[EXOFFI FREELANCE] Love You More (Chapter 14)

[14] Love You More

Love, Friends and Ambition

Tittle                     = Love You More (Love, Friends and Ambition)

Author                 = Park Shin

Main Cast           = Kim Arin, Byun Baekhyun, Oh Jiho, Kim Taehyung BTS, Kang Daniel

Cast                       = EXO’S members, Yoon Ara, Moon Sojin, Other’s Idol

Genre                  = School Life, Friendship, Romance

Length                 = Chaptered (16 Eps)

Rating                   = General

Disclaimer           = Well, mari kita menjadi pembaca yang baik ^^

[14]

My Number One Fans

 

Gadis itu menghela nafas panjang. Diambilnya surat dan bunga yang berjatuhan saat ia membuka loker tadi. Diawal kedatangannya disekolah baru membuat seluruh perhatian tertuju padanya. Banyak anak laki-laki mencoba mendekatinya dengan berbagai cara walau berakhir sama dengan penolakan dari gadis itu. Kim Arin, walau sudah 5 bulan ia disini, ia masih menjadi pusat perhatian.

Gadis itu tak lagi ramah seperti dulu, ia lebih banyak diam dan menjauh dari lingkaran pertemanan. Selagi ada yang mendekatinya ia akan menolak dan membangun dinding lebih tebal lagi. Ia sekarang terbiasa sendiri, menikmati masa sekolahnya yang sangat berbeda dengan dulu.

Mungkin dia menjadi idaman disekolah barunya bagi anak laki-laki namun tidak untuk para gadis. Kim Arin menjadi cibiran entah dari fisik maupun sikapnya. Dulu ia akan mudah disukai namun dengan sikap dinginnya sekarang para gadis menjadikan hal tersebut sebagai cemooh. Bahkan tidak segan-segan melempar tatapan sinis pada Kim Arin.

Dia cantik tapi oplas

Kau tidak tahu? Tidak ada gadis Seoul yang alami semua sudah diperbaiki

Wah benar-benar seperti ular

Kulitnya sangat bersih, pantas saja

Kalau dia dari Seoul kalau tidak karena bangkrut mungkin dia gadis nakal

Atau gadis yang dibully

HAHAHAA

 

Gadis itu tak menghiraukan, sebisa mungkin makan siang hari ini masuk diperutnya walaupun sudah kenyang dengan cibiran tersebut. Tiba-tiba seorang lelaki yang tak asing baginya duduk dihadapannya, menghalangi pandangannya pada kumpulan gadis disebrang kursi.

“Jangan didengarkan.”

Tidak dijawab. Kim Arin melanjutkan menelan sup yang rasanya sangat pahit dilidahnya.

Lelaki itu memangku wajahnya lalu melihat Kim Arin cukup lama.

“Kenapa kau selalu terlihat murung?”

Kim Arin melihatnya sekilas. Rambut lelaki itu semakin mengembang seperti sangkar burung sejak ia bertemu 5 bulan yang lalu. Aksen Busannya benar-benar kental. Lelaki itu cukup tangguh mendekatinya hingga selama ini.Kim Arin memutar bola matanya dan melanjutkan makannya lagi.

“Karena itu tersenyumlah…”

Arin menelan bulat-bulat kentang goreng di nampannya lalu melihat kelain arah selain pada lelaki dihadapannya.

“Kau membaca suratku di-“

Arin berdiri, membawa nampan nya ke pantry lalu meninggalkan begitu saja lelaki yang kini malah tersenyum melihatnya.

Ia tak menyerah, diikutinya Kim Arin membuat gadis itu jengah.

“Wae?” Ucapnya saat berbalik dan mendapati lelaki itu tersenyum lebar.

“Kau tidak melihat surat-?”

“Tidak..” Jawabnya lalu berbalik, lelaki itu menghela nafas melihat kepergian gadis yang kini masuk ke kelasnya.

Lelaki itu Kang Daniel. Entah kenapa sejak Kim Arin pindah ke sekolah itu, Kang Daniel selau mengikutinya. Bahkan mengatakan sangat jelas didepan kelas bahwa dia menyukai Kim Arin. Walau sudah ditolak, Kang Daniel tetap bersikeras mendapat hati gadis itu yang sudah berapa kali menyatakan perasaannya dan berakhir dengan tatapan tajam Kim Arin.

