[EXOFFI FREELANCE] MEET YOU (CHAPTER 3)

Poster Meet You Chapter 3

[3] Meet You

Tittle        = Meet You

Author        = Park Shin

Main Cast    = Jeon Sena,Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Seol Jina

Cast        = EXO’S members and other

Genre        = Family, School Life, Friendship, Romance

Length        = Chaptered (10 Eps)

Rating        = General

Disclaimer    = Well, mari kita menjadi pembaca yang baik ^^

[3]

Nice to meet you

Jeon Sena melambatkan langkahnya. Sesampainya di halte bus didekat rumahnya, ia menemukan lelaki jangkung itu melambai sambil tersenyum konyol. Jeon Sena memutar bola matanya malas.

“Kau lama sekali”

“Kembalikan ponselku”

“Nanti kukembalikan…”

“Sekarang.”

“Tidak begitu Jeon Sena, Kau ini kasar sekali eoh. Lakukan yang benar. Oppa… kemballikan ponselku”

“Kau mau mati?”

“Mwo?”

“Kembalikan” Sena hendak meraih ponsel itu namun Chanyeol malah mengangkatnya tinggi, membuat gadis itu mendongak dan berakhir menatap tajam lelaki itu.

“Ambilah kalau kau sampai”

Jika ini di manga, maka gambar perempatan sudah ada di dahi Sena. Tiba-tiba bus berhenti tepat disampingnya, hal itu membuat Chanyeol menoleh kesamping dan gesitnya gadis itu menendang betis Chanyeol, membuat ia refleks menyentuh kakinya dan Sena berhasil mendapatkan ponselnya. Ia kabur.

“Aish.. Appayooo… yak yakkk”

GREP

Langkah Chanyeol yang panjang itu berhasil meraih tudung jaket gadis itu, membuat Sena terhenti dan memegang lehernya yang terasa tercekik. Chanyeol pun memegang kakinya yang terasa berdenyut.

“YAKKK…..” Gadis itu mengelak, namun Park Chanyeol dengan kakinya yang linu berhasil menyeret Sena dan membuat gadis itu naik ke bus.

Didalam bus yang sesak itu, Sena menghembuskan nafas kasar berkali-kali, membuat seorang ibu-ibu yang duduk mendongak menatap gadis yang berdiri didepannya. Ibu itu merasa terganggu dengan hembusan kasar gadis itu, namun begitu melihat lirikan tajam Sena, ibu itu memilih melihat kearah lain.

“Ini yang keseratus kau bernafas seperti itu” Celetuk Chanyeol yang berdiri disampingnya. Sena hanya diam. “Apa kau marah?”

Batin Sena berteriak. SUDAH JELAS!

“Aku harus melakukan itu, supaya kau mau keluar. Apa kau tidak ingin jalan-jalan?”

Sena memadang lurus kedepan, diabaikannya pertanyaan Chanyeol.

“Apa kau mau Oppa antar jalan-jalan?”

Sena melirik tajam padanya membuat Chanyeol menaikan tangannya

“Oke.. oke aku hanya bercanda”

Chanyeol juga memandang kedepan, tepatnya di jendela bus yang kini memperlihatkan gedung-gedung tinggi yang menjulang. Suasana perkotaan yang padat dan orang-orang yang sibuk berlalu lalang. Lalu ia menoleh, menatap Sena yang hanya diam memandang luar dengan tatapan kosong.

***

Lelaki itu sangat antusias tatkala berada di stand sayur. Ia memandang rak sayur mayur dan langsung panik tatkala terkejut mendapati sosok Sena tak ada dibelakangnya. Sejak tadi, gadis itu mengekor saja dibelakang namun ketika ia sibuk memilih sayur, gadis itu tidak ada.

“Yaaa Jeon Sena…”

Chanyeol mendorong trolinya dan memutari hampir separuh rute disana, namun sosok gadis itu belum terlihat. Sesaat saat Chanyeol akan berbalik, ia mendapati gadis itu tengah berdiri di depan etalase boneka. Chanyeol menghela nafas panjang setelah hampir melaporkan ini ke bagian penyiaran.

Chanyeol mendekati gadis itu lalu berhenti tatkala melihat gadis itu mengusap kasar pipinya. Apa Chanyeol tidak salah lihat? Gadis itu…. menangis?

***

Sena menghela nafas panjang, ia lelah mengikuti lelaki yang sedari tadi sibuk memilih sayur mayur. Ia memilih menyapu pandangan ke seluruh ruangan disana, lalu ia melihat seorang anak kecil yang kebingungan, hendak menangis namun ia tahan. Gadis kecil itu memilih berlari kesana-kemari. Sepertinya ia kehilangan sesuatu.

