COLD RAIN SERIES – WHEN HAPPINESS COMES ― by AYUSHAFIRAA

`Cold Rain` Series : When Happiness Comes

A fanfiction by AYUSHAFIRAA

Sequel of `All I Do`

`Starring Bae Joohyun x Baekhyun feat. Chanyeol`

|| Drama, Marriage-life, Romance, Sad ||

// PG-17 // Oneshot //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

〖PLAYLIST〗

related to. Cold Rain Series

[Irene x Baekhyun] When Happiness Comes || [Seulgi x D.O] Like Yesterday || [Wendy x Xiumin] Heart Never Lie || [Joy x Tao] Always With You || [Yeri x Sehun] Dear, You

© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

.

.

.

I’m trying to erase you from my heart,

But, it’s not easy.

―♫―

Siang kini telah berganti menjadi petang.

Sepasang mata indah Joohyun menatap ke arah cermin, mengamati pantulan wajah yang masih saja berbalut riasan meski pesta resepsi pernikahannya telah usai. Tidak ada yang berbeda, rasanya masih sama seperti pertama kali ia baru menjadi pengantin dari lelaki yang pernah dicintainya dulu. Cincin bermata satu melingkar begitu cantik di jari manisnya. Ya, ini adalah pernikahan kedua, setelah pernikahan sebelumnya hancur oleh kehadiran orang ketiga dari masa lalu si pihak lelaki. Park … siapa namanya? Ah, Demi Tuhan, ia tak mau mengingat nama lelaki bajingan itu lagi.

Sebuah pelukan hangat datang dari belakang, membuyarkan lamunan sesaat seorang Bae Joohyun detik itu juga. Tangan sedikit kekar milik suami barunya, Baekhyun, dibiarkan mendekap erat pinggang langsingnya begitu saja.

“Apa yang mengganggu pikiranmu, Sayang?” bisik pria itu sembari menumpukan dagunya di pundak sang istri.

Byun Baekhyun, dialah pria beruntung yang mampu meluluhkan kerasnya hati Joohyun yang pernah membeku pascaperceraian itu. Dia pria muda, tampan, dan hangat yang bersedia menerima segala kekurangan yang Joohyun punya.

Jika alasan seorang Byun Baekhyun melepas masa lajang hanya untuk segera memperoleh keturunan, tentu ia tidak akan pernah memilih Bae Joohyun sebagai wanita terakhirnya. Pria itu bilang, ia tak keberatan hidup berdua saja di dunia ini, asalkan bersama Joohyun. Ia juga bilang, jika memang mereka ingin, mereka bisa mengadopsi banyak anak-anak malang yang tak memiliki orangtua dari panti asuhan. Baekhyun mencintai Joohyun tanpa banyak syarat, dan alasan itu sudah cukup membuat Joohyun lebih berani meyakinkan diri bahwa pernikahannya kali ini tidak akan pernah gagal lagi.

“Dirimu. Kau terlalu memenuhi pikiranku sampai-sampai aku tak bisa memikirkan hal lainnya,” jawab wanita itu, sedikit gombal.

Baekhyun tertawa kecil merespons omong kosong wanitanya, “Maaf.”

Si Pria Byun mengecup lembut leher sang wanita dengan penuh cinta, meninggalkan bekas merah sebagai penanda kalau kini wanita itu telah resmi menjadi miliknya, seutuhnya.

Mata Joohyun terpejam sesaat, menikmati darah dalam tubuhnya yang berdesir cepat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sudah lama sekali, ia tak merasakan kehangatan seperti  malam ini.

Temaramnya lampu kamar hotel seakan memberi sensasi tersendiri dalam membangkitkan gairah keduanya. Pasangan pengantin baru itu kemudian larut dalam tautan lembut bibir mereka sebelum akhirnya bersatu dalam api cinta yang membara di atas ranjang―malam pertama.

.

.

.

“Sayang! Mana ember kecilnya?! Cepat sedikit, sebelum kamar kita berubah jadi laut!”

Teriakan Baekhyun dari arah kamar membuat Joohyun semakin kalang kabut, mencari ember yang entah ditaruh di tumpukan barang mana setelah mereka mengurusi kepindahan ke rumah baru ini kemarin. Malam ini hujan turun begitu deras, dan sialnya, mereka baru mengetahui beberapa saat lalu bahwasanya atap kamar di rumah minimalis mereka tersebut ternyata bocor.

“Embernya tidak ada, sepertinya kita harus merelakan kamar kita berubah jadi laut dulu malam ini,” lapor Joohyun, diselingi candaan.

“Ya ampun.” Baekhyun memijat keningnya sendiri. Sementara, dua netranya kompak menatap miris ke arah air hujan di lantai kamar mereka yang kian menggenang. “Maafkan aku ya, Sayang. Harusnya aku lebih teliti ketika memutuskan untuk membeli rumah. Maaf telah membuatmu kecewa,” sesalnya kemudian.

“Aku tidak apa-apa kok. Sungguh.” Joohyun memeluk Baekhyun dari samping, lalu melanjutkan, “Hanya saja … mau tak mau, nanti kita harus mengepel lantai dulu sebelum tidur.”

Mendengar penuturan lembut itu keluar dari mulut istrinya, Baekhyun seketika merasa sangat bersyukur. Entah akan bagaimana jadinya malam ini jika wanita yang ia nikahi sebulan lalu bukanlah sosok penyabar seperti Bae Joohyun. Siapapun lelaki yang pernah dengan bodohnya menyia-nyiakan Joohyun di masa lalu, pasti sedang merasa sangat menyesal sekarang.

“Mengepel? Memang kau menemukan alat pelnya?”

Wanita berparas cantik itu tampak berpikir sebentar, sebelum akhirnya menggeleng dan menunjukkan barisan giginya yang rapi. “Tidak juga sih.”

Baekhyun terkekeh. “Kalau begitu, malam ini kita tidur di dapur.”

Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga sang istri dan berbisik nakal sampai membuat daun telinga istrinya memerah, “Kita juga bisa leluasa melakukannya di atas meja makan.”

“Melakukan apa?” tanya Joohyun berpura-pura bodoh sambil melingkarkan tangannya di leher Baekhyun.

