[EXOFFI FREELANCE] AFTER THEN (CHAPTER 2)

after then hahaha

Title | LET ME IN 2: AFTER THEN

 Author|RHYK/krinvi

Cast|    Byun Baekhyun | Nana Komatsu as Baek Eunha | Bae Irene as Park Aeri

Length|Chapter

Rate | pg 17

Genre|Married-life | Romance | Sad | Friendship |Life |Human

Disclaimer|Cerita ini di publish dalam platform Wattpad (@krinvi)

Autor Note’s|Dilarang keras menyalin, menyimpan sebagai dokumen pribadi bahkan mempublish ulang tulisan yang ada dalam cerita ini!! Budayakan rajin membaca dan tinggalkan isi pikiran abis baca dalam kotak komentar ^^

Quotes|

“Hubungan manusia itu tak pernah jauh dari dua hal melepaskan atau mempertahankan.”

Summary this Chapter|

Kau bahagia, kau tertawa, kau gembira, kau terasa terbang.

Lalu,  Ada luka, ada pilu, rindu dan cemburu.

__

Prolog | Chapter 0.1

-2-

    “Terimakasih kerja kerasnya!” Eunha membungkukkan badannya begitu menyudahi liputannya dan kameramen mengokaykan hasil dari liputannya. Akhir-akhir ini dia merasa lebih lelah dari biasanya, padahal ia sudah meminum ginseng yang Miyeon berikan setiap kali berkunjung ke rumah mereka. Namun rasanya tak memberikan efek apapun.

“Eunha-ssi, kau mengalami peningkatan. Liputanmu pasti akan dipuji oleh pimpinan redaksi pada buletin rapat mingguan.” Kwangsu yang merupakan kameramen Eunha memberikan pujian pada wanita itu. Eunha menundukkan kepala singkat, tak berhenti senyum merekah di bibirnya yang merah muda. “Terimakasih, sunbae.”

“Kita akan makan malam akan di resto seafood segar. Tidak ada yang alergi,kan di sini?” Doyoung bertanya pada semua staf yang dijawab tidak secara serentak. Termasuk Eunha yang ikut menjawab meski tak terlalu bersemangat. Pasalnya, ia tidak alergi namun kurang menyukai seafood sebetulnya.

    Dan, kebiasaan divisi bahkan staf yang bekerja dengannya akan makan sesuai dengan di mana mereka meliput. Seperti sekarang, karena tempat meliputnya lumayan dekat dengan pantai, jadi makan malamnya harus dengan seafood. Lalu, saat liputan di hutan maka akan makan yang ada di alam saja, layaknya acara Kim Byungman yang berjudul Law Of The Jungle. Begitulah.

    Eunha menyukai liputan lapangan, namun ia lebih suka harus berlari-lari hanya untuk mengejar narasumber guna mendapatkan sebuah berita. Daripada harus liputan di mana sudah ada materi dasar mengenai hal apa yang akan diliput, menurut Eunha itu tidak ada gairahnya sama sekali dan membuatnya malah tidak bersemangat.

“Eunha-ssi, kau baik-baik saja kah? Wajahmu seperti mayat.” Kibeom yang datang dengan gulungan kabel menggoda Eunha lalu tertawa terbahak dengan kalimat yang ia ucapkan sendiri, sementara Eunha hanya mengernyit tak paham, itu sama sekali tak lucu untuk Eunha, dan dia sedang tidak dalam mood yang baik untuk bergurau.

“Tidak lucu ya? Maaf-maaf. Kita bisa bergurau sejenak ketika pekerjaan sudah selesai sementara, iyakan?” Kibeom memasukan perangkat yang sudah dirapihkan ke dalam boks besar. Sementara akhirnya Eunha ikut tersenyum kecil, lalu meraih ponselnya yang berada dalam tas ranselnya. “Nyatanya pekerjaan tidak ada kata selesainya. Sama seperti tugas kuliah.”

    “Sebab itulah namanya hidup.” Kwangsu ikut menimpali.

