[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 16)

Our Story [Chapter 16]

aliensss

Genre : au, drama, romance, friendship, hurt/comfort, sad

Length : Chaptered

Rate : PG-17

Cast:

Park Chanyeol (exo) ǁ Oh Sehun (exo) ǁ Kim Sae Jin (oc) ǁ Kim Ah Ra (oc)

etc

Summary

Chapter 16

Nightmare

Disclaimer : ide cerita dan alur asli milik saya. Cast milik Tuhan YME dan semua yang berhak atas mereka. Terinspirasi dari berbagai sumber (cerpen, novel, ff, film, dan lagu). Dibuat untuk hiburan semata. Cerita yang masih banyak kekurangan, kesalahan ejaan, alur yang aneh, penokohan yang kurang maksimal dsb, jadi harap maklum. Juga dipost di sharlomereficul.wordpress.com

Semoga terhibur…

♣ ♥ ♣

 

Harusnya Sae Jin tak pernah mengharapkan hidupnya akan berjalan dengan baik. Harusnya ia tetap meyakini bahwa hidupnya memanglah sudah ditakdirkan untuk seburuk sebelumnya. Punya ayah yang membencinya, tak punya teman juga orang yang dicintai atau pun mencintainya. Tapi dunia membuat gadis itu lupa. Semesta memberinya hati yang sekuat baja, hingga tetap bisa tersenyum dan menjalani hidpunya dengan baik, meski dengan kebencian sang ayah. Bumi membuatnya bertemu dengan Ah Ra dan Sehun dan akirnya berteman dengan mereka. Juga, Tuhan mengiriminya Chanyeol. Semua itu membuat Sae Jin sempat merasa bahwa ternyata hidupnya tak semenyedihkan itu.

Hingga akhirnya gadis itu sadar. Hidupnya memanglah menyedihkan. Beberapa menit yang lalu, Sae Jin mendengar suara Ah Ra yang mengucapkan sebuah kalimat yang serupa dengan vonis hukuman mati. Ah Ra mengira ia belum sadar hingga gadis itu berucap tanpa takut. Tadinya ia penasaran soal kenapa Ah Ra berusaha menghabisi dirinya sendiri, nyatanya alasan yang Ah Ra punya sungguh sangat mengejutkan Sae Jin.

Sae Jin bangun, gadis itu duduk diranjang rumah sakit dengan pandangan kosong. Beberapa jam lalu Sae Jin tak sadarakan diri. Wajar saja, Sae Jin mengalami tiga hal sekaligus hari ini. dan tiga hal itu semuanya buruk. Satu jam setelah pingsan, Sae Jin sebenarnya sudah bangun. Saat ia ingin membuka matanya, ia mendengar kalimat mengerikan dari Ah Ra, yang memang sedang menungguinya. Sebuah kalimat yang juga alasan mengapa Ah Ra ingin bunuh diri

“maafkan aku, Sae Jin. Kurasa aku benar-benar sudah menyukai Chanyeol oppa”

Ah Ra menyukai Chanyeol. Ah Ra menyukai pria yang Sae Jin cintai. Tapi kenapa? kapan semua itu dimulai? Dan bagaimana bisa hal itu terjadi? Bukankah Ah Ra dan Sehun saling menyukai? Memang, perasaan seseorang tidaklah bisa dipastikan akan berlangsung selamanya. Ada kemungkinan perasaan saling suka antara Ah Ra dan Sehun berkurang seiring berjalannya waktu.  Sae Jin mengerti itu. Yang Sae Jin tak mengerti adalah kenapa harus Chanyeol? dan kenapa semuanya begitu kejam?

Sehun, Ah Ra dan dirinya adalah teman. Kenapa mereka bisa terjebak pada lingkaran cinta yang membingungkan begini? Sehun menyukai Sae Jin, sementara Ah Ra menyukai orang yang Sae Jin cintai. Lalu sekarang, apa jadinya hubungan pertemanan itu? lalu sekarang, bagaimana hubungannya dengan Chanyeol? dan sekarang, sikap seperti apa yang harus Sae Jin ambil?

