[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 21)

ourstory

Our Story [Chapter 21]

aliensss

Genre : au, drama, romance, friendship, hurt/comfort, sad

Length : Chaptered

Rate : PG-17

Cast:

Park Chanyeol (exo) ǁ Oh Sehun (exo) ǁ Kim Sae Jin (oc) ǁ Kim Ah Ra (oc)

etc

Summary

Chapter 21

Our

Disclaimer : ide cerita dan alur asli milik saya. Cast milik Tuhan YME dan semua yang berhak atas mereka. Terinspirasi dari berbagai sumber (cerpen, novel, ff, film, dan lagu). Dibuat untuk hiburan semata. Cerita yang masih banyak kekurangan, kesalahan ejaan, alur yang aneh, penokohan yang kurang maksimal dsb, jadi harap maklum.

Happy Reading ^^

♣ ♥ ♣

Chanyeol sangat berharap malam itu Ah Ra bertanya padanya. Tapi hingga hari ini, hari dimana ia dan  Ah Ra harus bertunangan, gadis itu tetap saja bungkam. Dan mimpi buruk Chanyeol pun menjadi nyata saat semua tamu bertepuk tangan karena ia sudah selesai menyematkan sebuah cincin di jemari manis Ah Ra.

Dengan tatapan kosong, ia menoleh pada Sae Jin yang berdiri di sebelah Sehun. Gadis itu bertepuk tangan. Gadis itu ikut merayakan kematiannya. Apa hanya Chanyeol yang terluka akan semua ini? Semua orang yang ia lihat tersenyum senang, seakan pertunangan ini adalah sesuatu yang patut dirayakan dengan bahagia. Bahkan Sae Jin pun bersikap demikian.

Chanyeol merasa dibodohi. Tanpa pikir panjang, ia melepas begitu saja cincin dari jemarinya dan membuangnya sembarangan. Perbuatannya itu berhasil menarik atensi semua tamu tak terkecuali target utamanya.

Diam. Mendadak suara riuh di tempat itu lenyap. Semua tatapan tamu sekarang tertuju pada objek yang Chanyeol tatap dengan marah

“kau tak merasa ada yang salah dengan pertunangan ini, Ah Ra?” tanya Chanyeol tanpa mengalihkan tatapan matanya

“ada apa, oppa? Ke_kenapa kau bertanya seperti itu?” Ah Ra masih belum ingin mengerti

“aku bukan bonekamu”

Keterkejutan semua orang bertambah saat mereka mendengar suara lirih Chanyeol barusan

“kumohon, hentikan ini. Aku benar-benar tak bisa mencintai orang lain selain dirimu. Dan apakah, apakah kau tidak lihat aku sekarat sekarang ini? Aku hampir mati, Sae Jin. Aku nyaris mati”

Ah Ra dan beberapa perempuan lain di pesta itu menutup mulut mereka dengan tangan. Mereka terkejut karena Chanyeol menyebut nama gadis lain dan pria itu meneteskan air matanya. Disini, didepan semua orang pria itu menangis.

Sae Jin yang sekarang jadi tontonan semua orang memundurkan langkahnya. Bukan ini yang ia harapkan. Dengan sikap Chanyeol ini, seseorang bisa saja terluka atau bahkan mati. Tak tahu harus berbuat apa, gadis itu berniat kabur.

“jangan pergi” Chanyeol berhasil membuat langkah Sae Jin berhenti. “jangan pergi, atau kau benar-benar tak akan bisa melihatku lagi” satu ancaman pria itu ucapkan. Chanyeol benar-benar berharap kali ini Sae Jin mengasihaninya. Ia tak bisa hidup tanpa gadis itu. Semua kebahagiannya ada pada Sae Jin. Pemicu jantungnya hanya Sae Jin.

Tapi nampaknya, Chanyeol harus menelan pil pahit lagi hari ini. Sae Jin tak mau mendengarnya. Gadis itu memilih pergi meninggalkan gedung pesta dengan berlari.