    Ada satu pesan dari suaminya.

Euiju yang datang dengan air mineral, memberikan satu-satu pada rekannya, dan memberikan cermin untuk Eunha. “Lihat wajahmu, Kibeom tidak salah.” Euiju membela Kibeom yang adalah teman sekolah katanya. Namun, Eunha curiga bahwa ada sesuatu di antara mereka.

    Di antara mereka, Kwangsu adalah yang paling senior. Karena perekrutan Eunha, Kibeom dan Euiju bisa dikatakan berdekatan jadi mereka adalah junior Kwangsu.

    Eunha membuka pesan dari Baekhyun yang sudah masuk dari enam jam lalu, ia sempat membacanya pada notifikasi, namun belum sempat membukanya apalagi membalasnya.

From: My Ahjussi

Tolong jaga kesehatanmu dan kembalilah dengan selamat. 🙂

Eunha mengetik balasan sambil tersenyum, membuat Euiju yang berada di belakang Eunha mengintip isi percakapan pesan mereka.

“Pamanmu sayang sekali ya padamu.”tukas Euiju membuat Eunha menoleh sambil memutar matanya. Bodoh. Padahal itu adalah panggilan sayang Eunha untuk Baekhyun. Kenapa orang selalu salah mengartikan.

Kibeom ikut menambahkan, “Hei Eunha, kau berkencan dengan ahjussi yang sudah punya istri? Wah, kau tidak boleh begitu.”goda Kibeom dengan sengaja membuat Eunha hanya menekuk wajahnya dan meninggalkan mereka.

Kwangsu yang melihat kepergian Eunha hanya menatap Kibeom penuh peringatan, sambil memasukan kameranya ke dalam tas, ia berpetuah “Jangan menggodanya disaat suasana hatinya sedang buruk. Dan tidak harusnya kau mencandai wanita dengan topik seperti itu.”katanya santai lalu meninggalkan Euiju dan Kibeom. Euiju juga tak membela Kibeom dan ikut dengan Kwangsu.

    “Jika kau suka pada Eunha katakan saja,”

Kwangsu menoleh pada Euiju dengan sorot terkejut, “Tidak.”sangkal Kwangsu, membuat Euiju tertawa lalu memukul punggung lelaki yang tingginya setara dengannya pelan. “Kan aku bilang jika. Kalau tidak ya bukan masalah.”tukas Euiju lalu mendahului langkah Kwangsu dan menghampiri Eunha.

    Dan Kwangsu hanya mengelus dadanya sementara matanya terus tertuju pada Eunha yang hanya ia tatap dari belakang saja.

└A F T E R T H E N┘

    Baekhyun berlari menuju IGD dan kebetulan berpapasan dengan Miyeon yang membuat langkahnya memelan, masih dengan napas terengah dan peluh yang berjatuhan dari pelipisnya ia bersuara dengan berat, “Bagaimana keadaannya?”

Miyeon menggeleng, sebagai tanda kabar tidak baik. Dia mengajak Baekhyun duduk bersama di luar ruang IGD. “Dia tetap tidak bisa dikatakan sehat sepenuhnya, karena jangka paska operasinya baru sekitar enam bulan, kita harus memantaunya sekitar setahun untuk memastikan leukimianya tidak kembali. Sementara ini, hanya itu yang dokter katakan padaku.”

    “Bukankah terakhir Ibu bilang kalau dia hanya demam?”

    “Tadi pagi sudah membaik, oh ya, Ibu rasa dia punya alergi kacang merah sama sepertimu.” Miyeon menjelaskan penyebab utama Yunheo dibawa ke rumah sakit. Baekhyun hanya diam tak merespon penjelasan Miyeon lebih lanjut. Dia hanya bangkit dan menatap Yunheo yang sedang ditangani oleh pihak medis. “Dia makan nasi kacang merah? Aeri tidak memberi tahu Ibu memangnya?”

    “Maafkan aku, Ibu tidak lupa menanyakan itu. Apa perlu meminta Aeri ke sini?”

