Maliciously Missing — Len K [Chapter 04]

 

Maliciously missing

(.n)people who, for whatever reason, decide they simply don’t want to be found

Pencarian Minrin masih juga belum membuahkan petunjuk. Hanya jalan buntu yang ditemui. Namun apakah Junmyeon akan menyerah atau masih berusaha menemukan celah?

 

 

MALICIOUSLY MISSING

 

 

Storyline © Len K. Standard disclaimer applied; I own the plot. This is a work of fiction. Names, characters, businesses, places, events, and incidents are either the product of the author’s imagination or used in fictitious manner. Any resemblance to real persons, living or dead, is unintentional and purely coincidental. No profit taken from this work

 

Starring: Kim Junmyeon – Suho EXO, Choi Minrin (OC), Oh Sehun EXO, etc | Rate: T | Genre: Drama, Mystery

 

 

Special thanks to Kak IRISH for the poster and Kak Liana  for being my beta

 

 

WARNING!!

Non-canon!AU, possibly OOC, typo(s). Setting take place in Indiana, USA. Rate may changes. Additional casts to be added. I did the research before related to missing person’s cases and Indiana state itself, and other things in this fiction, but still, I’m sorry if you find some inaccuracy.

 


 

Satu hari yang melelahkan kembali Junmyeon lewati. Tidak ada yang lebih melegakan daripada melihat Jennifer yang bergantian shift dengannya datang. Setelah melakukan serah-terima pasien dan mengucapkan salam perpisahan, Junmyeon berjalan menuju mobilnya. Tidak lupa, Jennifer berpesan pada Junmyeon untuk segera beristirahat dan menyantap makan malam. Yang diberi pesan hanya tersenyum sebagai balasan. Pria Korea itu tahu, rekan-rekannya mengkhawatirkan dirinya, tapi dia juga tidak punya cukup kekuatan untuk berhenti menghancurkan dirinya perlahan-lahan.

Perjalanan ke rumah tidak begitu sepi karena radio yang menemani. Ketika lagu milik The Click Five yang berjudul Don’t Let Me Go diputar, Junmyeon tidak bisa menahan untuk tidak teringat akan Minrin. Lagu itu adalah salah satu lagu yang sering diputar Minrin di malam hari ketika kekasihnya tidak bisa tidur. Kenangan yang menyeruak itu membuat hatinya lagi-lagi terasa sakit.

Tidak peduli sesakit apa pun hatinya akan kepergian Minrin, dunia tidak akan berhenti untuk bersedih bersamanya. Hidupnya harus tetap berjalan meski saat ini ia terseok-seok menjalaninya. Bisa dibilang Junmyeon membenci hidupnya yang sekarang. Selama kurang-lebih seperempat abad hidupnya, Junmyeon hidup tanpa Minrin. Seharusnya sekarang ia bisa hidup tanpa Minrin, bukan? Namun, semenjak Minrin masuk dalam kehidupannya, hari-harinya tanpa Minrin tidak akan pernah sama lagi.

Memasuki pekarangan rumah, Junmyeon melihat satu mobil yang tidak asing baginya. Ia tahu siapa yang tengah datang berkunjung dan tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini. Dokter tersebut memarkirkan mobilnya ke garasi sebelum berjalan menuju pintu depan di mana tamunya tengah melihat-lihat beberapa tanaman hias—sebagian mulai kering karena kurang terawat—yang Minrin tanam secara vertikal di bawah kanopi teras depan rumah.

Eomma?” Junmyeon menyapa tamunya, ibunya sendiri.

Wanita yang mulai memasuki usia senja tersebut menoleh pada putranya dan langsung membuka tangan untuk memeluk Junmyeon. “Aigo, uri adeul.”

Junmyeon membalas pelukan ibunya. “Ada apa gerangan Eomma datang kemari?”

Nyonya Kim melepas pelukannya dan berdecak sebal. “Jadi, Eomma tidak boleh mengunjungi putra Eomma sendiri?”

Sang anak tertawa pelan. “Bukan begitu. Hanya saja tidak biasanya Eomma datang tanpa pemberitahuan seperti ini.” Ia membukakan pintu dan mempersilahkan ibunya masuk.

