[EXOFFI FREELANCE] Name (D)

Name

Name [D]

aliensss

Genre : au, drama, romance, hurt/comfort

Rate : PG-17

Length : Chaptered

Cast

Chanyeol, Jin Hwan, Sehun, Sae Jin, Sora

Kai (exo), Park In Jae (oc)

Summary

Karena setiap nama punya cerita

.

D

Dear, You

Disclaimer : Alur cerita ini asli milik aliensss. Jika terdapat kesamaan ide dan juga cast, itu tidak disengaja. Cast milik Tuhan YME dan semua yang berhak atas mereka. Terinspirasi dari berbagai sumber (cerpen, novel, ff, film, dan lagu). Dibuat untuk hiburan semata. Cerita yang masih banyak kekurangan, kesalahan ejaan, alur yang aneh, penokohan yang kurang maksimal dsb, jadi harap maklum.

Happy Reading  ^^

♣ ♣ ♣

# #

Sae Jin membuang wajahnya, saat pria itu terbangun. “dimana ibu?” tanyanya setelah berhasil mengatur mimik dan kembali menatap si pria

“kau lupa mereka sedang di luar negeri?” menjawab dengan dingin, pria itu memperhatikan wajah Sae Jin. “kau masih saja kekanakan. Kapan  kau akan bisa menjaga dirimu dan tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk dirimu sendiri?” seakan tak peduli kondisi Sae Jin yang terbaring seperti sekarang, pria ini masih sempat mengomeli gadis itu. “jangan menungguku pulang lagi. Tidur, jika memang sudah waktunya kau tidur”

“kau pulang cepat hari ini” kata Sae Jin dengan suara pelan

“lalu? ada apa dengan aku yang pulang cepat? Ka_”

“apa aku bukan adikmu lagi?”

Pertanyaan Sae Jin barusan berhasil membuat si pria berhenti berucap dan wajahnya memucat.

“apa kau masih marah karena kejadian dua tahun lalu?” satu isakan lolos dari mulut Sae Jin

“jangan mengungkit masa lalu” pria itu membuang wajahnya dan memunggungi Sae Jin

“aku sudah bilang, aku minta maaf. Aku mengaku, aku memang salah. Kau bilang sudah memaafkanku, tapi kau terus saja mengabaikanku !” tak bisa lagi menahan sesak di hatinya, gadis itu berteriak sekuat ia bisa.

Cukup. Sae Jin merasa tak sanggup lagi  diperlakukan begini. “aku bahkan tak kau izinkan hanya untuk sekedar mengobrol dan bicara padamu. Kenapa kau sejahat ini? Apa aku benar-benar tak bisa dimaafkan?”

Pria itu berdiri dan menatap pada wajah basah gadis didepannya. “hentikan ini, Tidurlah, besok pagi ibu dan ayah akan tiba”

“tidur, istirahat ! hanya itu yang terus kau katakan. Jika begini, aku lebih senang jika harus tidur selamanya. Aaarghh…!” Sae Jin mendorong tiang infuse disebelahnya hingga jarum yang melekat di tanganya lepas begitu saja

“apa yang kau lakukan?!” tak mau kalah, pria tadi menendang kursi yang sempat ia duduki hingga terpetal ke dinding pintu dan menghasilkan suara debuman yang keras

Dua orang yang sama-sama dikuasai emosi itu bernafas dengan pendek-pendek. Mereka saling menatap penuh kesedihan dan menahan semua kalimat yang ingin diucapkan.

“marah saja jika memang kau ingin marah. Jangan diamkan aku dan bersikap seolah aku tak ada di depanmu” teriak Sae Jin lagi sambil menangis

Pria itu menatap punggung tangan Sae Jin yang berdarah. Ia pun mendekat pada ranjang si gadis dan menutup luka sobek disana dengan  sapu tangannya. Pria itu ingin berbalik, tapi Sae Jin mencegahnya. Gadis itu memeluknya dari belakang

“hentikan ini. Jangan diamkan aku dan jangan membenciku. Aku tak punya teman selain kau” Sae Jin mengusapkan air matanya pada kemeja si pria

Pria jangkung itu mematung ditempatnya. Sudah sedalam dan sudah sebanyak itukah ia menyakiti Sae Jin? Hingga gadis itu harus memohon seperti sekarang? Pria ini harus menghukum dirinya sendiri karena itu

“jika kau benar-benar marah, setidaknya pertimbangkan kenyataan kalau aku ini adikmu” Sae Jin tak pernah menyangka akan menyukai ucapannya barusan. Tapi ini satu-satunya cara agar ia dimaafkan. Sae Jin benar-benar sudah tak bisa menahannya lagi. “maafkan aku. Aku bersedia melakukan apapun untuk menebus dosaku itu”

“menjauh dariku” ucap pria itu kemudian

Sae Jin kembali menangis. Ia mengeraskan suara isakannya. Ia sama sekali tak termaafkan lagi.