Belum lagi soal Ah Ra. Ini yang paling parah yang pernah Ah Ra lakukan. Tidak lagi hanya ingin mendapatkan luka sayatan, gadis itu bahkan ingin menghabisi nyawanya

Belum sempat Sae Jin berpikir lebih jauh, pintu ruang rawatnya terbuka dan Chanyeol muncul darisana. Sae Jin menatap pria itu. Salahkah Sae Jin jika saat ini ia ingin segera Chanyeol peluk? Bisakah Sae Jin menceritakan semua hal gila yang kini sedang terjadi pada mereka?

Chanyeol yang mendapat tatapan aneh dari Sae Jin melambatkan langkahnya. Ia mengamati wajah gadis itu dan firasat buruk mendatanginya dengan tiba-tiba

“kau sudah bangun? Kepalamu masih sakit?” tanya Chanyeol sembari duduk di pinggir ranjang Sae Jin. Untuk sebentar, tatapan yang Sae Jin berikan membuatnya sedih tak beralasan.

Sae Jin diam. Ia ingin mengadu bahwa saat ini hatinyalah yang sakit. Tapi Sae Jin tak bisa melakukan itu

Tak mendapat jawaban dari Sae Jin, Chanyeol ikut diam. Dua orang ini saling bersitatap dan sama-sama merasakan kesedihan.

“apa yang harus aku lakukan?” Sae Jin bertanya

Chanyeol bungkam. Ia tak tahu harus memberikan solusi apa untuk Sae Jin, juga tak tahu gadis itu sedang bicara soal apa.

“apa yang harus aku lakukan, Chan?” kembali pertanyaan yang sama Sae Jin berikan. Tapi Chanyeol juga belum menjawab. Barulah saat ia bertanya yang ketiga kali, ia mendengar Chanyeol menjawab pertanyaannya sembari menggenggam tangannya.

“jangan lepaskan tanganku dan jangan tinggalkan aku” kata Chanyeol penuh kesungguhan. “aku tak tahu apa yang terjadi padamu. Dan kurasa masalah yang kau hadapi sekarang bukan hanya soal Ah Ra yang ingin bunuh diri dan Sehun yang menyukaimu. Tapi apapun itu, ketahuilah satu hal. Aku disini. Aku selalu disampingmu dan selalu ingin bersamamu”  Chanyeol tahu itu bukan solusi. Tapi hatinya bilang ia harus mengatakan semua itu pada Sae Jin

Aku ingin melakukan itu Chanyeol. Aku ingin terus menggenggam tanganmu. Aku ingin terus berada disampingmu. Meski aku tak pernah mengatakannya, tapi aku ingin kau jadi milik-ku. Aku bahagia bersamamu. Semua hal terbaik d bumi aku dapatkan darimu. Kau orang yang aku yakini Tuhan kirimkan untukku. Aku juga ingin tetap bersamamu

 Tapi kurasa aku tak bisa. Ah Ra hampir saja membunuh dirinya karena perasaannya padamu. Lalu sekarang apa yang bisa aku perbuat?

Semua itu hanya bisa Sae Jin ucapkan dalam hati. Dirinya tak sanggup menyuarakan semua kalimat tadi. Terlalu mengerikan.

“Sae Jin..” Chanyeol memanggil nama gadis itu karena ucapannya tak kunjung dijawab. Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Sae Jin. “katakan padaku, kau butuh sesuatu sekarang?” tanya pria itu lagi

“tidak. Aku hanya ingin pulang” kata Sae Jin sembari menatap wajah Chanyeol

“kau berbohong” Chanyeol melepaskan genggaman tangannya pada milik Sae Jin. Chanyeol tahu apa yang Sae Jin butuhkan sekarang, “kau butuh aku” ucap pria itu sembari memeluk Sae Jin, “jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Temanmu itu sudah baik-baik saja. Dan yang paling penting, aku bersamamu”

~

Atmosfer kelabu juga terasa di ruang rawat Ah Ra. Beberapa menit lalu Sehun baru saja mengucapkan permintaan maafnya atas hubungan mereka yang berakhir. Ah Ra bisa menangkap dengan baik rasa penyesalan yang terselip dalam setiap kalimat Sehun. Pria itu menyesal karena tak bisa mempertahankan perasaannya. Pria itu mengaku bahwa perasaannya pada Ah Ra sudah berubah dan minta maaf atas itu. Ah Ra sangat paham apa yang Sehun rasakan, karena dirinya juga merasakan  hal yang demikian. Mereka memang sama-sama tak berkomitmen untuk sesuatu yang lebih serius.