“oi, jangan hanya bicara sembari menangis. Kejar dia dan paksa dia. Kau seperti tak tahu watak Sae Jin saja ! Pergi, kejar dia !” Sehun meneriaki Chanyeol dari tempatnya

Menghapus air matanya, Chanyeol pun mengikuti saran Sehun. Ia berlari sekencang yang ia bisa.

Mata Sehun kemudian beralih pada Ah Ra. Ia menghampiri gadis itu, “kau ingat aku pernah memberitahumu bahwa Chanyeol sudah menyukai seseorang kan? dulu saat kita SMA. Kurasa memberitahumu sesuatu seperti itu memang tugasku. Chanyeol sudah mencintai seseorang. Dan dia mencintainya lebih banyak daripada ia mencintai dirinya sendiri. Ini memang sakit, tapi membuat dua orang yang saling mencintai tak bersama juga sama pedihnya”

Memberikan satu pelukan pada Ah Ra, Sehun pergi menyusul Chanyeol. Pria itu berlari 15 menit dan menemukan  Chanyeol di pertigaan sebuah jalan. Hanya Chanyeol, tak ada Sae Jin disana

“dia lolos?” tanya Sehun dengan nafas tersengal

“larinya cepat sekali” Chanyeol juga mengatur nafas

“mungkin dia lari kesana” tunjuk Sehun pada jalanan disebrang mereka. Pria itu maju selangkah kemudian mundur lagi. Lampu pejalan kaki masih merah dan mobil-mobil berbagai ukuran berlewatan dengan kecepatan tinggi. “kita susul dia kesana nanti” kata Sehun tak sabar

“aku tak boleh kehilangan dia lagi” Chanyeol memulai larinya lagi

“Chanyeol, tunggu aku !” teriak Sehun sembari menyusul

“aku harus bertemu Sae Jin, aku tak bisa hidup tanpanya”

“Chanyeol !!”

.

.

.

“maafkan aku. Aku sudah egois selama ini” Ah Ra berucap sembari melepas cincin emas dari jemarinya.

Seminggu sudah berlalu dan Ah Ra sudah menyerah. Ia bersedia merelakan Chanyeol. Ia berjanji akan membatalkan pertunangan mereka, bahkan rencana pernikahan mereka. Ia bahkan sudah bicara pada orangtuanya agar tak menyalahkan Chanyeol ataupun keluarga pria itu. Ah Ra akan melepaskan Chanyeol dan membiarkan pria itu memilih gadis yang memang ia cintai. Tapi dengan satu syarat.

Satu syarat yang belum juga bisa Chanyeol penuhi.

“kumohon, maafkan aku” kata gadis itu lagi sembari menangis. Ia tak peduli matanya sudah bengkak karena menangis berhari-hari. “dia tak akan mendengarku, Sehun” Ah Ra menoleh pada Sehun yang duduk didepannya

“dia tak akan mendengar siapapun, kecuali satu orang” Sehun tak pernah suka pada Chanyeol. Dulu Chanyeol mengambil tempatnya sebagai satu-satunya pria yang bisa bicara dengan nyaman pada Sae Jin. Chanyeol jugalah pria yang merebut hati gadis itu. Sehun membencinya, karena Sae Jin lebih memilih Chanyeol daripada dirinya. Ia membenci Chanyeol, tapi tak pernah berharap sesuatu yang buruk seperti ini.

Sehun mengingat ucapan Chanyeol saat di pertunangannya minggu lalu. Pria itu bilang, jika hari itu Sae Jin pergi, maka gadis itu tak akan bisa melihatnya lagi. Chanyeol hampir menepati ucapannya.

Dihari yang sama, Chanyeol mengalami kecelakan parah dan belum sadarkan diri hingga hari ini. Ia tertabrak mobil saat akan menyebrang. Pria itu mengalami luka berat di bagian kepalanya. Operasi sudah dilakukan, tapi pria itu belum juga bangun hingga hari ini

Sae Jin tahu soal ini. Ia tahu pria yang ia cintai itu terbaring koma di rumah sakit. Tapi entah kenapa gadis itu tak mau menjenguk Chanyeol. Sejak Chanyeol kecelakaan hingga sekarang, satu kalipun Sae Jin tak pernah datang untuk sekedar melihat.

.

.

