[EXOFFI FREELANCE] Cold

cold.jpg

Cold

aliensss

Genre : au, drama, romance, fluffy

Length : oneshot

Rate : PG-17

Cast

Kim Sae Jin (oc), Park Chanyeol (exo)

Summary

Tentang satu hari yang hangat di tengah musim dingin

Disclaimer : alur dan ide cerita asli milik aliensss. Semua cast milik mereka yang berhak. Cerita ini dibuat hanya untuk hiburan semata. Mohon maaf untuk semua kesalahan yang terdapat dalam tulisan ini, karena yang ngebuat belum berpengalaman

Happy reading !!

♣ ♣

Seorang pria yang baru saja keluar dari kamar mandi mengerutkan sedikit dahinya, saat didengarnya sang istri yang sedang berbaring menyamping diranjang, batuk. Diamatinya wajah gadis itu dan satu kesimpulan ia dapatkan.

“kau mandi air dingin kemarin?” tanyanya sembari membuka lemari pakaian. Ia mengambil setelan kerjanya dan berbalik menghadap si istri yang sekarang sedang berusaha duduk. Melihat langkah tertatih istrinya yang sedang menuju kamar mandi, ia yakin bahwa perempuan itu sedang demam. Ia sudah menikah selama 3 tahun. Waktu yang cukup untuk menghapal sebuah kebiasaan bahwa Sae Jin istrinya itu akan lebih sering terserang demam di musim dingin seperti sekarang. “sudah tahu tak tahan dingin, masih saja mandi air dingin” omelnya pelan sembari memakai pakaian.

Didalam kamar mandi sana, Sae Jin bukannya tak mendengar omelan suaminya. Ia bisa saja menjelaskan apa yang menyebabkan ia harus mandi air dingin kemarin malam, jika kepalanya tak sesakit saat ini. Untuk berdiri saja ia sudah bersusah payah, konon meladeni pria bernama Chanyeol itu. Lagipula, kalaupun Sae Jin memberitahu yang sebenarnya, pria itu juga tak akan perduli.

Keluar dari kamar mandi, Sae Jin menatap Chanyeol dengan sinis. Ia kira pria itu sudah pergi, tapi ternyata si jangkung itu masih berdiri di sebelah ranjang.

“aku tidak pergi mengajar hari ini” Sae Jin naik ke ranjang dan kembali berbaring. Ia memejamkan matanya setelah menaikkan selimut

“obatmu masih ada kan?” sembari berkacak pinggang Chanyeol bertanya

Sae Jin membuka matanya dan menatap pria itu tak habis pikir. Tapi beberapa detik kemudian, tatapan kesal itu berubah menjadi tatapan sedih. Ya, beginilah Chanyeol. Sejak mereka menikah hingga sekarang, pria itu tak pernah menunjukkan sikap peduli. Meski mereka adalah suami istri, Sae Jin tak pernah merasa bahwa Chanyeol menyayanginya. Memang, semasa mereka pacara pun, Chanyeol bukanlah tipe pria yang manis. Ia selalu kaku, datar, dan terkesan sangat acuh dalam segala hal. Bahkan sewaktu melamarnya dulu, Chanyeol juga tetap demikian. Sae Jin kira setelah mereka menikah Chanyeol akan berubah menjadi lebih hangat. Tapi apa? Sikap dingin pria itu malah semakin menjadi-jadi.

“obatku masih ada” jawab Sae Jin. “pergilah bekerja. Hati-hati dijalan” ucap gadis itu selagi merubah posisi tidurnya. Sekarang ia sudah membelakangi tempat Chanyeol berdiri

Untuk beberapa sekon berikutnya, Sae Jin merasa ruangan itu hening. Melawan rasa sedihnya, ia kembali mencoba tidur. Tidak ingin berbohong, istri mana yang tak ingin ditemani suaminnya disaat sakit? Tapi mau bagaimana? Chanyeol bukanlah suami yang bisa dimintai hal seperti itu. Lebih baik tidur dan cepat-cepat menyembuhkan diri.