Baekhyun memijat dahinya pelan, Yunheo memang bukan beban baginya. Karena dengan Yunheo dirawat oleh Miyeon maka Baekhyun punya banyak kesempatan untuk melihat Yunheo tumbuh dan dirinya juga bisa menjaganya secara tak langsung.

“Jangan, aku tidak ingin membuat dia khawatir pada hal yang masih bisa aku tangani.”

     “Tapi aku rasa Aeri juga ingin melihat putranya, ini sudah setengah tahun.”

    “Aku akan mengabarinya, tapi tidak sekarang. Aku mohon pada Ibu untuk tidak membuat situasi rumit di antara kami.”

Baekhyun membungkam tepat setelah berkata begitu, Miyeon yang menyadari perubahan mimik pada anaknya langsung ikut bangkit dan menatap Baekhyun penuh selidik dan tanya. “Baekhyun,” Miyeon memegang lengan Baekhyun dan meminta lelaki itu untuk berdiri menghadap padanya. Ia masih menatap Baekhyun dengan sorot ingin tahu, “apa kau menyembunyikan sesuatu dariku? Coba katakan dengan jujur pada Ibu.”

    Baekhyun membasahi bibir atasnya, ia menarik napas dan menghelanya dengan berat. Ia menunduk sebentar sebelum akhirnya menatap Miyeon.

    “Putra Aeri yang sekarang kau rawat, adalah anakku juga.”

Mata Miyeon melotot, kakinya terlalu lemas untuk tetap berdiri lantas begitu saja ia bersimpuh di lantai. Baekhyun meminta Miyeon bangun dengan dia yang membungkuk, “Kau bilang apa? Yunheo.. putra kandungmu begitu?”tanya Miyeon meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sedang salah dengar. Namun, air mata telah mengalir dari pelupuk matanya, entah jenis emosi apa yang ada dalam diri Miyeon hingga detik ini dan berikutnya. Ini adalah fakta mengejutkan yang tak pernah ia kira akan didapatkan di hari seperti ini.

    “Ya benar, aku Ayah Yunheo yang sebenarnya.”

└A F T E R T H E N┘

    Eunha hanya memandang bangunan luar resto khas tepi laut. Kwangsu merangkul Eunha, “Kenapa menekuk wajah terus? Kau cantik jika tersenyum.”puji Kwangsu. Eunha hanya menatap Kwangsu kilas saja lalu masih ikut berjalan dengannya hingga masuk ke dalam resto. “Jangan menggodaku sunbae. Maaf saja tapi aku sudah punya orang lain.”balas Eunha menanggapi pujian yang Kwangsu beri.

“Justru itu, orang yang menyukaimu pasti jatuh cinta saat melihat wajah jutekmu berubah tersenyum.” Kwangsu menarik kursi ke belakang, lalu Eunha duduk dengan rapi, minatnya sudah hilang untuk makan. Dari tadi, kepalanya sudah pening dengan aroma laut, dan ditambah bau alkohol soju yang menyengat. Ia ingin istirahat, tapi tidak enak dengan yang lain.

    “Nanti setelah makan kita segera kembali ke Seoul.”

Ha! Itu lebih menyebalkan, Aku butuh istirahat semuanya! Eunha bergumul dalam hati, sementara yang lain sibuk dengan daftar menu, Eunha sibuk dengan menyeka hidungnya yang dari tadi mencium bau tidak enak dari resto itu.

    Eunha menggembungkan pipinya, ia membekap mulutnya lalu pergi ke belakang begitu salah satu karyawan resto mendekat membawa udang bakar. Euiju yang khawatir menyusul Eunha, di lihatnya Eunha berjongkok di salah satu bilik toilet resto. Ia bahkan tidak sempat menutup pintunya. Euiju mendekat dan menepuk punggung Eunha pelan. “Eunha-ssi, kau pasti sakit. Lebih baik isti –‘ Eunha yang ingin bangun tiba-tiba terjatuh dan hilang kesadaran.

