[EXOFFI FREELANCE] Red

 

 

red

Red

aliensss

Genre: au, drama, hurt/comfort, sad

Length : Ficlet

Rate : T

Cast : Park Chanyeol (exo), Kim Sae Jin (oc)

Summary :

Jika biru adalah cinta, maka merah adalah penyesalan.

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan YME dan manusia yang berhak atas mereka. Ide cerita asli milik saya. Cerita ini hanya hasil imajinasi saya, jika terdapat kesamaan dengan cerita lain, maka itu tidak disengaja. Cerita ini sudah pernah di post di wattpad, tapi dengan cast OC (@alien_sss)

Happy Reading ^^

. .

Sae Jin menatap kaos merah yang Chanyeol sodorkan, dengan alis menukik. Geli bercampur kesal. Bagaimana mungkin Chanyeol punya ide konyol begini? Kaos couple? Sama-sama berwarna merah dengan lambang hati berwarna biru di bagian tengah? Apa-apaan ini?

“Untuk siapa ini, Chan?” tanya Sae Jin memberi kesempatan sang kakak kelas mengubah keputusan.

Di depan Sae Jin, Chanyeol tersenyum lebar. Ia menyuruh Sae Jin memegang kaos yang ia berikan. Chanyeol membeli ini tadi siang. Ia berencana memberikannya besok di sekolah, tapi terlalu tak sabaran hingga akhirnya memutuskan mendatangi rumah Sae Jin malam ini.

“Tentu saja untukmu. Memang kapan aku sudih memberikan sesuatu untuk orang lain?” Chanyeol memaksa Sae Jin memegang kaosnya.

Sae Jin benar-benar tak habis pikir. Bagaimana bisa Chanyeol si murid yang suka membolos, pernah meninju guru, sering terlibat perkelahian dengan murid lain, dan bahkan punya hobi berkata kasar mencetuskan hal kekanakan seperti ini? Pria itu bahkan menyuruhnya  memakainya saat pagelaran seni di sekolah minggu depan. Mau dianggap apa Sae Jin? Memang, kedekatannya dengan Chanyeol sudah terendus oleh semua penghuni sekolah. Tapi mereka sama sekali belum ada ikatan apapun. Lantas kalau sudah memakai kaos serupa begitu, bagaimana lagi Sae Jin mengelak?  Sae Jin jamin ia akan jadi bulan-bulanan semua orang. Teman-teman sekelasnya pasti akan mengejeknya habis-habisan – mengatainya pembohong karena selama ini berkata tak punya hubungan spesial dengan Chanyeol. Dan, kakak-kakak kelasnya pasti akan tambah membencinya.

“Kau serius?” Sae Jin bertanya dengan suara pelan. Ia tak mau memancing kemarahan Chanyeol.

Chanyeol menghapus senyum di wajahnya. Ia menoleh pada Sae Jin dan lantas menyatukan alisnya.

“Kapan aku pernah tak serius saat itu tentangmu?”

Sae Jin tertegun. Selalu seperti ini. Chanyeol selalu berhasil membuatnya merasa sebagai gadis yang terpilih, tapi selalu saja lewat isyarat dan juga kode. Itulah hal yang Sae Jin benci dari seorang Park Chanyeol. Chanyeol tak pernah mengatakannya secara gamblang. Chanyeol menggandeng tangannya di depan semua orang, tapi selalu tak bersuara saat ditanyai hubungan apa yang mereka jalin. Chanyeol memukul semua murid laki-laki yang berani menatapnya berlama-lama, tapi selalu membisu saat ditanyai apa haknya berbuat demikian. Bagaimanapun, Sae Jin butuh kepastian bahwa cintanya tak bertepuk sebelah  tangan. Dan sayangnya, hingga sekarang Chanyeol tak kunjung mengatakan apapun.

“Kau tidak suka?” Chanyeol menaruh kaos miliknya di atas pangkuannya.

“Kapan aku pernah tak suka jika itu datangnya darimu?”

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Senyuman di wajah Chanyeol merekah lagi. Ia mengepalkan tangannya dan memukul puncak kepala Sae Jin pelan.

“Kita pakai ini saat pentas seni minggu depan. Lalu, ambil foto bersama.” Chanyeol menatap kaos merahnya dengan mata berbinar.

Sae Jin melirik wajah Chanyeol dan memberanikan diri menolak. Ia tak mau memakai baju pasangan itu. Malu.