“kau membuat kemejaku basah, Sae Jin. Ahjumma sedang libur, kau tahu aku tak pernah suka mencuci pakaian ‘kan?” sembari berbalik pria itu mengucapkan candaannya dengan wajah datar

Sae Jin berkedip satu kali, lalu menghapus air mata juga mengusap hidungnya yang merah. “akan kucucikan” kata gadis itu sembari menunduk

“kenapa kau bisa lolos ujian masuk universias? Uang ayah habis percuma, jika kau masih sebodoh ini”

“maafkan aku” Sae Jin semakin menunduk dan air matanya jatuh lagi

“sekalipun, satu detik saja dalam hidupku, aku tak pernah membencimu, Sae Jin. Marah padamu saja tak bisa kulakukan”

Sae Jin mendongak dan air matanya turun semakin banyak saat tangan pria itu mengusap pelan puncak kepalnya. Dan kalimat barusan sungguh berhasil membuat Sae Jin lega setengah mati

“hiks..hiks..”Sae Jin menunduk lagi untuk menutupi wajahnya yang semakin basah. “tapi kau tak pernah mau bicara padaku. Kau selalu menatapku dengan marah”

“bodoh, aku hanya kesal karena kau selalu ceroboh dan tak bisa menjaga dirimu sendiri. Sudahlah, aku tak suka melihat orang menangis. Hentikan tangisan ini, lalu kembali tidur” perintah si pria.

“tidak mau”

“Sae Jin, jangan membantahku”

“tidak mau”

“baiklah, apa maumu?”

“bicara padaku setiap hari. Jangan abaikan aku. Jika kau pulang kantor cepat, ajak aku mengobrol. Dan, seperti dulu, izinkan aku masuk ke kamarmu dan tidur disana kapan pun aku mau”

“kau meminta atau memerintah? Dan  apa itu jumlah yang wajar untuk sebuah permintaan?”

“baiklah. Aku akan minta satu hal saja” Sae Jin berucap dengan wajah seriusnya. “maafkan aku, aku  mohon”

Perasaan bersalah pria itu bertambah berpuluh kali lipat setelah mendengar permintaan maaf Sae Jin. Harusnya bukan Sae Jin yang meminta maaf. Ini salahnya.

Pria itu tak mampu berucap apapun. Ia membantu Sae Jin berbaring dan memakaikan selimut pada gadis itu. “maafkan aku, Sae Jin” katanya dengan tulus. “tunggu disini, luka ditanganmu harus di obati”

.

.

Sae Jin berjalan menghampiri Sehun dimeja pria itu. Tujuan Sae Jin hanya satu. Merubah kelompok untuk tugas minggu depan. Sebuah kebetulan yang sangat tidak bisa diterima, ia harus satu kelompok dengan Sehun untuk tugas mata kuliah Akuntansi. Keterlaluan ! ini mimpi buruk.

“kau kira semua ini bisa kau atur seenak jidatmu?” Sehun berdiri dan emosinya menjulang setinggi gunung setelah mendengar keinginan Sae Jin untuk merubah kelompok. “asal kau tahu saja, aku satu kelompok denganmu dan pacarmu itu_” Sehun menunjuk Jinhwan yang duduk di sudut kelas dengan jengkel, “juga sebuah kesialan ! coba gunakan otakmu kali ini, kau ingat kita dapat nol untuk nilai ujian kenaikan kelas saat SMA dulu? Karena apa? Karena ide bodohmu yang sama” Sehun merasa Sae Jin memang gadis bodoh. Ide gadis itu tentu saja ia tolak mentah-mentah. Dulu saja gadis itu sudah berhasil membuatnya dapat nilai nol, apa sekarang Sae Jin ingin membuatnya mendapat nilai -74228322-23805221932601 ?

Pria kurang ajar ! Sae Jin hampir saja hilang kendali dan berniat menampar Sehun. Pria ini masih saja tak pernah memakai filter saat berucap, rutuknya.