Pasangan ibu dan anak tersebut langsung menuju ke dapur. Nyonya Kim tidak dapat menahan untuk tidak mengernyit heran melihat betapa berantakannya rumah anaknya. Sesuatu yang sama sekali bukan seperti putranya. Sementara itu, Junmyeon hanya merasa sedikit gugup; ibunya pasti akan menanyainya soal keadaan rumah. Ia merasa bersyukur karena sudah memanggil orang untuk membersihkan rumahnya tiga hari yang lalu. Rumahnya jadi terlihat lebih layak huni meski kini kembali kacau menurut standar kerapian Junmyeon.

Jika saja Sehun tidak datang dan memaksanya, mungkin Junmyeon tidak akan memanggil orang untuk membersihkan rumahnya. Mantan sous chef Provision yang kini menyandang status sebagai head chef itu sesekali menemuinya, entah mereka akan mengatur janji untuk bertemu di kafe atau tempat lain, atau pemuda Oh itu akan dengan suka rela menyambangi rumah Junmyeon.

Junmyeon tidak keberatan sama sekali ketika Sehun datang ke rumahnya. Kawan Minrin yang sudah seperti adiknya sendiri itu sering membawakan atau memasak makanan untuknya. Terkadang Sehun yang kesal melihat kondisi kulkas Junmyeon akan meminta kartu kredit Junmyeon dan berbelanja.

Peter juga melakukan hal yang tidak jauh beda. Rekan sejawatnya itu juga sesekali berada di rumahnya. Bedanya dengan Sehun, Peter tidak memasak makanan untuknya. Pemuda berambut pirang itu lebih sering memesan makanan dari berbagai restoran dan menonton anime atau film atau bermain game bersama Junmyeon.

Siwon, calon kakak iparnya—masih bisakah ia menyebut Siwon calon kakak iparnya?—juga pernah mengunjunginya bersama Kang Sora, istrinya yang kini tengah mengandung, meski tidak sesering Peter maupun Sehun. Junmyeon tahu Siwon yang berprofesi jaksa dan sedang dalam tahapan membangun firma hukumnya sendiri itu cukup sibuk. Putra sulung keluarga Choi itu datang untuk bertamu seperti biasa dan terkadang membicarakan soal Minrin, tentang bagaimana Siwon juga berusaha mencari adiknya itu melalui koneksi yang dimilikinya sebelum beralih ke topik lain agar keduanya tidak menjadi semakin down.

Bukan hanya Siwon, orang tua Minrin juga sempat berkunjung beberapa kali. Daripada membicarakan Minrin, keduanya lebih sering mengajak Junmyeon untuk makan malam, bertanya mengenai pekerjaannya, dan hal-hal lain yang mampu mendistraksi pikiran mereka dari menghilangnya Minrin. Junmyeon tahu itu adalah usaha yang sia-sia karena mereka semua tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Minrin. Bukannya tidak mensyukuri hadirnya orang-orang yang berarti baginya itu; baik Sehun, Peter, Siwon, dan kedua orang tua Minrin mampu mengalihkan kesedihannya akan Minrin, hanya saja terkadang Junmyeon butuh waktu untuk sendiri.

“Bagaimana kabarmu? Kau sudah cukup lama tidak mengabari Eomma dan itu membuat Eomma khawatir.” Nyonya Kim bertanya pada putra bungsunya yang kini tengah meracik teh dan menghangatkan makanan dalam microwave.

“Baik. Sibuk seperti biasa.” Sebuah jawaban standar penuh dusta Junmyeon lontarkan.

Segelas teh hangat dan semangkuk sup krim hangat tersaji di kitchen island yang lebih sering digunakan sebagai meja makan ketimbang meja kayu yang berada tidak jauh dari sana. Ibu Junmyeon menggumamkan ‘selamat makan’ dan ‘terima kasih’ sebelum menyantap hidangan yang tersaji. Junmyeon hanya duduk di seberang ibunya dan menatap sayang wanita yang telah melahirkannya.

“Maaf, hanya ada sup krim yang dihangatkan. Aku tidak sempat memasak saking sibuknya.”

“Tidak apa-apa.” Ibu Junmyeon mengibaskan tangannya. “Bukankah biasanya Minrin memasak sesuatu untukmu?”

Minrin.

Minrin.

Minrin.

O, Tuhan, hidupnya memang tidak bisa lepas dari Minrin, eh?

Junmyeon tidak langsung menjawab pertanyaan ibunya. Gelombang emosi lagi-lagi menghantamnya. Kali ini cukup keras karena ibunya sendiri yang bertanya. Pria bungsu dalam keluarga Kim itu hanya mampu tertunduk, menggigit bibir bawahnya dengan tangan terkepal di atas kitchen island, dan bersusah payah menahan agar air matanya tidak keluar.