“Lagipula, tak biasanya kau suka dengan  hal semacam ini. Saat Jino dan Karin memakai sepatu yang sama bulan lalu, kau jijik setengah mati. Kenapa kali ini kau mau kita memakai kaos pasangan?”

Indra terdiam. Kaosnya sudah ia letakkan di atas meja yang menjadi pembatas antara kursinya dengan kursi yang Sae Jin pakai. Pria itu menengadah dan mendapati langit penuh bintang dari teras rumah Sae Jin.

“Aku juga tak tahu. Tapi yang jelas, aku ingin kita memakai sesuatu yang sama. Dan kebetulan aku melihat kaos ini saat mengantar ibu ke mall tadi siang.”

Sae Jin berucap lagi, “Jika memang begitu, kan bisa kaos dengan warna lain? Aku tidak suka warna merah. Kenapa tidak pilih warna biru saja?”

Chanyeol menurunkan pandangan dan menatap wajah Sae Jin. Kesal. Ia tahu sejak tadi Sae Jin berusaha menolak kaos yang ia berikan. Menggeleng beberapa kali, Chanyeol pun mengambil kaos milik Sae Jin. Melebarkannya dan menunjuk gambar hati yang ada di tengah kaos.

“Ini warna biru kan? Merah itu warna kesukaanku dan biru warna kesukaanmu. Ini sudah perpaduan yang sempurna, Kim Sae Jin. Kau berada di tengah, sementara aku di sekelilingmu. Menjagamu.”

Sekarang Sae Jin yang menggeleng. Ia nyaris muntah karena rayuan yang Chanyeol buat. Terlalu memaksakan.

“Tidak mau. Aku tidak suka warna merah dan tak akan memakainya.”

“Meski ini permintaanku?”

“Iya.”

“Meski ini permintaanku yang terakhir?”

“Jangan membual. Aku tetap tak mau memakainya. Itu warna merah, Chanyeol….”

Chanyeol menyerah. Sampai ia berpamitan pulang, Sae Jin tak kunjung mau menerima kaos yang ia berikan. Dan rencananya memakai kaos merah itu di acara pentas seni minggu depan, pupus sudah.

Sae Jin segera keluar dari kelas saat bel istirahat berbunyi. Ia harus ke kamar mandi. Sampai di sana ia melihat banyak siswi lain yang sudah mengantri. Mau tak mau, ia pun masuk ke barisan tunggu. Menunggu selama 1 menit, Sae Jin mendengar suara beberapa gadis. Gadis yang marah-marah, tepatnya. Hanya belasan sekon berikutnya, Sae Jin tahu apa penyebab gadis tadi marah-marah. Chanyeol di sini. Ada di toilet perempuan, sementara toilet pria ada di sebelah.

Belum sempat Sae Jin memikirkan alasan mengapa Chanyeol ada di sana, tangannya sudah terlanjur ditarik oleh laki-laki itu. Chanyeol membawanya keluar dari barisan antrian dan keluar dari kamar mandi perempuan. Dan kegaduhan berpindah ke toilet laki-laki. Chanyeol membawa Sae Jin ke kamar mandi laki-laki.

“Pakai yang ini. Satu-satunya yang bersih.” Chanyeol membuka salah satu pintu di sana dan menyuruh Sae Jin masuk kesana.

“Apa?! Dasar aneh! mana mungkin perempuan di toilet laki-laki? Tidak sopan!”

Chanyeol menggeleng. “Toilet tetap saja toilet. Yang membedakan mereka hanya jenis kelamin manusia yang masuk kedalamnya. Apa kau melabeli toilt ini sebagai laki-laki, hingga kau tak boleh memasukinya?”

“Tidak mau!”

“Astaga! Bukanah kau harus segera ke toilet? Kenapa semakin hari kepalamu semakin keras saja? Kau mau rokmu itu basah?”

Sae Jin kesal akan perkataan Chanyeol, tanpa segan gadis itu langsung menjatuhkan kakinya di atas kaki laki-laki itu. Ia merasa puas saat mendengar Chanyeol meringis. Sae Jin pun langsung keluar dari sana. Ia hendak kembali ke toilet perempuan, tapi lagi-lagi tangannya ditarik Chanyeol.

Tak banyak meronta karena sudah sangat perlu ke kamar mandi, Sae Jin pasrah di giring Chanyeol entah kemana. Berjalan satu menit, Sae Jin sampai di depan kamar mandi guru.