Sena mendekatinya, lalu berjongkok menyejajarkan pandangannya pada gadis perempuan yang menahan tangisnya.

“Waeyo?”

“Eomma…” Sena berdiri lalu meraih tangan gadis kecil itu dan ia ajak gadis itu duduk di depan toko  boneka.

Sena tak tahu harus berbuat apa, setelah gadis itu duduk disana, gadis itu terisak. Sena berjongkok lalu tak tahu harus berbuat apa. Direngkuhnya gadis itu lalu ia biarkan dia menangis di pelukannya.

“Eun-sol-aaaa…..”

Gadis itu melepas pelukannya lalu mendapati seorang ibu-ibu berlari kearahnya.

“Terima kasih…terimakasih sudah menjaga Eun Sol, terimakasih nak…” Ibu itu memegang tangan Sena erat, seolah telah menyelamatkan negara dari ambang kehancuran. Ibu itu tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih dan setelah itu ia pergi. Gadis kecil yang digendong itu menoleh kebelakang, lalu melambai kearahnya.

Sena menghela nafas panjang.Selepas gadis itu pergi, entah kenapa memorinya memutar sesuatu yang tak ingin ia ingat.

Flashback

Gadis kecil berambut kepang dua itu terisak. Ditengah keramaian taman kota, gadis itu menangis tatkala mendapati sosok yang mirip dengan seseorang yang ia rindukan. Gadis itu berlari kesana-kemari untuk mencari, setidaknya ia berusaha mencari walau akhirnya dengan kakinya yang kecil itu ia kelelahan. Ia duduk di kursi putih lalu menangis kencang.

“Kau kenapa?”

Gadis itu membuka matanya, lalu mendapati gadis kecil lainnya menatapnya kasihan. Gadis itu memanggil ibunya agar mendekat.

“Bu, dia menangis.” Ucap gadis itu lalu ibunya mendekat dan mengelus rambut Sena

“Nak, ada apa?”

Gadis yang menangis itu semakin terisak.

“Ibuku…”

Ibu itu menaikan alis “Ibu? Apa kau terpisah dari ibumu?”

Gadis itu menoleh. “Aku melihat ibu tadi…. tapi dia hilang” Lalu ia menangis kencang membuat ibu dan gadis kecil disampingnya terkejut. Akhirnya ibu itu menuntun dan menemaninya mencari ibu tersebut.

Setelah berputar mengelilingi taman kota mereka rehat di bangku panjang pinggir jalan.

“Eoh,,,, ibu?” Ucap gadis berkepang dua itu dan langsung berlari ke trotoar, ibu disampingnya langsung panik dan menahan gadis yang nekat menyebrangi jalan tiba-tiba saat kondisi jalan tengah ramai.

“Ibu…. ibuuuu…”

“Nak, mana ibumu? Yang pakai mantel merah itu?”

Gadis itu mengangguk dan memanggil “Ibu” dengan sangat lantang, akhirnya ibu itu mengantarnya pada seorang wanita paruh baya yang tengah berjalan sambil menelpon.

Gadis itu langsung mendekap kaki wanita bermantel merah tersebut. Tentu saja wanita itu terkejut.

“Dia bilang anda ibunya.”Ucap ibu itu lalu menunduk menatap gadis yang mendeka kakinya erat sambil terisak memanggil “Ibu”

“Aku belum menikah… mana mungkin aku punya anak?”

Gadis kecil yang mendekap kaki wanita itu mendongak, lalu langsung mundur tatkala ia terkejut mengetahui wajah itu..

Wajah yang berbeda.

“Kau bukan ibuku….”

“Tentu saja”

Wanita bermantel merah itu langsung pergi. Gadis kecil itu menangis lagimembuat ibu disampingnya langsung berjongkok.

“Dia bukan ibumu?Lalu dimana ibumu?”

Gadis itu menoleh sambil menangis ia berusaha bicara “Ibuku….tidak pulang. Kupikir dia ibu, dia mirip ibuku…” Lalu menangis. Akhirnya ibu itu mengantarnya ke pos penjaga dan tak lama kemudian seorang laki-laki dengan baju compang-camping serta handuk kecil yang ada dilehernya langsung memeluk gadis kecil itu.