Bagaimana ia menjelaskan semua ini pada ibunya?

Harusnya mengeluarkan minimal dua patah kata—Minrin menghilang—adalah hal yang mudah, bukan? Ya, seharusnya, tapi menjelaskannya adalah hal yang lain lagi. Bagaimana Junmyeon bisa menjelaskan sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak pahami?

Adeul-a, kenapa kau menangis?” Ibu Junmyeon segera beranjak dari tempatnya, menghampiri putranya yang kini menangis kencang hingga tubuhnya bergetar lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang dan kehangatan.

Junmyeon tidak langsung menjawab. Ditenggelamkannya dirinya ke dalam pelukan sang ibu, seolah-olah hidupnya kini bergantung pada dekapan itu. Tangan Nyonya Kim yang lain membelai rambut hitam anaknya. Instingnya sebagai ibu tidak pernah salah. Beliau tahu ada yang tidak beres dengan putranya, maka dari itu beliau datang berkunjung.

“Kalian bertengkar?” Nyonya Kim bertanya lembut.

Junmyeon yang masih menangis dalam pelukannya menggeleng.

“Apa hubungan kalian … sudah berakhir?” Dalam hati, Nyonya Kim berharap ‘tidak’ adalah jawaban yang akan beliau dapatkan. Dirinya sudah menganggap Minrin sebagai anaknya sendiri dan amat merestui hubungan putranya dengan Minrin.

Lega adalah kata yang belum cukup untuk menggambarkan perasaan Nyonya Kim saat Junmyeon kembali menggeleng sebagai jawaban.

“Lalu ada apa, hm? Kau mau menceritakannya pada Eomma?”

“Mi-Minrin … dia … d-dia menghilang, Eomma,” jawab Junmyeon di sela tangisnya dan hampir tersedak.

Pelukan Nyonya Kim terlepas. Segera ia menangkup wajah putra bungsunya yang basah oleh air mata dan diangkat sedemikian rupa agar menghadapnya. “Apa maksudmu dengan Minrin menghilang?” tanyanya selembut mungkin walau saat ini beliau mulai panik.

Lagi, luka itu kembali Junmyeon buka. Ia ceritakan semuanya, dari awal, mengenai menghilangnya Minrin dengan linangan air mata. Membuatnya harus memberi jeda beberapa kali untuk kesempatan bernapas.

“Mengapa Minrin menghilang, Eomma? Apa aku sudah melakukan kesalahan?” Tangis Junmyeon sudah agak reda.

“Ssshh … jangan salahkan dirimu seperti itu, Nak. Kau bahkan belum tahu jawabannya. Jangan bebani dirimu dengan hal yang kebenarannya sendiri belum jelas.” Tangan Nyonya Kim dengan lembut mengusap air mata pada pipi Junmyeon.

“Lalu kenapa Minrin menghilang jika aku tidak berbuat salah?” protes Junmyeon. “Dia tidak mungkin pergi begitu saja.”

“Mungkin … mungkin Minrin memiliki alasannya sendiri yang tidak atau belum mampu ia bagi padamu, Nak.”

Junmyeon kembali menangis dalam pelukan ibunya.

 

 

***

 

 

Pintu sebuah ruangan yang tersambung langsung dengan dapur Provision tampak terbuka sedikit. Sebuah palang bertuliskan ‘Head Chef – Sehun Oh’ terpampang di depannya. Sementara di dalam, sang head chef sendiri tengah duduk di mejanya, dihadapkan dengan laporan-laporan yang harus ia selesaikan dan seorang Nakamoto Yuta yang berdiri dengan ekspresi harap-harap cemas. Bukan tanpa sebab, commis chef baru itu sedang meminta Sehun untuk mencicipi hidangan baru kreasinya: sebuah okonomiyaki dengan topping yang sudah disesuaikan dengan cita rasa Barat.

“Adonan rotinya kurang matang, topping-nya sudah sesuai. Mungkin kau bisa menambahkan beberapa variasi lagi,” komentar Sehun setelah dua suapan.

Wajah Yuta menjadi sumringah. Memang belum sempurna, tapi setidaknya komentar yang ia dapatkan hari ini tidak sepedas tempo hari. “Aye, aye, Capt!” Tangan Yuta membentuk sikap hormat.