“Ini toilet wanita. Masuk !”

Sae Jin ingin membalas ucapan Chanyeol, tapi sudah tidak tahan ingin buang air. Dengan menghentakkan kaki, gadis itu pun masuk ke kamar mandi tadi.

Beruntung, kejadian itu tak diketahui guru. Jika sampai ada guru yang tahu, Sae Jin dan Chanyeol pasti sudah dihukum. Selesai urusan toilet, Chanyeol menarik tangan Sae Jin lagi.

“Mau kemana?” Sae Jin bertanya waspada

“Ke kelasmu. Sebentar lagi bel.”

Berjalan dengan tangan digenggam Chanyeol membuat Sae Jin jadi pusat perhatian. Meski ini bukan yang pertama, Sae Jin tetap saja risih.

“Chan, aku bisa jalan sendiri. Aku juga tidak buta. Dan kita sedang tak menyebrang jalan.” Sae Jin berusaha menarik tangannya dari Sae Jin. Tapi bukannya melonggar, genggaman itu semakin erat.

“Kugenggam, karena memang aku ingin. Nikmati saja apa susahnya? Jika nanti kau tak lagi bisa memegang tanganku, maka kupastikan kau akan menyesal.” Chanyeol tersenyum tulus.

Sae Jin terdiam. Pipinya bersemu merah dan dadanya bergemuruh. Sae Jin yakin, jika Chanyeol peka, laki-laki itu bisa merasakan denyut nadinya yang melompat kegirangan di sana. Sae Jin menikmatinya. Genggaman erat khas Chanyeol. Hangatnya lima jari yang bertaut dengan miliknya. Terasa sangat aman. Tanpa sadar, senyuman Sae Jin mengembang.

Beberapa langkah berlalu, Chanyeol menoleh  pada gadis di belakangnya. Sungguh sebuah anugerah, karena ia melihat kedua sudut bibir gadis itu melengkung. Indah. Chanyeol berharap bahwa dirinyalah penyebab senyuman itu.

“Besok kau pakai baju warna apa?” tanya Chanyeol saat mereka sudah hampir tiba di kelas Sae Jin.

Sae Jin berhenti melangkah dan menatap selidik pada Chanyeol. Apa semua perbuatan manisnya tadi semata-mata karena ingin merayunya agar mau memakai kaos merah itu besok?

“Warna biru.” Jawab Sae Jin yakin

“Benar-benar tidak mau memakai kaos merahku?” Chanyeol bermain dengan jemari Sae Jin

“Tidak. Besok kau pakai kemeja putih saja. Biru dan putih, pasti serasi.”

Chanyeol menggeleng. Gadis yang ia cintai ini benar-benar sangat tak mau mengalah. Lagi dan lagi, Chanyeol hanya bisa menurut. Tapi Chanyeol tak menyesal, karena setelahnya ia melihat senyuman Sae Jin semakin lebar.

“Jangan menyesal, karena tak pernah sempat memakai kaos merah itu bersamaku. Itu kaos mahal, asal kau tahu.”

“Tidak akan.”

Penyesalan memang akan datang saat semuanya sudah terjadi dan sudah terlambat untuk memperbaiki segalanya. Seperti yang sekarang Sae Jin rasakan. Di dalam kamarnya, Sae Jin masih saja menangis. Air matanya seakan tidak habis meski 2 hari berturut-turut menangisi kaos merahnya.

Sae Jin membenci dirinya sendiri. Ia jijik  pada egonya yang tak mau memakai kaso merah itu. Jika saja ia mau, maka kepergian orang itu tak akan sesakit ini. Bahkan untuk hal kecil ini saja, Sae Jin tak bisa mengabulkannya.

“Maaf, Chan….” Sae Jin membenturkan kepalanya ke dinding kamarnya. Menghukum dirinya sendirinya. “Ji-jika kau kembali, aku berjanji akan mau memakai kaos ini. Maafkan aku. Kau benar, aku menyesal karena dulu menolak memakainya bersamamu.”  

Waktu Sae Jin sudah habis. Meski memohon sekalipun, orang itu tak akan kembali. Bodoh sekali Sae Jin yang tak menyadari semua tanda yang laki-laki itu berikan. Tiba-tiba membeli kaos pasangan, memintanya memakainya, dan menunjukkan sinyal-sinyal seperti orang yang akan pergi jauh. Sae Jin yang dungu malah menyuruhnya memakai pakaian putih hari itu.

