[Ficlet-Mix] Congratulations — HyeKim

picsart_09-11-03-52-401

Congratulations

.

Hurt/Comfort, Angst, Romance || Ficlet-Mix || Teens

Starring :

Soloist Luhan & OC`s Kim Hyerim


“… selamat.”

Frasa itu ibarat kata  ‘putus’ dalam elegi serta asa-asa yang Luhan damba pada Kim Hyerim yang kini bersama dengan pria lain.


 

© 2018 Storyline by HyeKim

 

Congratulations, you’re unbelievable
Congratulations, how could you do that
Like nothing happened
You broke my heart
Your smiling face shows that you’ve got over me
— (Day6 — Congratulations)

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Now you don’t even answer the phone
I hear that monotone voice instead of you

[1]

“Maaf, nomor yang Anda tuju…”

Menghela napas dengan berbeban rasa kecewa, Luhan memutus sambungan tersebut yang lagi-lagi menyuarakan suara monoton operator, alih-alih vokal sopran gadis kesayangannya yang tengah ia rindukan presensi, pun soprannya yang menghangatkan hati.

Layar ponselnya, ditorehkan tatapan dalam-dalam oleh Luhan. Benar kok, nomor yang dia tuju adalah nomor Kim Hyerim, bukannya operator nomor. Tapi mengapa gadisnya tidak kunjung menjawab panggilannya selama tiga minggu ini?

“Aku rindu padamu.” gumam Luhan.

Tersenyum meringis, dirinya menatap sinis layar ponsel yang setia menampilkan kontak Kim Hyerim. “Ah, benar. Aku ini bukan siapa-siapa dirimu, bukan? Jadi bagimu tidak menghubungiku selama tiga minggu bukanlah perkara besar.”

‘Aku lelah Luhan. Hubungan kita tidak pernah jelas akan dibawa ke mana. Tak pernah terikat tetapi hanya menyenangkan hati dengan frasa cinta. Namun kita selayak berjalan di jalan masing-masing meski saling mencintai. Kau dengan dunia malammu dan trauma yang membelengungi hingga tak mau memperjelas hubunganmu denganku. Dan aku dengan kerapuhan di sini, menanti dirimu sembuh dari traumamu seraya menahan kesakitan.’

Jelas betul memoar Luhan mengingat pesan Line terakhir Kim Hyerim padanya sebelum menghilang tanpa kabar seperti saat ini.

Lagi-lagi Luhan menghela napas seraya menunduk dalam. Benar, ini semua salahnya yang tidak mau memperjelas hubungan keduanya. Ini salahnya yang tak bisa meninggalkan indahnya dunia malam dengan hiburan para gadis-gadis dari bar sebab traumanya akan sakit hatinya dulu pada mantan kekasihnya. Hingga Kim Hyerim datang, kembali seorang Luhan jatuh cinta tapi tidak pernah berkomitmen untuk benar-benar bersama sama sekali.

I don’t even know how I can talk to you now
It’s not you, the you who talks to me anymore

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Let’s take a break
I took those words as they were
All we need is time
That’s the way I understood

[2]

Tergilirnya waktu amat cepat sampai tak dirasa telah memasuki satu bulan lah Kim Hyerim raib dari keseharian Luhan yang biasanya dipenuhi senyuman dan celotehan Sang Gadis.

Namun hari ini, tepat sekon ini, retina Luhan menangkap perempuan bersurai panjang bergelombang berwarna hitam yang diikat satu, tengah sibuk dengan bukunya dan melintasi taman kampus tepat beberapa jengkal di hadapan Luhan.

Lekas-lekas Luhan memacu langkah mendekati Hyerim yang sedang tersenyum-senyum pada aksara di novel yang dia baca.

“Astaga! Kagetnya!” Hyerim tersentak tatkala Luhan meraih lengannya dan membuat dara Kim satu ini menoleh ke arahnya dengan manik membulat. “Oh, Luhan.” sapa Hyerim, riak wajahnya yang semula kaget langsung luntur menjadi biasa-biasa saja bersama sunggingan senyum manis.

Demi Tuhan, Luhan amat rindu pada senyuman manis gadis di depannya. Hasrat dalam diri ingin menarik Kim Hyerim dalam rengkuhan hangat bin eratnya. Tetapi melihat lakon Si Gadis terkesan gontai setelah mengacuhkannya selama genap sebulan, Luhan mengurungkan hasratnya.

Belengunya pada lengan Hyerim, Luhan lepaskan. “Kau ke mana saja?”

“Aku?” novelnya, Hyerim tutup. Sembari beraksi santai, telunjuknya menunjuk diri sendiri. “Aku sibuk dengan kuliahku. Kau juga bukannya sibuk?” seloroh Hyerim, alisnya berjungkit.

Dahi Luhan berkerut tak paham. “Aku? Sibuk apa?”

Dengusan sinis Hyerim dengan buang muka sejenak pun merupakan respon refleksnya sebelum kembali menghunus Luhan sinis.

