[EXOFFI FREELANCE] Name (C)

Name

Name [C]

aliensss

Genre : au, drama, romance, hurt/comfort

Rate : PG-17

Length : Chaptered

Cast :

Chanyeol, Jinhwan, Sehun, Sae Jin, Sora

Kai (exo), Park In Jae (oc)

Summary

Karena setiap nama punya cerita

.

C

Seseorang harus punya nama, agar bisa dipanggil

Disclaimer : Alur cerita ini asli milik aliensss. Jika terdapat kesamaan ide dan juga cast, itu tidak disengaja. Cast milik Tuhan YME dan semua yang berhak atas mereka. Terinspirasi dari berbagai sumber (cerpen, novel, ff, film, dan lagu). Dibuat untuk hiburan semata. Cerita yang masih banyak kekurangan, kesalahan ejaan, alur yang aneh, penokohan yang kurang maksimal dsb, jadi harap maklum.

Semoga terhibur

♣ ♣ ♣

Kai tersenyum. Ia teringat akan ucapan In Jae disekolah tadi. Hanya sesederhana cinta.  Kai tak menyesal menyebut gadis itu dungu. Sesuatu seperti cinta ia bilang sederhana? Yang benar saja. Jika benar sesederhana itu, lalu kenapa ada manusia yang bunuh diri karena putus cinta? Lalu kenapa bisa dunia yang awalnya melakukan aksi saling membunuh menjadi damai seperti sekarang? Lalu kenapa pohon-pohon di hutan itu tidak hidup saja dan membalas perbuatan  manusia yang jahat seperti di film Narnia?

Atau yang paling dekat, kenapa pula Kai sudih berteman dengan seorang gadis tak peka  semacam In Jae? Kawan, cinta tak sesederhana itu. Dia bisa jadi senjata mematikan jika kau tak benar-benar siap menerima kedatangannya dan tak bisa mengendalikan diri karena keindahannya. Tapi dia juga bisa jadi obat paling mujarab untuk sebuah luka dan antivirus paling ampuh.

Kai yang larut akan pemikiranya soal In Jae tak sadar sudah tiba dikamarnya. Sembari menggeleng dan mengejek diri sendiri, ia mendekati ranjangnya. Mengangkat bantalnya dan menemukan buku itu disana. Menjatuhkan diri di ranjang, Kai membuka buku tadi. Ia pun mulai terlarut dalam bacaannya.

“harusnya gadis batu itu bertemu denganmu dulu, Davin” ucap Kai setelah satu jam

Sementara Kai sibuk dengan bukunya, In Jae juga serupa. Gadis itu memutuskan untuk menyelesaikan membaca buku itu lebih cepat dari satu minggu. Ia tak mau berurusan dengan pria itu lebih lama lagi. Karena sumpah demi apapun itu tak baik untuk kesehatannya.

Jantungnya akan berdegup sangat cepat saat pria itu darang ke kelasnya dan menghampirinya bak seorang pangeran yang mendatangi cinderalla. Gadis mana yang tak akan meleleh? Gadis mana yang tak besar kepala diperlakukan begitu? Karena sekedar mengingatkan, Kai yang sering mendatanginya itu adalah Kai yang sama yang sangat tak perduli pada orang lain.

Bohong jika In Jae tak punya rasa pada Kai. Dia pria paling mempesona yang pernah In Jae lihat. Wajah sombongnya itu benar-benar memuakkan tapi juga memabukkan disaat yang sama.

In Jae baru saja selesai membaca satu halaman dari buku itu, hingga ponselnya berdering dan nama Kai tertera disana. Dengan menggerutu, gadis itu pun menjawab

“bagaimana? Kisah cinta yang bagaimana itu?”

Belum juga In Jae mengatakan apapun, Kai sudah lebih dulu menyerangnya dengan pertanyaan. Marah dan menggerutu adalah cara yang salah untuk menghadapi makhluk sejenis Kai. Jadi In Jae memilih menggunakan kemampuan berpikirnya yang lumayan bagus itu. Menerka dan mengarang

“itu kisah cinta antara Sae Jin, Sehun dan Jinhwan. Well, kau bisa menebaknya dengan mudah. Diawal, tokoh Sae Jin dan Sehun itu selalu bertengkar dan dijelaskan, walau tidak langsung, bahwa mereka berdua saling membenci. Dan seperti biasa, dua tokoh utama yang saling membenci akan saling mencintai nantinya. Dan Jinhwan, aku rasa dia orang ketiga dalam kisah mereka. Dan lagi-lagi, akhirnya akan sama saja dengan kisah lainnya. Sae Jin akan memilih Sehun dan mereka akan hidup bahagia”

Jae In menarik napas dan tersenyum akan analisanya atas buku setebal seratus halaman itu. Setelah ini, Kai tak akan mengganggunya lagi. Dia bebas.

“sudah. Setelah ini jangan ganggu aku lagi” kata In Jae hampir berteriak

“…bodoh”

Kai tidak akan bosan menyebut In Jae bodoh. Jika memang kisah dalam buku itu hanya demikian, Kai bisa menebak dan tak perlu meminta gadis itu membacanya.