***

Kelas berganti ke jam olahraga. Kim Arin hendak mengambil bajunya di loker namun langkahnya terhenti ketika didepan lokernya ada keramaian. Tanpa diduga entah darimana, seorang laki-laki membawa bunga dan mendekati seorang gadis yang kini tersipu didepan loker. Melihat sang gadis menerima bunga tersebut semua orang berseru.

Kejadian ini tidak asing. Bahkan terasa nyeri tatkala Kim Arin mengingatnya. Ia terdiam, menatap kerumunan didepan dengan sendu. Dadanya terasa sakit dan upaya untuk menahan itu semua gagal. Tiba-tiba air matanya menetes dan ia merutuki kebodohannya lalu pergi.

Langkah kakinya membawa pada satu tempat yang belum pernah ia kunjungi selama disini. Ia mendapati atap sekolah yang mirip dengan gudang. Banyak meja dan kursi usang disana. Lalu ia memilih untuk mendekati dinding pembatas lalu menghirup nafas panjang.

“Nan gweenchana….” Walau begitu entah kenapa air matanya mengalir begitu saja.

Kenapa hidupnya seperti ini?

Entah ingin menjadi apapun mengapa ia selalu menangis pada akhirnya?

Walau berusaha seperti apa yang diinginkan, kenapa selalu menangis diam-diam?

Disini maupun di Seoul..

 

WOW FANTASTIC BABY DANCE….

Kim Arin terkejut. Ia menoleh kesana kemari mencari sumber suara musik yang didengarnya. Lalu ia berjalan mendekat lalu mengintip di balik tumpukan meja usang.

Lelaki itu, Kang Daniel sedang menari mengikuti irama musik. Gadis itu menikmatinya, bagaimana indahnya gerakan lelaki itu, bagaimana tubuhnya bisa sangat bagus menarikan lagu tersebut, lalu ketika Kang Daniel berbalik, Kim Arin langsung bersembunyi dibalik meja.

“Aku merasa ada orang….” Gumam lelaki itu lalu mematikan musik di ponselnya.

Jantung Kim Arin mendadak berdegup kencang. Ia tak ingin ketahuan sedang mengintip Daniel, bisa jadi lelaki itu semakin mengejarnya. Arin berjalan sepelan mungkin dan mengendap-endap. Saat ia merasa aman ia menghela nafas panjang lalu menoleh kebelakang tak terlihat Daniel mengikutinya. Lalu saat ia berbalik..

“Omooo…” Kim Arin menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Bagaimana bisa Kang Daniel tiba-tiba ada didepannya? Mati aku !!

“Kim Arin.. sedang apa kau disini?”

Merasa namanya dipanggil akhirnya ia membuka tangannya dengan pelan mencoba mencari alasan walau rona diwajahnya tidak bisa menutupi kebodohannya.

“Aku…aku.. mencari udara segar. Wae?”

Kang Daniel terkekeh. “Kau mengikutiku?”

Benar dugaannya lelaki itu pasti akan menertawakannya.

“Ani”

“Hmmmm kau diam-diam melihat latihanku kan? Kau pasti terpesona padaku kan?”

Kim  Arin akhirnya mengalah. Ia akan berjalan pergi namun ditahan oleh Daniel.

“Karena kau disini… bisa kau menolongku?”

Arin melirik sekilas dan menatap rambut gondrong Daniel yang berterbangan diterpa angin.

“Mwo?”

Daniel tersenyum lalu menyeret Kim Arin untuk duduk di sebuah bangku panjang. Setelah itu Daniel menyalakan musik lewat ponselnya dan menari.

Kim Arin takjub lebih dari tadi. Kang Daniel bisa menari seindah itu. Lelaki yang selalu mengikutinya kemanapun, menyapanya setiap pagi, menyatakan perasaannya dengan blak-blakan dan selalu berakhir dengan diabaikan. Lelaki dengan senyum lebar seperti anak anjing bahkan bisa menari seperti itu. Kim Arin merasa rendah diri, bagaimana dengannya? Apa ada hal yang bisa ia lakukan? Ia hanya bisa mengeluh dan menangis diam-diam selama hidupnya. Bisakah ia seperti Daniel? Menemukan mimpinya dan menjadi keren saat melakukannya? Kim Arin menatap Daniel dengan tatapan menerawang, lelaki itu yang selalu bersikeras akan menjadi idol dan berlatih sekeras ini…

Musik berhenti, Kang Daniel mengakhiri posennya dengan senyuman seperti biasa. Kim Arin hanya diam.

Perlahan Kang Daniel mendekatinya lalu mengeluarkan sebuah bunga dibalik almamaternya. Gadis itu membulatkan matanya.