Sehun mau tidak mau tertawa kecil melihatnya. “Oke, sekarang kembalilah ke stasiunmu hari ini. Kau ada di bagian penggorengan, kan?”

“Ya, siap!” Yuta membalikkan badannya.

Sebelum sang commis chef baru tersebut menghilang dari pandangannya, Sehun berseru, “Jangan lupa membuat perhitungan mengenai perkiraan harga menumu ini!”

Aye, aye, Capt!” Lagi-lagi kalimat khas yang selalu dilontarkan Yuta keluar.

Selepas Yuta keluar dari ruangannya, Sehun kembali fokus pada laporannya. Sungguh, menjadi head chef bukanlah tugas yang mudah. Ada banyak, amat banyak malah, yang harus dikerjakan oleh seorang head chef. Secara keseluruhan, seorang head chef bertanggung jawab untuk operasi dapur sehari-harinya. Mulai dari mengurusi logistik dapur, perekrutan dan pemecatan karyawan, memonitor kesehatan dan keselamatan kerja di dapur, dan lain-lain. Seorang head chef juga harus siaga 24 jam jika ada panggilan mendadak sewaktu-waktu. Bisa dibilang, keberhasilan suatu restoran terletak pada pundak seorang head chef.

Sehun sudah tahu mengenai tugas-tugas itu semua, namun mengetahui dan merasakannya sendiri adalah hal yang sungguh berbeda. Sekarang setelah menggantikan posisi Minrin, Sehun merasa makin salut kepada Minrin yang mampu menangani semua ini.

Ah, Minrin, ya. Mau tidak mau pikiran Sehun berkelana pada kawannya yang sampai sekarang keberadaannya masih menjadi misteri.

Sebuah ketukan di pintu kantornya terdengar dan perhatian Sehun yang tadinya tertuju pada deretan angka pada software manajemen restoran yang terpampang di layar komputernya, teralihkan. Sang rotisseur, Chris Howard, berada di ambang pintu.

“Suplai buah dan sayuran kita datang,” katanya tanpa diminta sambil memberi isyarat dengan jempolnya.

“Oke, aku akan ke sana.” Sehun beranjak dari duduknya. Saat ia akan melewati Chris, ia berkata, “Ah, jangan lupa cukur bersih jenggotmu. Itu terlalu panjang dan aku tidak peduli jika gadis yang kauincar kemarin malam di bar menyukainya karena kebersihan dapurku lebih penting.”

Alright.” Chris bergumam pasrah.

Melewati pintu lain di belakang, Sehun berjalan keluar dan menemui pemasok buah dan sayur langganan Provision sudah membongkar muatan dan memasukkannya ke ruangan pendingin.

“Hei, Sehun! Kawanku, bagaimana kabarmu?” Juan, sang supir keturunan Hispanik, langsung mengangkat tangannya dan memeluk Sehun dengan satu tangan.

“Stres. Terima kasih sudah bertanya,” balas Sehun kecut.

Juan tertawa. “Mungkin kau butuh sedikit pelepasan. Ambillah libur dan kita bisa pergi ke red district bersama-sama. Aku mengenal seseorang yang bisa memberi kita diskon pada gadis-gadis untuk diajak bercinta barang satu malam.”

“Tidak, terima kasih. Aku lebih memilih untuk tidur nyenyak daripada harus melewati malam panas yang melelahkan.”

“Ow, sayang sekali. Aku yakin ada banyak gadis yang tertarik padamu.” Juan menyodorkan berkas berisi laporan logistik untuk ditandatangani Sehun.

“Sekarang masih belum saatnya memikirkan hal itu,” gumam Sehun sembari membubuhkan tanda tangannya di kolom yang tersedia. “Sampaikan pesanku pada bosmu untuk lebih teliti. Di pengiriman kemarin, aku menemukan dua kotak tomat busuk.”

Alright,” balas Juan singkat. “Belum ada kabar mengenai Em?” Pria Hispanik di akhir usia tiga puluhan itu selalu memanggil Minrin dengan panggilan ‘Em’.

Kepala Sehun menggeleng pelan. Tanpa ia sadari, dahinya berkernyit dan alisnya sedikit bertaut. “Belum. Dia hilang bagaikan ditelan bumi.”

“Sayang sekali. Kekasihnya pasti kebingungan setengah mati.”

You don’t say, Juan. Jun hampir gila karenanya. Aku berharap ia tidak benar-benar menjadi gila.”

