[KEPING 4] Autumn Elegy: Shocking Remarks — Joongie

ae1_zpsub0m0v4z

Autumn Elegy

Joongie © 2017

Oh Sehun || Irene Bae || Jackson Wang || Kang Seulgi

Adult, AU, Angst, Romance

Chaptered (PG17)

This is a work of fiction. This is a fictional story about fictional representations of real people. No profit was made from this work. All cast belongs to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. Don’t be silent reader, please.

Start Here: Teaser => Run With Me => Stuck On Him => That Woman

Summary :

Dalam perjumpaan klasik, Irene mengenal Sehun. Pria seribu luka, orang-orang menjulukinya. Namun di mata Irene, Sehun seolah memohon disembuhkan dalam kebisuannya. Dan tanpa disadari Irene malah terperangkap oleh kemisteriusan juga teka-teki soal penghuni hati Sehun, ketika hatinya diam-diam berharap jadi wanitanya Oh Sehun.

.

Shocking Remarks

.

It’s over, it has withered, I tell myself
Where did I go? ♫
I’m in a place where I don’t even know ♫

.

Langkah-langkah yang lebar menghasilkan bunyi entakan keras dari tapak sepatu, berakhir tepat di belakang punggung Irene. Dia menoleh, menemukan Sehun terbungkuk memegang lutut, terengah-engah basah oleh keringat. Irene mengernyit, berdiri menawarkan bantuan. Tapi Sehun mengisyaratkan bila dirinya masih bisa mengatasi semuanya sendiri, walau butuh waktu agar paru-parunya bisa bekerja normal.

“Maaf, aku—sangat, sangat—terlambat,” katanya susah payah, berjuang bicara melalui napas yang pendek-pendek, “Kau … pasti sudah menunggu lama, ‘kan?”

Um, tidak juga. Aku juga baru sampai,” Irene berdalih, menelengkan kepala sambil mengangkat bahu—baru yang dimaksud adalah dua jam sepuluh menit dan tujuh detik penantian. “Aku mengerti kalau kau sibuk.”

Sehun buru-buru menampik, “Tidak, bukan begitu. Aku lembur semalam, ketiduran dan saat bangun tahu-tahu sudah senja. Sudah pasang alarm—ah sudahlah, kadang teknologi tidak benar-benar membantu.”

Irene mengulum senyum, ini pertama kalinya dia dengar Sehun bicara secepat dan sesemangat itu. Lucu. Lalu sambil mengulurkan saputangan dia berujar, “Mungkin kau butuh ini. Omong-omong, belum makan, ‘kan?”

“Sepertinya belum,” sahutnya, saputangan jingga itu digenggamnya menyeka keringat. Untuk sesaat dia hanyut dalam pemikiran. “Bagaimana dengan bistro Asia yang baru buka di simpang taman kota?”

Dehaman Irene kode setuju.

Sehun bertopang dagu, menyaksikan tingkah konyol Irene yang sibuk menyingkirkan potongan-potongan kecil wortel dalam gyoza. Usai menyeruput iced vanilla latte, dia mencari tahu, “Apa wortel semengerikan itu? Kau orang yang suka pilih-pilih makanan, ya.”

Irene menyeringai, selesai dengan gyoza yang jadi tak keruan bentuknya. “Buatku, iya. Sebenarnya agak memalukan kalau diceritakan. Dulu sekali waktu aku masih kecil, ibuku menyuap paksa sesendok penuh wortel sampai aku tersedak dan ada potongan wortel yang masuk ke hidung sampai aku sesak napas. Sejak itu hubunganku dengan wortel semakin tidak baik.”

Sehun tertawa renyah, menutupi mulut dengan punggung tangan. Lagi-lagi pemuda itu menampilkan sesuatu yang tidak pernah dilihat Irene. Dia merasakan getaran aneh menggembirakan menjalari meja bundar yang memisahkan mereka untuk duduk berhadapan. Irene menyuap sepotong besar gyoza ke mulut, berkonsentrasi mencerna pangsit gurih sekaligus menenangkan keterpanaannya. Matanya mengamati Sehun menjepit sedotan di antara bibirnya yang kenyal dan halus, rahangnya tergaris tegas, jakunnya turun naik. Maskulin.