“Cheondamdong, Myeongdong, Itaewon, Gangnam. Bar mana lagi yang belum kau jelajahi selama satu bulan ini, Luhan?”

Kurva bibir Hyerim menyungging kesarkasan, walaupun hatinya menoreh luka. Sedang Luhan terpekur dengan frasa-frasa yang tersumbat di kerongkongan.

Deheman Luhan lolos. “Itu karena aku merindukanmu, Hyerim,” tukasnya, meraih lengan Hyerim dan menggenggamnya erat. “Kau tahu bila aku stress, aku melampiaskannya dengan dunia malamku dan permainan satu malamku itu.”

Secara kasar, Hyerim menjauhkan tangan Luhan darinya. Netranya berputar jengah.

“Maka dari itu, aku tidak bisa lagi bersamamu, Luhan,” pungkas Hyerim, tatapan dan kerut wajahnya setengah memelas. Luhan dapat rasakan kewelahan membelit gadisnya ini. “Aku tahu kau terjebak dunia malam untuk pelampiasan dan tak mau berhubungan serius dengan gadis manapun lagi karena dahulu kau amat mencintai mantan kekasihmu yang sudah kau lamar tetapi nyatanya mengandung buah hati dari sahabatmu dan memilih kabur di hari pernikahan kalian. Aku paham sekali patah hatimu itu, Luhan.

“Aku amat paham sampai merasa bodoh hanya karena mencintaimu. Bahkan aku meragukan cintamu padaku sekarang. Karena hari demi hari kau tetap dengan poros dunia malammu dan masih belum sanggup membina hubungan serius denganku. Maka…”

Hyerim menunduk, mengambil napas dan mengembuskannya kemudian menatap dalam Luhan.

“… biarlah kita rehat dulu, Luhan. Rehat akan hubungan tak jelas ini. Biarkan juga aku rehat dari menimbun rasa sakit melihatmu membawa sembarang gadis ke apartemenmu setiap malam dan akan kupergoki pagi harinya sembari berlakon biasa-biasa saja. Biarkan aku rehat, Lu, aku lelah memikirkan hubungan kita yang seakan sulit diikat menjadi satu dengan komitmen yang serius walaupun kita saling mencintai. Yang kita butuhkan hanyalah waktu sekarang, untuk memikirkan tentang kelanjutan hubungan kita.”

Luhan percaya, setidaknya dia berusaha memupuk rasa tersebut hingga Kim Hyerim raib dari pandangannya. Karena dirinya berpikir keduanya pasti akan bersama setelah ini meskipun jalan nan terbentang sudah mulai terlihat jelas; sebuah akhir yang tidak bahagia untuknya.

Thought we were meant to be
I thought that you belonged to me
I’ll play the fool instead
Oh but then I know that this is the end

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║


You said let’s take a break yeah
You said let’s think about us yeah
You looked into my eyes and made me trust
And now what you’ve done this to me

[3]

Hiruk pikuk kantin membuat suasana hati Luhan kian buruk saja. Mie ramen yang dipesannya hanya dia aduk-aduk tanpa tertelan satu pun ke perutnya. Pandangan matanya kosong, pikirannya berkicamuk, rohnya seakan pergi meninggalkan raga Luhan yang terpekur bisu.

“Luhan, Luhan.”

Namanya yang diimbuhkan secara bising dan terkesan tergesa, membuat Luhan mengangkat kepala dengan alis menukik sebelah tatkala dilihatnya dua spesies betina menatapnya dengan manik membulat.

Luhan mengaduk ramennya untuk terakhir kali dan pada akhirnya menelannya beberapa. Sembari mengunyah, Luhan menukas:

“Ada apa?”

“Apa kau berhubungan dengan Hyerim akhir-akhir ini?” tanya salah satunya dengan tampang serius.

Acara menyeruput ramennya terhenti sejenak, bergeming sudah Luhan tatkala mendengar nama gadis yang menjadi sebab akan keterpekuran Luhan sejak tadi. Dan baru Luhan ingat bahwa dua perempuan di hadapannya ini adalah dua karib Kim Hyerim: Kwon Nara dan Shin Yoonjo.

Kepala Luhan menunduk, lebih tertarik memperhatikan ramennya yang sudah diselimuti dingin. Sumpitnya bergerayang di antara ramen merahnya, menyumpitnya lalu menyetornya ke mulutnya.

Gelengan tercetus dari kepala Luhan. “Tidak sama sekali. Telepon dan Line-ku saja dia abaikan,” terselip senyum perih Luhan. “sekiranya sudah sebulan dia mengabaikanku. Katanya aku dan dirinya butuh waktu berpikir.”

Dimasa Luhan sibuk dengan ramennya dan labirin otaknya menggeledah hasil diskusi dalam dirinya selama ini perihal akan dibawa ke mana hubungannya dengan Hyerim, Yoonjo dan Nara malah memandangnya dalam kemudian sama-sama menghela napas.

