[EXOFFI FREELANCE] Jangan Pergi

Jangan Pergi.jpgJangan Pergi

aliensss

Genre : au, drama, sad, hurt/comfort, school life

Length : Ficlet

Rate : T

Cast : Park Chanyeol (exo), Kim Sae Jin (oc)

Summary :

Orang itu muncul lagi dihadapan Sae Jin.

Dan Sae Jin akan memintanya agar tidak pergi.

Disclaimer :Semua cast milik Tuhan YME dan manusia yang berhak atas mereka. Ide cerita asli milik saya. Cerita ini hanya hasil imajinasi saya, jika terdapat kesamaan dengan cerita lain, maka itu tidak disengaja.

Happy Reading ^^

. . .

“Maafkan aku, Sae Jin,” kata Rio. Kepala laki-laki itu tertunduk. Ia menyesal setengah mati dan merasa perlu mendatangi rumah Sae Jin malam ini juga demi sebuah maaf.

“Pergilah, Rio. Kau yang mengakhiri semuanya. Jangan jadi pria pengecut dan menarik lagi kata-kata yang sudah  kau ucapkan.” Sae Jin memalingkan wajahnya. Tak ingin Rio melihat air matanya.

Rio terdiam. Ia ingin menjerit dan memohon pada Sae Jin agar gadis itu menarik ucapannya. Tapi keadaannya yang sekarat membuat pria itu pasrah. Mungkin, memang inilah jalannya. Ia tak ingin setelah ia tiada nanti, Sae Jin akan sangat terpuruk. Lebih baik mereka putus dengan cara tidak baik dan Sae Jin akan  membencinya.

“Aku mencintaimu, Sae Jin. Kuharap kau ingat itu. Dan jika kau tak keberatan, bisakah kau mengabulkan satu permohonanku?” Rio berdiri.

Sae Jin berharap ia tuli. Ia tak ingin mendengar semua kalimat Rio tadi. Ia tak ingin Rio benar-benar  melepaskannya. Ia ingin memohon agar pria itu tak pergi, tapi perkataan Rio saat mengakhiri hubungan mereka seminggu lalu terdengar sangat meyakinkan. Pria itu mantap ingin melepaskannya.

“Nanti, jika kita bertemu lagi-“ Rio menggigit bibirnya. Jangan sampai ia menangis sekarang. Dengan tangan terkepal, pria itu melanjutkan ucapannya, “Jika nanti kita bertemu lagi. Jika nanti aku muncul lagi dihadapanmu,  kumohon jangan biarkan aku pergi. Kuharap kau sudih memintaku agar tak pergi darimu.”

.

.

PRIIIT…..

Suara peluit Pak Lee membuat beberapa siswa yang sedang men-dribble bola menghentikan kegiatan mereka. Jino si ketua kelas segera menyuruh anggota kelasnya mengumpulkan bola ke dalam keranjang yang ada di lapangan itu, lalu memberi instruksi agar teman-temannya segera kembali ke kelas.

“Chanyeol, sepertinya anak baru itu benar-benar menyukaimu.” Gerrad bicara sembari memantul-mantulkan bola yang masih ia pegang. Matanya menatap lurus pada seorang gadis berambut sebahu di sudut ruangan.

Chanyeol menoleh ke kanan dan mendapati Sae Jin berdiri di sudut lapangan. Gadis itu masih menatapnya dengan cara yang sama. Aneh dan membuat risih.

“Aisssh…harusnya tak usah beritahu padaku! Bisa-bisa wajahku ini berlubang karena hampir setiap hari ia tatap seperti itu. Memangnya ada apa dengan wajahku ini hingga gadis itu terus melihatku sepanjang hari?” Chanyeol melangkah meninggalkan gedung olahraga.

Sae Jin. Tak banyak yang Chanyeol tahu soal gadis itu. Dia hanya siswa yang pindah ke sekolahnya 1 bulan lalu. Gadis itu termasuk murid pendiam, karena sepenglihatan Chanyeol, Sae Jin tak pernah terlibat interaksi apapun dengan anggota kelasnya. Dan yang paling penting juga yang paling menggangu Chanyeol adalah gadis itu selalu bersikap aneh padanya.

