Maliciously Missing — Len K [Chapter 06]

 

 

 

Maliciously missing

(.n)people who, for whatever reason, decide they simply don’t want to be found

Sebuah rahasia besar terkuak, tapi bukan rahasia yang menyenangkan dan Junmyeon merasa terkhianati

MALICIOUSLY MISSING

Storyline © Len K. Standard disclaimer applied; I own the plot. This is a work of fiction. Names, characters, businesses, places, events, and incidents are either the product of the author’s imagination or used in fictitious manner. Any resemblance to real persons, living or dead, is unintentional and purely coincidental. No profit taken from this work

 

Starring: Kim Junmyeon – Suho EXO, Choi Minrin (OC), Oh Sehun EXO, etc | Rate: T | Genre: Drama, Mystery

Special thanks to Kak IRISH for the poster and Kak Liana  for being my beta

 

 

WARNING!!

Non-canon!AU, possibly OOC, typo(s). Setting take place in Indiana, USA. Rate may changes. Additional casts to be added. I did the research before related to missing person’s cases and Indiana state itself, and other things in this fiction, but still, I’m sorry if you find some inaccuracy.

 

 


 

 

 

Junmyeon berjalan serampangan menuju ruang tengah. Tas kerja dan snelli miliknya dilempar ke sembarang arah setelah ia menendang sepatunya tanpa dikembalikan ke rak. Segera ia jatuhkan tubuhnya ke sofa. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, satu benda yang kini ada di genggaman tangannya: ponsel Minrin. Apa yang akan ia temukan di sini? Siapkah ia akan kemungkinan terburuk? Junmyeon menggigit bibir bawahnya, ia meragu, merasa tidak siap. Namun, sisi logisnya berkata bahwa ini bisa jadi petunjuk besar, maka Junmyeon kemudian membuka ponsel Minrin.

Kotak pesan dan aplikasi percakapan adalah dua hal yang Junmyeon buka terlebih dahulu. Mungkin dari situ ia bisa menemukan sesuatu yang berhubungan dengan kepergian Minrin, seperti pemesanan tempat menginap, tiket, janji bertemu, atau yang paling tidak ingin Junmyeon ketahui: Minrin yang berselingkuh darinya. Hal itu tidak terbukti. Tidak ada yang mencurigakan sama sekali dari log percakapan Minrin. Hanya ada beberapa percakapan mengenai pekerjaan, pesan dari Siwon dan orang tua Minrin, percakapan dengannya dan beberapa teman.

Junmyeon kemudian membuka akun media sosial Minrin dan jendela pesan dalam akun media sosial, mencari hal-hal ganjil dari log percakapan maupun log panggilan. Tidak ada yang mencurigakan. Keduanya didominasi oleh dirinya, keluarga Minrin, dan pekerjaan. Apa Minrin sudah menghapus semua jejak yang sekiranya bisa digunakan untuk melacak keberadaannya?

Junmyeon menarik rambutnya frustasi. Dia kira dia bisa mendapatkan petunjuk dari sini, tapi apa? Dia kembali ke titik awal, tanpa petunjuk apa pun. Dadanya serasa diremas kuat-kuat dan matanya mulai memanas, pun kepalanya. Satu umpatan ia serukan sebagai pelampiasan rasa frustasinya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?

Pria bermarga Kim itu terdiam. Netranya menatap kosong ponsel Minrin yang menampilkan foto mereka berdua sebagai wallpaper. Sejurus kemudian duduknya sudah tegak. Raut wajahnya menyiratkan bahwa ia mengingat sesuatu dan ia kembali menjelajahi ponsel Minrin untuk membuka aplikasi catatan yang ada di sana. Mengapa tidak terpikirkan sebelumnya? Junmyeon mengutuki dirinya sendiri. Minrin selalu mencatat jadwal dan detail-detail penting lainnya di ponsel, terkadang disertai dengan alarm. Tentu ada banyak catatan di aplikasi tersebut. Sebagian besar berhubungan dengan pekerjaan, seperti janji pertemuan, to do list, jatuh tempo , bahkan catatan resep, tapi ada satu-dua hal yang menarik perhatian Junmyeon ketika ia merunut semua catatan itu ke belakang.

Yang pertama adalah satu catatan yang terus muncul pada tanggal-tanggal yang bisa Junmyeon simpulkan adalah acak. Isi catatan tersebut lebih menarik lagi. Hanya ada satu kata: Failed. Failed? Alis Junmyeon naik. Apanya yang gagal? Apa yang Minrin tidak dapat capai? Kegagalan macam apa yang muncul secara acak namun konstan, dan tidak pernah Minrin singgung ini? Junmyeon menggali ingatannya dan ia tidak dapat menemukan kegagalan apa yang dimaksud. Terlalu banyak failed, padahal ia tahu betul bagaimana kekasihnya itu akan bereaksi akan kegagalan. Junmyeon merunut catatan itu lagi dan semakin banyak failed yang ditemuinya, dengan failed pertama muncul sekitar satu setengah tahun lalu, tidak lama setelah mereka resmi jadi sepasang kekasih.

Hal kedua yang menarik perhatian Junmyeon adalah catatan yang berisi mengenai janji temu Minrin dengan seseorang. Nama orang yang akan Minrin temui juga terdengar asing bagi Junmyeon. Minrin yang selalu bercerita mengenai segala hal kepadanya, tentu Junmyeon dapat dengan mudah mengenali siapa-siapa saja yang berhubungan dengan Minrin. Hell, dia bahkan tahu supplier mana yang bertanggung jawab akan bahan apa, juga nama kakek tua yang selalu datang ke Provision tiap dua pekan sekali untuk memesan tortellini, kue lemon dengan krim kelapa, serta hemingway daiquiri.