Sebuah bunga mawar merah yang entah dari mana kini ada di tangan Daniel. Lelaki itu menyerahkahkan bunga itu pada Arin membuat gadis itu tercengang.

Arin menatap lelaki yang kini menggaruk tengkuk sambil tersenyum

“Aku tidak sengaja melihatmu menangis tadi di koridor…” Daniel meletakan bunga itu di pangkuan Arin “… aku tidak tahu kenapa kau menangis? Kau kan sering dapat bunga di meja dan lokermu.”

Arin menunduk, menatap mawar merah yang kini ada dipangkuannya. Ia tak menyangka Kang Daniel melihatnya menangis tadi. Memalukan.

Daniel berjongkok menyetarakan pandangannya pada gadis itu. “Bagaimana ? Kau suka?”

Arin berdecih. Kang Daniel tersenyum lebar “Bukan aku. Tapi tarian dan bungaku”

Arin menatap Daniel “Bagus. Kau keren.”

Lelaki itu membulatkan matanya “Benarkah? WAHH” Daniel melompat kegirangan setelahnya “Kau tahu? Itu pertama kalinya ada yang memuji tarianku wah.. biasanya orang-orang menyebutku sampah.”

“Tidak kok, itu bagus. Sungguh” Bantah Arin yang merasa tidak terima bakat seperti itu di katakan sampah

“Terimakasih… wah aku benar-benar jadi optimis ikut lomba”

Arin mendongak, “Lomba? Kau?”

Daniel mengangguk lalu duduk disamping Arin “Minggu depan ada lomba di taman kota. Kau… harus menontonku yaa.”

“Tidak”

Daniel memberengut “Wah aku merasa sedih. Tidak ada yang mendukungku”

Arin menatapnya sekilas lalu memandang depan lagi. Ia ingat Daniel pernah bercerita tentang hidupnya. Ia yatim piatu sejak kecil, ia berada di panti asuhan selama hidupnya. Ia tak punya satu orang pun teman karena penampilannya yang urakan dan suka senyum-senyum sendiri. Banyak yang mengecapnya gila dan tak sungkan untuk mengejeknya dengan keras dihadapannya. Namun Daniel selalu menganggapnya enteng dan tersenyum setelahnya. GILA. Pikir Arin pertama kali bertemu dengannya namun setelah bersama lelaki itu, Kim Arin melihat sisi lain Daniel. Danielyang sangat perhatian padanya dan Daniel yang berjuang atas impiannya.

“Kau benar-benar ingin menjadi idol? Wae?” Tanya Arin pada Daniel yang tengah memejamkan mata menikmati semilir angin

“Karena…..” Ucapnya menggantung lalu melirik Arin “… aku suka menari. Aku ingin berada di televisi.”

Arin terdiam menatap lelaki itu yang selalu tersenyum, entah kenapa ia jadi ingat dirinya yang dulu mudah sekali tersenyum

“Saat aku di panti, Televisi adalah hiburan kami semua. Disaat yang lain menikmatinya bersama keluarga. Aku menikmati bersama teman-teman senasibku. Satu-satunya yang bisa kami banggakan saat itu adalah bagaimana bisa masuk ke TV dan dilihat oleh banyak orang. Disitu awalnya… lalu aku melihat bahwa dengan menjadi idol… kau akan dicintai. Cinta. Aku tidak mendapat cinta dari kedua orang tuaku dan teman-temanku karena itu.. aku ingin dicintai oleh siapapun nantinya.Aku akan berusaha keras.”

Kim Arin menatap mawar di pangkuannya lalu memegangnya perlahan “Kau sudah berusaha keras, aku yakin kau bisa menggapai mimpimu.”

“Tentu saja” Ucapnya percaya diri “Lalu.. apa mimpimu?”

“Mwo?” Arin tergagap, ia kebingungan “Molla…”

Daniel menatap Arin tajam “Benarkah ? Dengan otak cerdas dan wajahmu yang cantik apa kau tidak tahu mimpimu?”

Arin mendengus “Aku tidak tahu. Aku hanya… mengalir mengikuti begitu saja…”

Daniel terdiam “Walau kau belum menemukannya sekarang, aku yakin mimpimu pasti keren”

Arin tersenyum “Benarkah?”

Daniel terdiam lalu ia menutup mulut dengan kedua tangannya “Wah apa aku baru saja melihat Kim Arin tersenyum?”

Arin merutuki kebodohannya lalu terdiam begitu saja.