Yoonjo membanting bokong ke kursi di depan Luhan. “Luhan,” panggilnya, membuat Luhan menengadah dengan kerut tanya di muka. “Aku tidak mau merusak mood makanmu—”

Oh, mood makanku sudah rusak kok. Luhan tersenyum getir.

“—tapi ada sesuatu tentang Hyerim yang harus aku katakan dan mungkin akan berefek dengan… hubungan kalian, kurasa?”

Wajah Yoonjo terlihat kurang nyaman. Sementara Nara di belakangnya, menepuk punggung Yoonjo agak keras menyebabkan protes melayang dari yang ditepuk dengan wajah kesal.

“Hei, Shin Yoonjo. Jangan dungu. Hyerim dan Luhan, ‘kan tidak pernah pacaran…” oh, luka tergores langsung dalam hati Luhan tatkala aksara itu dengan ringan keluar dari bibir Nara. Yoonjo sendiri membelalakan matanya dengan tampang seakan ingin menimpuk Nara. “… jadi langsung to the point saja lah.”

Sekarang Nara lah yang menatap Luhan lurus-lurus dan ikut duduk di sebelah Yoonjo. Sebuah benda diloloskan dari balik blazernya dan disodorkan pada Luhan nan spontan menerimanya.

Air wajah Luhan nan semula kebingungan, lekas berganti menjadi tampang kaget dengan manik membeliak. Apa yang Kwon Nara sodorkan padanya ialah sebuah undangan yang kala ini dipegang Luhan secara gemetaran.

“Apa ini hasil dari rehat dan memikirkan akhir hubungan kita, Hyerim?” ucap Luhan dalam hati, mengulas senyum pedih seraya membuka perlahan undangan tersebut.

Undangan pertunangan berwarna cream elegan yang terdapat dua aksara nama terpahat cantik: Kim Hyerim dan Choi Minho.

And sure I know that sometimes it gets hard
But even with all my love, what we had
You just gave it up

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Huh, I see your photos online
Are you that happy?
You can’t stop smiling
I still have heartache when I breathe

[4]

Empat minggu. Menghitung waktu, empat minggu lagi lah diselenggarakan pertunangan Hyerim dan Minho. Desas-desus juga keduanya akan menikah tahun depan—ketika sama-sama lulus dari jenjang perkuliahan.

Choi Minho. Tentu Luhan amat hafal pria satu itu. Dirinya mantan ketua senat, anak jurusan bisnis, pun dirinya mantan kekasih Hyerim selama tiga tahun semenjak SMA.

Dahulu saat Luhan dan Hyerim masih bersama—bisakah satu tahun ini, Luhan sebut sebagai kebersamaan mereka yang hubungannya sangat tabu?—Luhan karap kali memendam cemburu karena Minho masih terus mengejar Hyerim bahkan pernah melamar gadis itu. Tetapi Luhan dahulu bisa membusungkan dada bangga sebagai raja yang menguasai hati Kim Hyerim, nan mana menyebabkan penolakan menjadi respon lamaran Choi Minho itu.

“Kau baik-baik saja?” bariton Kim Minseok—salah satu kawan Luhan yang sedang singgah di apartemennya—menggelegar, dia tatap profil samping Luhan, khawatir.

Luhan cuma mematung, mengukung ponsel tanpa mengedip sama sekali, menyebabkan gas karbon Minseok dibuang secara kasar melalui mulut.

Berkawan cappucinonya nan sekarang ia teguk, Minseok mengimbuhkan: “Kau bahkan tak pernah menyentuh dunia malammu lagi, Lu. Anehnya itu membuatku khawatir.”

Dengusan Luhan tercuat keras-keras, spontan mengalihkan atensi Minseok kembali ke profil sampingnya.

“Harusnya dari dulu kutinggalkan dunia malamku,” ujar Luhan, tertawa miris. “bila begitu, Kim Hyerim tidak mungkin memamer senyum selebar ini dengan pria lain, bukan?” kelakar Luhan, ponselnya dioper kepada Minseok kemudian dirinya menenggelamkan wajah di balik lipatan tangannya.

Retina Minseok segera disiram foto dari akun instagram Kim Hyerim yang sedang tersenyum lebar dirangkul oleh Choi Minho. Caption foto itu adalah: Thanks to bring new happiness for me

Saat Minseok iseng mengecek akun Hyerim. Foto-foto gadis itu dengan Luhan telah dihapus tanpa meninggalkan jejak sama sekali.

Ponsel tersebut dikembalikan Minseok dengan wajah khawatir. Luhan pun kembali menatapi foto tersebut. Banding balik dengan senyuman bahagia Kim Hyerim, hati Luhan tersayat lebar, selebar senyuman Kim Hyerim di foto tersebut. Dan saat melihat update story instagram milik gadis Kim itu, goresan di hati Luhan kian menganga. Terdapat video Hyerim yang tertawa-tawa lebar dengan Minho, bahkan gadisnya itu dengan manja menyembunyikan wajah di pundak Minho sementara pemuda Choi itu menatapnya lembut. Persis pasangan-pasangan goals di luar sana.