“Ini.”

Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir merah muda Joohyun. Tak berhenti sampai di situ, keduanya melanjutkan dengan saling memberi ciuman-ciuman lembut yang cukup dalam. Dengan bibir yang masih saling bertautan, Baekhyun menggiring Joohyun untuk melangkah keluar kamar menghindari lantai yang kian becek.

“Eh!” tautan bibir mereka spontan terlepas saat Joohyun sedikit terpeleset, untunglah kedua tangan Baekhyun sigap menahannya.

Belum semenit, bibir mereka kembali bertemu. Kini Baekhyun mendekap tubuh Joohyun lebih erat demi mencegah kejadian kecil seperti tadi terulang lagi. Tak perlu melangkah sampai sepuluh langkah, mereka telah sampai di dapur yang menjadi satu dengan ruang makan. Baekhyun mendudukkan Joohyun di atas meja makan, sementara tangan Joohyun terlihat berusaha mengenyahkan benda apapun yang ada di atas meja.

Baru saja tangan Baekhyun hendak menggerayangi kulit di balik celana pendek istrinya, gerakan tangannya harus terhenti oleh suara bel. Sial, siapa tamu yang berani-beraninya datang berkunjung di tengah hujan angin sebegini malam?

“Jangan dibuka,” cegah Baekhyun saat Joohyun hendak beranjak meninggalkannya.

Awalnya Joohyun menurut, namun sepertinya tamu mereka di luar sana tak mau bersabar hingga terus-menerus menekan bel, meminta untuk sesegera mungkin dibukakan pintu.

“Aku buka saja, ya? Sebentar saja kok.”

Tanpa menunggu Baekhyun mengiyakan, Joohyun berjalan cepat ke ruang tamu.

Sedetik setelah pintu terbuka, Joohyun hanya mampu terdiam seribu bahasa dengan tubuh gemetar. Reaksi Joohyun tersebut persis seperti reaksi pria jangkung yang mematung di luar sana. Manik mereka saling bertatap dengan binar keterkejutan yang sama namun perasaan yang berbeda. Rasa benci, sakit hati, dan trauma itu kembali merayapi batin Joohyun. Sementara di sisi lain, pria yang berdiri memeluk seorang bayi dengan setelan pakaian basah kuyup seakan tak percaya Tuhan mempertemukan dirinya dengan Bae Joohyun lagi setelah sekian lama.

“Siapa yang datang, Sayang?”

Baekhyun menyusul Joohyun ke ruang tamu dan langsung ikut terkejut detik itu juga.

“Chanyeol-ah! Ya ampun! Kalian pasti kedinginan, ayo masuk!”

Dunia Bae Joohyun seolah berhenti berputar saat itu. Baekhyun jelas tahu tentang cerita hidupnya yang luluh lantak pascabercerai dengan seorang bajingan yang begitu tega memilih wanita lain setelah menyadari ia bukan lagi wanita sempurna. Tapi, tampaknya Baekhyun tidak tahu … bahwa Park Chanyeol-lah si pria bajingan itu.

“Sayang! Sayang!”

Joohyun terlalu sibuk bergelut dengan pikirannya sendiri hingga ia tak menyadari bahwa panggilan tadi merupakan panggilan Baekhyun yang kesepuluh kali.

Baekhyun bergerak cepat menutup pintu rapat-rapat sebelum air hujan yang terbawa angin masuk membanjiri ruang tamu mereka.

“Tolong kau bantu hangatkan anak sahabatku, ya? Kasihan sekali bibirnya sudah membiru,” kata Baekhyun, tanpa bertanya dulu apa yang membuat Joohyun seketika tampak begitu syok.

“Sayang, kau dengar aku?” Baekhyun menepuk bahu Joohyun, namun Joohyun tetap seperti orang yang kehilangan arah, kebingungan bukan main.

Baru setelah sekian detik berlalu, suara tangisan bayi yang amat kencang tertangkap oleh indra pendengaran wanita itu. Bayi yang dibawa Chanyeol dalam keadaan basah kuyup ternyata menangis kedinginan sedari tadi. Meski tidak pernah menjadi seorang ibu, naluri itu tetap ada. Diambilnya bayi laki-laki itu dari gendongan ayahnya, didekap dan dikecupnya berkali-kali puncak pelontos si bayi agar merasa hangat dan tenang dalam gendongannya. Menyadari baju yang dipakai si bayi juga masih dalam kondisi basah, Joohyun buru-buru mencari selimut dan membalut tubuh mungil bayi itu setelah sebelumnya melepas baju yang basah tadi.

“Kau tenang saja, Chanyeol-ah. Walaupun istriku belum pernah menjadi ibu, dia tampaknya sudah begitu terampil dalam menenangkan anakmu.”

Sebenarnya tak perlu ada yang dirasa menyakitkan oleh Joohyun dari kata-kata Baekhyun barusan. Namun entah mengapa, hatinya amat teriris. Bayi yang sedang berusaha ia hangatkan adalah anak Chanyeol, tapi bukan anak yang lahir dari rahimnya. Lalu? Dari rahim Sandara kah anak itu lahir?

“Terima kasih banyak sudah mau menerima kedatanganku dengan baik, Baekhyun-ah,” ucap Chanyeol. Suara pria itu terdengar sedikit bergetar, mungkin efek menggigil saking nekatnya menerobos cuaca buruk di malam ini.

“Sudahlah, tak usah sungkan.” Baekhyun mengajak Chanyeol untuk melayangkan tatapan ke arah Joohyun yang tengah sibuk menidurkan bayi dalam gendongannya. “Coba kau lihat baik-baik! Memangnya wajah kami berdua terlihat seperti pasangan yang akan begitu tega menolak kedatangan sahabat yang sedang kesusahan? Tidak, ‘kan?”

Jangan, tolong jangan bersikap baik seperti itu, Baekhyun-ah,” batin Joohyun menjerit, dan tentu saja, Baekhyun tidak akan mungkin mampu mendengarnya. Terakhir kali Joohyun membiarkan Chanyeol bersikap baik dengan menerima orang baru di rumah mereka, Chanyeol berakhir meninggalkannya. Sekarang, Joohyun sungguh tak mau hal itu terjadi lagi.

