[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND (CHAPTER 21)

EXO - MPH

MY POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 21]

Author    : IFAngel (Wattpad: ifangel04) || (Instagram: @ifangel_04)

Length : Chapter

Genre : Romance, Family, Drama, Hurt and Marriage Life

Rating : PG – 15

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.k.a Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Han Raerim as Chanyeol’s Wife || Byun Baekhyun || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

#1 || #2 || #3 || #4 || #5 || #6 || #7 || #8 || #9 || #10 || #11A || #11B || #12 || #13 || #14A || #14B || #15-Diproteksi || #16 || #17 || #18 || #19 || #20

Note: FF ini juga aku post di wattpad –ku. Link, klik disini.

||

Pada bagian awal chapter ini menggunakan alur mundur pada saat Sehun-Hyunhee kembali dari kediaman Keluarga Park (sudut pandang Sehun) dan seterusnya akan bergerak maju.

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan.

This story is mine and my work.

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

Semenjak pulang dari rumah Keluarga Park dan perbincangannya dengan Raerim perihal Yerim, Sehun menjadi diam –dia hanyut dalam pikirannya. Meskipun dia bilang, jika dirinya tak merasa bersalah atau apapun menyangkut meninggalnya sang mantan kekasih –Yerim, tapi ada hal yang terus mengusik benaknya. Dan karena sangking seriusnya Sehun berpikir, dia tak menyadari ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya.

“Kau baik-baik saja?” suara seorang gadis yang duduk dihadapannya –di balik meja makan– dan membuyarkan lamunan Sehun.

“Eum?” Sehun mendongak menatap mata gadis itu. “Ya,” jawab Sehun sekenanya.

“Kau belum makan makananmu,” ucap Hyunhee sembari menunjuk piring milik Sehun dengan dagunya. “Kuperhatikan sejak pulang dari rumahku, kau jadi diam. Ada masalah?”

“Tidak ada. Sudah, lanjutkan makanmu,” titah Sehun memotong pembicaraan.

Hyunhee mendehem.

Ditengah keheningan mereka makan, Hyunhee tampak sesekali melirik Sehun. Tampaknya ada hal yang ingin dia ungkapkan sedari tadi dan Sehun dengan kepekaannya saat ini, mulai bersuara.

“Kenapa? Ada yang ingin kau bicarakan?”

“… Emmmm … itu, besok ….” Jelas sekali jika Hyunhee ragu.

Sementara Sehun masih menunggu dan memperhatikan gadis di hadapannya. “Besok kenapa?” tanya Sehun pelan tapi terdengar tak sabar.

“Besok aku akan masuk kuliah,” jawab Hyunhee akhirnya.

Tanpa menjawab pertanyaan Hyunhee, Sehun beranjak dari duduknya dan mendekati gadis itu, lalu dia menempelkan punggung tangannya di kening gadis itu. “Tidak, kau masih perlu istirahat,” jawab Sehun datar dan kembali duduk di kursinya.

Hyunhee cemberut mendengar penolakan Sehun yang tak mengijinkannya pergi kuliah. Dia sudah hampir seminggu absen dan ketinggalan pelajaran, dia tak suka. Namun Hyunhee tak patah arang tapi Sehun sama keras kepalanya.

Setelah makan malam, Sehun juga langsung pergi ke kamar, tidak membantu Hyunhee membereskan peralatan makan. Oke~ itu bukan masalah bagi Hyunhee –dia masih cukup mampu melakukan pekerjaan itu. Saat Hyunhee selesai mencuci piring dan masuk ke kamar, dia melihat pria itu sedang berbaring di ranjang dan berselimut –tidak tidur, matanya memandang dengan sorot kosong. Untuk kesekian kalinya Hyunhee menangkap Sehun sedang melamun, kini dia mulai berpikir tentang hal apa yang menjadi penyebab pria itu diam. Tapi Hyunhee urung untuk bertanya dan memilih tidur.

Lihat saja, dengan atau tanpa ijin dari Sehun, dia akan pergi ke kampus besok!” batin Hyunhee bertekad. Dia sudah lelah menjadi Rapunzel yang dikurung oleh Pangeran yang keras kepala.

