[EXOFFI FREELANCE] BROKENHEARTED (2/2)

poster brokenhearted

BROKENHEARTED

lilcrushme

.

Park Chanyeol

Bae Irene

Oh Sehun

.

Genre: AU, Romance, Angst

Length: Two Shoot (2/2)

Rating: PG-13

Disclaimer: plot orisinil buatan author yang dibumbui dengan sedikit rasa cemas dan sakit hati. Author sepenuhnya tidak bertanggung jawab apabila nantinya pembaca merasakan perasaan campur aduk sebagai akibat setelah membaca karya fiksi ini. *halah*

[1/2]

.

Beberapa bulan yang lalu aku memulai hidupku yang baru sebagai pacar dari seorang Park Chanyeol, aku bahkan tidak bisa mendefinisikan seberapa bahagianya aku memiliki Chanyeol didalam hidupku akhir-akhir ini. Chanyeol adalah seorang lelaki yang tidak bisa membiarkanku sedih, ia seorang happy virus yang meluangkan seluruh waktunya untuk orang yang ia sayang.

Seperti saat ini, aku sedang berada di perpustakaan kampus bersamanya, aku masih sibuk dengan sketsa busana terbaruku untuk ikut kompetisi desainer untuk Seoul Fashion Week bulan depan. Sedangkan Chanyeol duduk dihadapanku, sibuk dengan handphonenya, memotretku dari berbagai angle.

“Chan kau tidak lelah dari tadi memotretku?” ucapku masih fokus dengan sketsaku, Chanyeol menggelengkan kepalanya pelan. “Rene, kenapa kau begitu cantik hari ini?” Chanyeol menatapku dari seberang meja, yang lantas membuat pipiku memerah. “hahaha kau bercanda? Aku bahkan cuman pake liptint dan blush on.” Ucapku sambil sedikit tertawa akibat perkataan Chanyeol. “ih tidak. Kau cantik dan akan terus seperti itu sampai seribu tahun lagi.” ucapnya sambil tertawa, laki-laki ini semakin membuatku jatuh cinta.

.

.

Hari demi hari, bulan demi bulan kami lalui bersama, sekarang tanggal 14 februari, tepat 2 tahun yang lalu aku dan chanyeol meresmikan hari jadi kami. Sekarang aku sedang duduk di kafe biasa yang selalu kami kunjungi tiap perayaan hubungan kami. Sudah satu jam namun aku belum melihat batang hidungnya muncul diantara daun pintu.

Aku mengecek pesan yang kukirim beberapa menit yang lalu kepada chanyeol. Ia membacanya namun tidak membalasnya. Aku terus berusaha untuk berfikiran positif, berharap semoga Chanyeol baik-baik saja.

Menit demi menit berlalu, aku mengecek ponselku berulang kali, beberapa kali aku menelponnya namun tidak ada jawaban, apakah ia lupa kalau hari ini ada janji denganku. Mungkinkah Chanyeol sengaja datang terlambat untuk memberiku surprise? Diam-diam aku tersenyum. Mungkinkah?

“apa sebaiknya aku datang saja ke apartment Chanyeol? Ah tidak buruk.” Kakiku melangkah meninggalkan kafe tempat pertemuan kami menuju apartment Chanyeol.

.

Aku sampai didepan pintu apartment Chanyeol, dadaku tiba-tiba berdetak lebih cepat ntah mengapa seperti sesuatu yang buruk akan terjadi.  Tanpa fikir panjang aku memencet kode sandi apartment Chanyeol dan membukanya perlahan.

“ige mwoya?”  mataku melebar, panas, jantungku berdetak lebih cepat, nafasku tertahan. Aku hanya bisa terdiam melihat keadaan dihadapanku.  Chanyeol sedang memeluk Wendy tepat dihadapanku. “APA-APAAN KALIAN?” aku berteriak, aku marah, murka.