Juan mengangguk paham. Kedua orang itu berfokus pada barang-barang yang tengah dipindahkan sampai Chris lagi-lagi muncul dan memanggil Sehun.

“Ada apa lagi kali ini?” Sehun bertanya dengan ketus. Kepalanya sudah pusing memikirkan dapur belakangan ini. Sedikit saja pemicu, ia bisa terpelatuk dengan mudah.

“Si tukang menemukan sesuatu yang menarik di ruang loker,” jawab Chris, tidak terpengaruh oleh bitch face yang ditunjukkan Sehun.

Dalam hati Sehun mengerang. Ruang loker mereka memang tengah direnovasi setelah beberapa karyawan mengeluhkan bahwa loker-loker mereka sudah tua dan mulai tidak aman. Kunci kombinasi loker mereka terkadang rusak dan membuat mereka harus mencongkel paksa loker tersebut. Dengan kata lain, merusaknya. Baru pada hari ini, pagi-pagi sekali, beberapa tukang datang untuk mengganti loker mereka.

“Apa? Dia menemukan harta karun Flying Dutchman?” sindir Sehun.

Biasanya Chris akan nyengir dengan jawaban seperti itu, lalu membalasnya dengan balasan yang tidak kalah ngawurnya—terima kasih atas selera humornya yang tinggi—tetapi kali ini berbeda. Tidak ada balasan penuh canda berbumbu humor yang keluar. Alih-alih, Chris justru membalas, “O, diamlah dan segera datang kemari. Kau tidak akan menyesalinya.”

“Kuserahkan sisanya padamu, Juan,” pesan Sehun pada Juan yang dibalas anggukan dan sebaris kalimat ‘jangan khawatir, kau bisa mengandalkanku’.

Mantan sous chef itu kemudian mengikuti bawahannya menuju ke ruang loker. Debu yang membumbung dan hampir memenuhi ruangan segera menyambut kehadiran mereka. Belum lagi suara bising dari peralatan-peralatan yang digunakan para tukang. Semua itu membuat Sehun semakin cemberut, tidak sedap dipandang.

“Jadi, apa sesuatu menarik yang kau temukan itu?” Sehun bertanya pada Chris.

Chris memberi isyarat sebentar menggunakan telunjuknya sebelum berjalan menuju ke salah satu tukang yang Sehun rasa adalah mandornya dan bertanya sesuatu. Sang rotisseur kemudian berjalan ke sisi yang berlawanan dan kembali pada Sehun membawa sebuah barang yang tidak asing baginya.

Netra Sehun kontan melebar. Tidak mungkin ia tidak mengenali sesuatu di tangan Chris saat ini. Sebuah sling bag warna hitam berukuran sedang milik Minrin.

“Seorang tukang menemukannya—“

“Bagaimana bisa?” potong Sehun cepat. “Bukankah loker Minrin kosong saat digeledah pihak kepolisian?”

Well, tukang tadi menemukannya di loker lain, lebih tepatnya di loker kosong di ujung yang jarang digunakan karena kunci kombinasinya sudah aus. Tas ini ada di semacam ruang rahasia di dalam loker.”

Ruang rahasia dalam loker, eh? Itu ulah beberapa staf Provision terdahulu, akibat dari rusaknya kunci kombinasi yang belum separah sekarang yang bisa berujung pada invasi privasi. Pemuda Asia itu mengambil tas dari tangan Chris dan membuka isinya. Hanya ada buku catatan kecil, ponsel yang dalam keadaan mati, dan dompet. Segera saja Sehun mengambil ponselnya yang berada di saku celana dan mengirim pesan karena ia tahu orang yang akan dihubunginya pasti sibuk dan tidak akan mengangkat panggilan telepon.

 

To: Junmyeon-hyung

Hyung, datanglah ke Provision setelah kau selesai bekerja. Kami menemukan tas Minrin.

 

 

 

 

Junmyeon mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Pesan dari Sehun yang baru dibukanya setelah shift berakhir membuat dirinya tidak tenang. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Kepalanya memulai berbagai macam skenario yang tidak bisa ia hentikan begitu saja. Dalam hati, ia mengumpati pihak kepolisian yang menurutnya kurang teliti dan menyeluruh dalam mencari bukti  yang bisa mengungkap keberadaan kekasihnya—karena apa? Karena kekasihnya sudah dewasa dan setiap orang dewasa yang sehat secara fisik dan mental kemudian menghilang bukanlah tindakan ilegal? Junmyeon tahu, orang dewasa memang sudah mempunyai kuasa atas keputusan mereka, tetapi demi Tuhan, mereka punya keluarga! Minrin punya keluarga di Boston—orang tuanya—dan di New York, yaitu kakak laki-lakinya yang akan segera memiliki keluarga kecil serta dirinya yang mencintai wanita itu sepenuh hati.

