[EXOFFI FREELANCE] The Times (Chapter 1)

 

unnamed.pngTitle
The Times

Author
akasan

Length
chaptered

Genre
Romance, Fantasy

Rating
PG-18

Cast
Oh Sehun (EXO) | Lee Sunghee (OC)

Summary
“I saw a man in my dream last night and at the first time my heart flustered.”
“She is the most beautiful girl I ever seen. Is that girl even real?”

Sehun dan Sunghee bertemu di dalam mimpi. Mimpi yang terasa jauh lebih nyata dibanding kehidupan real mereka. Lee Sunghee tidak tahu bahwa pria yang ia temui adalah anggota grup idola terkenal sedunia, dan Oh Sehun juga tidak akan menyangka bahwa gadis yang ia temui adalah CEO sebuah perusahaan yang terkenal dingin dan angkuh.

Disclaimer
akasan
saya post di akun wattpad saya @theredheadauthor

Author’s note
Sehun – 25 tahun
Sunghee – 22 tahun

Chapter 1

Itu adalah LK Group. Akronim dari Lee Kyungjo, pemilik sekaligus pendiri dari LK Group itu sendiri, yang menunjukkan bahwa grup perusahaan terbesar se-Korea Selatan itu dikelola oleh keluarga Lee Kyungjo. Setahun lalu, Kyungjo selaku pemilik saham terbesar di perusahaannya, memutuskan untuk pensiun dini dan menyerahkan seluruh kuasa atas perusahaannya kepada putra-putrinya. Alasannya sederhana.

“Aku ingin menikmati hari tua bersama istriku tercinta.”

Jajaran pemegang saham lainnya bisa mengerti. Presdir mereka sangat mencintai istrinya. Bahkan keinginan Sang Istri lebih penting daripada pertemuan proyek senilai ratusan juta. Mereka selalu teringat kata-kata bijak Sang Presdir.

“Uang yang banyak tidak ada artinya dibandingkan senyum cantik istriku.”

Para pemegang saham memutuskan untuk mengerti cara berpikir Kyungjo meskipun dengan berat hati. Kyungjo pemilik saham terbesar, tentunya ia tidak akan mengkhawatirkan hal-hal spele. Sebenarnya para pemegang saham tidak perlu mencemaskan apapun. LK Group tetap menjadi perusahaan terbaik se-Korea Selatan yang dipercaya pemerintah melakukan pembangunan negara dari berbagai sektor.

Sejak pendirian perusahaan, seluruh pemegang saham dan pegawai mengerti jika perusahaan nantinya akan dipegang oleh keturunan Kyungjo. Namun mereka tidak menyangka, keputusan pengambil alih kekuasaan itu dilakukan begitu cepat. Sang Presdir pensiun dini dan yang membuat semua orang sangat cemas adalah, ia memberikan posisinya pada putri bungsunya yang baru berusia 22 tahun. Yang kemudian menjadikannya sebagai presdir termuda se-Korea Selatan.

Gadis itu Lee Sunghee. Putri bungsu konglomerat Kyungjo yang bahkan belum lulus kuliah. Saham perusahaan sempat menurun karena kurangnya kepercayaan investor pada kemampuan Si Putri Bungsu. Namun siapa sangka, ia mampu memenangkan tender bernilai ratusan juta dolar dalam lelang proyek hotel termewah milik Pangeran Arab Saudi. Dalam sekejap, ia mendapatkan kepercayaan dari seluruh elite perusahaan dan menjadikannya sebagai presdir paling dihormati, bahkan melebihi ayahnya sendiri.

Popularitas Sunghee di dunia ekonomi dan bisnis melejit. Dalam setahun tahun kepemimpinannya di perusahaan, ia menjadi salah satu tokoh ekonomi Korea Selatan paling terkenal dan banyak dikagumi. Terlepas dari usianya yang masih muda juga kenyataan bahwa ia seorang perempuan.

Mengesampingkan kemampuannya yang begitu hebat dalam mengatur perusahaan, karakternya yang dingin dan serius, secara perlahan mengusir pria-pria yang ingin mendekatinya karena harta dan kecantikannya. Namun, nampaknya itu sia-sia ia lakukan karena ayahnya, Kyungjo, terus saja mengenalkannya dengan pria-pria dalam kencan buta.

Seperti saat ini. Sabtu malam, makan malam bersama putra presdir Grup K di sebuah restoran mewah di salah satu hotel bintang lima di Seoul. Namanya Yoo Seung, pria yang nantinya akan menjadi satu dari sekian banyak pria yang dicampakkan Sunghee di malam kencan buta mereka.

Sunghee ingat pasti, ia sudah melarang Bomi, sekretarisnya itu untuk memasukkan janji kencan buta dalam seluruh agendanya. Jika hal ini terjadi, pasti ibunya memberikan sesuatu pada sekretarisnya itu.