Junmyeon kembali menggali ingatannya dan ia tidak mengingat nama orang tersebut pernah disebutkan oleh Minrin. Catatan tersebut hanya berisi ‘janji temu dengan Mrs. Wilson’ disertai jam. Satu hal lagi, catatan itu muncul dalam rentang waktu dua bulan terakhir dengan frekuensi sekali dalam satu minggu.

“Mrs. Wilson, Mrs. Wilson, Mrs. Wilson ….” Bibir Junmyeon menggumamkan nama tersebut layaknya mantra dengan mata terpejam, berusaha mengingat tapi berakhir nihil.

Junmyeon ingat dirinya sempat melihat nama yang asing baginya itu muncul beberapa kali dalam log panggilan dan log percakapan Minrin. Dirinya kembali menyusuri salah satu aplikasi pesan di ponsel Minrin dan benar saja, ia menemukan percakapan Mrs. Wilson dengan kekasihnya. Lega? Iya, tapi tidak sepenuhnya. Kening Junmyeon mengernyit saat membaca percakapan tersebut. Junmyeon tidak membaca secara menyeluruh, hanya bagian-bagian tertentu saja yang menarik perhatiannya.

 

Hai, Minrin. Bagaimana kabarmu?

Lebih baik, Dokter Wilson. Terima kasih sudah bertanya.

 

 

Sekedar mengingatkan, kau punya jadwal konseling Rabu ini.

Kuharap kau datang.

 

Aku akan datang, Dok. Jangan khawatir.

Omong-omong Dok, bisakah aku memajukan jadwal konselingku?

 

Tentu, sweetheart.

Ada apa?

Apakah seranganmu kembali lagi?

Yah, lebih buruk kurasa.

Alright, aku akan memberi kabar lagi nanti.

Take care, sweetheart.

 

 

Hati Junmyeon mencelos membaca semua pesan itu. Konseling? Serangan? Apa-apaan semua itu? Hanya ada satu kemungkinan, yaitu kekasihnya mengalami gangguan psikologis. Bagaimana Junmyeon tidak mengetahui itu semua?

Satu gagasan mendobrak masuk ke kepala Junmyeon. Apakah ini artinya Minrin tidak memercayainya? Junmyeon tahu, mendiskusikan soal kesehatan mental tidaklah mudah bagi sebagian orang, tapi Junmyeon adalah dokter dan kekasih Minrin, dia berbeda. Dia tidak akan menghakimi seseorang hanya karena orang tersebut mengalami gangguan psikologis. Yang ada justru Junmyeon akan membantu orang tersebut, bagaimanapun caranya. Ditambah, dia adalah kekasih Minrin; mereka sudah tinggal satu atap selama kurang lebih tujuh bulan terakhir. Junmyeon tidak bisa tidak merasa terkhianati.

Mengapa Minrin menyembunyikan ini semua?

Jari Junmyeon lalu mengetuk foto profil Mrs. Wilson untuk melihat profil psikolog atau psikiater tersebut. Foto Mrs. Wilson terlihat lebih jelas pada halaman profilnya, menampilkan sosok wanita di usia empat puluhan dengan rambut bergelombang berwarna auburn sebahu. Nama juga profesinya tersemat disana—Catherine Wilson, psychiatrist—berikut sebuah alamat dan narahubung.

Segera Junmyeon menulis nomor narahubung tersebut di ponselnya dan membuat panggilan. Pada dering kedua, teleponnya diangkat. Suara seorang wanita yang Junmyeon asumsikan sebagai sekretaris atau resepsionis menyapanya dengan ramah.

“Aku Junmyeon Kim dan aku ingin bicara dengan Dokter Wilson,” kata Junmyeon.

Maaf, Tuan Kim. Dokter Wilson sedang ada sesi konsul saat ini. Apa Anda juga ingin melakukan konseling?

Junmyeon ingin menjawab bahwa ia tidak ingin melakukan konseling. Ia ingin mendapatkan informasi mengenai kekasihnya, tapi tidak mungkin ia langsung berterus terang seperti itu, kan? “Ya,” jawab Junmyeon, berdusta.

Baiklah. Aku akan mengecek jadwal Dokter Wilson.” Wanita di seberang berhenti bicara sejenak. “Anda dapat menemui Dokter Wilson besok pada pukul sebelas siang. Bagaimana? Atau Anda ingin dibuatkan janji di lain waktu?

Dalam hati Junmyeon bersyukur karena besok adalah hari liburnya. “Aku bisa datang besok jam sebelas siang.”

Baiklah. Besok kami mengharapkan kehadiran Anda pada pukul sebelas, Tuan Kim….

“Junmyeon. J-u-n-m-y-e-o-n.”

Baik, Tuan Junmyeon Kim. Sampai jumpa besok.

Tubuh Junmyeon kembali rebah di sofa. Pikirannya tiba-tiba membuatnya jadi begitu lelah. Junmyeon paham bahwa setiap orang memiliki rahasia yang mereka simpan hanya untuk diri mereka sendiri dan ia mencoba memahami itu.

 

 

***

 

 

Tepat pada pukul sebelas, Junmyeon keluar dari lift yang membawanya ke lantai empat di mana praktek Dokter Wilson berada. Seorang resepsionis wanita menyambutnya ramah dan langsung mempersilahkannya untuk masuk setelah mengecek jadwal Dokter Wilson di komputernya. Junmyeon mengucapkan terima kasih disertai senyum sebelum masuk ke ruangan yang dimaksud.

