[EXOFFI FREELANCE] Name (E)

Name

Name [E]

aliensss

Genre : au, drama, romance, hurt/comfort

Rate : PG-17

Length : Chaptered

Cast

Chanyeol, Jin Hwan, Sehun, Sae Jin, Sora

Kai (exo), Park In Jae (oc)

Summary

Karena setiap nama punya cerita

.

E

Apa jangan-jangan saat angka 3 diperkenalkan di Bumi, huruf E juga lahir?

Disclaimer : Alur cerita ini asli milik aliensss. Jika terdapat kesamaan ide dan juga cast, itu tidak disengaja. Cast milik Tuhan YME dan semua yang berhak atas mereka. Terinspirasi dari berbagai sumber (cerpen, novel, ff, film, dan lagu). Dibuat untuk hiburan semata. Cerita yang masih banyak kekurangan, kesalahan ejaan, alur yang aneh, penokohan yang kurang maksimal dsb, jadi harap maklum.

Happy Reading …^^

♣ ♣ ♣

Satu minggu dari waktu yang Kai berikan sudah In Jae habiskan. Dan kesimpulan yang gadis itu dapatkan hingga sekarang adalah, bingung. In Jae sudah berhasil menyelesaikan 75 halaman dan belum juga mendapatkan titik terang. Bagian yang ia baca hanya seputar pertengkaran Sae Jin dan Sehun di bangku kuliah dan beberapa adegan dimana Sehun mulai menunjukkan perubahan rasa pada gadis itu.  

Sebuah ide muncul di kepala In Jae. “kenapa tidak terpikirkan sejak kemarin?” gadis itu mengambil bukunya dan membuka halaman terakhir. Membaca paragraph terakhir dan mendengus kesal. “buku macam apa ini? Di awal tak ada pengantar atau perkenalan tokoh. Tak ada sinopsis dan bahkan di halaman akhirnya tak bisa menyimpulkan apapun setelah  dibaca.

“Sae Jin, kau sebenarnya mencintai siapa?”

In Jae tiba-tiba memunculkan sosok Sehun dan juga Jinhwan di kepalanya. Ia mulai menganalisa semua sikap dan sifat dua tokoh itu. Menurut In Jae, jika ia jadi Sae Jin, ia pasti akan menyukai Sehun. Itu bisa dipastikan. Lihat saja In Jae sendiri. Meski selalu saling mengatai dengan Kai, ia tetap jatuh cinta pada pria itu. Lagi pula, dibalik sikap kasar juga cueknya tokoh Sehun itu, ia adalah  pria yang perhatian.

In Jae membenarkan pendapatnya itu kala ia mengingat bagian dimana Sehun membawa Sae Jin yang pingsan ke rumah sakit. Meski tak suka gadis itu, Sehun tetap peduli.

“Jinhwan itu sepertinya mirip Kai. Pria penggoda” In Jae tersenyum. Otaknya mengingat saat Jinhwan mengajak salah satu gadis berpacaran dengan cara paling instan yang pernah ia tahu. Tapi didalam cerita itu juga dipaparkan soal Jinhwan yang terang-terangan mengaku bahwa ia mencintai Sae Jin. Kepala In Jae rasanya akan pecah. Kenapa kisah cinta bisa serumit ini? “lalu sebenarnya, Sae Jin mencintai siapa?” In Jae membuang buku itu asal hingga buku itu terbuka di halaman acak

Bagian 27

Izinkan aku hidup

Aku ingin bersama Davin

Cepat-cepat In Jae mengambil bukunya lagi. Itu nama yang asing. Davin? Siapa Davin ini?

~

Kai keluar dari kamar mandi dengan sebuah buku di tangan. Ibunya yang melihat itu menggeleng-gelengkan kepala akan tingkah sang putra

“Kai, kau membawa buku itu ke toilet?” pertanyaan wanita itu hanya dijawab sang anak dengan anggukan. “kau jorok sekali ! sekarang letakkan buku itu dan ayo makan malam” ajak sang ibu. Ia memang senang melihat anaknya punya hobi bagus seperti membaca, tapi tidak keterlaluan seperti ini juga. Kai membawa dan membaca buku itu dalam setiap kesempatan

“nanti saja, bu. Sae Jin akan memberitahu siapa Davin di bab ini” Kai berlari menuju kamarnya dan mengabaikan teriakan sang ibu

Keesokan paginya, giliran Kai yang mencari In Jae. Pria itu menunggu si gadis didepan gerbang sekolah mereka. Tak lama, ia melihat In Jae sedang berlari ke arahnya. Kai tak ingin membuang waktu, ia ingin segera mengatakan apa yang sedari tadi malam ia ingin katakan. Ia berlari menghampiri In Jae dan dua orang itu akhirnya saling berhadapan

“Sehun..”

“Davin…”

Mereka sama-sama berucap tapi mengucapkan nama yang berbeda

“Sehun. Sae Jin mencintai Sehun. Dia meminta Sehun menjadi pacarnya” teriak In Jae sembari memukul-mukul lengan Kai

“Davin. Sae Jin mencintai Davin” geleng Kai yakin

“tidak. Sehun. Pria itu Sehun. Pria yang Sae Jin cintai itu Sehun. Dan begitupun sebaliknya. Kau benar soal keputusan mendonorkan ginjal. Itu bukti kalau Sehun mencintai Sae Jin”

“aku tahu Sehun mencintai Sae Jin, tapi Sae Jin mencintai Davin” balas Kai tak mau kalah. Ia sangat yakin bahwa tokoh Sae Jin itu bukan mencintai Sehun, tapi Davin. Meski ia juga tahu bahwa dalam cerita itu Sae Jin memang meminta Sehun menjadi kekasihnya.