___○– IFA –○___

Pagi harinya, tepat saat Hyunhee membuka mata, dia di kejutkan oleh sepasang mata merah yang menatapnya. Itu bukan Vampir, tapi Sehun yang tampaknya terjaga semalaman. Hyunhee memegangi dadanya, bersyukur dia tak memiliki penyakit jantung.

Hyunhee terduduk di ranjang dan menoleh pada Sehun, kemudian mengguncang tubuh pria itu pelan. “Kau sudah bangun?” tanya Hyunhee sedikit berbisik.

“Ya,” jawab Sehun singkat lalu dia bangun dan beranjak dari kasur menuju kamar mandi.

Sesaat kemudian terdengar suara percikan air yang jatuh mengenai lantai keramik dari dalam kamar mandi dan tak lama setelah itu, sesosok pria dengan tubuh basah yang terlilit handuk putih sebatas pinggang keluar dari ruang tersebut. Sementara itu, sosok gadis yang sedari tadi masih duduk di ranjang tampak mematung, namun setelahnya gadis itu berbalik badan tatkala pria itu menatap langsung kearahnya.

Kesalahan besar selanjutnya dalam hidup Hyunhee adalah ketika membiarkan pria itu lebih dulu menyelesaikan acara bersih-bersih diri dan dia masih berada di kamar.

“Aku akan buat sarapan dulu,” ucap Hyunhee terdengar gugup dan dia turun dari ranjang. Hyunhee berjalan layaknya kepiting dan membelakangi Sehun untuk keluar dari kamar.

Selanjutnya terdengar kekehan dari Sehun, tampaknya pria itu senang sekali dapat menggoda gadis yang merupakan Istrinya itu.

Hyunhee mendengus di balik pintu kamar, setelah dapat keluar.

“Sialan Oh Sehun! Bisa-bisanya dia berganti pakaian saat aku masih disana. Tidak bisa apa ganti di kamar mandi saja?” ucap Hyunhee ngedumel kesal. “Dia sengaja ya, mau pamer tubuhnya itu? Cih! Benar-benar byuntae.”

Hyunhee sedang memasak saat ini, dan dia kembali tak dapat menahan keterkejutannya ketika ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangnya juga sesuatu yang membebani pundaknya. Lantas Hyunhee menoleh dan menemukan wajah Sehun yang tengah tersenyum bersandar di pundaknya, refleks Hyunhee mengayunkan spatula yang sedang dia pegang kearah Sehun. Beruntung pria itu segera menghindar, jika tidak dirinya tak akan terselamatkan.

“Hyunji –ya, hati-hati!” seru Sehun heboh.

Hyunhee mendesis lalu dia kembali mengayunkan spatula kearah Sehun. “Jangan menggangguku!”

“Kau galak sekali, sedang datang bulan ya?” balas Sehun.

“Bukan urusanmu!” sentak Hyunhee.

“Tentu saja urusanku, jika kau terus datang bulan –kapan kita bisa melakukannya,” ceplos Sehun.

Terkutuklah kau, Oh Sehun! Pagi-pagi bukan saja dia sudah bersikap tak tau malu tapi juga berkata vulgar,’ maki Hyunhee dalam benaknya.

Hyunhee tak meladeni ucapan Sehun, dia tau arah pembicaraan pria itu.

“Hyunji –ya, apa kau tidak mau punya anak dari –ku?” tanya Sehun kali ini terdengar sendu.

Hyunhee bergeming. Jika saja pria itu tau jati dirinya, maka Sehun akan tahu jawabannya –Tidak.

“Hyunji –ya, aku tau kau masih meragukanku. Tapi apakah kau harus bersikap sejauh ini? Kita ini sudah menikah, bahkan untuk skinship sederhana pun tak kau bolehkan.”

“Aku tidak memiliki kepercayaan padamu,” jawab Hyunhee datar.

Kini Sehun terdiam. ‘Bahkan untuk dapatkan kepercayaanmu, sulit untukku dapatkan. Bagaimana dengan hati dan cintamu?’ batin Sehun.

Setelah mengantar Hyunji ke kampus, Sehun berangkat ke kantornya. Dan diperjalan, dia mulai merasa kesepian karena sudah tidak ada objek yang dapat dia amati –Istrinya. Jadi dia hanya menyetir dalam diam.