Siang itu Sehun masih berkutat dengan pekerjaannya, meski harusnya ia sudah menikmati makan siang. Teringat makan siang, Sehun berhenti bekerja. Ia menghubungi Sae Jin dan bertanya apa gadis itu sudah makan atau belum. Sehun bukannya sedang bersikap manis, tapi ia hanya sedang menjadi alarm untuk Sae Jin

Semenjak Chanyeol tak sadar, Sae Jin mendadak seperti hilang. Bukan raganya, tapi jiwannya. Gadis itu tak pergi bekerja. Dirumah, ia hanya mengurung diri kamar tanpa melakukan hal berarti. Hanya tidur dan menangis.  Tak usah berpikir terlalu keras untuk tahu alasannya Sae Jin bersikap begini. Sae Jin pasti menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan yang menimpa Chanyeol.

“ayolah, Sae Jin. Jangan seperti ini terus” Sehun kembali mendengar penolakan yang kesekian dari Sae Jin

“Sehun” gadis itu berucap pelan, “bisakah aku melihatnya hari ini?”

Sae Jin terlihat ragu melangkahkan kakinya memasuki ruangan Chanyeol. Tangannya gemetar dan hatinya terasa kosong tiba-tiba

“kenapa?” tanya Sehun yang berdiri dibelakangnya

“aku kehilangan sesuatu” jawab gadis itu dengan wajah bingung. “aku akan mencarinya di mobilmu” katanya sembari memutar tubuh. Terlalu takut untuk menerima kenyataan

Sehun mengerti Sae Jin hanya mencari alasan. Ia bisa pastikan Sae Jin sedang takut sekarang. Ia pun menarik tangan Sae Jin dan membuat gadis itu masuk dengan paksa. Sehun menatap wajah Ah Ra yang terkejut dan membuat isyarat dengan mata agar gadis itu tak bertanya atau berucap apapun. Sehun mendudukan Sae Jin di bangku sebelah kanan Chanyeol.

Sae Jin benar. Ia memang sudah kehilangan. Semuanya sudah akan hilang. Maka gadis itu pun menangis dalam diam. Menatap wajah pucat Chanyeol dengan wajah basah dan isakan kecilnya.

“Chanyeol, buka matamu. Sae Jin-mu sudah datang” kata Sehun mencoba mencairkan suasana. Ia juga tersenyum mengejek saat telinganya mendengar detakan jantung Chanyeol melalui monitor disana. Terdengar berbeda semenjak Sae Jin masuk.

“Chanyeol oppa sempat bangun tadi. Hanya sebentar dan dia mencarimu” air mata Ah Ra mengalir saat mengingat apa yang dokter katakan. “kurasa jika kau tak datang hari ini, kau tak akan bisa melihatnya lagi” tangis Ah Ra pecah

Mendengar tangisan pilu Ah Ra, Sae Jin menunduk. Ia berusaha menyembunyikan tangisnya sendiri.

Tepat saat itu, mata Chanyeol terbuka. Ia menatap Sae Jin yang tertunduk. Sebenanrya sedari tadi ia sudah bangun. Ia hanya menungu Sae Jin berucap sesuatu, tapi gadis itu tak kunjung membuka mulut. Masih saja keras kepala.

Sae Jin yang menunduk terkejut melihat telapak tangan Chanyeol terbuka. Gadis itu mendongak dan mendapati Chanyeol yang sudah bangun.

“jangan pergi, Sae Jin. Jangan pergi” sembari menggeleng kecil, Chanyeol memohon

Diam sebentar, Sae Jin menghapus air matanya. Berpura-pura menghentikan tangis, tapi air matanya terus jatuh

“aku baru datang. Aku belum akan pergi” kata gadis itu dengan suara bergetar. Rasa takutnya semakin besar. “apa luka dikepa_hiks” menunduk sebentar ia kembali melanjutkan kalimat, “lupa dikepalamu sakit?” Sae Jin tak tahan. Ini mimpi buruk yang sebenarnya. Ia ingin bangun sekarang juga

“tidak” Chanyeol mengernyit. Kepalanya benar-benar terasa sakit

“tentu saja. Kau sudah tidur seminggu. Kau akan segera sembuh” dengan ragu Sae Jin menatap tangan Chanyeol . Ingin rasanya menggenggam tangan itu, tapi ia takut Chanyeol melepaskan genggamannya. “kenapa kau tidur lama sekali?”