Perasaannya pada Sehun juga sudah berubah. Ah Ra tak tahu kapan rasa itu tak lagi milik Sehun, tapi Ah Ra tahu apa penyebabnya. Chanyeol. Ah Ra mencintai Chanyeol tanpa sadar.

“apa kau mencoba bunuh diri hari ini karena kita putus?” tanya Sehun selanjutnya. Pria itu mendapat satu gelengan dari Ah Ra dan dahinya berkerut bingung. Jika bukan karena berakhirnya hubungan antara mereka, lalu karena apa?

“ini bukan salahmu Sehun. Ini semua benar-benar bukan salahmu. Aku melakukan hal bodoh itu bukan karena hubungan kita” jelas Ah Ra cepat. Ia berusaha agar Sehun tak bertanya lebih lanjut mengenai alasannya yang sebenarnya

“Semoga Sae Jin mau mendengar dan mengerti penjelasanmu itu” gumam Sehun pelan. Teriaki saja Sehun dengan sebutan egois, karena memang begitulah ia sekarang. Perasaannya pada Sae Jin membuatnya lebih mementingkan Sae Jin yang tak salah  paham, daripada apa sebenarnya yang membuat Ah Ra melakukan semua ini.

“aku akan menjelaskan semuanya pada Sae Jin. Tadi aku kekamarnya, tapi dia masih tidur” kata Ah Ra lagi

“aku ingin mengatakan sesuatu padamu” Sehun lalu berucap dengan serius. “aku_” Sehun menatap Ah Ra dan meyakinkan dirinya bahwa ia memang harus mengatakan kebenaran yang ada. Pria itu kembali melanjutkan ucapannya, “aku jatuh cinta pada Sae Jin”

Ah Ra terkejut bukan main setelah mendengar pengakuan Sehun barusan. Kenapa semuanya jadi setiba-tiba ini? Dirinya mencintai Chanyeol, sementara Sehun mantan pacarnya, mencintai gadis yang Chanyeol cintai. Kepala Ah Ra tak bisa menerima itu semua dan hatinya terasa sakit.

“kau boleh marah padaku, Ah Ra. Aku memang brengsek. Tapi kau harus tahu, saat kita pacaran dulu aku memang sungguh-sungguh menyayangimu. Aku menyayangimu dan aku mencintai Sae Jin. Aku sadar itu saat ia sempat hilang di pasar malam. Aku takut luar biasa saat mengira aku tak akan melihatnya lagi” Sehun menuturkan semua penjelasannya. Ia siap jika Ah Ra akan marah atau bahkan membencinya nanti.

Ah Ra memang ingin marah saat mendengar pengakuan Sehun diawal tadi. Ia merasa dikhianati. Teganya Sehun mencintai Sae Jin, saat pria itu tahu bahwa ada Chanyeol dihati temannya itu. Tapi Ah Ra tak berhak. Ia juga melakukan hal yang sama jahatnya dengan yang Sehun lakukan. Ah Ra hanya bisa menunjukkan senyuman pahitnya

“kita benar-benar orang jahat, Sehun”

~

Dua hari kemudian Sae Jin dan Ah Ra terlihat berjalan memasuki toko milik Sehun. Sedikit terkejut akan kedatangan dua temannya itu, Sehun melangkah meninggalkan kasir dan menghampiri mereka. Sehun mempersihlahkan dua orang itu untuk masuk kedalam ruang kerja pribadinya. Sehun tak pernah menyangka bahwa suasana canggung seperti ini akan hadir dalam hubungan pertemanannya dengan Sae Jin dan Ah Ra.

Tiga orang itu sudah duduk selama dua menit dan selama itu pula hanya sunyi yang mendominasi. Tak ada lagi obrolan ringan dan manis yang dulu selalu mereka lakukan. Semuanya sudah benar-benar berubah.

Ah Ra adalah yang lebih dulu berusaha menghapus aura canggung disana, “aku mengajak Sae Jin kemari karena ingin kalian berdua tak salah paham” kata Ah Ra. “Sae Jin, perbuatanku beberapa hari lalu bukan karena Sehun. Aku yang memintanya mengakhiri hubungan kami, bukan dia. Juga, bukan Sehun alasanku melakukan itu. Karenanya, jangan menyalahkan Sehun. Dia bilang kau menghindarinya selama dua hari ini” jelas Ah Ra pada Sae Jin.