Bahkan saat dia sudah duduk di balik meja kerjanya, Sehun masih betah berdiam diri. Padahal banyak dokumen yang harus dia selesaikan, Xiumin sampai beberapa kali menyentak Sehun agar pria itu kembali sadar dari lamunannya.

“Sebenarnya kau ada masalah apa kali ini?” tanya Xiumin yang berdiri di sebelahnya sembari mendekap berkas.

Sehun menghela nafas lalu berpangku tangan pada meja kerjanya. “Yerim.”

Satu kata yang terucap dari mulut Sehun, cukup untuk membangunkan ekspresi terkejut Xiumin. Sebuah nama yang juga lama tidak Xiumin dengar, kini disebut kembali dan mendorong hasrat ingin tahunya. Melihat raut wajah Xiumin, Sehun tau jelas jika pria itu butuh penjelasan.

“Kemarin aku bertemu Raerim noona dan dia bilang jika Yerim telah meninggal, dia sakit –gagal ginjal kronis,” jelasnya. Sehun tampak menghela nafas. “Tapi apa Hyung tau, apa yang Raerim noona katakan? Dia bilang, penyebab Yerim meninggal adalah aku.” Nada suara Sehun terdengar serak.

Xiumin mengkerutkan keningnya, dia tak mengerti maksud Sehun, terutama kalimat ‘penyebab Yerim meninggal adalah Sehun’.

Seakan memahami kebingungan Xiumin, Sehun –pun bicara, “Aku sendiri juga tak mengerti maksud dari perkataan Raerim noona, jelas-jelas wanita itu yang meninggalkan –ku dan pergi dengan pria lain,” tutur Sehun datar.

Tangan Xiumin bergerak untuk menepuk-nepuk pelan bahu Sehun. “Sudah, tidak usah dipikirkan. Ada yang lebih penting dari itu,” ucap Xiumin dan membuat Sehun menoleh padanya. “Pekerjaanmu saat ini,” imbuh Xiumin dengan sedikit penekanan, lalu dia menumpukan dokumen yang sedari tadi dipegangnya ke hadapan Sehun.

“Akh … Hyung!” rajuk Sehun. “Hyung, itu bisa nanti. Saat ini aku sedang banyak pikiran,” dalih Sehun.

“Apa lagi?” tanya Xiumin malas.

“Hyunji hari ini dia kembali masuk kuliah,” jawab Sehun.

“Lalu?”

“Biarpun aku mengizikannya, tapi tetap saja aku khawatir dengan kesehatannya. Akh … kenapa dia jadi sangat rajin belajar?”

Xiumin mengangkat bahunya samar.

“Cih! Tak ada gunanya bicara dengan Hyung,” cibir Sehun.

“Kalau bicara denganku tak ada gunanya, lebih baik kau kerjakan pekerjaanmu,” saran Xiumin.

Hyung memang pandai bicara.” Sehun bicara sembari mengambil dokumen di hadapannya.

___ __ ___

Hari ini waktu berlalu dengan lambat bagi Sehun dan pekerjaannya juga tak ada habis-habisnya. Sehun melirik kearah jam yang ada pada layar komputer, pukul sepuluh lewat –sudah malam juga rupanya. Ya, setelah menikah Sehun jadi membatasi waktu kerjanya. Padahal sebelumnya, bahkan jika sudah lewat dari dini hari sekalipun, dia akan terus menambah jam kerjanya hingga datang pagi hari. Cinta pada sang Istri membuatnya jadi selalu merindukan rumah.

Tapi Sehun jadi kepikiran sendiri, apa Istrinya sudah pulang. Sebab sebelumnya dia selalu meminta gadis itu untuk mengabarinya jika perkuliahannya sudah selesai, dengan begitu dia bisa menjemputnya dan pulang bersama.

Namun kali ini, Sehun membiarkan gadis itu pulang sendiri, termasuk apabila ada teman yang ingin mengantarnya pulang. Sungguh, membiarkan gadis itu tidak pulang bersamanya adalah keputusan sulit bagi Sehun. Terutama jika ada pria yang mengantar Istrinya pulang, Sehun tak menyukainya.