“kenapa kau baru datang sekarang?”

“aku sibuk. Pekerjaanku ba_”

“diamlah dan cepat peluk aku, bodoh !”

Terdiam sebentar, Sae Jin menolak. “tidak mau. Tubuhmu terluka. Kau akan kesulitan bernafas jika aku memelukmu” gadis itu membuang wajahnya

Tak ingin membuang waktunya Chanyeol menarik Sae Jin dan membuat gadis itu ada dalam dekapannya, meski ia sempat meringis karena perbuatannya sendiri.

Sedari tadi Sehun dan Ah Ra hanya bisa menonton pembicaraan Sae Jin dan Chanyeol dengan diam. Jadi biarkan saja mereka juga melihat adegan sekarang dengan diam.

“peluk aku, Sae Jin. Kenapa kau masih saja keras kepala?” Chanyeol berucap sembari memejamkan matanya. Ini damai sekali.

Ah Ra tak sanggup, ia keluar disusul Sehun.

“kenapa mereka selalu suka membuat orang lain iri?” gumam Sehun saat ia dan Ah Ra duduk di depan ruangan Chanyeol

Chanyeol masih memeluk Sae Jin hingga dua menit berikutnya. Tentu saja. Pria itu kehilangan kesempatan memeluk Sae Jin selama 3 tahun penuh.

“Chanyeol, punggungku sakit” protes Sae Jin yang sudah kembali menangis

“naiklah”

Merasa tak harusnya membantah dan membuang waktu, Sae Jin menurut. Ia naik dan berbaring di ranjang Chanyeol. Si pria pun kembali membawanya dalam pelukan.

“ada yang ingin kukatakan padamu” bisik Chanyeol

“sedari tadi kau sudah bicara. Diam dan istirahat saja”

Chanyeol menunduk dan melihat wajah  gadisnya. Hanya beberapa detik, ia pun segera berkedip cepat. Wajah Sae Jin terlihat kabur untuk sesaat. “sebentar lagi saja, kumohon” gumamnya. “ Sae Jin, aku mencintamu”

“aku tahu. Diamlah, Chan” gadis itu mengeratkan pelukannya. Jangan sekarang.

“aku mencintaimu, Sae Jin. Aku mencintaimu”

Tepat setelah mengatakan itu, pintu ruangan Chanyeol terbuka lagi. Sehun, Ah Ra dan seorang dokter datang. Chanyeol tak memperdulikan mereka. Ia terus memanggil nama Sae Jin dan mengulang-ulang kalimat ‘aku mencintamu” pada gadis itu

“Cha_Chanyeol. Se_seper_” Sae Jin meremas pakaian Chanyeol. Detakan itu semakin terasa samar. Pelukan itu perlahan  melonggar

“aku mencintaimu, Sae Jin. Aku mencintaimu”

Sae Jin baru sadar bahwa diruangan itu terdapat alat pendeteksi jantung, saat benda itu mengeluarkan bunyi panjang, tepat setelah Chanyeol menyelesaikan kalimatnya yang terakhir

“chanyeol, oppa !!” Ah Ra histeris.

“kau mau tidur, Chan?” Sae Jin menutup matanya. Berharap telinganya tuli dan berharap dunia berakhir saja hari ini. Ia menangis sembari memeluk tubuh tanpa raga itu erat. Sudah selesai. Hidup Sae Jin sudah selesai.