Chanyeol dan Wendy yang terkejut dengan teriakanku sontak menjauhkan diri mereka masing-masing, “Rene, tunggu aku bisa jelaskan, please.” Chanyeol memegang pergelangan tanganku, berusaha menjelaskan apa yang baru saja terjadi namun aku tidak memerlukan itu, semua sudah jelas.

“2 tahun? 2 tahun hubungan kita tapi ini balasan yang kuterima setelah semua yang telah kita lalui bersama, Park Chanyeol? Terimakasih, kau hebat. Kita sampai disini. Aku pamit” Aku melangkahkan kakiku keluar dari apartment Chanyeol. Mataku tak berhenti mengeluarkan tangis hingga mascaraku bahkan ikut luntur dibuatnya. Aku terus berlari keluar dari gedung apartment Chanyeol, lelaki itu mengejarku seolah penjelasannya itu penting bagiku, TIDAK, aku muak, bahkan melihat sosoknya saja sudah membuat dadaku sesak.

Aku berlari terisak, menangisi kejadian tadi, bagaimana bisa Chanyeol dan Wendy? Damn! Aku sungguh-sungguh tidak bisa menerima kenyataan ini. Ingatanku menggambarkan kenangan yang telah kami ukir bersama selama 2 tahun ini, semua perhatiannya, pelukannya. Aku marah dengan diriku karena terlalu percaya dengan Chanyeol. Aku benci mengapa takdir mempertemukan kami. Aku mengutuk diriku sendiri karena hal ini. “aku membencimu Park Chanyeol.”

BRAKK

Tanpa kusadar aku menabrak seseorang yang tengah berdiri dihadapanku.

“aw, mian.” Ucapku lirih sambil menyeka air mata.

“gwenchanayo?” ucapnya pelan. Aku mendongak dan mendapati seorang laki-laki berdiri dihadapanku, ia tampak menatapku diam. Sedikit terkejut dengan kehadiran sosok dihadapanku ini.

“ Oh Sehun? Ah, maaf, aniya, aku tidak apa-apa kok.” Ucapku panik sambil menyeka air mataku. Berharap lelaki dihadapanku ini tidak menyadari kalau akumenangis tadi karena akan sangat memalukan sekali. Ia Oh Sehun. Mantan pacarku saat SMP, saat ini ia juga berkuliah di universitas yang sama denganku, penampilannya berbeda namun gaya bicaranya masih sama, dingin.

Ia mendekat kearahku, “kau menangis?” ia bertanya dengan tatapan dingin dan masih tanpa ekspresi. Aku terdiam, tidak tau harus menjawab apa.

GREBB

Tanpa kusadari Chanyeol datang dan langsung menarik pergelangan tanganku dengan keras, “akh!” aku berteriak, sakit.

“RENE DENGANKAN PENJELASANKU DULU! AKU DAN WENDY..”  ia meninggikan suaranya, menatapku dengan pandangan penuh emosi, berusaha memberi penjelasan atas segala yang baru saja terjadi.

“CUKUP! Penjelasan apa lagi? semuanya sudah jelas! Dan asal kau tau, aku menyesal telah memberikan semuanya untukmu. Aku membencimu, Park Chanyeol” Ucapku dengan nada dingin, mataku menatap matanya yang memerah. Aku akan beranjak sebelum Chanyeol mengeratkan gengamannya di pergelangkanku membuatku berteriak kesakitan. “Rene, dengankan aku..”

“Ya, hentikan.”  Sehun meraih tanganku dari genggaman Chanyeol, dan menyimpanku dibalik tubuhnya. Aku terisak, lagi.

Sehun menatap Chanyeol dengan tatapan membunuhnya,

“hey, siapa kau?  apa urusanmu? Aku ingin bicara dengan Irene!” Chanyeol berteriak sambil menunjuk kearah wajah Sehun.

“bukan siapa-siapa, tapi aku benci orang-orang yang menyakiti wanita. ck” Sehun masih dengan tatapan dinginnya, aku terdiam. Dua lelaki yang pernah membahagiakanku namun tuhan memisahkan ku dengan mereka, ntah apa sebabnya.