“Jeon Sena….kau kemana saja. Ayah mencarimu kemana-mana…”

Gadis kecil yang dipanggil Jeon Sena itu menangis keras, lalu dalam pelukan Ayahnya ia membisikan sesuatu yang membuat Ayahnya hanya bisa merengkuhnya dan mengelus punggung gadis yang menangis itu.

“Ibu…..”

Flashback End

Sena merutuki kebodohannya. Ia menyeka kasar air mata yang berani jatuh disaat seperti ini. Memori seperti itu tak pantas untuk ia ingat, BODOH!

Ia berbalik dan mendapati lelaki jangkung dengan senyum bodoh diwajahnya tengah mendekat. Ketahuan menangis seperti itu oleh lelaki itu…. dia merasa kesal dan akhirnya memilih pergi keluar, membuat Park Chanyeol yang memanggilnya hanya bisa menghela nafas panjang.

“Dia itu…”

***

Ia pulang lebih dulu. Sesampainya di ruang tamu ia mendapati wanita itu tengah tertawa dengan pria itu. Jeon Sena menahan amarahnya lalu saat ia berbalik, wanita itu memanggilnya.

“Sena-yaa… Kau sudah kembali?” Wanita itu berjalan mendekat lalu menoleh kesana-kemari “Kemana Park Chanyeol?”

Sena menelan ludahnya. Lalu menatap tajam wanita itu.

“Sena-yaa.. ada apa?”

Tiba-tiba ia merasa lidahnya kelu. Jeon Sena membisu dan akhirnya hanya bisa berbalik dan mengabaikan panggilan wanita itu. Saat ia berjalan menuju kamarnya, sebuah foto besar terpajang di koridor menuju kamarnya. Saat ia kemari, ia tak sempat menilik rumah ini lebih lama, ia tak sudi lebih tepatnya. Namun, ia menghentikan langkah dan menatap foto besar itu. Jeon Sena merasa muak melihat wanita itu tersenyum seperti itu, dan pria disampingnya yang seakan peduli dengan dirinya dan lelaki jangkung yang juga tersenyum bahagia disana.

“Foto yang bagus” Ucapnya pada foto tersebut lalu menoleh pada ibunya yang tengah berjalan menuju kearahnya.

Ibunya hanya membisu.

“Kau tampak  bahagia disana”

Sena tersenyum miring dan menatap ibunya “Tentu saja, kau bahagia disini. Untuk apa kembali ke Busan. Benarkan?”

Wanita itu tampak bergetar. Jeon Sena muak.

Hari ini sangat berat. Jeon Sena ingin segera pergi secepatnya dari sini.

***

Park Chanyeol mematung dibawah anak tangga. Ia mendengar percakapan ibunya dengan Sena. Lelaki itu menerawang kedepan lalu menatap ponsel Sena yang ada di genggamannya.

Ibunya turun, lalu seketika mengubah ekspresinya saat bertemu Chanyeol.

“Eoh… anakku, sudah pulang”

“Ehm Eomma… Oh ya, aku sudah belanja”

“Oh baiklah. Terimakasih. Ibu akan memasak makanan kesukaanmu.”

“Hmm Eomma… aku kekamar dulu “

“Eo.”

Chanyeol melewati ibunya dan berjalan menuju kekamarnya, langkahnya terhenti di foto disana. Ia menatap dirinya, ibunya dan ayahnya. Lalu menunduk lesu. Ia mendekat dan melepas foto besar itu dari tembok sana. Ia berjalan kembali menuju kamarnya, walau sebelumnya menatap kamar dihadapannya dengan lesu.

“Terimakasih sudah menemaniku belanja..”Ucapnya lirih, seakan-akan seseorang dibalik pintu akan menjawab dengan riang dan mengatakan sangat senang berbelanja bersama. Walau nyatanya hanya hening yang ia dapat. Akhirnya lelaki itu masuk ke kamarnya dengan membawa foto besar yang ia lepas tadi.

***

Seperti biasa, gadis itu akan melengos pergi membuat suasana sarapan pagi itu menjadi canggung. Park Chanyeol langsung menyusul Sena yang lebih dulu berjalan. Hari ini ia putuskan untuk naik bus, bersama gadis itu.

Sesampainya di halte, Chanyeol berdiri disamping Sena, ia tersenyum seperti biasa.

“Tidurmu nyenyak?”

Sena menaikan alisnya lalu bergeser kesamping.Menjauh dari lelaki itu.

Park Chanyeol menghembuskan nafas panjang, lalu mengikuti gadis itu lagi. Dan berhasil berada disampingnya lagi.

“Kau belum sarapan kan? Mau makan dulu?”