“Bagaimana menurutmu? Istriku cantik sekali, bukan?” tanya Baekhyun, meminta pendapat Chanyeol yang masih saja menyembunyikan fakta bahwa ia pernah lebih dari sekadar mengenal Joohyun sebelumnya.

“Ya, dia sangat cantik dan … sepertinya juga baik. Kau tidak salah memilih, Baekhyun-ah.”

“Maaf, rumah kami tidak besar. Langit-langit kamar kami juga sedang mengalami kebocoran. Kami hanya punya ruang tamu, dapur, dan satu kamar mandi yang tersisa. Apa tidak sebaiknya kau mencari tempat lain yang lebih baik?” Joohyun akhirnya angkat bicara. Wanita itu tetap berusaha mengontrol nada bicaranya agar Chanyeol tidak perlu merasa sakit hati dengan usiran tidak langsungnya. Jika dipikir ulang, untuk apa pula ia masih memikirkan perasaan Chanyeol di saat pria itu justru tak pernah melakukan hal yang sama padanya? Bodoh memang.

“Ah iya, aku lupa mengatakan itu padamu.” Baekhyun menepuk keningnya sendiri. “Apa kau tidak keberatan tidur di sofa ini?”

“Jika kamar kalian bocor, lalu aku dan putraku tidur di sofa ini, kalian akan tidur di mana?” tanya Chanyeol.

“Aku dan istriku bisa tidur di mana saja, di atas meja makan pun bisa,” ujar si Pria Byun sembari menunjukkan seringaian khas dengan hidung mengembang yang langsung dapat dimengerti sang sahabat.

“Sekali lagi, maaf ya kalau kau tidak merasa nyaman. Hanya rumah seperti inilah yang baru bisa kami miliki,” lanjut Baekhyun.

Chanyeol kontan menggeleng. “Tidak. Aku yang seharusnya minta maaf karena merepotkan kalian. Kalau saja aku tidak dipecat dan tidak menumpuk utang di mana-mana, rumah dan semua barangku mungkin tidak akan disita.”

Pengakuan mantan suaminya itu seketika membuat Joohyun kembali terkejut. Yang ia tahu, setelah menceraikannya, Chanyeol memilih berhenti bekerja di perusahaan yang sama dengannya dan bekerja di tempat lain. Setelah itu, Joohyun-lah yang lebih memilih menutup telinga perihal apapun yang menyangkut Park Chanyeol.

“Lalu … kenapa kau tidak membawa serta ibu dari bayi ini? Dia masih butuh asupan ASI,” tanya Joohyun, tanpa ada niat beradu tatap sedikitpun.

Chanyeol tidak langsung menjawab. Pertanyaan yang diajukan Joohyun seperti memiliki tingkat kesulitan tersendiri untuk ia tanggapi.

“Dayeol tidak pernah merasakan ASI. 4 bulan lalu ia lahir, saat aku baru saja dipecat beberapa hari sebelumnya. Ibunya tidak mau menyusuinya sama sekali. Menyadari masa depanku akan begitu menyedihkan, ibunya meninggalkan dia berdua bersamaku begitu saja untuk pergi dengan lelaki yang menurutnya lebih sempurna,” tutur Chanyeol, mengisahkan karma yang langsung ia dapat setelah pernah melakukan hal terbodoh di masa lalu.

“Mau bagaimanapun, manusia tidak ada yang sempurna. Semua memiliki kekurangannya masing-masing. Itulah mengapa manusia ditakdirkan hidup berpasang-pasangan. Bukan untuk mencari siapa yang paling sempurna, tapi untuk mencari siapa yang bisa membuatnya merasa sempurna ketika bersama.” Joohyun menyerahkan kembali Dayeol yang telah terlelap pada ayahnya. Wanita itu kemudian dapat merasakan genggaman erat Baekhyun pada tangannya.

Dengan senyuman merekah, Baekhyun berkata pada Chanyeol, “Dan bersama dialah, aku merasa sempurna. Kau juga harus mencari lagi satu wanita seperti istriku. Jika sudah dapat, jangan pernah lepaskan dia atau kau akan sangat menyesal, Chanyeol-ah.”

.

.

.

Pagi ini Baekhyun sengaja memanggil tukang untuk membetulkan atap rumahnya yang bocor. Pasalnya musim hujan sudah dimulai dan ia tak mungkin mengajak Joohyun untuk terus-terusan tidur di meja makan. Ditambah lagi dengan kehadiran Chanyeol dan Dayeol yang menumpang sementara di rumah mereka, Dayeol pasti membutuhkan tempat tidur yang lebih hangat dari sekadar sofa ruang tamu.

Di dapur, Joohyun tampak sibuk meracik kopi ala seorang barista. Setiap tetes kopi ia tuang dengan sangat hati-hati demi menjaga cita rasanya. Baekhyun sangat suka minum kopi, begitupun juga … Chanyeol.

“Kopinya sudah siap!” teriak Joohyun.

Baekhyun meninggalkan pekerjaan tukangnya sebentar. Melihat Chanyeol yang masih saja menggendong Dayeol membuat Baekhyun kemudian berinisiatif mengajak sahabatnya tersebut untuk minum kopi bersama.

“Kau sudah membuatkan kopi untuk para tukang?” tanya Baekhyun pada Joohyun. Joohyun mengangguk dan memperlihatkan sebuah poci khusus penuh berisi kopi.

“Sudah kubuatkan juga kopi untukmu dan sahabatmu,” tambah Joohyun.

“Terima kasih, Sayang,” ucap Baekhyun lalu mengecup pipi istrinya tepat di depan Chanyeol yang masih berdiri menggendong Dayeol.

“Oh iya, kau tidak keberatan untuk menjaga Dayeol sebentar selagi aku dan Chanyeol menikmati kopi buatanmu, ‘kan?”

Joohyun melirik Chanyeol sekilas. “Baiklah.”

Berulang kali Joohyun harus menyadarkan diri. Hatinya tidak boleh berdebar lagi untuk bajingan itu. Sudah cukup nama Byun Baekhyun saja yang mengisi seluruh ruang di hatinya, jangan sampai ada ruang kosong lagi. Hatinya tidak boleh lemah hanya karena Dayeol membutuhkan sosok seorang ibu sepeninggal Sandara. Dayeol … bukanlah anaknya.