Ruangan Dokter Wilson tampak menenangkan dengan cat warna putih dan warna-warna pastel mendominasi. Ada cukup banyak sofa dengan berbagai ukuran dan bentuk untuk disinggahi dan dua meja kayu dengan ukiran yang indah. Rak buku yang terisi penuh berada di sekeliling meja kerja Dokter Wilson. Dinding kaca yang menyuguhkan pemandangan kota memberi kesan luas pada ruangan tersebut. Ruangan tersebut terkesan sudah didesain sedemikian rupa agar penghuninya merasa nyaman, terutama pasien.

“Junmyeon Kim?” Dokter Wilson menyapa dengan sebuah senyuman. Sofa putih berlengan dipilihnya ketimbang kursi putar di balik meja kerjanya.

“Ya, itu aku.”

“Silahkan duduk.”

Sofa lembut berwarna abu cerah menjadi pilihan Junmyeon. Walau tubuh Junmyeon serasa tenggelam dalam sofa, Junmyeon tidak bisa merasa nyaman. Tidak sebelum semua pertanyaannya terjawab.

So, you can tell me anything, Mr. Kim,” kata Dokter Wilson. “Anything. Even if it’s just a sentence.

“Bagaimana jika aku ingin bertanya?”

“Silakan.”

“Apa yang terjadi dengan Minrin?”

Pardon, Mr. Kim?”

“Apa yang terjadi dengan Minrin Choi?” Junmyeon mengulangi pertanyaannya. Sorot matanya menatap lurus Dokter Wilson yang duduk di hadapannya.

Dokter Wilson terdiam sejenak. Pertanyaan yang ditujukan padanya sungguh tidak terduga. Tentu psikiater itu tahu siapa Minrin. Bukan hal sulit untuk mengingat seorang wanita muda berdarah Korea di antara pasien-pasiennya.

Junmyeon bergerak membenahi duduknya agar lebih tegap. “Aku kekasihnya dan aku ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Minrin, Dokter Wilson,” kata Junmyeon tidak sabar.

“O, ya. Pantas saja namamu tidak asing bagiku,” Dokter Wilson tersenyum, “rupanya kau kekasih Minrin. Minrin cukup sering menyebut namamu dan memujimu. Kau memang tampan, seperti kata Minrin.”

Junmyeon biasanya akan tersenyum ketika ia mendengar suatu pujian yang ditujukan padanya. Namun, kali ini bibirnya hanya membentuk satu garis lurus yang tidak bisa diidentifikasi sebagai sebuah senyuman. “Aku tidak bermaksud kasar, tapi alangkah baiknya jika basa-basinya dihilangkan dan langsung ke intinya saja. Aku ingin tahu mengapa Minrin berkonsultasi denganmu.”

Dokter Wilson hanya tersenyum tipis. Catatan yang selalu ia bawa setiap sesi konsultasi ia letakkan di salah satu meja kayu. “Seingatku kau adalah seorang dokter. Bukankah begitu, Tuan Kim?”

“Kau benar.”

“Sebagai sesama tenaga medis, terlebih dokter, kau dan aku pasti sudah paham mengenai kode etik yang mewajibkan kita untuk merahasiakan sesuatu yang kita ketahui tentang pasien, bahkan setelah sang pasien meninggal dunia. Apa yang terjadi antara aku dan pasien di ruangan ini adalah rahasia antara aku dengan sang pasien.”

Satu sudut bibir Junmyeon terangkat. Sudah ia duga hal semacam ini akan terjadi. “Tentu kita berdua juga sama-sama paham bahwa pada keadaan tertentu, kita dapat memberikan informasi mengenai keadaan pasien tanpa persetujuan sang pasien, seperti ketika menerima perintah dari pengadilan—”

“Dan, tidak ada surat perintah dari pengadilan yang kuterima, Tuan Kim.”

Junmyeon menghela napas panjang melalui mulutnya. “Tidak bisakah kau membantuku?”

“Maafkan aku, Tuan Kim. Aku mengasumsikan bahwa Minrin tidak memberitahumu mengenai kunjungannya kemari dan aku tahu bagaimana perasaanmu ketika mengetahui ini semua, tapi ada kode etik yang harus kita junjung tinggi, Tuan Kim,” jelas Dokter Wilson.

“Apa kau tetap tidak ingin memberitahuku meski saat ini Minrin menghilang?”

Air muka Dokter Wilson berubah. Wanita paruh baya itu mulai merasa bimbang. “Pantas saja tidak ada kabar dari Minrin selama sebulan lebih terakhir,” gumam Dokter Wilson yang lebih ditujukan untuk dirinya sendiri. “Apa kau tahu penyebab menghilangnya Minrin, Tuan Kim?”

Junmyeon tertawa mengejek dengan pelan. “Jika aku tahu, tidak mungkin aku berada di sini, lagi pula bukankah ini aneh, Dokter Wilson? Bagaimana kau tidak curiga saat salah satu pasienmu tidak memberi kabar selama sebulan lebih?”

Di wajah Dokter Wilson, terlukis kekhawatiran dan rasa bersalah. “Minrin berkata padaku bahwa keadaannya mulai membaik. Awalnya, aku tidak yakin, maksudku aku masih bisa melihat bahwa dia belum benar-benar membaik, tapi kemudian dia berkata bahwa ia akan jadi semakin sibuk dengan adanya pekerjaan yang mengharuskan ia pergi ke luar kota,” jelas Dokter Wilson sebelum berbisik, “harusnya aku bertindak lebih cepat.”