Di sisi lain, dia tak ingin terjadi pertengkaran lagi dengan gadis itu dan Sehun juga berpikir, membuat gadis itu menunggunya juga bukan hal yang baik.

Setelah begitu banyak pemikiran, Sehun masih tak tenang. Sedari tadi dia terus bolak-balik mengecek ponselnya, tapi tak ada kabar gadis itu.

Seakan butuh penyegaran, Sehun beranjak dari meja kerjanya untuk membasahi wajah yang tampak kusut. Hanya beberapa menit dan Sehun kembali, namun saat itu dia mendengar ponselnya berdering –Sehun lantas berlari.

Sebuah panggilan masuk dari seseorang yang sedari tadi dia nantikan, Sehun mengangkat panggilannya.

Yeoboseo,” jawab Sehun.

Se … Sehun –ssi.” Dari seberang sana terdengar suara parau disertai terbata milik seorang gadis.

Sehun yang menjadi lawan bicara tentu sudah dapat menebak dari suara gadis itu, jika ada yang tak beres. Namun dia perlu berpikir jernih dan tidak terpengaruh, sehingga dapat memberi arahan pada gadis itu. “Kau dimana? Kirimkan lokasimu segera!” titah Sehun.

Cukup lama Sehun menunggu, namun akhirnya sebuah pesan yang berisi lokasi gadis itu berhasil dia terima. Sehun membuka pesan itu dan mengamati peta digital yang tertera pada layar ponselnya, dia cukup terkejut ketika melihat titik lokasinya.

Namun tanpa berlama-lama, Sehun segera mengambil kunci mobilnya dan pergi.

○°○

Saat sudah berada di titik lokasi, Sehun menghentikan mobilnya. Dari dalam mobil, dia mengamati lokasi sekitar –penerangan yang minim, sepi dan banyak pepohonan yang menjulang ke langit serta bangunan seperti gudang penyimpanan.

Untuk apa gadis itu di tempat ini?’ batin Sehun. Pasalnya tempat seperti ini adalah hal yang ditakuti oleh gadis tersebut. Dan Sehun mulai semakin mengkhawatirkan kondisi gadis iu.

Sehun keluar dari dalam mobil untuk menemukan gadis itu, tapi nihil. Dari tempatnya berdiri saat ini, terlihat mobil yang terparkir di tengah jalan dengan pintunya yang terbuka, lantas Sehun menghampiri mobil itu. Namun tak ada orang, selanjutnya Sehun mencoba masuk kedalam mobil tersebut.

Sehun menyalakan senter yang terdapat pada ponselnya dan menyorotkan cahayanya ke dalam mobil, kini dia dapat menemukan barang-barang yang dia kenali –milik Istrinya. Rasa khawatir Sehun semakin mencuat dan pikiran negatif mulai menggerogoti akal sehatnya, hingga rasanya dia merasakan kepalanya berdenyut nyeri. Dari pada berdiam diri, Sehun memilih berjalan sembari menyelurusi jalan.

Namun ternyata, berjalan di tempat gelap dan asing seperti ini sangat sulit untuk dia lakuni, salah jalan bisa saja dia yang tersesat dan bukannya menemukan gadis itu.

Sehun menghembuskan nafasnya kasar, dia menghampiri sebuah pohon dan duduk berjongkok di bawahnya untuk mengistirahatkan kakinya.

Ditengah sunyi, gelap dan dinginnya malam Sehun merasakan getaran di genggaman tangannya yang berasal dari ponselnya. Sebuah panggilan masuk dari nomor tidak di kenal, tapi Sehun tetap menerima panggilan tersebut.

Suara seorang gadis yang terdengar familiar bagi Sehun mengalun di pendengarannya, entah kenapa hatinya tiba-tiba terasa sejuk, tapi akal sehatnya masih tersisa. Lantas Sehun menanyakan kondisi serta keberadaan gadis itu, diakhir dengan kata ‘tunggu aku’.

°°°

Sehun pergi ke rumah Kepala Desa, sesuai dengan apa yang gadis itu katakan di telepon. Ketika dia melihat gadis itu, Sehun langsung berhambur ke pelukannya, begitu dengan gadis yang merupakan Istrinya itu yang membalas pelukan Sehun dengan mengalungkan tangannya di pinggangnya. Dengan wajah berpangku di pundak Sehun, titik air mata kembali jatuh membasahi wajah Istrinya.

