[EXOFFI FREELANCE] Name (B)

Name

Name [B]

aliensss

Genre : au, drama, romance, hurt/comfort

Rate : PG-17

Length : Chaptered

Cast

Chanyeol, Jinhwan, Sehun, Sae Jin, Sora

Kai (exo), Park In Jae (oc)

Summary

Karena setiap nama punya cerita

B

Bagaimana jika B itu bukan huruf kedua, tapi huruf kesembilan puluh, misalnya?

Disclaimer : Alur cerita ini asli milik aliensss. Jika terdapat kesamaan ide dan juga cast, itu tidak disengaja. Cast milik Tuhan YME dan semua yang berhak atas mereka. Terinspirasi dari berbagai sumber (cerpen, novel, ff, film, dan lagu). Dibuat untuk hiburan semata. Cerita yang masih banyak kekurangan, kesalahan ejaan, alur yang aneh, penokohan yang kurang maksimal dsb, jadi harap maklum.

Semoga terhibur…

♣ ♣ ♣

In Jae sedang menikmati minuman kalengnya saat Kai datang ke mejanya dan bertanya soal sudah sampai halaman berapa gadis itu membaca buku yang ia berikan. Dengan santai In Jae menjawab halaman 6.

“itu kisah cinta” kata In Jae

“aku tahu. Yang aku belum tahu, itu kisah cinta yang bagaimana?”

“itu hanya cerita manis khas anak SMA yang entah zaman kapan. Ada pertengkaran yang nantinya akan berubah jadi cinta. Itu bukan buku penuh misteri dan butuh pemikiran keras untuk memahami. Hanya sesederhana cinta. Dan, aku penasaran. Kenapa kau sangat ingin tahu isi buku itu dan kenapa kau tidak membacanya sendiri jika memang kau setertarik ini”

“kau memang dungu atau bagaimana? Aku malas”

“malas? Lalu kenapa kau masih ingin tahu?”

“aku tertarik, tapi aku malas. Kenapa kau tidak bisa mengerti? Sudahlah, bertengkar denganmu akan memperpendek usiaku satu menit. Ah, aku lupa” Kai mengeluarkan selembar kertas kecil dari sakunya. Ia memberikan kertas itu pada In Jae, “Jika butuh bantuan, hubungi saja nomor itu” katanya sembari mengedipkan satu mata

Selepas pria itu pergi, In Jae menatap susunan angka yang ada diatas kertas tadi dan ia mengernyit bingung. 03265635 57657635-368001

Jika ia tidak salah, itu bukan nomor telepon. Oh, In Jae tahu ini. Si kkamjong itu hanya mengerjai dirinya. Ia memasukkan tangan ke laci dan membuang kertas tadi asal kesana. Ia kemudian  mengeluarkan buku darisana. Membuka halaman terakhir ia menyelipkan pembatas, lalu mulai mencari tahu kisah cinta macam apa yang ada dalamnya

# # #

“aku sudah bilang aku akan naik 5 menit lagi. Kenapa kau selalu tak mau mendengarkanku?” gadis itu berucap dengan marah. Wajahnya merah dan ia membuang pensil gambarnya kasar

“apa kau itu bodoh? Berhenti bertingkah kekanakan ! apa kau sadar kau selalu menyusahkan orang lain dengan sikapmu ini?” pria itu juga tak bisa mengendalikan dirinya. Ia mengucapkan sesuatu yang dengan cepat ia sesali setengah mati

Gadis itu terdiam. Karena meski apa yang pria itu katakan adalah benar, ia tetap merasa terluka karena sudah dianggap beban. “aku beban untukmu?” katanya dengan air mata yang sudah jatuh, “kalau begitu jangan lagi anggap aku ada didepanmu. Entah aku sekarat, terluka, atau bahkan mati, ja_”

“SAE JIN !!” teriakan si pria menghentikan ucapan si gadis. “pergi kekamarmu, sekarang !!”

Sembari menahan tangis, gadis itu memungut kertas juga pensilnya. Dengan segera ia menaiki tangga rumah dan masuk ke kamarnya.

.

.

Seorang pria dengan seragam jauh dari kata rapi, berjalan menyusuri koridor sekolah barunya. Agak aneh memang pindah sekolah di tingkat terakhir, tapi apa yang tak mungkin untuk pria bernama Jinhwan ini? Semuanya mungkin.