“Akhirnya aku mengerti perasaan Kyungjin-oppa dan Kangho-oppa.” Dengus Sunghee dalam hati. Ia mengesap tehnya sembari mengingatkan diri untuk memberitahu Irene. Ia harus membuat janji temu dengan kedua kakaknya untuk makan malam. Sebagai ganti karena ia selalu mengejek kedua oppa-nya itu karena tak kunjung menikah.

“Jadi, bagaimana dengan proyek The Sun?”

Lamunan Sunghee terpecah. Ia menatap Yoo Seung, pasangan kencan butanya itu. Sejak pertama kali bertemu, ia tidak suka melihatnya. Pria itu sangat sombong dan angkuh, walaupun putra pejabat. Sunghee pun juga putri konglomerat. Namun ia adalah putri yang penuh dengan harga diri. Melihat karakter Yoo Seung sekilas, Sunghee yakin ia tidak bisa memperlakukan istrinya nanti dengan baik.

“Hm? Kau bilang apa?” Tanya Sunghee malas.

“The Sun. Kudengar kau menangani proyek itu.”

Aura Sunghee menggelap. Ia sudah memutuskan untuk tidak berharap pada setiap pasangan kencan butanya, termasuk Yoo Seung. Sunghee menyembunyikan ekspresinya. Ia tersenyum tipis dan kembali menyesap tehnya.

“Ya, benar. Memangnya kenapa?”

“Apa kau mengalami kesulitan? Kudengar ini proyek pertama LK Group di luar Korea. Aku punya teman dari kementerian luar negri yang bisa…”

Kalimat Yoo Seung selanjutnya tak terdengar lagi oleh Sunghee. Gadis itu tenggelam dalam pikirannya, membaca arah pembicaraan Yoo Seung. Apalagi kalau bukan relasi yang lebih dekat dengan LK Group.

Sejak LK Group memenangan tender pembangunan hotel tertinggi di dunia, The Sun, permintaan pasar bertambah. LK Group yang sudah berjaya oleh generasi sebelumnya, menjadi semakin sukses berkat tangan dingin Sunghee. Namun, banyak pula yang berniat membangun relasi demi keuntungan pribadi.

Sunghee tidak seperti ayahnya, Kyungjo, yang ramah dan sangat baik pada relasinya. Ia berkaca pada pengalaman Sang Ayah sebelumnya yang pernah ditipu dan berada di titik terendah hingga perusahaan hampir bangkrut. Ia belajar, bahwa menunjukkan emosi yang sebenarnya, hanya akan melelahkan diri sendiri, bahkan bisa menjadi senjata yang menyerang dirinya. Ia juga belajar, selama ia dan LK Group bisa menyelesaikannya sendiri, ia akan terus maju tanpa bantuan orang lain. Inilah yang membedakan kepemimpinan Sunghee dan ayahnya dalam mengurus perusahaan. Sunghee membawa perusahaan ayahnya menjadi lebih mandiri dan tidak banyak bergantung pada perusahaan lain, tapi juga membuatnya terlihat sebagai presdir yang menutup diri.

Gadis itu lalu menghela napas. Ia merasa jengah. Semua pria yang ditemuinya secara personal, selalu melihatnya sebagai putri konglomerat, atau pebisnis. Tidak ada yang melihatnya sebagai Lee Sunghee, gadis muda berusia 22 tahun yang ingin hidup normal.

Suasana hati Sunghee semakin memburuk karena Yoo Seung terus saja berbicara tentang hal yang tidak dimengertinya. Ditambah dengan anggapan bahwa pria itu mengincar proyek The Sun. Namun lagi-lagi, seperti pada pertemuan kencan buta bermodus keuntungan pribadi oleh pria-pria sebelumnya, Sunghee tidak bisa dengan cepat mengatakan aku tidak menyukaimu dan kemudian mengusir pria itu. Yoo Seung adalah putra pejabat dan dilihat dari karakternya, ia bisa melakukan apapun sesuka hati.

Bukan berarti Sunghee takut pada Yoo Seung. Ia selalu tahu bagaimana cara untuk mengatasi masalahnya. Hanya saja, ia tidak ingin membuang emosi hanya untuk hal yang tidak berguna.

“Terima kasih atas tawaranmu, Yoo Seung-ssi.” Suara Sunghee terdengar sangat tenang, walaupun dadanya bergemuruh, memberontak, menginginkan Yoo Seung segera lenyap dari hadapannya. “Jika LK Group membutuhkan bantuan, aku akan menghubungimu.”