Mobil Junmyeon sudah terparkir rapi. Dengan langkah tergesa, si dokter memasuki restoran yang ramai di sore hari ini. Semua pegawai kelihatan sibuk dan sebelum Junmyeon melangkah lebih jauh, seseorang sudah menghampirinya.

Hey, Jun. Nice to see you,” sapa orang tersebut.

Senyum tipis Junmyeon berikan. “Nice to see you too, Paul.”

“Mencari Sehun?” tebak Paul.

Junmyeon mengangguk sebagai balasan.

“Oke, ikuti aku.” Junmyeon mengikuti langkah Paul yang berjalan ke arah dapur. Baru kali ini Junmyeon dapat memasuki dapur Provision yang sedang sibuk-sibuknya. Sebagian kecil dari dirinya bertanya-tanya, apakah dengan ia masuk ke dapur sudah melanggar standar operasional kerja? Walaupun begitu, sebagian lain dari dirinya memutuskan untuk masa bodoh. Toh mereka tidak benar-benar memasuki dapur dan berjalan di tengah-tengah para chef yang sibuk meracik hidangan para pengunjung. Mereka memasuki dapur dari pintu lain yang membuat mereka hanya berjalan di pinggiran dapur saja.

“Sehun sudah bercerita padaku tentang alasan kau kemari.” Langkah mereka berhenti di depan ruangan Sehun.

“O, begitu?”

Yeah. Semoga beruntung, Bung.” Paul mendorong pintu ruangan Sehun. Memberi cukup celah pada sang pemilik ruangan untuk melihat siapa tamu yang datang menyambanginya.

Thanks, Paul,” ucap Junmyeon sebelum berjalan masuk ruangan dan di belakangnya, Paul sudah menutup rapat pintu.

Hyung!” Sehun berdiri untuk menyambut tamunya.

“Jadi, kau menemukan tas Minrin?” Junmyeon langsung bertanya pada poinnya.

Sehun meraih tas Minrin yang ia simpan di lemari kecil mejanya dan menyerahkannya pada Junmyeon. “Bukan aku, melainkan seorang tukang yang sedang membenahi ruang loker kami. Tas Minrin berada di semacam tempat rahasia di loker yang jarang digunakan, kau tahu, trik dengan kaca dan papan, semacam itulah. Tempat lama yang tidak diketahui semua orang.”

Junmyeon tidak begitu mempedulikan deksripsi yang diutarakan Sehun dan langsung menggeledah tas Minrin. Ada satu buku catatan kecil yang baru digunakan sebanyak lima halaman, sebuah dompet di mana kartu identitas dan uangnya telah raib, serta sebuah ponsel.

“Ponselnya mati saat kutemukan, kehabisan baterai dan sudah kuisi dayanya. Ponselnya terkunci dan aku tidak tahu apa kombinasi pin-nya.”

“Oke, terima kasih, Sehun. Akan kucoba untuk membuka ponselnya. Jika tidak berhasil, aku tahu seseorang yang bisa melakukannya. Aku pulang dulu.”

Pemuda Kim itu baru saja membalikkan badan ketika lengannya diraih oleh Sehun. Pergerakan Junmyeon tertahan dan ia menghadap sang head chef baru.

“Kau tidak menyerahkannya ke kantor polisi?”

“Tidak,” jawab Junmyeon disertai gelengan, “kasus Minrin bukanlah prioritas bagi pihak kepolisian. Menyerahkan ini semua pada polisi tidak menjamin bahwa mereka akan segera menanganinya. Aku akan bergerak sendiri.”

Awalnya, Sehun ingin membantah. Bagaimana juga, pihak kepolisian tetap dapat membantu Junmyeon, kan? Namun, Sehun tahu jika Junmyeon bisa jadi sangat keras kepala layaknya Minrin, jadi pemuda yang lebih muda itu hanya berkata, “Kau tahu jika aku selalu ada untukmu—untuk kalian, Hyung. Kau bisa mengandalkanku.”

“Ya, terima kasih, Sehun.”