♣ ♣ ♣

Pemakaman Chanyeol sudah berlalu satu minggu, tapi Sae Jin masih sama saja. Gadis itu belum beranjak dari tempat tidurnya. Tidak menangis. Tidak histeris. Ia hanya diam dan menatap kosong ke luar jendela kamarnya. Begitu terus hingga harinya terbuang percuma

“Sae Jin, katakan sesuatu” Sehun yang kembali datang hari ini mash saja berusaha membujuk Sae Jin. “jika kau ingin menangis, menangis saja. Jangan hanya diam seperti ini”

Sebenarnya apalagi yang orang-orang harapkan dari Sae Jin? Dia menangis? Mungkin jika ada yang memberi jaminan bahwa jika ia menangis Chanyeol akan hidup lagi, gadis itu pasti akan mempertimbangkan. Tapi itu semua tak bisa dilakukan. Jangankan menangis, bernafas saja gadis itu sudah tak berselera. Saat jantung Chanyeol berhenti berdetak, Kim Sae Jin juga sudah mati disaat yang sama.

Seminggu kemudian, Sehun dan Ah Ra bertemu di taman. Sehun yang mengajak Ah Ra bertemu untuk membicarakan Sae Jin. Pikir Sehun, jika Ah Ra mau menemui Sae Jin sekali saja dan mengajak gadis itu bicara, Sae Jin mungkin akan bisa kembali seperti dulu. Atau paling tidak, gadis itu mau bicara lagi

“temui Sae Jin dan bicara padanya”

Ah Ra menolak dengan cepat. Ia tak ingin bertemu Sae Jin, karena merasa Sae Jinlah penyebab Chanyeol meninggal.

“dia tak akan mendengarku. Sejak dulu memang begitulah dia. Lagipula, semua ini memang kesalahannya. Jika saja malam itu ia tidak lari, kecelakaan itu tak akan terjadi” kata Ah Ra marah

“kau tak tahu apapun, jadi jangan menyalahkan siapapun. Semua masalah ini juga berasal darimu” Sehun tak mau menahan amarahnya lagi

“apa maksudmu?”

Pertanyaan Ah Ra dijawab Sehun dengan jelas. Tiga tahun lalu, saat Sae Jin dan Chanyeol bertemu di halte. Sae Jin meminta Chanyeol untuk meninggalkannya dan menjalin hubungan dengan Ah Ra. Sae Jin merelakan Chanyeol untuk Ah Ra.

Dan kejujuran Sae Jin ini dibenarkan oleh perkataan  Chanyeol pada Sehun dua tahun lalu, saat mereka bertemu diam-diam.

“Sae Jin lebih menyayangi Ah Ra daripada aku” Itu yang Chanyeol katakan pada Sehun.

“Sae Jin tahu kau sering mencoba bunuh diri karena kau menyukai Chanyeol. Dia mendengar ucapanmu saat dirumah sakit”

Ah Ra tercengang

Tiga tahun lalu hal inilah yang Sae Jin minta saat ia dan Chanyeol bertemu di halte.  Chanyeol sudah sempat menolak permintaan bodoh Sae Jin, tapi ia kemudian luluh karena Sae Jin menangis dan memohon didepannya. Maka Chanyeol pun melakukan itu. Ia menjauh dari Sae Jin dan berpura-pura dekat dengan Ah Ra.

“ta_tapi, kenapa? kenapa Sae Jin melakukan semua ini?” dengan terisak gadis itu bertanya

“kau bertanya kenapa? karena kau temannya, apalagi? Kau lupa Sae Jin pernah mengaku bahwa ia menyayangimu? Atau jangan-jangan kau  tidak percaya?”

“kurasa kau memang bukan temanku. Kau bahkan tak bisa hanya untuk sekedar percaya bahwa aku tak akan pernah pergi”

Ah Ra mengutuk dirinya. Dia memang tak pantas disebut sebagai teman. Setelah semua yang sudah Sae Jin lakukan, ia malah tega menyebut gadis itu jahat. Ia bahkan menuduh Sae Jin sebagai penyebab kematian Chanyeol. Ah Ra tak tahu apa dirinya masih layak disebut manusia atau tidak. Air matanya mengalir semakin deras saat mengingat senyuman Sae Jin sewaktu melihat Chanyeol dulu. Sesakit apa hati Sae Jin sekarang?  Tak ingin terlihat lebih menyedihkan didepan Sehun, ia pun pergi.