    “EUNHA-SSI! EUNHA-SSI!! KWANGSU SUNBAE!!”

Kwangsu dan Kibeom yang sama-sama mendengar teriakan histeris Euiju. Mereka segera ke toilet, dan Kwangsu membawa Eunha ke mobil. “Kibeom cepat siapkan mobil. Euiji cari lokasi rumah sakit terdekat, kita ke sana. Suhu tubuhnya dingin sekali.”pinta Kwangsu seraya menggendong Eunha keluar dari resto.

    Eunha segera ditangani oleh petugas medis begitu tiba di UGD. “Dia pingsan saat mau makan siang, sebelumnya dia muntah.”

“Baiklah, tolong hubungi walinya sementara kami menangani pasien.”pinta salah satu perawat, dan rekan Eunha menunggu di luar Ruang UGD.

    “Kau hubungi walinya, Kibeom. Euiju tolong carikan aku kopi instan, badanku lelah sekali.” Euiju segera pergi tanpa menjawab lagi, sementara Kibeom masih bergeming di tempatnya. “Kibeom?” Kibeom menoleh, “Ya?”

“Cari ponselnya Eunha di mobil dan hubungi walinya.” Kwangsu mengulang perintahnya pada Kibeom, setelah itu ia baru berjalan dengan langkah ragu. Sekembalinya Kibeom, Kwangsu mengambil ponsel itu dan membuka ponsel Eunha dan membuka kontaknya, tidak ada banyak kontak di sana. Akhirnya, Kwangsu tidak punya pilihan selain menghubungi kontak yang paling banyak dalam log panggilan masuk dan juga keluar.

    Calling.. My Ahjussi

    Terdengar nada sambung yang lama, namun nomor itu tidak menjawab. Kwangsu menelpon hingga beberapa kali hingga ia memutuskan untuk menghubungi nomor lain yang ada di panggilan masuk terbaru. Ada nama Jaebuma di sana. Sepertinya itu kontak teman Eunha.

    Tak begitu lama, si pemilik telpon mengangkat panggilan yang Kwangsu buat. “Halo ada apa Eunha?Tumben sekali kau menelpon duluan.”

    “Ah.. maaf sebelumnya, ini rekannya Eunha.. namaku Kwangsu.”

“Oh ya, ada apa ya? Maaf menjawab tidak sopan karena aku pikir Eunha yang bicara.”

“Tidak apa, aku hanya ingin menyampaikan apa nama kontak My ahjussi itu adalah kerabatnya?”

“Oh iya benar, itu panggilan Eunha untuk suaminya karena perbedaan umur mereka yang jauh. Apa terjadi sesuatu?”

‘Suami?’

    “Ah..ya.. suaminya aku hubungi namun tidak menjawab. Sekarang Eunha sedang di UGD sepertinya kondisi kurang fit nya ia paksakan untuk tetap ikut kami meliput ke Gwangju. Jadi, dia sekarang di rumah sakit. Aku harus mendatangkan walinya, meski aku rasa keadaannya tidak begitu genting.”

    “Baiklah, aku akan menghubungi suaminya, tolong jaga temanku sampai suaminya datang. Sebelumnya terimakasih sudah menghubungiku.”

    “Tidak masalah, kalau begitu aku akan kirimkan alamatnya padamu.”

    “Baiklah, terimakasih.”

Begitu saja, panggilan antara dua lelaki itu usai. Kibeom dan Euiju sama-sama melihat wajah tak enak dari Kwangsu. Ia menyerahkan ponsel itu pada Kibeom. “Tolong kabari aku jika ada kabar baru, aku sudah mengabari kerabatnya. Kalian tunggu di sini, aku akan mencari makan malam untuk kalian.”

“Baiklah, Kwangsu-nim.”

“Baiklah, Kwangsu sunbae.

└A F T E R T H E N┘

    “Kau sudah jujur pada istrimu soal ini?”

    “Belum saatnya, aku akan mengatakan pada saat yang tepat. Pernikahan kami belum memiliki pondasi yang kuat.”