“Tunggu!” cegah Joohyun saat melihat Baekhyun hendak menyeruput kopi dari gelas putih. “Kopimu di gelas merah, Sayang.”

Kontan saja Baekhyun mengernyitkan dahi, bertanya dengan nada bingung, “Memangnya kenapa?”

“Kau … ‘kan tidak suka americano.”

Wanita itu lantas terdengar memaksakan tawanya sekian detik kemudian, membuat Baekhyun tak mau kalah mengukir senyum paksa juga.

“Ternyata gelas ini berisi kopi kesukaanmu, Tuan Park.” Baekhyun memberikan gelasnya pada Chanyeol, sementara Chanyeol hanya menerimanya dengan perasaan tak enak. “Ternyata selain cantik, istriku juga pandai menebak sesuatu.”

“Tadi aku yang meminta dibuatkan americano. Maaf kalau kau tak suka,” ujar Chanyeol, berbohong demi meredam kecurigaan sang sahabat yang masih tak tahu apa-apa tentang masa lalu dirinya dan Joohyun.

“Tidak apa-apa, istriku memang senang membuat americano sejak dulu. Sayangnya, jika disuruh memilih, aku lebih menyukai espresso.”

Baekhyun mencoba menatap Joohyun, namun wanita itu seperti berusaha menghindari tatapannya, menyibukkan diri bermain-main dengan tubuh mungil Park Dayeol.

“Nanti siang, kau temani Chanyeol membeli tempat tidur khusus untuk Dayeol, ya?” kata-kata Baekhyun tersebut seketika mampu mengalihkan perhatian Joohyun padanya, menatapnya seakan tak percaya.

“Kenapa harus aku?”

“Karena aku harus mengawasi pekerjaan tukang. Lagipula, kau yang paling bisa menenangkan Dayeol,” jelas pria itu.

“Aku bisa pergi sendiri―”

“Tidak,” potong Baekhyun, tak memberi kesempatan Chanyeol untuk menolak.

Baekhyun benar-benar benci ada di posisi seperti ini. Ia tidak mau berpikiran yang aneh-aneh, namun Joohyun dan Chanyeol sudah terlalu kentara menunjukkan sikap-sikap yang tak biasa. Apa mereka pikir, dengan saling menolak seperti itu, mereka tidak akan jauh lebih mencurigakan?

“Pergilah bersama-sama. Agar salah satu dari kalian bisa bergantian menjaga Dayeol.”

.

.

.

Sejak pulang dari mal, Baekhyun menyadari Joohyun semakin tak banyak bicara. Baekhyun seolah dibawa kembali ke masa di mana ia baru mengenal sosok Bae Joohyun yang amat tertutup setahun lalu. Persis seperti saat ini, ia sering mendapati Joohyun melamun entah berpikir keras tentang hal apa. Ia sempat mampu membuat Joohyun kembali pada sosok aslinya yang ceria, tapi sekarang? Ia gagal lagi.

“Sayang …” panggil Baekhyun dari tempat tidur. Joohyun yang sedari tadi termenung di samping box bayi Dayeol akhirnya mau menyempatkan diri untuk menoleh.

“Dayeol sudah tidur?”

Pertanyaan tersebut hanya Joohyun jawab dengan sebuah anggukan lemah.

“Jika memang kau sedang tidak mau berbagi cerita, maka aku tidak mau bertanya ‘kenapa’,” ucap pria itu sambil melangkah mendekat, mendekap erat tubuh istrinya dari belakang. “Aku hanya ingin bertanya, apa yang sekiranya bisa kuperbuat agar kau kembali tersenyum lagi?”

Suara sendu Baekhyun seolah mengundang air mata Joohyun untuk merembes ke luar. Ada rasa bersalah dalam hati Joohyun pada sang suami karena telah lalai mengecek ruang di hatinya sendiri. Joohyun kira, seluruh ruang di hatinya telah terisi penuh oleh nama Byun Baekhyun. Namun ternyata, ia baru menyadari, ada satu ruang yang masih tersisa yang tidak dapat Baekhyun tempati lagi karena ruang itu sama sekali bukan ruang kosong. Ruang itu masih ditempati nama Park Chanyeol, dan lebih sialnya, ruang yang semula sudah hampir redup itu kini kembali terang, ada secercah cahaya di sana: harapan.

“Hei, kau menangis?” Baekhyun mengusap air mata yang mengalir di pipi istrinya. Ini adalah kali pertama Baekhyun melihat istrinya menangis lagi setelah satu bulan pernikahan.

“Aku mencintaimu, sungguh ….” kata-kata Joohyun lebih tepat ditujukan kepada dirinya sendiri, sebab ia sedang berupaya untuk meyakinkan hatinya, bukan meyakinkan Baekhyun. Ia sungguh tidak boleh mengalah, sebab Baekhyun jauh lebih berhak mendapatkan cintanya daripada pria bajingan bermarga Park itu. Tak peduli seberapa kuat godaan datang, perasaannya pada Baekhyun harus bisa jauh lebih kuat daripada itu.

“Iya, aku juga mencintaimu. Makanya aku mengikatmu dalam ikatan pernikahan, agar kau tak bisa lagi pergi ke lain orang, karena janji kita sesungguhnya telah disaksikan dan diucapkan atas nama Tuhan,” balas Baekhyun yang kemudian diakhiri dengan ciuman hangatnya di bibir merah muda Joohyun.

“Aku akan melakukan apapun … apapun, Joohyun-ah, asalkan aku bisa melihatmu tersenyum ceria dan tak bersedih lagi,” sumpah pria itu, penuh penekanan.

Di luar sana, hujan masih setia turun dengan derasnya. Atap kamar yang sudah selesai diperbaiki kini tak lagi meneteskan titik-titik hujan ke lantai. Baekhyun dan Joohyun tidur berpelukan, bertujuan untuk saling menghangatkan raga satu sama lain. Tapi tanpa Baekhyun sadari, Joohyun terus terjaga dan memandanginya.