Sepulangnya Sehun dari taman, ia mengunjungi rumah Sae Jin. Disana ia mendapati Sae Jin sedang duduk di teras belakang rumah sembari menatap langit. Dengan pelan, ia pun duduk di salah satu kursi kosong disana

“apa yang kau suka dari langit, Sae Jin?” tanya Sehun setelah lima menit duduk dalam diam

“warnanya biru dan sangat luas” jawab gadis itu masih focus dengan langitnya. “Sehun, bisa aku minta sesuatu padamu?”

“kau mau minta apa? aku membelikan langit dan membawanya ke pangkuanmu? Aku tidak bisa, mengertilah” canda Sehun

“nanti…bisakah kau menjaga ibuku?” ucap gadis itu penuh harap

“oh, tentu saja. Aku akan jadi menantu terbaik untuk ibumu. Bukan hanya ibumu, aku juga akan menjaga ayahmu. Dan tentu saja menjagamu” kali ini Sehun tidak sedang bercanda. Beberapa hari lalu ia sudah bicara pada ayah Sae Jin dan mengutarakan niatnya untuk menikahi Sae Jin. Tak pernah Sehun sangka bahwa ayah Sae Jin akan menyetujui itu. Dari ayah Sae Jin,  ia akhirnya tahu bahwa selama ini hubungan Sae Jin dengan ayahnya tak baik.

“ibuku saja. Ayahku pasti bisa menjaga dirinya sendiri”

“kau membenci ayahmu?” tanya Sehun tiba-tiba

“tidak. Aku tidak berhak. Bagaimana pun sikapnya padaku, aku ada karenanya. Aku hanya pernah sedikit marah” jelas Sae Jin

“ada lagi? ada lagi yang mau kau minta dariku? Kau tidak menginginkan aku?”

Hari ini hari terbaik untuk Sehun. Untuk pertama kalinya setelah Chanyeol pergi, Sae Jin kembali menunjukkan senyumannya. Meski hanya senyuman kecil, tapi itu sudah cukup.

“kau harus bahagia, Oh Sehun”

“aku akan bahagia. Kau akan segera jadi istriku, jadi aku pasti akan bahagia”

“aku tak pernah bilang akan menikahimu”

“aku yang akan membuatmu menikahiku”

“setidaknya, harus ada satu orang yang hidup bahagia dari kita ber-empat” Sae Jin menatap Sehun penuh arti. Gadis itu sedang berterima kasih. Hidup yang diberikan padanya sungguh indah. Orang tuanya, teman-temannya, juga Chanyeol. Meski ada air mata, tetap saja. Hidup itu sendiri sudah merupakan anugrah. “terima kasih sudah menjadi temanku, Oh Sehun. Sampaikan juga rasa terima kasihku ini pada Ah Ra”

Kemudian hening. Sae Jin kembali menatap langit birunya hingga sepuluh menit berlalu. Menit kesebelas Sae Jin kembali membuat sebuah permohonan. Ia ingin Sehun mengantarnya ke sebuah pantai. Meski sedikit bingung, Sehun menurut. Ia membawa Sae Jin ke pantai yang letaknya tak jauh dari daerah mereka

Di pantai itu, Sae Jin tak melakukan apa-apa. Ia hanya berdiri ditepi dan menatap laut yang terbentang luas didepan. Sehun yang penasaran akan alasan Sae Jin ingin ke tempat itu pun bertanya. Tapi sayang, jawaban yang Sehun dapat malah semakin membuatnya bingung

“tempat langit dan laut bertemu”

..

“aku suka langit, kau suka laut. Mana bisa kita bersama. Hal yang kita sukai saja sangat jauh berbeda”

“jika memang harus bersama, pasti ada tempat dan waktunya akan bersama. Dan aku yakin, kau memang diciptakan untuk bersama denganku”

“hmm?” Sehun sudah berusaha berpikir, tapi otaknya tak kunjung mendapat jawaban. Ia menoleh pada Sae Jin, bersiap untuk bertanya lagi, tapi yang ia lihat membuatnya mengurungkan niat

“aku merindukannya. Tak bisakah dia kembali? Aku berjanji tak akan bersikap jahat lagi. Tak bisakah dia kembali, Sehun?” meski menutup wajah dengan kedua tangan, suara tangisan Sae Jin masih saja terdengar sangat pilu

Sehun tertegun. Selama ini ia menyuruh Sae Jin menangisi Chanyeol, tapi tangisan barusan benar-benar tak bisa ia tanggung. Ini mimpi buruk. “aku menyesal menyuruhmu menangis, bisakah kau berhenti?” ucapnya seraya menepuk punggung Sae Jin

“kembalikan dia padaku. Aku tak punya apapun lagi sekarang. Kumohon, kembalikan dia padaku, Sehun. Biarkan aku bisa melihatnya”

.