Hari itu. Hari dimana harusnya Chanyeol dan dirinya menggunakan kaos merah. Hari dimana akhirnya Chanyeol memakai kemeja putih yang menjadi merah. Hari dimana pentas seni dilaksanakan. Chanyeol meregang nyawa dihari itu.

Dengan kemeja putihnya, laki-laki itu menjemput Sae Jin di sebuah supermarket, untuk berangkat bersama ke tempat pentas seni dilaksanakan. Sae Jin masih ingat senyum manis yang Chanyeol tunjukan hari itu. Senyuman paling indah yang pernah Sae Jin lihat. Tapi siapa yang sangka, senyuman itu adalah ucapan selamat tinggal yang paling menyakitkan.

Saat akan menyebrang menghampiri Sae Jin, Chanyeol tertabrak sebuah mobil. Tubuh pria itu terpental jauh, melayang diudara dan akhirnya membentur aspal. Seketika tubuh Chanyeol digenangi darah yang bersumber dari luka-luka di tubuhnya. Dari perutnya dan dari kepalanya. Sewaktu Sae Jin sampai di tempat itu, kemeja putih Chanyeol sudah  berubah jadi merah. Tak sempat berkata apapun, pria itu pun pergi meninggalkan raganya. Pergi untuk selamanya, dengan memakai kemeja putih bersimbah merah.

Dulu, warna kesukaan Sae Jin adalah biru. Biru adalah simbol cinta untuknya, karena saat bertemu Chanyeol untuk pertama kali, laki-laki itu menggunakan  kaos biru. Dulu, merah hanya warna biasa untuknya. Tapi semenjak Chanyeol masuk dalam hidupnya, merah dijadikannya warna favorit kedua. Tapi sekarang, merah tak lagi sesederhana itu.

Merah adalah warna yang meliputi kemeja putih Chanyeol. Merah adalah permintaan sederhana Chanyeol yang tak pernah bisa Sae Jin penuhi. Jika biru adalah cinta karena Chanyeol, maka merah adalah penyesalan.

Fin.

Terima kasih sudah membaca. Kritik dan sarannya ditunggu. Thank you ^^

8 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Red”

  1. SIAPA YANG NARO BAWANG DI SINI?????

    HUHUHU KAKAK AUTHOR KENAPA JAHAT SEKALI BIKIN SAD ENDING BEGINI? T.T /kepslok keinjek/

    nge-feel banget kak ceritanya, bisa ngerasain apa yang saejin rasain…. iya memang, penyesalan nggak pernah datang dari awal, kalo dari awal namanya pendaftaran /galucu/

    aku kira chanyeol ini orangnya jahat(?) nggak taunya… huhuhuhuu

    sukses selalu, Kakak author! keep writing! \(^^)/

    1. hai.hai. Terima kasih banyak udah mau baca.
      Aku nggak taruh bawang kok, Kak. Tapi kalau mau nanti aku kirimin sebiji.
      Penyesalan memang selalu berbekas ya? hohoho

      TERIMA KASIH BANYAK ^^

    2. kiriminnya satu karung deh kalo aku boleh menawar :”””) /digeplak/
      eheheh kenalin dulu, aku Isan, 97 Line /huhuhu angkatan tua/

      pokoknya semangat menulis dan terus berkarya yaaa! ^^ ❤

  2. Hiks.. sudah ku duga kalo cy bakalan kenapa-napa lewat permintaan dan kata-katanya.. yeah… karena genre-nya hurt, jadi aku sudah beranggapan gitu pas baca.. 😢
    So sad.., but this story very nice! 👍
    Good job thor~!! Keep writing~💕

    1. Hai Sunny, makasih udah baca dan komen.
      Sedih kah? padahal buatnya ketawa-ketawa. *nggakjelas
      terima kasih ^^
      semangat sekolahnya….!!!

  3. Hai..hai..,thor, kenapa selalu chan di buat “terbang jauh ke langit”, sae jin selalu di buat menyesal..sedih thor…huwaaaaa…

    1. Hai.hai. ^^ Terima kasih udah baca dan ninggalin komen.
      Kenapa Chan dibuat ‘terbang ke langit’ , karena emang tempatnya dia di sana. Jauh, jauh, tinggi. Di langit yang biru….
      hohoho…
      Terima kasih ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s