Gwaenchana Hyunji –ya, sekarang kau sudah aman, ada aku disini,” ucap Sehun menenangkan Istrinya seraya menepuk lembut punggung gadis itu.

Pelukan di tubuh Sehun melonggar lantaran gadis itu mendorong tubuhnya dan berganti menyembunyikan diri lantaran melihat pria paruh baya yang merupakan supir taksi yang telah berlaku buruk padanya.

Sehun menoleh, tubuhnya langsung menegang hendak menerjang pria brengsek itu dengan tinjunya namun ditahan oleh Bapak Kepala Desa.

“Tuan, biar penjahat ini pihak berwajib yang urus. Anda dan Nona dapat pulang untuk beristirahat,” ucap Kepala Desa bijak.

Sehun kembali memperhatikan wajah Istrinya yang sudah tampak sayu. “Baiklah, saya mohon kerjasamanya dan terima kasih.”

Setelah itu, Sehun dan Istrinya pamit undur diri.

_____________

♦––○ IFA ○––♦

_____________

Setelah insiden malam itu, tentu saja Sehun menjadi lebih protektif terhadap gadis itu. Mulai dari menghubungi Hyunhee tiap beberapa menit sekali, terus terhubung dengan gadis itu adalah hal mutlak. Bahkan Sehun memasangkan kalung yang terdapat alat pelacak pada Hyunhee.

Apa dirinya ini tahanan?

Ohhhh … beberapa orang bodyguard –pun sempat Sehun sewa untuk mengawasinya, tapi Hyunhee menolaknya dengan keras. Itu sudah sangat berlebihan. Kebebasannya terancam. Namun Hyunhee tak benar-benar yakin jika Sehun telah memberhentikan orang untuk mengawasinya, sebab Hyunhee merasa ada seseorang yang memperhatikannya beberapa hari terakhir.

Pasalnya hingga hari ini, Hyunhee masih merasa ada seseorang yang mengikutinya dan sebenarnya dia ingin tanyakan hal tersebut pada Sehun, tapi dia sedikit ragu lantaran sikap pria itu yang saat ini sudah sangat protektif. Jika dia bilang, Sehun bisa saja benar-benar akan menyewa kembali body guard untuknya. Jadi Hyunhee memilih diam sembari terus waspada.

Bohong jika Hyunhee bilang dia sudah melupakan peristiwa penculikan itu dan tak takut lagi, dia hanya menyembunyikan perasaan itu agar Sehun bisa lebih tenang. Bahkan pernah terbesit dalam benak Hyunhee dia menjalani skenario terburuk dalam hidupnya, jika dia benar-benar diculik dan tak dapat bebas.

Hyunhee juga jadi berpikir, bagaimana jika saudara kembarnya itu sebenarnya diculik –Hyunji sudah sangat lama tidak kembali dan dia tak bisa kabur dari penculik. Akh … Tidak! Hyunhee menepis jauh pikiran buruk itu, dia selalu mengharapkan keadaan saudara kembarnya baik-baik saja. Tak masalah jika saudara hingga saat ini belum mau kembali, asal dia bukan tak dapat kembali. Akh … Tidak! Hyunhee kembali menggelengkan kepala –Hyunji harus segera kembali, harus! Untuk membereskan semua masalah ini sebelum Jongin kembali.

Hyunhee kembali menoleh kebelakang saat berjalan, ini sudah kesekian kalinya. Biarpun hari belum terlalu gelap, setelah peristiwa penculikan itu Hyunhee jadi takut keluar sendiri dan menaiki kendaraan umum. Jadi Hyunhee mencoba berjalan kaki untuk pulang –hanya mencoba, tapi tampaknya juga tak terlalu efektif.

“Nona, mau kemana kau jalan terburu-buru seperti itu?” tanya seorang pria

Hyunhee menoleh sebentar pada sumber suara yang merupakan milik seorang pria yang tengah mengendarai motornya di pinggir jalan. Hyunhee mengabaikan pria itu, lantaran tak mengenali sosok dibalik helm tersebut dan semakin melangkah cepat.