“Rene, please, dengarkan aku dulu,” Chanyeol berusaha meraih tubuhku sementara Sehun tetap mempertahankanku dibalik punggungnya.

“kau mau bicara dengan lelaki ini?” Sehun melirik kearahku kemudian kembali menatap Chanyeol dengan tatapan dinginnya. Aku menggeleng.

“Kau liat? Ia bahkan tidak mau melihat wajahmu.” Sehun mengeluarkan smirknya yang seolah-olah mengejek lawan bicaranya yang sudah emosi tersebut. Chanyeol.

“baiklah rene, kalau itu maumu, aku menyayangimu, kita akan bertemu nanti.” Suara Chanyeol melemah, berjalan mundur perlahan, ntah mengapa ucapannya barusan membuat robekan di hatiku semakin perih,” Chanyeol-a bagaimana bisa hal ini terjadi?” aku membatin, kembali terisak dan meremas dadaku yang sakit, sangat sakit, aku bahkan kesulitan untuk bernafas.

Aku bimbang, hatiku luluh tiap kali kami bertengkar hanya dengan mendengan suaranya yang berat itu mengatakan ‘aku menyayangimu’. Jantungku berdetak cepat, aku bingung, dan aku menyesal dengan apa yang telah terjadi saat ini. Rasa sakit yang sangat sakit hingga aku tidak bisa mengontrol tangisanku, rasa sakit bagai tertusuk ribuan jarum mengingat masa-masa indah kami dulu. Semua kupu-kupu itu berubah menjadi lebah yang terus menyengat paru-paruku hingga aku sulit bernafas sekarang.

Sehun berjalan mendekatiku, “mau kuantar pulang?” ucapnya, aku menggeleng cepat. Aku ingin sendiri saat ini, sangat ingin sendiri.

“ani, Sehun-a, aku pulang sendiri saja, terimakasih banyak atas bantuannya.” Aku tersenyum getir sembari menatap wajah Sehun yang masih tanpa ekspresi. “baiklah kalau begitu, aku duluan ya.” Aku melangkahkan kaki meninggalkan Sehun disana.

.

Sudah seminggu sejak kejadian malam itu namun kesedihanku tak kunjung usai. Aku masih menangis tiap kali menginat kenangan-kenangan bersama chanyeol. Hatiku masih sakit tiap kali melihat foto-foto kebersamaan kami, aku bahkan sulit untuk bernafas tiap kali mengingat semua hal yang pernah kami lakukan selama dua tahun ini. Rasanya aku belum bisa menerima keadaan saat ini.

Aku sedang duduk di bangku taman kampus, semuanya hening sampai seseorang datang menghampiriku, aku mendongak, dan mendapati Chanyeol disana.

“Chanyeol-a?” aku sedikit terkejut dengan kedatangan lelaki ini, ia tampak tersenyum kearahku seolah-olah kami tidak pernah ada masalah.

“Irene-ah, aku merindukanmu.” Ucapnya lirih, ia meraih punggung tanganku dan mengelusnya pelan. Sungguh ini membuatku sedikit luluh. Pabo.

“hhh, kau tau aku mungkin menjadi orang yang paling tersakiti disini, tapi ntah kenapa aku tetap tidak bisa membencimu sepenuh hatiku, Park Chanyeol.” Aku mengungkapkan kejujuranku, aku merindukannya. Sangat.

“benarkah, rene?” ucapnya memandang penuh harapan kearahku. Aku mengangguk.

“rene, maukah kah mendengarkan penjelasanku?” Chanyeol menggenggam tanganku berharap akan sebuah anggukan lagi. Aku benci saat-saat seperti ini, seolah-olah aku membohongi diriku sendiri, aku tidak mau mengingat kejadian itu lagi tapi aku harus mendengarkan penjelasannya. “baiklah, aku akan mendengarkanmu.”