“Kau sangat cantik saat tersenyum. Pipimu berlubang.”

Kim Arin menahan tawanya, baru pertama kalinya ada yang mengatakan pipinya berlubang dengan aksen Busan yang membuatnya terdengar lucu.

“Kurasa aku akan berhenti menyuruhmu tersenyum disekolah.”

Arin bingung

“Kau diam saja banyak laki-laki yang suka, kalau kau tersenyum mereka pasti tidak bisa tidur nyenyak malam nanti, sepertiku…”

Arin menatap Daniel sendu. Lelucon lelaki itu menggelitiknya membuatnya ingin tertawa namun ia tahan. Tiba-tiba Daniel berdiri

“Kau… “ Daniel menunjuk Arin “My number one fans….”

Arin terkejut karena Daniel mengatakanseperti itu begitu saja. “Mwo?”

“Kau adalah orang yang mendukungku pertama kalinya, jadi kau adalah fans pertamaku juga. Kalau aku terkenal nanti, aku tidak akan melupakanmu, my number one fans..”

Arin tersenyum lalu berdiri “Jangan berjanji, kau akan terbebani nanti” lalu melewati Daniel begitu saja.

“Tidak. Kau benar-benar sangat berharga bagiku. Aku tidak akan melupakan itu.”

Arin menghentikan langkahnya. Lalu tersenyum setelahnya “Pulang sekolah nanti… ikutlah denganku”

Daniel melebarkan matanya “Mwo? Eodi?”

“Rahasia” Arin berjalan lebih dulu disusul Daniel yang mengekor dan terus benratan akan kemana walau tak dijawab Arin, membuat lelaki itu penasaran setengah mati.

***

Disinilah Daniel, duduk dengan tegang melihat kesana kemari lalu menoleh pada Arin yang tengah duduk tak jauh darinya lalu melambaikan tangan.

Daniel tegang lalu menatap pantulan dirinya didepan cermin dan seorang Ahjumma mendekat.

“Haksaeng… rambutmu sangat tebal eoh, berapa lama kau memanjangkannya?”

Daniel tersenyum “Aku jarang cukur sejak kelas dua hehe”

Ahjumma itu menoleh ke Arin yang kini tengah membaca majalah “Pacarmu sangat perhatian padamu… dia membawamu ketempat yang tepat. Akan kuubah agar kau tak membuatnya malu”

Daniel terkekeh “Pacarku? Gadis itu?” Daniel melirik Arin “Kami cocok kan Ahjumma?”

“Sangat. Oke sekarang diam aku akan mencukur rambutmu”

“Oke”

***

“Oy Kim Arin… kenapa kau diam saja dari tadi.. apa aku terlihat sangat jelek?”

Arin menggeleng kuat “Ani. Kau sangat tampan..”

Daniel terkejut “Mwo? Benarkah?”

“Kau terlihat seperti idol”

“Wah jinjja??”

“Ehm…”

Daniel menatap dirinya di cermin besar.Ia kini mengagumi dirinya tak henti-henti. Kim Arin yang melihatnya terkekeh.

“Ayo Kang Daniel…”

Daniel menoleh “Eodi?”

***

Mereka berdua berkeliling dipasar. Arin tak asing dengan pasar tersebut karena setiap pagi ia akan berkeliling kemari membawa barang. Sesampainya ditoko baju, Kim Arin langsung memilih pakaian laki-laki. Daniel menatap kesana kemari mengikuti Kim Arin yang sangat bagus kalau berbelanja, gadis itu bisa mendapatkan harga yang sangat miring.

“Igeo…” Daniel menerima beberapa pakaian dari Arin. “Cobalah..” Daniel mengangguk lalu beberapa menit kemudian ia keluar, membuat Arin tersenyum dan menunjukan 2 jempolnya.

“Otte?”

“GOOD” Mereka berdua terkekeh. Setelah membeli pakaian Arin mengajak Daniel ke tepi pantai lalu berdua duduk disana menikmati semilir angin dan senja orange yang menghias langit sore.

“Terimakasih, hari ini aku benar benar menjadi seorang bintang”

Arin tersenyum “Ehm… semoga kau sukses dengan lombamu. Aku yakin kau pasti menang”

“Kau harus datang Kim Arin”

“Tidak”

Daniel mengerucutkan bibir “Bagaimana seorang fans tidak menonton Oppanya di panggung?”

“Oppa busun..”