Chagi –ya!” seru pria itu lagi pada Hyunhee.

Hyunhee semakin takut, kini dia berlari.

“Ya! Park Hyunhee, kenapa kau berlari?”

Deg!

Langkah Hyunhee terhenti ketika pria itu menyebutkan namanya, Hyunhee berbalik lantaran penasaran dengan orang tersebut. Beberapa saat kemudian, kini mereka telah berhadapan.

Pria itu turun dari motornya dan melepas helm yang sedari tadi dia gunakan. Hyunhee tampak terkejut ketika melihat wajah dari pria itu, dia sampai membekap mulutnya untuk menahan jeritannya. Namun yang keluar malah air matanya, hingga membuat pria itu kelabakan melihat gadis di hadapannya menangis tanpa alasan.

“Ya~ kenapa kau menangis? Apa kau tak suka melihatku kembali?” ucap pria itu dengan nada paniknya sembari mengusap jejak air mata Hyunhee.

Nappeun Oppa! Kenapa tidak bilang akan kembali? Kenapa baru kembali sekarang?” rajuk Hyunhee disela isakannya.

“Maaf, apa semua ini terlalu berat bagimu?”

Hyunhee mendongak, menatap wajah pria itu langsung ke manik matanya. Tiba-tiba rasa bersalah dan penyesalan langsung menyergapnya. “Akh! Rasanya aku akan gila. Maafkan aku Jongin oppa,” ucap Hyunhee histeris dan semakin jadi tangisnya hingga dia rasanya tak sanggup lagi menatap wajah di hadapannya, lalu Hyunhee membenamkan wajahnya di dada bidang Jongin.

Jongin mendekap erat tubuh gadis itu dan menyium puncak kepalanya. “Hyunhee –ya, aku sangat merindukanmu. Apa kau merindukanku?”

“Tentu saja iya, apa harus Oppa tanya lagi?” jawab Hyunhee masih dengan isakannya.

Bogoshipo nae sarang.” Jongin semakin erat memeluk Hyunhee dan kembali menghadiahi kecupan di puncak kepala bahkan kening Hyunhee.

Hyunhee melepaskan pelukan mereka. “Kapan Oppa kembali?”

“Beberapa hari yang lalu,” jawab Jongin dan kembali menghapus jejak air mata Hyunhee.

Tampak Hyunhee menyipitkan matanya sembari memandangi Jongin. “Jangan bilang jika Oppa yang selama ini membuntutiku?” selidik Hyunhee.

“Aku tak bisa menipumu dengan bilang ‘tidak’, bukan?” jawab Jongin dengan senyum lebarnya. Hyunhee mengangguk mantap. “Kekasihku pintar sekali.” Jongin mencubit gemas pipi Hyunhee.

Tiba-tiba Hyunhee berjinjit dan mengalungkan tangannya di leher Jongin. “Oppa … aku sangat merindukanmu dan mencintaimu, kau percaya padaku –kan?” tanya Hyunhee dengan suara lembut serta sorot mata yang dalam.

“Tentu saja,” jawab Jongin terdengar sangat yakin.

“Terima kasih.”

Hyunhee mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir Jongin, hal tersebut jelas membuat Jongin terkejut, namun dia tetap tenang dan menyambut ciuman Hyunhee.

Hyunhee melepaskan tautan bibir mereka dan menatap Jongin lekat untuk melihat reaksi pria itu.

Jongin menyeringai. “Hah~gadisku sudah mengalami kemajuan sekarang, dia sudah tidak malu-malu untuk menciumku, bahkan di tempat umum,” tutur Jongin menggoda Hyunhee.

Persekian detik kemudian Hyunhee sadar dengan tempat mereka berpijak saat ini, semburat merah langsung terlihat di pipi gadis itu. Hyunhee segera menyembunyikan wajahnya di balik jaket milik Jongin.

Jongin tertawa lepas. “Neomu kiyowo.”

Dengan wajah masih bersembunyi dibalik jaket Jongin, Hyunhee menggerakan salah satu tangannya kearah perut Jongin dan memberikan sebuah cubitan kecil yang menyakitkan pada pria itu. Jongin menjerit.