Jempol Luhan bergerak, sibuk menulis pesan ke akun Hyerim, walaupun dia tahu jawaban apa yang akan Hyerim jawab melalui foto dan video yang Luhan lihat barusan.

7_luhan_m :

Apa kau bahagia?

—seen.

Tak butuh lama, Hyerim membalas pesan tersebut.

kmhyrm :

Setidaknya dia tidak akan menggantungkanku secara tidak pasti dan mengandalkan frasa cinta semata padahal sering kali bercinta dengan berbagai gadis yang dia bawa setiap malam ke apartemennya, bergelut dalam kesenangan semata di bar. Setidaknya dia tidak akan seperti itu dan berniat serius denganku. Aku merasa bersalah sudah menolaknya selama satu tahun ini. Maka… maaf Luhan, aku bahagia setelah menerimanya. Kuharap kau juga bahagia setelah ini. Aku dengar kau sudah terbebas dari dunia malammu. Maka carilah gadis yang lebih baik dariku dan berniatlah serius dengannya.

7_luhan_m :

Tapi aku berniat serius denganmu, Hyerim… Mana bisa aku melupakanmu begitu saja? Dan apa selama sebulan ini, bukan seperti katamu untuk memikirkan tentang kita, tapi kau malah memikirkan untuk bersama Minho? Kumohon, maafkan aku dan berikan aku kesempatan.

kmhyrm :

Ya, karena Minho kembali melamarku. Maafkan aku. Dan sudah terlambat untuk memberimu kesempatan kedua, Luhan. Jika kau berniat serius, harusnya kau seperti ini dari dulu: meninggalkan dunia malammu itu dan memperjelas hubungan kita.

7_luhan_m :

Aku mencintaimu.

—seen.

Dan tidak ada balasan lainnya lagi dari Kim Hyerim; sesuai prediksi Luhan, Si Gadis sungguh bahagia hanya melihat dari senyuman di akun SNS-nya.

I don’t even need to ask, yeah
I know you too damn well, yeah
I can see that smile and can tell that you did more than move on

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Is that guy so much better than me?

Did he make you to forget everything about me?

Well, yeah as long as you are happy

I wouldn’t tell that typical lie

Why should I wish happiness

For you who left me

[5]

Timing itu kadang menyebalkan. Kenapa disaat-saat Luhan merindu, eksistensi Kim Hyerim tidak terlihat sedikit pun ujung rambutnya? Dan dimasa-masa seperti sekarang ini, dimana Luhan tidak mau bertemu Hyerim—apalagi dengan menggandeng pria lain—, dirinya harus mengumpat tatkala beberapa meter di depannya adalah Kim Hyerim dan Choi Minho.

Keduanya bersundagurau, berbagi tawa, pun senyum. Senyuman yang dulu selalu Hyerim pamerkan seusai mengatakan frasa cinta pada Luhan.

Tanpa sengaja dengan obsidian bercahaya kebahagiaan dan senyum tersungging lebar serta-merta ujung hidung yang dicubit gemas oleh Choi Minho, Kim Hyerim menyadari presensi Luhan.

Beberapa saat berlalu, tangan Minho sudah tersingkir dari ujung hidung gadisnya dan Hyerim menyemat senyum lebar, mengangkat tangan lantas melambai kepada… Luhan.

“Luhan!”

Seakan-akan tak ada apapun antara mereka, Hyerim menyapanya sebagaimana semestinya, pun Minho juga memamer senyum ramah kepadanya, membuat Luhan lebih-lebih terasa dicekik; seakan selama ini cuma imajinasi belaka saja apa yang dia dambakan pada Kim Hyerim yang dahulu mendambakan hal yang serupa; kebersamaan mereka berdua.

Finalnya, Luhan merajut langkah jua mendekati sepasang kekasih itu, senyum lemahnya melengkung.

“Halo,” sapa Luhan. Diliriknya Minho sekilas dengan tak sungkan, lalu beralih menatap Hyerim dalam. “bagaimana kabarmu, Kim Hyerim?”

“Baik sekali,” jawab Hyerim, kelewat semangat dengan senyuman lebar. “aku sebentar lagi bertunangan dan akan menikah. Kenapa aku harus tidak bahagia?” terselip tawa singkatnya yang ditimpali Minho dengan mencubit pipi Hyerim sembari mendengus menahan tawa. “Bahkan aku akan menikah di gereja di mana ayah dan ibuku menikah!” kelakar Hyerim, riang.

“Kalau kita menikah nanti, aku ingin di gereja di mana ayah dan ibuku menikah.”