“Apa Minrin pernah bercerita padamu ke mana ia akan pergi? Atau mungkin meninggalkan beberapa petunjuk?”

Dokter Wilson menggeleng. “Tidak. Tidak ada.”

Junmyeon menghela napas kasar melalui hidungnya. “Jadi, kau tetap tidak bisa memberitahuku soal apa yang terjadi dengan Minrin? Apa yang menyebabkan ia harus mendapatkan konseling?”

“Maaf, Tuan Kim, aku tidak bisa.”

Lagi-lagi, Junmyeon menghela napas. Tidak ada gunanya ia memaksa, maka dari itu Junmyeon segera berdiri dan mengucapkan salam perpisahan pada Dokter Wilson.

“Tuan Kim?”panggil Dokter Wilson saat Junmyeon berada di ambang pintu. Pria berdarah Korea itu hanya membalikkan badan tanpa menunjukkan ekspresi berarti. “Jangan sungkan untuk menghubungi aku jika kau butuh bantuan.”

“Tentu, Dokter Wilson. Terima kasih.”

Setelah ini, ada satu tempat yang harus Junmyeon tuju: kantor polisi. Jika Junmyeon tidak berhasil mendapatkan informasi mengenai gangguan psikologis apa yang dialami oleh Minrin, maka ia yakin polisi bisa mendapatkannya dengan lebih mudah.

 

 

***

 

 

Setelah Junmyeon melaporkan penemuannya–tentang Minrin yang menemui psikiater–dalam selang waktu tiga hari kemudian, dirinya dipanggil ke kantor kepolisian.

“Berdasarkan penyelidikan kami, bisa kami ketahui bahwa Nona Choi menderita PTSD, gangguan cemas disertai serangan panik, juga gangguan tidur,” jelas Petugas Ashmore.

Junmyeon tahu mengenai gangguan tidur yang diderita Minrin. Bukan hanya sekali atau dua kali ia menemukan kekasihnya masih terjaga ketika ia pulang larut. Namun, untuk yang lainnya? PTSD, gangguan cemas, dan serangan panik adalah hal-hal yang tidak Junmyeon sangka akan diidap oleh Minrin. Kekasihnya terlihat baik-baik saja. O, ‘terlihat’ tidak menggambarkan kondisi sesungguhnya, bukan?

“Aku … aku tidak tahu Minrin menderita itu semua.” Dengan perasaan malu, Junmyeon mengaku. “Mengapa … bagaimana….” Junmyeon tidak mampu melanjutkan kalimatnya.

“Nona Choi pernah menjadi korban kekerasan seksual saat ia masih pra-remaja.”

“Apa?” Yang keluar dari mulut Junmyeon adalah desisan. Pupilnya melebar, badannya seketika kaku, dan bulu kuduknya berdiri. Apa lagi ini? Pikirannya kembali menjadi kacau. Fakta barusan lebih mengejutkan dirinya ketimbang saat ia mengetahui bahwa Minrin telah mengikuti konseling dengan psikiater. Satu rahasia besar kembali disembunyikan oleh Minrin dan kata tanya ‘mengapa’ tidak bisa lepas dari pikiran Junmyeon. Kepercayaan dirinya memudar.

Agaknya Petugas Ashmore dapat memahami keterkejutan Junmyeon “Hanya informasi itu saja yang dapat kami terima dari psikiater Nona Choi, Dokter Wilson. Rupanya, Dokter Wilson adalah psikiater yang baru menangani Nona Choi selama dua bulan. Kemudian menurut keterangan Dokter Wilson, Nona Choi bukanlah orang yang mudah terbuka dengan orang lain. Dalam sesi konseling mereka yang diadakan seminggu sekali dalam dua bulan terakhir sebelum menghilangnya Nona Choi, serangan panik, serangan cemas, serta gangguan tidur yang dialami oleh Nona Choi lebih banyak dibahas. Nona Choi baru mengutarakan mengenai kekerasan seksual yang dialaminya setelah satu setengah bulan mengikuti konseling. Setelahnya belum ada pembicaraan lebih lanjut.

“Untuk penyelidikan mengenai keberadaan Nona Choi maupun kasus kekerasan seksual yang dialaminya, masih kami lakukan. Tentu itu semua akan memakan waktu, tapi kami akan berusaha semampu kami. Untuk sementara, kami telah memasukkan data Nona Choi dalam situs NamUs setelah mempertimbangkan mengenai keadaan psikologis serta trauma yang dialami.”

“Situs NamUs?”

“Benar, Tuan Kim. NamUs adalah sebuah situs resmi milik pemerintah yang berisi informasi mengenai orang-orang hilang.”

Junmyeon hanya bisa mengangguk. Pikirannya terlalu penuh dan kacau akan beberapa informasi yang baru ia dapatkan sehingga dia hanya bisa mengucap terima kasih sebelum meninggalkan kantor polisi untuk menuju ke tempat kerjanya.

Bahkan saat tengah bekerja pun, ia mendapatkan banyak teguran dari rekan-rekannya karena sering tidak fokus. Ia bahkan hampir salah memberikan obat! Beruntung, Marie mengingatkannya. Jika tidak, masalah Junmyeon akan semakin bertambah dan membuatnya makin menderita.

Tetap saja, pikirannya tidak bisa berhenti melayang pada rentetan kejadian di kantor polisi pagi ini. Informasi-informasi yang baru ia ketahui mengenai Minrin seolah menamparnya, bahwa pada kenyataannya ia belum mengenal betul kekasihnya, bahwa kekasihnya tidak mempercayainya. Semua itu menjadi racun bagi pemikirannya. Memangnya apa ada kemungkinan lain? Takut? Kekasihnya takut dirinya akan pergi ketika mengetahui itu semua? Heck, sejak awal menaruh ketertarikan pada Minrin, Junmyeon sudah bersedia menerima lebih-kurangnya Minrin dan dia tidak main-main. Dirinya sudah menegaskan hal tersebut berkali-kali.