Sejak datang sebagai murid baru di sekolahnya, Sae Jin sudah melakukan hal-hal aneh pada Chanyeol. Dimulai dari seringnya gadis itu menatap atau memandangi Chanyeol dalam kurun waktu yang lama. Pernah selama satu hari penuh. Lalu berlanjut ke hal-hal lain yang menurut Chanyeol sudah sangat berlebihan dan mengganggunya.

Misalnya saja seminggu lalu. Tanpa alasan jelas, gadis itu tersenyum pada Chanyeol. Atau kemarin, saat Chanyeol membantu Sae Jin mengambil buku di rak perpustakaan. Gadis itu tiba-tiba saja menangis. Semua hal ini membuat Chanyeol benar-benar bingung.  Ditambah lagi tadi, sebelum pelajaran olahraga dimulai, Sae Jin tiba-tiba saja memeluknya. Hari ini, Chanyeol benar-benar melabeli Sae Jin sebagai gadis aneh.

Chanyeol kesal diperlakukan demikian. Bukan apa-apa, dia dan Sae Jin sama sekali tak saling mengenal bahkan belum pernah bertegur sapa. Lantas apa yang membuat Sae Jin bersikap demikian padanya? Rasa tak nyaman Chanyeol semakin bertambah saat teman sebangkunya, Gerrad, berasumsi bahwa Sae Jin bersikap seperti itu karena gadis itu menyukai Chanyeol. Yang benar saja! Meski tak keberatan disukai oleh orang lain, tapi cara yang Sae Jin lakukan benar-benar menggangu Chanyeol. Ia tak suka.

“Dia cantik, Chanyeol. Kau tak akan rugi kalau dia menyukaimu,” bisik Gerrad sembari menyalin apa yang gurunya tuliskan di white board.

“Diamlah, Gerrad.” Chanyeol menginjak sepatu yang Gerrad pakai.

Meringis pelan, Gerrad berucap lagi, “Kupastikan dia  sedang menatap ke arahmu sekarang.” Gerrad memutar sedikit tubuhnya dan mendapati Sae Jin memang sedang menatap lurus pada Chanyeol. “Aku benar. Dia sedang memandangi kepalamu.” Gerrad kembali menghadap ke depan sembari menyenggol lengan Chanyeol.  

Chanyeol berusaha fokus pada catatannya. Ia berharap bel pulang sekolah segera terdengar, agar ia bisa segera keluar dari kelas dan menjauh dari tatapan aneh Sae Jin. Sebenarnya ia tahu jika sejak tadi Sae Jin memang terus memandangi kepalanya. Ia hanya pura-pura tenang dan menyembunyikan ketidaknyamanannya.

Sepuluh menit kemudian, apa yang Chanyeol tunggu-tunggu akhirnya datang. Bel tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi. Dengan gerakan cepat, laki-laki itu merapikan buku serta alat tulisnya. Tanpa berpamitan pada Gerrad ia pun segera melarikan diri dari kelasnya.

.

Dengan wajah lesu, Sae Jin masuk ke dalam kamarnya. Tak pernah Sae Jin bayangkan kehidupannya di sekolah baru akan seberat ini. Dan semua ini karena satu orang bernama Park Chanyeol. Padahal, alasan Sae Jin pindah sekolah adalah demi sebuah awal baru. Sayang, awal baru itu harus pupus di hari pertama Sae Jin menginjakkan kaki di sekolah barunya. Tepat saat ia melihat wajah Chanyeol.

