ae-gil demam tinggi sekali”

“Aku tidak ada uang.”

“Mwo? Dia bisa mati”

“Yeobo… yaaa yeobo…”

“Aishhh brengsek..”

“Eommmaaaa….”

“Eoh, sebentar nak…”

Sena berusaha tidak peduli. Namun tangisan anak perempuan itu membuatnya terganggu. Saat ibu itu duduk, Sena mencoba bertanya.

“Apa yang terjadi?”

Ibu itu menoleh “Ae-gil sakit. Aku tidak punya uang untuk memeriksanya. Aigoooo anakku yang malang”

Kini sang ibu juga ikut menangis membuat orang-orang menatapnya iba. Sena memegang dahi anak yang sudah lemas itu. Lalu matanya membulat.

“Panas sekali. Dia harus dibawa ke rumah sakit” Sena berdiri lalu mendekati jalan raya dan menghentikan taksi.

“Ayo masuk.”

Sesampainya didalam taksi ibu itu gusar. “Nak saya tidak punya uang”

“Anak ini harus segera dibawa ke rumah sakit”

“Tapi-“

Sang Ibu menangis. Sena menghela nafas lalu memegang tangan anak perempuan yang terasa dingin.

Sesampainya di UGD, anak perempuan itu langsung mendapatkan pertolongan. Sang Ibu menemaninya disamping ranjang sambil terus menangis. Sena yang melihatnya hanya mematung dan duduk tak jauh dari sana. Entah kenapa akhir-akhir ini ia selalu diingatkan dengan masa lalu yang tak ingin ia ingat.

Bau rumah sakit, bau obat-obatan, darah dan dokter yang berlalu lalang serta isak tangis.

Flashback

“Appa…. appaa…”

Gadis kecil itu menangis, Ayahnya masih terpejam walaupun sudah ia bangunkan berkali-kali. Lalu ketika dokter datang memeriksanya, ia muntah darah. Sang gadis yang belum genap berusia 10 tahun itu mematung dan bunyi monoton yang ia dengar seakan membuatnya membeku. Dokter itu berbalik, dan berjongkok, ia menepuk pelan puncak kepala gadis itu lalu menunduk.

“Ayahmu….”

Gadis itu perlahan mengerti, melihat beberapa orang berbaju putih itu menutup wajah Ayahnya. Gadis itu terisak lalu menangis sangat keras. Memuat orang-orang hanya menatap sekilas dan berlalu.

Gadis kecil yang ditinggalkan…

***

Setelah mengurus administrasi, Sena beranjak pergi. Namun, belum sampai pintu Ibu tadi mencegatnya.

“Nak…” Sena tampak kikuk, ia akhirnya menunggu ucapan sang ibu yang tampak kesulitan bicara.

“Terima kasih sekali, Ae-gil selamat.” Sena menunduk lalu tersenyum tipis.

“Syukurlah”

“Biayanya banyak ya?” Ucapnya sedikit parau “Maaf merepotkan, saya janji akan mengembalikannya segera…”

Sena menggeleng “Tidak apa-apa. Jangan khawatirkan itu.”

“Tidak nak, saya akan mengembalikannya… boleh saya minta nome-“

“Tidak perlu. Kalau begitu saya permisi…”

“Nak…”

Sena melenggang pergi. Sungguh ia tidak ingin ibu itu mengikutinya dan berjanji. Ia tidak memperdulikannya. Sesampainya di pintu keluar, ia melihat Baekhyun berlari kearahnya dan hampir menabraknya. Lalu melenggang begitu saja. Mengabaikan Sena. Sena berbalik dan menatap laki-laki yang berbelok ke ruang UGD.

Sena menaikan alisnya

“Kenapa dia?” Batinnya lalu ia berusaha tak peduli dan pergi

***

Sesampainya dirumah Sena disambut dengan ibunya yang menunggu di ruang tamu, Tuan Park yang membaca koran dan laki-laki yang tengah makan camilan. Suasana itu… membuat Sena kesal. Tuan Parklah yang pertama menyadari kedatangan Sena.

“Sudah pulang? Duduklah ayo makan buah”

Sena melihatnya sekilas, sang ibu yang berbalik menatapnya lalu tersenyum dan Park Chanyeol yang menatapnya sebentar lalu kembali makan.