Oh, Luhan ingat betul frasa tersebut. Pahit, senyuman itu teruntas di ranum Luhan. Sebegitu mudahkah Kim Hyerim melupakannya sampai-sampai tempat yang katanya dahulu ingin mereka jadikan tempat menikah, malah dipakai gadis itu menikah dengan pria lain?

“Apakah dia lebih baik dariku untukmu?” Luhan menggumam refleks, menyebabkan Hyerim mengerutkan kening menatapnya.

“Luhan, kau mengatakan sesuatu?”

Luhan terkesiap, buru-buru tersenyum palsu seraya menggeleng.

“Ah, tidak.” ujar pemuda China ini, kemudian menggeret langkah hingga wajahnya tepat berada di samping kuping Hyerim dengan badan membungkuk. “Selama kau bahagia, bersama dengannya yang sepertinya lebih baik dariku dan dia yang bisa membuatmu melupakan segala tentangku, aku tak jadi masalah. Namun sayangnya aku tak akan mengatakan kebohongan sampah macam itu, Hyerim. Karena untuk apa aku mengharapkan kebahagian untukmu, seseorang yang main meninggalkanku?” tubuh Hyerim membeku dengan saliva terteguk mendengar bisikan lembut Luhan yang kini tersenyum sinis. “Aku benci kau bahagia, Hyerim, bahagia tanpaku,” bibir bawahnya, Hyerim berikan gigitan dengan diselubungi rasa bersalah. “aku harap kau tidak bisa tidur malam ini, sepertiku semalam hanya memikirkan kau dengan lelaki lain. Aku harap kau memikirkan aku dengan gadis lain dan hal tersebut mengusikmu. Setelah itu, kembalilah padaku.”

Usai membisikan hal tersebut, Luhan menyarangkan kecupakan sekilas di pipi kanan Hyerim lalu berdiri tegak sembari melengkungkan senyum manis seakan-akan aksara-aksara yang dirinya bisikan dan aksi mencium pipi Hyerim sekon lalu tak dilakukannya.

“Aku harap aku bisa sepertimu, Hyerim, menemukan pengganti yang akan kubawa kejenjang pernikahan.” kata Luhan, sarkastik sebelum hengkang dari sana, membiarkan Hyerim mematung tanpa mengedip memperhatikan punggung Luhan sampai raib dari retina Sang Gadis.

I hate that you’re happy

I hope that you can’t sleep

Just knowing that I could be with somebody new

That I’d be just like you

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

You left me
And met that other guy
As if I was never there
You fell in love

[6]

“Hyerim, bisa datang ke apartemen Luhan? Dia mabuk berat saat memintaku mengajaknya ke bar. Dia juga terkena demam dan terus meracaukan namamu.”

Tatkala pesan tersebut sampai ke ponselnya, Kim Hyerim tanpa buang-buang waktu segera menuju apartemen Luhan. Meski hubungan—entah Hyerim ingin menyebutnya hubungan atau apa antaranya dan Luhan—telah kandas, tapi hati nuraninya juga tercubit bila pemuda itu kacau balau hanya karenanya.

“Dia di kamar,” tukas Minseok ketika Hyerim telah berlabuh ke apartemen Luhan. “Tolong tenangkan dia. Kau tahu, dia nyaris mencelakai dirinya sendiri.”

Gurat-gurat di paras Kim Minseok yang frustasi sudah memampangkan betapa beratnya menghadapi Luhan yang frustasi ditinggalkan olehnya. Mau tak mau, Kim Hyerim jadi merasa bersalah dan menghela napas sebelum perlahan memasuki kamar Luhan.

Kamar yang biasanya rapi itu seakan diselubungi hawa sendu; berantakan dengan pemilik kamar yang termenung di lantai sambil menyender di ranjangnya, pun bau asap rokok mengudara. Luhan memang penggila dunia malam, tetapi merokok tidak pernah ada di kamusnya.

“Lu—”

Omongan Hyerim terpenggal, masuk kembali ke kerongkongan saking terkejut melihat penampakan Luhan. Manakala pemuda itu mengangkat kepala yang bertumbuk dengan lantai sejak tadi, terlihat jelas kefrustasian dalam mimiknya: kantung mata yang lebar, tatapan manik yang tak fokus, surai yang acak-acakan, dan wajah kurang semangat yang seakan-akan ditinggalkan cahaya yang biasanya menyinari paras tampannya.

Luhan tersenyum sinis disaat Hyerim menghampirinya dengan mata membola.

“Untuk apa kau datang?” Luhan berujar, meneguk botol sojunya kemudian mengelap bawah dagunya dengan telapak tangan serta mengulas senyum sinis.

Tubuhnya diiring Hyerim untuk berjongkok tepat di hadapan Luhan, ditilik secara khawatir lah jaka tersebut. Dwimanik keduanya saling bertumpu dan kembali pertahanan Luhan runtuh, eksistensi likuid mulai nampak di kelopak matanya, siap terjun bebas.