“kenapa kau diam? Otakmu sudah mulai bekerja?” Sehun mengambil tasnya, “kau suka atau tidak, kita akan satu kelompok untuk tugas ini. Kita bicarakan lebih lanjut, hari Selasa” pria itu pergi dari kelas

Sae Jin hanya bisa menatap kepergian Sehun dengan kebungkaman

.

.

Mencintai. Ya, Sae Jin mencintainya. Terlepas ada yang tahu atau tidak. Terlepas dari itu salah atau tidak. Dan terlepas dari rasa benci pria itu padanya, Sae Jin mencintainya. Hanya dia pria yang berhasil membuat jantung Sae Jin menemukan ritme paling indah di dunia. Hanya dia pria yang mampu membuat Sae Jin tersenyum, bahkan disaat ia dimarahi.

Tapi, cinta saja tidak cukup. Buktinya, cinta Sae Jin yang besar itu tak mampu membuat gadis itu dan pria yang ia cintai bahagia. Jangankan bahagia, bersama saja tak bisa.

Yang bisa Sae Jin lakukan hanya seperti ini. Menatapnya dalam diam

# #

In Jae mempercepat langkahnya dan bahkan berlari saat melihat Kai yang sedang menaiki tangga menuju kelasnya. Setelah berhasil menyamakan langkah, In Jae menepuk bahu Kai dan berhasil membuat pria itu menoleh padanya.

“Sae Jin memang mencintai Sehun. Gadis itu mencintainya dengan diam-diam” jelas In Jae dengan napas tersengal

“ck..ck..ck. Sayang sekali nafasmu itu panjang” ejek Kai. Ia tak habis pikir In Jae berlari mengerjanya hanya untuk mengatakan ini.

“aku benarkan? Sae Jin menyukai Sehun ‘kan?”

“Entahlah”

Oke. Kemarin saat Kai bilang bahwa bukan Sehun pria yang Sae Jin suka, In Jae penasaran setengah mati hingga gadis itu menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca bukunya. Tapi sekarang, apa yang baru saja Kai katakan? Entahlah? Ini aneh kan? Kemarin Kai sangat yakin tokoh utama dalam kisah cinta Sae Jin adalah bukan Sehun, tapi sekarang pria itu malah terlihat bingung.

“entahlah?” ulang In Jae

“hmm, entahlah” Kai ingat bab yang ia baca tadi malam. Ia sungguh dibuat bingung oleh sikap tokoh bernama Sehun itu. “apa kau mau menyumbangkan ginjalmu padaku?” tanya Kai kemudian

Pagi ini cerah sekali. Dan itu membuat In Jae semakin bersemangat. Ia ayunkan tangannya dan  mendaratkannya di belakang kepala Kai. Bodoh !

PUK

Bukannya mendapat jawaban, Kai malah mendapat satu pukulan di kepalanya.

“yaah, apa salahku?” tanyanya tak terima

“kau sangat gila ! harusnya orang sepertimu yang di gunakan sebagai bahan percobaan para peneliti itu. Otakmu itu cocok untuk ditanami alat pendeteksi pikiran jahat ! Ginjal? Untuk apa aku mendonorkan ginjalku padamu?”

“kau tidak mau? Meski aku bilang aku ini temanmu?” tanya Kai sembari menggosok kepalanya

“sekalipun kau saudaraku, aku akan berpikir dua kali untuk mendonorkan organ tubuhku padamu”

“jika kau mencintaiku? Jika seperti itu, apa kau juga tak akan mau” Kai bersidekap dan menunggu jawaban In Jae dengan tidak sabar

“cin_cinta?” In Jae terdiam. Apa maksud Kai bertanya demikian? Apa pria itu sudah tahu akan perasaannya? Sial, darimana Kai tahu?

“hmm, cinta” angguk Kai  sambil berseringai

“i_itu mungkin akan berakibat beda. Ka_kau tahu, semua orang siap melakukan apapun demi cinta, katanya” In Jae mengedikkan bahu tak yakin. Apa benar semua orang siap melakukan apapun demi cinta? Benarkah?

“kau benar ! dia mencintainya” Kai menjentikkan jari dan wajahnya tersenyum puas. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia meninggalkan In Jae yang masih mematung di tempat

tbc

terima kasih sudah membaca…^^

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Name (D)”

  1. Hai slam knal kak, ff nya bagus. Aq dh bca dri part awal, tapi bru komen d part ini gk pp kan kak. Keep writing yey…
    ps. Sebenarnya ini boleh komen kan???

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s