Sena berbalik menuju kamarnya tanpa menghiraukan panggilan ibunya.Saat ia akan ke kamar, ia berhenti di tembok yang tepatnya kini tak ada lagi foto disana. Ia menoleh kesana kemari dan tak menemukannya. Lalu ia masuk ke kamarnya.

Di kamarnya, Sena berbaring dan menatap langit kamarnya yang berwarna merah muda dengan lampu berkilauan disana. Ia memejamkan matanya. Lalu menangis.

Mau dimanapun, gadis ini selalu menangis. Walau hidupnya tak sesulit saat di Busan dulu, ia tetap saja merasa sedih. Ia membayangkan dirinya yang menderita di Busan dulu.

Ia terpaksa tinggal dengan  renternir yang menjual rumahnya. Ia tidur di gudang tanpa alas dan setiap malamnya hanya mengigaukan nama yang tak pernah akan datang. Ia makan sisa makanan tuan rumahnya, jika tak ada ia harus mengais sampah didepan rumah. Ia hidup demikian. Bekerja sebagai buruh kasar dengan hasil yang tak seberapa. Mati-matian bertahan hanya untuk hidup. Ia merasa dunia sangat tidak adil bagi gadis yang baru saja 10 tahun di dunia. Ia ingin hidup setidaknya ia ingin mencari ibunya dan bertanya alasan kenapa ia pergi meninggalkannya. Dan saat ia bertahan, waktu berlalu begitu cepat. Segala penderitaan dan rasa sakit ia rasakan sendiri, hingga rasanya tak pernah ada bahagia dihidupnya.

Lalu ketika ibunya datang saat semua rasa sakit yang sudah terlupa, luka yang pernah tertutup , tergores kembali. Saat ia tahu hidup ibunya bahagia, ia marah. Ia menatap tangannya yang penuh kapalan dan kasar. Tubuhnya yang ringkih dan sangat kurus. Kulitnya yang tak terawat.

“Tidak adil…”

***

Seperti biasa, gadis itu akan pergi ke sekolah tanpa menyapa siapapun. Saat keluar dari rumah, ia menoleh kebelakang dan tak ada lagi Park Chanyeol yang mengejarnya. Gadis itu lega lalu melanjutkan langkahnya ke bus.

Setelah sampai di kelas, ia mendapati kursi dihadapannya kosong. Hingga bel berbunyipun lelaki senyum kotak itu tidak datang. Sena enggan memikirkanya, lalu ia fokus pada bukunya kembali. Peduli itu merepotkan dan ia tak ingin memperdulikan apapun.

Hingga waktu berlalu begitu cepat. Hujan membuat orang-orang tertahan di ruang kelas. Beberapa ada yang pulang dan gadis bermarga Jeon itu memilih berada didalam kelas. Setelah hujan sedikit reda, semua orang bergegas pergi namun tidak untuk Sena. Ia masih bertahan disana,memadang nanar buku bahasa inggris yang berkali-kali ia tatap.

“Apa yang kufikirkan?”

Sena memejamkan matanya lalu tidur diatas lipatan tangannya. Ia merasa gelisah entah mengapa. Rasanya hari begitu panjang.

“Kau masih disini?”

Sena melebarkan matanya lalu bangun tatkala mendengar suara yang tak asing. Byun Baekhyun seperti biasa menunjukan cengirannya. Seragamnya nampak basah dan ia mengibas-ibaskan rambutnya beberapa kali.

“Kau tidak pulang?” Tanyanya pada gadis yang masih termangu.

“Hah… aku bicara dengan tembok kok.”

Gadis itu mendengus. Entah kenapa kehadiran lelaki itu membuat dadanya ringan, dan Jeon Sena mencoba mengelaknya. Pasti salah.

“Sepertinya aku tidak salah lihat kemarin..” Baekhyun duduk dikursinya lalu menghadap Sena. “…kau di Rumah Sakit?”

Sena memandang Baekhyun lalu enggan menjawab.  

“Maaf aku mengabaikannmu begitu saja.”

“Kenapa kau disana?” Tanya Sena yang membuat Baekhyun tersenyum tipis.