“Dan kau sendiri, kenapa pesan vanilla latte bukannya ocha atau robusta? Kupikir pria cenderung tidak suka sesuatu yang manis-manis. Kebanyakan temanku lebih sering pesan Americano,” tutur Irene, menghanyutkan pikiran merayu bersama topik baru.

“Bukan berarti vanilla haram bagi pria, ‘kan?” Sehun menaikkan sebelah alis.

“Wow,” sahut Irene. “Kau membuatku kehabisan kata-kata.”

Sehun tersenyum mafhum, kemudian sembari menyatukan tangan di depan mulut dia menuju inti, “Jadi, apa yang ingin kauberikan padaku? Kalau itu ucapan terima kasih, sebaiknya tidak perlu.”

Irene berhenti makan, menyilangkan sumpit di piring lantas merogoh tas kertas di bawah meja. Dia menyodorkan ponsel Sehun, membuat laki-laki itu terbengong sesaat. Tidak percaya kalau Irene masih saja menyimpan ponselnya selama ini. Sementara Irene mempelajari reaksi Sehun, ponsel itu disentuhnya seperti benda primitif dan ada sedikit sorot geli dalam matanya.

“Kau masih menyimpannya?” cuapnya, masih dilanda ketidakpercayaan.

“Mungkin tidak berarti, tapi menurutku dia menunggu untuk dikembalikan. Ponselmu masih berfungsi, sebelum ke sini aku mengisi dayanya. Kalau mau periksa datamu juga silakan,” papar Irene, menatap tidak pasti dari kursinya yang seakan-akan terperosok semakin dalam.

Tidak akan ada alasan tersisa baginya untuk menemui Sehun.

Sehun sendiri cuek, fokus pada layar ponsel yang bersuara tik-tik-tik sewaktu jempolnya bergoyang lincah. Ponsel itu bergetar, lalu cepat-cepat diserahkan kepada Irene dan Sehun mengisyaratkan agar panggilan itu lekas dijawab.

“Simpan kontakku jadi nomor satu,” perintahnya, ikut menempelkan ponsel ke telinga dan menyorot Irene dengan pandangan jenaka. “Datanya sudah kuformat. Kurasa kau lebih perlu, ponselmu setengah hancur.”

Senyuman serta suaranya yang hangat tidak mampu dielak. Irene menemukan dirinya memerah. Dia terjerembab ke dimensi ketiga. Sehun yang baru mirip taman riang yang dibangun kembali, dipasangi banyak lampu dan wahana baru. Mungkin karena itu penampilannya kini lebih bercahaya. Dia mematut Sehun sebagaimana wanita diluluhkan. Bagaimana mungkin laki-laki itu membuatnya tenteram sekaligus merasa tidak nyaman?

Sehun menangkap tatapannya, kondisi ini menggelisahkan. Ponselnya berdering, menyelamatkan Irene dari keheningan yang kian canggung. Senyum Sehun bertambah lebar, memperlihatkan gigi putih yang sempurna. Dia berdiri di bawah pohon perdu di halaman kafe setelah mengode Irene sebelumnya. Melirik Irene sesekali di antara percakapan yang asyik, berharap gadis itu maklum.

“Sudah sampai? … Tidak, aku sedang di luar … Ayah dan ibumu juga ikut? … Oh, oke. Tunggu aku di sana.”

Irene mencuri dengar, sementara tangannya saling meremas di bawah meja. Dari caranya bicara, besar kemungkinan orang itu Seulgi, kekasihnya. Ini bentuk teguran yang halus, Irene bergidik tidak tenang. Sehun menutup ponsel, kembali kepada Irene dengan wajah menyesal. Dia mati-matian bersikap normal, duduk tegak dan meluruskan bahu. Juga membuang segala ekspresi kecewa dari tampangnya.

“Maaf,” nada suaranya menurun, Sehun tidak duduk melainkan meraih jaket kulit yang tersampir di kursi. Dia buru-buru. “Sepertinya aku tidak bisa mengantar—”

“Aku hafal jalan pulang,” Irene menyela. Dia berdiri, melilitkan syal ke leher dan menyembunyikan separuh wajahnya. Awan mendung berarak dari selatan. Angin bertiup cukup kencang membuat ujung syalnya berkibar-kibar.