Pikiran Junmyeon memulai kilas balik. Bagaimana ia bertemu Minrin, tiga kencan pertama mereka di Woodland Bowling Center yang dihabiskan dengan cukup canggung tanpa kontak fisik, cengkeraman tangan Minrin pada bahunya saat movie date pertama—yang merupakan kontak fisik pertama mereka pula.

Junmyeon juga ingat bagaimana satu ciuman di pipi untuk pertama kalinya membuat Minrin terkejut setengah mati. Bila saat itu Junmyeon menganggap ekspresi Minrin adalah lucu dan ia sempat tertawa kecil, sekarang tidak lagi. Mungkin saja kan, Minrin merasa takut saat itu?

Ciuman pertama mereka juga membuat Junmyeon mengingat hal yang tidak jauh beda. Junmyeon masih bisa mengingat dan merasakan bagaimana tegangnya tubuh Minrin dalam rengkuhannya saat itu. Hal tersebut, disertai tangan Minrin yang mulai mendorongnya menjauh, adalah dua hal yang membuat Junmyeon merasa bersalah dan ingin segera meminta maaf serta mengucapkan selamat tinggal pada tunas kehidupan cintanya yang lain. Minrin mungkin merasa takut saat itu. Iya, kan? Namun, Minrin yang kemudian membalas ciumannya membuat Junmyeon melupakan semua keraguan dan rasa bersalah.

Bahkan saat Minrin pindah ke rumahnya, kekasihnya itu memilih untuk menempati kamar lain pada awalnya membuat Junmyeon merasa kecewa karena tidak terwujudnya bayangan tidur setiap malam dengan sang pujaan hati di pelukannya, atau mengecup sayang sang kekasih tiap pagi begitu ia membuka mata. Junmyeon bukan tipe orang yang memaksakan kehendak. Ia tahu Minrin tidak terlalu menyukai kontak fisik berlebih, mungkin juga ini masalah keyakinan Minrin—hei, Siwon adalah penganut Kristen yang taat—jadi Junmyeon membiarkan Minrin memiliki kamar sendiri.

Baru setelah kurang lebih satu bulan tinggal bersama, pada akhirnya mereka bisa tidur dalam satu ranjang. Bohong jika Junmyeon bilang ia tidak senang. Senyum Junmyeon tidak berhenti mengembang ketika sepulang dari kerja, Minrin menghampirinya yang sedang membaca di tempat tidur sebelum bercerita mengenai harinya yang kacau, lalu tertidur dengan pulas. Tangan Junmyeon tidak lepas dari pinggang Minrin semalaman itu. Esoknya, Minrin kembali menghampirinya saat akan tidur, beralasan bahwa queen size bed Junmyeon jauh lebih nyaman dari single bed di kamarnya. Junmyeon hanya tertawa mendengarnya karena perlahan-lahan spasi di antara mereka di ranjang menjadi tidak ada.

Junmyeon juga terpikirkan mengenai waktu-waktu ketika ciuman mereka jadi lebih menuntut dan tangannya mulai bergerilya di tubuh Minrin. Junmyeon berpikir akhirnya ciuman mereka akan menjadi lebih, tapi semua itu tidak berlaku ketika Minrin menangkap tangannya disertai gelengan kepala sebagai sebuah tanda penolakan. Sekali lagi, Junmyeon bukan pria egois. Ia menghormati keputusan Minrin tanpa banyak bertanya jika tidak benar-benar diperlukan. Jadi, Junmyeon harus berpuas pada sesi cumbuan tanpa kelanjutan.

Sekarang, semuanya menjadi begitu jelas. Minrin masih terbayang-bayang oleh trauma yang dialaminya dan Junmyeon merasa jadi orang paling bodoh karena telah buta akan tanda-tanda tersebut.

Apakah Minrin menghilang karena traumanya?

Apa ada kejadian yang membuat trauma Minrin terpicu?

“Jun, Jun, Jun! Hei!” Suara keras Peter membuyarkan lamunan Junmyeon.

“O, hei, Peter,” Junmyeon tergagap, “ada apa?”

Peter melempar satu senyum tipis. Junmyeon yang sering melamun menjadi hal wajar belakangan ini dan itu membuatnya prihatin. “Kau melamun lagi.”

“Maaf.” Junmyeon tersenyum lemah. “Ada apa?”

Shift-mu akan berakhir. Kau tidak ingin bersiap pulang? Mumpung pasien tidak terlalu ramai.”

Junmyeon melihat arlojinya. Benar, shift malam-nya akan berakhir dalam seperempat jam lagi. Dirinya tidak tidur semalaman, tetapi tidak merasa mengantuk walau pagi sudah datang. “Kau benar.”

“Boleh aku tahu?”

“Apa?” Junmyeon membalas pertanyaan Peter seraya berbenah.

“Apa yang kau pikirkan kali ini? Kau kelihatan lebih … entahlah, terbebani?”

Kegiatan Junmyeon terhenti. Ia tidak menatap Peter. Netranya tertuju pada map berisi laporan follow up pasien yang sudah ia selesaikan sejak tadi. “Seperti biasa, ini soal Minrin.”

“O. Apa ada perkembangan? Kau sudah berhasil membuka ponselnya, kan?” Sebagai kawan akrab Junmyeon, Peter tidak pernah ketinggalan mengenai perkembangan kasus Minrin.