“rene, kuharap kau tidak marah dengan ini, aku akan jujur dengan semuanya, aku dan Wendy mulai dekat sejak pertemuan kami satu bulan yang lalu, ia juga sering mampir ke apartmentku..” Benar kan! Mendengarkan penjelasan Chanyeol hanya akan semakin membuatku sakit. Seketika mataku memerah, menahan marah dan kecewa, ntah kenapa dadaku sakit sekali mendengarkan kejujuran Chanyeol kali ini

“kalian tidur bersama?” kalimat laknat itu terlintas difikiranku dan keluar begitu saja dari mulutku. Hal yang membuat aku menyesal pernah melakukannya bersama Chanyeol, aku bahkan menyesal pernah dipertemukan dengannya.

Chanyeol terdiam dengan ajuan pertanyaanku, ia tampak bingung dengan jawaban yang akan ia keluarkan. “ayolah berhenti membohongiku.” Ucapku seolah-olah aku siap dengan segala jawaban yang keluar dari mulut Chanyeol. Mataku mulai memanas, ingin sekali rasanya aku berteriak dan menangis sekencang-kencangnya.

Chanyeol mengangguk perlahan “ya, kami melakukannya.”

“DAMN!” aku membatin. Bagai terkena petir di siang bolong, air mataku tumpah, dadaku sesak, aku tidak tau apa lagi yang harus kulakukan untuk memperbaiki hati yang telah hancur ini.

Aku terisak, Chanyeol berusaha memelukku untuk membuatku tenang tapi aku dengan cepat menolaknya, “hentikan Park Chanyeol,” aku menarik diriku dari pelukan Chanyeol.

“awalnya aku masih berfikir akan memberikanmu kesempatan kedua, tapi setelah kejujuranmu itu sekarang aku tau kalau kesempatan kedua hanya akan memperburuk suasana.” Ucapku sembari menyeka air mataku yang terus mengalir. “tidak, tidak, aku tidak boleh menangis, aku harus cukup kuat untuk menghadapi masalah ini.” batinku. Aku menarik nafas dalam dan memposisikan diriku lebih tegar dari sebelumnya.

Chanyeol lagi-lagi meraih tanganku dan menggenggamnya, aku dengan cepat menariknya. “Rene maafkan aku, sungguh, aku..”

“cukup chanyeol-a, semua penjelasanmu dan apa yang telah kulihat malam itu adalah semua jawabannya. Aku mungkin menangisimu, menangisi kenangan kita, dua tahun Park Chanyeol, DUA TAHUN!” aku menarik nafasku dalam, menguatkan diriku. “dua tahun kita bersama, aku telah memberikanmu semua, semuanya. Aku mengikuti semua aturanmu, aku curahkan segala perhatianku untukmu, dan ini adalah hadiah spesial yang kuterima atas hari jadi kita. Luar biasa.” Chanyeol tertunduk, ia menitikan air mata. Ia menyesal akan perbuatannya, tampaknya.

“mungkin aku menyayangimu, mungkin kau juga begitu. Kita ibarat rumah, jika salah satu dari kita tidak membuka pintu bagi orang lain untuk masuk, hal ini tidak akan terjadi.” Aku menahan tangisanku, ayolah Irene kau bisa. “tapi aku salah, kau membuka pintu lebar-lebar bagi orang lain untuk masuk dan inilah hadiah yang kau dapat. Sekarang kau menyesal?” Chanyeol mengangguk dan mengangkat kepalanya, menatapku nanar. Yang ia bisa lakukan sekarang hanyalah diam. Aku melangkahkan kaki mendekatinya, meraih punggung tangannya dan mengelusnya, membiarkan sisi baikku menginggalkan kenangan terakhir untuk Chanyeol. Chanyeol menatapku dengan mata sembabnya.

“Chanyeol-a, kau tau? Mungkin kita saling mencinta, tapi ternyata kita belum pantas untuk semesta. Kuharap kau bisa menjadi lelaki yang lebih baik setelah kita berpisah, terimakasih atas dua tahun ini Chanyeol-a.”