“Aku ini lebih tua setahun dari mu Kim Arin, aku pernah tidak naik kelas saat kelas satu”

Arin mendengus lalu bangun dan berjalan duluan membuat Daniel mengekor dibelakangnya.

***

Hari yang ditunggu tiba, kurang dua peserta lagi nama Daniel akan dipanggil, namun dirinya belum siap. Seluruh tubuhnya gemetaran, nafasnya naik turun tak beraturan, ia memejamkan matanya agar lebih rileks namun gagal. Ia sangat panik dengan banyak mata yang kini memandang para peserta tari. Ini tidak seperti yang dibayangkan, ia pikir penontonnya tidak sebanyak ini, keraguan muncul didalam diri Daniel.

“Seo Sejin no 141..”

DEG DEG DEG

Daniel memegang dadanya yang semakin berdentum, ia merasakan keringatnya berjatuhan. Tubuhnya yang tadi menegang secara refleks berbalik, kabur.

“Yak Kang Daniel!!!” Daniel terperanjat ketika Arin sudah ada dibelakangnya “Kau mau kabur?”

Mata Daniel bersinar “Kau datang?”

Arin melipat tangannya didepan dada “Aku kemari tidak untuk melihatmu kabur.”

HAP

Daniel menangkap lemparan botol air minum dari Arin dengan sigap. “Fighting!”Ucap gadis itu lalu pergi ke kerumunan penonton. Kang Daniel merasa lebih tenang dari sebelumnya. Kim Arin menyelamatkannya.

Kang Daniel sudah berusaha maksimal, ia merasa sudah puas dengan tampilannya. Lalu saat pengumuman berlangsung tubuhnya kembali bergetar lebih mengejutkan karena pada juara 3 dan dua tak ada namanya, ia sudah rendah diri untuk tak menang karena banyak peserta yang lebih bagus menari. Ia melihat kearah penonton namun tak menemukan Kim Arin. Dia merasa tak tenang, maka ia harus melihat KimArin agar sedikitrileks.

“Dan juara satu diraih oleh….”

Daniel sudah menyerah, ia tak percaya diri menjadi juara. Ia masih berusaha mencari sosokgadis yang hilang diantara penonton.

“KANG DANIEL….”

Mata Daniel membola ia menoleh kearah pembawa acara dengan  tatapan tak percaya. Riuh suara tepuk tangan membuat ia semakin menegang. Selain tak percaya ini pertama kalinya ia mendapat tepuk tangan sebanyak ini. Ia tak percaya bahkan ia tak menyangka…

“Ohh gamsahamnida..” Ucapnya saat menerima trophy dan memberi sambutan “Ehm… aku tidak percaya akan memenangkan lomba ini. Wahhh ini benar diluar dugaanku. Aku tidak menyangka. Banyak peserta yang menari lebih hebat dariku. Ehmm aku mengucapkan banyak terimakasih kepada kalian yang sudah mendukungku dan untuk…” Daniel menghentikan ucapannya, ia menoleh kesana kemari mencari Kim Arin diantara penonton, membuat orang-orang ikut bingung.

Itu dia. Gadis itu berada di belakang menatap Daniel dan tersenyum.

“….terimakasih untuk…” Daniel menunjuk ke arah Arin, spontan semua penonton mengikuti arah jarinya dan mendapati Kim Arin yang terkejut.

“My Number One Fans… terimakasih banyak”

Waktu terasa berhenti, suara riuh tepuk tangan dan seruan tak terdengar ditelinga Arin. Ia menatap lelaki yang kini nampak bersinar diatas panggung. Air matanya mengalir begitu saja, ia tak menyangka, sebuah kata-kata dari seseorang yang baru ia kenal membuat dirinya merasa dihargai dan diistimewakan. Tak bisa diungkap dengan kata-kata, gadis itu tersenyum.

“Selamat idola baru…” Kim Arin berusaha setenang mungkin agar tidak terlihat cengeng dihadapan Daniel. Setelah acara itu selesai, Kang Daniel dikerumuni  para penggemar perempuan yang ingin berselca dan meminta tanda tangannya. Kim Arin setia menunggu di sana walau memakan waktu lama.

“Maaf jadi membuatmu menunggu lama”

“Gweenchana.”

Daniel menaikan alisnya “Kim Arin, maaf Oppa tidak peka. Kau pasti ingin berfoto denganku juga kan?”

“Ha? Tidak”

“Eiiyyy.. tidak ada fans yang tidak ingin foto dengan idola nya. Kemari..”