Junmyeon mengangguk.

“Menemukan suatu petunjuk?”

Junmyeon masih berusaha menghindari kontak mata dengan kawannya. “Ya. Satu petunjuk yang membawaku pada fakta mengejutkan. Minrin menemui psikiater. Ia terdiagnosa PTSD karena sebuah trauma.”

Peter menemukan dirinya tidak bisa berkata-kata pada informasi yang bisa dibilang amat rahasia itu. “I-I’m sorry to hear that, Jun.” Peter menyuarakan simpatinya. “A-aku sungguh tidak menyangka.”

“Begitu juga denganku, Peter.” Junmyeon mendesah. “Aku merasa tidak berguna karena aku yang notabene adalah kekasihnya tidak mengetahui itu semua.”

Don’t be, Jun.”

I can’t help it, Peter.”

Kedua dokter itu terdiam untuk beberapa saat. Tidak ada yang berani memulai konversasi. Keduanya sudah paham bahwa masing-masing membutuhkan ruang.

“Pihak kepolisian sudah memasukkan profil Minrin ke situs NamUs dan kembali menyelidiki keberadaan Minrin.” Junmyeon jadi yang pertama memecah keheningan.

“Itu hal yang bagus. Aku harap akan ada perkembangan berarti dan Minrin segera ditemukan.”

“Aku juga.”

Lagi-lagi hening sebelum Peter memanggil Junmyeon.

“Kau … tidak membenci Minrin, kan?”

“Harus kuakui, Peter, aku cukup terluka karena Minrin tidak terbuka padaku mengenai kondisi psikisnya, tapi aku sadar bahwa ia pasti memiliki alasannya sendiri mengapa ia merahasiakan itu semua. kemudian … membenci Minrin? As if I could ever do that, Peter.” Junmyeon tersenyum kecil pada akhir kalimat.

 

 

 

Sekembalinya di rumah, Junmyeon tidak mengagendakan tidur. Pria Kim itu justru menyeduh segelas kopi hitam setelah mandi dan membawanya ke ruang tengah di mana laptopnya menampilkan profil Minrin yang sudah terpampang di laman NamUs. Sekotak biskuit gandum menjadi pengganjal perutnya. Tidak berselang lama setelah Junmyeon melahap biskuitnya, terdengar suara bel.

Alis Junmyeon naik. Siapa sekiranya yang bertamu? Junmyeon bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu tanpa menyahut, membuat sang tamu berkali-kali memencet bel tanpa sabar.

“O, Tuhan. Untunglah kau ada di rumah, Hyung. Bisa biarkan aku masuk? Angin musim gugur mulai membuatku menggigil.”

Junmyeon belum sempat berkata apa-apa ketika ia membuka pintu. Sang tamu yang ternyata adalah seorang Oh Sehun sudah menggerutu padanya. Tanpa bicara apa-apa, Junmyeon membuka pintunya lebih lebar untuk mempersilahkan Sehun masuk. Keduanya menuju ke ruang tengah dengan Sehun yang tidak henti-hentinya mengoceh soal musim gugur yang makin terasa dingin.

“Kalau kau ingin kemari, kau bisa menghubungiku terlebih dahulu. Bagaimana jika aku sedang bekerja? Kau bisa membeku di luar rumahku,” kata Junmyeon pada Sehun yang langsung membenamkan diri di sofa.

Sehun tersenyum malu. “Nanti tidak akan ada kejutan untukmu, Hyung.”

“Kejutan?”

Sehun hanya diam dan menepuk-nepuk kantong plastik di sampingnya. “Aku bawakan sedikit makanan untukmu.”

Sungguh, Junmyeon amat beruntung bisa mengenal Sehun. Jempolnya yang terangkat ditujukan pada Sehun yang kini tertawa. “O, kau mau minum apa?”

“Kau punya coklat panas?”

“Tentu.” Junmyeon segera menuju ke dapur untuk menyeduh coklat dan dalam waktu singkat, ia sudah kembali ke ruang tengah dengan segelas coklat panas. “Minumlah.”

Thanks, Hyung.” Sehun menyeruput coklatnya. “Jadi, apa ini?” Jemari Sehun menunjuk-nunjuk layar laptop Junmyeon yang menampakkan profil singkat dan foto terakhir Minrin.

Junmyeon duduk di hadapan Sehun. “Profil Minrin di NamUs. Semacam situs yang berisi informasi orang-orang hilang. Setelah aku berhasil membuka ponsel Minrin, aku menemukan jadwal konseling Minrin dengan seorang psikiater.” Junmyeon berhenti sejenak untuk menenangkan diri. Dia akan membuka fakta yang sudah melukainya. Bukan hanya itu, ia akan membongkar rahasia yang sudah Minrin simpan rapat-rapat. Suatu hal yang konfidental. Namun, orang di hadapannya adalah Sehun. Jika Minrin memercayai Sehun, maka ia juga bisa, kan? Persetan soal kode etik! “Karena Dokter Wilson, si psikiater, tidak bersedia membeberkan apa yang terjadi pada Minrin, maka aku melapor pada polisi. Pihak kepolisian kemudian mendapatkan informasi bahwa Minrin mengidap PTSD, gangguan cemas disertai serangan panik karena kekerasan seksual yang dialami saat ia pra-remaja.”

Gelas Sehun berhenti di udara. “Oh.”

“Polisi sedang menyelidiki lebih lanjut. Ternyata, Dokter Wilson juga baru dua bulan menangani Minrin, jadi mungkin penyelidikan akan jadi lebih lambat.”