“Kenapa kau datang, Hyerim?” suara serak Luhan berkumandang, menyayat dalam hati Hyerim nan kini mengangkat tangan menyentuh pipi kanan Luhan. “Kau sudah memiliki lelaki lain dan meninggalkanku. Kau langsung jatuh cinta padanya seakan aku tidak pernah ada.” Luhan meracau, airmatanya merembes.

Tanpa menelaah dengan berlandasan rasa iba, Hyerim merengkuh Luhan, membiarkan pria yang dulu bermuara di hatinya ini menenggelamkan wajah di lehernya, masih pula dengan menitikan airmata. Tepukan, pun elusan diberikan Hyerim pada punggung Luhan, tepat dimana pria itu kian erat memeluk pinggangnya.

“Aku benci kau bahagia.” tutur Luhan.

Hyerim tersenyum tipis, diusaknya surai coklat tua milik Luhan. “Aku tahu.”

“Kalau begitu, kembalilah padaku.” Luhan menggumam, tepat di leher Hyerim dan makin saja mengeluarkan pasokan airmatanya. “Aku juga benci tidak bisa tidur hanya memikirkanmu bersama dengan Choi Minho, sebagaimana kau dahulu bersamaku.” Luhan menenggelamkan wajah di bahunya, isakannya mulai mengudara.

Bersisih hati nurani dengan rasa bersalah membalut, Kim Hyerim biarkan Luhan menangis di bahunya, membelai punggungnya dan bahkan memberikan kecupan di puncuk kepalanya.

“Sudah. Jangan menangis, Lu,” imbuh Hyerim, napasnya dia tarik dalam-dalam. “aku di sini.”

Meskipun cuma frasa dengan asa yang tidak akan terjangkau, ucapan itu membuat tenang dengan hanya tahu Hyerim ada di sini untuknya.

Isakan Luhan mulai mereda.

“Apa kau lelah?” Hyerim mengutarakan tanya sembari mengelus lembut punggungnya. Sedang Luhan menenggelamkan wajah di ceruk lehernya, pun masih dengan memeluk pinggang Sang Gadis erat.

Kepala Luhan mengangguk. “Hmm.”

Hyerim menyimpulkan senyum, melonggarkan pelukan dan menyibak surai coklat milik Luhan.

“Kau ingin tidur sekarang?” rambut coklat Luhan dielus lembut oleh Hyerim kini, pandangannya tertuju pada lukisan kantung mata Luhan. “Aku akan menemanimu tidur malam ini agar tidurmu nyenyak.”

Euforia itu terlalu bersemerbak, membuntukan nalar Luhan yang spontan menyunggingkan senyum kebahagiaan. Sampai finalnya berlabuh di ranjang dengan mendekap Hyerim dalam rengkuhannya dan menghirup aroma dari rambut gadisnya yang menenggelamkan wajah di dada bidangnya. Luhan merasa tenang tanpa tahu kebahagiaannya hanya berakhir malam ini sebagai hadiah terakhir Hyerim yang tengah menyanyikan lagu penghantar tidur untuknya.

Hingga terlelap pun, Luhan tak menyadari asanya yang terbendung kembali hanyalah berupa bunga tidur yang akan menyentaknya kembali kala terbangun esok hari tanpa sosok Hyerim di sebelahnya.

I hate that you’re happy
I hate that I can’t sleep
Keep thinking about how he now seems better off, too
Just like I was with you

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║


Like nothing happened
You broke my heart
Your smiling face shows that you’ve got over me
And you look happy

[7]

Rasanya baru kemarin semilir aroma Kim Hyerim tepat menusuk pangkal hidungnya, hangat tubuh Sang Dara yang terhantarkan ke tubuhnya, pun lengan kekar Luhan yang melingkar di pinggang gadis Kim tersebut.

Dan Luhan baru menyadarinya tatkala membuka manik di esok paginya, mendapati kekosongan di ruang sebelah ranjangnya. Luhan sadar jika semalam hanyalah hadiah terakhir Kim Hyerim untuknya sebab nyatanya sekon ini, dengan berbalut tuxedo coklatnya, Luhan menghadiri acara bahagia—yang sayangnya tidak membahagiakan untuknya juga—antara Kim Hyerim dan Choi Minho; pertunangan keduanya.

Rajutan demi rajutan langkah Luhan terasa berat, seakan pergelangan kakinya terikat satu oleh simpul mati. Nampak Hyerim yang melingkarkan lengan di lengan Minho sambil bercengkrama dengan para tamu.

Hyerim lah yang pertama kali menyadari eksistensi Luhan. Gadis Kim itu berlakon seakan tidak pernah ada apa-apa dengannya—untuk kesekian kalinya—dengan mengulas senyum manis nan menorehkan luka di hati Luhan. Bahkan sapaan dengan lambaian tangan ringan itu, tak sanggup Luhan balas, pun ranumnya sukar sekali mematri senyum palsu.

“Ah Luhan, kau datang.” suara Minho, memamer senyum ramah yang dibalas senyum sekenanya dari Luhan.