Membuang tasnya sembarangan, Sae Jin membaringkan dirinya di kasur. Gadis itu memiringkan tubuh dan matanya tepat mengarah pada sebuah bingkai foto yang terletak di atas meja di sudut atas kamar. Sama persis. Hidung mereka. Mata mereka yang jernih. Cara mereka tersenyum dan tertawa. Dan Sae Jin bisa pastikan, ukuran  jidat dua orang itu sama persis. Entahlah, Sae Jin tak tahu mana yang benar. Chanyeol yang terlihat seperti Rio? Atau Rio yang mirip dengan Chanyeol.

Sae Jin sudah bertanya pada orangtua Rio. Ibu pria itu bilang, Rio tak punya kembaran. Lantas mengapa wajah Chanyeol sama persis dengan rupa Rio. Sae Jin seperti melihat Rio hidup kembali saat menatap Chanyeol. Rio. Sae Jin menahan nafasnya saat mengingat nama itu. Tapi meski demikian, air matanya tak bisa gadis itu tahan. Hari ini, Sae Jin masih ingin menangisi Rio.

.

Keesokan paginya, saat Sae Jin memasuki kelas, pandangannya segera berkelana. Mencari sosok jangkung yang punya senyuman manis itu di setiap sudut kelas. Tapi sayang, sepertinya laki-laki itu belum datang. Menaruh tasnya di atas meja, Sae Jin duduk dan memokusnya pandangannya ke arah pintu kelas. Menanti Chanyeol dengan perasaan gugup yang sudah setahun ini tak pernah lagi ia rasakan. Lima belas menit berlalu, bel masuk pun terdengar. Sae Jin menunduk sedih. Hari ini sepertinya Chanyeol tidak masuk sekolah.

Chanyeol memang sengaja tak hadir di hari itu. Ia merasa tak bisa lagi menahan rasa risihnya. Siapa yang tak jengah dan terganggu kalau dipandangi satu harian penuh selama sebulan. Seharian di rumah, laki-laki itu memikirkan alasan mengapa Sae Jin terus memandanginya dan bersikap aneh padanya.

Tak menemukan jawaban apapun, Chanyeol duduk di kasurnya. Ia melihat pantulan dirinya di cermin. “Aku memang tampan, tapi haruskah dia menatapku terus-terusan? Lantas, kenapa dia menangis hari itu?” Chanyeol merapikan rambutnya lalu berpose layaknya model. “Aku ini memang sangat tampan,” pujinya lagi pada dirinya sendiri.

Dua hari kemudian, Chanyeol kembali masuk sekolah. Dan tepat saat ia sampai di kelas, Sae Jin sudah berdiri di sebelah mejanya. Menghembuskan nafas berat, Chanyeol berjalan menuju bangkunya. Seolah tak melihat Sae Jin di sana, Chanyeol duduk.

Perasaan Sae Jin campur aduk. Ingin menangis tapi juga bahagia. Raga Rio yang sangat ia rindukan itu ada di depan matanya. Tapi ia tak bisa segera memeluknya, karena pria itu bukanlah Rio. Dia Chanyeol.

Sae Jin kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya. Dengan tangan bergetar, gadis itu meletakkan kotak tadi di depan Chanyeol. “Selamat ulang tahun,” katanya kemudian pergi.

Mulut Chanyeol menganga. Ia sama sekali tak mengerti apa maksud gadis itu. Ia kira keanehan Sae Jin tak akan bertambah, tapi nyatanya gadis itu semakin menjadi.

“Aku tidak lahir di bulan November!” Chanyeol bersungut sembari menjatuhkan hadiah dari Sae Jin tadi ke lantai.

Kehabisan persediaan sabar, Chanyeol segera menyusul Sae Jin. Ia menghentikan langkah gadis itu ketika akan menuruni tangga.

“Apa ada yang salah denganmu? Mentalmu terganggu? Mengapa sejak sebulan lalu kau terus menatapku dengan aneh? Dan apa arti dari semua sikapmu ini? Kau tersenyum tanpa alasan padaku. Kau menangis tiba-tiba di hadapanku, kau memelukku tiba-tiba dan bahkan mengucapkan selamat ulang tahun padaku, saat aku sama sekali tak berulang tahun. Apa kau sengaja? Kau melakukan semua ini karena ingin mendapat perhatian dariku? Jika benar demikian, kau sudah gagal. Aku tak suka caramu dan aku tak suka padamu.” Nafas Chanyeol tak beraturan. Ia sudah mengatakan semua hal yang coba ia simpan selama ini.

