[CHEN BIRTHDAY PROJECT] The Biggest Fear by ShanShoo

chen

ShanShoo’s present

Kim Jongdae with OC

angst, hurt // vignette // pg-15

disclaimer : I just own the plot!

—oOo—

WordPress : ShanShoo || Wattpad : @Ikhsaniaty

—oOo—

“Jongdae?”

Saat nama itu terlontar dari bibir Ahn Minji, Song Taera terperanjat kaget. Gadis itu seperti dipaksa keluar dari alam mimpinya lantaran suara Minji dikategorikan cukup keras dan melengking; cocok dijadikan sebagai pengingat bangun tidurmu, kalau boleh menambahkan.

Jongdae tidak terlalu menghiraukan Ahn Minji yang berjalan ke arahnya dengan mata berbinar senang serta senyum yang merekah. Matanya langsung terpaku pada sosok gadis yang saat ini tengah berbaring lemah di atas tempat tidurnya; Song Taera.

“Tubuhnnya tiba-tiba melemah dan panas saat dia menemaniku melakukan beberapa perawatan sebelum pertunangan kita. Aku sudah memaksanya untuk dibawa ke rumah sakit, tapi dia menolaknya, dan kau tahu? Dia bilang, dia hanya ingin pulang kemari dan butuh tidur yang cukup agar kondisinya kembali normal,” jelas Minji, seolah Taera tidak mampu menjelaskan hal itu kepada Jongdae―dan kenyataannya memang iya―dengan nada menggebu-gebu.

“Taera benar-benar keras kepala, bukan?” pungkas Minji, mengalihkan sorot khawatirnya pada Taera yang memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Jongdae yang kian melekat.

“Aku baik-baik saja. Tidak perlu berlebihan seperti itu,” sahut Taera, serak. Tidak menatap satu pun dari mereka yang berdiri di dekatnya.

Ya, Song Taera,” Jongdae bersuara. “Kau harus tetap ke rumah sakit!” tegasnya.

“Tidak perlu.” Taera mengembuskan napas lelah dan memejamkan matanya yang terasa perih. “Aku hanya butuh tidur. Hanya itu!” dia ikut berujar tegas.

Minji yang melihat semua itu hanya mengedipkan matanya cepat. Ada apa ini? Pikirnya.

Jongdae berkacak pinggang. Pikirannya kacau sekarang. Ia terpaksa meninggalkan sederet laporan keuangan di kantornya demi menyambangi kediaman gadis Song itu yang enggan bersitatap dengannya.

Oh, dan tentu saja, Minji serta Taera tidak tahu mengenai kesibukannya itu. Kala Minji meneleponnya―memberi tahu kondisi Taera disertai suaranya yang terdengar panik, Jongdae hanya mengatakan iya, lantas menutup teleponnya sebelum ia berlari keluar ruangan menuju mobilnya.

“Omong-omong, terima kasih, Minji, sudah mengantarnya pulang dengan selamat,” kata Jongdae, memecah ketegangan yang tiba-tiba saja datang, membisukan ketiga bibir di dalam ruangan cukup sempit itu.

“Oh? Ya.” Minji mengangguk-angguk, lalu tersenyum kecil. “Aku juga sudah menelepon dokter pribadiku agar datang kemari untuk mengecek kondisinya. Mungkin dia sedang dalam perjalanan,” beri tahu Minji tanpa menatap Jongdae. Aneh sekali. Kenapa juga Minji harus bersikap demikian?

“Mm… terima kasih.” Jongdae mengembuskan napas. “Kau mau pulang? Mau kuantar?” tawar Jongdae langsung.

Minji tertegun. “Eng… sebenarnya aku ingin pulang, tapi aku masih ada beberapa urusan di perusahaan. Aku akan ke sana dengan sopir pribadiku. Dia ada di luar,” kata Minji. Yah, seharusnya dia senang mendapat tawaran tumpangan pulang dari kekasihnya ini, tetapi entah kenapa dia menolaknya begitu saja―menolak hal yang jelas-jelas Jongdae tawarkan padanya.

“Oh, baiklah.” Jongdae menatap Minji. “Kalau begitu, biar kuantar kau ke depan.”

Minji mengangguk, lantas menolehkan pandangannya pada Taera yang tidur memunggunginya dan Jongdae. “Taera-ya, aku pamit pulang,” katanya, sedikit gusar. “Eh… semoga kau lekas sembuh dan… maaf sudah membuatmu repot.”

Tidak ada respons. Mungkin Taera sudah lelap dalam tidurnya.