Dibelakang Sae Jin, Chanyeol masih berkacak pinggang dengan alis sedikit terangkat. Sebenarnya ia masih ingin mengomeli Sae Jin. Ia tak habis pikir. Apa istriya itu memang senang berada dalam keadaan sakit seperti sekarang? Kenapa dia harus mandi air dingin, saat jelas-jelas tahu bahwa tubuhnya sangat gampang terserang demam ditengah cuaca seperti sekarang. Ini sudah yang ketiga kalinya dalam 2 minggu Sae Jin sakit. Dan menurut Chanyeol itu sudah lewat dari batas wajar.

“kau memang ingin sakit ya?” pria itu membuka suara sembari bersidekap

Sae Jin terkejut. Ia kira Chanyeol sudah pergi. Dengan mata berat, ia pun membalik tubuhnya dan mendapati wajah tak bersahabat dari Chanyeol.

“kau suka terbaring tak berdaya seperti sekarang? Kau suka rasa obat-obat itu?”

Sae Jin tak mengerti. Apa yang Chanyeol ingin dengar dari semua pertanyaan tadi? Siapa orang didunia ini yang ingin sakit?

“aku sedang tak punya tenaga untuk bertengkar denganmu. Hentikan saja”

“siapa yang ingin bertengkar? Aku hanya bertanya. Kau suka meminum semua obat itu? Kau tak takut tubuhmu mendapat efek buruk dari semua antibiotic itu? Atau jangan-jangan, kau sengaja sakit hanya untuk membuatku repot?” Chanyeol berusaha menyamarkan rasa marahnya yang memuncak

Sae Jin duduk, ia menyibak selimutnya dan akhirnya melempar selimut itu pada Chanyeol. Tenaganya serasa sudah habis setelah melakukan gerakan tadi, dan nafasnya mulai tak beraturan. “aku merepotkanmu? Kapan aku pernah memintamu mengurusiku saat aku sakit? Apa aku memintamu tak pergi bekerja agar bisa mengantarku ke dokter? Apa aku merengek untuk kau temani dirumah? Aku bahkan diam saja saat kau bahkan tak bertanya bagaimana keadaanku !” wajah Sae Jin memerah karena suhu tubuhnya dan karena teriakannya barusan.

Chanyeol masih mempertahankan posisi juga gesture tubuhnya selama beberapa belas sekon, sampai akhirnya ia kembali berucap, “dasar gadis tengik. Kau selalu saja mengambil kesimpulan dari sudut pandangmu” katanya sembari memasukkan tangan ke saku celana dan menatap lantai marmer kamar mereka

“jangan mengajakku bertengkar hari ini. Besok saja saat demam sialan ini sudah pergi” Sae Jin bangkit dan berjalan menuju Chanyeol. Ia sedikit bingung akan ekspresi yang sekarang Chanyeol tunjukkan, tapi ia tak mau berpikir lebih jauh atau bertanya langsung. Gadis itu membungkuk lemah dan memungut selimutnya. Berbalik ke ranjang dan menjatuhkan diri disana dengan sisa tenaga. “jangan hanya pakai kemeja dan jas. Diluar sangat dingin” ucapnya sebelum tertidur

Dua menit berlalu dan Sae Jin yakin Chanyeol sudah pergi. Kamarnya sudah hening kembali. Gadis itu pun semakin jatuh tertidur. Tapi sebelum benar-benar lelap, ia merasa sesuatu menyentuh dahinya. Sesuatu yang sangat familiar dan juga hangat.

Satu hari penuh Sae Jin habiskan dirumah. Dalam keadaan sakit dan sendirian, bahkan hingga malam datang. Tak sanggup menunggui Chanyeol pulang, ia pun tidur.

Satu jam setelah Sae Jin tidur, barulah Chanyeol sampai dirumah. Pria itu mendapati ruang tamunya kosong lagi. Pemandangan yang selalu ia temukan saat sang istri sakit. Karena jika tidak, ruang tamu itu pasti akan meriah. Tv menyala, bermacam-macam makanan manis di meja, tumpukan buku di sofa dan yang paling penting, Sae Jin yang tertawa atau marah-marah saat menonton sebuah film atau membaca bukunya.