Sae Jin bukannya tidak tahu semua itu. Ia tahu Sehun menyukainya dan ia tahu Ah Ra menyukai Chanyeol. Dan masalah menghindar, Sae Jin tak hanya melakukan itu pada Sehun. Gadis itu menghindari semua orang. Sehun, Ah Ra, ibunya, dan Chanyeol.

Sehun melirik Sae Jin yang masih diam. Ia berharap Sae Jin mau mengerti apa yang Ah Ra jelaskan dan tidak mengabaikannya lagi. Tahukah Sae Jin bahwa Sehun serasa nyaris mati setelah dua hari tak berinteraksi dengan dirinya? Sae Jin tak menjawab teleponnya, tak membalas pesannya dan sekarang, gadis itu hanya diam.

“maafkan aku, aku bukannya menghindarimu. Aku hanya butuh waktu tidur yang lebih banyak” ucap Sae Jin tanpa menatap lawan bicaranya. Untuk pertama kalinya Sae Jin berbohong pada Sehun.

Tanpa Sae Jin ketahui, Sehun malah semakin sedih setelah mendengarnya akhirnya bicara. Untuk pertama kalinya Sae Jin tak menatap padanya saat bicara. Sehun merasakan kehilangan yang tiba-tiba.

“maafkan aku, tapi kurasa aku harus pulang duluan” Sae Jin berdiri dari duduknya dan berpamitan.

Ah Ra dan Sehun serentak merasa kosong. Ini pertama kalinya Sae Jin bersikap sedingin itu pada mereka. Dulu, saat Sae Jin berkata kejam dan terkesan tak bersimpati, mereka tak pernah merasa seperti ini. Tapi apa yang Sae Jin lakukan barusan benar-benar membuat hati mereka berdenyut nyeri. Belum lagi sejak tadi Sae Jin tak pernah menatap wajah mereka. Gadis itu terus menunduk dan terkesan menghindari bersitatap dengan mereka.

~

“apa yang sudah kita lakukan pada gadis itu, Sehun?” ucap Ah Ra setelah sepuluh menit Sae Jin pergi. Sejak tadi dirinya dan Sehun terperangkap dalam kekosongan yang mengerikan.

Pintu terbuka, Sehun dan Ah Ra dengan cepat menoleh dan mendapati Chanyeol disana. Chanyeol melangkah masuk dengan langkah besar dan terkesan terburu-buru.

“Sae Jin disini?” tanya pria itu tak sabaran

“dia tadi disini, oppa. Ada apa?” tanya Ah Ra

“dia baik-baik saja? apa dia sakit?” Dua hari kemarin Sae Jin benar-benar luput dari jangkauan Chanyeol. Gadis itu tak membalas satu pun pesannya atau menjawab satu dari puluhan panggilan suara yang ia buat. Dikampus, gadis itu juga tak tertangkap radarnya.  “apa yang terjadi? kalian bertiga bertengkar?”

Chanyeol tak mendapat jawaban apapun. Baik Sehun maupun Ah Ra sama-sama diam. Pria itu lalu memilih pergi. Semoga saja Sae Jin masih ada disekitar toko Sehun.

Dengan teliti Chanyeol mengamati setiap sudut jalan yang mobilnya lewati. Ia masih berharap Sae Jin ada disekitar sana. Dan harapan Chanyeol itu jadi kenyataan. Sae Jin sedang duduk di sebuah halte.

Chanyeol menghentikan mobilnya persis didepan Sae Jin duduk. Ia dengan cepat keluar dan berdiri didepan Sae Jin. Chanyeol benar-benar tak tahu apa yang sudah gadisnya itu alami hingga wajahnya terlihat begitu tak bersemangat. Ini baru beberapa hari dan Sae Jin benar-benar terlihat seperti orang asing dimatanya.

Chanyeol berjongkok didepan Sae Jin, kemudian mendapat tatapan sedikit terkejut dari Sae Jin. Itu artinya sejak tadi Sae Jin tak menyadari keberadaannya. Sebenarnya serumit apa isi pikiran Sae Jin sekarang? Tak tahan dengan kebingungannya, Chanyeol pun bertanya, “ada apa? apa yang terjadi padamu?”

Sae Jin tak berucap apa pun. Ia memlih segera bersembunyi dalam pelukan Chanyeol. Biarkan Sae Jin melupakan semua hal buruk dan menikmati berada dalam dekapan Chanyeol.