“Kau harus menghubungiku. Aku jauh lebih berpengalaman dengan Arab Saudi dibanding perusahaanmu.” Alis Sunghee berkedut mendengar kesombongan Yoo Seung. “Kau tidak tahu, betapa kerasnya tanah Arab. Masyarakatnya pun…”

Lagi-lagi kalimat Yoo Seung yang selanjutnya tidak sampai pada telinga Sunghee. Pria itu terus mengoceh, sementara gadis itu menahan diri untuk tidak mengumpat.

“Apa kau sedang pamer padaku?” Tanya Sunghee memotong Yoo Seung.

“Oh, apa aku menyinggungmu?”

Sunghee kembali menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. Ia tahu, pria adalah makhluk dominan. Mereka ingin dilayani, mereka ingin dianggap hebat. Namun ia tidak menyangka, Yoo Seung adalah pria terburuk dari semua pria yang ia temui dalam kencan buta. Pria itu tidak sadar dengan posisinya sendiri.

“Yah, sedikit.” Sunghee lalu bertanya. “Kata Ayah, kau bekerja di perusahaan K sebagai Direktur.”

Yoo Seung terdiam, menebak dalam pikirannya apa yang akan Sunghee lakukan. Ia sering mendengar bahwa gadis di depannya ini sering mencampakkan pria kencan butanya, dalam semalam.

“Perusahaan K adalah perusahaan dibidang ekspor-impor yang dipimpin oleh Kim-hwejangnim, pamanmu sendiri, bukan?”

“Y… Ya.” Jawab Yoo Seung sedikit heran karena tiba-tiba Sunghee menyebut nama pamannya.

“Tidakkah seharusnya kau sadar dengan posisimu?” Kali ini pertanyaan gadis itu membuat Yoo Seung menunjukkan ekspresi herannya. “Kau, seorang Direktur. Bagaimana bisa kau mengetahui lebih banyak dariku yang seorang CEO? Hanya karena The Sun adalah proyek pertama LK di dunia internasional, bukan berarti aku lebih bodoh darimu.”

Wajah Yoo Seung memerah. Pria itu menyentak tubuhnya, berdiri dan menunjukkan arogansinya pada Sunghee

“Jadi, kau menyebutku bodoh?”

“Aku tidak menyebutmu demikian.” Jawab Sunghee dengan nada santai. Gadis itu masih dengan posisinya, duduk tegak sembari menyesap tehnya. Ia lalu mendengar Yoo Seung tertawa dan mencacinya.

“Hei, wanita! Kau tidak ada bedanya denganku, memperoleh jabatan dengan koneksi. Jangan berpikir seolah-olah kau berbeda denganku.” Yoo Seung membentaknya, bahkan sambil mengacungkan telunjuknya. Namun Sunghee hanya mengerjapkan mata, tak peduli.

“Tentu saja aku berbeda denganmu.” Balasnya santai. “Pertama, aku perempuan, kau laki-laki. Kedua, aku CEO di perusahaan keluargaku, sedangkan kau Direktur di perusahaan Pamanmu. Ketiga, Ayahku memberiku seluruh perusahaannya padaku. Lalu, bagaimana denganmu?”

Yoo Seung menahan kekesalannya karena direndahkan oleh seorang wanita. Namun tatapan tenang Sunghee, membuatnya tak bisa berkata apa-apa.

“Statusmu… tidak setinggi high heels-ku.”

Mata dibalas dengan mata dan kesombongan dibalas dengan kesombongan. Tak berapa lama, sosok Yoo Seung sudah tak terlihat di restoran itu.

.

Pertemuan kencan buta itu berakhir setengah jam lebih cepat dari yang Sunghee kira, tapi menghabiskan energinya lebih banyak. Gadis itu memejamkan mata, menengadahkan kepalanya dengan punggung bersandar pada single sofa. Ia masih pada posisinya di restoran itu. Hanya saja sendirian,  tanpa ditemani siapapun. Yoo Seung telah meninggalkannya beberapa menit yang lalu dan sosok wanita dengan rambut bob cokelat menghampirinya.

“Apa yang diberikan Ibuku kali ini?” Tanya Sunghee pada wanita itu, Yoon Bomi, sekretarisnya, masih dengan memejamkan mata.

“Tidak ada.”

“Saat aku keluar dari restoran ini, pastikan kau mengembalikan jam tangan Ibuku.” Bomi segera memegangi jam tangan bertabur berlian yang diberikan Nyonya Choi padanya. “Gajimu lebih dari cukup untuk membeli jam tangan itu.”

“Benarkah?” Tanya Bomi. Namun ia lalu curiga. Tidak mungkin istri kesayangan konglomerat kaya memiliki jam tangan yang harganya dibawah jumlah gajinya sebagai sekretaris. Bomi memilih mengabaikan kepentingannya. Dilihatnya atasannya itu tengah mengisi energi dengan memejamkan mata.