“Syukurlah kau datang,” sambar Hyerim membuat Luhan menatapnya dalam. Cengiran Hyerim terpampang lebar-lebar. “Karena aku mengharapkanmu datang. Aku senang kau datang, Luhan.”

Entah imbuhan itu mempunyai arti bahwa sesungguhnya Hyerim ingin melihatnya sakau karena pertunangan ini atau perempuan itu hanya ingin dirinya datang karena setidaknya keduanya dahulu amat akrab.

Anggukan sekenanya Luhan tercetus, senyuman tipisnya terkembang walaupun harus memecahkan hatinya kembali tuk menerbitkan senyuman tersebut.

“Selamat.” cetus Luhan, bersalaman dengan Minho juga Hyerim.

“Terima kasih.” keduanya berucap bersamaan lalu saling pandang dengan senyuman penuh kasih sayang nan mana mencekik Luhan hingga pria itu merasa seperti tengah sekarat.

Izin hengkang karena harus menyapa tamu spesialnya di lobi hotel, Minho pun meninggalkan Hyerim dan Luhan berdua. Wine yang dikukungnya, Hyerim teguk sementara Luhan hanya menatap kosong pantulan parasnya dari genangan wine.

“Kau banyak tersenyum.” gumam Luhan, meski divokalkan secara pelan kendati sampai jua di gendang Hyerim yang spontan menusuk profil sampingnya dengan iris berbinar dalam.  

Senyum tipis Hyerim terukir. “Maafkan aku.” lalu gadis bernama Kim Hyerim ini pun menunduk.

Luhan meringis, winenya dia teguk sampai setengah. “Tidak perlu meminta maaf,” imbuh Luhan, wajahnya terangkat bersamaan dengan Hyerim menyebabkan obsidian keduanya bersibobrok. “kau berbahagia, kenapa harus meminta maaf? Kau, ‘kan tidak peduli sama sekali dengan kesedihanku. Bahkan bisa tidak setidaknya kau menanyakan kabarku?” sarkastik terkulum di bibir Luhan yang meneguk winenya lagi sampai ludes.

Diafragma Hyerim mengempis; membuang napas. “Bagaimana kabarmu?” nyaris Luhan ingin menangis saking banyak luka yang tertimbun. Dia tatap Hyerim dengan kuyu. “Apa kau bisa tidur nyenyak? Maaf, aku hanya bisa menemanimu malam itu saja.”

Bahu Luhan mengedik. “Well, aku baik.” padahal terlukis jelas wajah kuyu khas Luhan yang kontras dengan frasa nan telah ia lontarkan. “Meski kau tidak bisa kupeluk setiap malam. Meski kau tidak bisa menjadi milikku. Dan meski aku terluka setiap kali mengingat momen-momen bersamamu. Setidaknya terima kasih telah membawa momen bahagia itu untukku.”

Tungkai jenjang berhias heels itu, Hyerim geret mengikis spasi mendekati Luhan. Membuang peduli akan presepsi orang akan kelakuan yang hendak dia laksanakan, Hyerim pun secara ringan mengelus pipi kiri Luhan dengan senyuman tipis. Manakala elusannya berhenti, tangan Luhan meraih tangannya, mengelusnya dan membiarkannya tetap berada di pipi jaka tersebut.

“Terima kasih,” imbuh Hyerim, mematri senyum tulus kemudian mengelus sekilas bibir Luhan. “setidaknya pernah mengukir memoar indah denganku, Luhan.”

Bibir Luhan sedikit melengkung senyum, otaknya menari-nari memutar memoar indahnya bersama Hyerim. Senyum, pelukan, aroma, kelakar, pun rasa ranum Sang Gadis terputar-putar dalam memorinya, memori terindah yang tak bisa dia rasakan di masa mendatang, pun tak akan pernah terulang kembali.

“Dan maaf tidak bisa menjadi bagian memori terindahmu lagi di masa yang akan datang.” Hyerim berkelakar sembari menunduk.

Kendati ini kemauannya, kenangannya bersama Luhan tetap ganjal untuk dia relakan, terlalu banyak hal indah didalamnya yang terlalu sayang tuk dihapuskan.

Terulas senyum miris berbalut pedih dalam hati Luhan. Kendati ingin menampik sedemikian rupa pun, akhir dari kisah keduanya telah Hyerim tentukan dari awal keduanya memutuskan rehat.

“Dari awal…” Luhan dan Hyerim saling tatap. Terlihat rinci luka dalam binar manik Luhan yang menyebabkan rasa bersalah membentang lebar di dalam runggu Hyerim. “aku memang tidak akan diberikan kesempatan kedua, bukan? Karena ini sudah berakhir sejak awal.”