    “Ibu harap kau segera menemukan saat yang tepat. Saat rahasia terlalu lama disimpan, suatu saat rahasia itu terbongkar dari orang lain dan itu akan menyakiti istrimu.”

    “Baiklah,” Baekhyun merohoh saku celananya, hanya ada satu ponsel di saku celananya, “Ibu, aku ke parkiran dulu karena ponselku tertinggal di mobil.”

    “Hmm Baekhyun?”

    “Ya?”

    “Terimakasih karena sudah memberi kesempatan pada Ibu untuk dapat merawat cucu Ibu sebenarnya. Mendengar hal ini, aku bahagia.”

    Baekhyun mengangguk, “Aku ke bawah dulu.”

Baekhyun membuka pintu mobil, mengambil ponselnya. Keningnya mengerut begitu ada 8 kali panggilan tak terjawab dari Eunha. Perasaan tidak tenang langsung menyelimutinya, Begitu ia ingin menelpon Eunha, panggilan masuk dari Jaebum tertera di layarnya.

    “Hyung! Kemana saja dihubungi tak ada jawaban?”

    “Kau bahkan memanggilku untuk yang pertama, missed call banyak dari Eunha. Apa Eunha menelponmu?”

    “Hyung ini jadi suaminya bagaimana?”

    “Ada apa?”

    “Eunha di RS Gungnan Gwangju, sekarang dia pingsan.”

Baekhyun segera masuk ke dalam mobil, dan menyalakan mesin mobil. “Kirimkan aku alamatnya, aku dalam perjalanan ke sana.”

Setelah itu Baekhyun melesat dengan mobilnya menuju Gwangju. Dia memasang hands-free dan menghubungi Miyeon.    “Ibu, aku harus ke Gwangju, Eunha jatuh sakit di sana. Kondisinya belum tahu, mungkin dia kelelahan. Nanti aku kabari lagi.”

    Perasaannya dalam seharian ini benar-benar tidak ada kata tenang. Ini adalah pertama kali Eunha jatuh sakit selama mereka menikah. Jika sudah begini, Baekhyun benar-benar ingin melarang Eunha untuk tetap bekerja yang memakan tenaga dan pikiran banyak.

└A F T E R T H E N┘

Dua jam perjalanan ditempuh Baekhyun hanya selama satu setengah jam saja, dia benar-benar menggila dalam mengemudi menuju Gwangju. Rasa gundah terus menghantui, langkah kaki Baekhyun tergesa hingga masuk ke dalam koridor UGD. Jika begini, ia seperti berada pada situasi pada masa di mana mendapat kabar Jooeun yang sedang dalam keadaan genting sementara Baekhyun harus mengemudi dari Busan ke Seoul. Benar-benar persis seperti ini, dan kali ini jauh lebih mendebarkan untuknya karena demi apapun, dalam dirinya yang paling dalam bahkan di dasar dirinya Baekhyun begitu menakutkan suatu hal.

Takut bahwa Eunha meninggalkannya.

Bersambung..   

[diketik, 26.05.2018 – 15.03]

    Notes: Kelamaan? Iya, sampe gak inget weekend padahal nulis hampir tiap hari. Postingnya yang susah,kan… Gimana? Suka gak sama kelanjutan LMI ini? Will You Be There belum dilanjut ya, tunggu aja.

Jangan lupa tinggalkan JEJAK! Posting endingnya di blog pribadi hahaha, biar seru aja gitu~ Main-main lah ke ig wattpadku di @krinvi_author. Ada banyak quotes dan foto-foto para visual pemain ff aku yang lain, jangan lupa visit blog aku di ikonfinitexo77.wordpress.com

THANK YOU~

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] AFTER THEN (CHAPTER 2)”

    1. iya ya.. maaf yaa soalnya sibuk banget bulan lalu.. serius deh udah gitu kemarin sempat gak nulis AT karena beberapa kendala di real life. makasih udah baca dan silakan tunggu kelanjutannya.
      inshaAllah, next week bakalan update lagi

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s