Kim Arin tak bisa menolak. Akhirnya ia berfoto disebelah Daniel yang membawa trophy dan dirinya yang membawa buket bunga.

“Senyum Kim Arin…”

Perlahan Arin mencetak senyumnya dan Daniel puas dengan hasil selcanya. “Wah… aku akan menjadikan ini walpaper.”

“Kau berlebihan.”

Daniel tersenyum “Terimakasih… terimakasih telah mendukungku Kim Arin.”

Arin mengangguk lalu berjalan, Daniel mengikuti disebelahnya “Bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“hmmm”

“Kenapa kau pindah kemari?”

Kim Arin menghentikan langkahnya. Ia terkejut Daniel tiba tiba menanyakannya.

“Maaf, kau pasti tidak suka kan ditanya begitu… sudahlah lupakan.”

Daniel berjalan namun berhenti dan menoleh kebelakang melihat Kim Arin masih berhenti

“Aku sedang bersembunyi.”

Arin berjalan mendekati Daniel, lalu memaksa senyumnya “ada lagi yang ingin kau tanyakan?”

“Apa boleh? Kau tidak marah?”

Arin tersenyum “Khusus hari ini… aku menahan amarahku.”

Daniel terkekeh “Kau bersembunyi dari siapa?” Tanya Daniel sambil berjalan bersama Arin, menikmati semilir angin malam yang menerpa wajahnya.

“Dari seseorang.”

“Siapa?”

Arin tersenyum “Rahasia…” lalu ia berjalan mendahului Daniel, membuat lelaki itu penasaran.

“Oyyy siapa….”

***

Taehyung menghembuskan nafas kasar, ia jengah mendengar Jungkook, adik kelasnya yang mengeluh sejak pagi. Akibat otak super cerdasnya  ia lompat kelas ke kelas 12, dan langsung akrab dengannya jadi Taehyung tak enak jika ingin menghentikan ocehan anak itu.

“Hyung.. kau tau wah aku ingin sekali ikut acara itu, tapi ibuku memaksaku ikut les musim semi. Aku benar-benar bisa gila..”

“Salah siapa kau pintar”

“Tck, Hyung…. selamatkan aku”

“Wae??”

“Aku tidak ingin belajar terus, otakku menguap”

“Sombong sekali, kau minggirlah dari peringkat satu, biar aku saja”

Jungkook tersenyum “Aku ingin tapi aku tidak ingin Ayahku menceramahiku malam malam kalau peringkatku turun”

“Hehhhh…” Taehyung menatap jendela kelas lagi, malas mendengar keluhan Jungkook setiap pagi.

“Hyung… kau tahu? Hyung ini keren sekali saat menari.” Jungkook memperlihatkan sebuah video pada Taehyung. Ia menerima dan menontonnya.

“Hmmm keren. Dia juara satu?” Tanyanya dan Jungkook langsung memasang wajah masam

“Eung. Kalau aku ikut pasti aku yang juara satu..”

Taehyung memutar bola matanya

“Tapi Hyung ini keren sekali…. ohh ada SNS nya..”

Taehyung tak menghiraukan ia memandang jendela kelas dengan malas, kenapa bel pelajaran tidak segera berbunyi agar Jungkook berhenti bicara.

Waktu memang berlalu, bahkan begitu cepat. Lelaki itu menatap ke sana namun pikirannya melayang pada seseorang yang hilang tiba-tiba bak ditelan bumi, Tanpa kabar, tanpa dugaan. Dia hilang dan tak ada yang tahu dimana dia berada. Ia benar-benar tak percaya,jika saat itu ia tak sengaja mendengar percakapan Baekhyun dan Jiho.. mungkin ia tak akan pernah tahu betapa terluka gadis itu.. Tiba tiba Taehyung sangat merindukannya.

‘Kau dimana…’ Gumamnya dan terdengar oleh Jungkook

“Aku disini…”

Taehyung mendengus sebal. “Bisa kau kembali ke kursimu?”

“Sebentar… eh bukanah ini Arin Sunbae?”

Taehyung hampir terperanjat. Ia mengambil paksa ponsel Jungkook  dan menatap layar tersebut. Genggamannya mengerat, jantungnya berdegub kencang melihat gadis itu, gadis yang baru saja dipikirkannya

“Aku menemukanmu, Kim Arin…”

 

 

 

TBC

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Love You More (Chapter 14)”

  1. Asikkk..arin pelindungnya bakal nambah nih..kang daniel sama taehyung..baekhyun sementara ke laut aja yeee..wkwk…seruuu..thor..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s