Cause I’m over you, we’re overdue
No problem saying “How do you do”
Oh I’ve been good
My days have been so good to me, thankfully
Oh, you used to be a muse to me
My best memory, truthfully
But that’s about it
THE END

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║


Congratulations, you’re unbelievable
Congratulations, you will never ever
Come back to me, I don’t even expect that

[8]

Dentuman musik di sekitar layaknya angin lalu sebab Hyerim serasa terperangkap dalam sunyi bersama dengan Luhan. Apa yang Luhan katakan benar adanya, dirinya lelah sehingga dari awal memutuskan untuk mengakhirinya secara sepihak dengan dalih ‘rehat’.

Dan Luhan pun kini paham, betapa tidak becus dan pantas dirinya bersanding dengan Kim Hyerim. Telah banyak letih maupun luka yang dipikul Sang Gadis hanya karena egonya belaka. Asa akan Hyerim kembali padanya runtuh seketika, bersamaan dengan kesadaraan akan tidak pantas dirinya mencekal dara manis itu berada di sisinya jikalau selama ini hanya banyak membubuhkan luka dibanding kebahagiaan.

“Berbahagialah,” usai menarik napas dalam-dalam, Luhan berkelakar demikian. Hyerim pun menatap samping wajahnya yang memandang kosong ke arah depan. “Berbahagialah dengan Choi Minho. Aku… sadar, sebanyak-banyaknya kebahagiaan yang kau ukir denganku, luka yang aku bubuhkan melebihi semua kebahagiaan itu.”

Sejenak, digigit ranum bawahnya oleh Hyerim, tatapan maniknya nampak tak enak.

“Luhan—”

“—Kau memang tidak terduga, Kim Hyerim,” ringis Luhan. “tahu-tahu kau kembali dengan mantanmu dan akan segera menikah. Sungguh tidak terduga.”

Kepala Luhan berbelok, menatap Hyerim yang menatapnya penuh rasa bersalah—tatapan yang sudah mengisyaratkan rasa bersalah sebab tidak akan pernah kembali lagi padanya.

“Luhan, aku…”

Luhan membuang napas, lantas mematri senyum tulus. “Sudah,” tangannya mengusak lembut surai Hyerim, “aku senang kau melakukannya dengan baik. Ya, awal baik untuk memulainya dengan Choi Minho. Awal baik yang membuatku amat sadar dengan menyakitiku sedemikian rupa.”

Hyerim menunduk, perasaannya campur aduk. Sedangkan Luhan tengah menata hati sedemikian rupa, membangun ketulusan tiada tara, pun meringankan lidah dengan piawai menyuarakan frasa yang sulit tersebut.

“Intinya…” spasinya dipangkas Luhan sehingga kecupan di puncuk kepala Hyerim tersarang. Sontak dwimanik Hyerim membeliak, dia angkat kepalanya dengan wajah terkejut bercampur rona merah. “… selamat.”

Frasa itu ibarat kata ‘putus’ dalam elegi serta asa-asa yang Luhan damba pada Kim Hyerim yang kini bersama dengan pria lain.  Dan secara sepenuh hati Luhan berlapang dada mengatakannya, setelah merenung bahwa memang sudah jalan untuk dirinya mengucapkan kata itu dibanding mengemis akan kembalinya Kim Hyerim pada rengkuhannya.

Hyerim membatu, tanpa sadar melelehkan setitik airmata yang spontan Luhan hapuskan dengan senyum tipis.

“Jangan menangis di hari pertunanganmu, Hyerim. Mulai saat ini aku akan mencoba bahagia untukmu dan aku tak akan membenci betapa bahagianya dirimu dengan lelaki lain lagi. Hapuskan perasaanmu padaku karena aku juga akan melakukannya.”

Usai melontarkan kata yang sebenarnya mengoyak hatinya sendiri, Luhan membalikan tubuh pergi, benar-benar pergi meninggalkan Hyerim yang membatu kemudian memamer senyum lagi tatkala Minho menghampirinya.

Tanpa mau menoleh karena itu sama saja kembali memandang masa lalu, Luhan terus-menerus berjalan dengan menahan sesak dan kekecewaan bodoh akan Hyerim yang ia harapkan akan mengejarnya.

“Selamat, Kim Hyerim.” gumam Luhan, lirih.

And hey, that’s great
Must be nice to not feel anything
Cause I’m feeling just the same way, okay
I don’t give a, ahhhhh
Congratulations, glad you’re doing great, woah
Congratulations, how are you okay, woah

—The End.


YA ALLAH INI FF UDAH LAMA BANGET BARU BISA KEPOST DAN DIREVISI. Aku pas itu lagi gencar mau nyiksa Luhan makanya di sini dia tersiksa bingitz, eh pas baca ulang tadi saia nyaris nangis di adegan Luhan ngerelain Hyerim. Iya daku sadar, daku kezam lolz. Dan karena lagu congratulations promptable mau yang ver eng sama kor-nya, ya aku pake dua-duanya XD. Oke semoga kalian gak kapok ya, see you!

3 tanggapan untuk “[Ficlet-Mix] Congratulations — HyeKim”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s