Menemukan kelas yang ia cari, tanpa sungkan ia mengetuk pintu. Tak peduli soal sudah seberapa berapi-apinya guru didalam sana menerangkan mengenai pentingnya jumlah sisi debet dan kredit dalam neraca menunjukkan angka yang sama.

“aku murid baru” ucapnya santai sembari melangkah masuk, meski belum dipersilahkan. Ia menatap seluruh kelas dan matanya memicing pada objek di sudut kanan belakang. Kelas yang ia masuki ini sudah benar

“terlambat di hari pertama bukan sesuatu yang bisa dibanggakan” kata gurunya. Ia pun dengan tak rela menghentikan penjelasannya. Ia menyuruh murid tadi memperkenalkan diri kepada murid lain.

Beberapa siswi langsung menjadikan si murid baru itu focus mata mereka. Meski terkesan urakan, wajahnya benar-benar tipe idaman. Nakal.

“Namaku Jinhwan. Kim Jinhwan”

Setelah  ia menyebutkan namanya, gadis disebelah Sehun segera mendongak. Ia mencari sumber suara dan akhirnya membenarkan tebakannya. Ia dan si murid baru itu pun saling memandang

“hai…Sae Jin” Jinhwan berucap dengan nada ramah, tapi matanya memicing marah

Sae Jin terkejut. Ia menutup mulutnya yang menganga dengan tangan dan matanya membesar. Tak lama satu senyuman gadis itu tunjukan.

“aku datang untuk membunuhmu” kata Jinhwan membuat semua orang disana terkejut

“bicara apa kau ini?!” ucap si guru dengan hidung kembang-kempis dan wajah memerah. Ia pun dengan cepat menyuruh si murid baru itu mencari tempat duduknya. “kita lanjutkan pelajaran”

Jinhwan memilih duduk di bangku baris tengah, paling belakang, karena memang hanya itu yang kosong. Kursi incarannya sudah di huni seorang pria yang tak lain adalah Sehun. Ia duduk tepat disebelah pria itu. Mengeluarkan sebuah buku, ia menoleh ke tempat duduk Sae Jin. “merindukanku?” tanyanya pada Sae Jin tanpa suara

Sae Jin tak menjawab. Ia memilih tersenyum sembari menggaruk alisnya dengan jari tengah.

“brengsek” kata Jinhwan melihat itu

Sementara dua orang itu berinteraksi aneh, Sehun hanya bisa mencibir dalam hati. Ia yakin Sae Jin si gadis bar-bar itu mengenal murid baru yang terlihat seperti preman itu. Sehun semakin yakin bahwa Sae Jin memanglah gadis yang patut dijauhi.

~

Bel istrahat yang baru saja berbunyi adalah hal yang sedari tadi Jinhwan tunggu. Kedua telinganya terasa panas mendengar semua penjelasan gurunya. Setelah gurunya pergi, Jinhwan pun segera menghampiri Sae Jin. Ia menarik pelan bagian bawah rambut gadis itu dan menyuruhnya ikut dengannya

“yaah, bisa tidak menarikku dengan cara yang lebih sopan?” protes Sae Jin sembari memukul-mukul tangan Jinhwan. Berharap pukulannya itu bisa menghentikan tarikan pada rambutnya

“cepatlah, aku sudah tak sabar ingin membunuhmu” Jinhwan melepas ujung rambut Sae Jin lalu memilih menarik ujung jas sekolah Sae Jin.

Sehun semakin merasa jijik tanpa sebab yang jelas. Tak lama ia pun pergi meninggalkan kelas. Sama seperti Sae Jin, Sehun sama sekali tak punya satu pun teman. Maka di jam istirahat seperti sekarang Sehun hanya akan pergi ke kantin, membeli beberapa makanan juga minuman, dan berencana memakannya di sebuah bangku yang ada di belakang gedung sekolah.

Tapi saat Sehun sampai disana, sebuah pemandangan membuatnya tak lagi berselera makan. Disana, di belakang bangku panjang yang harusnya ia segera duduki tampak dua remaja yang sedang melakukan sesuatu yang tak pantas.