Sadar dari lamunannya, dengan langkah malas ia menuju kamarnya. Membuka pintu dengan hati-hati ia mengamati Sae Jin sembari melepas coat, jas, juga simpul dasinya. Tak bisa berkonsentrasi pada sepatunya, ia memilih duduk diatas sebuah kursi didekat meja rias. Tangannya membuka satu-persatu sepatunya dan matanya masih terpaku pada gadisnya.

“huft…” selesai membuka sepatu ia menghela nafas. Berjalan menuju kamar mandi, ia bergumam sepelan mungkin, “air dingin sialan”

Harusnya sesudah mandi air hangat di tengah dinginnya malam, Chanyeol bisa sedikit merasa tenang. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Keluar dari kamar mandi, ia merasa kesal setengah mati. Keran air hangat di kamar mandi mereka ternyata rusak. Itu artinya, kemarin malam Sae Jin bukannya sengaja mandi air dingin. Dan apa yang sudah Chanyeol lakukan? Ia mengomeli gadis itu habis-habisan.

Kehabisan kata-kata dan tak tahu harus melakukan apa, Chanyeol berdiri di samping ranjang. Menatap istrinya yang sedang sakit itu sambil sesekali menggaruk kepala.

.

.

Keesokan paginya, Sae Jin terbangun karena merasa tenggorokannya kering. Saat gadis itu membuka mata ia melihat Chanyeol sudah siap dengan pakaian kerja. Tak mengucapkan apa-apa lagi, gadis itu mengambil botol air mineral dari atas meja dan meneguknya hingga tersisa separuh. Sekali lagi melirik Chanyeol yang ternyata juga sedang menatapnya, Sae Jin menahan diri untuk tak membuka mulut. Ia bisa pastikan, satu kalimat saja keluar dari mulutnya maka kalimat itu pasti diiringi tangis.

“kau tidak pergi ke sekolah?” tanya Chanyeol saat dilihatnya sang istri kembali menarik selimut

Sae Jin menggeleng lemah. Ia kira setelah meminum obat kemarin, demamnya akan segera pergi. Tak ia sangka malah semakin parah. Tubuhnya masih panas, hidungnya tersumbat, batuknya semakin menjadi dan kepalanya serasa dipukuli banyak orang.

“kau masih demam?”

Sae Jin tak bisa menahan air matanya lagi. Tega-teganya Chanyeol bertanya. Jadi semalaman ini suaminya itu bahkan tak memeriksa suhu tubuhnya? Oh, diabaikan saat sakit ternyata jauh lebih menyakitkan daripada apapun. Sae Jin memilih tak menjawab dan menatap Chanyeol benci. Ia membiarkan Chanyeol melihat air matanya yang jatuh semakin banyak itu

Didepan Sae Jin, tangan Chanyeol bergerak menuju saku celana. Pria itu mengeluarkan ponselnya dan membuat sebuah panggilan. Ia menempelkan benda persegi itu pada telinganya, “Pak Shin, “ sembari bicara Chanyeol berjalan keluar dari kamar

Saat Chanyeol menutup pintu dari luar, tangis Sae Jin pun pecah. Gadis itu terisak karena tak bisa menahan pedih hatinya. Meski ia sudah menangis, Chanyeol masih tetap saja lebih mementingkan pekerjaannya. Suaminya itu bahkan tak bertanya apa-apa dan malah menghubungi orang kantor.

“dasar pria brengsek !”

Lagi dan lagi, Sae Jin hanya bisa memlih memejamkan mata. Ia butuh tidur sebentar lagi sebelum pergi ke dokter nanti siang, sendirian.

..

“dia sudah demam 3 kali dalam 2 minggu. Bisakah kau berikan semacam vitamin agar dia tak cepat terserang virus? Ini musim dingin, aku takut dia bisa lebih parah dari demam yang ini”

Sayup-sayup Sae Jin mendengar suara seorang pria. Suaranya tak asing, tapi nadanya sangat asing. Tak pernah ia dengar si pemilik suara ini menyelipkan nada khawatir di kalimatnya selama ini. Apa Sae Jin sedang bermimpi?