—oOo—

Namun, sebenarnya, Taera tidak tertidur. Sepasang telinga gadis itu menangkap semua percakapan Jongdae dan Minji, tetapi Taera bersikap tak acuh dan memilih berpura-pura tidur. Itu semua demi menyelamatkan wajahnya yang bisa saja berekspresi masam, atau kesal, atau cemburu―apalah itu hingga nantinya terlihat oleh mereka. Taera tidak mau itu terjadi.

Selang beberapa menit setelah Minji benar-benar meninggalkan rumahnya, Taera mendengar derap langkah sepatu milik Jongdae yang mendekat ke arah pintu kamar. Taera baru bersiap akan memejamkan matanya lagi ketika ia mendengar Jongdae berkata, “Aku tahu kau tidak tidur,” dengan nada datar dan itu membuat Taera berjengit kaget.

Jongdae tahu-tahu duduk di tepian tempat tidur. Dengan cepat, Taera membalikkan badannya ke arah Jongdae dan mendapati punggung tangan laki-laki itu mendarat di atas keningnya. “Panas,” gumamnya. “Ugh, kenapa dokternya lama sekali datang?!” kali ini dia menggerutu seraya melihat jam tangannya.

Taera mengukir senyum tipis. Kalau dia sedang tidak dalam kondisi sakit begini, dia pasti akan tertawa melihat betapa konyolnya wajah Jongdae ketika sedang khawatir.

“Aku tidak apa-apa,” kata Taera, mengembuskan napas kecil. “Aku akan sehat kembali setelah mendapat jam istirahat yang cukup.”

“Tapi…” Jongdae membasahi bibir bawahnya. “Bagaimana bisa kau sakit? Kau itu jarang sakit, Taera.”

“Aku manusia, bukan malaikat.”

“Aku tidak sedang bercanda!”

“Aku juga.” Taera menyikapi amarah Jongdae dengan santai. “Tapi kau tahu siapa aku. Aku tidak akan berlama-lama terserang sakit. Aku akan segera sembuh.” Ia mencoba meyakinkan laki-laki bersuara merdu itu.

Jongdae pun perlahan luluh tatkala Taera menatapnya penuh keyakinan.

“Baiklah.” Jongdae menyerah. “Tapi kau harus tetap diperiksa oleh dokter.”

Taera hanya memberinya anggukan singkat.

Keheningan menyapa sesaat, membiarkan Jongdae menatap paras Taera yang terlihat cantik baginya, hingga membuatnya tak tahan ingin membawa gadis itu ke dalam pelukannya.

“Kau tahu, betapa aku merindukanmu, Taera-ya,” gumam Jongdae. Wajahnya berubah sendu.

Taera memalingkan wajah, tak ingin bersitatap dengan Jongdae lebih lama lagi. Tidak baik untuk jantungnya yang mendadak saja berdetak di atas normal.

Jongdae tiba-tiba tak menemukan suaranya, dia pun gelisah.

“K-kau tahu… aku sudah mencoba memberi tahu Minji tentang hubungan kita berdua, tetapi aku tidak bisa ketika ayah mengancamku dengan kata-kata memuakkannya. Aku ingin… aku ingin sekali mengakhiri perjodohan ini dengan Minji. Aku tidak bisa terus berada jauh darimu.”

Taera mendapati dirinya meneteskan air mata. Segera ia menyekanya sebelum Jongdae melihatnya, lalu berdeham keras.

“Jangan lakukan hal bodoh semacam itu,” sahut Taera, mencoba bersikap tak acuh, tetapi sepertinya ia gagal lantaran suara yang keluar, terdengar serak dan lirih.

“Apa?” Jongdae menaikkan sebelah alisnya. “Kenapa?”

“Hubungan kita sudah berakhir―ah, maksudku…” Taera memusatkan perhatiannya pada Jongdae, “kita tidak benar-benar memiliki hubungan apa-apa,” tekannya, berharap Jongdae sadar bahwa mereka memang tidak akan pernah bersatu. Bukan karena halangan si kaya dan miskin―meski kenyataannya memang seperti itu, tetapi karena Taera memang tidak ingin berhubungan lagi dengan Jongdae.

Jongdae kini kehilangan kemampuan untuk membalas perkataan menyakitkan Taera. Secepat itukah Taera melupakannya? Mencampakkannya? Menyakiti perasaannya? Kenapa?

“Taera-ya―”

“Kau memiliki Ahn Minji. Kau memiliki segalanya: kau kaya. Kau tampan, dan Minji cantik. Kalian berdua saling melengkapi.” Taera memasang wajah setengah melamun. “Tidak sepertiku. Kau… tidak pantas denganku. Kau memang pantas dengan sahabatku; Ahn Minji.”