 

 

 

Ruang tengah adalah ruang pertama yang Junmyeon tuju begitu ia tiba di rumah. Mengabaikan perutnya yang berbunyi nyaring dan masih dalam balutan pakaian kerjanya, Junmyeon mulai berusaha membuka ponsel Minrin yang dikunci dengan kombinasi pin.

Sebagai permulaan, Junmyeon memasukkan tanggal lahir kekasihnya. Gagal. Pin yang ia masukkan salah. Kemudian ia mencoba kombinasi angka yang lain. Mulai dari tanggal lahirnya, tanggal di mana mereka resmi menjadi sepasang kekasih, tanggal saat Minrin pindah ke rumahnya, tapi ponsel Minrin masih terkunci.

Tidak putus asa, pemuda berambut hitam tersebut naik ke lantai dua menuju kamarnya. Dirinya berpikir mungkin ia bisa menemukan sesuatu di beberapa barang Minrin. Seperti jurnal Minrin, contohnya. Sejatinya ia tidak ingin mengacak-acak barang milik kekasihnya. Hal itu hanya akan membawa kenangan yang kini terasa menusuk hati baginya, tapi apa lagi yang bisa ia perbuat?

Junmyeon membuka setiap jurnal yang dimiliki Minrin. Memasukkan setiap kombinasi angka yang dirasanya mungkin dijadikan sebagai pin ponsel Minrin. Tanggal ulang tahun Tuan dan Nyonya Choi, termasuk Siwon, tanggal kelulusan, tanggal diterima bekerja, tanggal saat dipromosikan sebagai head chef, nomor rumah Minrin di Boston, bahkan hingga angka-angka yang ada di buku resep. Semua sudah Junmyeon coba dan dia masih menemui jalan buntu.

Gelapnya langit yang terlihat melalui jendela menunjukkan bahwa malam sudah larut. Junmyeon sendiri tidak menyadari bahwa ia telah menghabiskan waktu berjam-jam di dalam kamarnya untuk yang pertama kalinya semenjak Minrin menghilang. Harus ia akui dirinya amat lelah dan lapar sekarang. Otaknya tidak mampu untuk dipaksa bekerja, tapi di lain sisi ia sungguh ingin dapat membuka ponsel kekasihnya.

Ah, benar. Junmyeon dapat menghubungi orang itu, bukan?

Jari Junmyeon segera bergerak di layar ponselnya untuk mencari kontak seseorang yang ia maksud. Daniel Im. Pemuda Korea yang berprofesi sebagai progammer itu juga handal dalam hal hacking. Junmyeon mengenal Daniel karena ayah mereka adalah rekan seprofesi dan tergabung dalam satu organisasi di mana para profesor berkumpul. Walau ada jarak lima tahun dalam rentang usia mereka, tapi Junmyeon merasa klik dengan Daniel. Mungkin ini karena pembawaan Daniel yang terbilang dewasa.

“Hei, Daniel.”

Hei juga, Junmyeon-hyung. Ada apa? Tumben kau menghubungiku.”

“Ya, maaf.”

Soal?”

“Soal aku yang tiba-tiba menghubungimu di larut malam seperti saat ini dan akan langsung meminta bantuanmu?”

O, tidak perlu sungkan. Aku tahu kau sibuk. Aku juga sebenarnya. Jadi apa yang bisa kubantu, Hyung?”

“Aku ingin kau membuka ponsel seseorang, milik kekasihku lebih tepatnya. Dikunci dengan kombinasi pin. Yang paling penting, data-data di dalamnya tidak boleh hilang.”

Daniel di seberang tidak langsung menjawab.

Oke, besok aku bisa menemuimu sekitar jam … lima sore. Bagaimana?” Oh, rupanya Daniel tadi tengah mengecek jadwalnya yang kini, hal sama dilakukan oleh Junmyeon.

“Baiklah. Aku bisa menemuimu besok.” Junmyeon bersyukur bahwa Daniel juga berdomisili di Indianapolis. “Bagaimana dengan Wendy’s?”

Tidak masalah buatku.”

Alright, besok jam lima sore di Wendy’s.”

Okay, Hyung.”

 

 

***

 

 

Sore ini adalah kali kedua Junmyeon mampir ke Wendy’s. Berkat Peter yang sudi untuk datang lebih awal untuk berganti shift, Junmyeon bisa bertemu dengan Daniel tanpa takut terlambat. Kemarin, ia sudah bertemu Daniel dan menyerahkan ponsel Minrin. Pemuda yang pernah tinggal di Israel itu berkata bahwa dia hanya butuh waktu maksimal sehari untuk membuka ponsel Minrin. Benar saja, pagi tadi Junmyeon mendapat pesan dari Daniel bahwa ponsel kekasihnya sudah tidak terkunci dan siap diambil. Jika saja Junmyeon belum memulai shift-nya, mungkin ia sudah akan bertemu dengan Daniel.