Pelan-pelan gadis itu membuka matanya dan merasakan ada sesuatu yang dingin dikeningnya. Membuka mata sepenuhnya ia menemukan Chanyeol dan paman Han didepannya. Paman Han adalah dokter keluarga Chanyeol. Seingat Sae Jin ia tak membuat janji dengan dokter itu. Lalu kenapa ia ada disini?

“apa dia kusuruh berhenti berkerja saja, paman?” Chanyeol bertanya sembari mengacak rambutnya

“kau tahu Sae Jin berkerja disana karena dia suka”

“bukan berhenti selamanya. Hanya sampai musim dingin selesai”

Paman Han tertawa kecil mendengar Chanyeol bicara demikian. Jujur saja, menjadi dokter keluarga Park selama 10 tahun, baru kali ini ia melihat Chanyeol bicara dengan tergesa-gesa dan juga terkesan panik. “kau kira sekolah itu milikmu?”

“apa kubeli saja sekolah itu?”

Sae Jin sepenuhnya sadar. Ia sudah duduk di ranjang dan handuk yang ada didahinya sudah ia turunkan. “kenapa kau disini?” tanyanya pada dua pria didepannya

“ah, Chanyeol menyuruhku datang. Bagaimana perasaanmu sekarang? Kurasa pasti sudah lebih baik”

“aku bukan bertanya padamu, Paman. Aku bertanya pada si breng_” Sae Jin menggigit bibirnya. Jangan sampai orang luar tahu apa yang terjadi dalam rumah tangganya.

..

Paman Han sudah pergi 5 menit lalu dan sekarang hanya ada Sae Jin dikamar itu. Tak lama, Chanyeol datang dengan sebuah nampan yang diatasnya ada semangkuk bubur. Pria itu duduk di sebelah tempat tidur, lalu memberikan bubur tadi pada Sae Jin. “makan ini dulu, lalu minum obatmu. Itupun kalau kau memang ingin segera sembuh”

Sae Jin menatap suaminya lekat-lekat. Apa benar dia ini pria yang bicara dengan paman Han tadi? Bukannya apa-apa, tadi Sae Jin jelas mendengar Chanyeol bicara seperti orang khawatir, tapi sekarang pria itu sudah kembali jadi menyebalkan

“kusuruh kau makan, bukan memelototiku”

Sae Jin buru-buru mengembalikan mangkuk tadi ke atas nampan yang masih Chanyeol pegang. Ia kemudian menjatuhkan dirinya diatas ranjang lagi. Ia merasa sangat pusing, hingga duduk saja rasanya tak bisa.

“aku tak mau makan, kepalaku berputar-putar”

Chanyeol kemudian menaruh nampannya di atas meja kecil di sebelah kepala tempat tidur. Ia berpindah duduk ke tepi ranjang. Dengan satu tarikan tiba-tiba, ia berhasil membuat Sae Jin duduk. Ia lalu menyenderkan kepala Sae Jin ke bahunya, hingga posisi mereka sekarang seperti orang yang sedang berpelukan. Chanyeol hanya tak ingin Sae Jin limbung karena tak sanggup duduk.

“bukan merepotkan. Aku hanya tak pernah tahu bagaimana caranya mengurusi orang sakit” ucap Chanyeol sembari menumpuk bantal agar bisa membuat Sae Jin setengah berbaring nantinya.

Selagi Chanyeol melakukan itu, Sae Jin malah terlihat memejamkan mata. Orang sakit tak hanya butuh obat. Ia juga butuh pelukan dari seseorang. Dan ucapan prianya tadi entah mengapa mampu membuat semua rasa marah Sae Jin hilang. Chanyeol bukannya tak perduli, ia hanya tak tahu cara menunjukkannya.

“harusnya pelukanmu juga sama dinginnya dengan sikapmu” gumam gadis itu kemudian

Chanyeol seketika menghentikan gerakan tangannya diatas bantal. Terkesan ragu-ragu, pelan tapi pasti, ia memindahkan tangannya ke kepala Sae Jin. Menepuk pelan disana sembari mengeratkan pelukannya

“aku bukannya sedang membela diri, tapi aku memang benar-benar tak tahu caranya” Chanyeol jujur. Meski sudah menikah 3 tahun, ia tetap belum tahu bagaimana caranya menunjukkan apa yang hatinya ingin lakukan. Rasanya sulit hanya untuk sekedar menghubungi Sae Jin dan mengingatkan gadis itu untuk makan siang. Rasanya sangat kekanakan jika dia berterus terang bahwa setiap dirinya pulang bekerja, ia ingin segera dipeluk Sae Jin.