“Apa sesulit itu, bertemu dengan pria dan menikah?”

“Apa sesulit itu, menolak permintaan Ibuku?”

“Nyonya selalu membuat saya tidak enak hati.” Balas Bomi.

“Tapi aku menggajimu.” Bomi terdiam. Ia tidak bisa mengelak. “Lupakan saja.” Sunghee beranjak, menegakkan tubuhnya. Kakinya yang jenjang itu melangkah dengan tegas, diiringi suara hak sepatu, menunjukkan sisi elegan dan karismanya. Sekaligus menutupi rasa gundahnya.

Benar. I don’t deserve love. Ayah dan Ibu bisa menemukan cinta mereka. Namun itu terjadi sebelum mereka menjadi kaya raya dengan sangat tidak normalnya. Aku yang seperti ini, tidak pantas memiliki cinta.

Duduk di kursi belakang mobil, Sunghee bersandar. Sudut kepalanya pasrah bersandar, menatap jalanan Seoul yang mulai sepi. “Aku ingin tidur.” Ujarnya, mengiringi mobil mewah yang ditumpanginya, membawanya kembali ke rumah.

.

Sosok itu tinggi menjulang. Ia datang ke sebuah restoran ayam dengan hoody hijau tua, topi, juga masker. Terlihat sekali ia tidak ingin dikenali. Namun jika melihat postur tubuhnya yang atletis dengan bahu lebar dan dada bidang yang tersembunyi dibalik hoody tebal, kaum hawa bisa terpesona. Itu hanya postur tubuhnya. Bukan wajah tampannya.

Ketika sosoknya yang mencolok itu muncul, seseorang di sudut restoran mengenalinya dan melambaikan tangan. Pria itu menghampiri dua orang yang ia kenali, yang sedang membolak-balik daging di panggangan portable.

“Menunggu lama, Hyung?” Sapanya. Ia duduk di depan Kang Jae, pria yang melambaikan tangannya tadi, membuatnya menghadap dinding, sekaligus bersebelahan dengan pria lain yang datang bersama Kang Jae, Jung Won. Ia menurunkan maskernya sampai hidung saja dan tidak melepas topinya.

“Aku punya banyak waktu, Sehun-ah. Tidak sepertimu.” Sehun, pria dengan hoody itu, meringis menanggapi Kang Jae. “Ahjumma! Tambah lagi dagingnya!” Ujar pria itu pada wanita tua pemilik kedai.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Jung Won.

“Seperti biasa.” Balas Sehun. “Melelahkan.” Tambahnya. “Hyung sendiri? Sudah lama kita tidak bertemu.”

“Kau ini bilang apa?” Gertak Kang Jae. “Dia baru saja keluar dari militer.”

Sehun-pun tercengang.

“Benarkah?” Tanya pria itu pada Jung Won. Jung Won mengangguk, sembari menuangkan soju di gelasnya. “Kenapa aku tidak tahu?”

“Kau terlalu sibuk.”

Kang Jae benar. Sehun terlalu sibuk. Comeback EXO kali ini membuat jadwalnya jauh lebih padat dari sebelumnya. Ditambah proyek drama China sejak dua tahun lalu yang tertunda karena masalah perseteruan China-Korea, membuat jadwalnya syutingnya tidak menentu. Ia tidak bisa sering-sering ke China, rekan sesama grupnya pun harus tertahan di negara asalnya untuk sementara. Meski begitu, ia bisa menyelesaikan syuting, di sela-sela pekerjaan yang lain. Yaitu sebagai model dan undangan festival mode di Paris. Semua kesibukan itu membuatnya melupakan sahabat masa SMA-nya dalam sekejap.

“Maaf, hyungi.”

“Kenapa kau harus minta maaf? Kami memaklumi pekerjaanmu, Sehun-ah.”

Pertanyaan Kang Jae membuat rasa bersalah Sehun makin membesar. Di antara mereka bertiga, bisa dibilang Sehun-lah yang paling sukses. Sama-sama bersekolah di sekolah seni elit, ternyata tidak menjamin mereka memiliki masa depan yang sama.

Kang Jae, misalnya. Pria itu memiliki suara yang sangat bagus. Bahkan dulu Sehun berpikir Kang Jae-lah yang akan debut lebih dulu dari mereka bertiga. Namun siapa sangka, pria itu sekarang justru berkuliah di jurusan Sastra Inggris.

Lain Kang Jae, lain Jung Won. Tidak lolos dalam berbagai macam audisi, ia akhirnya mengambil begitu banyak pekerjaan sambilan dan akhirnya wajib militer terlebih dulu.

Hanya Sehun yang beruntung dari kedua hyung semasa SMA-nya. Ia menjadi trainee di usia muda, debut di usia muda, dan mencapai kesuksesan di usia muda pula.