“Sudah menunggu lama, Hyung?” Suara berat Daniel tertangkap rungu Junmyeon.

“Tidak,” jawab Junmyeon. “Duduklah.”

Si programmer duduk di hadapan Junmyeon dan melahap dua batang kentang goreng sebelum merogoh-rogoh sesuatu di tasnya. Entah mengapa Junmyeon merasa berdebar-debar. Soda yang diminumnya jelas tidak bisa memberi efek tenang layaknya kopi favoritnya.

“Ini dia pesananmu.” Ponsel Minrin segera tersodorkan ke hadapan Junmyeon. “Tenang saja, aku hanya membuka ponselnya dan tidak melihat-lihat isinya.”

Junmyeon tersenyum mendengarnya. Salah satu alasan mengapa ia menyukai Daniel adalah karena bocah itu tahu mengenai batas privasi. “Terima kasih.”

Dwown’t mwenthion whit.” Daniel, dengan mulut penuh hamburger, mengibaskan tangan di depan wajah Junmyeon.

“Yang kau lakukan itu sangat berarti bagiku, Dan,” gumam Junmyeon.

Daniel hanya mengangguk pelan dan kembali melahap burgernya, sementara Junmyeon menimang-nimang ponsel milik kekasihnya itu sebelum membukanya. Kali ini lebih mudah tanpa ada kombinasi pin atau pola. Fotonya sendiri dengan snelli dan tengah sibuk menyeruput kopi, berdiri di dapur rumah, sambil membaca laporan mengenai pasiennya tampil sebagai lockscreen wallpaper. Junmyeon otomatis tersenyum melihatnya. Senyumnya semakin melebar saat melihat wallpaper pada ponsel Minrin yang berupa foto mereka saat berada di Taman Eagle Creek untuk menikmati musim semi tahun lalu.

Junmyeon kemudian hanya menatap kosong foto mereka berdua sebagai wallpaper dengan latar pepohonan hijau yang rimbun dan langit cerah. Mereka ada di sebuah bukit saat itu. Minrin tanpa canggung melingkarkan lengan ke lehernya. Satu lengan Junmyeon menemukan tempat di pinggang Minrin, satu lagi memegang tongkat selfie. Senyum Minrin lebar, sama seperti miliknya. Mereka sungguh bahagia saat itu.

“Kalau kau ingin pulang, silakan saja, Hyung,” ujar Daniel, membuyarkan lamunan Junmyeon. “Aku masih akan di sini untuk memenuhi perutku. Seharian aku belum makan karena pekerjaanku tidak bisa ditinggal.”

Kembali Junmyeon tersenyum. Daniel memang pengertian. “Thanks. Jaga dirimu baik-baik.” Daniel mengacungkan jempolnya. “Aku pergi dulu, Dan.”

Yeah …”

Junmyeon tidak sabar sekaligus merasa cemas mengenai apa-apa saja yang akan ia temukan nantinya.

 

 

What will you find?

 

A/N :

Adakah yang bisa menebak siapa Daniel sebenarnya di sini? Kkkkk

Yang nebak IM alias Changkyun dari MONSTA X betul dan berhak mendapatkan tepuk tangan tanpa dipotong pajak! Hahahahahaha

Dan akhirnya saudara-saudara, satu petunjuk telah ditemukan. Yang kepo, tetep pantengin fanfiksi ini ya!

 

Maliciously Missing will be updated once every two weeks on Saturday. So stay tune!

 

 

Protes akan akhir yang ‘nggantung’ diterima juga di beberapa platform berikut

LINE | Twitter | Instagram | Wattpad | Curious Cat

One thought on “Maliciously Missing — Len K [Chapter 04]”

  1. akhirnya.. mule ada titik terang, valuable clue
    Thank God, thx Len
    apaan ya kira2 yg bisa Ju ndptn di dlm ponselnya Minrin itu?
    tp sblm’ny, knp tas’ny Minrin bs ada di loker rsk itu? Minrin pny kunci’ny? slalu taro tas di loker rsk itu?
    oh.. tmbh kepo

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s