“Oh.”

Junmyeon tidak memberi respon pada gumaman Sehun. Pikirannya melayang ke banyak hal dan itu membuatnya pusing. Terlalu banyak yang terjadi dan semua itu menguras habis emosi dan energinya. Namun, otaknya merasakan suatu hal yang tidak beres.

“Sehun,” panggil Junmyeon.

“Ya, Hyung?” Yang dipanggil menyahut setelah menyesap coklat hangat.

Mata Junmyeon memicing pada pemuda di hadapannya. “Untuk informasi yang cukup konfidental mengenai Minrin, reaksi yang kau berikan cukup santai, ya?”

Pemuda Oh itu segera meletakkan gelasnya di meja. Kegugupan yang tiba-tiba-dirasakan membuat gelasnya menimbulkan suara keras ketika membentur permukaan meja. Ekspresinya seperti pencuri yang tertangkap basah ketika beraksi. Ia tidak berkutik sama sekali.

“Kau sudah tahu mengenai hal ini, kan?” tebak Junmyeon.

Nada yang digunakan Junmyeon membuat Sehun merasa tidak nyaman. “Hyung, a-aku—“

“Kau sudah tahu,” potong Junmyeon dengan kasar. “Kau sudah tahu semuanya dan tidak pernah memberitahuku. Wow, aku terkejut.” Junmyeon bertutur dengan sarkasme penuh, lalu ia tertawa kecil layaknya orang yang kehilangan kewarasan. Junmyeon pikir ia tidak bisa merasa terkhianati lebih jauh, rupanya ia salah.

Hyung, aku—“

“Kau bisa memberitahuku, Sehun!” Junmyeon berseru keras. Ketenangan dalam bahasa tubuhnya hilang sudah. “Kau bisa memberitahuku sejak awal dan mungkin semua ini tidak akan terjadi! Aku tidak akan merasa seperti orang asing yang bodoh karena nyatanya aku tidak benar-benar mengenal kekasihku sendiri! Apa sulitnya memberitahuku, hah?!”

Hyung!” Bentak Sehun. Mengapa Junmyeon seolah-olah menyalahkan dirinya akan hilangnya Minrin? “Jika Minrin sendiri tidak ingin memberitahu dirimu, apa aku berhak buka suara? Minrin adalah kawan baikku! Aku hanya akan menodai kepercayaannya padaku!”

Yang membuat Junmyeon terkejut bukan soal Sehun yang baru saja membentak dirinya, melainkan argumen yang dilontarkan oleh pemuda bermarga Oh tersebut. Sehun ada benarnya. Junmyeon sudah kalah dalam argumen ini dan melesakkan tubuhnya ke sofa. Tangannya otomatis bergerak untuk menutupi wajahnya. “Maafkan aku,” katanya lirih.

Sehun bisa saja masih merasa kesal, tapi dia juga paham bahwa semua ini membuat Junmyeon lelah secara mental, jadi Sehun kembali meminum coklat hangatnya dan menggelengkan kepala. “Tidak apa-apa, Hyung.”

Dua pria berdarah Korea itu kemudian saling diam. Ketegangan beberapa saat tadi memang sudah menghilang, namun keduanya memilih untuk memberi ruang pada masing-masing.

“Kau sudah lama mengetahui soal keadaan psikologis Minrin?” Tatapan Junmyeon tertuju pada lantai dan jemari kakinya. Sebagian dirinya masih merasa malu pada Sehun karena sudah kehilangan kendali.

“Bisa dibilang begitu.” Sehun juga tidak berani menatap Junmyeon. Ia tidak pernah menggunakan nada tinggi pada Junmyeon yang masuk dalam jajaran orang yang ia hormati. “Saat itu tahun kedua kami di Le Cordon Bleu dan dalam waktu dekat, kami dapat lulus setelah menyelesaikan beberapa kredit dan ujian. Aku berada di rumah Minrin. Kami iseng-iseng mencoba resep yang kami buat untuk persiapan ujian saat tiba-tiba serangan panik Minrin datang.”

Junmyeon mulai terserap dalam cerita Sehun. Ketika ia mengangkat kepalanya, ia bisa melihat tatapan Sehun yang jatuh ke bawah tapi tampak kosong, berusaha mengingat.

“Ketika serangan itu terjadi, keadaannya sungguh buruk, Hyung.” Sehun kembali bicara. “Kami sedang duduk-duduk. Aku sibuk dengan ponsel, Minrin juga sama. Tiba-tiba ponsel Minrin terjatuh dengan bunyi keras dan Minrin … tubuhnya bergetar hebat, dan ia mulai menangis. Aku kemudian mendekat, bertanya apa ia baik-baik saja, tapi tidak ada jawaban. Minrin semakin menangis hebat, tubuhnya makin bergetar dan berkeringat, nafasnya tidak beraturan seperti dicekik, dan ia tidak merespon panggilanku. Bisa kau bayangkan betapa paniknya aku saat itu, Hyung?”

Menghadapi serangan panik memang tidak selalu mudah, baik bagi penderita maupun orang di sekitarnya, Junmyeon tahu itu. Ia juga tahu rasa panik yang dirasakan Sehun yang notabene masih awam. Junmyeon tidak bisa membayangkan bahwa selama ini Minrin menyembunyikan itu semua, menghadapi serangan panik yang kambuh entah untuk yang keberapa kali seorang diri.