Aku berjalan meninggalkannya disana bersama dengan kenangan yang telah kuukir bersama selama dua tahun ini. Kenangan yang begitu membekas di fikiranku hingga menggoreskan luka menganga dihatiku. Sulit, sungguh, tapi inilah kenyataanya. Aku harus menghapus segala memori tentang Chanyeol dan impian-impianku dimasa depan bersama Chanyeol. Semesta sekejam itu padaku, tapi aku yakin ketika aku melepaskan orang yang kusayang untuk kebahagian mereka, ia mengembalikannya berlipat-lipat ganda. Selamat tinggal Park Chanyeol. Semoga kita dipertemukan dikehidupan lainnya.

.

.

Aku melangkahkan kaki menuju basement dimana mobilku terparkir disana. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore dan aku baru saja menyelesaikan perkuliahanku sekarang. Hari ini tepat 6 bulan sejak pertemuan terakhirku dengan Chanyeol di taman kampus yang sungguh menyayat hati.

Aku baru saja akan berjalan kearah mobilku yang terparkir sebelum sudut mataku menangkap dua sosok yang aku sangat hafal dan tau siapa mereka. Park Chanyeol dan Wendy berciuman tepat beberapa meter dari tempatku berdiri.

Mataku memanas, dadaku sesak, “oh god..”

GREBB

Seseorang menutup mataku dengan tangannya dan membalikkan tubuhku kearah dada bidangnya, lengannya yang sedikit berotot itu merengkuh tubuhku kedalam pelukannya. Aku mencium aroma maskulin yang familiar di indra penciumanku. “Sehun-a.” Ucapku pelan.

“kau tidak harus melihat ini, Rene, sudah cukup bagimu untuk merasakan sakit, sekarang tidak akan lagi, aku janji.” Ucapnya yang lantas membuatku terdiam. Sehun bukanlah  tipikal orang yang berlagak seperti super hero tapi apa yang ia lakukan saat ini membuatku tertegun.

“maaf dulu aku meninggalkanmu.” Ucapku tiba-tiba, mengingat kesalahanku dulu yang pernah pergi begitu saja karena menganggap Sehun terlalu dingin untuk menjadi pacarku, tapi aku salah, dibalik sifat dinginnya, ia hangat.

“lupakan, ayo ikut aku.” Sehun meraih tanganku dan menggenggamnya erat menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat kami tadi.

“kemana?” aku berjalan mengikuti arah Sehun membawaku.

“kemanapun asal  kau tidak sedih lagi.” ucapnya sambil membuka pintu mobil untukku.

“ha?”

Sehun mendudukkan dirinya di bangku supir dan menoleh kearahku, “kau tau? Menyadari bahwa kita dipertemukan lagi setelah pertemuan terakhir kita beberapa tahun lalu, dan sadar bahwa aku beberapa kali hadir di keadaan gentingmu membuatku yakin mungkin semesta mentakdirkan kita.” Ucapnya lalu tersenyum.

Aku bukanlah seseorang yang memuja takdir, mecocokkan rasi bintang, bahkan membaca kolom golongan darah di tabloid, tapi mungkin ketidaksengajaan ini adalah takdir yang ditulis oleh tuhan untuk membuatku sadar bahwa cinta yang sebenarnya bukanlah apa yang sangat aku cintai tapi bagaimana kita bisa membuat cinta bertahan hingga maut memisahkan.

“haha kufikir juga begitu.” Aku membalas senyum sehun, ia menggenggam tanganku dengan mobilnya melaju di jalan, meninggalkan kenangan perihku disana, memulai  kisah baru dengan sosok yang dikirimkan tuhan dari masa lalu untuk membahagiakanku di masa depan.

-E n d-

Holaaa, im so sorry guys cerita ini telat banget dilanjutinnya karena kemaren aku sibuk skripsian huhu semoga kalian tidak kecewa dengan endingnya yaaa

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s