Dalam hening, Joohyun amat berharap Tuhan mau mengampuni dosa yang telah ia lakukan siang tadi―di mana dirinya tanpa daya dan upaya tak kuasa menolak sentuhan hangat dari bibir Park Chanyeol di bibirnya. Ya, bajingan yang pernah begitu menyiksa kehidupannya itu dengan tega kembali menyatakan cinta, seakan ‘pernah menyakiti’ bukanlah suatu ‘dosa’ yang amat perlu disesali. Setega itulah Chanyeol mempermainkan perasaannya. Dan apa ada yang lebih bodoh dari seorang Bae Joohyun, yang mengartikan semua perlakuan kejam itu sebagai secercah harapan? Rasanya … tidak akan ada, dan hanya dialah … satu-satunya yang tersisa di muka dunia.

.

.

.

“Joohyun-ah …”

Pergerakan tangan Joohyun terhenti sesaat. Piring yang dipegangnya masih dipenuhi busa. Sadar suara setengah berbisik itu bukanlah suara Baekhyun, Joohyun menjadi enggan untuk berpaling.

“Biar kubantu, ya?”

Pria jangkung itu akhirnya berdiri di samping Joohyun tanpa diminta, mengambil satu persatu piring kotor dan mencucinya hingga bersih.

Hati Joohyun kembali goyah. Sikap baik Chanyeol saat ini mengingatkannya pada kenangan-kenangan masa lalu mereka semasa masih menikah dulu.

Wanita itu terus hanyut dalam pikirannya sendiri sampai tak sadar pria di sebelahnya asyik berceloteh mengajaknya bicara. Menit berlalu, ia akhirnya tersadarkan dari lamunannya setelah tangan besar Chanyeol yang masih sedikit basah, terasa hangat menggenggam tangannya erat-erat.

“Lepaskan, Chanyeol-ah!” pinta Joohyun dengan tangan berontak.

“Kenapa, Joohyun-ah? Bukankah kemarin, kita su―”

“Apa? Memangnya apa yang kau harapkan?!” serobot Joohyun tanpa menunggu Chanyeol menyelesaikan kalimatnya. “Kau berharap aku mau kembali padamu? Benar begitu?”

Chanyeol ternganga, kehabisan kata-kata untuk membalas pertanyaan Joohyun yang penuh emosi.

“Aku bukan kau, Chanyeol-ah,” lirih wanita itu. “Aku bukan dirimu, dan tidak akan pernah menjadi seperti dirimu yang bisa dengan mudahnya tergoda oleh seseorang dari masa lalu.”

“Bagiku, pasanganku sekarang terlalu berharga untuk kutukar dengan seseorang yang pernah begitu sengaja memberi luka.”

Joohyun berlalu masuk ke dalam kamar, meninggalkan sisa cucian piring begitu saja dan juga Chanyeol yang masih terdiam membisu merenungi segala kesalahannya.

Kata-kata seorang Bae Joohyun amat tajam dan menusuk, tapi Chanyeol akui, itu semua benar. Dirinyalah yang paling egois di sini. Joohyun bukan rumahnya lagi. Kini, Joohyun adalah rumah bagi Baekhyun, sahabatnya sendiri.

“Chanyeol-ah, sedang apa kau di situ?”

Baekhyun yang baru saja pergi kerja setengah jam lalu entah sejak kapan berdiri di balik pintu.

Tanpa menunggu Chanyeol menjawab, Baekhyun melangkah cepat menghampiri pria yang lebih tinggi darinya itu dengan senyum lebar.

“Karena kurasa kau sedang sangat membutuhkan pekerjaan, aku sudah merekomendasikan namamu pada pihak perusahaanku. Mereka sedang membutuhkan banyak cleaning service, apa kau tak keberatan?”

Chanyeol menggeleng. “Tidak kok, aku akan bersedia menerima pekerjaan apapun jika aku memang mampu melakukannya. Aku harus bisa menjamin Dayeol dapat hidup dengan layak.”

“Baguslah kalau begitu, ayo ikut aku ke kantor!”

“Eh?”

“Kenapa?” tanya Baekhyun, keningnya mengerut keheranan.

“Sekarang?” Chanyeol balik menatap Baekhyun, sama herannya.

Baekhyun tampak berpikir sejenak. Cucian piring masih tersisa beberapa. “Tinggalkan saja piring-piring itu. Lagipula, lebih cepat lebih baik, bukan?”

Tak butuh waktu lama bagi Chanyeol untuk kemudian mengangguk setuju. Kedua pria itu akhirnya pergi menuju tempat tujuan yang sama dengan menggunakan mobil Baekhyun. Namun di tengah-tengah perjalanan, Chanyeol tiba-tiba saja meminta untuk turun mencari toilet umum. Pria yang lebih jangkung itu lantas berlari keluar dari mobil dengan banyak peluh membasahi wajah.

“Apa dia sedang diare?” Baekhyun cekikikan sendiri, padahal sebenarnya ia juga merasa kasihan melihat wajah sahabatnya yang tampak begitu menderita, seperti tak kuasa menahan buang air besar.

“Eh?” si Pria Byun lagi-lagi mengerutkan kening, kali ini karena dirinya mendapati ponsel Chanyeol yang tertinggal di atas jok. Kebiasaan Chanyeol ternyata belum berubah: sering kelupaan meninggalkan barang-barang penting seolah barang tersebut tidak berharga sama sekali.

Detik berselang, ponsel Chanyeol menyala setelah mendapat notifikasi pesan masuk dari seseorang bernama kontak ‘Ibu Dayeolku’.

Kerutan di kening Baekhyun kian jelas terlihat. Bukan soal pesan masuk, melainkan tampilan gambar di layar ponsel sahabatnya itulah yang paling menarik perhatiannya detik itu juga.

“Ini ….”

Potret kebahagiaan Park Chanyeol dan Bae Joohyun di hari pernikahan mereka.

Untuk beberapa waktu, sesuatu di dada kiri Baekhyun berdenyut sangat sakit. Rasa sesak menumpuk menjadi satu dengan kesakitan dikhianati. Ralat, bukan kesakitan dikhianati, tetapi kesakitan karena baru menyadari bahwa dirinya telah menjadi pribadi paling tolol yang mau-maunya dibodohi orang terdekatnya sendiri.