“Bagaimana dengan kuliahmu, Jae-hyung?”

“Yah, tidak buruk. Aku tidak menyesal melepas mimpiku sebagai penyanyi dan belajar keras untuk ujian universitas.” Jawab Kang Jae. Ahjumma pemilik kedai kemudian datang membawa sepiring penuh daging ayam dan oleh pria itu, seluruh daging diletakkan di pemanggangan. Ia lalu menyisihkan daging yang telah dipanggang dan daging yang masih mentah, agar Sehun atau Jung Won bisa mengambilnya.

“Jangan merasa bersalah, Dongsaengie. Setiap manusia memiliki jalannya masing-masing, dan orang-orang seperti kami ini termasuk orang yang harus berpikir realistis daripada mengejar cita-cita. Kau sangat beruntung.”

Jung Won memuji, tapi Sehun tidak suka mendengarnya. Ia mengunci mulutnya, membiarkan rasa bersalahnya karena menjadi satu-satunya orang yang beruntung di antara kedua sahabatnya.

“Tidak… tidak.” Sahut Kang Jae. “Meskipun kau beruntung sebagai artis, kau tetap harus berpikir realistis.” Pria itu lalu meletakkan daging ayam yang telah matang di piring Sehun.

“Dunia entertainment itu tidak abadi. Bahkan semua yang ada di dunia ini pun tidak abadi. Kebaikan agensi tidak abadi, tidak juga dengan cinta dari fans. Semua itu semu.”

Ucapan Kang Jae, mengosongkan hati Sehun. Pria itu seketika teringat dengan kejadian beberapa waktu lalu, ketika seluruh anggota sibuk dengan pekerjaan mereka. D.O sibuk dengan proyek drama dan filmnya. Chanyeol, walaupun ia tidak sering muncul di TV, tapi ia selalu sibuk di studio pribadinya, membuat musik yang ia suka.

Setiap melihat kesuksesan salah satu anggota dan kemudian cinta fans yang bertambah pada anggota itu, ia merasa iri. Ia senang ketika ada fans yang mengatakan cinta padanya. Namun jika para fans itu mengatakannya secara langsung di proyek solonya, ia akan merasa lebih bahagia. Jauh di dasar hatinya, Ia ingin dikenal dan dicintai sebagai Oh Sehun. Bukan sebagai Sehun EXO.

Pikiran Sehun pun melayang. Jika kontrak EXO berakhir dan ia bukan lagi bagian dari EXO, apakah masih ada orang yang mencintainya?

Sehun tidak membalas ucapan Kang Jae ataupun Jung Won. Ia memilih mendengarkan keduanya.

“Aku menyadari ini ketika melihat Lee Junghan. Aku bertemu dengannya saat audisi beberapa tahun yang lalu. Ia lolos audisi dan menjadi trainee. Namun, ia mengalami kecelakaan dan tenggorokannya terluka parah. Ia tidak bisa lagi bernyanyi dan saat itu agensi langsung mendepaknya.”

“Kau harus punya sesuatu yang akan menguatkanmu, Dongsaengie. Dunia hiburang memang tidak abadi, tapi kami ingin kau bertahan sangat lama, sebagai ganti cita-cita kami yang tidak tersampaikan.”

Cerita Jung Won dan pesan dari Kang Jae membuat Sehun teringat pada Kai. Beberapa waktu lalu Kai sempat cedera saat latihan dan membuatnya tidak bisa melanjutkan promosi EXO seorang diri. Ketakutan pun menjalari pikirannya. Berbagai pertanyaan menghantuinya. Bagaimana jika ia tidak bisa menari lagi? Bagaimana jika ia tidak bisa berguna bagi grup dan agensi, bahkan sebelum kontrak berakhir? Bagaimana jika ia akhirnya didepak dari dunia hiburan karena tidak lagi berguna?

Pikiran Sehun semakin meradang. Ia lalu teringat dengan D.O yang menjadi anggota tersibuk karena terus mendapatkan tawaran drama dan film. D.O bisa bernyanyi. Ia juga bisa berakting. Selepas dari EXO, pria itu bebas memilih, akan menjadi penyanyi atau aktor. Lalu, bagaimana dengannya? Ia memang dancer dan sering menjadi center.

Namun, ada Kai.

Sosoknya sebagai visual dan center di bayang-bayangi oleh Kai yang menjadi center utama.

Sehun tercengang. Ia tidak tahu, bahwa apa yang akan ia hadapi, jauh lebih rumit dari sebelumnya.

.

Pertemuannya dengan kedua sahabat masa lalunya, membuat Sehun berpikir banyak hal sepanjang perjalanan.