Sae Jin mendorong Chanyeol dan menatap mata pria didepannya dengan jelas. “tak semua orang bisa membaca apa yang matamu tunjukkan dengan cepat” katanya sambil memukul pipi Chanyeol pelan. “maaf untuk mengataimu brengsek”

Chanyeol menatap istrinya dan bersumpah tak akan pernah menyesali keputusannya menikahi gadis itu. “akan kumaafkan setelah kau makan” ucap si pria sembari membaringkan Sae Jin. Ia kemudian menaruh nampan tadi didepan Sae Jin dan menyuruh gadis itu memakannya.

Sae Jin berdecih. Kenapa Chanyeol tidak menyuapinya saja? Ah, dasar menyebalkan. Dengan terpaksa gadis itu menyendok buburnya sendiri. Dan beberapa menit kemudian, mangkuk itu pun kosong. Chanyeol lanjut menyuruh Sae Jin meminum obatnya, dan gadis itu menurut dengan mudah.

“tidurlah. Kata paman, setelah minum obatnya satu kali tubuhmu akan lebih baik”

Sae Jin menatap suaminya penuh minat, membuat Chanyeol segera berdiri karena entah mengapa ia merasa tatapan itu sangat menggelikan

“aku tidur sendiri?” tanya gadis itu

“kau mau tidur dengan pria lain?”

“aish…kurasa kau memang lebih dingin dari musim dingin” Sae Jin pun menyerah membujuk saat dilihatnya Chanyeol keluar kamar sembari membawa nampan tadi

Lima menit kemudian, Sae Jin merasa ada orang lain yang tidur dibelakang tubuhnya. Membuka mata sedikit gadis itu melihat tangan Chanyeol sudah memeluknya dari belakang. Dan tanpa sungkan, gadis itu mengembangkan satu senyuman indah di wajahnya.

“pakai selimutmu dengan benar. Udaranya semakin dingin” kata Chanyeol

“tidak dingin lagi” Sae Jin memundurkan tubunya agar bisa semakin masuk dalam pelukan Chanyeol

“maaf untuk keran air panas yang rusak” kata Chanyeol. “menikah denganku, itu artinya kau harus lebih sering menjelaskan dan lebih terbuka meminta hal yang kau inginkan. Mana aku tahu kau senang ditanyai saat sakit. Darimana aku tahu bahwa kau ingin ditemani ke dokter?”

“hmm” Sae Jin hanya bisa bergumam. Chanyeol benar, udara semakin terasa dingin. Alhasil ia kembali merengsek dalam dekapan Chanyeol

“kau bilang kau mau tidur kan?”

“hmm”

“kalau begitu berhenti memundurkan tubuhmu” Chanyeol mengeratkan pelukannnya setelah menaikkan selimut mereka hingga dagu Sae Jin.

“kenapa?” Sae Jin membuka matanya dan tersenyum jahil

“jika kau terus begini, kau tak akan kubiarkan tidur hingga pagi”

Fin

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Cold”

    1. hai..terima kasih udah baca dan komen…

      iya, si tiang dibuat kurang peka…^^
      bagian akhirnya manis ya? baguslah..^^

  1. Hahaha..si abang chanyeol..bisa juga ngegombal..biar sikap kayak es batu..tapi tetep..romantis g bisa di sembunyikan..cakep..thor ceritanya..ringan tapi bermakna..oiya thor..aq kok belum dapat email PW OUR STORY (back00) ya?

    1. hai…hai…
      terima kasih udah baca dan ninggalin komen
      es batu tapi romantis ya? hohoho. Chan, Chan. punya kembaran nggak ya dirimu?…

      pw nya belum dikirim ya? mungkin kakak2 stafnya lagi sibuk, jadi belum bisa ngirim. Sabar yoo..^^

      thanks…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s