Baekhyun sangat tahu, pasangan di pernikahan kedua Chanyeol adalah Sandara. Tapi, Baekhyun tak pernah tahu, bahwa Joohyun―istrinya sendiri―pernah menjadi bagian dari masa lalu Chanyeol juga. Di hari pernikahan pertama Chanyeol digelar, Baekhyun sedang sibuk-sibuknya mengurus pendidikan di luar negeri. Hilang kontak cukup lama, Baekhyun akhirnya memiliki kesempatan bertemu Chanyeol di pernikahan kedua pria jangkung itu tanpa pernah mengetahui bahwasanya sosok wanita yang pernah mendampingi hidup Chanyeol sebelum Sandara adalah Bae Joohyun-nya sekarang.

“Maaf membuatmu menunggu lama,” ucap Chanyeol saat dirinya kembali masuk ke dalam mobil Baekhyun.

Baekhyun sama sekali tak menimpali. Raut datar dan dinginnya menjadi pemandangan tercanggung bagi Park Chanyeol.

Mobil melaju kencang membelah jalanan. Saking kencangnya, Chanyeol sampai harus mengencangkan kembali sabuk pengaman yang ia kenakan. Perlahan, Chanyeol dapat melihat air mata menetes dari pelupuk pria yang memegang kendali kemudi di sebelahnya.

“Kau ini sebenarnya kenapa, Baekhyun-ah?! Pelankan sedikit, kalau tidak, kita berdua bisa celaka!”

“Sebegitu takutnya ‘kah kau pada kematian?” Baekhyun mengembalikan laju mobilnya pada kecepatan normal. Sedetik kemudian, pria itu tersenyum kecut. “Pembohong memang sudah seharusnya takut mati.”

“Apa maksudmu?”

“Kau … pembohong,” ucap Baekhyun, penuh penekanan di kata terakhir.

“Pantas saja istriku tahu betul kopi yang kau suka, pantas saja istriku mulai kehilangan senyumannya sejak kehadiranmu, pantas saja … karena kau adalah masa lalu terpahit, bajingan yang begitu ingin ia lupakan!”

Tangan Chanyeol mengepal kuat mendengar Baekhyun mengumpatnya. Namun Chanyeol mencoba mengontrol diri, tak serta-merta balik membalas umpatan pria yang telah menjadi sahabatnya selama bertahun-tahun itu.

“Kau yakin, Joohyun benar-benar ingin melupakanku?”

Kedua netra Baekhyun seketika membesar. Ia langsung membanting setir ke kanan, memberhentikan mobilnya tepat di tepi jalan.

“Keluar dari mobilku sekarang juga!” titah pria itu, emosi.

“Kemarin, aku dan Joohyun berciuman di mal. Apa dia bercerita tentang hal itu padamu?”

Chanyeol sadar betul ia sudah kelewat batas. Ia telah diperbudak oleh rasa egois sehingga tak memedulikan perasaan orang lain lagi.

Baekhyun meremas setirnya kuat-kuat, sebelum akhirnya ia mengitari mobil dengan emosi menggebu dan menarik paksa Chanyeol untuk keluar.

“Dasar bajingan keparat!”

Pukulan demi pukulan kasar diterima Chanyeol tanpa ada sedikitpun niatan untuk menangkis. Baekhyun terus menggocoh Chanyeol tepat di bagian wajah sampai tangannya sendiri pun ikut terluka saking kuatnya tinjuan tersebut. Detik berikutnya, Baekhyun yang gelap mata seketika tersadar. Chanyeol telah babak belur, aroma darah segar yang keluar dari lubang hidung lelaki itu dapat tercium dengan mudah oleh indranya.

Sekujur tubuh Baekhyun bergetar hebat, tak percaya setan apa yang baru saja merasukinya. Terakhir, Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol yang telah lunglai hingga jatuh tersungkur dan meninggalkannya begitu saja.

Chanyeol berusaha berdiri, mengerahkan seluruh sisa tenaga yang ia miliki untuk bangkit dari posisinya. Seiring dengan semakin menghilangnya mobil Byun Baekhyun, netra Park Chanyeol memburam hingga seluruh dunianya berubah menjadi gelap dan Park Chanyeol tidak ingat apa lagi yang terjadi pada dirinya setelah itu.

.

.

.

Sambil terus memanjatkan doa, Joohyun melangkah terburu-buru menyusuri lorong-lorong rumah sakit dengan air mata berderai. Sementara itu, Park Dayeol ia titipkan sementara waktu di penitipan anak karena tidak ada lagi yang bisa menjaganya di rumah.

Sekitar 2 jam yang lalu, Joohyun mendapat kabar bahwa Baekhyun mengalami kecelakaan. Mobil yang dikendarai Byun Baekhyun ditabrak dari sebelah kiri oleh mobil berkecepatan tinggi yang dikendarai seorang wanita dalam pengaruh alkohol hingga membuat pria itu terlempar keluar dari mobilnya yang terbalik dan menderita luka parah.

Setibanya di ruang ICU, air mata Bae Joohyun kembali tumpah ruah membasahi pipinya yang belum kering. Kondisi Baekhyun teramat mengkhawatirkan dengan banyak alat medis yang seolah sedang berusaha membantunya untuk tetap hidup.

“Bagaimana keadaan suami saya, Dokter?” tanya Joohyun pada ketiga dokter yang bertugas mengawasi keadaan suaminya.

“Jadi, Anda adalah saudari Bae Joohyun?” tanya salah seorang dari ketiga dokter tersebut.

Setelah mendapat anggukan mantap sebagai jawaban, raut wajah sang dokter berubah sendu. Dokter itu mengambil napas panjang, sebelum kemudian berkata, “Anda harus mempersiapkan diri dari sekarang.”

“Mempersiapkan diri untuk apa?”

“Tidak ada lagi harapan. Suami Anda mengalami trauma berat di bagian kepala pascakecelakaan yang menyebabkan kematian batang otak. Kami sudah melakukan berbagai macam tes sebanyak 2 kali, dan hasilnya tetap positif. Tidak ada respons terhadap cahaya, refleks pada kornea, respons motorik terhadap rangsang, refleks batuk atau muntah saat kami memasukkan kateter isap ke trakeanya, dan ketika kami melepaskan ventilator, suami Anda tidak lagi dapat bernapas tanpa bantuan alat itu,” terang sang dokter panjang lebar.