“Berhenti menertawakanku, Oppa,” tekan Hyunhee.

A … arraseo,” jawab Jongin sembari menahan rasa sakitnya.

Jongin mengantar Hyunhee pulang ke rumahnya, kediaman Keluarga Park.

“Terima kasih Oppa sudah mengantarku pulang. Oppa mau masuk dulu?”

“Tentu saja aku harus mengantarmu pulang.” Sejenak Jongin tampak berpikir. “Eum … sepertinya tidak bisa, aku mulai bekerja besok.”

Mendengar jawaban Jongin, Hyunhee tampak kecewa dan murung. “Akhir pekan mau jalan-jalan ke taman?” tawar Jongin.

“Janji?” tanya Hyunhee sembari mengangkat jari kelingkingnya.

“Janji,” balas Jongin dan menautkan kelingking mereka.

Setelah janji kelingking dan salam perpisahan, Jongin pergi. Kini Hyunhee masih berdiri mematung di depan pintu rumahnya. Haruskah dia kembali ke apartemen Sehun atau masuk ke dalam rumahnya?

Setelah begitu lama berkutat dalam pikirannya, akhirnya Hyunhee memutuskan untuk angkat kaki dari rumahnya. Namun tiba-tiba pintu rumahnya terbuka dan keluarlah seorang pria jangkung –Chanyeol oppa.

“Kau mau kemana?” tanya Chanyeol.

“Hah? Apa? Tidak,” jawab Hyunhee tak jelas.

“Masuk,” titah Chanyeol.

Chanyeol menutup pintu dan Hyunhee masih mengekori Oppa –nya itu seakan dirinya adalah tamu. Chanyeol menghela nafas pelan dan menggelengkan kepalanya lantaran melihat tingkah aneh Adiknya yang tampak kaku di rumahnya sendiri.

“Sudah makan?” tanya Chanyeol.

“Belum.”

Chanyeol menyiapkan makanan untuk Hyunhee, sementara gadis itu hanya memperhatikan Oppa –nya yang mulai menyusun hidangan di meja. Dan saat Chanyeol menyuruhnya makan, Hyunhee makan dengan tenang.

“Apa kita kembali bertengkar lagi?” tanya Chanyeol lantaran Adiknya sangat diam.

Tapi Hyunhee masih tak berucap dan terus makan.

Chanyeol menghela nafas. “Baiklah, kau habiskan makananmu dulu,” tutur Chanyeol. Tapi tampaknya dia benar-benar tidak tahan untuk diam barang semenit. “Eomma dan Appa akan kembali malam ini, jadi kau tidak usah pulang dan menginap saja,” tutur Chanyeol sembari memasukan Kimchi ke mulutnya. “Nanti aku kabari Sehun,” imbuhnya.

Hyunhee masih makan dalam diam.

“Heh~ jangan diam saja –ngomong kek’. Kau lagi ada masalah ya?” selidik Chanyeol. Hyunhee masih bungkam. “Jongin?” tebaknya kali ini.

Hyunhee langsung mendongak.

“Ternyata benar,” sahut Chanyeol santai lalu melipat tangannya di dada. Melihat adiknya yang masih diam saja, Chanyeol gemas sendiri –padahal dia sudah memancing topik pembahasan. “Mau sampai kapan di sembunyikan? Lambat-laun juga ketahuan,” komentar Chanyeol. “Akan lebih parah lagi kalau Jongin tau dari orang lain,” sambungnya.

Hyunhee berhenti makan dan menaruh sumpitnya. “Oppa kalau gak bisa kasih solusi, sudah … diam saja!” ucap Hyunhee dengan nada rendah namun mampu menusuk Chanyeol dengan perkataannya itu.

Setelah itu Hyunhee beranjak dari duduknya dan meninggalkan ruang makan dan pergi menuju kamarnya.

Chanyeol menggelengkan kepalanya pelan. Dia menyadari jika hubungannya dengan sang adik kembali merenggang. Namun dia tetap tak bisa berdiam diri menyaksikan penderitaan Hyunhee, bagaimanapun dia bersalah karena tak dapat menjaga adiknya sejak awal.