Sehun menjulurkan tangan sebelum mereka berpisah. Irene menjabatnya ragu-ragu, merasakan sentuhan jari-jari Sehun yang dingin sebelum menariknya lagi. Dia tersenyum sebelum pamit, tapi senyuman itu tidak menyentuh matanya. Detuk sepatu tumit tingginya membawanya pergi menjauh. Irene berbalik di persimpangan Town Hall, menyaksikan Sehun tersenyum lebih lebar kemudian merangkul gadis bergaun tosca yang turun dari Mercedes dengan mesra. Dia bisa mereka kebahagiaan di sana, tanpa perlu memerhatikan lebih jelas seperti apa rupa Seulgi. Gadis itu berpinggang ramping, kulitnya seputih porselen dan caranya menata rambut menegaskan kelasnya.

Hujan turun dengan rintik-rintik yang tajam. Menusuk-nusuk Irene dengan kenyataan, membuatnya semakin menyusut ke dalam mantel seperti siput dalam cangkang. Alih-alih membandingkan diri, Irene memilih sadar diri dan memulihkan apa yang tersisa dari akal sehatnya. Lupakan, Irene! Dia memarahi dirinya sendiri.

 —oOo—

Wajah dalam cermin itu memandangnya kasihan. Sialan Sehun dan segala bayang-bayangnya yang membekas. Irene mengembuskan napas, tinggalkan itu di belakang dan dia tidak perlu melihat Sehun lagi. Dia menguncir tinggi rambutnya dan mengalungkan stetoskop. Dia sudah mempersiapkan dirinya semalaman untuk tampil berkesan di hari pertama. Kepala Suster, Maria, menerimanya dengan baik. Begitu pula Joe, Andreas dan Leona yang menyambutnya tanpa pandang ras.

Irene duduk di sudut meja dekat dinding menghadap komputer. Di sebelah kirinya ada setumpuk data pasien yang harus sudah di-input sebelum tengah hari. Baru tujuh menit Irene mengernyit, bocah delapan tahun mesti dirawat karena tiga stroberi tersangkut di hidung dan menutupi jalur napasnya. Bagaimana bisa stroberi muat di lubang sekecil itu?

“Itu biasa,” cetus Andreas tiba-tiba dari balik punggungnya. Dua puluh lima tahun, berambut merah dan bermata biru. “Akhir-akhir ini banyak kasus aneh. Ya karena tren konyol belakangan ini.”

Irene mengangguk-angguk, mengamati Andreas cekatan memindahkan hasil lab ke data pasien. Dia tahu pria Irlandia itu belum selesai bicara dan menunggunya melanjutkan, “Tahu tipe pod challenge? Seingatku ada empat remaja yang mesti kuras lambung di sini.”

“Dasar budak kekinian,” miris Irene sambil menggeleng-geleng.

Morning,” sapaan yang bercampur kuap itu memecah obrolan.

Dokter berpakaian serba hijau mencogok dari balik meja. Tangannya yang pucat dan dijalari urat kebiruan terjulur melalui Irene, meraih daftar kunjungan di rak paling atas sebelahnya. Irene tidak bisa melihatnya jelas, wajahnya masih ditutupi masker. Dengan bau antiseptik setajam ini, dia yakin dokter ini baru menyelesaikan operasi. Mata mereka bertemu selintas, Irene duduk canggung, tatapan itu menundukkannya.

“Semua lancar, Stephan?” tanya Andreas, berdiri bertopang dagu mengaguminya. Dokter itu mengangguk sambil meregangkan badan. Seperti baru sadar soal anggota baru, Andreas berbalik menunjuk Irene dengan memiringkan kepala. “Kenalkan, dia perawat baru, Ire—”

“Irene,” sambung si Dokter, menurunkan ikat kepala dan melepas maskernya.

Irene tidak bisa percaya matanya sendiri. Senyum yang tertuju padanya itu milik Sehun. “Ta-tapi, Stephan?” herannya, mempelajari Sehun dari kepala sampai kaki.