Joohyun jelas tidak dapat menerima kenyataan pahit itu. Semuanya terasa terlalu tiba-tiba. Joohyun bahkan belum sempat berucap maaf, ataupun mengaku bahwa dirinya pernah meragu dalam mencintai lelaki itu.

Ini semua … pasti hanyalah mimpi.

“Hentikan, Nyonya! Kenapa Anda malah menyakiti diri sendiri?! Hentikan!”

Dengan air mata yang tak kunjung berhenti berlinang, Joohyun terus menampar pipinya sendiri berkali-kali, berharap bahwa semua yang terjadi pada Baekhyun hanyalah mimpi semata dan ia bisa lekas terbangun dari mimpi buruk ini. Namun, seberapa keras pun ia mencoba menampar dirinya, semua yang terjadi hari ini tetaplah kenyataan yang mau tak mau harus ia terima.

Wanita itu melangkah gontai menghampiri sosok pria baik hati yang baru menikahinya sebulan lalu. Pria yang dulu selalu berusaha untuk membuatnya tersenyum dengan cara apapun kini malah berbalik membuatnya menangis tanpa henti.

“Padahal … tubuhmu masih hangat,” lirih Joohyun sambil memeluk tubuh tak berdaya Byun Baekhyun.

“Maafkan aku … seharusnya aku bisa lebih mencintaimu seperti dirimu yang bisa mencintaiku sepenuh hati. Aku memang bodoh, aku minta maaf ….” Sekali lagi, Joohyun ingin sekali berharap bahwa ini hanyalah mimpi buruknya saja. Joohyun ingin cepat-cepat terbangun dan mengadu pada Baekhyun yang selalu memberikannya pelukan penenang. Ia ingin seperti itu, bukan terus seperti ini.

“Nyonya Bae Joohyun.” Seorang pria berjas mendekat, membawa berkas-berkas yang terlihat penting dalam sebuah map. “Semasa hidup, Tuan Byun Baekhyun sudah mengisi formulir sebagai pendonor organ. Dia sudah menyatakan bersedia mendonorkan semua organnya bagi siapa saja yang membutuhkan setelah dirinya dinyatakan meninggal, tanpa paksaan. Meski begitu, kami tetap membutuhkan persetujuan Anda sebagai istrinya untuk dapat melakukan operasi pengambilan organ secepatnya,” lanjut pria itu.

“Jika Anda setuju, ventilator akan tetap kami pasang sampai operasi dilakukan,” tambah dokter tadi.

Byun Baekhyun adalah pria terbaik yang pernah Joohyun kenal. Bahkan setelah dinyatakan meninggal pun, lelaki itu dengan sukarela memberikan seluruh organnya demi memperpanjang waktu hidup orang lain.

“Jika memang dia menginginkan seperti itu, maka lakukanlah,” ujar Joohyun yang kemudian mengecup tangan suaminya penuh perasaan.

“Kalau begitu, silakan tanda tangan di sini.”

.

.

.

“Dayeol-ah!”

Seorang anak laki-laki berlari riang ketika mendapati ibunya datang menjemput di depan gerbang sekolah. Dengan tawa dan senyuman lebar, anak itu mendekap tubuh sang ibu erat-erat seperti sedang melepas rindu.

Eomma, ayo kita bertemu Appa!”

Tak terasa, 5 tahun berlalu begitu cepat. Sejak pernikahannya dengan Byun Baekhyun terpisahkan oleh maut, Bae Joohyun memutuskan menjadi ibu tunggal atas Park Dayeol, bayi yang ditinggalkan begitu saja oleh ayah kandungnya sendiri yang entah kini berada di mana.

“Iya, ayo! Eomma sudah membeli bunga untuk kita berikan pada Appa!” sahut Joohyun merespons ajakan Dayeol.

Joohyun mengajak Dayeol pergi ke tempat tujuan mereka menggunakan bus. Mobil Baekhyun yang langsung diperbaiki pihak asuransi pascakecelakaan telah dijualnya untuk memenuhi biaya hidup dan segala kebutuhan Dayeol. Meskipun memiliki cukup uang karena dirinya sudah kembali bekerja, biaya pendidikan Dayeol dirasa jauh lebih penting dari sekadar membeli sebuah mobil baru.

Saking tidak sabar ingin bertemu ayahnya, Dayeol berlari begitu lincah di area sebuah kompleks pemakaman agar bisa cepat sampai. Di sana, terdapat banyak sekali gundukan tanah―makam dari orang-orang pendahulu―yang sudah ditumbuhi rumput hijau. Di tempat itu jugalah, Baekhyun diistirahatkan untuk terakhir kali. Karena terlalu cepat berlari, Dayeol akhirnya terjatuh di dekat makam ayahnya yang sudah lebih dulu didatangi empat orang dewasa yang tak ia kenal. Untungnya, Dayeol bukanlah anak yang cengeng.

“Hati-hati, Nak. Apa kau baik-baik saja?” tanya seorang pria yang membantu Dayeol berdiri.

“Dayeol-ah! Kau terjatuh lagi, ya? Sudah berapa kali Eomma katakan untuk jangan―”

“Bae Joohyun?”

Kalimat Joohyun seketika terpotong oleh suara seorang wanita berseragam tahanan kasus kriminal yang didampingi dua orang polisi. Bola mata Joohyun hampir saja loncat detik itu juga. Wanita berseragam tahanan itu, dia Sandara … dan di sebelahnya, sosok Park Chanyeol berdiri setelah membantu Dayeol yang terjatuh. Netra Joohyun beralih pada dua buket bunga putih yang tergeletak di depan gundukan tanah suaminya. Di tahun-tahun sebelumnya, Joohyun juga sering mendapati dua buket bunga itu tersimpan lebih dulu daripada buket bunga miliknya tanpa tahu siapa orang yang menyimpan buket tersebut. Lalu, apa inilah jawabannya?