“Untungnya, tidak lama kemudian Siwon-hyung baru saja kembali dari supermarket. Ia berhasil menenangkan Minrin setelah berusaha beberapa menit dan membawa Minrin ke kamarnya. Saat Siwon-hyung kembali, ia bercerita mengenai serangan panik itu dan tidak menceritakan sebabnya. Aku tidak bertanya lebih jauh karena hal itu bisa saja melukai Siwon-hyung. Setelah membaik, Minrin meminta maaf karena ia berpikir ia sudah menakutiku. Hell, that was true. Setelahnya aku jadi lebih waspada terhadap Minrin, berjaga-jaga jika serangan paniknya kembali dan tentu, aku seringkali ada di sisi Minrin saat serangan panik menyerangnya.

“Aku sudah berkawan dengan Minrin cukup lama dan aku perlahan bisa membaca gelagatnya saat serangannya akan datang. Tidak banyak yang mengetahui hal ini bahkan chef-chef lain di Provision, kecuali aku tentunya. Baru kemudian saat serangan paniknya yang kesekian telah selesai, Minrin bercerita bahwa ia dulunya adalah korban pelecehan seksual. Aku tidak memaksanya untuk bercerita lebih lanjut, sampai sekarang. Bagiku, tidak apa jika Minrin tidak bercerita. Memang tidak mudah, kan, menceritakan sebuah pengalaman yang traumatis? Yang terpenting adalah Minrin tahu bahwa aku tetap teman baiknya dan selalu ada untuknya.”

Apa yang dilontarkan Sehun seakan menampar Junmyeon. Ia tahu, membuka pengalaman mengenai pelecehan atau kekerasan seksual tidaklah semudah menceritakan pengalaman liburan musim panas yang menyenangkan, tapi tetap saja.

“Aku bisa membantunya, Sehun,” lirih Junmyeon, “dan dia tidak perlu takut aku akan pergi meninggalkannya. Aku tahu ini terdengar egois dan menuntut, tapi aku kekasihnya. Aku memercayainya dan telah menerima segala lebih dan kurangnya. Tidak bisakah Minrin percaya padaku?” Junmyeon merasakan matanya memanas dan ia yakin sebentar lagi likuid bening akan keluar.

Benar saja, tidak lama kemudian Junmyeon menangis. Sehun segera mendekati Junmyeon dan mengusap-usap punggung hyung-nya tanpa bicara sepatah kata. Baru setelah tangis Junmyeon mereda dan setelah meyakinkan Sehun bahwa ia tidak apa-apa, Sehun pamit untuk kembali ke apartemennya. Tentu sebelumnya Sehun juga sudah menyuruh Junmyeon untuk menghubunginya jika terjadi sesuatu.

Junmyeon sangat menghargai usaha Sehun, tapi untuk kali ini ia tidak akan melibatkan Sehun. Esoknya, Junmyeon mengajukan cuti. Begitu pengajuan cutinya telah disetujui, lusa hari Junmyeon langsung terbang menuju Boston.

 

 

***

 

 

Selama kurang lebih dua jam lima belas menit penerbangan dari Indinapolis ke Boston, akhirnya Junmyeon tiba di Bandara Internasional Logan. Hari sudah terhitung pagi, tapi langit masih cukup gelap. Junmyeon melangkah dengan cukup cepat saat keluar dari terminal kedatangan. Ransel yang tidak menggembung di punggungnya mempermudah langkahnya. Sesampainya di luar, pemuda Kim itu segera mencari taksi.

“Selamat pagi, Tuan.” Sang sopir taksi menyapa ramah. Netranya melihat ke arah penumpangnya melalui kaca spion. “Ke mana tujuan Anda?”

Junmyeon mengambil nafas sejenak. Akhirnya setelah empat kali ditolak karena terisi penumpang, ia mendapatkan taksi yang kosong dan sudi mengantarnya. Dengan begini, ia berestimasi jika ia akan tiba di tempat tujuan saat jam makan pagi. Ia merogoh-rogoh kantong samping ranselnya untuk mengambil sesuatu, secarik kertas lebih tepatnya. “Tolong antar aku ke alamat ini,” ujar Junmyeon.

“Baik, Tuan.”

Taksi yang membawa Junmyeon akhirnya berhenti di halaman sebuah rumah dengan cat warna coklat dan marun yang berpadu apik. Pohon maple di halaman rumah tersebut tampak mulai berganti warna ke warna khas musim gugur: coklat, kuning, coklat-kemerahan. Daun-daun yang berubah warna itu jatuh ke rerumputan hijau di bawah, memberi suatu kontras yang sedap dipandang.

Setelah membayar, Junmyeon mulai memasuki halaman rumah tersebut. Melihat sekelilingnya, Junmyeon menyadari tidak ada yang banyak berubah di rumah itu sejak terakhir kali ia berkunjung beberapa bulan yang lalu. Bel pintu dipencet oleh Junmyeon. Sayup-sayup terdengar sahutan dari dalam.

Begitu pintu terbuka, meski sedikit, Junmyeon sudah bisa menebak siapa yang akan menerimanya. “Selamat pagi, Eommonim.”

“Junmyeon?” Nyonya Choi tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat ia melihat Junmyeon.

 

 

It’s time to face, to reveal, the truth

 

 

 

Maliciously Missing will be updated once every two weeks on Saturday. So stay tune!

Meet me on :

LINE | Twitter | Instagram | Wattpad | Curious Cat

One thought on “Maliciously Missing — Len K [Chapter 06]”

  1. kirain junmen bakal nemuin siwon, trnyt ke rmh ortu’ny minrin
    kshn minrin smp kna PTSD krn sexual abuse yg dy alamin jmn pre-teen 😥
    again.. smoga minrin bs sgera ditmukan dlm keadaan baik
    fithgting junmen.. you’re a good man!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s