Sena tak menjawab. Gadis itu mengambil earphone dan memasang musik supaya suara bass lelaki itu tak terdengar.

Namun Chanyeol tak menyerah, ia menarik earphone itu dan memasangnya di telinganya.

“Wahh begini selera musikmu?”

Sena memutar bola matanya, lalu menghembuskan nafas kasar.

“Apa yang kau lakukan?”

Chanyeol tersenyum “Apa lagi….mendengarkan musik..” Chanyeol tersenyum miring “…dengan saudaraku.”

Sena menatapnya datar “Kau…” Sena menatapnya tajam membuat senyum Chanyeol perlahan memudar “… sedang meledekku kan?”

Chanyeol bingung “Mwo?”

“Kau pikir sikapmu ini akan membuatku senang?” Sena melangkah maju dan menarik kabel earphone dari telinga Chanyeol dengan kasar. “Aku membencimu.”

Lalu bus datang membuat Sena langsung masuk kesana. Tak peduli dengan lelaki yang kini mematung disana, dan tak kunjung menaiki bus.

Sena menatapnya sekilas, lalu memasang earphonenya kembali. Ia tak peduli.

***

Pagi itu suasana kelas seperti biasa. Sena duduk dikursinya tanpa mengabaikan keadaan kelasnya. Ia memilih mendengarkan musik di earphonenya dan membuka buku yang semalam belum sempat ia selesaikan.

Lelaki jangkung itu masuk ke kelas, ia menatap Sena sekilas lalu duduk. Sena tak menggubrisnya, ia fokus pada apa yang ada didepannya.

Belum ada lima menit, suara derit kursi didepannya mengganggunya.

“Selamat pagi”

Sena mengabaikannya namun suara itu mampu menembus ke telinganya.

“Kau belajar apa? Bahasa Inggris?”

Sena ingin sekali tuli, hari ini ia benar-benar tak ingin diganggu siapapun.

“Hello… How are you?” Jika saja ia bisa menyumbat mulut lelaki itu dengan buku dihadapannya ia ingin sekali melakukannya tanpa ragu. Tapi lelaki yang tengah mengoceh itu seakan tak takut dengan tatapan tajamnya, dan malah makin menjadi.

Sena melepas earphonenya lalu hendak marah sebelum lelaki bernama Baekhyun itu mengatakan sesuatu yang membuatnya terhenti.

“Nice to meet you.”

Sena hampir lupa bernafas. Ia menatap lelaki yang juga tengah menatapnya.

Baekhyun menunjuk sesuatu diatas buku Sena , membuat gadis itu ikut menunduk.

“Kau harus isi itu, di kolom ini.”

Sena merutuki kebodohannya. Ia baru saja berfikir hal yang tidak penting. Dan kenapa lelaki senyum kotak itu tersenyum sekarang? Apa dia meledeknya?

Dia benar-benar tampak bodoh sekarang. Sena menatap buku nya dan memang benar kolom yang tengah dikerjakannya harus diisi itu. Sena mengambil penannya dan menuliskannya disana.

“Nice to meet you..  Jeon Sena”

Pena itu berhenti menulis. Seakan suara lelaki itu berhasil menghipnotisnya. Ia tak ingin tertipu lagi, namun saat ia mengangkat kepalanya dan menatap lelaki itu. Baekhyun tersenyum. Entah mengapa terlihat sangat tulus, membuat mata gadis ini tak berkedip.

Tanpa mereka sadari, waktu disekitar mereka berjalan sangat lambat. Perkataan sederhana dari buku Bahasa Inggris itu mampu membuat mereka berdua menatap lama.Entah bagaimana serasa dunia hanya ada pada mereka. Hingga akhirnya waktu berjalan normal kembali, namun tidak dengan detak jantung mereka berdua.

“Kau mau mati?” Sena menatap Baekhyun yang kini tengah mengedipkan matanya berkali-kali. Lalu tersenyum.

“Tidak” Ia langsung membalikan badan kedepan dan membuat Sena menghirup nafas. Ia sempat menahan nafasnya lama hingga begitu sesak. Gadis itu menggeleng kuat. Ia tak boleh begini, debar jantungnya harus kembali.

Perlahan Sena menatap punggung lelaki yang kini nampak bersiul dan bercanda dengan anak perempuan di samping mejanya. Sena mendengus, ia hampir saja semudah itu.

Kini bukan lagi Park Chanyeol yang harus ia hindari. Lelaki bermarga Byun itu juga.

TBC

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] MEET YOU (CHAPTER 3)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s