“Akhirnya kau bicara juga”

Sena menghela nafas lalu menutup bukunya, akan berkemas sebelum suara Baekhyun menghentikannya.

“Terima Kasih Jeon Sena.”

Sena mengangkat wajahnya dan bertemu pandang dengan lelaki yang rambutnya mulai mengering.

“Terima kasih.. sudah menolong adikku.”

Sena menaikan alisnya, lalu melanjutkan aktivitas berkemasnya.

“Aku berhutang padamu”

Sena berdiri lalu meraih tasnya namun sebelum pergi Baekhyun menahan tangannya.

“Aku akan membayarnya.. aku janji”

“Tidak perl-“

“Harus. Aku harus menggantinya.”

Sena memandang Baekhyun sedikit kesal namun akhirnya ia mengalah dan menarik tangannya sendiri yang sedikit sakit dipegang Baekhyun.

“Ah maaf…”

Baekhyun tersenyum. Ia mengibas-ibaskan rambutnya lagi “Yahh… untungnya kau belum pulang.” Sena menatap Baekhyun yang dibalas cengiran lelaki itu. “Aku menerjang hujan demi menemuimu lho..”

Baekhyun tersenyum dan entah kenapa Sena hanya diam, mematung seperti orang bodoh.

Baekhyun dan Sena berpisah di halte. Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, dan hujan  memang menahan mereka lebih lama di sekolah. Setelah bus Sena datang Baekhyun menyuruh gadis itu naik.

“Yha Jeon Sena…”

Sena menoleh lalu mendapat cengiran lelaki itu. “Sampai jumpa besok”

Sena berbalik begitu saja lalu setelah duduk dikursi bus. Perlahan bus melaju dengan pelan namun tidak dengan detak jantungnya.

“Aku pasti gila..”

Sena menoleh kearah jendela, lalu menghembuskan nafas kasar. Dalam hati yang sangat dalam, tanpa gadis itu sadari ia ingin hari ini berlalu dan berganti esok.

***

Jeon Sena menaikan alisnya, ia terkejut mendapati Byun Baekhyun ada dikursinya. Ini masih pagi dan tak biasanya lelaki itu sudah datang. Yang berbeda adalah dirinya yang tengah tertidur disana.

Sena berjalan pelan untuk duduk dimejanya. Berharap langkah kaki dan gerakannya mengeluarkan bunyi seminimal mungkin. Dan setelah berhasil duduk dikursinya, Jeon Sena menatap punggung dihadapannya.

Lelaki itu nampak sangat lelah, dilihat dari pulasnya lelaki itu tidur. Bahkan ketika satu persatu teman teman kelasnya datang, lelaki itu tak terganggu.

Sena menoleh dan mendapati Chanyeol yang masuk lalu duduk di kursinya, tanpa memandang dirinya. Jeon Sena mengabaikannya dan berusaha fokus kembali pada buku dihadapannya walau akhirnya matanya perlahan naik dan menatap punggung yang belum juga bangun.

Tak lama kemudian, Joo Saem datang. Sena menatap Baekhyun yang masih belum juga bangun. Kemana teman yang selalu menyapa Baekhyun? Kenapa mereka tidak peduli dengan Baekhyun? Sena menghela nafas lalu mengambil bolpoint di meja dan perlahan menusukannya dipunggung Baekhyun. Lelaki itu mengerang sedikit lalu begitu Sena menusuknya lebih dalam, lelaki itu bangun dan mengelap bibirnya yang sedikit basah. Ia lantas menoleh kebelakang, mendapati Sena yang membeku dengan tangan yang masih menusuk pena di punggung Baekhyun. Lelaki itu tersenyum

“Hehe… terimakasih”

Lalu saat berbalik, Sena tak bisa mengontrol degub jantungnya. Lelaki itu biasa tersenyum, tapi akhir-akhir ini Sena menjadi hilang akal. Pasti ada sesuatu yang salah dengannya.

“Berhenti berdebar!!!” Sena memukul keras dadanya sendiri. Entah kenapa hari ini, tubuhnya benar-benar diluar kendali.

“Aku pasti gila..”

TBC

3 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] MEET YOU (Chapter 4)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s