Rasa-rasanya, sesuatu yang tidak menyenangkan mengaduk isi perutnya dengan cepat. Jongdae setengah limbung. Kakinya melemah. Ia mencoba menguasai diri agar tidak meluapkan emosi pada gadis yang nyatanya saat ini bersikap rendah diri dan membandingkan segalanya dengan Minji.

Jongdae lantas bergerak mendekati Taera untuk menarik tengkuk gadis itu dengan cepat dan menyambar bibirnya yang pucat, membuat Taera dalam posisi setengah berbaring. Jongdae melumat bibir mungil itu dengan rakus, menyalurkan perasaannya yang mendalam untuk sang gadis. Taera berusaha melepaskan diri, mendorong-dorong dada Jongdae agar menjauh, tetapi ia tidak mempunyai tenaga yang cukup―tidak ketika kondisinya sedang lemah, sehingga Jongdae tetap berkuasa dan terus melumat bibirnya sampai menggigitnya, membuat Taera memekik kecil.

“Kim Jongdae―”

Laki-laki itu seakan tak mengizinkan Taera berbicara. Ia tetap mencium bibir itu sampai keduanya benar-benar kehabisan napas. Jongdae melepas tautan bibir mereka dan menyatukan keningnya dengan sang gadis.

Taera menangis tertahan. Matanya terpejam rapat, sementara Jongdae tetap bernapas di depan wajahnya dan menatapnya penuh rasa sakit.

“Kita tidak seharusnya begini, Jongdae…,” lirih Taera, mulai terisak pelan. “Kau tidak boleh….”

“Kau yang tidak boleh berkata seperti itu!” tegas Jongdae di sela embusan napasnya yang setengah tersengal. “Aku akan berjuang untuk hubungan kita, begitu pun kau.”

Taera membelalakkan matanya. “Aku tidak mau.”

“Kau harus!” tekan Jongdae, penuh amarah. “Lihat saja, setelah ini, aku akan mendatangi ayahku dan mengatakan semuanya, padanya. Aku akan mengatakan bahwa aku akan menikahimu, bukan Minji.”

Jongdae menjauhkan diri dari Taera yang makin membelalakkan matanya, terkejut. Sorot sendu di mata laki-laki itu padam, tergantikan oleh amarah yang berkobar-kobar dan membuat jiwanya kalut. Langsung saja Jongdae bangkit berdiri. Bahunya terlihat tegang, juga dengan rahangnya yang mengeras menahan emosi.

Song Taera beranjak duduk dengan cepat. “Kim Jongdae, jangan bodoh! Kau tidak boleh melakukannya! Kau harus memikirkan nasibku!” raung Taera, tidak terkendali. “Kau tidak boleh bersikap egois dan mementingkan perasaanmu sendiri!”

“Lalu bagaimana dengan perasaanmu?!” bentak Jongdae. Taera terdiam karenanya. “Kau juga mencintaiku, bukan? Lantas, apa lagi?”

“Kim Jongdae…” Taera menggigit bibir bawahnya keras-keras. “Aku tidak mengerti kenapa kau jadi begini….” Lagi-lagi, Taera terisak.

Jongdae terpekur melihat gadis yang ia cintai, tampak semakin rapuh.

“Ya, aku memang mencintaimu,” ujar Taera, menundukkan kepalanya. “tapi aku sadar, siapa aku ini. Dan aku tidak bisa memaksakan kehendak, ketika ayahmu―atau mungkin Tuhan turut andil―mengatakan bahwa kau berjodoh dengan Minji.”

Jongdae memijat pelipisnya yang berdenyut hebat.

“Memaksakan kehendak kita juga bukanlah hal yang bagus untuk ke depannya,” Taera melanjutkan. “Aku harap kau mengerti dan menghormati keputusanku, Jongdae,” bisik Taera, lemah, tetapi dapat didengar jelas oleh sang laki-laki.

Beberapa puluh detik ke depan, keduanya mendengar suara seseorang mengetuk pintu.

“Permisi, benarkah ini kediaman Nona Song Taera? Saya Dokter Kang,” kata suara itu di ambang pintu rumah.

Jongdae bergeming sesaat, selanjutnya ia melangkah meninggalkan kamar Taera untuk mengajak dokter pribadi Minji masuk dan segera memeriksa Taera.

Dokter pria paruh baya itu kini memeriksa keadaan Taera, sedangkan Jongdae berdiri di belakangnya dan menatap Taera dengan ekspresi yang sukar dibaca.

Ponsel Jongdae pun mendapat satu panggilan masuk.

“Oh, ya, Minji, ada apa?” Jongdae menerima panggilan itu sesaat setelah ia berhasil menjernihkan suaranya. “Ke rumahmu? Ada apa?”