Dulu, saat awal karirnya sebagai anggota grup idola EXO, banyak orang yang mencibirnya, meragukan kemampuannya. Ia dianggap sebagai orang yang menjadi idol karena tampangnya saja.

Saat itu, ia tidak mempedulikannya. Pikirnya saat itu adalah, ini masih awal perjalanannya. Perjalanannya di dunia hiburan Korea, masih sangat panjang. Apapun bisa terjadi. Bisa saja dalam perjalanan karirnya, ia akan mendapatkan tawaran pekerjaan yang sangat banyak karena wajah tampannya. Wajah yang tampan adalah kemampuan yang baik. Tentu tidak boleh disia-siakan.

Sehun terlalu optimis, saat itu. Hingga tak sadar bahwa badai datang menghampirinya.

Kris, sebagai leader keluar. Lalu disusul Luhan, dan kemudian Tao. Kekosongan mulai terasa dan EXO terasa tak lagi sama. Formasi dance, line dalam lagu, juga karakter dari musik EXO terasa banyak kekurangan tanpa tiga anggota yang telah pergi. Namun dalam kekurangan tersebut, ia bisa merasakan keberuntungan.

Inilah yang baru disadari Sehun saat ini. Di saat enam tahun lebih ia jalani dengan EXO dan barulah sekarang ia merasa sangat bersyukur. Ia tahu, perasaannya yang begini bisa mengecewakan fans.

Kalau saja trio EXO-M masih bertahan dengan EXO, mungkin aku tidak akan mendapatkan lebih banyak line dalam lagu atau porsi dance.

Sehun tercengang dengan pikirannya sendiri, hingga menghentikan langkahnya. Ini sama saja dengan ia bersukacita dengan kepergian mantan anggota EXO. Mencoba menenangkan diri dengan mengatur napasnya, ia berusaha menjernihkan pikirannya sendiri.

Malam itu, masih dengan topi hitam terpasang di kepalanya, Sehun melakukan livestagram mendadak di akun tengah malam. Ia masih belum bisa menghilangkan kegundahan hatinya dan berharap dengan melakukan live dan menyapa fans, akan mengubah suasana hatinya.

Saat kecil, ia bukanlah anak yang populer. Ia hanyalah anak biasa, dengan kemampuan akademis yang biasa saja. Menjadi selebriti terlebih anggota EXO dan dicintai oleh fans membuatnya merasa bangga pada dirinya sendiri. Ia tidak tahu apa yang harus ia banggakan, tapi setiap ia melihat fans menyukainya, ia selalu yakin, ia memiliki sisi positif hingga ia dapat disukai. Setiap melihat fans, ia selalu merasa bahagia.

Namun sepertinya, malam itu memang bukan malam yang membahagiakan. Tidak peduli sebanyak apapun fans mengatakan i love you, Sehun-ah, Ia merasa tidak cukup.

“Sehunie, tidurlah. Sudah malam.”

“Sehun! Aku cinta padamu!”

“Ayo, katakan sesuatu!”

“Sehunie, kau tidak tidur?”

“Apa kabarmu?”

“Love from Munich.”

Biasanya Sehun akan merasa bahagia, ketika melihat komentar-komentar para fans. Namun kali ini, ia merasa hampa. Ia yang selalu optimis dan tidak mengkhawatirkan apapun, menjadi cemas luar biasa.

Apa yang membuat kalian jatuh cinta padaku? Wajahku? Jika aku tua dan keriput, apa kalian masih mencintaiku?

Apakah suaraku yang membuat kalian jatuh cinta? Aku tidak bisa bernyanyi, aku tidak bisa menyanyikan lagu tidur yang merdu hingga kalian tertidur.

Apakah karena aku bisa menari? Jika kakiku tidak bisa bergerak lagi, apa kalian masih mencintaiku?

Pertanyaan itu terus terngiang dalam pikiran Sehun, seiring dengan ucapan-ucapan manis dan cinta yang terus dikirimkan fans lewat akun instagramnya. Ia terdiam begitu lama, mengamati fans-fans yang semakin banyak bermunculan. Menghela napasnya, ia pun tersenyum tipis.

Aeri-ya. Sudah larut. Selamat malam, dan mimpi indah.”

.

Langitnya berwarna merah muda dengan sedikit temaram di ufuknya. Sehun bisa melihat pemandangan bunga berwarna merah terhampar sangat luas.  Ia tahu, ini hanyalah mimpi karena ia tidak pernah melihat bunga berwarna merah sepekat ini.

Sehun masih tidak tahu di mana, ia. Tubuhnya beranjak dari peraduan, berdiri tegak, mencari siapapun yang bisa ia ajak berbicara. Langkah kaki menuntunnya ke sebuah sungai. Langit tidak lagi berwarna merah muda, melainkan biru cerah. Ia mendekati sungai yang saking jernihnya, ia sampai bisa melihat pantulan wajahnya dengan latar belakang langit biru.