Si pria sedang mengurung si gadis ke tembok dibelakang si gadis. Kepala pria itu sedikit miring dan tangan si gadis tampak melingkar di pinggang si pria. Kurang ajar, Sehun merutuki otaknya yang bisa mengerti dengan cepat adegan apa itu. Sehun baru saja ingin pergi darisana, saat ia melihat kaki si gadis yang berada di antara tubuh si pria. Ia kenal sepatu itu. Itu milik_

“menjijikan” desis Sehun saat ia melihat separuh wajah si gadis yang tak tertutupi kepala si pria. Gadis itu memanglah Sae Jin. Maka tanpa mau berpikir lagi, Sehun pun pergi darisana

Sementara itu di belakang kursi panjang tadi, Sae Jin sedang memandang Jinhwan tanpa rasa takut.

“berhenti memanggilku begitu, kalau tidak aku akan memaksamu meminum sisa cola ini, dari mulutku” setelah berseringai, Jinhwan menenggak colanya hingga tandas. Ia semakin menyudutkan Sae Jin ke tembok dengan pipi menggembung

“apa yang akan kau lakukan, Choco?” seakan  tak takut, Sae Jin malah kembali menyebut nama itu.

Jinhwan benar-benar tak terima. Wajahnya yang semengagumkan itu harus menerima nama panggilan Choco? Sungguh sangat tidak bergaya.

Jinhwan semakin mendekatkan wajahnya dan memberi isyarat mengancam lewat matanya. Ia yakin Sae Jin akan berhenti memanggilnya Choco setelah ini

“kau ingin menciumku, Choco? Jangan lakukan itu, Choco” Sae Jin malah semakin menggoda Jinhwan. Ia memasang mimic memelas dan mendramatisir caranya bicara.  Dilihatnya mata Jinhwan semakin melotot. Sae Jin mengetatkan lilitan tangannya di tubuh Jinhwan dan mengikis ludes jarak diantara mereka

Sae Jin mendekatkan wajahnya, semakin dekat, semakin dekat hingga ia bisa merasakan hembusan nafas gusar Jinhwan di pipinya, lalu…

“uhuk…uhuk…uhuk…”

Jinhwan kalah. Ia terkejut akan perbuatan Sae Jin dan akhirnya menelan semua cola dimulutnya dengan cara yang salah.

“kau baik-baik saja, Choco?” Sae Jin merasa menang dan gadis itu kembali tertawa

.

.

23 Februari 2014

Davin. Nama siapa itu? Yang mana orangnya? Aku tak pernah tahu gadis itu punya kenalan yang bernama Davin. Juga, nama macam apa itu? Apa dia keturunan luar negeri hingga namanya kebarat—baratan seperti itu?

Meski tak pernah bertemu denganya, tapi aku benar-benar membenci si Davin ini. Dia membuat masalahku bertambah. Hari ini aku bahkan memarahi gadis itu karena ia lebih memilih mengkhayalkan Davin daripada istirahat. Aku kadang berpikir, apa gadis ini tak sadar akan kondisinya sendiri? Atau dia memang sengaja membuatku selalu marah seperti tadi.

Aku tak tahu apa yang akan dilakukannya besok. Tapi kupastikan dia akan menghukumku. Aku diam-diam membakar Davin saat ia sudah terlelap.

# # #

In Jae mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Ini kisah  cinta, ia kembali mengulang fakta itu. In Jae tersenyum setelah mengingat beberapa bagian yang sudah ia baca. Ia mulai mengerti isi cerita tadi. Ada dua pria yang mencintai satu gadis, Sehun dan Jinhwan

“aku sudah  bilang, ini cerita khas remaja masa dulu” kata In Jae sembari menutup buku tadi

Bel masuk sekolah sudah berbunyi dan ia harus mempersiapkan diri untuk latihan militer dari guru matematikanya. Disaat seperti ini, meski tak terlalu suka, ia ingin bisa memilih melanjutkan membaca buku tadi daripada harus mengikuti pelajaran.

Good morning, my chipmunks

“apa aku terlihat seperti Alvin?” gerutu In Jae sembari mengeluarkan buku matematikannya

“bukan sayang, kau terlihat pendek seperti Theodore”

tbc..

Terima kasih sudah membaca ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s