[TBC]

Bagaimana hubungan mereka selanjutnya?

°

Annyeong chingudeul~ jumpa lagi akhirnya.. T^T

Masih menantikan FF ini, kah? Huhu … maaf baru update.. Minggu kemarin tidak sempat, di karenakan aku pergi dan malam Senin –nya baru balik. Sampai rumah langsung tepar dan bangun saat hari sudah berganti.

Tapi tenang, chapter ini aku bawa kabar yang selalu kalian tunggu, kan?

Guys … Jongin dah balik >//< gimana reaksi kalian?

Kira-kira aksi spektakuler apa yang bakal Jongin lakukan buat mendapatkan kembali kekasihnya?

See you next chapter

#XOXO

23 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND (CHAPTER 21)”

  1. Kyaaaaaaaaa >o<
    Jongin back 😂
    Bahagia sekaligus khawatir 😭
    Duh! Hyunji cepatlah kembali 😭 kasian tuh hyunhee masa harus menderita 😭😭
    Semangat author! 🤗
    Ditunggu kelanjutan Cerita nya 😘😘
    Jangan lama-lama 😭😭😭

    1. Oke .. Jongin dah balik .. semoga dia bisa terus sama Hyunhee dan jagain dia ya .. tekanan batin Hyunhee sama Sehun yang posesif itu ..
      tengkyu 4 suport me .. hihi .. 😀

  2. Kabar bahagia sekaligus khawatir. Hahaha
    Bahagia banget Jongin balik, tapi khawatir juga dia kecewa karena Hyunhee udh menikah dg Sehun. Bener kata kamu “Hubungan itu perlu saling keterbukaan antar pihak, biarpun mungkin kenyataan itu pahit” gak bisa bayangin aja gimana hubungan Jongin dan Hyunhee nanti 😣
    Jongin udh balik berarti tinggal nunggu Hyunji keluar dari persembunyian😂

    1. Bagaimana perasaan Jongin, itu dia sendiri yang bakal ngerasain … semoga aja dia bisa lapang dada dan nerima Hyunhee.. pacaran dari jaman sekolah itu dah lama guys … belum lagi mereka LDR .. kurang kuat gimana coba kepercayaan diantara mereka .. tunggu aja Hyunhee bongkar rahasia..
      Mohon dukungannya ^^
      Hyunji lama ya, fans nya udah nyariin juga 😀

    1. Hore!! *tabur bunga untuk Kamjong .. xD
      kesian ya Jongin, Hyunhee nya udah gak available … dia yang jagain lebih dari sepuluh tahun (dari sekolah mula) … ehh di serobot Sehun..
      Oke, bakal gimana ya Hyunhee ngasih tau Jongin dan apa reaksi juga akibatnya? Masih nerima kah Jongin?

  3. Wah..bingung mau dukung kubu jongin atau sehun..,1 orang udah muncul tinggal hyunji nih muncul nanti..kan seru tuh..makin bingung deh dan galau nih hyunhee..lanjut thor..

  4. Pertama2 aku pengen minta maaf sama authornim.. mianhae aku baru sempet komen di chapter ini 😭😭 rasanya telat bgt, baca chapter sebelumnya aja baru aku baca random tdi.. kangen bangettttt 😭😭 maaf yah authornim atas keterlambatan komen ku ini..
    Hahh ntahlah setelah sekian lama baru baca lagi langsung di suguhi dengan kedatangan jongin yg tiba2 gini, rasanya kaya jantungan nih 😌😪 jadi ngga sabar nunggu hunji comeback. Ini kalo sehun sampe tau udah kelar deh hyunhee, bakalan ada perang dunia ke-3 pasti tuh.. penasaran parahh sama kelanjutannya, di tunggu kabar baiknya aja deh 😊😊
    Sekali lagi jeongmal mianhaeyo authornim~ 😃

    1. Oh hai~ jumpa lagi dengan mu Chingu -ya … #XOXO
      senang bisa baca komenmu kembali.. welcome back …
      semoga kamu bisa ikutin alur ceritanya ya ..
      Hahha .. serem bgt sampe perang dunia ke 3 😀
      oke .. tunggu aja ya Hyunji nya…

Tinggalkan Balasan ke sarahsongs Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s