Pria itu menghela napas. Tidak ada yang bisa ia lakukan di sini.

Ia memutuskan untuk kembali ke tempatnya semula. Ia masih penasaran dengan padang bunga berwarna merah itu. Bunga itu seperti mawar, tapi rasanya mawar tidak memiliki warna sepekat itu.

Ketika ia kembali, langit masih menunjukkan warna merah muda, tapi padang bunga itu berubah menjadi warna hitam. Sosok gadis dengan rambut panjangnya, duduk di bukit, menghadap padang bunga. Tempat gadis itu duduk, adalah tempat Sehun pertama kali melihat langit merah muda itu.

“Apa yang kau lakukan di situ?”

“Melihat bunga.”

Pria itu lalu ikut menatap padang bunga dan tidak menemukan hal menarik selain warna hitam.

“Sebelum aku pergi, padang bunga ini berwarna merah. Namun saat aku kembali dan kau duduk di situ, warnanya menjadi hitam.” Gadis itu tidak membalas Sehun kali ini. Cukup lama hingga pria itu memiliki waktu untuk mengamatinya. Gadis yang cantik, pikirnya. Ia jarang melihat gadis secantik ini tapi karakternya sangat tidak sesuai dengan wajahnya. Gadis itu seperti hantu penunggu padang bunga. Hanya menatap padang itu dan tidak mengatakan apapun.

Sehun berkata lagi. “Ngomong-ngomong, kau menduduki tempatku.” Lalu gadis itu menatap Sehun dengan pandangan dinginnya.

“Padang ini sangat luas. Kau bebas duduk di mana saja kecuali tempat yang kududuki.”

“Ya, tapi tempatmu itu adalah spot terbaik untuk menikmati padang bunga.”

Gadis itu menatap Sehun lagi, menatapnya dengan pandangan malas lalu memalingkan wajahnya, tak peduli.

“Karena itulah aku duduk di sini.”

Dahi pria itu berkedut. Ia tidak percaya, ada seseorang yang mengabaikannya, terlebih seorang perempuan. Sehun tahu, ini hanya mimpi, tapi ia merasa kesal. Ia lalu mencermati gadis itu sekali lagi. Jika dilihat dari wajah dan penampilannya, sudah dipastikan ia adalah gadis Korea berumur 20-an. Seharusnya, gadis Korea di usia sekitar 20, mengenalinya sebagai anggota grup idola dunia, EXO. Kecuali… gadis di depannya ini adalah mata-mata Korea Utara.

Pasti begitu. Lihat saja, padang bunga yang berwarna merah bisa berubah menjadi hitam, setelah kedatangannya.

“Kau… mata-mata Korea Utara?”

Gadis itu mendelik.

“Kau tidak mengenaliku?” Balas gadis itu bertanya.

“Tidak. Untuk apa aku mengenalimu?”

Gadis itu lalu terdiam sejenak, sebelum menjawab. “Karena aku… terkenal.”

Dalam hati, Sehun mencibir. Pasti gadis ini adalah gadis rookie yang baru saja debut dan langsung menganggap dirinya terkenal seantero Korea Selatan.

“Aku justru merasa aneh, jika kau tak mengenaliku.”Balas Sehun.

“Memangnya kau siapa?” Pertanyaan gadis itu membuat pria itu terbelalak.

“Kau tidak tahu aku?”

Gadis itu terdiam lagi. Matanya bergerak, merawang. “… tidak. Apa mungkin… kau salah satu pria kencan buta itu?”

Sehun merasa ucapan gadis itu makin melantur dan ia semakin kesal.

“Kalau aku ikut kencan buta denganmu, kau bisa dikeroyok fans-ku.”

“Fans?” Gadis itu mengerjapkan matanya, memandang Sehun heran. “Apa… kau artis?”

Batin Sehun merasa dihina. Ia kemudian sadar, ini semua mimpi. Mungkin saja makhluk dalam mimpi seperti gadis ini, tidak menyadari bahwa ia adalah anggota grup idola dunia, EXO.

“Ya. Aku artis.” Untuk pertama kalinya Sehun merasa tidak bangga menyebut dirinya seorang artis. Bahkan di dalam mimpi, ia masih membawa perasaan gundah dari dunia nyata.

“Kenapa aku tidak pernah melihatmu, ya?”

Pertanyaan gadis itu membuat perasaan Sehun makin memburuk.

“Kau ini tidak punya TV di rumah, ya?”

“Ada, tapi tidak pernah kutonton.” Gadis itu terdiam sejenak. “Sepertinya aku harus menjualnya. Untuk apa TV besar-besar tapi tidak dipakai.”