Mendengar semua itu, Sae Jin hanya bisa diam. Ia memilih terus memandangi wajah Chanyeol. Bahkan ekspresi marah mereka sama persis.

“Mulai saat ini, berhenti menatapku seperti itu. Jangan menggangguku!” Chanyeol baru akan melangkah pergi saat telinganya mendengar suara Sae Jin. Sangat pelan dan juga sangat lirih.

“Jangan pergi….” Sae Jin tak bisa menahan rasa sesaknya. Gadis itu terpaksa harus menumpahkan air matanya lagi.

Chanyeol berbalik dan ia semakin bingung. Ia sudah bicara panjang lebar dan gadis itu malah mengatakan sesuatu yang tak berhubungan dengan topik yang ia bawa. Ditambah lagi, Sae Jin menangis. Ada apa semua ini?

“Kau tak mengerti apa yang aku ucapkan? Jangan menggangguku lagi!” bentak Chanyeol

Sae Jin menghapus air matanya, tapi cairan bening itu turun semakin banyak dari matanya. Yang bisa ia lakukan sekarang adalah mengabulkan permohonan terakhir Rio. Maka dengan terisak, gadis itu berucap lagi pada Chanyeol, “jangan pergi….”

Aku bertanya siapa namanya. Tempat baru, orang asing, tapi kuberanikan diri bertanya siapa namanya. Namanya Putri dan ia mirip denganmu.

Fin.

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Jangan Pergi”

  1. Jadi.. chanyeol nggak ada hubungannya sama rio? Terus gimana nasib saejin?? 😂😂
    .
    .
    Aku bertanya siapa namanya. Tempat baru, orang asing, tapi kuberanikan diri bertanya siapa namanya. Namanya Putri dan ia mirip denganmu.
    Btw.. ini terinspirasi dari pengalaman pribadi kah?? 😶
    .
    .
    Oh iya aku mau berpendapat nih, Mm.. menurut aku di cerita kali ini ada kata yang kurang tepat sih, seperti:
    ●”Membuang tasnya sembarangan, Sae Jin membaringkan dirinya di kasur. ”
    Yang ditempatkan diawal paragraf,
    .
    .
    Then.. ini:
    ●”Tapi sayang, sepertinya laki-laki itu belum datang. Menaruh tasnya di atas meja, Sae Jin duduk”
    Menurutku ini agak kurang nyambung sih antar kalimatnya, eh bukan gak nyambung.. tapi gmn yaa… kyk sambungan kalimatnya ‘menaruh tasnya” setelah tanda “.” Itu kayak kurang tepat aja.. jadi kalo baca agak sedikit ganjal? (Menurut aku sih..)

    Hehe.. maaf ya thor, itu hanya pendapat aku😂😂✌
    .
    .
    Kalo aku diposisi chanyeol aku maybe juga akan meledak kayak gitu 😂🔥 krn cy disitu kan nggak tau alasan saejin..,apalagi pas dimarahin malah dipandangin terus 😂😂 *(jangan sampe deh😂) aneh bener..!! /pikir cy/

    Wkwkwk.. good job👍
    Ditunggu next oneshoot-nya~ 💕💕

    1. Hai…Sunny! Kau lihat emoji hati yang beterbangan di sekelilingmu? Itu dariku! Terima kasih sudah mau memberi koreksi ^^ Aku menghargainya dan bakalan belajar lagi untuk bisa buat paragraf yang padu. Terima kasih ^^
      pengalaman? iya. Dia mirip Ah Ra. 😦 Untung dia nggak meledak kayak Chanyeol. kalau iya, aku bakalan malu setengah mati.
      sekali lagi, terima kasih ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s