Taera diam-diam mendengarkannya, selagi ia diperiksa.

“Baiklah….” Kening Jongdae mengerut dalam. “Aku akan ke sana sebentar lagi.”

“Aku mencintaimu.”

Jongdae merapatkan bibirnya, enggan membalas ungkapan itu, tetapi ia malah menyahutinya dengan lancar, “Aku juga mencintaimu.”

Panggilan pun terputus.

Gelenyar tak menyenangkan langsung saja memenuhi tubuhnya. Taera memalingkan wajah ke arah lain, menahan diri agar tidak kembali menangis.

Seluruh pemeriksaan dijalani dengan lancar. Dokter mengucapkan cukup banyak saran untuk Taera dan memberinya beberapa plastik obat yang harus ia minum. Selesai dengan tugasnya, dokter itu pamit untuk pulang.

Membiarkan Jongdae dan Taera kembali berdua.

Taera membuka percakapan awal. “Pergilah, temui Minji.”

Jongdae menatapnya, terluka.

“Aku baik-baik saja.”

“Kau memang keras kepala, Song Taera.” Jongdae mengukir senyum sedih.

Taera tidak menjawab.

“Aku akan menemuimu lagi.”

Taera lekas membalas tatapan Jongdae. “Untuk apa?”

Jongdae menyahut, “Aku akan menemuimu ketika aku merindukanmu.”

“Aku sibuk dan jarang berada di rumah. Lagi pula, kenapa juga kau harus menemuiku?”

“Kalau begitu, aku akan mencarimu ke mana pun.”

“Kim Jongdae! Sadarlah!” bentak Taera, kesal.

“Aku sepenuhnya sadar. Aku mencintaimu.”

“Tapi kau mengatakan hal yang sama pada Minji!”

“Ya, memang, tapi rasanya hambar ketika aku mengatakannya.”

Taera kehabisan kata-kata untuk menghadapi kekeraskepalaan Jongdae.

“Istirahatlah.” Jongdae melangkah maju, membantu Taera membenahi posisi tidurnya agar nyaman. Taera malah mengizinkan laki-laki itu, sekalipun ia berusaha mengabaikannya. “Aku akan kembali lagi nanti.” Jongdae melabuhkan satu kecupan lembut di kening Taera―tidak seperti ciuman sebelumnya yang membuat Taera merasa sesak karena kesal, senang, sekaligus sedih. Taera memejamkan mata seiring Jongdae mengecup keningnya.

“Aku mencintaimu.” Jongdae tersenyum manis, mengelus pipi tirus Taera, sebelum kemudian ia melangkah pergi meninggalkannya sendirian.

Sepeninggal Jongdae, Taera kembali meraung pedih di sela tangisannya yang membuncah.

―fin

Fanfiksi ulang tahun Chen bergenre angst huhuhuhu :”””

Makasih buat yang udah meluangkan waktunya buat baca serta memberikan komentarnya♥

Semoga feel-nya dapat, ya ♥

Dan, selamat ulang tahun, Chen! ♥

11 tanggapan untuk “[CHEN BIRTHDAY PROJECT] The Biggest Fear by ShanShoo”

  1. Hiiih malah sebel sama chen dan taera coba. Drama banget sih udah mau dipaksa tunangan ya tanggung jawab lah sam perasaan orang *baperwkwkwkw

  2. Happy brithday..jongdae, G ada sequelnya kah?? Di lema banget si jongdae..minji baik juga,kasian kalo dibatalkan pernikahannya,tapi song taera juga terluka.. jongdae aja bingung..apalagi aq..??

    1. yasudah tidak usah dipikirkan xD biarkan mereka mengatasi masalahnya sampai tuntas, biar nggak ada pihak tersakiti yang berlarut-larut(?) 😀

      nggak ada sekuel, ya. cukup sampai di sini aja :”””

  3. Aduuuh. Abangnya aku dibikin bimbang diantara dua pilihan. Sedih.

    Terus terus. Masa aku kaget dong. Lama banget ga baca wordpress kan. Terus ketemu ini.
    Isan gaya nulisnya ganti lagi kah???? Apa uda emang lama pake ini tapi aku ga sadar ya?? Uhuuu. Kangen deh jadinya.

    1. KAK GALUUUH AKU PUNDUNG KAKAK MENGHILANG LAMA BGT HUHUHU KANGEN TAUUUU T.T

      Apa kabar kak? 😁

      Aku gak terlalu sadar sama gaya tulisan sendiri, tapi sepertinya begitu 😂😂😂😂😂😂

      Makasih kaak udah baca 💞💞

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s