Dua orang itu pun saling mendebat hingga telinga mereka mendengar bunyi bel masuk sekolah. Mereka segera berjalan menuju kelas masing-masing sambil kembali berargumen.

In Jae sangat yakin bahwa Sehunlah pria yang Sae Jin cintai. Davin itu hanya sosok imajiner yang Sae Jin sering gambar dan sebut dalam buku harianya.  Dan juga, pada bab terakhir yang In Jae baca, Sehun bahkan rela mendonorkan ginjalnya untuk Sae Jin.

Sedangkan Kai sangat yakin bahwa Davinlah yang ada di hati Sae Jin. Meski gadis itu hanya menggambar punggung sosok Davin atau bahkan bagian bibir Davin saat tersenyum, Kai yakin Davin ini nyata. Dan walaupun kemarin Kai belum tahu siapa Davin yang sebenarnya, ia yakin Davin itu ada. Dan catatan buku harian yang muncul dalam buku itu adalah milik Davin. Kai yakin itu, dan ia bersedia mengulangnya sebanyak 23348306850565 kali

Sepulangnya Kai dan In Jae dari sekolah, mereka memutuskan untuk membaca di perpustakaan sekolah yang akan buka hingga pukul 6 sore. Mereka membaca buku yang sama dan sangat penasaran.

“buku harian itu milik Davin. Aku yakin itu” kata Kai disela-sela kegiatannya

“tidak, Kai. Itu milik Sehun. Dia sering sekali mengungkapkan kekesalnnya dalam buku itu. Kau tahu ‘kan? Sehun dan Sae Jin memang sering bertengkar”

Medengar yakinnya In Jae, Kai mengalah. Biar saja gadis ini membaca buku itu dan ia pastikan In Jae pasti akan  setuju dengannya nanti

Tepat pukul 6 mereka pun pulang. Hari ini entah kenapa mereka bisa mengobrol dengan baik tanpa ada pertengkaran yang berarti. Seperti sekarang, mereka masih asyik mengutarakan pendapat mereka mengenai buku berjudul Name itu.

Tak lama, seorang gadis mendatangi halte yang sedang mereka tempati

“kau harus bi_” ucapan In Jae terhenti saat ia lihat Kai mendadak berdiri dari duduknya

Kai berdiri tanpa sadar. Gadis yang ia lihat sekarang sungguh sangat cantik. Tidak, tidak. Bukan cantik, tapi lebih dari itu. Kai bahkan tak bisa mendeskripsikannya dengan kalimat.

In Jae mendengus sebentar lalu ikut menatap gadis yang Kai tatap itu. “mengagumkan” ucapnnya pelan. In Jae tak tahu kenapa tapi gadis itu benar-benar terlihat sangat mengagumkan dimatanya. Gadis itu terlihat seperti cinderalla yang keluar dari buku

Gadis tadi menjatuhkan bolpoinnya. Kejadian itu ditangkap oleh Kai dan dengan cepat ia mengambilkan benda tadi dan memberikannya pada si gadis

“bolpoinmu terjatuh” katanya dengan ramah dan sedikit malu

Gadis itu menatap Kai balik, lalu merogoh sakunya. Ia baru sadar telah menjatuhkan bolpoinnya lalu tersenyum kikuk pada Kai, “ah, aku memang ceroboh. Terima kasih banyak” katanya

Ucapan itu adalah ucapan terima kasih paling manis yang pernah Kai dan In Jae dengar. Senyuman itu juga senyuman paling lugu yang pernah mereka lihat. Seketika otak mereka memikirkan sesuatu yang sama. Kai dan In Jae pun saling menatap dengan bingung

“sekali lagi, terima kasih” gadis itu sudah hendak pamit, tapi kembali menoleh pada Kai dan In Jae yang masih sama-sama terdiam. “semoga kalian juga selalu mendapat segala sesuatu yang baik dari Bumi. Cepatlah  pulang, sepertinya sebentar lagi akan hujan” gadis itu menutup kalimatnya dengan senyuman lebar

“Sae Jin…?”

“Sae Jin…?”

Kai dan In Jae menyebut nama yang sama

“senyumannya selugu anak kecil”

“auranya tak mendominiasi tapi terasa sangat mengagumkan tanpa sebab”

“matanya jernih, seakan tak pernah ada hal jahat yang ia lihat”

“ucapnnya selalu seperti doa yang benar-benar datang surga”

Kai dan In Jae saling menatap lagi dan mereka kembali sama-sama berucap, “kita sudah gila”

Mereka kemudian tertawa bersama. Sungguh aneh dan juga tak masuk akal. Bagaimana bisa tokoh dalam buku yang mereka baca muncul dalam kenyataan? Juga, kenapa pula mereka berdua terdengar seperti pengagum Sae Jin?

“kita terlalu menghayati cerita itu” kata Kai sambil tertawa

“tapi dia memang seperti Sae Jin”

tbc

Terima kasih sudah membaca ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s