“Sae Jin, pelan-pelan. Aku tak akan pergi kemana-mana” Chanyeol mencoba bercanda saat merasakan eratnya Sae Jin memeluknya.

“bisakah aku meminta agar kau tak pergi? Bisakah kau tetap bersamaku?” tanya Sae Jin. Gadis itu bertanya pada dirinya sendiri. Sanggupkah ia memperjuangkan cintanya pada Chanyeol saat ia tahu Ah Ra juga mendambakan pria ini?

“minta apapun, aku akan memberikan semuanya padamu”

.

.

Malam sudah larut saat Sae Jin keluar dari perpustakaan kampus. Gadis itu memang sengaja menghabiskan waktu disana untuk menegerjakan tugasnya, sendirian. Sebenanrya tugas hanya alasan, karena yang Sae Jin lakukan disana adalah merenung dan berpikir.

Tapi sayang otaknya tak cukup besar untuk bisa menghasilkan sebuah cara agar masalah yang ia hadapi selesai. Khusunya masalah soal Ah Ra. Untuk masalah Sehun yang menyukainya, Sae Jin bisa memberikan penjelasan pada pria itu dan mau tak mau Sehun harus mengerti bahwa dirinya hanya mencintai Chanyeol.

Tapi tidak semudah itu untuk masalah Ah Ra. Sae Jin tak bisa segampang itu saja mengabaikan perasaan Ah Ra pada Chanyeol, karena takut Ah Ra akan nekat lagi seperti kemarin. Sae Jin bisa kehilangan Ah Ra untuk selamanya dan Sae Jin tak mau itu terjadi.

Sae Jin kemudian menunggu bus menuju rumahnya di halte biasa. Sepuluh menit Sae Jin menunggu, busnya tak kunjung datang. Yang mendatangi Sae Jin malah hujan deras. Sembari menungu busnya, ia menatap air hujan yang turun semakin lebat. Udara dingin pun tak terelakan oleh gadis itu.

Hujan yang deras juga tengah dilihat oleh Ah Ra yang berada di depan sebuah butik. Ah Ra kemudian mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Sae Jin. Entah kenapa saat itu ia sangat ingin bicara dengan Sae Jin. Tak ada yang penting, hanya sekedar ingin mendengar suara gadis itu saja.

“apa?”

Setelah Sae Jin menjawab dari seberang sana, Ah Ra pun tersenyum kecil. Kapan Sae Jin bisa menjawab telepon dengan sedikit basa-basi, pikirnya. “kau dimana? Kau sudah selesai dengan tugas tercintamu itu?” ejeknya karena masih sedikit kesal karena tadi Sae Jin menolak jalan-jalan bersamanya dengan alasan tugas itu

“sudah. Aku sedang dihalte, menunggu bus”

“disini hujan” kata Ah Ra sambil kembali melihat derasnya hujan

“disini air turun dari langit” balas Sae Jin

“gila…” kata Ah Ra sembari tertawa

“kau juga ada diluar rumah? Yaa..apa yang kau lakukan diluar rumah selarut ini?”

“aku jalan-jalan sendirian, karena temanku lebih memilih tugas daripada aku”

“hmm. Jahat sekali temanmu itu. Kalau begitu segeralah pulang dan susun rencana untuk membalas dendam padanya” suruh Sae Jin

arraseo. Kau juga. Kenapa kau tak meminta Chanyeol oppa menjemputmu? Bukankah kau tidak suka hujan?”

“jangan urusi aku. Cepatlah pulang, dan hati-hati dijalan. Kau bersama supirmu? Kau bawa payung Ah Ra?” tanya Sae Jin sembair menatap kesal pada hujan yang terus turun dengan lebatnya

“jangan urusi aku !” Ah ra tertawa. Ia berhasil membalas Sae Jin. “kau mau aku jemput? A_”

“cepat pulang dan tidur, Ah Ra”

BIP

Ah Ra hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal selama beberapa detik lalu tersenyum setelah itu. Sae Jin masih saja sama. Tak mau diperhatikan tapi selalu bersikap perhatian.

Sebuah mobil berhenti di depan Ah Ra dan Chanyeol keluar darisana.

To Be Continued …

 

Terima kasih sudah membaca ^^

 

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 16)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s