Sehun tertegun. Awalnya ia ingin mencibir gadis itu. Sekarang, gadis itu justru berbicara seakan ia benar-benar hidup di dunia nyata.

“Apa kau tinggal di sekitar sini?”

“Tidak. Aku sendiri tidak tahu ini tempat apa?”

“Kau… tersesat?”

“Mungkin.”

Gadis itu lalu memandang padang bunga hitam, mengabaikan Sehun lagi. Untuk kesekian kalinya, ia merasa bahwa gadis itu sangat aneh. Gadis itu bahkan tidak penasaran dengan identitas Sehun. Tidak seperti dirinya yang begitu penasaran. Amat sangat penasaran. Bagaimana bisa ada seorang gadis yang tidak mengenalinya bahkan di dalam mimpi sekalipun?

Aigoo, Oh Sehun. Ini mimpi. Ingat! Sangat tidak nyata.

“Kau tidak ingin bertanya tentangku?” Tanya Sehun lagi. Gadis itu menggerakkan kepalanya, menatapnya dengan tatapan malas.

“Kenapa aku harus bertanya tentangmu?”

“Karena aku seorang artis di duniaku. Setidaknya saat kau kembali ke duniamu, kau bisa berkata pada orang-orang bahwa kau mengenal seorang artis dari dunia lain.” Gadis itu kembali terdiam, mencermati ucapan Sehun.

“Apakah ini semacam dunia paralel?”

Dunia paralel. Pria itu baru pertama kali mendengar istilah dunia paralel, tapi ia bisa segera mengerti maksudnya. Pria itu lalu duduk di samping gadis itu.

“Mungkin saja.”

Gadis itu terdiam lagi, lalu bertanya. “Kau, bangga sekali dengan pekerjaanmu, ya?”

“Tidak juga. Aku hanya merasa aneh karena kau tak mengenaliku, padahal aku terkenal di negaraku.”

Sehun bisa mendengar gadis itu menghela napasnya begitu panjang.

“Begitu, ya… Aku juga tidak terlalu bangga dengan pekerjaanku.”

“Lalu, kenapa kau melakukannya?”

“Entahlah. Tiba-tiba saja aku sudah bekerja dan menerima gaji.”

Awalnya Sehun ingin tertawa. Ucapan gadis itu sangat lucu. Mana ada orang yang tidak sadar dirinya bekerja dan menerima gaji? Ia lalu segera tersadar. Enam tahun lebih bersama EXO, seperti itulah yang ia lakukan. Bekerja, menerima gaji, menikmati gaji, tapi tidak sadar bagaimana dan kenapa ia bisa menjadi anggota EXO. Kalo ia pikir-pikir lagi, ia tidak tahu kenapa ia ingin menjadi artis.

Seseorang menyodorkan kartu nama agensi padanya, lalu datang pada orang tuanya. Tiba-tiba saja ia diterima bersekolah di sekolah seni elit dan menjadi trainee.

“Setidaknya kau memiliki orang yang kau cintai dan mencintaimu.” Ucapan Sehun, membuat gadis itu terdiam lagi. Kali ini dengan ekspresi yang sulit diartikan. Pria itu merasa ada yang janggal. Sebenarnya sejak awal kehadiran gadis itu adalah kejanggalan. “Ada apa?” Tanya pria itu.

“Tidak ada. Aku hanya merasa, a girl’s like me don’t deserve love.”

“Kenapa?”

“Karena semua yang mendekatiku, tidak mencintai diriku.” Sehun tertegun. Gadis itu lalu bertanya. ”Bagaimana denganmu?”

Love is like a dream.” Sehun terdiam lagi, menatap binar bulat gadis itu. Tatapan dalamnya, membuatnya terhipnotis sesaat.

“Kenapa?” Tanya gadis itu.

“Karena tidak bisa kumiliki di dunia nyata.”

Gadis itu kembali tertegun. Ia mengerjapkan matanya lagi. Kepalanya lalu menunduk dan tampak begitu gugup, sementara Sehun telah lepas dari hipnotis tatapan mendalam gadis itu. Pria itu juga ikut merasa canggung dan hanya bisa menggaruk tengkuknya.

Ireumi… mwohaeyo?” Tanya gadis itu.

Oh SehunKau?”

“Lee Sunghee.”

Itulah kali pertama Oh Sehun, seorang anggota grup idola dunia EXO, yang bertemu dengan gadis yang dicintainya dalam mimpi.

TBC

6 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] The Times (Chapter 1)”

  1. Ceritanya bagus, tapi mungkin kalimat di awal pembukaannya sedikit kurang tepat? *(in my opini😁)
    Hehehe.. sehun langsung jatuh hati nih, padahal baru aja ketemu, Kkkk..love at first sight ya hun?? 😄
    Next ya thor, keep writing~✊😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s