“Oh, sudah kenal rupanya,” timpa Andreas, menengok malas dari ujung matanya berbulu lentik. “Oi Irene, apa-apaan dengan mata melotot itu? Stephan nama Inggris-nya.”

Irene menoleh pada Andreas, seolah hal itu adalah baru baginya ketika ‘Irene’ juga bukan nama Korea-nya. Kerutan di keningnya berangsur pudar, meski Sehun masih merupakan kejutan besar di sini. Irene menata sikap dan melenyapkan keterkejutannya bersama satu tarikan napas yang dalam sewaktu Sehun mengulurkan tangan.

Irene menyalami Sehun dengan kikuk ketika laki-laki itu berbasa-basi, “Tolong kerja samanya.” Dan tidak memerhatikannya lagi, saat Irene diam saja Sehun mengajukan pertanyaan baru, “Di antara kalian berdua, ada yang bisa temani aku visit?”

“Debby?” Tampang Andreas berubah memelas, dia menggeleng lalu mengangkat tangan tanda menyerah. “Jangan aku, ya? Terlalu banyak bawang di sana. Bulu mata baruku tidak tahan badai air mata.” Dia melirik Irene dengan ekspresi penuh harap.

“Aku masih harus menyelesaikan ini,” balas Irene, mengode pekerjaan yang terabai.

“Sayangku,” panggil Andreas kemayu, dia mengentakkan kakinya ke lantai dan kursinya yang beroda langsung meluncur memepet Irene. “Perkara gampang. Serahkan pada Andreas. Pergilah work tour dengan Stephan, semua bakal beres.”

Dinding di sepanjang koridor dipenuhi gambar mural: Minion, Spongebob, Disney Princess dan Little Pony. Mungkin karena lantai tiga memang diperuntukkan bagi pasien anak-anak. Irene berjalan dua langkah di belakang Sehun, meninggalkan Andreas yang berseru, bye-bye. Ada ayunan kayu kecil di dekat jendela besar utama yang menghadap langsung ke taman rumah sakit. Pasien biasa berjemur ditemani para orangtua di sana, mendapatkan sinar matahari dan bertukar suasana. Juga ada area bermain sederhana yang tidak jauh dari sana terdapat mesin minuman yang uniknya cuma berisi berbagai rasa susu.

Papan catatan medis jatuh dari tangan Sehun, disusul tubuhnya yang terhuyung. Dia berpegang ke dinding, badannya mendadak lemas dan pandangannya berkunang. Irene berlari cemas, memegangi Sehun dan bertanya, “Ada apa? Kau baik-baik saja?”

Sehun tidak menjawab, wajahnya pucat dan berkeringat dingin menahan mual. Irene memapahnya ke bangku tunggu, membantunya bersandar lalu menyemburkan kekesalan, “Biar kutebak, kau sudah di ruang operasi semalaman dan belum makan apa pun, ‘kan?”

“Masih saja cerewet,” bisik Sehun, geli. Dia kembali bangkit, “Ini bukan apa-apa.”

Tetapi Irene kontan menekan bahunya kuat-kuat, memaksa Sehun tetap di posisinya. Jarinya menunjuk sebagai ultimatum dan suaranya berubah tegas, “Diam di sini sampai aku kembali dengan sesuatu yang bisa mengganjal perutmu.”

Yang diperintah akhirnya mengalah. Sehun menjengitkan kepala, satu tangannya terlipat di dada sementara lainnya terkepal menyangga dahi. Irene kembali ke ruang perawat, mengeruk tiap makanan dalam ranselnya. Di persimpangan koridor langkahnya melambat nyaris berhenti seiring pemikiran lain datang. Irene mengambil waktu untuk bernapas. Dia berusaha terlihat tidak terlalu peduli dan muncul dengan santai.

Bangku tunggu itu kosong. Sehun lenyap memancing kesal Irene. Botol air di tangannya berkeriut lantaran digenggam terlalu kencang. Kebiasaan buruknya kumat lagi.

“Oh, ya? Lalu apa yang dilakukan Mimia Avocado?” suara Sehun sayup-sayup.