“berhenti memanggilku bodoh, Kai. Aku benar-benar akan memukulmu nanti” ancam In Jae yang  rupanya sudah jengah akan sebutan itu

“itu yang namanya seimbang. Tinjumu lebih besar daripada otakmu. Baca, dugaanmu tadi benar-benar salah. Bukan Sehun pria yang beruntung itu”

BIP

In Jae melempar ponselnya, “apanya yang bukan Sehun? Jelas-jelas ia bertengkar dengan Sehun. Apa Jinhwan? Apa Sae Jin sebenarnya menyukai Jinhwan?” In Jae mengingat beberapa penggalan cerita yang sudah ia baca. Gadis itu pun menepuk jidatnya. Otaknya sedang mengingat adegan di kelas, saat Jinhwan pertama kali masuk sebagai murid baru. In Jae baru ingat bahwa saat itu Jinhwan menyebut nama Sae Jin dengan akrab dan bilang ingin membunuhnya. “jadi Jinhwan? Aku harus segera tahu” gadis itu segera melanjutkan kegiatan membacanya.

Fakta yang In Jae dapat setelah membaca adalah bahwa Jinhwan dan Sae Jin adalah teman. Mereka bersama sejak SMP. Kemungkinan akan Jinhwanlah pria yang tokoh Sae Jin itu sukai menjadi lebih besar

~

“Sehun?” gumam Kai sebelum membalik halaman bukunya

# #

21 Oktober 2014

Kali ini bukan soal marah atau kesalnya aku padanya yang akan kutuliskan. Hari ini, dia sangat cantik. Kemeja warna birunya itu membuatnya terlihat sangat manis. Tapi sayang, dia terlalu kurus untuk ukuran gadis seusianya. Meski orang-orang bilang itu berat tubuh yang diidam-idamkan semua gadis, bagiku dia akan terlihat lebih cantik jika berat badannya bertambah satu kilo lagi saja.

Saat dia berpamitan padaku, aku sempat bertanya kemana ia akan pergi. Dan jawabannya berhasil membuatku cemburu. Dia akan pergi dengan si brandal itu. Aku juga heran kenapa preman itu bisa pindah ke sekolah Sae Jin. Apa pria itu punya rasa pada Sae Jin? Oh, tiba-tiba saja darah mengalir ke ubun-ubunku. Aku bisa sepanas ini hanya dengan menerka-nerka apa yang bisa mereka lakukan saat bersama.

Sial ! apa cintaku akan semenyakitkan ini?

~

Sehun menatap Sae Jin yang sekarang berdiri didepanya dengan wajah angkuh. Sehun bukannya ingin menatap gadis itu, ia hanya tak sengaja bersitatap dengannya. Sehun maju satu langkah, membuat Sae Jin menaikkan satu alisnya bingung

Tanpa Sae Jin pernah duga, Sehun menjulurkan tangannya.

“kau tidak ingin menjabat tanganku?” kata Sehun dengan suara ramah yang tak pernah Sae Jin dengar

Oh, baik. Sae Jin berusaha realistis dan berpikir positif. Ini hari terakhir ia dan Sehun bertemu. Pesta kelulusan ini adalah terakhir kalinya mereka akan bersitatap dengan penuh kebencian seperti sekarang. Mungkin Sehun hanya ingin bersikap dewasa. Selama ini mereka selalu bertengkar dan Sae Jin rasa Sehun ingin mereka saling memaafkan sekarang

Tanpa dugaan buruk, Sae Jin menjabat tangan Sehun. Tapi beberapa detik kemudian, barulah gadis itu kembali pada kenyataan. Sehun memanglah pria gila

“aku harap, aku tak akan pernah bertemu denganmu lagi” kata Sehun sembari tersenyum mengejek

.

.

Sehun bilang ia tak ingin bertemu Sae Jin lagi. Sae Jin berharap Sehun akan lenyap dari Bumi. Tapi mereka tak bisa mengatur takdir. Dua orang yang saling membenci itu kembali harus bertemu.

Disini, di universitas ini dan  di kelas ini. Sehun dan Sae Jin kembali berada dalam satu kelas.

“brengsek ! bukannya kau akan  mengambil jurusan fisika?” kata Sehun pada Sae Jin yang duduk tepat didepannya

“kau sendiri, bajingan?! Bukankah kau mau ambil kuliah di luar negeri?” balas Sae Jin tak kalah  geram. Meski gadis itu tak menoleh pada Sehun, tapi dari nada suaranya siapapun bisa tahu gadis itu benar-benar sedang marah

“sial !” Sehun lagi-lagi mengumpat sembari mengeluarkan ponselnya dan mengutak-atik benda itu sebagai pelampiasan

Tak lama, Sehun memindahkah tatapan dari layar ponsel ke pintu masuk kelas. Dan pria itu kembali harus memaki. Pacar Sae Jin, Jinhwan juga berada di kelas yang sama dengannya. Oh, mimpi Sehun soal kehidupan kuliahnya yang menyenangkan pupus sudah. Hancur. Sae Jin disini dan semuanya akan sama saja.

“kenapa tidak angkat ponselmu Sae Jin?” tanya Jinhwan setelah pria itu duduk disebelah Sae Jin

“kau menghubungiku?” tanya Sae Jin sembari mengeluarkan ponselnya. Gadis itu mencari nama Jinhwan di daftar missed call, tapi tak menemukannya

“Dia bilang sedari tadi ia sudah menghubungimu. Dia menghubungimu sebanyak 15 kali dan marah padaku sebanyak 53330676795901 kali”

“aku membencinya, Jinhwan” kata Sae Jin dengan tatapan menerawang

“sebanyak kau mencintainya?” Jinhwan berucap dengan terkekeh

tbc…

terima kasih sudah membaca ^^

a/n:

Password Our Story (Back to 00) kalau mau,  kalian bisa minta ke aku juga ya. Caranya kasih aku alamat email kalian (tinggalin komen berupa alamat email di chapter 21). Terima kasih…^^

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Name (C)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s