.

Sehun berjalan dengan dua buah balon ditangan. Beberapa perawat menatapnya heran dan seakan ingin mengingatkan bahwa ruangan khusus anak-anak ada di lantai bawah. Tapi Sehun sama sekali tak salah jalan.

Pria itu masuk ke sebuah ruangan dan menyerahkan dua balon tadi pada gadis yang masih betah terbaring di tempat tidurnya. Gadis yang tak lain adalah Sae Jin. Sudah seminggu ia dirawat disini. Tak ada penyakit serius. Yang bermasalah disini adalah hati Sae Jin. Gadis itu kehilangan semangat hidup,  hingga tak selera makan dan mengharuskannya mendapat asupan nutrisi dari jarum infuse. Tidak tidur teratur dan akhirnya daya tahan tubuhnya menurun setiap hari. Sejenis penyakit patah hati yang menyeramkannya.

“aku harus berbohong demi mendapat balon itu” ucap pria itu riang

“terima kasih” Sae Jin menerima balon tadi

“kapan kau pulang? Aku sudah bosan mengunjungi rumah sakit ini”

“kalau begitu jangan datang”

“eh, tidak bisa. Kau harus segera pulang dan membantuku mempersiapkan pernikahan kita”

“aku tidak akan menikah denganmu, Oh Sehun”

“harus, sayang”

To be Continued…

a/n :

hai…satu chapter lagi dan Our Story bakalan selesai. Maaf sebelumnya, tapi chapter terakhir diproteksi ya. Kalau kalian berkenan membaca bagian terakhirnya, silahkan minta passwordnya di page Got Password

Terima kasih untuk semua orang yang sudah menyempatkan waktu membaca cerita ini,  terutama yang sudih berkomentar. Semoga ada hal baik yang bisa kalian dapatkan (minimal senyum-senyum..^^) dari cerita ini.

Terima kasih juga untuk EXO FFI yang sudih menerima juga memposting cerita ini. Terima kasih banyak dan semoga sehat selalu…^^

Tak lupa…mohon maaf jika akhir cerita ini melenceng dari prediksi dan harapan kalian..^^

Terima kasih banyak untuk pengalaman tak terlupakan ini…^^

-aliensss

8 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 21)”

  1. Email : ninihandayani2@gmail

    Kemaren2 udah minta di admin tapi gak di kirim2, padahal pingin banget baca chapter terakhir..😢..terimakasih thor

  2. sekedar info…
    untuk pw chapter terakhir, kalian juga boleh nagih ke aku.
    caranya, tinggalin alamat email kalian di chapter yg ini, nanti pwnya bakal aku kirim kesana

    jadi buat pwnya bisa minta ke kakak staf (Got Pasword) atau ke aku ya.
    terima kasih…^^

  3. Omg hel to the lowww. …nggak nyangka si aabang chanyeol dead ..kasian banget si se jin..
    Aku berharap.x sih sejin bisa ngelupain chanyeol trus menikah ama abang sehun ..dri pertama ngikutin aku lebih suka si sejin banreng sehun nggak tau knp ..
    Ya udah d tunggu chap selanjutx thoor ..fighting ..!!!

  4. OMG..diluar prediksi thor..asli gw nangis ..kenapa jalannya kayak gini 4 sekawan..please thor, terakhir buat bahagia dong si saejin..ato buat kembaran chanyeol..wkwk..plak..

    1. hai,hai
      terima kasih masih mau ninggalin komen.^^

      kembaran chanyeol? waduh, susah tuh.
      tenang aja, Sae Jin pasti bahagia kok ^^
      terima kasih..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s