“Sedang apa kalian di sini? Kenapa kalian berdua harus muncul di depan makam suamiku?!!” tanya Joohyun sedikit berteriak, emosi. Dayeol yang tidak pernah melihat ibunya semarah ini lantas memeluk kaki ibunya erat-erat, ketakutan.

“Jadi benar … Baekhyun adalah suamimu?”

Sandara tampak begitu terguncang. Cairan bening merembes keluar begitu saja dari pelupuk matanya.

“Aku … a-akulah wanita mabuk yang telah … menabrak mobil Baekhyun hari itu, Joohyun-ah,” aku Sandara, terbata-bata.

“Apa?”

Selama 5 tahun, Joohyun sengaja hidup tanpa bayang-bayang pelaku penyebab kecelakaan tragis itu. Joohyun tak pernah mau tahu siapa orang yang begitu tega melibatkan suaminya dalam sebuah kecelakaan, karena ia sangat takut: jika dirinya tahu fakta itu, ia akan semakin tak bisa merelakan kepergian Baekhyun dari sisinya. Dan hari ini, rasa itu akhirnya benar-benar muncul.

Belum selesai tertelan kenyataan pahit tentang Sandara yang merenggut nyawa suaminya, kekuatan batin Joohyun harus diuji lagi oleh pengakuan mengejutkan dari seorang Park Chanyeol yang kemudian berlutut di hadapannya, menunduk meneteskan banyak air mata.

“Karena Baekhyun, aku bisa kembali melanjutkan hidupku. Di dalam tubuhku, jantung Baekhyun masih berdetak. Aku adalah penerima donor jantung Baekhyun, Joohyun-ah,” isak Chanyeol penuh rasa menyesal.

Lutut wanita itu tiba-tiba terasa melemas hingga jatuh terduduk di tanah. Skenario hidup yang telah dibuat Tuhan untuknya terlalu memuakkan. Harus berapa banyak lagi air mata yang jatuh membasahi pipinya? Harus seberapa banyak lagi derita yang ia tanggung seorang diri? Bae Joohyun … benar-benar tidak mengerti mengapa Tuhan tega membuat takdirnya sampai semenyedihkan ini.

“Kau ….” sorot mata Joohyun menyorot tajam ke arah Sandara. “Kenapa kau masih hidup? Kenapa bukan kau saja yang mati? Kenapa … kenapa harus orang yang kau tabrak yang mati?! Kenapa bukan kau saja?!!”

“Maaf … sungguh, maafkan aku, Joohyun-ah,” sesal Sandara.

“Dulu, kau merebut Chanyeol yang masih berstatus suamiku. Dan sekarang? Kau mengaku bahwa kaulah orang yang tega merenggut nyawa Baekhyun, suami keduaku! Kenapa … kau bisa merebut semua kebahagiaanku semudah itu?!”

Dayeol memeluk kaki Joohyun semakin erat. “Eomma, jangan menangis! Nanti Dayeol dan Appa jadi sedih,” tangis bocah itu kemudian.

“Dayeol?” bersamaan, Chanyeol dan Sandara kompak menyebut nama anak mereka.

Melihat Sandara yang hendak menarik Dayeol ke dalam pelukan, Joohyun dengan cepat melindungi sang putra di belakang tubuhnya.

“Kalian berdua sudah merebut semua kebahagiaanku, dan apa sekarang kalian juga berniat merebut Dayeol―satu-satunya kebahagiaanku yang tersisa, huh?!” dada Joohyun masih saja terasa sesak meski emosinya sudah meluap-luap detik itu. Ia teramat sadar bahwa Dayeol berhak mendapat kasih sayang dari kedua orangtua kandungnya, namun jika diingat lagi betapa tidak bertanggung jawabnya Chanyeol dan Sandara selama 5 tahun ini, ia sungguh ingin mempertahankan keegoisannya saja.

“Semua ini berawal darimu, Park Chanyeol …” gumam Joohyun.

Chanyeol tertunduk gemetar, tak mampu balik menatap mantan istrinya.

“Aku benar-benar menyesal pernah mengenalmu. Kalau saja aku tak pernah memercayakan hatiku padamu, kalau saja … aku tak pernah menerima ajakanmu untuk berkenalan, mungkin aku takkan pernah mengenal wanita jahat di sampingmu itu! Dan kalau saja kalian tak pernah hadir dalam hidupku bahkan sedetik, Baekhyun mungkin masih bisa hidup lebih lama lagi!”

“Pergi … enyahlah dari pandanganku sekarang juga!” usir Joohyun. Di detik selanjutnya, wanita yang masih berderai air mata itu kembali bergumam, “Selamanya … kumohon, jangan pernah sentuh kehidupanku ataupun Dayeol, karena selama ini, tanpa kalian berdua pun, hidup kami baik-baik saja.”

Dua manusia paling dibenci Bae Joohyun itu akhirnya mampu menerima semua keputusan tersebut. Sandara kembali melanjutkan sisa hukumannya di penjara, sementara Park Chanyeol terus hidup bersama jantung Baekhyun dalam sejuta rasa penyesalan. Mereka berdua tak menuntut hak asuh atas Park Dayeol, sebab jika mereka berkukuh, mereka hanya akan semakin menyengsarakan hidup janda Byun Baekhyun tersebut.

Di depan makam sang suami, Joohyun kembali meraung-raung, tak kuasa menahan tetes air mata yang terus mendesak keluar hingga kedua kantong matanya membengkak, sembap. Ia menyesali semuanya. Ia berpikir, kematian Baekhyun yang begitu cepat itu juga disebabkan oleh dirinya―yang telah dengan begitu bodoh membiarkan lelaki baik itu masuk ke kehidupannya yang menyedihkan.

 

―♫―

Sudah seharusnya, biar aku sendiri saja yang bersedih. Biar aku sendiri saja yang menahan perihnya luka kala itu. Seharusnya, kau tidak perlu datang dan mengulur tangan mengajakku pada kebahagiaan. Nyatanya, sedihku lebih kuat. Sedihku mampu menarikmu ikut serta, menjauh dari bahagia.

 

When Happiness Comes―End.

PicsArt_01-05-03.40.18

Watch my action also on wattpad.

2 tanggapan untuk “COLD RAIN SERIES – WHEN HAPPINESS COMES ― by AYUSHAFIRAA”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s