Dari kamar 312 yang pintunya ternganga. Irene mengendap mencari tahu. Benar rupanya. Sehun duduk membelakangi arah masuk, menghadap anak berpiyama rumah sakit. Anak itu duduk berpegangan pada tepi ranjang sambil mengayun-ayunkan kaki. Lalu dengan lagak berpikir keras, si anak menyentuh dagu dan mengetuk-ngetukkan telunjuk di pipinya yang berlesung.

“Menyelamatkan Lolonoa Escargot dan BOOM! Tofu Tapa meledak ke kuah kaldu, bercampur jadi shabu-shabu bersama sekutunya Mushrumo Redo,” ceritanya antusias, sampai berdiri dan melebarkan tangan menggambarkan kedahsyatan ledakan imajinasi.

“Permisi,” sapa Irene bersama ketukan pintu.

Sehun menoleh. “Oh, Irene,” sambutnya kemudian melambaikan sekotak jus. “Debby memberiku ini. Kemari dan duduklah dengar cerita soal Kerajaan Udon.”

“Kedengarannya seru,” Irene menimpali, lanjut mencolek dagu Debby sebagai perkenalan. “Hi, Dear. Aku Irene, perawat barumu yang cantik.” Dia mengedipkan mata.

Debby Christ tertawa memperlihatkan gigi depannya yang ompong. Awalnya Irene pikir dia anak perempuan mengingat namanya yang manis. Bocah laki-laki itu memakai topi rajut menyelimuti kepalanya yang tak lagi ditumbuhi rambut. Ada kanula terpasang di hidungnya. Kulitnya putih pasi, bibirnya mengelupas dan sudut-sudutnya luka. Badannya tinggal tulang, bahkan kuku-kukunya kelihatan kering. Debby hanya diizinkan pulang dua hari dalam enam bulan perawatan. Sekarang Irene mengerti maksud Andreas.

Kamar inap sudah jadi rumah kecilnya, tempat imaji kuatnya menolak pupus. Dunia boleh membatasi geraknya, tapi dunia khayalnya meluas tanpa ujung. Di sana hidup Mimia Avocado dan Lolonoa Escargot, karakter kebanggaannya yang tidak pernah bosan dia ceritakan. Debby mengenalkan ceritanya kepada Irene dengan lincah; gambar krayon sepasang tokoh berkepala alpukat dan bekicot yang bergandengan tangan di atas bukit. Kalaupun ada murung di hati orangtua Debby—yang duduk saling menguatkan di seberang ranjang—keceriaan dan semangat sembuh sang anak lah yang jadi penawarnya.

“Irene,” imbau Sehun sewaktu mereka meninggalkan ruangan Debby.

Yes, Doc?

Sehun berjalan santai sambil menjejalkan tangan ke saku. “Mau jadi pendampingku?”

tbc_zpstb22jlav

Those times felt like a lie ♫
It can’t be, I can’t be, I tell myself ♫


.

633

Ano … eto … GOMENNASAI MINASAN!

Iya, iya caci maki saja hayati tuh, update terakhir Mei 2017 sekarang udah September 2018. Ngga punya pembelaan lain, selain hilang minat nulis setahun terakhir dan ya baru semangat sekitar sebulanan ini. Lagi terpapar kewibuan juga, hmm aku bau bawang *curcol*

Semoga aku beneran bisa menyelesaikan tulisan ini, aamiin (/-\)

BTW UNTUK CHAPTER AWAL SAMPE 3 AKU EDIT CERITANYA SEDIKIT, KALO KALIAN LUPA SILAKAN DICEK SENDIRI YA, MAKASIH LOH :’))

Buat yang sudah baca sempatkan ninggalin feedback ya, luv luv luv ❤

XOXO,

Joongie

2 tanggapan untuk “[KEPING 4] Autumn Elegy: Shocking Remarks — Joongie”

  1. Salam kenal, aq orang baru alias baru baca khusus cerita author Joongie. Saya baca dari awal cerita hingga chapter ini,Walau masih rada bingung sedikit..hehe.Suka sama cast sehun..pasangan klop..lanjut ya thor..

  2. Hai, aku mungkin baru baca cerita kamu yang ini. Langsung part ini karena ada Sehun di cover depan hahaha. Bahasanya ringan banget dan cantik. Aku bacanya nggak bosen 😍. Semangat nulisnya, aku tunggu karya kamu yang lain.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s